67 – Melepas Jejak

Seseorang bernama Pradipa, menuturkan : “Aku sebenarnya tidak pernah melakukan pekerjaan semacam ini, menguntit orang bukan kesukaanku, tapi apa boleh buat, berhubung aku di kalahkan orang yang lebih kuat, mau tak mau aku tunduk dibawah perintahnya.”

Jaka manggut-manggut, dari lembaran di tangnya dia membaca profile lelaki itu. “Yang pertama kali, kau justru menyusup kedalam Perguruan Naga Batu…” gumamnya.

Pradipa mengiyakan dengan tertunduk. “Sekalipun tumbuh nyali lagi, sebenarnya aku tak berani menyerempet bahaya. Tapi entah kenapa waktu itu, penjagaan yang kulewati begitu mudah di lalui.”

“Apa yang kau cari?” tanya Jaka.

“Sebuah buku tamu,”

Jaka tercenung sesaat. “Kau sempat membaca isinya?”

“Ya, sebab yang dicari bukan buku tamu biasa, tapi buku tamu pada empat tahun lalu sampai dua tahun berselang.”

“Kau mendapatkannya?”

“Ya, berhubung terlalu banyak dan terlalu berat, tak leluasa kubawa, aku lebih memilih untuk mengingatnya…”

Jaka tersenyum, orang yang di cari oleh oleh pihak yang mengerti seluk beluk tempat sebesar dan setenar Perguruan Naga Batu, sudah pasti tidak sembarangan. Nyatanya Pradipa memiliki daya ingat yang kuat.

“Baik, cukup sampai disitu. Selanjutnya Karmapala…”

Orang yang ditunjuk Jaka mengiyakan, “Aku dibesarkan di sebuah perguruan kecil…”

“Kau tidak perlu merendah, Perguruan Cakra Buana tidaklah selemah dugaan orang..” potong Jaka.

Karmapala mengiyakan dengan terkejut, sungguh tak disangka pemuda yang dia kuntit itu tahu jelas asal usulnya, padahal perguruannya termasuk salah satu pintu perguruan yang paling jarang melepas turun muridnya, paling banter sepuluh tahun sekali. Dan kebetulan dirinya adalah murid angkatan ke empat yang baru saja dilepas tahun lalu. “Aku termasuk orang yang tidak suka keributan, seperti pesan guru-guruku, aku berkelana hanya untuk melihat-lihat saja, meluaskan pengalaman. Tak tahunya ada yang mengetahui bahwa aku bukanlah orang awam biasa, dia mengalahkanku dalam sebuah pertaruhan. Aku benci kalah, tapi aku lebih benci menjilat ludah sendiri. Berhubung aku dikalahkan orang itu, akupun tunduk pada aturannya. Mulai saat itu aku menjalankan semua perintahnya…”

“Bagaimana dengan tugas pertamamu?” tanya Jaka kembali memotong.

“Aku disuruh mencari bunga-bungaan…” katanya dengan tertunduk.

“Bunga macam apa?” Tanya Jaka dengan tertarik.

“Seperti seruni tapi berwarna ungu pekat.”

“Bagimana dengan tangkainya?”

“Panjang dan hanya terdapat satu buah daun saja.”

“Kau dapatkan itu dimana?”

Karmapala menunduk, dan Jaka memahami, lelaki itu kalau bisa tak ingin menyampaikannya—mungkin itu salah satu rahasia pribadinya. “Baiklah anggap saja aku tak bertanya.”

“Bukan itu maksudku, hanya saja… aku lebih suka menyampaikannya empat mata saja.”

Pemuda ini mengangguk. “Selanjutnya bagaimana?”

“Tentu saja bunga itu kuberikan kepada orang.”

Keterangan itu bagi orang lain tidak akan menghasilkan informasi apapun, tapi bagi Jaka merupakan setitik cahaya dalam keruwetan di dalam Perguruan Naga Batu. “Aku duga selanjutnya kau mencari beberapa kuntum bunga semak alas…” gumam Jaka.

“Dari mana tuan tahu?” Karmapala terkesip.

Jaka tertawa, dia tak menjawab. “Lanjutkan saja,”

Karmapala tercenung sesaat. “Selanjutnya aku menyamar menjadi tukang bunga di Perguruan Naga Batu selama dua bulan.”

“Kau disuruh seperti itu?”

“Benar!” tegasnya.

“Tentunya, bukan sekedar bunga yang kau kerjakan?”

“Tidak, justru selama dua bulan itu aku dibuat pusing dengan urusan bunga itu. Bicara tentang bunga, aku bisa menyombongkan diri tak akan ada orang yang lebih paham dari pada aku di kota ini. Ada dua macam bunga yang baru saja aku lihat jenisnya… yang pertama, aku hanya bisa melihat saja dalam jarak lima langkah, yang kedua aku hanya bisa melihatnya dalam jarak tiga langkah. Bunga pertama putih bersih tanpa motif, seperti bunga kamboja tapi dari siripnya aku bisa duga itu adalah bunga jenis baru, mungkin hasil persilangan. Bunga kedua justru berwarna merah legam, bentuknya sama dengan bunga pertama… tugasku disana hanya mengawasi saja, bila ada perubahan terhadap bunga-bunga itu, aku hanya boleh menyuruh orang yang sudah ditunjuk untuk melakukan apa-apa yang perlu dilakukan. Dari luar bunga itu kelihatan segar merona, tapi aku tahu pasti, keduanya diambang batas usia. Dan seperti yang kusangka, empat minggu semenjak aku datang kesana, kedua bunga itu mati. Meski demikian aku bisa menghasilkan sebuah persilangan baru antar keduanya. Tapi, selepas itu—bahkan sampai sekarang—aku masih merasa bingung… sebenarnya apa yang sedang mereka lalukan.”

Jaka tercenung mendengar keterangan itu, dia sudah paham apa yang sedang terjadi. “Baik, cukuplah.” Dan berturut-turut sisa orang yang lain juga menceritakan pengalamannya. Dan semuanya berhubungan dengan Perguruan Naga Batu. Menyamar sebagai; ahli bunga, koki, pengurus peternakan, penjaga pintu, petugas kebersihan, tukang bangunan, bagian pembelanjaan, dan mencuri lihat catatan tamu.

Semuanya, benar-benar hal remeh. Jaka paham mengapa mereka memiliki tugas begitu mudah, sebab mereka orang-orang yang baru direkrut dengan tujuan yang misterius, semula Jaka mengira, kedelapan orang ini adalah suruhan Ketua Bayangan—dan memang tidak salah, tapi ternyata dari keterangan mereka—Jaka menangkap ada sebuah benang merah yang saling bersimpangan begitu ruwet, tapi tertuju pada sebuah tujuan yang membuat Jaka berkeringat dingin jika memikirkannya lebih lanjut.

Para penguntitnya adalah orang-orang yang pernah ditugaskan untuk memata-matai Perguruan Naga Batu, jika orang luar yang menilai, tentunya semua mengira, tentunya telah terjadi  kerugian besar dalam perguruan itu. Tapi tidak demikian bagi Jaka, pemuda ini memahami ada sebuah ‘janin’ yang akan berkembang di perguruan itu, ‘janin’ langkah awal sebuah rencana besar. Jaka dapat merangkum tujuan si penggagas rencana kekacauan ini.

Jaka menatap kedelapan orang didepannya dengan bimbang, sampai akhirnya dia terkilas sebuah ide. Bisa dibilang ini adalah sebuah langkah berani. Langkah apa itu? Tak lain adalah rencana menampakkan ‘ekornya’ pada kawanan yang memanfaatkan kedelapan orang ini. Boleh jadi, posisinya dihadapan Arseta dan Ketua Bayangan tidak seperti yang sebelumnya, tapi ada sebuah kesimpulan yang ingin dipastikan Jaka. Kepastian itu harus merambat dengan lambat kedalam Perguruan Naga Batu, bukan lewat Ketua Bayangan, tapi lewat delapan orang yang tidak memiliki ‘bobot’ ini.

Bisa dibilang penguntitnya adalah para tenaga lepas, walaupun mereka memiliki kelebihan di bidang masing-masing, tapi mencari orang dengan keahlian seperti itu tidalah sulit. Jadi, meskipun tenaga yang di rekrut oleh Ketua Bayangan disusupi kelompok lain, dan mereka berkomplot dengan teman satu kelompok untuk mengurai informasi rencana Ketua Bayangan, tak akan didapatkan setitikpun informasi penting kecuali, tema yang sangat jelas; ‘memata-matai Perguruan Naga Batu’, tapi Jaka Bayu bukanlah kebanyakan orang.

Pemuda ini seolah melihat arah yang sangat jelas, kemana urusan yang berbelit ini bermuara. Diam-diam Jaka menghembus nafas panjang, ada rasa kuatir, tapi lebih banyak rasa lega… sebab dia juga sudah memegang ekor Momok Wajah Ramah, dia juga sudah melihat ada kekuatan di balik kekuatan yang menumpangi para penguntitnya itu.

“Baiklah, kalian boleh pergi!” tegas Jaka.

Kedelapan orang itu tergagu, sungguh tak dimengerti mereka, jika pemuda itu bertindak sedemikian rahasia, mengapa melepaskan mereka dengan mudah? Dalam benak mereka sudah terkilas tindakan apa yang akan di lakukan Jaka, paling tidak; di sekap kesebuah sel terpencil sudah ada dalam bayangan. Tapi di bebaskan? Berpikirpun mereka tak berani…

Tidak menunggu Jaka mengucapkan kalimat keduanya—kawatir pemuda itu berubah pikiran, buru-buru mereka pergi dengan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

Jaka tertawa kecil seraya masuk kedalam Kuil Ireng, begitu badan pemuda ini memasukinya, sontak belasan orang mengelilingi bangunan itu; ada yang naik keatap, ada yang masuk di kerimbunan semak, ada juga yang memanjat pohon… dalam radius dua ratus meter, tidak akan lolos dari mata-telinga mereka. Mengingat kelihayan Jaka, sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, tapi justru orang-orang yang bekerja dibawah pengawasan Penikam, menganggap berjaga-jaga seperti itu sangat perlu dilakukan, sebab percakapan yang ada di dalam bangunan tidak boleh di dengar orang lain.

Pemuda ini duduk di depan api unggun, suara lelatu api sangat jelas terdengar, ia menambahkan kayu kering, lalu tatapan matanya berkeliling menatap bangunan itu, berhadapan dengannya ada dua orang separuh baya, mereka Penikam dan Cambuk. Pemuda ini bangkit dan mendekati orang yang duduk meringkuk di pojok bangunan—dia lelaki usia tiga puluhan yang sebelumnya ‘meringkus dirinya sendiri’ pada Jaka.

“Aku ingin mendengar.” Katanya singkat, sambil duduk dihadapannya.

Lelaki itu menatap Jaka, dalam keremangan ruangan, samar-samar terlihat olehnya pemuda dengan kilau mata bagai bintang. Tak punya pilihan, diapun kemudian bertutur.

“Aku bernama Netracurik, orang menjulukiku Manusakrti (Seperti Manusia). Aku dibayar 50 keping emas untuk membuat anak-anak murid Lengan Tunggal tak bisa berpijak dikota ini. Kebetulan, aku pernah mencuri Kitab Soce Pranala dari Perguruan Awanamuk…”

Jaka memberi isyarat supaya Netracurik berhenti bicara, lalu dia menoleh pada Cambuk. Lelaki itu paham, dia segera mendekati Jaka, dan memberikan sebuah kitab. “Mohon petunjuknya…” ujarnya seraya mengangsurkan dian(lampu teplok) dan kitab pada Jaka.

Tentu saja maksud Cambuk bukan minta petunjuk isi kitab, tapi… kenapa harus kitab ini yang dijadikan barang fitnahan, dan kenapa harus Perguruan Lengan Tunggal korbannya.

Jaka membaca halaman pertama sampai akhir dengan cepat. Soce Pranala artinya membersihkan saluran air, tentu saja kitab ini tidak bermaksud mengajari orang bagaimana cara membersihkan selokan…

Setelah selesai, Jaka tersenyum. “Aku paham!”

Bagi pendengaran orang, ‘aku paham’ banyak tafsirannya, bisa jadi dia memahami isi kitab itu, boleh jadi Jaka memahami kenapa harus kitab itu yang menjadi pangakal fitnahan.

Tiba-tiba terdengar orang mendengus, ternyata Netracurik yang bersuara. “Sekalipun aku bodoh, tapi kitab itu sudah ada padaku hampir lima tahun, dan selama itupula aku berusaha mendalaminya, tapi tak satupun manfaat aku dapat. Jika kau bisa menyakini ilmu didalamnya dalam waktu begitu singkat, aku rela menjadi budakmu seumur hidup!”

Mendengar ucapan itu, Cambuk dan Penikam saling pandang, mereka tertawa perlahan. Entah mengapa Netracurik dalam pandangan mereka serupa seperti keadaan mereka saat berhadapan pertama kali dengan Jaka…

“Menurutmu, ini kitab apa?” tanya Jaka pada Netracurik.

“Pelajaran mengolah hawa murni, dari hawa murni terlahir bentuk, dari bentuk terlahir jurus, dari jurus terlahir olah hawa murni.”

“Kau sangat pintar.” Puji Jaka.

“Aku memang tidak bodoh!” dengus lelaki itu.

“Tapi kenapa kau tak sanggup mempelajarinya?”

Pertanyaan Jaka membuat Netracurik terdiam. “Aku.. aku.. aku sendiri tidak tahu penyebabnya, ada kalanya olehku, aku sudah memahami, tapi begitu kulakukan tak satupun yang benar…” gumamnya.

“Kita kesampingkan masalah isi kitab ini, bagaimanapun ini adalah rahasia Perguruan Awanamuk, dan aku tak mungkin membeberkan cara mempelajari kitab ini padamu. Aku ingin bertanya; siapa saja yang mengetahui kau mencuri kitab ini?”

“Setidaknya, sampai empat bulan berselang, aku yakin tak satupun orang yang mengetahuinya.”

Jaka termenung sesaat. “Kalau begitu kurubah saja pertanyaanku, dari mana kau tahu ada kitab semacam ini? Bukankah banyak perguruan lain yang bisa kau gerayangi?”

Netracurik terdiam, dia menunduk dalam, tiba-tiba dia menghela nafas, lalu terdengar suaranya yang berat. “Benar.. memang banyak kitab perguruan lain yang mungkin lebih hebat, dan aku banyak pula mencuri kitab-kitab mereka.. Cuma, kitab ini sangat penting bagiku.. aku.. aku..”

“Pahamlah aku!” tukas Jaka. Lalu dia menoleh pada Penikam. “Paman, aku ingin mengenalnya.”

Penikam maju dan duduk disamping Jaka. “Netracurik artinya; mata setajam pisau, dan pandangan matanya memang bagus, dia bisa melihat barang-barang bagus. Asal perguruan tidak diketahui, tapi jurus yang pertama kali dia gunakan adalah Selaksa Kaki Besi, asalnya dari Perkumpulan Lumrasatya, perkumpulan ini jika dibandingkan dengan 16 perguruan besar memang tidak ada apa-apanya, tapi orang-orangnya banyak tersebar hampir di seluruh negeri dan kebanyakan setia. Pada pertarungan berikutnya dia pernah menggunakan pukulan Kincir Air Mengapit, yang menguasai pukulan ini adalah para perompak Kali Bengawan, cuma tingkatan perompak itu jika dibandingkan dengannya, seperti langit dan bumi. Dugaanku, dia mendapatkan kitab aslinya atau diajari langsung oleh Ki Dowolaras sebelum ajalnya. Untuk beberapa lama dia menghilang, dan kemuculan berikutnya dia pandai menyamar, makanya di juluki Manuskarti—mirip manusia, karena dia pandai merubah rupa. Kabar yang berhasil dikumpulkan, konon dia bertemu dengan Hulubalang Kesembilan Riyut Atirodra, dan diajari kepandaian menyamar. Dengan sendirinya ilmu silatnya juga mengalami peningkatan drastis. Demikian ikhtisar singkat Netracurik.”

Netracurik tertunduk makin dalam, bahwa ada orang yang begitu paham tentang dirinya sedemikian lengkap, membuatnya merinding.

“Kau sudah berkeluarga?” tanya Jaka tiba-tiba.

Lelaki ini tergagu. “Ak-aku.. pernah.”

“Memiliki anak?”

Netracurik mengangguk, kini dia sadar benar, bicara dengan pemuda dihadapannya, paling baik memang jujur.

“Tentunya kau, sekarang mengerti kenapa aku bilang, ‘pahamlah aku’.” Ucapan Jaka bukan saja membuat Netracurik bingung, bahkan orang seperti Penikam juga tak mengerti.

Tak menunggu orang bertanya, Jaka menjelaskan. “Jika sebelumnya Netracurik pernah berkeluarga, tetapi pada akhirnya dia mengotot untuk memperoleh Soce Pranala, kesimpulannya adalah… kau pernah terluka, mungkin akibat pertarungan atau salah mengolah racun, sehingga kejantananmu tak lagi berfungsi. Dan Kitab Soce Pranala kebetulan merupakan kitab yang mempelajari hawa embun murni secara bertahap dengan sangat mendasar pula, itu sanggup membuat para peyakin ilmu ini memiliki keperkasaan yang di idam-idamkan lelaki. Jawaban kunci ada padamu, kau kehilangan kejantananmu karena apa?”

Karena rahasianya tepat tertebak, Netracurik tak lagi menutup-nutupi. “Enam tahun lalu aku terluka oleh Rubah Api, dan pukulannya membuat kejantananku hilang… tapi dari seorang teman, aku mendengar ilmu Soce Pranala sanggup mengembalikan kelemahanku.”

“Siapa temanmu?”

“Lindu Wastu, murid kedua ketua Perguruan Naga Batu.”

Penikam dan Cambuk saling berpadangan, mereka terkejut dengan hal itu. Tapi Jaka sendiri terlihat adem ayem,dugaanya semula ternyata benar, dan kini dia memiliki kesimpulan yang sangat jelas!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s