63 – Ketua Bayangan Perguruan Naga Batu

Dari sekian banyak orang yang menjadi temannya, hanya empat orang saja yang tahu kondisi fisiknya, kali ini bertambah lagi dua gadis pemijat ini. Jaka memutuskan untuk menyudahi acara pijat, hal penting yang akan di lakukan kali ini sudah pasti berbincang dengan Arseta yang kelihatannya sangat mendendam dengan Perguruan Naga Batu.

Jaka mengenakan bajunya lagi, kesegaran yang dia dapat kali benar-benar membuatnya tidak merasa diuntungkan, karena sebentar lagi ada orang yang akan menggali keuntungan dari dirinya. Sebab dia mencium aroma yang pernah diciumnya menempel pada pakaiannya, dan aroma harum itu pernah tercium di kapal Naga Batu, tepatnya aroma gadis-gadis cantik yang menyambutnya… sebuah permainan nampaknya akan segera digelar lagi, desah pemuda ini merasa senang.

Dengan di iringi dua gadis yang tadi memijatnya, Jaka memasuki sebuah ruangan yang kosong, tidak ada kursi, tidak ada benda apapun yang bisa membuatnya mengidentifikasi, siapakah pemilik rumah ini. Dalam kilasan detik yang sama, Jaka sadar bahwa ruangan ini adalah tempat berlatih silat. Diam-diam ia menghembuskan nafas dingin… dimasa lalu, entah berapa banyak orang yang selalu memaksanya untuk bergebrak barang satu dua jurus, tapi dia memang malas untuk bergerak… terpaksalah Jaka mematikan gerakan mereka dengan cara sesingkat mungkin. Kali ini dia sedang malas untuk mengerahkan tenaga; biarlah kuikuti saja permainan Arseta, pikirnya.

Tak menunggu lama, Arseta beserta empat orang yang usianya hampir sepantaran dirinya memasuki ruangan itu, selain Arseta mereka membawa tikar, kain dan makanan. Lelaki paruh baya itu menyilahkan Jaka duduk. Sepoci cangkir teh hijau tersaji untuk Jaka, mencium aroma teh itu Jaka diam-diam nyengir, kejadian yang berkaitan dengan Perguruan Naga Batu benar-benar membuatnya tak habis mengerti, entah ada intrik apa dibalik semua ketenangan mencekam itu?

“Silahkan,” kata Arseta ramah.

Tak menunggu lama, Jaka meminum teh itu. Pemuda ini paham, setelah meminum sajian air itu seharusnyalah dia terlelap sejenak… sebab dia paham aroma dalam teh tersebut adalah sebuah penawar untuk Bubuk Pelumpuh Otak. Jaka-pun ‘terlelap’ dan dengan segera pemuda yang membawa kain, membungkus dirinya dengan kain, kepalanya juga di bebat dengan kain basah beraroma harum, Jaka melepaskan kewaspadaannya, dia tahu proses yang sedang mereka kerjakan adalah untuk menawarkan pengaruh bubuk tersebut.

Diam-diam Jaka menghela nafas magsul, untuk mendapatkan Bubuk Pelumpuh Otak, jikalau ada proses jual beli, maka harga tiap bungkus kecilnya bisa mencapai ribuan keping emas. Racun ini bukanlah barang yang gampang didapat, ada semacam bahan yang hanya bisa didapatkan disebuah pulau.. pulau dimana dulu dia pernah menerima cobaan sangat berat.. selain bahan yang sulit itu, campuran bahan lain juga perlu perhitungan yang cermat untuk menjadikannya ‘pelumpuh otak’, bagi Jaka, ini benar-benar sebuah kejutan yang tidak menyenangkan.

Sebab dia menduga akan berjumpa dengan ‘kawan lama’, meracik Bubuk Pelumpuh Otak tidak bisa sembarang diwariskan kepada orang, dia tahu itu. Sebodoh-bodohnya si peracik bubuk itu, dia sadar ada sebuah pantangan besar baginya untuk membagi ilmu meracik itu untuk orang lain, pantangan yang akan membuatnya tak akan bisa hidup tenang, pantangan yang akan membuatnya diburu seumur hidup. Membuatnya mati tidak hidup-pun tidak. Sekalipun kau bisa sembunyi di ujung langit, kau tak akan sanggup menghilangkan kekhasan aroma tubuh bagi para peracik bubuk, dan aroma khas itulah yang digunakan untuk melacak jejaknya. Pengejaran itu akan dilakukan manakala pantangan itu dilanggar, dan Jaka yakin peracik bubuk itu mengerti hal mendasar yang sudah seharusnya diketahui oleh ‘keluarga besarnya’.

Maka, Jaka sudah bisa menduga ada sebuah rencana besar yang sedang berjalan dengan sangat hati-hati… cara ‘jalan’ mereka tak ingin di ketahui oleh pihak lain, pihak lain yang ditakuti. Dan Jaka tahu siapa pihak yang di takuti mereka. Api dan Angin sudah kudapat, pikir Jaka agak terhibur.

Tak berapa lama, Jaka kembali ‘terjaga’ dia menatap dengan heran orang-orang disekelilingnya. “Apakah aku tertidur?” tanyanya dengan lugu.

“Ya, kau tidur dengan lelap.” Sahut Arseta menjelaskan.

“Kenapa bisa sama dengan kejadian di kapal itu ya…” Jaka mengumam dengan bingung, sudah tentu pemuda ini cuma pura-pura.

“Begitulah orang-orang yang terkena Serbuk Peluluh Jiwa,” terang Arseta. Alis Jaka terangkat, wajahnya menyiratkan tanya, padahal dia paham serbuk peluluh jiwa hanya namanya saja yang berbeda, isi lama kemasan baru. “Kau, pernah dijamu orang-orang Naga Batu, dengan sendirinya kau pernah menghirup Serbuk Peluluh Jiwa.”

“Oh, tapi aku tidak memiliki masalah dengan mereka, kenapa mereka harus memberiku serbuk itu?” Tanya Jaka tak mengerti.

Arseta menghela nafas panjang, wajahnya tiba-tiba sayu. “Semua ini disebabkan ambisi yang terlalu besar. Aku tidak pernah menyetujui rencana macam itu…”

“Sebentar-sebentar, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi… bisa dijelaskan dengan lebih terperinci?” potong Jaka.

Arseta menatap Jaka, dia merasa bimbang, tapi apa boleh dikata dia memang harus melakukan itu. “Sebelum kuceritakan, tentunya kau merasa heran dengan keberadaan kami bukan?”

Jaka mengangguk. “Ya, tapi jika andika, tak mau menjelaskan akupun memakluminya, ini adalah rahasia kalian, dengan sendirinya tidak perlu diungkap.”

“Rahasia hanya akan menjadi sampah, manakala info berharga tidak kau olah.” Sahut Arseta. Setelah mendehem sejenak, dia mengeluarkan sebuah lempengan besi kekuningan, ah ternyata sebuah lencana emas berukir naga. “Kau memiliki ini?” Tanya Arseta.

Jaka mengangguk, dari lipatan baju dalamnya, Jaka mengeluarkan lencana yang diberikan oleh Sadewa. Kedua lencana itu sama persis, kecuali milik Arseta terbuat dari emas murni, milik Jaka terbuat dari perunggu. Setelah melihat lencana Jaka, Arseta memandang pemuda itu sejenak. “Mereka menganggapmu sangat bermanfaat…”

Jaka paham, jika lencana naga emas menandakan tingkat teratas, kemungkinan besar perunggu hanya dua tingkat di bawah lencana tersebut.

“…sejauh ini aku hanya bisa membawa enam orang yang diberi lencana semacam itu, selain dirimu.” Jaka menatap empat orang pemuda yang duduk di samping Arseta. Lelaki paruh baya ini tersenyum senang, ternyata Jaka paham dengan maksudnya.

“Maaf, mereka mendapat lencana apa?” Tanya Jaka.

“Lencana besi, dua orang yang lain—tak hadir disini, mendapatkan lencana perak.” Jelas Arseta. “Baiklah, aku akan mulai dengan lencana ini dulu… mungkin kau sudah menduga, tingkatan orang-orang yang mendapat lencana semacam ini. Emas, bagi yang diprioritaskan untuk jadi pembantu utama—semacam jendral; Perak, untuk orang-orang yang mengepalai kelompok-kelompok kecil; Perunggu, untuk kurir dan mata-mata; Besi, diberikan pada bidak yang disiapkan untuk pertarungan, mereka yang berada di garis depan; Kayu, diberikan pada para pengumpul informasi… dan terakhir lencana yang di tanam, berbentuk rajah atau tato… untuk yang terakhir ini aku sendiri belum begitu jelas, kurasa racun yang terdapat pada mereka tak jauh beda dengan yang pernah kau hirup, menurut informasi yang kudapat, mereka yang didalam tubuhnya terdapat tato naga, mutlak hanya mendengar perintah satu orang… tak perduli kau ini saudaranya, jika datang perintah membunuh, takkan berkerut kening mereka lakukan tugas itu.”

Jaka termenung, dia paham kenapa bisa ada efek seperti itu, yang menjadi masalah, siapa saja orang-orang yang dirajah naga itu? Menurut pendapatnya, jika ‘sesuatu itu’ terdesak, para pemilik rajah naga inilah kartu trufnya—pelindungnya, boleh jadi mereka semacam sandera yang digunakan untuk menjadi sandera pula. Mau tak mau Jaka harus mencari cara lebih hati-hati manakala menghadapinya. Sepotong keterangan Arseta benar-benar berharga!

“Aku mendapatkan lencana perunggu, tapi sejauh ini aku tidak merasa di manfaatkan menjadi kurir atau mata-mata?” Jaka bertanya penasaran.

“Mungkin sebantar lagi akan datang orang padamu untuk melakukan ini itu, toh kau sendiri baru tiga hari disini? Kupikir mereka masih menimbang tugas apa yang cocok buatmu.”

Jaka menyeringai, Arseta tahu dirinya baru tiga hari disini, pastinya Sugiri—si pelayan di rumah makan Ki Gunadarma, sibuk menguntit dirinya dan mencatat kegiatannya. Jaka tahu itu, dia pernah memerogoki gerakan Sugiri, bahkan dari isyarat yang di tinggalkan teman-temannya juga mengatakan demikian. Manakala teman-temannya memutuskan untuk menindak Sugiri, Jaka menolak, sebab dia tidak merasa terganggu. Pemuda ini justru menganggap Sugiri adalah tali penghubung pada simpul jaringan. Si pelayan itu adalah jalan menuju informasi yang mungkin saja mereka perlukan.

“Selanjutnya bagaimana?”

Arseta terdiam sesaat, “Perlu kau ketahui, aku adalah pengurus teras Perguruan Naga Batu, tapi itu dulu… sebelum para petinggi Naga Batu merubah kebijakan.”

“Sudah berlangsung berapa lama?” Tanya Jaka main tertarik.

“Keanehan baru kuketahui dua tahun yang lalu, persisnya kapan, akupun tidak tahu. Tapi, sejak empat tahun lampau, begitu banyak perubahan mendasar dalam perguruan, dimulai dari cara rekrut murid-murid yang berbeda dari biasanya. Lalu tata cara penerimaan tamu juga dirubah, dan masih banyak lagi… dan, kau sendiri berjumpa dengan siapa?”

Jaka tahu yang dimaksud Arseta, “Aku menjumpai orang bernama Sadewa, Kunta Reksi dan Kundalini, serta beberapa orang pengikut atau murid mereka, semuanya gadis-gadis muda.”

Wajah Arseta nampak kuyu. “Dulu, kami bersahabat sangat akrab…” gumamnya.

“Apakah sekarang tidak?” sela Jaka.

“Semenjak mereka memilik hobi mengumpulkan anak muda berbakat, aku memisahkan diri darinya.”

Jaka merasa heran dengan nada Arseta. “Berarti andika masih bisa keluar masuk Perguruan Naga Batu dengan leluasa?”

‘Sekalipun demikian, toh aku lebih suka menjauh dari sana.” Desah Arseta lesu, semula ia ingin menceritakan latar belakang apa yang terjadi, tapi dengan tanya jawab ini dia malah merasa ini lebih baik.

Jaka paham, “Sudah berapa lama?”

“Dua tahun.”

“Tapi, bangunan ini pasti berumur lebih dari dua tahun.” Gumam Jaka. Arseta menyipitkan mata mendengar cara bicara Jaka, dia tahu pemuda itu ingin mengatakan, ‘bangunan ini tidak ada hubungannya dengan Perguruan Naga Batu, lebih-lebih dengan dirinya yang keluar dari perguruan—baru dua tahun silam. Entah dari mana datangnya, mendadak Arseta memiliki gairah baru, lecutan semangat itu datang dari pemuda di hadapannya. Dia merasa pemuda ini bisa di harapkan lebih dari yang di sangka semula.

“Ya, bangunan ini berusia hampir sama dengan kota ini. Sebuah kota tak boleh di bangun tanpa benteng perlindungan.”

Jaka terkagum mendengarnya, pemuda ini memohon ijin sejenak untuk berjalan berkeliling. Dia memegang saka kayu yang jadi penopang bangunan. Terlihat menghitam dan berkilat. Kayu trembesi macam ini hanya dapat terlihat mengkilat dan kehitaman, manakala sudah memasuki usia lebih dari limapuluh tahun. Jaka kembali duduk di depan Arseta.

“Sepertinya lebih tua dari yang kubayangkan.” Ujarnya dengan tersenyum. “Tentunya, urusan Perguruan Naga Batu bukan masalah lagi…” ucapan pemuda ini membingungkan empat pemuda lain, tapi tidak bagi Arseta.

Mata lelaki separuh baya ini memercik api semangat. “Ya, urusan Perguruan Naga Batu memang masalah kecil saja… sayangnya antisipasi yang sudah dimiliki para pendahulu bisa di antisipasi pula oleh pihak lain. Dengan sendirinya, kami kurang leluasa bergerak.”

Kepala Jaka mendadak terasa gatal, sungguh dia ingin sekali menguji pengetahuan Arseta dengan simbol yang dia pakai untuk mengusir penguntit setelah dia berjumpa Danu Tirta dan Damar Kemangi. Tapi Jaka menahan diri untuk tidak melakukannya, sebab setidaknya sampai saat ini dimata Arseta, dirinya hanya memiliki peringan tubuh handal.

“Sudah terantisipasi? Hm, menarik sekali… mungkin ada hubungannya dengan bau obat yang kucium pada saat masuk kesini.” Gumam Jaka perlahan.

Tapi dalam pendengaran Arseta, ucapan Jaka seperti petir meledak di telinganya, hampir saja dia terbangun untuk meminta kejelasan Jaka. Tapi sebagai orang yang cukup berpengalaman, Arseta berusaha tak memberi reaksi.

“Memangnya kau mencium bau obat apa?” selidik Arseta.

Jaka tersenyum, dia tahu orang ini ingin mengujinya, tapi dia tak akan membiarkan Arseta tahu. “Hanya samar-samar, aku cuma menduga seperti bau obat.” Sahut Jaka pendek.

“Dimana kau cium bau samar-samar itu?” Arsetan bertanya dengan mata berkilau, nampaknya dia sudah memahami sesuatu.

Jaka tersenyum ewa, agaknya dia terlalu memandang rendah lelaki ini, “Baru saja,” katanya dengan perlahan. Terdengar helaan nafas Arseta, nampaknya jawaban Jaka tidak sesuai dengan perkiraannya. “Aku ingin latar belakang hal yang berkaitan dengan Perguruan Naga Batu, andika ceritakan… kalau tidak keberatan.” Sambung Jaka mengalihkan pembicaraan.

Arseta mengangguk. “Seperti yang kuceritakan tadi, ada perubahan kebijakan dalam tubuh Perguruan Naga Batu, aku merasa semua pihak yang berkaitan dengannya memiliki persepsi yang sama dalam waktu bersamaan pula. Ini membuatku curiga, sepulangku dari tugas di luar, semua berubah secara lamban tapi pasti, aku seolah tidak mengenali lagi mereka…”

“Dan kini, ada undangan bagi enam belas perguruan besar untuk menghadiri pelantikan para pengurus Perguruan yang baru…” Sambung salah satu dari pemuda yang duduk tepat di samping Arseta.

Jauh-jauh hari saat mengetahui Perguruan Naga Batu ternyata pernah bersinggungan dengan Perguruan Enam Pedang, membuat Jaka yakin… ada motif yang sama di balik semua ini. Jaka bisa menduga apa isi dalam hantaran itu, tapi dia belum begitu yakin, sebab sejauh ini barang kiriman itu belum menunjukan perananan penting.

“Apakah perubahan pengurus dalam perguruan, harus melibatkan pihak lain?” Tanya Jaka.

“Ya, mereka bertindak sebagai saksi. Ini memang sudah wajar dilakukan oleh masing-masing perguruan, apalagi Perguruan Naga Batu sudah menjalin hubungan erat dengan enam belas pilar utama.” Jawab Arseta.

“Apakah undangan itu boleh diwakilkan?” Tanya Jaka.

“Undangan dengan disisipkan emas murni satu peti, ingin diwakilkanpun tidak mungkin lagi.” Ujar Arseta.

“Oo…” Jaka baru tahu ternyata ada kejadian semacam itu, sungguh menarik. “Jadi kapan acara itu akan di mulai?”

“Empat hari dari sekarang.”

“Andika sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya?”

‘Aku tidak berani menduga terlalu jauh, sebab situasi Perguruan Naga Batu tidak ada yang berubah. Semua tenang-tenang saja…”

Jaka tersenyum. “Begitu… tentunya jika andika berhasil menyelamatan saya dan enam orang lainnya dari serbuk beracun, andika tahu mereka-mereka yang lainnya ada dimana…”

“Aku belum tahu bisa mendeteksi keberadaan orang-orang itu, semua yang berhasil kuselamatkan juga karena sejak awal kami memata-matai gerakan pendatang baru.”

“Termasuk diriku?” Tanya jaka polos.

‘Tak terkecuali!” tegas Arseta. “Sayangnya, cara kerja mereka sangat khas, akupun tak kuasa lagi menyerap informasi yang benar.”

“Kenapa tidak bekerja sama dengan pihak lain?” Tanya Jaka.

“Memangnya ada pihak lain?”

“Bukankah ada enambelas pilar utama? Enam orang yang andika selamatkan, bukankah bisa menjadi penghubung?”

“Itu sudah kupikirkan…”

“Lalu apa yang andika bimbangkan?” cecar Jaka.

“Masalahnya tiap perguruan dari enam orang ini, berlepas tangan dengan kejadian tersebut.” Ujar Arseta tak semangat.

“Aku paham…” Jaka mengerti kenapa mereka melepas diri, sebenarnya tidak benar-benar melepas diri, tapi bertindak hati-hati. Bagamanapun menuduhkan hal yang belum jelas hanya akan memperkeruh masalah, dan kekeruhan inilah yang dibutuhkan oleh para perancang kekalutan ini. “Lalu, apa tujuan andika membawaku kemari?”

“Aku ingin meminta tolong padamu, untuk tetap betingkah seolah masih dalam cengkraman mereka.”

“Lalu apa yang kulakukan?”

“Nantinya akan ada yang memberitahu langkah-langkah selanjutnya padamu, aku meminta kerjasamamu—bukan balas jasa, untuk memberitahu kami jika sudah ada orang yang memberimu tugas ini itu.”

“Cara bagaimana aku memberi tahu kalian?” Tanya Jaka selugu orang yang tak mengenal urusan apapun.

Arseta mengeluarkan gulungan kertas. “Disini ada caranya, lambang yang bisa kau gunakan ada disini, aku harap kau menghafalkannya sesegera mungkin, aku tak bisa meminjamkan ini padamu terlalu lama.”

Jaka membaca gulungan itu, beberapa saat dia sudah menghafal semua… dan Jaka juga pernah menemukan di sepanjang jalan selama ke Pagaruyung, ada tanda-tanda semacam ini. Dia mengingat-ingat lambang apa saja yang pernah dijumpainya, dan kemudian ia translasikan dengan arti yang baru saja dia pahami. Diam-diam Jaka meminta maaf dalam hati, karena memanfaatkan pengetahuan Arseta. Pemuda ini menyerahkan kembali. ”Apakah hanya ini saja?”

“Sebenarnya ada hal lain, aku ingin kau bertemu dengan seseorang…” Arseta bangkit di ikuti semua orang. “Ikut aku…” katanya pada Jaka.

Pemuda ini berjalan di belakang Arseta. Mereka memasuki ruang belakang tempat berlatih, ada selasar panjang selebar bahu orang… sangat pas di lalui satu orang. Dan mendadak Arseta lenyap di dinding sebelah kiri, demikian juga empat pemuda yang mengikutinya. Jaka ragu sejenak, dia melihat dengan seksama.. ternyata ada semacam tuas di lantai untuk membuka pintu dorong yang bentuknya menyerupai dinding, begitu tuas diinjak, bahu Jaka segera mendorong, ‘dinding’ tersebut… dan dia berhasil masuk.

Tercengang adalah hal pertama terjadi, di balik dinding itu ternyata ada dunia lain… begitu banyak orang yang berlalu lalang dalam ruangan seluas 10 x 20 meter itu, ruangan itu semacam kantor administrasi yang sangat sibuk, disana sini terdapat meja kursi yang dipenuhi kertas dan alat tulis, ada juga orang-orang yang sedang sibuk membahas sesuatu.

Jaka sadar, dia sedang memasuki kawasan yang tidak akan mudah dia kembali dengan kondisi semula, selain dirinya memiliki nilai tawar yang bisa digunakan oleh mereka. Mereka sudah tiba di ujung ruangan dan masuk kedalam ruangan lain lagi, dengan cara yang sama.

Di balik dinding itu ada orang-orang yang duduk berjaga… ruangan ini semacam tempat menerima tamu, dikatakan semacam karena tamu yang bisa masuk kemari harus dipandu tuan rumah dulu. Aroma obat makin kuat menyengat. Jaka menghela nafas dingin… dia sangat paham dengan aroma khas semacam ini.

Arseta menyilahkan Jaka duduk, dia sendiri masuk di balik kelambu yang memisahkan ruangan itu dengan bagian yang lain. Tak berapa lama Arseta muncul di ikuti seorang lelaki berusia pertengahan tiga puluhan. Jaka memperhatikan wajah lelaki gagah berjenggot itu, matanya bersinar tajam, ada wibawa besar menyelimutinya.

“Perkenalkan, beliau adalah Ketua Bayangan dari Perguruan Naga Batu.” Kata Arseta dengan hormat.

Jaka bangun dan menghormat, sikapnya biasa saja, tidak terkejut tidak pula ingin bertanya ini itu, seolah dia memang benar-benar tidak mau tahu urusan. “Salam kenal, ketua, saya Jaka Bayu.” Katanya.

Lelaki itu mengulurkan tangan, Jaka menyalaminya, dan seperti dugaanya.. lelaki itu berminat mengujinya. Sebersit tenaga yang sangat tajam menyusup dari balik telapak tangannya dan ‘mematuk’ Jaka. Pemuda ini merasakan tangannya pedih dan kebas, ternyata tenaga orang ini setegar cadas dan berdaya rusak tinggi.

Jaka tidak menghindari tenaga itu, dia menerima tenaga itu dengan satu tarikan nafas, dan rasa pedih membuyar perlahan… namun demikian dalam hati Jaka merasa terkejut, sebab tenaga itu tak bisa di buyarkan begitu saja dalam tubuhnya, tenaga itu malah makin meresap menyesak ulu hatinya. Wajah pemuda ini memerah sesaat, dan mendadak… wajah Ketua Bayanganlah yang berganti kejut… seolah-olah dia terpatuk ular.

“Terimakasih,” Jaka melepas tangan sang ketua yang tak lagi mengalirkan hawa serangan.

“Kau anak murid Arwah Pedang?” Tanya Ketua Bayangan dengan penasaran.

Jak tersenyum sembari menggeleng, “Bukan, tapi aku pernah diajari satu dua jurus olehnya.”

Mendadak, Ketua Bayangan mengibas tangan kirinya, selarik sinar merah melecut Jaka dengan begitu cepat… Jaka tak terkejut, dia diam saja. Dan sinar itu berhenti tepat di depan hidungnya… hanya berjarak satu ruas jari. Oh ternyata sinar kemerahan itu adalah rumbai baju Ketua Bayangan.

“Kenapa tak menghindar?”

“Sebab aku memang tidak perlu menghindar.”

Jawaban Jaka membingungkan mereka. Tapi Ketua Bayangan paham, dia mengerti sebab untuk bertemu dirinya dilalu proses yang lama dan berbelit, dan tak mungkin pula tamu tersebut dianiaya tanpa alasan, sebuah kesimpulan tentang Jaka sudah diperolehnya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s