52 – Bertukar Ilmu- Siapa Berlatih, Siapa Melatih?

Seandaianya Jaka belum memperlihatkan kelihayannya dihadapan mereka, tentu mereka mengira pemahaman Jaka terhadap ilmu silat, seperti; ketika sang guru memukul lurus dengan kembangan tersembunyi, dia hanya memukul lurus tanpa kembangan apapun, tidak sesuai contoh. Jika seperti itu kasusnya, berarti dia baru dalam tahap ‘mengamati’. Andai bisa melakukan gerakan dengan baik—mirip contoh, dia masih dalam tahap ‘meniru’. Kalau contoh sang guru bisa dilakukan dengan sempurna, dia dalam tahap ‘mempelajari dengan baik’. Tapi… jika dia sudah ‘berani merubah contoh’ yang diberikan sang guru—degan hasil yang sama, maka dia dalam tahapan ‘pemahaman sempurna’. Mungkinkah itu yang ingin dikatakan Jaka? Bahwa dia sudah memahaminya hanya dari melihat saja?

Pranayasa tidak berkomentar apapun. Dia tak ingin berprasangka buruk, atau baik, mengenai jawaban Jaka tadi.

“Kalau begitu tak masalah. Tapi, kuminta ciri dan inti masing-masing ilmu dasar harus tetap ada.”

“Oh…” Jaka mengumam seolah tak paham.

“Jika ciri itu hilang, maka apa yang kuajarkan sia-sia. Aku ingin ilmu perguruanku juga turut menjadi dasarmu.” Tukasnya.

Jaka tersenyum melihat tanggapan Pranayasa yang serius. “Akan kuusahakan. Cuma, kuminta engkau tidak kecewa dengan hasil ajaranmu.”

“Ya?”

“Tentu kau paham, meskipun engkau ingin agar ciri gerakan dapat terlihat, tapi menurutku itu tak sepenuhnya bisa dilakukan. Karena ilmu dasar ini berasal dari perguruan terkemuka, dengan sendirinya aku tidak boleh sembarang menggunakan. Aku bukan murid mereka.”

Pranayasa mengerti maksud Jaka. “Tapi, bukankah kau berniat menguasainya, karena hanya memiliki ilmu mustika yang tak boleh digunakan sebelum ada ijin? Bagaimana mungkin kau tak akan menggunakan ilmu ajaranku pula? Lalu apa gunanya latihan ini?”

Jaka tersenyum. “Pasti ada gunanya. Maksudku, mungkin setelah engkau ajarkan ilmu itu padaku, kau sendiri tidak akan mengenalinya.”

Pranayasa paham dengan maksud Jaka, tapi ia tidak percaya. Menyerap pelajaran—gerakan silat—dari menyaksikan pertandingan, dia sendiri bisa. Tapi mengubahnya saat itu juga? Rasanya jarang… bukan jarang, tapi tidak ada! Tidak ada orang yang sanggup melakukannya!

Dengan perasaan kurang senang, karena menganggap Jaka bermaksud menggodanya, wajah pemuda ini mengeras.

“Aku tidak perduli dengan apa yang akan kau lakukan, yang jelas kewajibanku untuk mengajari-mu sudah kulakukan. Dan hasil yang harus kau perlihatkanpun tidak boleh mengecewakanku!”

“Baik!” sahut Jaka sungguh-sungguh. Sikap pemuda ini sedikit mengikis kegusaran Pranayasa.

Jaka membalikkan tubuhnya dan hendak kembali duduk, tapi mendadak ia membalikan tubuh lagi.

“Ehm, aku ada usul bagus..” ujar pemuda ini.

“Usul apa?” Pranyasa menanggapi dengan acuh tak acuh, tapi Jaka tak marah, karena Ayunda menggapinya dengan wajah berseri.

“Begini, setelah semua ini selesai, aku ingin memberi penawaran. Kupikir ini ide bagus, saling menguntungkan.”

“Ada apa sih, langsung saja bicara.” Seru Nawang Sari penasaran.

“Kita bertukar ilmu.”

“Bertukar ilmu?” ujar semuanya heran. “Eh, bukankah kau cuma memiliki tiga ilmu mustika saja? Itu yang akan kau tukarkan?” tanya Pertiwi.

“Tidak mungkin!” sambung Andini. “Sekalipun kami ingin, para tetua pasti melarangnya. Lagi pula tak semudah itu dapat kami pahami.”

Jaka menggeleng sambil tertawa, “Maksudku bukan seperti itu, aku hanya ingin memperbanyak ‘koleksi’ jurus kalian. Katakanlah, ada bagian yang kurang jika belum kutambahkan satu-dua gerakan baru. Tentu saja aku juga memohon pada kalian, selain memperlihatkan ilmu dasar, kalau boleh perlihatkan pula satu jurus serangan, atau pukulan, atau apa saja, yang menurut kalian hebat, dapat dijadikan pegangan untuk bertarung.”

Mereka agak tercengang mendengar bahasa Jaka, yang mengatakan ‘perlihatkan’, bukannya ‘mengajarkan’.

“Oh, kalau masalah itu, seharusnya kau tidak perlu mengusulkan barter segala. Kau cukup meminta pada kami saja, bukannya menyombong sih, rasanya kita tidak perlu bertukaran ilmu segala.” Kata Palada ramah.

Jaka memandang orang itu dengan tatapan mata terima kasih. Dia paham, bagi seorang pesilat, ilmu-ilmunya—katakanlah ilmu pamungkas—adalah nyawa kedua. Jika itu diajarkan pada orang lain, bukankah sama dengan membuka celah fatal pada diri sendiri? Tapi dengan entengnya Palada mengatakan ‘…cukup meminta pada kami saja’.

Jaka yakin pemuda itu bukanlah orang yang suka menyombongkan diri. Mungkin dia dapat berkata demikian karena rendah hati, atau karena punya pegangan yang cukup membuatnya percaya diri.

“Aku tahu, tapi sebagai tanda terima kasihku, tentu saja tak akan kubiarkan kalian memberi cuma-cuma. Apalagi kalian tidak tahu ketrampilan apa yang akan kutukarkan, bukan? Kuharap kalian bisa menunggu sejenak,”

“Ada apa sih?” potong Andini penasaran.

“Kau akan segera tahu,” jawab Jaka membingungkan. Andini cemberut, tapi hanya sesaat saja, sebab dia sadar Jaka memiliki maksud tertentu. Dan yang pasti bakal mengejutkan mereka, berpikir seperti itu, si gadis tak lagi merasa kesal.

Jaka duduk bersila dilantai, pemuda ini terlihat sedang menekuni tiga lembar kertas yang penuh coretan. Sesekali dia menopang dagu—berpikir—dan kembali mencoret lagi. Muda-mudi lainnya yang melihat tingkah Jaka menggeleng penuh tanya.

“Sedang apa dia?” begitu pikir mereka.

Mereka bisa menduga apa yang sedang ditekuni Jaka, karena pada tiga lembar kertas itu tertulis, dua ilmu dasar Pranayasa, dan satu ilmu dasar Ayunda. Waktu terasa berjalan sangat lambat, tak terasa setengah jam sudah berlalu. Jaka berdiri.

“Selesai sudah.” Ujar pemuda ini sambil menggeliat.

“Apanya yang sudah selesai?” tanya Pranayasa.

“Pelajaran darimu. Memang kurang sesempurna yang seharusnya, tapi aku bisa memahaminya.” Kata Jaka sambil melambaikan tiga kertas tadi.

“Maksudmu dari hasil perenungan coretan tak karuan itu?” tanya Pranayasa mengerutkan kening.

Jaka tertawa. “Benar, dan ini kuberikan padamu, anggap saja sebagai barter.” Jaka menyerahkan kertas yang penuh coretan garis dengan judul Langkah Tujuh Raja dan Angin Tanpa Arah.

“Apa ini?” seru Pranayasa tak mengerti. “Kau main-main?” katanya tak senang, ia melempar kertas itu jatuh tepat didepan Jaka.

“Tidak.” Jawab Jaka kalem, ia memungut kembali catatan coretan itu, lalu dilipat dan disimpan dalam bajunya. “Kalau ingin jawabannya kauharus menyerang aku dulu.”

“Hgm….” pemuda berpendirian keras ini menggeram sebal. “Kalau kau jadi muridku, aku bisa mati saking jengkelnya.”

“Sebelum mati, tentu saja akan kuobati lebih dulu.” Tanggap Jaka.

Semua hadirin tersenyum, hanya Diah yang tidak. Dia memperhatikan Jaka dengan seksama, sepertinya ada kenangan yang di ingat dari pemuda ini, tapi entah apa… apakah mereka pernah berjumpa? Tidak tahulah, dia sendiri bingung memikirnya.

“Bersiaplah! Aku akan menyerangmu dengan Langkah Tujuh Raja!”

“Silahkan.” Jaka berdiri membelakangi Pranayasa. “Maaf aku bukannya meremehkan engkau, tapi sebentar lagi kau juga akan tahu.”

“Baik!” geram Pranayasa dengan geraham beradu, agaknya pemuda ini jengkel benar dengan tingkah Jaka.

Tanpa melangkah dari tempatnya, Pranayasa menendang Jaka. Padahal jaraknya ada satu setengah tombak, mana bisa tendangan itu sampai. Tendangan itu hanya menjangkau setengah tombak. Tapi mendadak saja, tendangan memutar kesamping itu membuat tubuh Pranayasa berputar seperti gasing, seolah tendangan pertama itu untuk mencari pijakan dari angin! Dan jarak satu tombak terlampaui. Dalam sekejap saja tendangan kedua sudah mengarah kepala Jaka.

“Luar biasa, jurus pertama!” seru Jaka, pemuda ini membungkukkan badan, sedangkan kakinya melangkah kedepan, berputar setengah lingkaran. Tendangan Pranayasa lewat begitu saja. Tapi jika serangan tadi hanya segampang itu, tidaklah pantas menggolongkan Pranayasa dalam daftar pemuda berbakat besar.

Tendangan itu memang lewat diatas kepala Jaka, tapi secepat kilat kaki itu membalik kebawah. Jaka masih bersikap tenang, tangannya diangkat keatas hendak menangkis.

“Kena kau!” seru Pranayasa dalam hati. Tapi hatinya mencelos, karena sekejap ia hanya bisa melihat bayangan tangan Jaka saja, tubuhnya entah kemana. Melihat pola gerakan Jaka yang aneh, Pranayasa segera mengembangkan Langkah Tujuh Raja yang kedua. Begitu tendangan gagal, kakinya segera menutul tanah, tubuh Pranayasa kembali berputar, dan ia melihat Jaka berada tepat diatas kepalanya. Rupanya saat menghindar tadi, Jaka melompat keatas dan bersalto, sehingga kakinya memancal langit-langit, secepat itu pula, jari Jaka menyarangkan totokan di bahu Pranayasa yang sedang berputar.

Pemuda bertampang dingin ini terkesip, tapi dengan cekatan ia segera mengibaskan tangan menangkis totokan Jaka, tapi tidak kena! Ternyata totokan itu hanya tipuan, karena serangan sebenarnya adalah kaki. Diudara kaki Jaka menendang seperti gerakan kalajengking, tepat mengarah sasarannya, kepala!

Biarpun bertampang, dingin namun Prnayasa adalah orang yang lurus dan jujur. “Bagus!” pujinya seraya melompat menghindar.

Kalau diceritakan serangan itu sepertinya lambat, tapi sesungguhnya kejadian itu cepat sekali. Kalau dihitung dari awal gebrakan, hanya memakan waktu empat detik, dan tiga jurus tingkat tinggi sudah tergelar!

Begitu serangannya tidak kena. Jaka bersalto dan menjejak tanah kembali, namun serangan Pranayasa sudah menanti. Pusaran angin dari gerakan melingkarnya, sudah menerpa Jaka.

“Hebat, tapi jangan senang!” teriak Jaka juga bergerak menghindar. Gerakan keduanya sangat cepat, namun jika diteliti lebih lanjut, bengonglah hadirin yang menonton. Sebab gerakan Jaka dan Pranayasa begitu serasi, begitu indah dan klop. Gerakan serangan Pranayasa itu bukan lagi gerakan menyerang, tapi gerakan yang mencoba mengimbangi langkah dan tiap jurus yang dikembangkan Jaka. Orang-orang merasa kalau Pranayasa sedang didikte. Jika diteliti lebih lanjut, hakikatnya kedua orang itu bukan sedang bertarung tetapi sedang menari.

Dalam sepersekian detik Pranayasa sadar, kalau Jaka mendikte semua serangannya. “Gila, masa Langkah Tujuh Raja demikian mudah diredamnya? Aku bahkan sudah menggunakan jurus delapan besar langkah bolak balik, kenapa dia sama sekali tak terpengaruh? Serangankupun tak kunjung kena!”

“Perhatikan!” tiba-tiba saja Jaka berseru. “Tiga…” berkata begitu, gerakan Jaka memutar dan lurus kedepan, mendekati Pranayasa, seolah hendak menabrak, karuan saja pemuda itu terkejut, tapi mendadak Jaka melejit kesamping.

“Tujuh…” begitu mengatakan tujuh, dari kelitan berubah menjadi tendangan berantai, yang melingkupi tubuhnya dan menghajar sekujur tubuh Pranayasa, tentu saja pemuda ini tidak mau jadi bulan-bulanan. Tanpa sungkan ia langsung mengerahkan Langkah ke tujuh—langkah tertinggi dari ilmu dasarnya.

Tapi lagi-lagi ia harus segera kembali ke langkah delapan—yakni merubah tenaga serangan jadi perlindungan, karena tendangan Jaka hanya kamuflase.

“Satu…” hanya suaranya yang terdengar, tapi entah dimana Jaka berada. “Pendek, pendek, panjang, panjang, panjang, lengkung, lenting jauh, tanah, jatuh!” kali ini suara Jaka terdengar lagi, dan orangnya masih tidak kelihatan.

Pranayasa terpengaruh dengan ucapan Jaka, ia bergerak sesuai serangan dan instruksi Jaka, tapi setelah sekian lama ia bergerak dan memutar lehernya kesekeliling penjuru, juga keatas, Jaka tidak kelihatan.

“Jangan terpancing suara.” Seru Jaka dan pemuda ini muncul tepat didepan Pranayasa.

“Ih..” tentu saja Pranayasa berjingkat kaget.

Wajah Jaka terlihat seperti tidak ada kejadian apa-apa. “Bagaimana menurutmu?”

“Bagaimana apanya?”

“Gerakan tadi…”

Pranayasa tertegun, sekalipun dia tinggi hati dan tak mau kalah, tapi kenyataan tadi membuatnya mengakui kalau gerakan Jaka lebih hebat darinya. “Kenapa kau tak terlihat?” tanyanya, tanpa menanggapi pertanyaan Jaka tadi.

Jaka maklum dengan perasaan Pranayasa. “Aku tetap terlihat, hanya aku mengindar dari sudut pandangmu.”

“Bagaimana bisa?!” tanyanya tanpa sadar.

Jaka tersenyum. “Tentu bisa, dan kau, pasti bisa melakukannya juga, bahkan lebih baik dariku.”

“Eh…” serunya tanpa sadar. Sebagai pemuda yang cenderung melakukan segala sesuatunya tanpa bantuan orang lain—Pranayasa sangat jarang bertanya atau terkejut—tapi kali ini, dia menyadarinya kalau perasaan itu timbul spontan, tanpa bisa dicegah.

“Maksudmu?”

“Inilah harga yang kutawarkan untuk barter ilmu, aku sangat berterima kasih padamu dan kalian semua yang dengan tulus, mau memberikan bimbingan padaku. Tapi aku juga tidak ingin jadi orang yang tidak tahu balas budi. Karena itu apa yang akan kuberikan pada kalian ibarat sarung pedang dan batu pengasah. Kalian sudah memiliki pedang hanya tinggal mempertajamnya dan melindunginya…”

“Maksudnya, engkau…”

“Benar, aku tahu maksudmu.” Kata Jaka memotong ucapan Pertiwi, karuan gadis ini dongkol. “Orang membawa pedang telanjang, suatu saat—seberapa pun lihaynya dia, pedang itu bisa melukai dirinya.”

“Maksudmu… maksudmu, semua gerakan tadi kau ambil dari Langkah Tujuh Raja?” tanya Pranayasa dengan keheranan membucah.

“Benar.” Jawab pemuda ini sambil mengangsurkan kembali coretan kertas yang tadi dibuang Pranayasa, dan pemuda itu menerimanya dengan perasaan campur aduk. “Dan aku ingin kau menerimanya, menjadikannya sebagai satu bagian dengan ilmumu. Bukan aku berkata sombong, tapi aku yakin jika jurus tambahan tadi sudah melebur dengan ilmu aslinya, orang yang menciptakan ilmu inipun bakal kewalahan.”

“Masa?” seru Pranayasa tak percaya.

“Tak perlu aku jawab. Tapi kau bisa merasakan sendiri bukan? Menurutmu bagaimana rasanya saat kita bertanding tadi? Aku mohon engkau mau menjawab secara jujur.”

Pranayasa termenung sesaat. “Aku merasa didikte.” Katanya singkat.

“Kau benar, tapi juga salah.”

“Kenapa?”

“Seharusnya lebih tepat lagi engkau berusaha mengiringi, bukan didikte, kau mencoba mengiringi gerakanku, mencoba mengimbangi, bukan untuk menyerang. Mungkin bisa dimisalkan… kau ingin mengatakan sesuatu maksud hatimu, tapi tak bisa mengutarakannya dengan kata-kata. Dan begitu melihat gerakanku, kau baru bisa temukan kata-kata itu.”

“Jelasnya, apa yang ingin dikatakan kakak selalu didahului engkau, begitu bukan?” timbrung Ayunda.

“Bisa juga begitu.” Jaka.

“Jaka, Eyang Lukita penah bercerita padaku, kalau engkau adalah orang yang menguasai barisan kuno jaman dulu, apakah benar?” tanya Nawang Tresni.

Jaka membenarkan.

“Lalu semua ilmu langkah itu kau dapat dari mana?”

Jaka sulit menjawabnya, bukan karena hal lain, tapi disebabkan jika ia menjawab yang sebenarnya, orang bisa menilai dirinya sombong. “Aku…”

“Kau menciptanya sendiri kan?” potong Pertiwi menuntaskan rasa dongkolnya.

“Ya, kurasa memang demikian.” Jaka mengiyakan serba salah.

Hadirin terkesip, mereka hendak tidak percaya, tapi bukti didepan mereka tadi membuat mereka harus percaya. Membuat ilmu yang berkualitas bukanlah pekerjaan gampang. Biasanya hanya cikal bakal pendiri perguruan besar saja yang sanggup berbuat seperti itu.

“Bagaimana caramu menciptakannya?” tanya Pranayasa. Benar-benar keajaiban kalau pemuda ini mau bertanya, Ayunda melirik kakaknya dengan perasaan heran campur senang. Diam-diam semua orang mengela nafas gegetun.

Entah daya magis apa yang dibawa Jaka, orang yang paling sulit bergaul pun dengan mudah ia bawa dalam percakapannya. Aih…

“Ah, sebenarnya semua orang juga bisa menciptakan apapun. Tinggal mengolahnya dari bahan yang sudah ada. Tapi, kadang kala kita perlu kunci yang tepat untuk membuka gerbang yang tepat pula. Kebetulan kunci itu sudah ada padaku. Bukannya aku tak mau menjelaskan. Hanya saja penciptaan suatu ilmu itu timbul dari pikiran, hati, budi pekerti, keadaan, dan tentu saja bahan yang ada. Semua tergantung diri kita masing-masing.”

“Kalau begitu kau ini bisa dikatakan spesialis pencipta ilmu?” tanya Pranayasa kagum, kekagumannya tak ia sembunyikan.

Jaka jadi sungkan. “Wah, julukan yang kau beri itu terlalu besar untukku. Tapi memang tidak aku pungkiri untuk membuat sejenis olah langkah, mudah bagiku. Tentu saja karena keterbatasan waktu, apa yang kuberikan padamu tadi masih kurang, tapi itu sudah lebih dari cukup jika didalami lebih lanjut, mungkin lain waktu kita bisa menyempurnakannya.”

Pranayasa paham, ia melihat kertas penuh coretan tadi. “Lalu bagaimana aku mempelajari ini?”

“Ingat yang aku katakan saat kita berlatih tadi?” tanya Jaka.

Pemuda itu mengangguk.

“Nah, gunakan itu, lalu dengan sendirinya kau akan menemukan kuncinya. Tentunya jika semua itu bisa dikuasai, dapat pula dikembangkan lebih lanjut. Kau bisa lebih maju menguasainya dengan pemahamanmu sendiri, dari pada meniru apa yang kulakukan.”

Pemuda ini mendehem, tanda ia mengerti. “Dan kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dari pertandingan tadi?”

“Kurasa sudah…” Jawab Jaka.

“Tentu saja dia sudah menguasainya!” celetuk Pertiwi. “Kalau tidak, bagaimana dia bisa membuat coretan tak karuan itu.”

Jaka nyengir serba salah. Dia tahu gadis itu agak dongkol padanya. Jadi ia memakluminya, jika ada waktu dimana Pertiwi bisa membuatnya kesal, pasti akan dilakukan saat itu juga.

Pranayasa tak menanggapi, ia sedang mengamati coretan itu dengan kening berkerut. “Ah…” tiba-tiba wajahnya cerah. “Aku tahu!” Serunya.

“Syukurlah, dan ini, untuk ilmu yang kedua.” Jaka mengangsurkan kertas berjudul Angin Tanpa Arah.

Pranayasa segera menerimanya. “Terima kasih.”

“Sama-sama.” Jawab Jaka.

“Apakah caranya juga sama dengan mempelajari Langkah Tujuh Raja?”

Jaka menggeleng. “Tidak sama, perhatikan baik-baik, nanti kau akan tahu sendiri.”

“Kalau begitu, jika aku paham dan mulai mempelajarinya, tentu tidak sama dengan yang kau kuasai, bukan?”

“Benar! Ibarat aku menyerahkan uang padamu, aku bermaksud membelikanmu pakaian, tapi kau sudah punya, dan kau ingin membeli yang lain. Jadi ilmu yang akan kau dapat, sesuai dengan pribadimu, kehendak hatimu, keinginanmu yang tak pernah terwujud… bisa engkau wujudkan dalam olah langkahmu sendiri. Seperti yang kukatakan, aku hanya menunjukkan jalannya. Kau yang punya kunci, masuklah kedalamnya, dan itu milikmu…”

Pranayasa kembali menekuni coretan Jaka. “Ah!” serunya terkejut, dia menatap Jaka dengan kaget. “Ini… bagaimana bisa?”

Jaka tersenyum. “Tiap pikiran orang berbeda, apa yang aku maksudkan sudah tentu berbeda dengan apa yang engkau pahami. Tapi aku bisa memahami kekagetanmu. Sikap ksatriamu, dapat menjelaskan semuanya. Kurasa, olah langkah yang baru kau dapat bisa mengantisipasi serangan licik lawan, seperti serangan mendadak, atau lontaran senjata rahasia tak terduga. Apa benar begitu?”

“Bagaimana kau bisa tahu?” seru Pranayasa makin heran.

“Tentu saja aku tahu, kan aku yang membuat coretan tak karuan itu.” Sahut Jaka tertawa.

Wajah pemuda itu yang biasanya dingin memerah sekejap. “Maaf, tadi aku menghinanya, sebab aku tak tahu apa yang ada dalam gambar yang kau buat.”

“Aku bercanda… tentu saja aku hanya menebak. Prilakumu yang ksatria, yang mengisaratkan bahwa kau selalu maju tanpa mencari jalan belakang! Isyarat itulah yang menyatakan bahwa engkau menemukan sesuatu!”

Pranayasa termangu, ucapan Jaka kali ini benar-benar tepat mengenai hatinya.

Jaka menepuk bahu pemuda itu. “Kita sama-sama mendapatkan keuntungan dalam hal ini. Aku berterima kasih padamu. Satu pesanku, meski coretan itu hanya kau yang mengetahui maknanya, jagalah baik-baik, jangan sampai hilang. Tentu saja kecuali engkau mengingat tiap detilnya.”

Pranayasa mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, lalu dia tidak mengacuhkan situasi lagi. Pranayasa berjalan ketepi arena latihan dan duduk bersila sambil merenungi dua kertas itu, wajahnya berubah-ubah. Kadang terlihat girang, kadang berkerut tak paham.

“Dan berikutnya, milikmu…” kata Jaka mengangsurkan kertas berjudul Kuncup Seri Teratai Salju pada Ayunda. Dan gadis itu menerimanya dengan hati berdebar girang.

“Apakah dengan menguasai olah langkah ini, aku bisa seperti engkau?” tanya gadis itu pada Jaka.

Jaka bingung sesaat, lalu katanya. “Bagaimana aku menjawabnya ya? Mungkin saja bisa begitu, tapi semua tergantung padamu. Ingat, aku memiliki latar pengetahuan berbagai formasi barisan lebih banyak dari yang lain, karena itu pengembangan olah langkah yang kumiliki tak bisa terhafal olehku, semuanya sudah menyatu dan terlahir begitu saja, saat aku ingin bergerak menghindar. Tapi jika pertanyaanmu dilatar belakangi ilmu dasarmu sendiri, maka olah langkah itupun terbatas pada ilmu dasarnya. Ini juga berlaku untuk yang lain.”

“Memangnya kenapa?”

“Kalian pasti tahu banyak tentang formasi barisan, alangkah baiknya, jika sudah mempelajari apa yang kuberikan ini, kalian mencoba untuk menelaahnya dan membandingkan dengan formasi-formasi yang kalian ketahui, pasti akan dapat manfaat tersendiri. Tapi kusarankan, sebelum mempelajari coretanku dengan sempurna, jangan sekali-kali mencoba membandingkan, apa lagi sampai menambahnya.”

“Kenapa?”

“Apa yang kubuat, boleh dibilang sistematis dan hanya satu arah. Jika ada tambahan dari luar, dengan sendirinya perubahan akan bertambah banyak. Olah langkah itu akan rancau dan kacau, dan itu bisa mempengaruhi sistim serangan dalam jurus dasar kalian. Syukur kalau pengaruhnya baik, tapi kalau jelek? Mungkin malah memperlihatkan gerakan terbuka dan menunjukkan kelemahan… bagaimana jadinya?”

“Oh…” Ayunda kelihatannya paham, namun ia masih memandangi Jaka dengan sorot penuh pertanyaan.

“Kuberi satu contoh, misal saja ilmu dasarmu jika sudah mencapai tingkat sempurna, memiliki tandingan seimbang ilmu ‘anu’.. karena seimbang, tentunya tidak ada yang menang dan yang kalah. Tapi dengan olah langkah yang kau dapatkan dari ilmu itu sendiri, maka engkau akan lebih unggul dari ilmu ‘anu’ tadi. Jika gerak tambahan itu belum sempurna dipelajari, tapi sudah diuji dengan membandingkan dengan—misalnya dengan formasi Lima Langit Menjaring Bumi, maka kelemahan jurus dasar kalian akan lebih jelas terlihat, dan jangan bermimpi untuk menang dari ilmu ‘anu’ itu.”

Kali ini Ayunda paham benar, tapi wajahnya merah menahan tawa. Sungguh sembarangan orang ini mencari nama. Seenaknya saja dia bilang lawan ilmuku adalah ilmu anu.. memangnya itu anumu? Berpikir begitu wajah Ayunda makin jengah.

“Kenapa?” tanya Jaka heran, melihat gadis itu mesam-mesem dengan wajah merah.

“Eh, ti..tid-dak..” sahut gadis ini tergagap. Lalu ia membalikkan badan dan mengambil tempat duduk disamping kakaknya. Kelihatannya gadis ini akan segera mendalami olah langkah yang baru saja diberikan padanya, tapi jika melihat mulutnya yang masih tersenyum-senyum kecil itu, Jaka meragukan dugaannya sendiri.

Aih dasar wanita, entah apa yang kau pikirkan. Gerutunya penasaran. Suasana hening sekejap, mereka menganggap barter yang di usulkan Jaka benar-benar menarik.

“Aku ingin tahu apakah kau sudah menguasai ketiga ilmu dasar tadi?” tiba-tiba saja Diah Prawesti memecah keheningan.

Jaka memandang gadis itu beberapa saat, sungguh harus diakui olehnya kalau gadis berwajah dingin ini benar-benar cantik. Ayunda dan yang lain memang sama cantiknya, tapi wajah cantik yang beku itu seolah-olah nilai plus yang dimiliki Diah.

Gadis itu mana tahu apa yang ada dibenak Jaka, wajahnya yang sudah kebal dipandang begitu rupa, tiba-tiba saja merasa merah terbakar. Terasa olehnya sorot mata Jaka seolah mengelus wajahnya.

“Hei..” seru Nawang Tresni sambil terkikik. “Kalian sedang apa? Mau bertanding atau mau bikin janji? Kok pelotot-pelototan begitu?”

“Ah tidak, aku hanya sedang mencari jawaban yang tepat.” Sahut Jaka keripuhan. “Memang sudah kukuasai, dan seperti yang kukatakan, bentuknya berbeda.”

“Cuma dari melihat begitu saja?” tanya Palada.

“Ya, tapi tidak hanya dengan melihat saja beres, pengamatan, penjiwaan dan konsentrasi, kan perlu juga.”

Semua orang juga begitu. Gerutu Palada dalam hati. Tapi kan tidak secepat anak ini, sambungnya lagi.

“Eh, aku hampir lupa!” seru Pranayasa sambil berdiri. “Aku belum melihat sampai dimana kau menguasai ilmu-ilmu tadi.”

“Benar,” sahut Ayunda menimpali.

“Kelihatannya semua menagih.” Ujar pemuda ini sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. “Baiklah…”

Jaka melangkah ketengah, ia berdiri disitu dengan memejamkan matanya, satu menit, dua, tiga.. empat menit berlalu.

“Lho.. jurus apa itu, hanya berdiri saja? Mana inti sari yang kau dapatkan?” seru Ayunda heran.

Jaka membuka matanya. “Lho, bukankah aku harus diserang?” tanya pemuda ini juga heran.

Melihat kondisi yang salah wesel itu, mereka tertawa. “Biar aku yang mengujimu.” Mendadak saja Diah maju.

Jaka setuju saja, “Sebaiknya tidak satu orang, tapi tiga orang.” Wajah Diah agak kelam mendengar ucapan Jaka.

“Eh-eh, jangan marah dulu…” seru Jaka buru-buru. “bukan maksudku merendahkanmu, tapi semua itu karena, tiga ilmu dasar tadi kusatukan dengan olah langkah. Jadi bukannya aku meremehkanmu Diah, kau harus maklum, olah langkahku ini bisa dimatikan gerakannya kalau memiliki lawan lebih dari dua orang yang kekuatannya sama. Dengan demikian ilmu dasar yang kupelajari tadi bisa di perlihatkan.”

Mendengar penjelasan Jaka, emosi gadis itu agak mereda. “Kenapa kau katakan harus tiga orang, baru bisa mematikan gerakan? Dengan demikian olah langkah yang akan kau berikan pada kami tiada gunanya.” Kata gadis ini tandas.

“Agar kau tidak penasaran, boleh menyerangku lebih dulu. Sekali lagi, bukan aku bermaksud meremehkanmu.”

“Baik!” selesai berucap, serangan Diah segera tergelar. Gadis ini memiliki pola serangan yang sangat aneh. Gerakannya kadang terpatah-patah, tapi kadang luwes sekali. Serangannya meliuk-liuk, jarinya membentuk paruh bangau.

“Hebat!” Puji Jaka di sela-sela serangan gadis itu. “Ingat, aku hanya menggunakan olah langkah ilmu dasar Angin Tanpa Arah milik Pranayasa.”

Serangan yang gencar Diah, sama sekali tak bisa menyentuh Jaka. Padahal gadis ini sudah mengerahkan seluruh daya upaya. “Inilah yang kumaksudkan ‘sampai mematikan langkah…’ serangan satu-dua orang masih bisa dihindari dengan sempura oleh jurus olah langkah ini tanpa perlu menyerang, tapi jika tiga orang yang maju, olah langkah tak begitu leluasa menghindar tanpa membalas, dan akan kembali leluasa menghindar, jika balas menyerang.” Jelas Jaka disela-sela serangan Diah.

Gempuran gadis ini selalu berjarak satu jengkal dari tiap sasaran yang ditujunya. Jika Diah mengarahkan tutukan jarinya ke ubun-ubun dengan sendirinya kepala Jaka merendah satu jengkal dari serangan, tapi karena Diah sudah tahu tipikal gerakan Jaka, kakinya segera menendang perut Jaka, padahal tubuh pemuda ini sedang merendah—setengah jongkok, sangat sulit untuk menghindar diposisi itu.

Tapi tiba-tiba saja badan Jaka mundur kebelakang satu jengkal lagi, tubuhnya agak cekung kebelakang tanpa mengubah posisi kaki. Agaknya Diah sudah menduga gerakan itu, secepat kilat ia memutar badannya—juga setengah jongkok, lalu kakinya menyapu kaki Jaka.

Lagi-lagi Jaka bisa menghindar, begitu sapuan kaki gadis itu hampir kena, tubuh Jaka melambung satu jengkal dari tanah. Rasa frustasi menghinggapi Diah, karena sapuannya tak kena, kedua tangannya segera menjojoh kedepan sekuat tenaga, mengarah dada Jaka.

Ciit..!

Pukulan itu sampai mengeluarkan suara mendecit. Kali ini jika pukulan tak kena, maka angin pukulan akan meneruskan menghajar dada Jaka, tapi begitu pukulan Diah menerpa, dada Jaka menjauh satu jengkal, dan saat angin pukulan menghempas datang, tubuh Jaka berputar dua kali kesamping.

Mereka yang melihat pertarungan itu terpesona, gerakan tubuh Jaka nyaris serupa dengan gerakan Angin Tanpa Arah, serupa tapi tak sama. Terkadang mirip, terkadang gerakanya adalah kebalikan dari gerakan semula, aneh! Kelincahan, dan keluwesan gerakan Jaka membuat Pranayasa terbelalak kagum.

“Luar biasa, pantas.. tiap jurusku bisa didiktenya. Gerakannya klop sekali, jurus itu seperti kebalikan ilmu Angin Tanpa Arah, tapi juga seiring dan sejalan. Aneh, kenapa begitu? Kenapa gerakan itu terasa seperti saling membimbing?” pemuda ini bertanya-tanya dalam hati. Tapi konsentrasinya masih pada pertarungan itu.

Diah berhenti menyerang, ia menatap Jaka sesaat. Ia benar-benar penasaran, sebab sudah seluruh jurus dalam ilmu dasarnya—seluruhnya 78 jurus—ia keluarkan semua, tapi masih tersisa satu, semuala dia bimbang mengerahkannya, tapi keadaan kali ini memukul egonya! Dan ia berniat mengeluarkannya.

“Terima ini!” bentak Diah dipuncak kekesalannya, tangannya ditarik sejajar pinggang, dengan satu kaki berlulut ditanah, agaknya dia hendak melepaskan jurus pamungkas ilmu dasar.

Jaka melihat gelagat buruk, secepat kilat, pemuda ini sudah ada didekat Diah dan menangkap kedua tangan gadis itu.

“Jangan melakukan itu Diah, kita hanya bertanding, bukan bertarung mati-matian. Aku tak ingin kau terluka… apa yang kulakukan tadi bukan untuk menghinamu, tapi memberimu penjelasan.”

Gadis itu memandang Jaka, ia berdiri dan Jaka juga ikut berdiri, wajah gadis itu terlihat merah membara, entah karena marah, atau malu… atau malah senang? Tiada yang tahu selain gadis itu sendiri.

“Sampai kapan kau pegang tanganku?” katanya dengan nada datar, wajahnya sudah menjadi dingin seperti semula, tapi matanya memancaran kehangatan.

“Sampai kau tidak marah lagi dan kau menjadi anak manis seperti tadi.” Jawab Jaka tersenyum menggoda.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s