57 – Menggeser Bidak Pemabuk Berkaki Cepat

Kicau burung di pagi hari benar-benar menyejukan hati siapa saja, tak terasa empat jam telah lewat, sejak kejadian di penginapan dini hari tadi. Jaka sudah bangun setengah jam lalu. Dia sedang mempersiapkan agendanya untuk hari ini. Pertama, bertemu dengan rekannya. Kedua, dia harus menepati janji bertemu dengan orang-orang dari Perguruan Sampar Angin. Dan selanjutnya, Perguruan Naga Batu akan jadi sasaran penyelidikannya.

Jaka membuka jendela kamarnya, kebetulan jendela kamarnya menghadap timur, dengan demikian Jaka bisa menikmati sinar pertama mentari sepuas hati. Sesaat Jaka meregangkan badannya, lalu dia keluar kamar.

“Tolong, sediakan air hangat untuk mandi.” Pintanya saat berpapasan dengan pelayan.

Tak berapa lama kemudian Jaka sudah selesai membersihkan diri, dan siap-siap turun. Walau tidak menyapukan pandangannya keseluruh sudut rumah makan penginapan itu, Jaka tahu kalau dirinya jadi perhatian. Tapi dia tidak perduli.

Bahkan saat melewati orang-orang dari Perguruan Pedang Mentari, yang tadi malam ‘ditolong’, Jaka tidak menoleh, mengangguk atau menyapa, seolah dia tak pernah melihat orang itu sebelumnya.

Dia duduk tengah ruangan, sebenarnya Jaka lebih suka duduk disudut ruangan, tapi karena penuh semua, ya, apa boleh buat. Kali dia benar-benar menjadi pusat perhatian, tapi Jaka tetap adem ayem. Beberapa orang yang menginap satu lantai, bergabung dengan Jaka.

Pesanan Jaka datang, dia segera menyantapnya. Beberapa orang yang duduk satu meja dengannya tampak melirik satu sama lain, lalu salah satu dari mereka bertanya.

“Kau datang dari mana anak muda?”

Jaka tak menyahut, dia tetap makan—mengunyah.

“Kau dengar pertanyaanku?” ujar orang itu tak sabaran.

Jaka mengangguk, dia menunjuk mulutnya yang sedang mengunyah. Orang itu paham maksud Jaka, Jaka masih mengunyah, dia tak bisa menjawab. Jaka meneguk minumannya. “Aku tak punya daerah tetap.” Jawabnya kemudian.

Orang itu tersenyum. “Paling tidak kau punya tempat saat dilahirkan.”

“Kau benar, aku lahir di kota Kunta.”

“Oh, dekat dengan daerah Indrahilir kalau begitu.”

Jaka manggut-manggut, tapi dia tak berkomentar.

“Hei, aksimu tadi malam sangat hebat.” Seseorang ikut berbicara. Dalam sekejap suasana seolah jadi lebih tenang, kelihatannya mereka sedang mengikuti pembicaraan itu.

Jaka tertawa, “Terima kasih.”

“Sebenarnya kau sedang apa sih, tadi malam?”

Sebelum Jaka menjawab, teman disebelahnya menjawab. “Kau ini bagaimana, tentu dia ada sangkut pautnya dengan empat orang yang tadi malam, salah seorang diantaranya mengucapkan terima kasih padanya.”

Jaka manggut-manggut.

“Tebakanku benar?”

“Salah.” Sahut Jaka.

“Lho…”

“Kalian tahu, orang yang aku goda tadi malam adalah kenalan lamaku, sudah lama dia tak bertemu dengaku, mungkin waktu itu aku masih berusia enam tahun.”

“Kenalan?” orang itu bertanya bingung, bagaimana mungkin kenalan Jaka lebih tua puluhan tahun, dan Jaka sudah mengenalnya pada usia enam tahun? Aneh.

“Kau tak perlu memikirkannya, dia mungkin masih bingung dengan tidakanku, tapi nanti juga sadar.” Jaka cepat-cepat menghabiskan airnya, lalu dia berdiri. “Maaf, tidak bisa menemani lebih lama.” Tanpa menanti jawban Jaka berdiri dan berlalu.

Jaka berjalan melewati empat orang dari perguruan terkemuka tadi. “Tuan, bisakah anda duduk dengan kami sekejap.” Swatantra berdiri, meminta Jaka bergabung dengan dirinya.

Jaka berhenti lalu menoleh kearahnya. “Kenapa aku harus duduk dengan kalian?” ia bertanya hati-hati.

“Kami ingin berbincang sejenak…”

“Tapi aku tidak, andika keberatan?!” Sahut Jaka singkat, lalu dia berjalan menuju kasir dan membayar makanannya. Swatantra berdiri dengan terbengong-bengong, lalu dia duduk dengan wajah merah padam.

“Kenapa kau mendekatinya?” Tanya pemuda di samping Swatantra.

“Melihat gelagatnya tadi, kupikir dia lebih mudah dari yang kukira.” Ujarnya dengan nada rendah.

“Kenyataannya?”

“Dia keras… ya, lebih keras.”

“Kakang yakin perbuatannya tadi malam ada sangkut pautnya dengan kita?”

Swatantra merenung sejenak. “Entahlah, aku jadi bingung kalau mendengar ucapannya barusan.”

“Tidak perlu memikirkan hal-hal yang tak ada gunanya.” Dengus pemuda satunya lagi dengan suara dingin.

“Kau benar Adi Pancaksi.” Sahut Swatantra singkat. Dan mereka kembali menikmati makanan dengan tenang. Tapi apakah pikirkan mereka setenang itu?

Usai membayar, Jaka sudah keluar dari penginapan. Ada beberapa orang juga ikut membayar makanan lalu mereka keluar. Tidak ada yang aneh… Sampai beberapa orang yang lain juga ikut keluar.

Empat orang itu saling pandang. Kelhatannya yang tertarik dengan pemuda itu cukup banyak. “Kita keluar?” Seru pemuda yang dipanggil Pancaksi.

“Tidak.”

“Apa maksudmu, adi Kagendra?”

“Kita tidak punya kepentingan dengannya.”

Tiba-tiba Pancaksi mendengus. “Memangnya kita keluar mau membuntuti bocah sombong itu?”

Swatantra menggebrak meja perlahan. “Benar, kita tidak ada urusan dengan dia, sekalipun jalan dibelakangnnya juga bukan berarti ada urusan dengan dia!” Tanpa menanti jawaban yang lain, Swatantra beranjak dari tempat, yang lain mengikutinya, tapi salah satu dari mereka yang dari tadi tak ikut bercakap, membayar rekening, lalu dia keluar menyusul.

Saat dia menyusul sampai diluar, dilihatnya Swatantra seperti orang kebingungan.
“Ada apa kakang?” tanyanya sambil mengiringi langkah rekan-rekannya.

Orang ini tak menjawab, dia hanya menunjukkan sesuatu, sebuah lencana terbuat dari kayu dengan ukiran sederhana. Ukiran sebuah garis melintang. Bahkan jika dilihat lebih teliti, benda itu tak patut disebut lencana. Wajah pemuda ini juga menampilkan rasa bimbang.

“Siapa yang memberi Tanda Silam ini?” bisiknya.

“Itu dia…” Pancaksi menunjuk seseorang yang duduk dibawah pohon sambil menjual panganan.

“Biar aku tanya..”

“Tidak perlu adi Galih.”

“Kakang sudah menanyakannya?”

Swatantra mengangguk. “Katanya yang menitipkan benda ini, seorang lelaki yang memakai pakaian hijau, wajahnya biasa saja, pokoknya semua serba biasa. Ciri-cirinya, tak seperti orang-orang yang kita kenal.”

Dwiya Galih berpikir keras. “Siapa saja yang kenal tanda ini?” gumamnya.

“Hanya perguruan kita masing-masing.” Sahut Kagendra.

“Kalau begitu pasti salah seorang utusan dari perguruan.”

“Itu tidak mungkin!” Sahut Pancaksi. “Coba kau pikir baik-baik, tanda silam hanya keluar kalau ada keadaan darurat tingkat empat. Sepajang empat tahun ini, lencana itu belum pernah beredar lagi. Kalau sekarang beredar, pasti ada alasan bagus,”

“Berikan alasanmu…” potong Swatantra.

“Pertama, tanda itu hanya akan diserahkan kepada pihak yang bertanggungjawab pada perguruan masing-masing. Untuk Perguruan Awan Gunung, hanya paman guruku yang punya hak memegang lencana itu. Seandainya orang lain diberi hak untuk memegangnya, pasti ada ciri lain pada lencana, dan tanda itu tidak terdapat disini. Kalau begitu, keterlibatan perguruanku diabaikan. Kedua; keterlibatan Perguruan Pedang Mentari, dan Merak Inggil, juga kusangsikan, sebab setahuku yang memegang lencana itu guru tingkat tiga, bukankah demikian?”

Swatantra dan Dwiya Galih mengangguk. Pancaksi meneruskan penjelasannya. “Kalau begitu kusimpulkan lencana itu palsu…”

“Tunggu, tak bisa terburu-buru kau ambil kesimpulan seperti itu.” Potong Dwiya Galih.

“Apa alasanmu?”

“Dahulu, saat lencana tanda silam diturunkan tidak ada pemberitahuan sama sekali. Dan hanya kalangan tertentu dalam perguruan yang tahu. Kita berempat adalah orang-orang yang dipercaya oleh perguruan masing-masing, kita adalah orang-orang yang terpilih. Kita tidak perlu harus tahu, mengapa lencana itu bisa muncul. Tugas kita justru menyelidiki kenapa lencana itu bisa muncul. Dan jika benar—kalau bisa—tugas kita pulalah menyelesaikannya.”

“Bagaimana kakang?” Tanya Kagendra.

Memang uraian Dwiya Galih terdengar masuk akal. Swatantra juga manggut-manggut. “Alasan adi Galih masuk akal, alasan adi Pancaksi juga masuk akal. Aku hanya bisa memutuskan kita menyelidikinya sambil lalu, ingat kita punya tujuan lain di tempat ini.”

“Kalau begitu, kakang menganggap lencana ini tidak penting?” Tanya Pancaksi.

“Tentu saja bukan begitu. Coba kau pertimbangkan baik-baik, seandainya kita ambil kejadian ini dengan serius, akan kita mulai dari mana?” melihat ketiganya masih memandang bingung, Swatantra menjelaskannya lagi.

“Baiklah, misalkan saja kita usut orang yang memberikan lencana ini, menurutku, itu hal percuma! Bisa saja lencana ini dikirimkan berantai, siapapun dia, akan memberikan pada orang lain yang juga tak dikenal, dan orang itu disuruh memberikan pada yang lain, sampai pada akhirnya kita yang mendapatkannya.”

“Menurut kakang, seandainya lencana ini benar, apakah akan ada jejak berikutnya?” Tanya Dwiya Galih.

“Pasti. Tapi aku yakin keadaan darurat tingkat empat tidaklah separah yang kita kira, coba ingat apa yang pernah terjadi dulu…” mereka bertiga mengangguk paham.

“Jadi apa rencana kita selanjutnya?”

“Seperti yang sudah ditetapkan. Dan jangan lupa buka mata dan telinga kalian, tambahan informasi sekecil apapun sangat berguna bagi kita.”

“Baik kakang…” ketiganya menjawab serempak, dan berpisah. Rupanya empat orang itu sudah sepakat jalan sendiri-sendiri.

==o0o==

Jaka sedang memeluk anak yang jadi perantara lencana pada penjual kue tadi, dia juga memberikan kue pada anak itu.

“Kau sangat pintar Gama..” pujinya pada anak itu, gama berarti; bertindak. Ya, anak berusia tujuh tahun itu memang cekatan, Jaka sangat kagum dengan cara Si Penikam menggunakan semua sumber daya. Gama bukan siapa-siapa, tapi dia dan teman-temannya adalah penyampai kabar dari Si Penikam kepada Jaka, demikian juga sebaliknya.

“Sekarang bisa tidak aku meminta tolong lagi?” pinta Jaka.

“Kata Paman Sunu, Gama harus mendengar apapun ucapan kakak..” kata anak itu dengan memandang Jaka. Paman Sunu adalah panggilan Gama pada Si Penikam.

“Sekarang tolong bilang Paman Sunu, kakak sudah menjirat tali pada kawan orang tukang mabuk.”

“itu saja?” gumam si anak dengan bingung.

“Ya, coba kau ulangi.” Ujar pemuda ini, dan Gama mengulanginya sampai dua kali. “Bagus, kakak akan mengijinkanmu meminta mainan pada Paman sunu.”

“Benarkah?” mata anak itu berbinar.

Jaka menganguk-angguk, tak menanti lama, Gama berlari dengan memegang kayu yang diseret. Pemuda ini meneruskan langkahnya dengan hati gembira. Kejadian dini hari tadi adalah umpan untuk Pemabuk Berkaki Cepat.

Pemabuk Berkaki cepat bukanlah julukan orang, itu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang tidak ada hubungan apa-apa dengan kasus yang dihadapi, tapi mereka bersikap sok tahu dan kepingin ikut campur, yang menjadi dasar kalimat ‘berkaki cepat’ adalah; berhubungan dengan latar belakang mereka yang bukan sembarangan. Mereka adalah Swatantra dan kawan-kawan. Dari mulut merekalah, Jaka ingin meminjamkan penyiaran kabar.

Benteng Ilusi yang meisterius, dan Tanda Silam… mereka akan menghubungkan dua hal itu cepat atau lambat, pada saat mereka menyadari itu, ada sebuah permainan menarik yang sudah disiapkan Jaka. Pemuda ini mengistilahkan sebagai rencana menarik angin, rencana yang sudah dibicarakan dengan si kedok misterius.

Orang yang sengaja dikerjai Jaka dini hari tadi disenyalir sebagai, Wakil Tetua Perkumpulan Pengemis cabang selatan, artinya.. dia atasan Bergola. Untuk memastikannya, Jaka menguji kevalidan informasi yang didapat anak buah Si Penikam, dia ingin si tersangka mengejar dirinya… dan begitu keluar dari penginapan sudah ada bebrapa orang menguntit dirinya, tapi dengan mudah dia melepaskan diri dari kuntitatn mereka dan kembali ke depat penginapan, untuk bertemu dengan Gama.

Sejauh ini Jaka belum mendapatkan umpan balik yang diharapkan, dari si tersangka, dia mulai ragu. apakah mereka yang sempat menguntitnya tadi ada hubungan dengan orang yang dia kerjai?

Pertimbangan Jaka lebih pada analisa; jika dia bukannya orang-orang dari kelompok Panah, mengapa pula mencari urusan dengan para ‘pemabuk berkaki cepat’ ini?

==o0o==

Jauh di timur kota Pagaruyung…

Sosok tubuh terbalut baju gelap, tampak berjalan tergesa, dia bukannya menuju pusat kota, tapi malah menjauhi keramaian.

Orang itu bermuka lonjong kurus, tubuhnya tinggi jangkung. “Aku harus sampai ke tempat tujuan sebelum lukaku makin gawat.” Pikirnya dengan muram. Ya, walaupun tak terlihat parah, tapi kondisinya tubuhnya memang tak sehat, wajahnya juga sedikit pucat.

Sebelum dia melangkah lebih lanjut, didepan ada seorang lelaki berpakaian abu-abu menghadangnya. Anehnya dia memunggunginya. Karena merasa tidak ada urusan, lelaki ini tidak menghiraukan, diapun lewat disampingnya.

Mendadak saja si penghadang menyabet dengan tangan kanannya. Walau sudah waspada, tak urung dia kaget juga. Tanpa tergesa orang ini melakukan gerakan setengah putaran, dan melompat kebelakang. Tapi si penghadang juga melakukan lompatan kedepan, jadi jaraknya tetap sama, dan serangan itu tetap akan mengena.

Lelaki ini mengeluh dalam hati, sungguh sial dirinya hari ini kepentok dengan orang lihay. Menyadari tak akan sempat menghindari lagi, dia mengibaskan tangan kearah wajah si penghadang. Kibasan itu kelihatan lemah, tapi kalau kena wajah, hidung juga tak berbentuk hidung lagi.

Kibasan itu datangnya tak terduga, sipenghadang jadi terperanjat, tapi dia cukup memiringkan sedikit kepalanya, dan lewatlah serangan itu. Tapi… rupanya masih ada satu serangan lagi, tendangan tumit lelaki jangkung itu menyapu dari atas kebawah, mengincar bahu.

Rupanya serangan pertama hanya untuk mengelabui saja, sedangkan serangan kedua yang sebenarnya. Menyadari tendangan tingginya mudah dihindari karena gerakannya terlalu berlebihan, makanya dia harus mengkamuflase dengan serangan tipuan. Waktu sedetik sudah cukup baginya untuk mengembangkan tendangan tinggi ini hingga sempurna.

Kali ini si penghadang benar-benar kaget melihat serangan sederhana, bisa begitu terlihat mematikan. Buru-buru dia merendahkan tubuh dan tangannya menonjok keatas, tiada keraguan lagi rupanya dia ingin beradu.

Lelaki jangkung ini bimbang sesaat, dia tak tahu apakah tumitnya lebih menang dibanding kepalan lawan. Sedetik sebelum kakinya beradu, secara aneh, dia bisa menggeser kakinya setengah meter kekanan, secepat kilat pula badannya memutar balik, masih dalam keadan melayang, kaki kirinya menyepak wajah lawan.

“Hebat!” seru penghadang ini kagum, tak ada jalan lain kecuali dia mundur. Lelaki jangkung ini tidak menyerang lebih lanjut. Dia menatap orang itu, kalau orang lain pasti bertanya, ‘Kenapa kau menyerangku?’ tadi lelaki ini tidak, dia justru berkata. “Bisakah aku lewat?”

Si penghadang terkesip, pada awalnya dia sengaja mencari gara-gara, tapi menyadari dirinya berimbang dengan lawan, ia juga harus berpikir lagi untuk melaksanakan rencananya.

“Ini jalan umum, seharusnya siapa saja bisa lewat, tapi aku punya kepentingan denganmu.”

Lelaki ini merenung sesaat, “Baik, silahkan bicara.”

“Sebenarnya bukan aku yang akan bicara denganmu, tapi majikanku. Aku hanya memastikan kalau keinginan majikanku tidak ada halangan.”

Orang ini mengangguk. “Kau anak buah yang baik.”

“Terima kasih…”

“Sayangnya aku tidak bisa.”

Wajah yang semula tersenyum itu, membeku dalam sesaat. “Kau menolak bicara dengan majikanku?” dia bertanya dengan suara bengis.

Lelaki ini mengeluh dalam hati. Ah, urusan jadi gawat begini, aku pasti terlambat bertemu tuan.

“Kalau saja aku tidak ada kepentingan lain, tentu sangat bersedia menemui majikanmu.”

“Kau tidak perlu membantah lagi!”

Ia menghela nafas panjang, “Kau tahu apa pendapatku tetang majikanmu?” Si penghadang tak menyahut, dia ingin tahu rupanya.

“Majikanmu tak lebih hanya orang tukang paksa. Kalau dia orang bijak, pasti bisa membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Dan dengan mengutus engkau, aku jadi bisa menarik kesimpulan sejelas ini.”

Wajah penghadang ini merah padam. “Kurang ajar, mulutmu memang harus kau cuci dulu sebelum bicara.”

Dia menyeringai. “Aku hanya memberi pendapatku saja, setiap orang boleh bicara bukan?”

Tanpa menanti apa kata si penghadang, lelaki ini lewat disisi penghadangnya. “Sampai jumpa lagi.”

Lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa, kalau dia kembali menghadang, sama saja dia membenarkan ucapan lawannya bahwa majikannya tukang paksa orang. Dengan dongkol dia hanya bisa berjalan mengikuti si jangkung.

Tapi si jangkung membiarkan saja, pikirnya, kalau orang ini sudah melihat tuannya orang macam apa, mungkin saja dia akan terus mengundurkan diri. Si jangkung tidak berpikir lebih lanjut, karena hadangan muncul kembali. Sementara orang yang mengikutinya langsung berseri wajahnya, mengetahui siapa yang menghadang.

“Kau harus merasa tersanjung. Ternyata majikanku mau menemuimu sendiri.” Katanya dari belakang, lalu dia lari mendahului untuk menyambut majikannya. Si jangkung tak menyahut, dia hanya mengangkat bahunya. Sesampai didepan orang itu, diapun berhenti. Dia tidak bertanya ada kepentingan apa mereka menghadang, dia hanya mengamati orang itu.

Orang yang disebut sebagai majikan oleh lawannya, adalah lelaki berusia tiga puluh lima, wajahnya tampan, tapi menyiratkan wibawa dan keangkuhan. Mereka tidak bertegur sapa, seolah saling mengukur kemampuan satu sama lain. Si jangkung tahu, jelas saja lelaki didepannya itu jauh lebih lihay dari pembantunya, tapi jika perlu dia juga harus melawan.

“Senang bertemu dengamu.” Orang itu bersuara. Suaranya berat dan kereng berwibawa, tipe orang yang selalu mengatur.

Lelaki jangkung ini mengiyakan, biarpun dia tak tahu orang macam apa lelaki itu, tapi dia juga harus menghormatinya dengan kapasitas sebagai pemimpin orang lain.

“Kau tahu keperluanku ingin bertemu denganmu?”

si Jangkung menggeleng.

“Aku ingin tahu seperti apa tuanmu itu.” Ujarnya singkat.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s