65 – Momok Wajah Ramah

Jaka dibawa keluar dengan mata tertutup, pemuda ini tahu jika dirinya dibawa keluar dengan jalan berbeda. Tak berapa lama kemudian dia disuruh duduk, telinganya cukup peka untuk membedakan suara keramaian disekelilingnya itu bukanlah pasar, tapi sebuah rumah makan yang sangat ramai. Begitu ada isyarat membolehkanya melepas ikatan pada matanya, Jaka memandang berkeliling, dan dia terkejut ternyata rumah makan tempatnya berada sekarang, hanya selisih satu bangunan dengan tempatnya menginap.

Tak terburu-buru, Jaka segera memesan sup, jika orang lain tentunya akan bertanya-tanya, kenapa orang-orang disektar sini tidak heran dengan kondisi matanya harus tertutup? Jawabannya cukup dipahami Jaka, sebab rumah makan ini milik Arseta, atau entah siapapun dia, yang jelas masih berkaitan dengan pemilik bangunan misterius tadi.

Malam itu memang cukup dingin, Jaka menyantap sup kaldu ayam dengan perlahan, pandangan matanya, menyapu sekeliling ruangan. Jaka menyadari, keramaian dalam rumah makan itu secara perlahan menipis dan akhirnya hening, senyap, padahal didalam ruangan itu terdapat demikian banyak orang.

Nampaknya ada permainan yang ingin ditunjukkan padanya, setidaknya begitulah pendapat Jaka.

Tak perlu menunggu lama, muncul seorang berpakaian biasa, layaknya penduduk kota, tapi tak cukup biasa dimata Jaka, dia memesan makanan dan duduk di depan Jaka—karena itu satu-satunya meja yang masih kosong. Pemuda ini memperhatikan orang itu sejenak.

“Aku yakin kau memesan seperti yang kumakan.” Kata Jaka.

“Dari mana kau tahu?” ujarnya menarik muka, kelihatanya dia tak begitu suka bicara.

“Mudah saja, kau masuk kesini, kau melihat semua bangku penuh, dan kau melihat aku sedang menikmati makanan ini dengan nikmat. Dimalam yang dingin ini, kaldu memang pilihan tepat.”

“Hm..” orang itu tidak berkomentar, sebab pesanannya datang, dan segera saja dia mencobanya sesuap.

“Padahal, jika kau mau bertanya lebih lanjut, kau akan tahu kenapa dugaanku tepat…” Jaka menyambung lagi, dia tak perduli meskipun lelaki ini tak memberi komentar. “Pertama, memang inilah satu-satunya makanan yang tersisa…” katanya sambil tertawa lebar. “Anak-anak pun bisa menduga hal ini..” Jaka menyeruput kopinya, lalu lanjutnya. “Tapi tahukah kamu, ini bukan satu-satunya makanan yang tersisa, tahukah kamu kenapa kamu harus pesan makanan ini?” bisik pemuda ini dengan suara dilirihkan, tak cukup lirih untuk orang yang duduk di meja seberang. Lelaki itu tak ambil perduli, meskipun suapan tangannya sempat terhenti.

“Tapi aku tak akan memberitahumu kenapa,” pemuda ini tertawa lebar, dia sama sekali tidak canggung dengan suasana yang hening itu. “Sebab setelah selesai makan, kau akan merasa sangat mengantuk…”

Setelah berkata demikian, Jaka bangkit dan dia memberikan beberapa keping uang. “Dia kutraktir.” Katanya.

Jaka berlalu dengan senyum mengembang makin lebar. Jika Arwah Pedang melihat senyum pemuda ini, maka dia akan segara pusing, sebab dia paham benar, akan ada ‘korban’ jatuh. Jaka memiliki kebiasaan yang kurang baik—begitu menurutnya, yakni; manakala lawannya tak cukup sebanding dengan dirinya, dan menyebalkan pula, maka Jaka biasanya membuat orang itu kehabisan akal, putus asa, buntu, tidak ada jalan keluar, dan kelihatannya itulah rencananya saat ini.

Begitu kaki pemuda ini menapak keluar rumah makan, detik itu juga tubuhnya lenyap, seolah-olah dia bisa menghilang.

Lelaki yang semeja dengan Jaka, tidak memperdulikan omongan Jaka, tapi manakala dia melihat satu goresan dimejanya, dengan sendirinya, suapannyapun terhenti. Sebisa mungkin dia usahakan rona wajahnya tak berubah, dengan wajar, ia habiskan sup tadi dan selanjutnya keluar.

Begitu lelaki ini keluar, seluruh orang dalam rumah makan pun turut keluar, jika ini disebut penguntitan, maka ini adalah penguntitan terbodoh sepajanjang masa, sebab cara mereka menguntit demikian terang-terangan, tak perduli lelaki ini berhenti dan menoleh kepada mereka, mereka pun turut berhenti dan ikut menoleh kebelakang pula.

“Apa yang kalian inginkan?” tanya lelaki ini dengan geram.

Rombongan penguntit itu diam saja, mereka bahkan sudah membuat suatu lingkaran yang mengurung lelaki itu.

“Jalan begini lebarnya, siapa bilang kami perlu sesuatu darimu? Kau toh bukan siapa-siapa…” ujar salah seorang penguntit dengan ketus.

Rahang lelaki ini mengembung, giginya saling beradu, hari ini benar-benar dia merasa sial tujuh turunan. Dilain pihak, amarahnya ingin dilampiaskan, tapi jika dia melakukan itu, maka terbongkarlah pekerjaan besarnya di kota ini. Maka sebisa mungkin dia tahan kekesalannya.

“Ya sudah, terserah kalian saja!” Ujarnya dengan dingin, sambil berlalu dengan hati panas. Tak perduli mereka menguntit, lelaki ini tetap berjalan… dia berjalan sesuai petunjuk coretan yang di tinggalkan Jaka.

 

Di Telaga Batu.

Sebuah rombongan terpisah berjalan beriringan menuju telaga batu. Perjalanan menuju Telaga Batu bukannya dekat, jika tak ingin melewati jalan utama, maka harus memutar melalui bukit, dan jika dia berjalan memutar, maka akan memakan waktu banyak, dan dia akan kehilangan sesuatu yang penting. Maka mau tak mau dia tetap melewati jalan utama. Dan seperti dugaannya, melewati jalan utama berarti menarik perhatian orang, Kota Pagaruyung itu tetap hidup di malam hari, begitu ada iringan yang aneh, sudah tentu mereka-mereka yang melewatkan malam di keda-keda turut serta pula menguntit di balakang. Lelaki itu tidak perduli lagi, seberapa banyak orang mengikuti dirinya, yang ada dalam benaknya sekarang, dia harus menemui Jaka!

Sebenarnya apa yang Jaka tulis?

Pemuda ini tidak menggoreskan sebuah tulisan, dia hanya menggoreskan sebuah kode sandi, kebetulan kode sandi ini dimiliki oleh perkumpulannya. Dan sialnya, kode itu biasa digunakan oleh atasannya.

Bagaimana mungkin pemuda itu menjadi atasannya? Hal yang paling mungkin adalah sebuah kebocoran informasi telah terjadi diwilayah kerjanya! Itu yang harus di selidiki lelaki ini.

Mendekati, Telaga Batu, samar-samar terlihat ada pantulan cahaya, lelaki ini berkerut kening, bahkan rombongan penguntit inipun sama-sama heran, sebab suasana telaga batu biasanya gelap gulita, jikapun ada sinar, paling satu dua nelayan yang sedang manangkap ikan. Tapi, makin mendekati tepian telaga, cahaya tersebut makin terang…

Dan akhirnya, sampailah lelaki itu di tepi telaga, keterkejutan membuncah dadanya, telaga batu berubah menjadi lautan cahaya, bahkan di tengah telaga, terdapat begitu banyak perahu nelayan, di pinggiran telaga pedagang tiban juga banyak, suasana begitu meriah, mirip pasar malam.

“Sial! Ini kan acaran malam akhir bulan,” Terdengar salah satu penguntit memaki. “bukankah sudah enam bulan ini tidak pernah di lakukan lagi? Kenapa harus sekarang?” makinya lagi.

Para penguntit ini sibuk menoleh kesana kemari memperhatikan situasi, dan mereka sadar, lelaki yang mereka ikuti sudah menghilang entah kemana, kemungkinan besar dia menyusup ditengah kerumunan orang.

“Cari dia!” perintah salah seorang pengutit. Dan rombongan itupun menyebar, demikian juga dengan orang-orang yang ikut-ikutan menguntit, mereka menyebar kedalam kerumunan, berbaur dengan aktifitas pasar tiban.

Sementara itu, Jaka asik duduk didepan penjual ronde, di sampingnya ada lelaki yang dari tadi sibuk mencarinya. Pemuda ini tidak berkata apa-apa sampai minumanya habis. Lalu dengan tanpa bersalah dia bertanya.

“Kau mencariku?”

“Bukankah kau yang menyuruhku mencarimu?” tanyanya geram.

“Ah, masa? Memangnya aku melakukan apa?” Jaka berpura-pura bodoh sambil membuka kulit kacang.

“Kau…” desis lelaki ini marah sekali. Tapi kemarahannya harus ia telan kembali, dirinya tak tahu sama sekali pemuda itu, jika bertindak ceroboh, bisa jadi dirinya benar-benar lebih sial dari sebelumnya.

Pemuda ini tertawa, dia geleng-geleng kepala, lalu dari balik bajunya dia mengeluarkan bungkusan daun kering, yang ternyata didalamnya berisi sebuah kain, lalu dia serahkan pada lelaki itu. “Aku mau kau melakukan ini…”

Lelaki itu bingung, dia membolak-balik kain itu, tidak ada tulisan tidak ada petunjuk apapun.

Jaka memberi isyarat dengan menyentuh hidungnya. Lelaki ini mencium kain itu. Jika orang lain di keremangan cahaya tidak bisa melihat rona wajah, maka Jaka sanggup melihat, dan dia tahu, lelaki ini terkejut.

“Apa yang kau dapatkan?”

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan aneh. “Kau tahu siapa aku? Kau tidak salah orang?”

Jaka tertawa lebar. “Tidak, aku bahkan tahu kau berasal dari mana, aku tahu seharusnya kau akan pergi kemana dan aku tahu kau sedang mencari apa. Ini bukan kesalahan, ini cuma hari sialmu saja…”

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan tak mengerti, darimana pemuda ini tahu siapa dirinya?

“Kau pasti ingin bertanya darimana aku mengenalmu?” sambung Jaka sembari mengunyah kacang. “Aku pernah melihatmu berjalan bersama temanmu yang ceroboh itu, siapa sebutannya itu ya? Ah, Panah …”

Kesabaran lelaki ini habis, belum selesai Jaka bicara, sebuah pukulan dilayangkan tepat kewajah pemuda ini, gerakannya cepat dan akurat, jika berganti orang diposisi Jaka, pukulan yang hanya berjarak satu jangkauan, dipastikan mengenai sasaran. Tapi sayang, yang dihadapi ini Jaka, pemuda yang kemahirannya bahkan Si Hastin-pun tak mau jika harus menghadapinya.

Jaka menggeser kepalanya kesamping, pukulan itu lewat disisi wajahnya. Seolah tidak terjadi apa-apa. “Jika aku jadi kau, pasti tak mau melakukan tindakan bodoh…” ujar pemuda ini masih tenang-tenang mengunyah kacangnya.

Lelaki ini menatap Jaka, satu pukulannya cepatnya dilewatkan begitu saja, dan dia yakin serangan lainnyapun akan dihindari dengan cara yang sama pula. “Apa yang kau inginkan dariku?”

Jaka menatap lelaki itu dengan tersenyum. “Kau tidak tuli, apa yang kuperintahkan kau sudah tahu. Aku menanti kabar baik esok hari…”

“Atas dasar apa kau memerintahku?!” serunya dengan suara direndahkan, sebab dia kawatir, banyak orang akan curiga.

“Mau tahu alasannya? Kusebutkan satu saja… jika perkerjaanmu terganggu, kau tidak naik peringkat, jika orang tahu siapa dirimu, bukan saja kau akan di kejar atasanmu, sobatmu yang ceroboh itu pasti akan memulai pencarian dari pekerjaanmu yang terakhir disini, dan yang paling penting, kau takut dengan Kelompok Kilat dari Sampar Angin, cukup kubocorkan apa yang pernah kaulakukan pada salah satu anak muridnya, kau bisa bayangakan sendiri kelanjutannya…” Jaka tersenyum, padahal pemuda ini mengatakan aku menyebut satu alasan, tapi yang dia kemukanaan sudah terlalu banyak, dan membuat lelaki ini pucat pasi. “Ah aku lupa, satu lagi, satu-dua hari kedepan, ada tiga pendekar utama berjuluk, Kepalan Maut, Elang Emas, dan Pecut Sakti Ekor Tujuh datang mengiringi seorang tokoh termasyur, aku ingin kau menguntit mereka.”

“Ah…” lelaki ini kembali terkejut.

“Aku ingin, kau membuat mereka tidak nyaman di kota ini…”

Ucapannya yang terahir membuat lelaki ini terheran-heran, dia pikir Jaka pasti sedang bercanda. Manakala melihat pemuda itu memerintah dengan wajah serius, dia yakin, pemuda ini serius.

“Kau pasti heran, kenapa perintahku sama dengan perintah atasanmu yang bodoh itu, siapa namanya? Ah, kalau tidak salah Sora Barung, saat ini kelihatannya dia masih aktif sebagai anggota Perguruan Naga Batu ya…” Mendengar ini, wajah lelaki itu makin pias, Jaka telah menyebut nama! Dan lelaki itu sadar dirinya sudah masuk dalam posisi sulit. Meski dalam kelompoknya mereka tidak tahu menahu siapa atasannya, tapi manakala ada anggota mengetahui siapa atasan mereka, sudah cukup bagi perkumpulan untuk menjatuhkan hukuman berat padanya. Dan sialnya kali ini dirinya harus dipaksa tahu, oleh pemuda yang tak dikenalnya ini.

“Jadi, sekarang kau ada disisi siapa?” Jaka bertanya.

Lelaki ini mengepalkan tangan, mendadak saja dia tersenyum. “Baik, aku disisimu!” tegasnya.

“Begitu baru benar,” sahut Jaka puas. “Tak sia-sia orang memanggilmu sebagai Momok Wajah Ramah.” Sambung Jaka dengan tersenyum.

Bahwa pemuda itu mengaku kenal dengan dirinya, dia masih curiga, setelah kode anggota ‘Panah’ dilontarkan pemuda itu, dia pun masih memiliki rasa sangsi—mungkin saja pemuda ini salah orang, tapi ucapan terakhir tadi sudah meruntuhkan semua antisipasi dalam dirinya, julukan yang dikenal hanya dalam perkumpulan, pemuda itu mengetahuinya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s