54 – Meditasi Batu Mulia

“Cara bagaimana kami harus menguji dirimu?” tanya Pranayasa. Agaknya dia yang memimpin kelima rekannya.

“Terserah, keluarkan saja serangan terbaik kalian.” Sahut Jaka singkat.

“Termasuk ilmu mustika?”

Jaka mengangguk.

Paras keenam orang itu berubah pias, lalu dari pias menjadi kemerahan, raut mereka jadi sangat serius. Agaknya apa yang dilakukan Jaka benar-benar menyentil ego mereka. Biarpun hati merasa panas, tetapi merekapun sadar, kalau orang secerdik Jaka tidak akan sembarang bertindak.

Kalau saja tenaga yang dikerahkan Jaka adalah tenaga saat melawan Ki Benggala, mereka yakin bukan tandingan Jaka, tapi jika keenamnya bergabung, entah apa yang akan terjadi, siapa yang tahu?

“Bersiap Jaka!” desis Pranayasa.

Jaka mengangguk, tapi, tunggu…

Keenam orang itu kembali memperhatikan wajah Jaka, dan kini perasan terkejut, gusar, ngeri, atau takut bercampur aduk jadi satu!

Saat mereka masih berbicara tadi, wajah Jaka tiada menampilkan perubahan, tetap tenang dan penuh senyum. Tapi kini… kini?

Tiada lagi wajah penuh senyum, wajah itu kini berpenampilan seperti wajah orang mati, tapi anehnya warna wajah Jaka tidak pias, tapi hijau cerah, cuma matanya yang bening agak memburam. Lamat-lamat terasa hawa yang membuat pori-pori mereka merinding. Sekalipun mereka orang goblok, tanda yang ditimbulkan Jaka pasti diketahui. Itulah hawa membunuh! Tapi hawa ini lain dari yang lain…

Apakah itu, Meditasi Batu Mulia? Tapi mengapa begitu beda? bisik mereka dengan hati miris, ngeri.

Meditasi Batu Mulia adalah sejenis ilmu pemusatan pikiran yang sangat hebat, pemusatan pikiran hanya pada satu titik, yakni… membunuh! Istilah Meditasi Batu Mulia dikenal seluruh pakar ilmu silat, lantaran itulah tataran tingkat tinggi meditasi untuk menuju tingkatan tenaga sakti paling hebat tapi juga paling berbahaya, dan merupakan jalan terakhir bagi seorang pakar. Tentunya untuk menuju tingkat meditasi itu sulitnya bukan main, dan tidak tiap pakar bisa melakukannya. Cuma anehnya kenapa Jaka bisa?

Kenapa dinamakan Meditasi Batu Mulia? Tentu saja ada maksudnya, yakni; pada hakikatnya, hanya batu mulia seperti giok, permata, bijih baja, bijih emas dan sebagainya… tahan terhadap, cuaca, tanpa terpengaruh, cuaca seburuk apapun justru membuktikan kadar kemurnian batu murni.

Begitu pula dengan Meditasi Batu Mulia ini, jika seseorang sudah memasuki tahapan ini, tekanan apapun tidak akan menggoncangkan perhatiannya, tujuan membunuh akan menjadi prioritasnya, apakah dia sendiri akan mati atau tidak, tidak akan diperdulikan! Tapi yang jadi masalah, jika meditasi ini sudah memuncak dalam pengerahan, siapapun lawannya pasti mati!

Itulah kenapa lawan Jaka tergucang hatinya melihat keadaan Jaka, merekapun tak berani ayal. Seluruh puncak ilmu kepandaian masing-masing—sampai pada ilmu mustika, dikerahkan untuk menyambut serangan Jaka.

Aneh… bukankah mereka yang mengeroyok? Tetapi kenapa perasaan mereka justru sebaliknya? Seolah merekalah yang dikepung oleh pasukan di berbagai penjuru? Jika Adiguna dan Palada berpendapat bahwa kehebatan Jaka melulu tenaga saja, kali ini mereka harus menelaah kembali dugaan itu, mereka harus menambahkan kalau Jaka adalah orang pintar… atau jenius? Dan jika sebelumnya Nawang bersaudari berpendapat kalau kecerdikan Jaka hanya melulu pengobatan dan tanaga besar, kali ini mereka harus menambahkan bahwa Jaka adalah orang yang memiliki daya pengamatan bagus… tetapi kata bagus itu lebih tepat jika diganti, sangat bagus?

Dan jika Wiratama berharap dengan serangan serentak sekuat tenaga bisa mengakhiri segalanya, maka kali ini dia harus berpikir seratus kali. Dalam kondisi Jaka saat ini, bukan hal yang tepat jika mereka menyerang serentak. Sebab situasi kali ini serupa orang saling menempelkan golok di leher masing-masing. Salah bergerak, matilah!

Dan tadinya Pranayasa sangat menantikan inspirasi gerakan barunya bisa mengejutkan Jaka, kali ini dia sadar bahwa daya pengamatannya, masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Jaka.

Lalu bagaimana dengan Jaka? Sebelumnya dia sangat berharap bisa mengontrol dirinya, tetapi begitu ini dilakukan, maka menyesallah ia. Menyesal? Apa yang disesalinya?

Kondisi saat itu benar-benar tegang, keempat gadis anggota Jaka hanya bisa mengawasi dengan hati tegang. Mereka sadar jika pertandingan kali ini tidak bisa dibilang pertandingan biasa, tapi pertandingan hidup-mati? Tidak, tidak… mereka mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. Mereka berharap itu cuma ajang saling gebrak. Hanya saling gebrak!

Hanya…?

Merekapun tak yakin dengan pikirannya sendiri.

Ketujuh orang itu berdiri bagai patung. Jika lawan Jaka mengawasi Jaka seperti harimau mengintai mangsa, maka Jaka sebaliknya, pemuda ini seolah sedang menghadapi persolaan maha sulit dalam hidupnya. Tapi perasaan pemuda ini sama sekali tak tercermin di wajahnya, atau di matanya, atau pada tindakannya. Sebab, dia seperti orang menunggu ajal…

“Bagaimana ini?” bisik Andini dengan suara lirih, wajahnya pucat.

“Aku tak tahu…” gumam Pertiwi.

“Apakah sebaiknya…”

“Benar!” Ayunda memotong ucapan Diah, “Lebih baik para tetua tahu.” Ujar gadis ini dengan hati kalut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera beranjak dari ruangan.

Tapi…

Bluk!

Ayunda terjatuh, kakinya lemas, ia merasa tak punya tenaga. Padahal hanya empat langkah ditempuhnya. Kenapa bisa begitu?

“Yunda, kau kenapa?” pekik ketiga saudaranya kaget, mereka memburu, dan… merakapun ikut jatuh. Lemas!

“Kenapa ini?” bisik ketiganya bingung. Tapi sebagai orang-orang berpikiran luas, keempatnya mengetahui kalau keadaan tak wajar ini berasal dari pertarungan—yang belum lagi terjadi.

Tanpa berpikir lebih jauh, keempat gadis ini segera menghimpun hawa murni dan memfokuskan pikiran pada perlindungan badan. Tak lama kemudian… berhasil! Mereka bisa bergerak, tetapi rasanya seperti baru keluar dari himpitan batu gunung, sungguh melelahkan. Untuk langsung melangkah keluar dari ruangan itu, mereka harus segera memulihkan tenaga kembali, tapi kejadian seperti ini sungguh mengherankan.

“Bagaimana ini?” pikir mereka makin bingung. Mereka tak ingin saudara-saudaranya terluka, dan merekapun tak ingin Jaka cedera.

Tiba-tiba saja…

“Apa yang terjadi?!” mendadak terdengar bentakan menggelegar. Sosok tubuh yang disusul beberapa orang lainnya, melesat masuk ruangan.

“Oh, syukurlah…” bisik Andini lega, melihat Ki Benggala dan Ki Gunadarma datang.
Sebagai orang yang berpengalaman, kedua tetua itu langsung tahu apa yang terjadi.

“Gila!” pekik keduanya terkejut setengah mati.

Bagaimana mereka tak akan kaget? Kalau dari kepala keenam anak didik mereka lamat-lamat mengepulkan asap tipis? Bukankah itu tandanya keenamnya sedang beradu tenaga? Benarkah adu tenaga? Tapi mereka cuma berdiri saja… dan jika benar itu adu tenaga, dengan siapa? Dalam sekejap saja mereka tahu… Jaka!

Rupanya karena keenam orang ini memunggungi pintu masuk, dengan sendirinya posisi Jaka tak terlihat.

“Pertiwi, apa yang terjadi?” teriak Ki Benggala dengan wajah kawatir.

“Tidak tahu paman, tapi hentikanlah mereka…” seru gadis ini gugup.

Belum lagi Ki Benggala bertindak, mendadak muncul berturut-turut tetua yang lain.

“Apa yang terjadi?” tanya Ki Glagah bingung.

“Entahlah, aku kurang jelas kakang.” Sahut Ki Benggala, sekalipun ia tahu, dia pun kurang begitu paham dengan kondisi yang berkembang saat ini.

“Celaka…” desis Ki Alit Sangkir. Mendadak dia melangkah kepinggir kepungan—antara Jaka dan enam pemuda-pemudi itu.

“Hentikan!” bentaknya menggelegar. Ia menunggu sesaat, tetapi teriakannya tak dihiraukan. “Bocah-bocah keras kepala!” geramnya seraya memukulkan telapak tangannya kelantai.

Blar!

Sungguh hebat goncangan yang ditimbulkan pukulan itu, Ternyata Ki Alit Sangkir berusaha memisah ketujuh orang itu, tetapi gagal. Tapi akibat pukulan tadi, Jaka dan lawannya tergontai sesaat. Dan pada detik itu juga…

“Hiaa….!”

Lengkingan nyaring memekik memecah situasi tegang. Lengkingan itu sangat nyaring!

Ki Banaran berseru kaget.

Ki Sugita yang baru saja masuk, tertegun bingung. Dia bisa menduga apa yang terjadi.

Ki Wisesa berseru mencegah.

Ki Gunadarma tekejut.

Ki Benggala pucat pasi, ia memalingkan wajahnya.

Ki Alit Sangkir menyesali keputusannya melerai.

Ki Lukita dan Ki Glagah ingin bertindak, sayang tak sempat lagi.

Enam orang itu melesat, melesat sangat cepat! Sebab seantero tenaga telah mereka kerahkan, mereka tak ingin ada rasa sesal, sekalipun itu artinya harus membunuh.. atau terbunuh?! Serangan bagai gugur gunung itu, mengarah Jaka…..!!

Pranayasa, berusia 28 tahun, menyerangnya dengan ilmu mustika Jari Sakti Tanpa Tanding! Ilmu itu sudah dikuasai 81% dan konon dua bulan lagi dia akan mencapai tingkat ke-9.

Berusia 27 tahun, Palada, mengerahkan ilmu mustika Tapak Naga Besi tingkat 6. penguasaan ilmu ini sudah mencapai 67%.

Dengan ilmu mustika Pasir Awan Hitam, Adiguna yang berusia 25 tahun, menyerang Jaka dengan sekuat tenaga. Prosentase penguasaannya sudah sampai tingkat ke-4 dan mencapai 53%.

Dengan prosentase 76%, dan penguasaan pada tingkat 7, ilmu mustika Api Pembakar Dunia, pemuda berusia 25 tahun bernama Wiratama, menyerang Jaka tanpa belas kasihan.

Dua bersaudari Nawang, menyerang Jaka dengan dua ilmu mustika yang sama, yakni Pukulan Naga Beracun. Nawang Tresni yang merupakan tunangan Pranayasa, dan berusia 24 ini, sudah menguasai ilmu itu sampai pada tingkat ke-6 dengan prosentase 56%. Sedangkan Nawang Sari, adik sepupunya yang berusia 22 tahun, sudah pada tingkat ke-5 dengan prosentase penguasaan 44%.

Enam orang ini, dengan ilmu-ilmu yang dimaklumkan sebagai ilmu paling hebat, menyerang Jaka. Bagaimana pemuda ini lolos? Apa hanya karena ilmu pegangan Jaka adalah 3 ilmu mustika, yang justru, tidak bisa digunakan karena belum ada izin dari dewan penjaga ilmu mustika, ia bisa lolos? Atau karena Jaka memiliki ilmu olah langkah yang sudah mencapi tingkat tak terurai? Cara bagaimana Jaka harus menghindari, atau balas menyerang serangan-serangan super hebat itu?

Jika dilihat dari kemampuan penyerang Jaka, mereka adalah jagonya para bintang persilatan. Perlu diketahui, untuk menguasai ilmu mustika, siapapun orangnya, harus memiliki penalaran baik, daya ingat kuat, bakat—keharusan—diatas rata-rata. Jadi, jika dari tiga hal itu tidak dimiliki, jangan bermimpi bisa menguasainya, tentu saja tiap orang bisa. Cuma kualitasnya akan semakin rendah, dan semakin baik mereka memiliki ketiga hal tersebut, makin baik pula penguasaannya. Lalu Jaka sendiri? Tiada yang tahu seberapa penguasaan dalam hal ilmu silat, pemuda ini sangat sukar dijajaki.

Apa yang akan terjadi? Jarak mereka sebelumnya hanya delapan langkah. Kini keenamnya melesat begitu cepat menyerang Jaka. Nyaris tak memerlukan satu detik-pun untuk menyerang dalam jangkauan delapan langkah.

Begitu cepat!

Penuh energi…

Itulah serangan terdahsyat, yang pernah mereka lancarkan!

Lalu Jaka? Dalam waktu—nyaris—sedetik itu, ekspesi wajahnya tak berubah, sorot matanya buram, tetap mirip dengan orang yang menunggu kematian, dan saat serangan tinggal seperseratus detik hendak menghantam dari seluruh penjuru, matanya berkilat tajam.

Kemudian?

…..

…..

==o0o==

Ruang latihan sudah kembali semarak. Tidak ada lagi ketegangan. Rasa penasaran sudah hilang—setidaknya kelihatan begitu—kali ini mereka begitu antusias menyambut permintaan Jaka, termasuk Wiratama yang tadinya merasa iri, dan kini sadar dengan perbedaan yang ditujukan Jaka, rasanya masih jauh jika ingin mendekati kepandaian Jaka.

Sebenarnya apa yang tadi terjadi? Mana ketegangan mereka akibat pertarungan? Bagaimana pertandingan Jaka dengan enam orang itu?

Jika ditanya pada mereka, maka enam orang itu enggan menjawab. Malukah? Kesalkah? Dendamkah? Tidak ada yang tahu, mungkin saja dendam… karena dikalahkan Jaka.

Kalah?

Keenam orang itu kalah?

Bagaimana bisa?

Bukankah keenamnya menguasai ilmu mustika? Dan mereka menyerang Jaka sekuat tenaga? Lalu kalah?! Sungguh tak bisa dipercaya.

Pada detik pertama mereka sudah sadar kalau kalah, pandangan mereka pada Jaka sudah berbeda sama sekali. Mereka seperti orang putus asa, kagum, dan entah perasaan apa lagi yang mereka rasakan.

Dulu—sebelum datang masa kekalahan—mereka beranggapan bahwa untuk mengalahkan keenam orang itu, butuh selaksa pasukan—bukannya menyombong, tetapi karena kemampuan mereka memang hebat, sampai pada akhirnya ada seorang bernama Jaka. Bagaimana bisa pemuda sepantar mereka memiliki kemampuan begitu hebat?

Kata hebat bisa ditafsirkan biasa saja jika untuk golongan orang awam, tetapi, ini berada dalam golongan luar biasa, jadi seberapa hebat Jaka?

Kau tanya pada Wiratama, Pranayasa, Palada, Adi Guna, dan dua bersaudara Nawang, maka mereka hanya membungkam, dan selekasnya ingin melupakan saat-saat pahit.

Saat pahit, hm?

“Bagaimana? Sudah mengerti?” Suara Jaka memecah keheningan, muda-mudi yang sedang memahami goresan buatan Jaka, tampak menatap Jaka. Ada yang mengangguk, ada yang diam, tetapi lebih banyak yang menghela nafas, mungkin pikiran mereka belum jernih.

Belum jernih? Untuk orang jenius macam mereka kesulitan apa yang menghambat berkonsentrasi? Apa mereka masih terpengaruh dengan kejadian Enam lawan satu? Tiada yang tahu.

“Aku paham kalau kalian belum banyak mengerti tentang ilmu olah langkah yang kuberikan, tetapi kuyakin jika kalian sabar, banyak manfaat yang bisa diambil.” Tiada jawaban, sebab siapapun tahu kalau ucapan Jaka bisa keluar dari mulut siapapun. Meski perasaan orang-orang ini seperti diganduli sesuatu, entah apa, antusias mereka untuk lebih maju, terlihat lebih besar… mungkin karena kemampuan olah langkah Jaka yang sudah mendarah daging benar-benar memukau mereka.

Pranayasa, Palada, Adiguna, Wiratama, Nawang Sari, Nawang Tresni, Ayunda, Diah, Pertiwi, dan Andini sudah mendapatkan olah langkah dari Jaka, dengan barter masing-masing ilmu dasar.

Kecuali Pranayasa—memberi dua ilmu dasar—yang lain memberi satu ilmu dasar. Masing-masing dari mereka memberikan ilmu;

Pranayasa memberi ilmu dasar Langkah Tujuh Raja, ilmu ini berasal dari Perguruan Awan Putih, lalu ilmu Angin Tanpa Arah, berasal dari Perguruan Angin Tanpa Gerak.

Palada menurunkan ilmu Kibasan Tinju Tunggal, dapat dipastikan ilmu tangan kosong itu dari Perguruan Lengan Tunggal.

Ilmu Tapak Bangau Batu diberikan oleh Adiguna, ilmu dasar ini berasal dari Perguruan Cadas Merapi.

Lalu Wiratama memberikan ilmu dasar yang menurutnya paling sempurna, yakni Silat Hawa Kosong, ilmu ini asalnya dari Perguruan Salju Tanpa Hawa.

Ayunda menurunkan Kuncup Seri Teratai Salju yang sudah tentu berasal dari Perguruan Tapak Salju.

Diah memberikan ilmu dasar Samudera Melintas Awan, yang berasal dari Perguruan Elang Laut.

Nawang Sari dan Nawang Tresni, masing-masing memberikan ilmu Tangan Pelumat Baja yang berasal dari Perguruan Pasir Besi, dan ilmu Seribu Pal Satu Jangkauan, yakni ilmu khas Perguruan Jarum Sakti, sudah tentu keistimewaannya adalah ilmu melontar benda.

Andini menurunkan ilmu Lima Rangkaian Tarian Sakti, ilmu ini khas untuk wanita, dan berasal dari Perguruan Gelang Api.

Dan yang terakhir, Pertiwi memberikan ilmu dasarnya yang paling ia kuasai dan paling ia sukai, yakni ilmu Merengkuh Arwah Rembulan, ilmu ini juga serupa dengan milik Andini, yakni khas untuk wanita, dan berasal dari Perguruan Alam Tanpa Batas.

Setelah beberapa lama—dalam satu hari itu—Jaka mempelajari ke sebelas ilmu dasar, Jaka asyik duduk menghadap tembok dan perhatiannya tertumpu pada setumpuk kertas, begitu juga dengan yang lain, mereka sibuk memahami ilmu olah langkah ajaran Jaka.

Tapi apa yang tertulis dalam kertas di tangan Jaka, berbeda dengan kertas-kertas yang diberikan pada teman-temannya. Yang aneh, tidak ada penjelasan apapun pada tulisannya, hanya ada coretan, garis, lengkung dan sebagainya… serupa pada kertas-kertas yang berisi olah langkah, tetapi terlihat lebih rumit. Mereka yang melihat cara Jaka menulis—yakni dengan simbol—merasa kagum, sebab selain Jaka sendiri, tak ada yang bisa membaca apa maksudnya.

Tiap ilmu dasar rata-rata tertulis—paling banyak—tujuh lembar, jadi untuk sebelas ilmu silat dasar, ada tujuh puluh lima lembar. Sungguh catatan yang tebal dan memusingkan.

“Hh…” Jaka menghembus nafas panjang. “Entah kapan aku bisa menyelesaikan ini, kurasa butuh waktu lagi.” Ujarnya sambil membereskan tumpukan kertas.

“Sudah kau kuasai?” tanya Andini.

“Hah, kau bercanda, tentu saja belum…”

“Masa?”

“Kenapa kau tak percaya?”

Andini mendelik, “Mengingat ucapanmu tadi, memangnya aku harus percaya kalau kau belum menguasai imu-ilmu kami?”

Jaka tertawa salah tingkah. “Jangan kau masukkan hati ucapanku tadi, namanya orang lagi agak dongkol kan bisa saja terlepas ucapan yang tidak semestinya, bukan begitu?”

“Ah, aku tetap tak percaya, buktinya kau bisa mengal… menghindar serangan dahsyat tadi?” Nyaris saja Andini keceplosan, dia tahu bagaimana perasan enam saudaranya.

Jaka menghela nafas. Ia tak menjawab, hanya mengangkat bahunya, artinya; lupakan saja kejadian tadi.

Tapi semua orang tak bisa melakukannya, mereka teringat ucapan Jaka saat pertandingan—sebenarnya pertarungan—usai.

“Kalian tahu? Gerakan apapun yang terlihat olehku bisa kucerna dengan mudah.” Lalu dengan tampang acuh tak acuh Jaka menambahkan, “Dan tentunya kalian tahu kenapa aku harus mempelajari ilmu lain.”

Jika membayangkan pertarungan tadi, orang-orang sama bergidik mengingatnya. Tanpa penjelasan Jaka, kini mereka sadar kenapa pemuda itu harus menguasai ilmu dasar. Bukannya Jaka tidak bisa menyerang dengan menggunakan sembarang ilmu, atau gerakan yang lain, bukan itu sebabnya! Justru lantaran Jaka sangat bisa melakukannya… sangat! Makanya dia harus mengendalikan dirinya, mencegah dirinya agar tidak mengerahkan ilmunya.

“Ehm.. tentu saja belum, tapi semuanya bisa di ingat. Aku butuh waktu luang untuk mempelajari dan mendalami, syukur bisa menyempurnakannya. Kurasa saat ini bukan saat yang tepat. Hari kan masih panjang…”

“Setidaknya sudah bisa untuk bertarung?” tanya Pertiwi.

“Tentu saja bisa. Sebenarnya tiap orang juga bisa berkelahi tanpa jurus-jurus tertentu, aku juga bisa berkelahi walau tanpa ilmu dari kalian ini… bukan maksudku untuk tidak berterima kasih… hanya memberi tahu saja. Ada yang harus diketahui, kalau aku tidak menguasai ilmu mustika, maka setiap gerakan pukulan, tendangan atau setiap seranganku tidak mengandung tenaga dari ilmu mustika. Lain halnya, jika kita menguasai ilmu mustika. Sepandai apapun menyembunyikan ciri dari tenaga ilmu tersebut, orang seperti para tetua pasti tahu kalau dia menguasai ilmu mustika.

“Karena itu aku sangat berterima kasih pada kalian, apa yang kalian berikan padaku ini sangat berharga dan rasanya terlalu banyak untukku. Lagi pula beberapa dari ilmu ini adalah ilmu dasar dari perguruan enam belas besar…”

“Kau salah Jaka.” Sahut Pranayasa.

“Salah?”

“Ya, bukan beberapa.. tapi seluruh ilmu dasar yang diberikan padamu adalah ilmu-ilmu dasar dari enam belas perguruan besar.”

“Ah..” Jaka terkejut, juga girang. “Sungguh tak kusangka, dari perguruan mana saja?” tanyanya. Dan Pranayasa menjelaskannya.

Lalu dari mereka, Jaka mendapatkan pernyataan, bahwa sebenarnya mereka ingin memberikan lebih dari satu ilmu dasar seperti yang diberikan oleh Pranayasa pada Jaka. Mungkin disamping ingin memberikannya, mereka juga mengharapkan ilmunya mendapat pasangan olah langkah.

Tapi Jaka menolak. Pemuda ini beralasan, bahwa apa yang diberikan padanya sudah cukup banyak, ia khawatir tak bisa meringkasnya dengan cepat untuk dijadikan satu rangkaian ilmu tersendiri. Karena memang pada awalnya maksud Jaka belajar ilmu silat dasar adalah disebabkan waktunya sudah mendesak, dan siapa tahu setiap saat—sejak saat ini, pertarungan bisa saja terjadi.

Pemuda ini memang memiliki olah langkah yang diyakini tak sembarang orang sanggup menembusnya, dan memang sampai saat ini belum pernah ada yang sanggup menundukkan olah langkahnya. Dengan bekal itulah, Jaka memberi pengertian ke sepuluh sahabat barunya pengertian tentang olah langkah bagi masing-masing ilmu dasarnya.

Mereka tidak tahu, olah langkah yang diturunkan Jaka masih berkaitan sedikit dengan tujuh formasi barisan kuno. Karenanya ilmu olah langkah yang mereka dapatkan begitu tangguh, apalagi anggota perkumpulan garis tujuh adalah orang-orang pilihan. Kelak kemajuan yang mereka dapatkan saat ini akan menggemparkan dunia persilatan.

“Aku ingin kalian mengetahui satu hal. Apa yang kutuliskan tadi, akan tetap berkembang selama kalian tidak kehilangan akal, jiwa, pikiran jernih dan keinginan kuat. Ingat kata tetua Glagah mengenai air.. biarkan pikiran kita bergerak seperti air, bebas lepas dan selalu kembali keasal. Kemajuan kalian tidak akan terhambat. Sebab kemajuan manusia itu tiada batasannya, bukan berarti tak punya batas. Tak ada batasan yang dimaksud, adalah jika selama dia tidak mengganggu hukum Tuhan dan hukum alam yang sudah digariskan.”

“Dan kau, kan sudah menguasai ilmu-ilmu dasar kami?” ujar Adiguna mengomentari. Jaka tahu maksud pemuda itu, Adiguna ingin mengatakan ‘apakah kau juga menyadari dan melakukan perkataanmu sendiri berkenaan dengan dasar ilmu silat tadi’.

“Sedikit… dan pemberian kalian ini merupakan sumbangan besar, kelak akan aku tunjukkan gabungan seluruh jurus dasar ini. Mudah-mudahan pada saat itu kita bisa berkumpul seperti saat ini.”

“Kalau begitu, sekerang kau tidak perlu menggunakan ilmu mustika?”

“Tidak. Oh, aku hampir lupa menyampaikan hal penting.”

“Apa itu?”

“Mengenai ilmu mustika… memang sembilan ilmu mustika adalah ilmu yang sampai saat ini merajai dunia persilatan, tapi harus diingat, diatas langit masih ada langit! Mungkin saja selama ini ilmu mustika memang yang terhebat, tapi tidak tertutup kemungkinan akan ada ilmu lain yang lebih hebat.”

“Apa alasanmu mengatakan demikian?” Tanya Palada dengan nada tak setuju.

Jaka tersenyum. “Aku paham dengan kenapa engkau tak setuju. Memang jika tak menyaksikan sendiri, akupun akan beranggapan bahwa ilmu mustika mungkin yang terhebat.”

“Menyaksikan sendiri?”

“Ya, mereka yang memegang Pedang Baja Biru.. boleh dibilang keganasan mereka tak banyak yang menyainginya.”

“Bagaimana kalau dibanding dengan ilmu Paman Benggala?”

Jaka tercenung sesaat. “Aku bukan bermaksud merendahkan. Tapi rasanya mereka berdua masih diatas Ki Benggala.”

“Oh…” beberapa dari mereka mendesah getun.

“Jadi, setiap ilmu bisa mencapai puncaknya masing-masing? Dan tidak tertutup kemungkinan menyamai ilmu mustika?” Tanya Adiguna.

“Ya. Tentu saja semua tergantung si pemilik ilmu. Kumisalkan saja ilmu Tapak Bangau Batu milikmu Adiguna, jika kau rasa sudah sempurna menguasainya, apakah itu berarti kau bisa menang dengan pencipta ilmu itu?”

“Tidak.”

“Kalau begitu apa bedanya?”

“Kematangan dan tenaga..”

“Benar, tapi ada satu hal yang dilupakan orang.”

“Dilupakan?”

“Benar.. mari kuberi contoh, bukankah ini jurus pertama dari Tapak Bangau Batu?”
Jaka segera bersilat, tangan kirinya membentuk paruh, tangan kanan terbuka sejajar bahu sedangkan kakinya terbuka setengah meter, lalu ia bergerak kedepan, patukan tangannya memukul, gerakan sederhana, tapi tidak memperlihatkan kelemahan.

“Benar itu jurus pertama.” Sahut Adiguna dengan terkesip. Dulu dia mampu melakukan gerakan seperti itu setelah berulang kali melatihnya, tapi Jaka… hanya sekali melihat!

“Ya.. siapapun dia pasti bisa menguasainya, terlepas dari teknik tenaga dan kesempurnaan akurasi antar jurus. Tapi bisakah kau bedakan dengan jurus yang ini?”

Jaka bergerak seperti tadi, bedanya kakinya tetap rapat, dan tubuhnya hanya bergoyang sedikit, tidak terlihat tangannya menutuk kedepan. Tapi kayu—memang disediakan untuk latihan—yang ada didepannya cekung sesaat lalu terbelah.

“Ya… aku tahu bedanya, lebih cepat.” Jawabnya kembali dengan perasan terkesima.

“Cuma itu?”

Adiguna melihat kayu yang terkena pukulan tadi. “Lebih akurat, dan tepat kelemahan.”

“Benar, yang ingin kusampaikan disini adalah, jika engkau sudah mencapai tingkat sempurna pada ilmumu, maka buatlah jurus pertama, sama hebatnya dengan jurus pamungkas terakhir ilmu yang sama, begitu seterusnya. Dengan demikian kemajuan orang itu tidak akan terhambat.”

“Maksudmu, ilmu itu senantiasa mendapat tambahan tenaga dan menyederhanakan gerakan?”

“Benar, logikanya untuk menuju jurus kedua, itu butuh keterampilan yang lebih dari saat melakukan jurus pertama. Dengan demikian, jika engkau sanggup bergerak secepat tadi pada jurus pertama, maka untuk jurus kedua, harus lebih cepat, lebih sederhana, dan lebih tepat, pendek kata tiap memasuki jurus yang lebih keatas, gerakan harus makin sederhana, hilangkan gerakan rumit untuk tipuan-tipuan—karena tujuannya sama, yakni mengenai sasaran dengan tepat dan mematikan. Dan pada akhirnya, tiap gerakan, untuk aliran apa saja, jika kau memperhatikannya, semuanya sama. Dari satu tujuan, biasanya akan muncul banyak jalan. Tetapi jika hendak mendekati tujuan akhir, jalan itu, hanya tinggal satu.”

“Tapi itu teori tinggi ilmu silat.” Celetuk Wiratama.

“Benar sekali. Teori itu pasti di pahami oleh ahli-ahli silat.”

“Ah.. belum tentu.” Sahut Andini. “Buktinya aku tidak tahu.”

Jaka tertawa, “Jangan marah kalau kukatakan kau bukan ahli.” Andini langsung cemberut dikatakan bukan ahli, Jaka tertawa geli melihatnya, buru-buru ia menyambung. “Yang kumaksud ahli adalah orang-orang yang sudah memiliki kewaspadaan pada dirinya sendiri. Seperti para tetua..”

“Oh,” biarpun paham, gadis ini tetap cemberut.

“Dan maksudmu supaya kami-kami mengetahui hal itu?”

“Benar, karena itulah semua penjelasan tadi harus diketahui tiap pesilat agar tidak berpuas diri terlalu cepat. Dulu aku pernah membaca sebuah kisah… yang menceritakan seorang pendekar sakti—dia tak perlu mengalahkan musuhnya dengan bergerak, ia cukup memandangi musuhnya saja dan kalahlah ia.”

“Aih, cerita khayal, kalau musuhnya seperti engkau misalnya. Punya Ten…” Jaka mendelik. Dan perkataan Pertiwi tak jadi diteruskan, gadis ini cemberut. “Bagaimana.. engkau bisa kalah?” sambungnya dengan bibir mencibir.

“Namanya cerita kan cuma cerita, maksud penulis cerita itu adalah menyampaikan pesan bahwa, untuk mencapai suatu tingkatan tertentu itu butuh kesabaran, waktu dan jangan cepat puas dengan hasil yang dicapai.”

Beberapa dari mereka mengiyakan. Dan kini suasana semakin rileks. Mereka menanggapi segala percakapan dengan canda, bahkan pemuda macam Pranayasa dan Wiratama yang terbiasa menyendiri juga larut dengan canda tawa.

Kali ini makin yakinlah mereka, bagaimana sifat sesungguhnya pemuda bernama Jaka Bayu itu. Mereka semua sama-sama mendapatkan perlakuan yang adil, tidak ada yang merasa kalau apa yang diberikan Jaka lebih tinggi satu sama lain.

Begitu juga perlakukan Jaka pada gadis-gadis cantik itu. Hal menarik yang tak dilihat Jaka adalah, persaingan para gadis untuk menarik perhatian pemuda itu.

Tapi Jaka tidak mengacuhkannya, karena dia tidak tahu, dan ini mengesalkan semua pihak (para gadis) tapi juga melegakan, karena Jaka tidak pilih kasih saat mengajari olah langkah.

Tak terasa malam telah dijelang. Pertiwi mengajak semuanya untuk meninggalkan ruang latihan, agar segera membersihkan diri lalu makan.

Suasana ruang latihan yang sejak sore tadi hiruk pikuk, kini lengang. Tidak ada lagi suara ciat-ciat atau canda tawa. Kini semuanya sedang bersiap untuk makan malam.

Beberapa orang yang belum menyusul, masih memandangi Jaka dari belakang. Mereka adalah Pranayasa, Wiratama, Palada, dan Adiguna. Diam-diam mereka berempat menghela nafas panjang.

“Tadinya aku ingin sekali mengukur ilmu silatnya.“ Ujar Palada sesaat kemudian, memecah hening. “Saat adi Wiratama mengujinya ilmu Hawa Bola Saktinya tadi pagi, aku berpikir kalau aku bisa mengerahkan serangan lebih baik dan bisa mengalahkan Jaka. Tapi setelah dia bisa mengalahkan paman Benggala, pikiranku berubah. Dan saat dia menggabungkan tenaga tiga ilmu mustika, pikiranku kembali berubah. Dan setelah dia menerima serangan kita berenam, pikiranku berubah lagi.”

Tiga rekannya mendengarkan saja. mereka paham apa yang dimaksud Palada.

“Entah bagaimana sesungguhnya kepandaian Jaka, jika kuamati, tiap saat, aku merasakan kemampuannya selalu berkembang.” Ujarnya lagi. “Tak terpikir olehku, ingin menguji kemampuannya lagi.”

Beberapa dari mereka ada yang setuju dengan ucapan terakhir Palada.

“Benar.” Sahut Wiratama, blak-blakan. “Saat kita menyerangnya tadi, kupikir aku bisa membalaskan kekalahanku tadi pagi. Ternyata…” pemuda ini menghela nafas. “Nasib kita lebih parah. Aku baru sadar, pada saat aku menguji ilmunya, dia hanya menjaga mukaku saja. Entah bagaimana kejadiannya, kalau dia menggunakan tenaganya, seperti saat melawan paman Benggala.”

Tidak ada yang mengomentari ucapan Wirtama, sebab itulah jeritan hati si pemuda pendiam. Karena itu dengan bijak mereka cukup menyimak.

“Untung saja para tetua menyaksikan kita.” Sambung Adiguna.

“Benar.” Jawab Wiratama.

“Kalau saja tiada para tetua, entah bagaimana nasib kita…”

Pranayasa tidak berkata sepatah katapun, dia hanya berulang kali mendesah. Kembali ia mengingat kejadian tadi. Saat serangan mereka serentak menerpa, tiba-tiba saja sekujur tubuh mereka dalam beberapa saat terasa kaku dan saat itu juga Jaka sudah membelakangi mereka. Sadar kalau Jaka sudah ada dibelakang mereka, tanpa komando dirinya dan teman-temannya segera berbalik dan kembali menyerang, tapi lagi-lagi mereka merasa kaku, dan Jaka tidak ada ditempatnya semula. Mereka berenam menyerang kembali, sampai empat kali.

Padahal perbawa ilmu yang mereka kerahkan sangat hebat bahkan delapan tetua yang menyaksikan sampai terbengong-bengong, tetapi tidak untuk Jaka. Dirinya merasa kalau Jaka sama sekali tidak menganggap ilmu yang mereka kerahkan itu hebat. Dan pada kenyataan memang demikian. Sebab serangan mereka berenam mentah semua.

Kembali Pranayasa mendesah. Untung saja ada tetua, pikirnya dengan perasaan bergidik.

Ya, dia memang merasa takut dalam beberapa saat tadi. Jika saja serangan mereka tidak dihentikan para tetua, mungkin saat ini mereka bisa terkapar tak bernyawa. Empat kali serangan mereka tidak menyentuh Jaka, tapi gerakan Jaka bisa menyayat-nyayat pakaian mereka.

“Berhenti.” Begitu bentak kedelapan tetua serentak.

Dan saat itu mereka segera menghentikan serangan, lalu keenam orang itu bisa menatap Jaka. Kali ini mereka bisa mengerti kenapa mereka harus berhenti. Wajah Jaka sudah tidak ramah lagi, hawa pembunuhan sudah sangat tebal. Teringat oleh Pranayasa, kalau Jaka mengatakan.

“Kalian tahu? Gerakan apapun yang terlihat olehku bisa kucerna dengan mudah.” Lalu dengan tampang acuh tak acuh Jaka menambahkan, “Sekarang, tentu kalian tahu, kenapa aku harus mempelajari ilmu lain.”

Setelah itu terlihat olehnya, Jaka memejamkan mata, berangsur-angsur raut wajahnya sudah seperti semula. Tidak ada lagi hawa membunuh.

Kini mereka semua paham kenapa Jaka harus mempelajari ilmu lain. Sebab ilmu yang disadapnya dari pemegang Pedang Baja Biru, entah bagaimana, membuat Jaka jadi sesosok algojo sadis. Untung saja mereka dihentikan para tetua.

Dan sekali lagi Pranayasa bersyukur, bahwa mereka tidak membuat kesalahan tadi berlarut-larut. Dalam hidupnya, baru kali inilah, dia merasakan ketakutan begitu hebat, saat melihat raut muka Jaka, dan saat serangan mereka berakhir.

“Sudahlah…” akhirnya Pranayasa memutuskan pikirannya sendiri. “Tidak perlu dipikirkan lagi, anggap semua ini pelajaran bagi kita.”

Yang lain mengiyakan, lalu mereka meninggalkan ruangan latihan. Dan hening kembali menyelimuti—ruangan yang hampir saja menjadi tempat kesalahan dilakukan.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s