49 – Menebar Takut Berbalut Lisan

“Tidak, racun itu sudah menjadi bagian dariku, tidak akan meracuni diriku. Bahkan bisa membantuku.”

“Membantu?”

“Jika aku mau, maka racun ini bisa disebarkan keseluruh tubuh, dan jadilah aku manusia racun, apa yang kusentuh apa yang terkena hembusan nafasku, bisa teracuni.”

“Wah…” banyak orang berdecak ngeri juga kagum.

“Jadi saat kau menghadapi lima racun itu..”

“Jangan salah sangka paman Gunadarma, itu tidak ada hubungannya, kalau saya mengalirkan racun ini untuk menahan kelima racun itu, bisa-bisa kadar racun di lengan saya bertambah besar dan tak mungkin terobati.”

“Oh.. jadi kau sendiri belum bisa mengobati?”

“Sebenarnya bisa, tapi seperti yang saya bilang, harus ada racun yang kekuatannya setara dengan racun ini. Lagi pula harus dengan teknik khusus melakukannya, tapi saya kira kalau memang ingin menghilangkannya, toh tinggal mencari racun yang sebanding, lagi pula, rasanya sayang harus berpisah dari racun ini… bagaimanapun juga racun ini tak berbahaya bagi saya, lama kelamaan racun ini akan hilang sendiri dan menyatu dengan darah, dengan sendirinya—apabila sudah menyatu dengan darah saya, racun apapun yang berkekuatan dibawah racun ini, tidak akan sanggup mencederai saya.”

“Hebat.” Puji Ayunda.

“Tapi, semua itu butuh waktu, proses pembauran racun dalam darah, mungkin sebentar, tapi mungkin juga lama. Siapa tahu sesudah aku punya cucu, baru bisa menyatu.”

“Hi-hi, punya cucu?! Umurmu saja masih seumurku!” kata Andini terkikik. “Tapi apa penyatuan itu sama sekali tidak beresiko?” sambungnya bertanya.

“Tidak. Juga tidak berbahaya bagi istri dan keturunanku kelak.” Penjelasan Jaka di mengerti mereka semua, memang bagi mereka yang bermasalah dengan darahnya, bisa mengakibatkan keturunan dan istrinya tertular. Dan mereka mengerti akan hal itu.

“Nah, berhubung aku bebas racun.. siapa yang berminat?” tentu saja ucapan Jaka kali ini mendapat rekasi, ada yang tertawa ada pula yang diam-diam memaki. Sebab dengan perkataan yang sebelumnya, artinya Jaka mengatakan siapa yang mau jadi istriku.

“Ih.. omongan macam apa itu.” Seru Diah dengan wajah merah padam. Kalau saja ada yang tahu bahwa dalam hatinya gadis ini menjawab ucapan Jaka dengan ‘aku berminat’—penuh antusias, pasti mereka tak percaya.

“Ah-Ha… aku hanya bercanda kok.” Kata pemuda ini sambil menggaruk kepalanya. “Biar tidak terlalu tegang.”

Orang tertawa melihat keadaan wajah pemuda ini yang runyam, sebentar merah sebentar meringis seperti orang salah makan.

Ki Lukita juga tertawa geli, tapi ia segera meneruskan percakapan tadi. “Tak kusangka pengembaraanmu begitu hebat. Lalu semua itu apa ada hubungannya dengan jawabanmu yang terakhir tadi?”

Jaka seperti tertolong, sikap pemuda ini kembali seperti biasa. Sungguh hadirin jadi heran melihat sikap pemuda ini yang gampang berubah, sekejap seperti orang ketahuan ngupil, tapi berikutnya sata serius, seperti orang yang menghadapi persoalan yang amat gawat.

“Seperti yang saya bilang, kalau ada kekuatan yang lebih kuat lagi yang sanggup membuat ‘sesuatu’ itu mau tunduk. Mungkin suami-istri yang saya temui waktu itu juga salah satu dari kekuatan tersembunyi. Karenanya, saya bisa mengambil kesimpulan kalau apapun yang membuat mereka menghentikan tindakannya karena ada orang yang jauh lebih menakutkan.”

“Jadi kau mau mengatakan kalau ada kendali di atas kendali?”

“Benar, semuanya memang begitu. Tapi itu tak usah dibahas lebih lanjut. Akan saya jelaskan jawaban kelima saya, yakni kemungkinan hilangnya sebuah tanda kekuasaan. Waktu itu saya dan beberapa orang sahabat, menghadapi persoalan yang sama. Ada beberapa kelompok yang menyerang para pedagang besar, pejabat, merampok perguruan-perguruan kecil, dan banyak hal yang sama dengan motif sama. Mereka mencari sesuatu, atau mungkin mengumpulkan sesuatu. Kejanggalan itu kami temukan pada tiap-tiap pencurian yang juga dilakukan pada pedagang-pedagang miskin. Mereka juga mengambil barang yang paling berharga..”

“Semua maling kan memang begitu.” Celetuk Wiratama.

“Memang begitu, tapi apa tidak aneh, kalau kain jarit, barang-barang tidak berharga, dan tak terpakai lainnya juga ikut diambil. Mereka mencari sesuatu tapi menutupinya dengan pencurian lain. Kegiatan itu tidak mencurigakan, sampai akhirnya saya menemukan bukti. Dan itu membuat saya berkesimpulan demikian.”

“Kemudian, alasan jawaban keempat..”

“Tunggu dulu, apa buktinya?” tanya Ki Alit sangkir.

“Maaf, tak bisa saya katakan, bukan saya tak percaya, tapi semua ini semata-mata untuk menjaga keefisienan kerja saya dan juga teman-teman yang lain.” Sahut pemuda ini tegas, lalu ia meneruskan penjelasannya.

“Untuk alasan jawaban keempat, saya kira sumber dana mereka hilang. Ada banyak hal, pertama; seluruh bandar judi dan rumah-rumah judi di kerajaan Rakahayu, Singgarmala, Kencana Urip, Rayicakya, dan banyak kerajaan lainnya, tutup.”

“Eh, kenapa kau tahu itu.” Tanya gurunya.

“Guru juga tahu?”

“Ya, agak aneh memang. Sebab disini juga rumah-rumah judi lenyap. Kami heran, cara bagaimana bandar judi yang begitu kayanya, mau mengungsi hanya dengan pakaian yang melekat dibadannya.”

“Kasihan.” Sahut Jaka tertawa. “Seharusnya guru juga menempatkan orang-orang perkumpulan ini di tempat tak beres seperti itu.”

“Sudah, tapi kekalahan besar itu tak kami ketahui. Yang kutahu, mereka gulung tikar itu saja.”

Jaka manggut-manggut. “Saya rasa guru harus berterima kasih pada kami.” Kata pemuda dengan roman tertawa tak tertawa.

“Kau?”

“Benar, kami mengadakan perjanjian dengan bandar-bandar besar dengan taruhan besar. Kami meminjam harta dari pejabat korup dan kami menang taruhan.”

“Begitu mudah? Tanpa gelombang? Tanpa rekasi?” tanya gurunya heran.

“Maaf, bukan bermaksud merebut penyelidikan dan meremehkan kerja perguruan ini. Tapi kami bekerja cukup efisien.”

“Seefisien apa?” tanya Ki Benggala menimpali, orang inilah yang sangat penasaran, sebab seluruh keamanan dan kejadian seluruh kota baik yang terang-terangan atau rahasia, tanggung jawab berada dipundaknya, bagaimana mungkin ia tak mengetahui kalau ada kejadian sebesar itu?

“Untuk membuat siapapun tak berani berkutik, adalah dengan memegang kelemahannya, itu hal yang jamak. Kami semua mempunyai catatan buruk para bandar yang mereka lakukan secara diam-diam, tentu saja jika tersiar, akan membuat malu. Bisa dipastikan mereka akan dihukum baik oleh aparat atau perkumpulan…. apapun namanya.”

“Jadi begitu?”

“Ya, kami bekerja tanpa terdengar, tanpa rekasi, tanpa terlihat. Maaf, bukan saya menyombongkan diri, tapi memang itulah yang kami lakukan. Kami datang, kami bereskan, dan kami pergi dengan banyak uang, selesai.”

“Tak ada keributan, dan mereka lenyap, hebat… lalu berapa yang kau kumpulkan dari tempat judi di kota-kota besar, termasuk kota ini?”

“Tak banyak, menurut perhitungan terakhir dua juta keping emas dan seratus ribu keping perak.”

“Fiuuw.. bisa membuat perkampungan besar.” Gumam Ki Gunadarma.

“Benar paman.”

“Kalau bandar judi di kota ini, mereka punya kekayaan sampai berapa?”

“Entahlah paman, saya tak menghitungnya. Mungkin sekitar dua ratus ribu keping emas.”

“Aneh, bagaimana bisa sebuah bandar di kota Pagaruyung memiliki harta begitu banyak?”

“Itu yang seharusnya dicurigai, bahkan kalau mungkin para orang kaya—yang menurut wajar, seharusnya ia tak memiliki harta sebanyak itu.”

“Kalian kerja begitu rapi, apa sudah membentuk jaringan tersendiri?”

“Sudah, ehm… dan saya rasa akan segera terbentuk lebih baik. Niat kami, mengimbangi kelompok rahasia dengan perkumpulan rahasia pula. Mereka mengirim mata-mata, kami juga mengirim mata-mata.”

“Bagaimana cara kalian menentukan kalau satu perkumpulan sudah disusupi atau seorang pejabat yang menjadi kaki tangan perkumpulan rahasia?”

“Wah.. itu rahasia paman, selain penyelidikan, kecermatan dan keyakinan, yang berperan penting disini adalah naluri. Cuma itu yang bisa saya beri tahu.”

Ki Gunadarma memaklumi jawaban Jaka, ia kembali bertanya mengenai persoalan tadi. “Kalau begitu hasil yang kalian capai untuk mengurus seluruh bandar judi sangat besar?”

“Tak tahulah. Sejauh ini menurut saya, cukup besar. Kami terpaksa mengelompokkan sampai tujuh belas peti besar, masing-masing peti ada delapan juta keping emas dan setengah juta keping perak.”

Mereka terpekur, untuk sesaat menghitung nilai nominalnya. Gila, jumlah yang sangat besar! Satu peti saja bisa membeli tiga kota semacam kota Ganyu. Hebat, bisa membuat kerajaan sendiri.

“Banyak sekali…” desah Pratiwi tak percaya.

“Memang banyak, belum lagi kalau digabung dengan harta benda yang kami sita dengan paksa.”

“Sita paksa?” beberapa orang bertanya sama.

“Benar, seperti lintah darat, pejabat korup—seperti yang saya katakan tadi, atau kami memeras raja-raja muda yang memiliki rencana untuk berkhianat atau menyembunyikan rahasia besar yang memalukan. Dan satu hal yang harus dicatat, jalan operasi kami sama dengan jalannya operasi perkumpulan rahasia pada umumnya. Mereka memeras dengan rahasia, kami juga. Kami memeras tidak tanggung-tangung seperti mereka. Harta itu hampir mencapai dua kalinya, dari hasil mengeruk bandar judi.”

“Ih.. gila!” hampir semua orang terpekik kaget.

“Apa itu bukan bualanmu?” tanya Wiratama.

Jaka tertawa. “Kalau tidak percaya anggap saja bualan, habis perkara.” Jawabnya, membuat orang tak mengerti.

“Lalu bagaimana maksudmu dengan. Memeras tidak tanggung-tanggung?”

“Oh, untuk yang satu itu harus dilihat dari sudut pandang permasalahan yang dihadapi. Perkumpulan yang memeras beberapa raja muda, selalu meminta upeti perbulan sebanyak seratus ribu keping emas tiap bulan. Tapi kami tidak, karena kami tidak mungkin pergi bolak-balik terus menurus, dengan sendirinya, kami meminta uang sebatas seluruh kekayaan yang dimiliki orang itu.”

“Jika mereka menolak?”

“Ya, kami biarkan.. tetapi entah kenapa keesokan harinya seluruh penghuni rumah—kecuali orang yang pernah kami mintai uang, keracunan.” Kata Jaka sambil mengangkat bahunya dengan nada apa boleh buat.

“Kau yang membuat mereka begitu?”

“Yah.. mau bagaimana lagi? Korban juga harus dipilih-pilih, kira-kira yang sudah cukup umur, yang jelas dia bukan orang baik.”

“Masa kau bisa menentukan takdir orang?” tanya sang guru dengan kening berkerut.

“Bukannya begitu, tapi hanya membuat mereka berubah dan kalau bisa bertobat, dengan sedikit ancaman. Paling tidak racun yang saya buat, bisa berguna.”

“Dengan kejadian itu mereka menerima permintaan kalian?”

“Syukurlah mereka tidak keras kepala.. lagi pula kami katakan, maksud kami memeras mereka adalah untuk membantu mereka sendiri.”

“Dari mana kau dapat dalil meminta semua duit orang untuk membantu?” tanya Ki Glagah geli.

“Memang agak aneh, tapi jika di kupas lebih lanjut, semua itu masuk akal. Karena kami cukup mengatakan… ‘semua ini demi keselamatan kalian, dari pemeras yang lain. Mereka tidak akan memeras lagi kalau kau sudah tak punya harta.’ Agaknya mereka paham dengan maksud saya.” Tutur pemuda ini dengan wajah polos.

Ki Lukita dan tetua yang lain menggeleng, benak mereka berpikir. Kukira anak satu ini lugu dan polos, nyatanya keluguan dan kepolosannya sangat berduri. Sungguh tak nyana, tiap kebenaran yang dikatakan bocah ini punya lika-liku yang rumit. Sungguh berbahaya kalau ingin bermain api dengannya…

“Semua pemerasan yang kalian lakukan dengan modus yang sama?”

“Benar, tapi juga ada yang tidak sama. Pernah kami salah memeras, maksudnya, pejabat korup yang kami peras itu tidak pernah diperas oleh pihak perkumpulan manapun.”

“Kau tetap memerasnya?”

“Tentu saja, sebab saya kawatir kalau tidak begitu dia akan terus merongrong rakyat dan pemerintah. Semua harta, kecuali apa yang ia dapat dari gajinya, kami angkut. Hm, kalau diingat wajahnya waktu itu, sungguh kasihan, tapi jika mengingat wajah-wajah rakyat yang kelaparan, mau tak mau saya harus tega.”

“Bagus juga perbuatanmu, tapi uang sebanyak itu mau kau kemanakan, mau kau gunakan untuk apa?”

“Tentu saja banyak hal yang sudah saya gunakan, saya yakin paman sudah bisa memikirkan kemana arahnya, tapi prinsip kami adalah; mendahulukan rakyat baru mengurus kepentingan lain.”

“Memang benar… Kalau boleh kami tahu seberapa banyak anggota perkumpulan kalian dan siapa ketuanya?”

Jaka berpikir sejenak. “Sebenarnya saya tidak boleh memberitahukan ini, tapi karena saya juga menjadi anggota perkumpulan ini, tidak ada salahnya saya beri tahu sedikit… seperti juga kelompok ini, kami membagi diri menjadi tujuh belas kelompok. Tiap kelompok memiliki tugas tersendiri, mereka punya keistimewaan tersendiri pula.

“Ada banyak hal lain yang tak terduga dari kelompok-kelompok yang kami bentuk—mungkin seperti yang andika sekalian duga, mereka bisa saja pengemis, pelayan, pemilik rumah makan atau penginapan, dan mungkin juga menyamar sebagai, maaf… pelacur, atau bahkan sebagai ketua perkumpulan. Tujuh belas kelompok itu diketuai oleh teman-teman saya.”

“Oh, kau yang menjadi ketua mereka?” tanya sang guru.

“Itu semua berkat kecintaan sahabat-sahabat, sehingga mereka mau dipimpin manusia macam saya.”

“Pilihan tepat, walau aku tak tahu macam apa mereka, kuyakin dari apa yang sudah dikerjakan mereka—lewat penuturanmu tadi, pemimpin mereka lebih berbahaya.”

“Ah, guru jangan mengatakan saya berbahaya, saya toh tidak menggigit, tidak pernah menggonggong..”

“Bukan itu maksudku..” ujar gurunya tertawa. “Rasanya, kau memimpin mereka dengan cukup baik. Lalu berapa jumlah anggotamu seluruhnya?”

“Saya tak tahu pasti, catatan yang terbaru belum dibuat. Tapi catatan satu tahun yang lalu, masih berjumlah kurang lebih delapan ratus orang.”

“Gila, itu sudah sangat banyak.” Seru Ki Gunadarma. “Bagaimana kau menarik mereka sebagai anggota?”

“Tak banyak yang saya katakan, saya hanya memberi contoh kepada mereka dengan kelakukan saya. Dan dengan pengertian, itu saja.”

“Dan mereka menjadi anggota?”

“Sebenarnya bukan anggota, tapi sebagai teman sebagai sahabat yang saling mengingatkan jika salah satu dari kami melenceng. Entah berapa banyak kata seperti itu kami ucapkan, sehingga tak terasa juga teman kami makin banyak.”

“Kalau salah pilih bagaimana? Maksudku, orang yang kau ajak itu mata-mata dari perkumpulan lain atau bahkan telik sandi Kwancasakya..”

“Kami tidak perlu kawatir, justru kami malah ingin menjaring orang-orang seperti mereka, dan kalau bisa kami arahkan untuk menjadi manusia seutuhnya. Dengan sendirinya, kami juga mengetahui banyak hal dari mereka.”

Suasana hening seketika, mereka memandang kedepan.. aura ruangan jadi sedikit berubah, seorang pimpinan perkumpulan yang tidak kalah rahasianya dengan perkumpulan mereka sendiri, kini menjadi anggota mereka, bahkan anggota terendah! Sungguh tak bisa disangka ada kejadian macam ini.

“Berapa banyak mata-mata yang terjaring?”

“Tak terhitung dan mereka terdiri dari banyak golongan.. kami tidak pernah palah-pilih untuk menentukan siapa yang menjadi teman, selama dia manusia yang masih bisa diajak kejalan yang benar.”

“Lalu mereka insyaf?”

“Bukan insyaf, tapi menyadari tindakannnya keliru, sesudah itu baru insyaf. Dan mereka menceritakan semua yang pernah mereka lakukan. Dari situlah lahir ide-ide untuk mengimbangi perkumpulan rahasia. Lalu kami berkembang… dan berkembang makin besar.”

“Kalian tak kawatir kalau perkumpulan kalian diketahui pihak lain?”

“Kami tidak perlu kawatir, sebab kami dikatakan menjadi perkumpulan rahasia oleh orang yang mengetahui keberadaannya. Kami hanyalah kumpulan orang-orang yang bertujuan sama. Tindakan kami juga terorganisir, jika kami mengadakan pertemuan, banyak orang yang tahu keberadaan kami, jadi menurut saya, kelompok kami itu bukan perkumpulan rahasia.”

“Tapi, sepanjang penyelidikan kami, belum pernah melihat gerakan seperti perkumpulanmu.”

Jaka tertawa. “Mungkin belum sempat bertemu.”

Mereka saling pandang, jawaban Jaka bisa berarti banyak. Bisa saja Jaka meragukan cara kerja mereka, atau memang kelompok Jaka benar-benar rahasia, atau lebih parah lagi, memang tidak ada.

“Lalu tindakan kalian saat melakukan satu rencana?” tanya gurunya.

“Kami tidak pernah melakukan hal-hal merusak, kami hanya bertukar informasi dan mengambil tindakan yang dirasa perlu. Misalnya saja saat ini… saya datang kemari dan mendapatkan informasi dari guru, bukankah pada mulanya kita tidak saling kenal? Begitu juga antara saya dengan anggota lain..”

“Oh, jadi hubungan yang terjalin diantara kalian begitu lepas? Begitu bebas dan mudah, tanpa syarat tertentu?!”

“Benar.” Jawab pemuda ini. Tentu saja tak perlu kusebut lika-likunya, sambungnya dihati.

“Tapi kau bilang dua tahun yang lalu?”

“Ehm… benar.”

“Kau bilang, selama dalam perantauan sejak keluar rumah lebih suka menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan alam.” Ujar gurunya merasa tak enak, kalau begitu selama ini penuturan Jaka adalah bohong.

“Saya tahu maksud guru, dan bukan maksud saya berdusta. Tapi memang benar apa yang saya katakan itu, tapi saya kan bisa mengurus segala sesuatunya sambil lalu, tidak harus berada disatu tempat tertentu. Saya rasa hanya kamilah—perkumpulan yang tidak punya markas, kami seperti angin, berhembus kemana saja, disitulah perkumpulan kami.”

“Begitu, jadi bagaimana kalau ada anggota ingin menyampaikan informasi? Sedangkan ketuanya keluyuran terus?”

“Mereka bisa menemukan saya.” Jawab pemuda ini singkat.

“Bagaimana caranya?”

“Ya, begitulah…” pemuda ini tak ingin menjelaskan yang sesungguhnya. “Mungkin caranya seperti yang aki pikirkan. Begitulah mereka bisa menyampaikan informasi pada saya.”

Wah, tak nyana anak ini begitu cermat menyusun segala sesuatunya. Puji Ki Gunadarma dalam hati merasa kagum.

“Jadi keberadaanmu disini..”

“Jangan kawatir Tiwi, aku kan bukan orang yang tanpa pertimbangan. Aku juga punya kode etik tersendiri. Keberadaan-ku disini tidak ada yang tahu selama aku tidak menginginkannya.”

“O…” gadis ini paham. “Jadi engkau mengendalikan anggotamu, sesuka hati.”

“Bukan sesuka hati, tapi bisa saling mengatur. Mereka manusia seperti kita, punya keinginan, punya kewajiban. Ada saatnya mereka harus menunaikan kewajiban, tapi kuyakin lebih banyak waktu mereka untuk keluarga atau bersantai—sampai saat itu.”

“Sampai saat itu?”

“Ya, sampai pada batas keadaan yang kritis. Kita tahu sendiri, kapan terakhir ada pergolakan yang mencurigakan, maka itulah batas waktu kami bersantai.”

“Kalau begitu sembilan bulan yang lalu?” tebak gadis ini.

Jaka tak menjawab, “Kini tugas kami makin banyak.” Gumam Jaka, dan itu adalah jawaban untuk Pertiwi.

“Tentu sudah banyak memakan tenaga dan pikiran untuk melakukan hal-hal besar seperti menguras harta tak halal seperti yang kau dapatkan dari bandar judi.” Ki Alit Sangkir menegas.

“Benar, kami lelah dan muak dengan rencana kami sendiri, tapi itu harus kami lakukan demi masa yang lebih baik.”

“Lalu harta yang begitu banyaknya kau simpan dimana?” tanya Ki Alit Sangkir. “Tapi maaf.. aku bertanya bukan untuk mencari tahu.”

“Saya paham.. tentu saja harta itu kami simpan di sebuah tempat yang aman. Ada sebagian yang sudah kami bagi-bagikan dalam bentuk barang, atau bahan makanan, untuk membantu korban bencana alam, banjir.., bukan saya mau menonjolkan ini, tapi memang itulah kewajiban yang kami pandang harus dilakukan.

“Hh… sayangnya harta begitu banyak, tapi banyak pula upaya dan daya yang kami keluarkan untuk menebus semua itu, sungguh tidak sebanding, sungguh tidak sebanding…” ujar pemuda ini menghela nafas panjang, seperti gusar.

“Kenapa kau katakan begitu?” tanya Ki Lukita.

“Sebab, banyak teman saya tewas! Padahal saya yakin benar dengan tingkat kepandaian mereka, tapi bagaimana bisa mereka mati dengan begitu mudahnya? Tidak ada racun, tidak ada trik lain, saya yakin mereka didatangi lawan yang mengerikan, lalu empat orang itu dibunuh tanpa bisa melawan. Hh.. mengerikan, tapi dengan kejadian itu kami jadi makin berhati-hati bergerak. Karena boleh jadi Telik Sandi Kwancasakya mengintai tiap pergerakan kami.”

“Oh.. begitu, jadi dari kegiatan itu kau tahu adanya telik sandi itu?”

“Benar.”

“Kalau begitu tinggal tiga belas kelompok?” tanya Ayunda tiba-tiba nyeletuk.

“Tidak, tetap tujuh belas kelompok.. wakil dari ketua yang tewas menggantikan kedudukan sementara, sampai pada saatnya nanti, kalau perlu akan kurombak.”
Baru saja pembicaraan hendak dilajutkan, tiba-tiba saja terdengar suara melengking nyaring.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s