64 – Menyambung Kepingan Informasi

“Kau tidak ingin tahu kenapa aku disini?” Tanya Ketua Bayangan Naga Batu seperti ingin menguji Jaka.

“Aku tidak tahu apa-apa, aku juga tidak tahu seperti apa Perguruan Naga Batu, aku cuma kebetulan terseret arus pertikaian orang saja… jika ketua ingin menjelaskan, aku dengarkan, jika tidak akupun tak keberatan.” Jawaban Jaka yang masa bodoh, membuat Ketua Bayangan itu gerah juga. Dia pikir, untuk orang yang pernah belajar satu dua jurus dari Arwah Pedang, pembawaan pemuda ini kurang begitu meyakinkan, masa Arwah Pedang yang dingin dan tertutup itu asal memberi petunjuk?

“Baik! Singkatnya, aku membutuhkan tenagamu untuk membantuku menyelesaikan urusan di Perguruan Naga Batu.”

“Aku tak keberatan, cuma harus diketahui, aku tidak tahu apa-apa mengenai itu.” Jaka beralasan.

“Kau cukup mengikuti saran dari kami, manakala datang perintah padamu, saat itupula kau harus ikut dalam rencana kami.”

Jaka menilai orang ini selain berwibawa, tapi pembawannya terlalu memaksa, bermain dengan orang semacam ini membuatnya teringat pada seseorang. Diam-diam pemuda ini tersenyum.

“Baiklah, informasi apa yang bisa aku dapatkan untuk memudahkan tugasku?”

“Saat dirimu mulai mengadakan kontak dengan kalangan Naga Batu pertama kalinya, perhatikan saja setiap orang yang terlibat didalam rancangan mereka, ingat baik-baik siapa mereka.”

“Itu masalah mudah, tapi bukankah andika merupakan Ketua Bayangan? Aku membayangkan andika mengetahui lebih banyak hal, dari pada informasi yang akan kuberikan nantinya.”

Ketua Bayangan tertawa masam, “Apa yang kau katakan tidak salah, tapi kekuasaanku kali ini sangat terbatas. Benar, aku bisa setiap saat datang dan pergi, tapi gerakanku mau tak mau harus dibatasi, sebab begitu banyak orang yang membelaku, kini berbalik membelakangiku… dengan sendirinya, caraku mengamati tak mungkin semudah biasanya.”

“Bukankah ada orang yang serupa dengan diriku? Apa tugas mereka?”

Ketua Bayangan paham maksud Jaka, “Mereka juga menyerap informasi dengan cara yang sama… tiap seksi akan menghasilkan informasi berbeda. Dan sekecil apapun informasi, akan sangat berharga bagi kami.”

Jaka mengangkat bahunya. “Hm… aku tak keberatan, cuma… berhasil tidaknya rencana andika, apa mempengaruhi orang lain pada umumnya?”

“Ini tergantung mau kemana arah mereka.” Ujarnya dengan pandangan menerawang. “Tapi aku melihat ada ambisi besar, jika maksudmu adalah; mempengaruhi kaum persilatan pada umumnya bisa aku benaran…”

Jaka ikut menghela nafas, nampaknya apa yang dipikirkan orang ini terlalu jauh, tapi dia tak menyalahkannya, sebab memang harus seperti itu. Ditinjau dari bubuk yang dipakai golongan ini saja, sesuatu yang bergerak didalam Perguruan Naga Batu, tergolong sangat istimewa. Jaka sudah memutuskan untuk merangkum Bergola dan kelompoknya ke dalam konflik Perguruan Naga Batu. Ada sebuah ciri khas sementara yang bisa Jaka ambil, pihak Perguruan Naga Batu, hanya merekut orang-orang yang berharga dan memiliki sumber daya bagus. Bergola terlalu ceroboh, sekalipun dia bertindak cukup rahasia. Dia tidak cukup berharga di mata penggagas konflik Perguruan Naga Batu. Tapi justru orang sok tahu semacam Bergola-lah yang cocok jadi ujung tombak Jaka.

Sebuah rencana baru tersusun perlahan dalam benak Jaka, tabiat orang dihadapannya ini telah memberi inspirasi, bagaimana dia harus bergerak nantinya.

“Jika demikian adanya, aku tak keberatan. Apakah aku harus selalu melakukan kontak dengan salah satu dari kalian?” Tanya Jaka lugu.

“Sudah pasti.” Jawabnya singkat.

“Hh… padahal aku kemari hanya untuk jalan-jalan saja.” Gerutu Jaka, mendadak Jaka menjatuhan sesuatu dari balik bajunya. Begitu menyadari apa yang terjatuh itu, semua orang menatap pemuda ini dengan pandangan aneh. Lebih-lebih Ketua Bayangan… dia menatap Jaka seolah sedang menatap mahluk lain.

“Dari mana kau dapat ini?” katanya sambil memungut benda yang jatuh tadi. Jaka menyeringai, dia mendapat sebuah benang merah yang tak disangkanya. Pemuda ini memang sengaja menjatuhkan batangan emas yang memiliki stempel pengesahan.

“Bukankah setiap orang bisa memiliki emas?” Jaka balik bertanya, sembari meminta emas batanganya.

Ketua Bayangan menatap Jaka dengan tidak mengerti. “Tapi emas dengan stempel ini hanya bisa di keluarkan oleh pihak tertentu, manakala kau memiliki jaminan sangat besar. Sebab emas ini mengemban nama baik stabilitas sebuah kerajaan…” jelasnya dengan menyerahkan emas itu.

Jaka manggut-manggut, dia mengerti maksud Ketua Bayangan. Lempengan emas murni yang di pegangnya memang sama persis dengan emas yang beredar diluar, disenyalir telah diedarkan untuk melakukan pembayaran pengiriman barang. Uang emas semacam ini tidak bisa digunakan untuk pembayaran pada sembarang tempat, ada semacam tempat penukaran uang untuk mencairkan nilai emas itu. Memiliki satu lempeng emas dengan stempel pengesahan itu, sama saja berhubungan dengan orang yang memiliki kekuatan menghamburkan uang.

Dan cap pada lempeng itu justru sama persis dengan emas yang di berikan sekelompok orang pada biro Pengiriman Golok Sembilan. Jaka ingin memancing dari Ketua Bayangan—si sumber berharga, tentang seberapa jauh keterlibatan pihak pengacau Perguruan Naga Batu dengan pihak pemberi mandat pengiriman ke Perguruan Enam Pedang.

“Aku tidak begitu paham apa yang andika cakapkan, tapi aku mendapat ini dari seorang teman, kebetulan waktu itu memang sedang kehabisan bekal, dia memberikan ini padaku.”

Ketua Bayangan menatap Jaka dengan pandangan menyelidik, sessaat kemudian dia menghela nafas. “Dan kau merasa berterimakasih setelah diberi emas itu?”

Alis Jaka mengerinyit, orang semacam Ketua Bayangan, tidak mungkin mengatakan hal yang sia-sia, dia yakin ada sesuatu dari ucapannya itu. “Tentu saja, aku bukan orang yang tidak tahu diri.” Jawab Jaka agak ketus.

Lelaki itu tersenyum tipis. “Jika kau tahu pesan apa yang terdapat dalam emas itu, kau pasti akan menyumpahi orang yang memberi emas itu.”

“Oh ya? Apakah ada sebuah rahasia dalam kepingan emas ini?” Tanya Jaka pura-pura bodoh. “setahuku, bahasa emas seperti ini cuma satu.. gunakan aku, dan kau kaya.”

“Aku tak ingin membahasnya sekarang.” Tegas Ketua Bayangan. “Aku ingin kau, menjadi ujung tombak kami. Dengan perubahan akhir-akhir ini, menurut perkiraanku, paling banter malam nanti sudah ada orang yang akan menjumpaimu.”

“Ya, aku memang berjumpa dengan banyak orang..” ujar Jaka masa bodoh.

“Bukan itu maksudku..’

“Aku paham,” cetus Jaka. “Akan kujalankan seperti yang andika pesan, jangan kawatir… aku tahu aku harus bertindak apa, aku tahu budi ini harus kubalas…” ujarnya sembari tersenyum.

“Bagus kalau kau paham, dan satu lagi… memasuki tempat ini bukanlah hal yang bisa dilakukan setiap orang. Ini bukan tempat rahasia, tapi ini adalah tepat orang-orang segolongan…”

“Aku tidak bodoh,” Jaka menukas lagi. “Apakah ada sesuatu yang harus aku telan?” ujarnya dengan polos.

Ketua Bayangan menggertakkan rahangnya, baru kali ini dia menghadapi anak muda yang bersikap masa bodoh, tidak tahu takut seperti Jaka ini. “Dengar Jaka, semua yang kami berikan padamu itu memiliki harga… kau pikir penawar yang kami berikan itu tinggal beli di pasar? Mengertilah, ini harga yang harus kau berikan kepada kami, dan kami harus berspekulasi! Kami harus titipkan kepercayaan kami padamu, tapi aku tidak tahu kau siapa… mereka juga tidak tahu kau ini siapa” ujarnya sembari menunjuk Arseta. “Jadi kau harus maklum, jika aku memintamu sementara, memberikan kepercayaanmu pada kami…”

Jaka manggut-manggut. “Ya, aku paham… kepercayaanku pada kalian adalah, ada sesuatu yang harus aku telan untuk kemudian aku haru menelan lagi semacam penawarnya. Cukup beralasan.. aku tak kebaratan.” Ujar pemuda ini tanpa ekspresi.

Ketua Bayangan menyerahkan sebuah kantung hijau pada Jaka. “Telan satu biji saja.”

Jaka membuka kantong itu dan mengambilnya, di amati dengan sekejap. Satu butir buah kering yang membuat Jaka berkerut kening.

“Kenapa?” tanya Ketua Bayangan dengan sinis. “Bukannya kau tadi paham maksud ku?” sambungnya dengan nada datar, Jaka nyaris mendengar sebuah sindirian ditujukan padanya.

Pemuda ini tersenyum, “Aku paham kok, aku cuma sedang mengira-ira, seperti apa rasanya buah ini.. begitu pekat dan kisut.. mungkin rasanya seperti tahi kambing?” ujarnya.

“Telan saja, jangan banyak tanya.” Dengus Ketua Bayangan dongkol.

Jaka nyaris tertawa mendengar tensi lelaki itu meninggi. Dengan pura-pura menahan nafas, Jaka menelannya. “Hm, tidak buruk.. rasanya manis.”

“Didalam kantung ada tiga buah kering berwarna hijau, tiap dua malam sekali, kau cukup menelan satu.”

“Kalau aku tak menelannya?”

“Nasibmu tidak akan semanis rasa buah itu.” Dengus Ketua Bayangan.

“Mungkin aku bisa bertanya pada Arwah Pedang, siapa tahu dia mengerti cara memunahkan ini.” Gumam Jaka.

“Tidak boleh!” desis Ketua Bayangan sembari menatap Jaka tajam.

“Kenapa tidak?” tanya Jaka heran, padahal dia tadi cuma iseng saja berkata begitu, dia sudah tahu efek buah jalanidhi—buah kering yang ditelannya itu, bisa di punahkan dengan meminum setegukan air laut.

“Aku tidak mengijinkan!” dengusnya ketus.

“Ah, aku tahu… mungkin andika punya ganjalan dengan salah satu guruku… baiklah, biar urusan ini tidak berlarut-larut, aku akan memenuhi keinginanmu menelan buah jalanidhi ini.” Jaka berkata sambil tersenyum.

Tapi paras orang yang mendengar ucapan terakhir Jaka, benar-benar seperti habis kena tampar.

“Kau tahu nama buah itu?” tanya Arseta terkejut.

“Semua orang ditempatku sudah pasti tahu ini buah apa.” Ujar Jaka polos.

“Memangnya kau berasal dari mana?” tanya Ketua Bayangan penasaran.

“Yang jelas, aku pernah hidup disebuah pulau…”

Cukup mendengar ini saja, maka Ketua Bayangan bisa membayangkan pulau macam apa yang ditinggali Jaka. Pandangannya pada Jaka kembali berubah. Dia berpikir, pantas saja Arwah Pedang tertarik dengan anak ini.

“Kau boleh pergi.” Kata Ketua Bayangan sembari member isyarat pada orang lain untuk membawa Jaka keluar.

Ruangan itu hening, kini tinggal Ketua Bayangan dan Arseta yang ada disitu.

“Kukira manisanmu ini cukup langka,” ujar Ketua Bayangan sambil mengambil buah serupa dengan yang ditelan Jaka, lalu mengunyahnya perlahan.. selanjutnya dia mengambil yang berwarna hijau, demikian berulang kali, selang seling antara yang berwarna hitam dan hijau di makan berurutan.

Arseta tertawa getir. “Aku mana tahu dia hidup di gugusan Pulau Kendriya.”

Ketua Bayangan menghela nafas perlahan. “Jalanidhi memang buah aneh, jikau kau memakan yang hitam tanpa memakan yang hijau, satu hari kemudian tubuhmu lemas, kakimu bengkak, dan matamu sayu, ingin tidur sewaktu-waktu, dan pada saat kau terlelap, untuk membuka matapun tenaga sudah tidak ada…”

“Buah aneh memang.” Komentar Arseta. “dan kujamin tidak banyak orang yang tahu, bahkan jika dia orang kepulauan Kendriya itu sendiri.”

Hening sesaat. “Apa karena dia berhubungan dengan Arwah Pedang?” gumam Arseta lagi.

“Tidak bisa kusimpulkan sejauh itu, tapi setahuku Arwah Pedang tidak pernah berkelana kepulau-pulau.”

“Seberapa akurat informasimu itu?” tukas Arseta. “apa akhir-akhir ini kau berhubungan dengan Arwah Pedang?”

Rahang ketua Bayangan menggelembung, nampaknya di menyimpan ganjalan dengan Arwah Pedang. “Hanya setan yang mau berhubungan dengan dia!”

Arseta tertawa tanpa suara. “Aku akan mengutus Paksi Welirang untuk membuntuti Jaka, kita lihat apakah pengetahuannya tentang buah jalanidhi hanya sebuah kebetulan, atau memang kita sedang dikecohnya…”

Ketua Bayangan tersenyum. “Boleh saja kau berpikir demikian, tapi penawar Serbuk Peluluh Jiwa juga punya takaran keras, jika dia tidak terkena Serbuk Peluluh Jiwa, kau pikir penawar itu tidak akan melumpuhkan tenaganya? Tadi awalnya aku merasa tenaganya memang lemah, tapi mendadak muncul sangat tajam, menyengat seperti lebah, tidak ada satu titik tenaga terhambur sia-sia. Pemusatan tenaga itu yang kutahu butuh latihan sangat dalam, dan sabar… Arwah Pedang punya ciri seperti itu, dan Jaka juga memiliki ciri yang sama.”

“Tapi itu, tidak cukup menjadi bukti dia terkena Serbuk Peluluh Jiwa. Kau bilang orang semacam Arwah Pedang, tidak menyia-nyiakan tenaganya, cukup pemusatan ke satu titik. Aku paham benar, sekalipun penawar ini membuat lemah tenaganya, bukan berarti dia tak bisa mengeluarkan hawa murninya, cara pemusatan dalam satu titik serangan itu, bukankah jauh lebih efektif dilakukan orang yang tenaganya sedang dalam gangguan?”

“Kau benar.” Ujar Ketua Bayangan setelah berpikir beberapa saat.

“Satu lagi, kau pernah mencium aroma obat di balirung depan?”

Ketua Bayangan menatap Arseta dengan tatapan heran. “Tidak, memang kenapa?”

“Jaka menciumnya.” Lirih suara Arseta, tapi dalam pendengaran Ketua Bayangan seperti petir menggelegar.

“Kau tanyakan padanya bau apa yang dia cium?”

“Tidak, sebab dia tidak memberiku kesempatan untuk bertanya lebih jauh.”

Ketua Bayangan menghela nafas panjang, “Apakah keputusan kita salah?”

“Kuharap tidak.” Sahut Arseta pendek, tapi dia sudah tahu apa yang akan dilakukannya. “Akan kusuruh Kiwa Mahakrura untuk mendampingi Paksi.”

Ketua Bayangan menatap Arseta dalam-dalam, dia paham, tidak boleh ada satu kesalahan dalam rencana mereka, jika Jaka adalah sebuah kesalahan, maka yang paling tepat adalah mengutus Kiwa Mahakrura, orang ini disebut dalam perkumpulannya sebagai Tukang Sapu, sebab perkerjaanya memang membersihkan debu.. debu-debu yang menghalangi usahanya. Dan sejauh ini tak satupun debu bisa menghalangi Kiwa Mahakrura. Kiwa Mahakrura memiliki tangan kiri yang sangat kuat, dan dia juga tidak pernah ragu dengan keputusannya, tegas, kejam dan bengis benar-benar karakter yang sesuai dengan namanya, krura—buas, kasar, kejam.

“Kuharap, Arwah Pedang tidak mengetahui ini.” Gumamnya merasa miris. Arseta juga paham, jika Arwah Pedang sampai tahu orang yang memiliki kekerabatan dengan dirinya lenyap, banjir darah pasti tidak terelakkan.

“Apa kubatalkan saja?” tanya Arseta meminta pertimbangan.

“Tidak, tetap seperti rencanamu semula. Dalam masa kritis ini, memang banyak resiko yang kita tanggung, kita tidak boleh lembek!”

“Baiklah…” Arseta segera mengundurkan diri dari situ.

Begitu ditinggal sendirian, Ketua Bayangan segera duduk termenung, matanya menyorot tajam kearah pintu. Dia tadi memperhatikan gerak-gerik Jaka, langkahnya mantap, sorot matanya bersahabat, dan kalimat-kalimatnya membuat dia terkadang mati kutu, orang semacam ini tidak mungkin sepolos kelihatannya. Dia ingin sekali melihat Jaka berhadapan dengan Kiwa Mahakrura… atau, siapa tahu Jaka bisa benar-benar menjadi anggotanya yang bisa diandalkan.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s