70 – Perjumpaan Kedua

“Memangnya selain pihak penguasa di Perguruan Naga Batu ada orang lain lagi?” tanya Arwah Pedang.

Jaka mengangguk. Kemudian Jaka menceritakan perihal Arseta dengan situasi dalam bangunan misterius di tengah kota, dan juga tentang Ketua Bayangan Perguruan Naga Batu. “… kelihatannya dia mendendam padamu paman.”

Arwah Pedang menghela nafas panjang, lalu dengan getir melanjutkan. “Dia adalah adik iparku…”

“Ah…” semua terkejut. Tapi tidak ada yang berusaha menanyakan kenapa dia begitu mendendam. Diamnya mereka cukup membuat Arwah Pedang terhibur dan berterima kasih, sebab urusan ini jika di usut kembali, membuatnya sangat menderita.

“Tapi dia orang baik, aku tahu itu, jadi semisal kau mencurigainya kukira itu akan sia-sia saja.”

Jaka tak menanggapi sesaat, “Dalam kondisi seperti sekarang ini, siapapun bisa dicurigai… tapi belum saatnya aku mengusik pihak manapun. Sebab aku harus menautkan seluruh persoalan ini pada pihak yang paling bertanggung jawab.”

“Sebenarnya aku justru ingin meminta tolong Paman Pariçuddha untuk menjumpai Ketua Bayangan ini, tapi nampaknya…”

“Tidak! Aku akan berangkat!” tandasnya.

“Kau yakin paman?”

Dengan mantap Arwah Pedang mengangguk.

“Baiklah, tolong saat menjumpainya, sampaikan ini padanya.” Jaka mengeluarkan sebuah bungkusan kecil seukuran genggaman tangan, tersimpan rapi dalam lipatan kain, dari pojok ruangan. “Tadinya, aku ingin memberikan ini, supaya mereka terpaksa mengeluarkan janji untuk membalas budi, tapi dengan adanya hubungan paman dengan Ketua Bayangan, urusan malah jadi lebih mudah.”

“Apa ini?” Arwah Pedang menerima bungkusan itu dengan kening berkerut, dia mencium bungkusan itu, ada aroma wangi yang lembut, tapi membuat hidungnya terasa pedas, buru-buru disimpan bungusan itu di balik bajunya.

“Obat…” Ujar Jaka dengan menerawang. “Dugaanku, obat ini akan membuat perubahan sangat besar.”

“Aku sekedar menyerahkan saja?”

“Paman katakan padanya; ‘rencana berikutnya harus dipercepat.’ Itu saja.”

“Cuma itu?”

Jaka mengangguk. “Sebab aku mencium adanya rencana jahat yang lebih besar, mumpung belum tumbuh harus dibasmi lebih dulu!”

Ucapan Jaka tak satupun di mengerti mereka, tapi Ki Alih bisa meraba apa yang mungkin sedang terjadi. Jika orang lain yang mengatakan ‘jahat’, dia masih menyangsikan keadaanya, tapi jika pemuda ini yang mengatakan ‘jahat’, dia bisa memastikan tentu urusan ini, sangat berbahaya.

Sebab dia tahu sedikit latar belakangan Jaka, dia tahu pemuda itu adalah orang yang menyimpan begitu banyak beban di hati, saat tatapannya menerawang, biasanya dia sedang mengenang kejadian lampau. Diam-diam orang berusiaa paling tua diantara mereka ini, menghela nafas panjang… jika saja nyawanya bisa meringankan beban pemuda itu, dia pasti rela memberikannya. Sebab kehidupannya saat ini bisa dikatakan pemberian Jaka. Tak terasa tangannya terulur memegang lengan Jaka. Tatapannya tajam memandang lengan Jaka, seolah dia bisa melihat tembus kedalam.

Jaka paham mengapa Ki Alih tiba-tiba bertindak begitu. “Aku tidak apa-apa lagi paman.”

Dengan mengela nafas lelaki itu melepas genggamannya, dia tahu di balik balutan baju sederhana itu, ada luka yang demikian banyak… dan luka-luka di lengannya, justru disebabkan oleh dirinya.

“Aku harap Paman Alih mau menemui para Pemabuk Berkaki Cepat.”

Pemabuk Berkaki cepat bukanlah julukan orang, itu adalah istilah yang digunakan Jaka untuk menggambarkan orang-orang yang tidak ada hubungan dengan kasus yang dihadapi, tapi mereka selalu ikut campur, dan boleh jadi tak sengaja ikut terseret dalam pertikaian, yang menjadi dasar kalimat ‘berkaki cepat’ adalah; berhubungan dengan latar belakang mereka yang bukan sembarangan.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Sebelumnya tolong paman berkoordinasi dengan Penikam, dia lebih paham siapa-siapa yang akan paman temui, ah… dan jangan lupa termasuk beberapa tokoh dari Perguruan Sampar Angin, mereka adalah Kepalan Maut, Elang Emas, dan Pecut Sakti Ekor Tujuh. Kemungkinan besar mereka datang mengiringi tokoh penting, aku tidak tahu siapa tokoh penting itu, silahkan paman cari tahu. Tapi aku bisa duga, dia memiliki kepentingan di Perguruan Naga Batu.”

“Kedatangan tiga tokoh silat utama itu dalam perhitunganku bisa jadi esok hari, paling cepat sore nanti sudah sampai disini. Jika bertemu dengan mereka, bolehlah paman sampaikan ini…”

Jaka bangun, dan menjauh dari tempat mereka makan; lalu dengan pelahan Jaka memutar lengan, dengan tangan kiri terjulur kedepan, dan jemarinya mengepal, suara berkrotokan terdengar nyaring. “Kemarilah paman…”

Ki Alih berdiri disamping Jaka, dan pemuda ini menggengam tangannya. “Tolong lakukan seperti ini..” Jaka mengalirkan hawa murni ke tangan Ki Alih. Lelaki ini diam sambil manggut-manggut. Ternyata Jaka menyalurkan hawa murninya untuk ‘memberi penjelasan’ apa yang harus dilakukan.

“Ya, aku mengerti…”

Jaka memukulkan tangan kedepan, tepat kearah batang lilin yang masih menyala, pukulan itu tidak menimbulkan rekasi apapun, bahkan api juga tidak bergoyang, tapi sebuah kursi di belakang lilin, terdorong beberapa depa. Ki Alih berseru kaget, tak sangka Jaka bisa pukulan itu.

“Bukankah itu pukulan dari Perguruan Walet Hijau?” tanya Ki Alih. “Memangnya mereka punya hubungan apa? Ketiga tokoh itu bukannya orang-orang yang dekat Perguruan Sampar Angin?”

Jaka terpekur sebentar. “Ya, mereka tidak berhubungan apapun, pukulan yang kulakukan tadi memang mirip Hawa Membuyar Berkirim Kabar milik Walet Hijau, tapi apa yang kulakukan masih jauh dari tingkatan mereka. Justru karena tingkatannya tak sehebat pukulan itu, maka tidak menimbulkan reaksi ketiganya. Tapi jika dugaanku benar, dari dalam akan ada balasan pukulan serupa, tapi seratus kali lebih kuat, lebih kencang, lebih tepat. Tepat mengarah jantung paman. Jadi usahakan pada saat mengerahkan pukulan, paman berdiri paling jauh sepuluh langkah saja, begitu dirasa pukulan balasan datang, mundurlah empat langkah dan lakukan lagi pukulan tadi.”

“Sebenarnya, kau ingin mengusik siapa?” tanya Ki Alih merasa tugas Jaka kali ini sangat aneh, sebab dia tidak melihat adanya hal penting didalamnya.

“Ah tidak, aku hanya menyambut seseorang yang pulang ke kampung halamannya.” Ujar Jaka dengan tersenyum tipis.

Ki Alih menggeleng bingung. Tapi mendadak terdengar celetuk Beruang, “Kau berani mengusik Sakta Glagah? Nyalimu tambah besar saja!”

Pemuda ini tertawa, “Tak disangka paman tahu, siapa tokoh yang ingin aku sambut.”

“Mulanya aku tak mengerti rencanamu, tapi melihat pukulanmu itu aku jadi teringat Raja Kepalan, apalagi kau mengatakan pukulan orang itu seratus kali lebih kuat!”

“Ya, ya… memang susah mengelabui engkau paman.” Gumam Jaka.

“Kenapa kau lakukan itu?” tanya Arwah Pedang.

“Sebabnya belum bisa kukatakan sekarang, sebab hanya dugaan saja, jawaban tepatnya ada setelah Paman Alih melakukan hal tersebut.” Lalu Jaka mencari sesuatu dari laci satu-satunya meja yang ada di Kuil itu. Ternyata mengambil kain, lalu Jaka menuliskan beberapa hal dengan arang.

“Ah iya, aku lupa… tolong saat berjumpa dengan Ketua Bayangan, katakan padanya buah Jalandhi tidak banyak gunanya.” Seru Jaka pada Arwah Pedang, sembari memberikan catatannya pada Ki Alit. Arwah Pedang menyetujuinya.

Ki Alih membaca itu. “Resep obat?” tanyanya sambil melapisi bagian dalam kain itu dengan daun—kawatir tulisan arang itu tergesek dengan sisi kain lainnya, jadi tidak terbaca—dan melipatnya hati-hati.

“Bukan, hanya penawar sementara saja.”

“Jadi kuberikan ini padanya?”

Jaka mengiyakan.

“Hanya itu?”

“Ya, hanya itu!” tegas Jaka. Dan keduanya kembali duduk berhadapan dengan Hastin sekalian.

“Konon, Sakta Glagah masih memiliki hubungan dengan purnapendekar hebat yang kabarnya menyepi disini…” Gumam Hastin.

Jaka membenarkan, tentu saja dia tak mungkin mengatakan latar belakangnya, sebab dia memiliki kode etik dengan kelompok gurunya.

“…kurasa, apa yang kau lakukan ini untuk memberi semacam peringatan dini pada orang-orang yang mendukung Sakta Glagah.” Sambung Hastin lagi.

Jaka diam saja.

“Sebab kau tak tahu dimana mereka, maka kau menggunakan Sakta Glagah untuk menjadi seorang kurir bagimu.”

Pemuda ini tersenyum dan mengangguk, kalau saja Hastin sekalian tahu, bahwa dirinya sudah bertemu dengan orang-orang itu—Ki Lukita dan lainnya, mungkin jadi beda cerita. Kelak, mereka pasti akan saling kenal, tapi tidak sekarang.

“Terakhir aku minta tolong pada paman Hastin, kalau tak keberatan…”

“Katakan saja!”

“Ada beberapa kelompok yang mungkin sangat mencurigakan aktifitasnya, mereka bersembunyi di Goa Batu. Aku tidak tahu siapa mereka, paman bisa minta tolong pada Cambuk untuk mengatur kedatangan paman datang ketempat itu. Setelah semua siap, segera lemparkan barang yang nanti diberikan Cambuk.”

“Cuma itu?”

Pemuda itu mengangguk, “Seharusnya hanya demikian, tapi aku harus tetap sampaikan, bahwa ini, tidaklah semudah kedengarannya.”

“Aku paham, apalagi Goa Batu sudah merupakan wilayah pemerintah.” Tukas Hastin. Dan hadirin paham, kenapa Hastin harus berhubungan dengan Cambuk, sebab dia adalah orang yang kenal birokrasi kerjaan. Diplomasi yang akan dilakukannya pasti membuahkan sesuatu.

“Sebelumnya aku mohon maaf, jika ini paman sekalian anggap ini sebagai tugas ringan, tapi sebenarnya tidak demikian. Jika bukan kalian yang memulai hal ini… siapa lagi yang sanggup? Nama besar kalian, sangat membantu membuat ‘sesuatu’ yang berada di Perguruan Naga Batu, menghitung kembali langkah-langkahnya.”

“Hm… kalau begitu, tak ada lagi yang harus kutunggu!”  ujar Sadhana sembari bangkit, dia hendak berlalu.

“Sebentar paman…” seru Jaka sambil berdiri. “Aku minta tolong satu hal lagi, jikalau kau tak keberatan.”

Sadhana diam saja, Jaka memahami lelaki itu menunggunya bicara. “Sebenarnya tadi malam aku harus meninjau satu tempat, tapi kupikir dengan perubahan-perubahan yang terjadi saat ini, niat itu kubatalkan. Tapi belakangan kupikir, tak ada salahnya kita tahu pihak mana saja yang ikut berkecimpung dalam masalah ini…”

“Aku harus berjumpa dengan siapa?” potong Sadhana.

“Kaliagni. Paman bisa menemui dia untuk detail arahnya.” Sahut Jaka. Kemudian Jaka menuturkan secara singkat hal-hal yang di alami Kaliagni saat menguntit dan sengaja bertamu ke rumah orang yang di curigai. Jaka juga menceritakan detail pertempuran Kaliagni—seperti yang di tuturkan Kaliagni padanya. “Menurut paman, siapa dua orang itu?”

Ada alasannya kenapa Jaka bertanya pada Sadhana, sekalipun lelaki ini paling jarang berkelana, tapi pengetahuanya justru sangat luas. Jaka menjuluki Sadhana sebagai Jirnnodhaçakti (ahli membangun hal-hal yang hancur—ahli rekontruksi), sebab; dari hal-hal terkecilpun, Sadhana bisa menyimpukan sesuatu. Apakah itu dari; bekas luka, bekas pertempuran, bekas pecahan, bekas apapun itu, lelaki ini bisa menganalisis sampai detail. Mulai dari pukulan apa yang dipakai seseorang dengan efek pukulan yang di timbulkan, senjata apa yang digunakan, posisi dan cara bagaimana korban itu bisa terluka, serta waktu kejadian. Jaka juga banyak menimba ilmu dari lelaki ini.

“Bisa kau gambarkan?” tanya Sadhana.

Jaka paham maksud dari ‘gambarkan’ yang dipinta adalah; rekontruksi, setelah mengiyakan, pemuda ini mengitar kebelakang Sadhana lalu menyerang dengan cengkraman kearah bahu.

“Ada kaitan runcing pada tiap jariku.” Seru Jaka, setelah cengkramanya menepuk bahu, Jaka mundur sampai lima langkah dan mengibaskan tangannya, selarik sinar putih menderu, gerakannya sungguh cepat, tapi begitu mendekati Sadhana serangan itu melambat sangat drastis, ternyata yang Jaka pegang hanya seutas benang saja, ujung benang itu berputar mengitari Sadhana, lalu kejap berikutnya, melilit seperti cambuk. “gerakan ini dilakukan dengan kain sutra.”

“Berikut adalah pukulan ini!” Jaka memukul biasa kearah perut dengan dua kepalannya, tapi tenaganya sanggup melontarkan Sadhana sampai terjajar satu tindak. “Silahkan di cermati paman…”

Jika saja Kaliagni ada disitu, tentu dia bakal terperanjat kaget, betapa tidak, pertarungan yang hanya di ceritakan secara lisan, ternyata gerakan si penyerang bisa dilakukan oleh Jaka dengan miripnya.

“Cengkeraman dengan kaitan di jari adalah khas Perguruan Merak Inggil, sedang cambukan dengan kain ini justru dimiliki Perguruan Gelang Api, diperguruan itu terdapat dua ilmu yang hampir serupa, satu; Ilmu Rangkaian Tarian Sakti, yang kedua; persis seperti gerakanmu, dinamakan Tarian Besi. Terakhir…” dengan mengusap perutnya, Sadhana memicingkan matanya. “ini pukulan milik Perguruan Matahari Tanpa Sinar, Tinju Udara Panas.”

Jaka manggut-manggut paham, ternyata orang yang ditemu Kaliagni adalah aliran Garis Tujuh Lintasan, tapi entah dari lintasan yang mana pula? Setidaknya Jaka sudah bisa mengambil kesimpulan. “Terimakasih paman…”

Sadhana tidak menunggu komentar Jaka lebih lanjut, dia beranjak keluar, dan tubuhnya melesat begitu cepat, menghilang ditelan rimbunnya pohon.

“Orang itu selalu saja tergesa-gesa!” dengus Beruang sembari berdiri, dia berpamitan pada Jaka dan yang lainnya, lalu pergi dengan langkah lebar.

“Kelihatannya aku juga harus mulai pekerjaanku.’ Ujar Ki Alih, dia juga berpamitan, demikian juga Arwah Pedang dan Hastin Hastacapala—yang diiringi anak buah Si Cambuk—berturut-turut keluar dari Kuil Ireng.

Jaka menghela nafas panjang-panjang, kesunyian membuatnya merasa tenang, tapi kadang kala membuatnya merasa gundah pula. Dia melangkah keluar kuil dan menuju tempat dimana dirinya pernah bertukar jurus dengan Matahari Dua Bukit, Ki Lugas dari Perguruan Matahari Tanpa Sinar. Dan sekarang adalah hari keempat, hari dimana dia akan bertemu dengan pemilik Pancawisa Mahatmya.

 

==o0o==

Jaka duduk menunggu di bawah pohon, bajunya sudah lusuh, tapi dia tak berminat mengantinya. Udara pagi yang sejuk membuatnya merasa sangat nyaman. Tak berapa lama, Jaka sudah tenggelam dalam meditasi.

Satu jam lewat sudah…

Saat mata pemuda ini terbuka, nampak lima orang berdiri mengawasinya, mereka menggunakan pakaian putih singsat, wajah mereka seperti halnya orang awam, tidak ada yang mencolok, cuma satu ciri saja yang membuat mereka berbeda dengan orang lain. Aura tajam! Ya, hawa sakti dalam tubuh mereka bergolak sedemikian hebatnya, sampai-sampai Jaka menduga mereka hendak menyerang sewaktu-waktu.

“Tuan, pertemuan hari ini akan diselenggarakan.” Seru lelaki yang berdiri paling depan, Jaka menduga dia adalah pimpinan dari kelompok itu.

“Kuharap disini saja, aku tidak leluasa melakukan perjalanan sebelum siang nanti.”

“Tapi pimpinan kami sudah menyiapkan perjamuan.”

Jaka termenung sejenak. “Ah, tidak benar rasanya jika aku tak mengikuti undangan ini. Tapi, kurasa disini adalah tempat paling baik, selain disini bersih, aku juga sangat menyukai hawa di hutan ini.”

Kelima orang itu merasa serba salah, tak disangkanya Jaka begitu ngotot untuk bertemu disekitar kuil ireng. Padahal sang pimpinan sudah mewanti-wanti supaya dapat mengundang Jaka, tanpa alasan.

“Kuharap kau mau berlaku bijak dengan mengerti kesulitan kami, perintah yang di berikan hanya seperti itu adanya. Jika melenceng dari ketentuan, tentu kesulitan yang akan kami hadapi lebih besar.”

Jaka manggut-manggut. “Ya, aku paham… akupun tak ingin mempersulit kalian, tapi mestinya tuanmu mengerti kehendakku.”

“Tidak kah tuan bermurah hati untuk mengalah?”

Jaka menggeleng dengan tersenyum. Sebenarnya Jaka bisa saja mengikuti mereka tanpa harus mengalami ini semua, tapi pemuda ini sangat tertarik dengan hawa sakti kelima orang itu, ciri aura seperti itu belum pernah Jaka jumpai. Tajam, menyengat, tapi tak mengandung hawa panas atau dingin, kehangatan aura menyengat itu membawa satu perasaan aneh; ada rasa nyaman, seram juga takut. Maka, dia harus menuntaskan keingintahuannya saat itu juga.

Kelimanya saling pandang. “Mohon maaf!” serunya.

Dan serempak mereka berjalan mengelilingi Jaka. Hawa sakti yang dari tadi bergolak kali ini terpancar seluruhnya, Jaka bisa merasakan udara disekitarnya makin menipis, tekanan hawa sakti mereka membuat ruang disekeliling Jaka seolah menjadi kedap udara. Berhubung Jaka berdiri didepan pohon, maka orang yang membelakangi Jaka menghadapi pohon sebagai rintangnya. Seharusnya hawa sakti dia yang paling lemah (karena terhalang), tapi Jaka merasa sengatan hawa orang itu justru sangat tajam, lebih tajam dari keempat rekannya.

Jaka mencoba untuk bergerak, tapi alangkah kagetnya, ia tak bisa mengerakkan tubuhnya! Hawa yang menekan dirinya membuat ia sama sekali tak bisa bergerak. Jika berganti orang lain boleh jadi dia akan panik, tapi Jaka justru makin tertarik. Dua orang didepan Jaka mundur selangkah, bersamaan dengan itu dua orang disamping Jaka juga menggeser langkahnya mengikuti. Langkah tadi membuat Jaka ikut terbawa kedepan pula, ternyata kurangan yang dilakukan mereka membuat daya tekan yang sedemikian kuat, sungguh hebat! Dia mengikutinya saja, tanpa melawan, terkilas dalam benaknya  jika orang yang dibelakang akan ikut maju pula, satu langkah lagi cukup membuat dirinya menabrak pohon.

Satu langkah lagi? Dan ya, dua orang di hadapan Jaka kembali mundur, dan… Kraak! Pohon di belakang Jaka tumbang! Jika seorang sakti menerjang pohon, menumbangkan pohon, itu wajar, jika ada seorang berhawa sakti menghantam pohon, membuat pohon tumbang atau hancur batangnya, itupun wajar. Tapi jika orang melangkah perlahan membuat pohon tumbang? Jaka segera berhasil menganalisis hawa sakti macam apa yang di miliki mereka.

Dengan gerakan lambat, ternyata membuat pohon tertekan dan patah, artinya kepadatan hawa sakti itu mengelilingi tubuh secara penuh, hawa tajam dan berdaya hancur itu menjadikan tubuh yang ada didalamnya terlindung sempurna. Jika sebelumnya Jaka sulit menggerakkan badan, kini pemuda ini menyedot nafas dalam-dalam. Lamat-lamat hawa sakti muncul dari tubuh pemuda ini dan tekanan tadipun sedikit mengendor. Jaka merasa leluasa lagi menggerakkan tubuhnya. Dia dapat menggeser tubuhnya seperti sedia kala. Bagi orang lain, setelah bisa menggerakan badan, pasti dia berusaha keluar. Tapi Jaka ternyata membalikkan badannya saja. Tentu saja tindakan Jaka mengejutkan pengurungnya. Mereka mengawasi Jaka dengan kewaspadaan penuh.

Ternyata dengan bersusah payah pemuda ini pancarkan hawa sakti, hanya untuk mengawasi pohon tumbang, kesia-siaan macam itu sudah pasti tak akan di lakukan orang-orang semacam Arwah Pedang. Tapi Jaka memang berbeda dengan orang lain. Ternyata patahan batang pohon itu berlobang, membekas tapak kaki. Injakan pengepung di belakang Jaka tadi serupa cetakan saja. Batang kayu sekeras itu dibuatnya seperti tahu!

“Ah, aku paham!” seru Jaka. Usai berkata begitu, detik berikutnya Jaka sudah ada diluar kepungan. Kelimanya terkejut menyaksikan hal itu.

Akibat keluarnya Jaka dari kepungan, Hawa sakti mereka pun saling bentrok, dan cukup mengguncangkan tubuh, tapi hanya sekejap saja, sebab kejap berikutnya mereka sudah menarik tekanannya masing-masing. Menyaksikan itu Jaka menggeleng kagum. “Sungguh sempurna penguasaan kalian…” pujinya.

Pujian itu tak membuat mereka bangga, sebab pujian itu dirasa bagai tamparan. Maklum saja, sebelumnya tak pernah ada orang yang lolos dari kepungan hawa sakti kelimanya. Mereka menatap Jaka dengan pandangan bingung.

Pemuda ini tertawa. “Ayolah kita berangkat! Aku akan ikut kalian…”

Mereka bingung dengan tingkah Jaka. Dalam bayangan mereka, setelah Jaka lolos dari kepungan tentu pertarungan berat akan mereka hadapi, ternyata itu tak terjadi. Meski kebingungan membuncah dada, tapi mereka tak mengajukan pertanyaan, sebab mereka yakin; sang pimpinan tentu dapat menjelaskan cara yang dilakukan Jaka tadi. Dari pada menjatuhkan harga diri dengan bertanya lebih baik diam saja. Mendahului Jaka, merekapun melesat lebih dulu.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s