50 – Persiapan Melatih Ilmu Dasar

“Sudah waktunya…” seru Jaka merasa lega, sudah capai mulutnya bercerita kesana kemari, ia kawatir banyak rahasia yang keluar. Pemuda ini bergegas masuk kedalam kamar.

Sebagian dari mereka yang ingin menyaksikan hasil pengobatan Jaka, juga ikut masuk. Sebagian lagi tetap duduk di ruangan tadi sambil membicarakan masalah tadi, mereka tak menyangka kalau pemuda semacam Jaka sudah memiliki jaringan demikian rumitnya.

Tampak oleh mereka tubuh Rubah Api yang menggembung besar sudah kempis, pisau-pisau yang menancap di tubuhnya yang sebelumnya memang sudah mencelat jatuh dipembaringan, kini berserak dilantai. Nafas orang itu terlihat memburu.

“Apakah sudah pulih?” tanya Ki Benggala.

“Saya rasa begitu,” sahut Jaka sambil mengambili jarum, pisau dan tujuh belas bambu kecil yang tak memiliki ruas. Setelah semuanya terkumpul, Jaka merendam benda-benda itu kedalam air panas yang sudah disediakan. Sudah jelas, tentu agar alat-alatnya steril.

Jaka segera memeriksa nadi di pergelangan tangan dan dileher. “Proses pemulihan sedang berjalan,” gumamnya. Lalu ia menoleh pada gurunya.

“Guru, sekarang kondisi Rubah Api sudah lima puluh persen membaik. Akan lebih baik lagi jika direndam air hangat. Sore nanti, bisa saya pastikan kondisinya sudah pulih, dan untuk proses penyembuhan, paling tidak memakan waktu sebulan.”

“Ooh,” desah Ki Lukita terbengong.

“Jika guru ingin menanyakan apa-apa saja yang perlu ditanyakan, saya pikir jangan terlalu cepat. Dia masih terkejut dengan keadaannya.”

Sang Guru mengangguk, lalu ia memerintahkan pada Ayunda untuk memanggil dua lelaki gundul yang merawat Rubah Api. Tak berapa lama kemudian, mereka datang dari pintu rahasia. Dengan tindakan cermat, keduanya mengangkat Rubah Api. Tentu saja sebelumnya mereka harus menyelimuti tubuh Rubah Api, karena sebelumnya Rubah Api memang tak mengenakan baju, hanya auratnya saja yang ditutup. Orang-orang menatap kepergian Rubah Api yang dipondong dua lelaki gundul.

“Nanti sore?” gumam Ki Benggala setengah tak percaya.

“Benar paman, mungkin dia bisa siuman lebih cepat lagi. Dan jangan heran kalau bekal makanan di dalam sini bakal habis…” Kata Jaka sambil tersenyum.

“Dia penyebabnya?”

“Benar, bagi orang yang sudah lama dalam kondisi seperti orang mati, begitu sadar, yang diperlukan adalah pemupukan tenaga jasmani, tentu saja hal yang diperlukan olehnya adalah makan dan minum sebanyak-banyaknya.”

Mereka bercakap-cakap sambil keluar dari kamar tempat Rubah Api dirawat. “Setelah kondisinya pulih nanti, saya harap guru sekalian, segera menanyakan hal-hal penting. Kita harus dapat memperoleh semua keterangan yang ada pada Rubah Api.”

“Dengan memaksanya?” tukas Ki Glagah dengan alis terangkat.

“Tentu saja tidak.” Sahut Jaka sambil tersenyum kecil. “Rubah Api pasti sadar dengan kondisi terakhirnya, apalagi guru pernah bilang kalau Rubah Api masih ada hubungan dengan sahabat guru sekalian. Jadi mudah saja bukan? Apalagi dia berhutang budi pada Aki sekalian. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memberikan keterangan pada kita. Apalagi keinginan kita sesuai dengan keinginannya, yakni menghancurkan kelompok-kelompok sesat.”

Mereka manggut-manggut paham, “Kau sendiri bagaimana?” tanya gurunya.

“Lebih baik saya bertanya setelah semua keterangan yang diperlukan oleh Aki sekalian terpenuhi. Lagi pula, saat ini saya ingin sekali mempelajari ilmu dasar perkumpulan.”

Semuanya paham, “Tapi bagaimana dengan keteranganmu tadi?”

“Akan saya lanjutkan kapan-kapan, lagi pula dari semua fakta yang saya utarakan tadi tetua sekalian pasti bisa mengambil kesimpulan sendiri untuk menentukan penyelidikan lebih lanjut. Saya juga akan melanjutkan penyelidikan saya sendiri.”

“Jadi, sekarang juga kau ingin mempelajari gerak dasar perkumpulan ini?” tanya Ki Banaran, membelokkan percakapan.

“Kalau tak keberatan…” ujar pemuda ini lega, ia merasa sudah terlalu banyak bicara, walau rahasia besar masih aman.

“Tentu saja tidak. Kalau memang ingin cepat-cepat, kau bisa minta pada siapa saja untuk mengajarimu. Tak terbatas pada empat anggotamu.”

“Terima kasih Ki,” sahut Jaka cepat-cepat.

“Dan kau harus berhati-hati…” pesan kakek ini.

“Ya, eh… apa maksudnya?” tanya Jaka bingung.

“Tak ada penjelasan untuk itu.” Kata gurunya meniru ucapan Jaka tadi, ia tersenyum sambil menepuk bahu Jaka.

Lalu mereka keluar dari ruangan bawah tanah itu. Tetapi, Jaka dan beberapa orang lainnya tidak, mereka hanya pindah ruangan saja, sebab ia ingin mempelajari ilmu silat mereka.

Ki Lukita dan beberapa tetua lainnya menatap punggung pemuda itu yang menghilang di belokan ruangan.

“Anak apa yang kudapat? Andai kata semua orang tahu kalau dia itu adalah segunung intan—sangat bernilai… bagaimana kondisi dunia persilatan kelak?” gumam kakek ini.

“Adi, kita cuma bisa berharap, agak kita bisa waspada.” Kata Ki Glagah menepuk pundak adiknya. “Kau ingat, apa yang di lakukan pemuda ini apa yang dikatakan selalu punya maksud sendiri. Kenapa ia ceritakan semuanya pada kita… pada ketiga puluh orang anggota perkumpulan kita ini? Kuyakin dia punya tujuan sendiri, dan percayalah.. itu tujuan baik.”

“Aku selalu mengharapkan begitu kakang.”

“Aku sepedapat. Jadi jangan kawatir kakang,” sahut Ki Banaran. “Kalau aku yang menjadi dia, tak akan kuceritakan apa yang ada di benakku, karena keadaanku ibarat orang telanjang, rugi! Tapi Jaka melakukannya, aku yakin ada maksudnya menceritakan semua itu.”

“Kita semua yakin akan hal itu.” Gumam Ki Benggala mengurut dagunya. “Kalau kuingat ucapannya tadi, seharusnya aku merasa sakit hati.” Ujarnya sambil tertawa.

“Ucapan yang mana?” Tanya Ki Glagah.

“Waktu dia bilang dia menghadapi tujuh orang dari Macan Lingga dengan bersungguh hati, tapi entah kesungguhan hati macam apa. Kakang sekalian tentu paham artinya bukan? Artinya dia tidak pernah benar-benar menggunakan tenaganya. Entah macam apa tenaganya itu.”

Semua terlihat terpekur. “Kau benar, jika sebelumnya aku bisa mengukur tingkat ketangguhan seseorang dari tenaganya, kali ini aku tak sanggup.” Ujar Ki Gunadarma.

Yang lain terdiam. “Ah…” tiba-tiba saja Ki Lukita terhenyak kaget.

“Ada apa?”

Ki Lukita memandang Ki Glagah, lalu Ki Benggala. “Aku paham… aku paham.”

“Kau paham apa kakang?” Ki Benggala bertanya penasaran.

Ki Lukita menepuk-nepuk bahu Ki Benggala, tapi tak menjawab. Kakek itu hanya mengangguk-angguk. Lalu berlalu dari situ.

“Ada apa dengannya?” Tanya lelaki ini terheran-heran. “Kenapa tangannya gemetar?”

Ki Glagah menghela nafas panjang. “Dia sangat terkejut.”

“Sangat terkejut?” keenam rekannya bertanya serentak.

“Kalian tahu apa yang artinya, bersungguh hati yang dimaksudkan Jaka tadi?”
Mereka menggeleng. “Tak lain adalah, semacam ilmu seperti milikmu adi.”

“Punyaku?” gumam Ki Benggala.

“Kau tahu, kenapa Jaka mengharuskan kita mengingat kembali pertandingan denganmu?”

Ki Benggala terdiam. “Oh… aku paham! Tapi, tapi… itu tidak mungkin!”

“Lalu, kenapa dia sama sekali tidak terpengaruh Hawa Mayat Tanpa Batas?” Ki Benggala tak menjawab, kini dia sudah tahu sebabnya.

“Kenapa?” Tanya Ki Banaran.

“Karena dia memiliki hawa membunuh lebih besar dari Adi Benggala.”

“Tidak mungkin!” seru kakek itu terperanjat.

“Kenapa tidak mungkin? Biar kutunjukan faktanya padamu… pertama; Jaka mengharuskan kita mengingat pertarungannya dengan adi Benggala. Kedua; sehebat apa ilmu mustika Hawa Mayat Tanpa Batas, kita sudah tahu! Kitapun tak sanggup mengadapi ilmu adi Benggala secara langsung! Jadi, sehebat apapun orang yang menghadapi ilmu itu, sedikit banyak, pasti terpengaruh. Tapi kenapa Jaka tidak? Kesimpulannya hanya satu, dia memiliki apa yang dimiliki adi Benggala.”

Semuanya terpana. “Oh, begitu rupanya. Pantas dia tidak mau gamblang menjelaskannya.” Gumam Ki Alit Sangkir.

“Dia tak ingin disebut sombong, juga tak ingin menyinggung perasaanku, yah… walau kupikir dia sudah menyinggungnya sekali.” Ujar Ki Benggala menanggapi dengan tertawa, tapi mereka tahu kalau tawa itu bukan karena lucu, tapi prihatin.

“Aku masih sulit mempercayainya.” Ujar Ki Banaran.

“Kalau saja kau melihat dia saat menahan racun, di kuil ireng. Bagiku, sekarang jelas sudah…” sambung Ki Gunadarma.

“Belum lagi Tenaga Semu.” Ki Wisesa yang dari tadi diam, ikut bicara.

Kali ini, mereka merasa kesimpulannya masuk akal. Tenaga murni yang entah sampai mana kehandalannya, hawa membunuh yang belum diketahui sebatas apa kengeriannya. Lalu kecerdikan, kebijakan, juga kelicikan, dan, pribadi yang sulit ditebak. Sungguh komplet, namun terasa mengerikan, jika hanya melihat satu sikapnya, tanpa melihat sisi yang lain.

“Anak macam apa dia…” gumam Ki Wisesa.

“Kurasa namanya memang tepat, anak itu adalah badai. Tak ada yang bisa mengikat badai, tapi tak mustahil untuk mengarahkannya. Agar badai itu tak merusak.” Ki Benggala menjawab ucapan kakangnya.

Semua tetua setuju dengan pendapat rekannya, mereka segera meninggalkan ruangan dalam tanah, dan kembali keatas, dengan dibebani berbagai persoalan baru yang dikemukakan Jaka.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s