48 – Jejak Pedang Baja Biru

“Jadi bagaimana?”

“Tidak apa-apa, masih aman untuk saat ini. Lagi pula saya mengenalkan diri sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati juga karena satu alasan tersendiri.” Tentu saja ucapan Jaka itu selain buat menghibur dirinya dan juga diri orang lain agar tidak berkawatir padanya.

Bagaimanapun juga Jaka agak menyesal juga mengenalkan diri sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati. Biarpun pengetahuan yang ia miliki tentang Tabib Hidup-Mati dan saudara seperguruannya, mungkin lebih lengkap dari keturunan orang-orang sakti itu. Tapi, dampak yang ditimbulkan mungkin bisa merugikan kelompoknya, Jaka tak pernah berkawatir dengan dirinya pribadi.

“Tapi kau mengatakan, yang terjadi disini adalah persoalan kecil, bagaimana kau bisa meremehkan itu?” tanya Ki Banaran.

“Sebab mereka tidaklah semisterius itu.” sahut Jaka dengan tersenyum.

“Maksudnya?”

“Seperti yang saya katakan, semua yang saya peroleh selama ini, juga saat ini.. tentang Perkumpulan Dewa Darah memang tergolong mengerikan bagi mereka yang baru tahu seluk beluknya, tapi bagi saya… kita, mereka sama seperti perkumpulan lainnya, cuma saja kita tidak tahu bagaimana roda operasi perkumpulan mereka jalankan.

“Tapi itu bukan masalah, yang menjadi masalah adalah, kenapa perkumpulan Dewa Darah bisa di curigai masuk kedalam Perguruan Naga Batu? Sementara perguruan itu kekuatannya tak kalah dengan enam belas partai besar? Jawabannya mudah, sebab perguruan itu sudah ada enam puluh tahun yang lalu.”

“Apa hubungannya?” tanya Ki Banaran.

“Sangat dekat, seperti yang tetua sekalian ceritakan, bahwa enam puluh tahun silam ada kekuatan ‘sesuatu’ yang sanggup melakukan apa saja semudah membalik telapak tangan. Tapi tinggal selangkah lagi kenapa mereka mengurungannya? Menurut andika sekalian bagaimana?”

“Siapa yang tahu kalau bukan otak setanmu.” Gerutu Pertiwi cemberut. Ia merasa kesal bukan karena cerita Jaka yang menarik, tapi ia kesal kenapa makin lama mendengar cerita, eksperesi, dan tingkah-laku Jaka, hatinya kian berdesir tak karuan. Karena itulah untuk mengalihkan perasaannya itu, ia selalu menyela omongan Jaka.

Sementara Jaka hanya bisa tersenyum serba salah mendengar komentar Pertiwi. “Jawabannya mudah. Dan saya punya banyak jawaban. Pertama; ada perpecahan di dalam tubuh kekuatan tersebut. Kedua; mereka menjalankan rencana domba. Ketiga…”

“Tunggu.” Potong Diah—kembali mengejutkan orang. “Apa maksudmu rencana domba, aku yakin itu karanganmu sendiri, setahuku, tidak ada rencana seperti itu di sepanjang sejarah kerajaan atau perkumpulan.”

Jaka tertegun, ia menggaruk kepalanya. Teliti benar anak satu ini, pikir Jaka. “Ya, kau benar. Itu hanya istilahku sendiri. Artinya, mereka memelihara sesuatu dan menggunakannya jika sudah saatnya.” Lalu Jaka meneruskan penjelasannya tadi.

“Dan jawaban ketiga; selain konflik antara sesama anggota atau pengurus, kekuatan itu mengalamai pengeroposan didalamnya. Seperti yang terjadi dalam tubuh Perguruan Macan Lingga. Keempat; salah satu sumber dana yang mereka miliki lenyap tanpa bekas. Kelima; hilangnya satu tanda pengenal kekuasaan untuk mengendalikan kekuatan yang begitu besar. Dan terakhir—yang keenam; jika mereka adalah orang yang menepati janji, maka mereka tidak bisa unjuk gigi karena kalah taruhan.”

“Eh, maksudmu?” Diah bertanya lagi. Orang-orang kembali menghela nafas getun, perubahan gadis salju itu benar-benar jelas. Untuk hari ini saja rasanya Diah Prawesti sudah terlalu banyak bicara jika dibandingkan hari biasa.

“Jika kau seorang ksatria, atau katakanlah masih memiliki sifat ksatria, apa jadinya kalau di tantang seseorang untuk beradu kepandaian dengan satu taruhan tertentu? Tentu saja kalau dia memiliki gengsi tinggi, taruhan itu akan diterimanya. Dan apa taruhan itu? Tidak lain adalah, bahwa dia—orang yang menantang taruhan—meminta ketua dari kekuatan ‘sesuatu’ tersebut, untuk menunda rencananya. Tentu saja dalam kurun waktu tertentu, mana mungkin si ketua menerima begitu saja kalau si penantang memasang taruhan—jika ia kalah, maka tak boleh unjuk gigi selamanya, atau dalam jangka waktu tertentu. Mengambil kesimpulan itu, maka saya yakin benar kekuatan itu akan bangkit paling lama dua atau tiga tahun lagi.”

Mendengar penjelasan Jaka yang panjang lebar, terbukalah pikiran mereka.

“Tapi itu hanya jawaban, tanpa alasan yang nyata, kan?” ujar Ki Glagah, tentu saja sanggahan orang pertama dari perkumpulan rahasia ini bobotnya lain.

Jaka mengangguk paham. “Saya mengerti maksud Aki, tapi apa yang saya kemukakan tadi berdasarkan pengamatan saya selama bertahun-tahun.”

“Eh…” hampir semua tetua tersentak kaget.

Jaka diam sesaat, ia sengaja telah membuka satu rahasia lagi, apa yang baru saja dikatakan adalah sebuah identitas dirinya yang lain.

“Tapi bukankah kau baru dua puluhan tahun?” seru Ki Banaran tertegun bingung.

“Maaf Ki, tak bisa saya terangkan lebih lanjut, tak mungkin saya bisa kemukakan hal itu. Mungkin suatu saat saya akan menceritakannya pada guru dan tetua sekalian. Tapi saat ini saya hanya akan menjelaskan kenapa saya menuturkan enam jawaban tadi.”

Tidak ada yang mendesak Jaka supaya bercerita, sebab makin mereka tahu siapa Jaka, mereka makin penasaran dan curiga, untuk menghilangkan perasaan seperti itu, kiranya memang tindakan bijak jika mereka tak mendesak Jaka untuk bicara.

“Kita mulai dari jawaban terakhir, andika sekalian tahu, kenapa kekuatan ‘sesuatu’ harus berhenti. Seperti yang tadi saya kemukakan, taruhan yang jadi penyebabnya. Ada seseorang atau kelompok, yang tahu semua kegiatan di dunia persilatan ini, seseorang yang tahu semua rahasia. Dia membuat kekuatan, menyebar ketakutan, menyusupkan mata-mata, jauh dari perkiraan orang. Dia pula yang bisa membuat ‘sesuatu’ itu takluk.”

“Maksudmu seperti perkumpulan rahasianya Dewa Empat Maut?” sahut Ki Lukita.

“Bukan, dia lebih hebat dari apapun yang pernah dibayangkan.”

“Kau bisa bicara seperti itu apa buktinya?”

Jaka tersenyum, lalu ia menggulung lengan baju kirinya, sampai sebatas bahu. Hadirin terkejut menyaksikan dari mulai pergelangan tangan Jaka, terdapat banyak luka sayatan dan nampak bekas bacokan pula. Tapi yang menarik, dua baris warna biru kehitam dan merah kehitaman menggurat dari pangkal lengan sampai siku.

“Ini buktinya.”

Mereka terperanjat. Ki Lukita segera mendekat dan memegang bahu Jaka. “Mustahil!” kejutnya menoleh kearah Ki Glagah. “Coba kakang lihat.”

Kakek itu juga mendekat, lalu ia merabanya. “Astaga, sesungguhnya ap-apa yang akan kita hadapi?” gumamnya bingung. Orang tua itu adalah orang paling tenang, bagaimana mungkin dia bisa kelihatan putus asa seperti itu?

“Kakek apa yang sedang dibicarakan? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Pertiwi bertubi, dia juga ikut mendekat.

Ki Glagah memandang Jaka, “Kau saja yang menjelaskan.”

Pemuda ini menggeleng. “Tidak, Aki saja lebih dulu, saya akan menyambung penjelasan aki.”

Kakek itu termenung sejenak. “Baiklah,” akhirnya ia setuju. “Kalian lihat warna biru dan merah yang menggaris di lengan Jaka?”

Semuanya mengangguk, wajah-wajah ingin tahu mereka membuat Jaka merasa risih.
“Pernah dengar Pedang Baja Biru?” tanya kakek ini lagi.

Banyak dari mereka yang menggeleng, tapi para murid senior, mengangguk, salah satu dari mereka menjawab. “Itu adalah pedang legenda yang pernah muncul jauh sebelum adanya enam belas partai besar. Pemilik pedang itu satu angkatan dengan para pemilik ilmu sembilan mustika. Konon racun Getah Birunya bisa membunuh gajah hanya karena kibasan angin saja. Racun itu ada pada pedangnya.”

“Lalu apa hubungannya kakang?” tanya Kinanti.

“Pedang itu pernah muncul dua kali.. mungkin ini yang ketiga kalinya dengan apa yang menimpa Jaka. Dan jika di perhatikan setiap kemunculannya, selalu mengawali munculnya masalah besar.”

“Maksudnya, akan ada badai yang lebih hebat?” tanya gadis ini lagi.

“Mungkin, tapi aku tidak yakin dengan luka itu.” Gumam orang ini sambil memperhatikan luka Jaka.

Jaka menghela nafas panjang. “Aku juga tidak ingin percaya. Kalau memang luka ini karena racun dari Pedang Baja Biru yang andika (kamu) ceritakan, bukankah aku sudah mati dari dulu?”

“Benar.”

“Tapi kenapa aku tidak mati, dan itu yang membuat andika ragu?”

“Benar sekali.”

Jaka menoleh pada gurunya, “Guru, bolehkah saya minta seekor binatang hidup?”

“Untuk apa?”

“Sebagai bukti.”

“Bagaimana kalau ayam..”

“Bisa juga.”

Ki Lukita menepuk tangan dua kali. Dari dalam ruangan muncul dua lelaki botak, mereka adalah orang yang sama saat menjaga Rubah Api.

“Bawa kemari dua ekor ayam..”

“Baik, tetua.” Sahut keduanya, lalu mereka berbalik. Beberapa saat kemudian mereka membawa dua ekor ayam, dan segera diserahkan pada Jaka.

“Sayang.. ayam bagus begini.” Gumam pemuda itu sambil mengelus-elus kepala dua ekor jago itu.

“Apa yang akan kau buktikan dari itu?”

Jaka tak menjawab, dia mengambil pisau kecil dari lipatan bajunya. Dengan tindakan perlahan, Jaka menyayat kulit lengan kirinya darah segera meleleh keluar. Jaka mengambil darah dengan ujung pisau itu.

“Andika lihat, ini apa?”

“Tentu saja darah.” Jawab kakak Kinanti masam.

“Tentunya darah tidak bisa membunuh bukan?” tanya Jaka. Orang itu melegak heran, tapi mengangguk.

Jaka menghela nafas, “Apa yang kau utarakan tadi memang benar.”

“Apanya?”

“Mungkin racun itu bisa membunuh gajah walau dengan kibasan angin.”

“Apa maksudmu?”

Jaka tak menjawab, ia meneteskan darah yang hanya setitik itu ke kepala ayam jago.

Ceees!

Bunyi seperti bara dimasukkan kedalam air membuat hadirin terkejut, juga makin merinding, karena dalam dua hitungan saja, ayam jago itu sudah leleh dan hangus tanpa ujud. Lalu ayam kedua yang terkena kepulan asap lelehan ayam pertama, juga mengalami nasib serupa, hanya saja prosesnya tak secepat yang langsung terkena tetesan darah Jaka.

“Gila..” gumaman ketidak percayaan memenuhi ruangan itu. Ruangan yang hening jadi ribut.

Ki Glagah mengangkat tangannya, seketika itu juga suara sirap. “Kau percaya?” tanya kakek itu pada murid Ki Banaran.

“Tap-tapi.. bagaimana, ia..” ujarnya masih dilingkupi rasa heran.

“Biar Jaka yang menjelaskan.” Ujar kakek ini bijaksana.

Semua mata mengarah kembali pada Jaka. Pemuda ini tidak segera menjawab, ia memberi tanda kepada dua lelaki botak tadi untuk membersihkan sisa bangkai hangus tadi.

Keduanya mendekat agak ragu, mereka kelihatannya masih ngeri dengan pertunjukan tadi. “Apakah ini masih beracun?”

“Tidak, tidak beracun..” gumam Jaka. Lalu keduanya segera membersihkan, setelah itu mereka masuk kedalam kembali.

“Bagaimana Jaka?” ulang gurunya bertanya.

“Itu semua kebetulan..”

“Jangan kau jawab dengan kalimat itu Jaka.“ Kata Ki Gunadarma, raut mukanya serius, agaknya ia benar-benar ingin tahu.

“Saya memang akan menjelaskannya.. seperti yang saya bilang, semuanya kebetulan. Kebetulan saya menguasai pertabiban dan saya juga sangat akrab dengan racun. Dengan sendirinya, saya terhindar dari racun itu.”

“Tapi racun itu tidak mungkin bisa dihindari.” Seru murid kedua Ki Lukita—orang yang tadi menyerang Jaka.

“Tidak ada kata tidak mungkin jika Tuhan menghendaki.” Jawab Jaka kalem. “Saya percaya pada Tuhan, karena Dia pasti akan membela yang benar dan lemah.”

“Tapi..”

“Tidak ada penjelasan untuk itu.” Potong Jaka cepat. “Saya hanya akan menceritakan kenapa saya sampai terkena racun ini.”

Pemuda ini menghela nafas panjang. “…pada saat saya melakukan perjalanan yang kesekian kalinya, saya berjumpa dengan dua orang, kupikir mereka adalah suami-istri, usianya awal empat puluhan. Rasanya sulit melupakan wajah mereka, sang pria, begitu gagah dan berwibawa, wajahnya tampan matanya begitu tajam. Saya rasa siapapun yang berjumpa dengannya akan menundukkan kepala. Sedangkan istrinya, menurut saya benar-benar wanita yang… hebat, keibuan, wajahnya lembut, tatapan matanya itu tidak akan bisa saya lupakan. Saat berpapasan, beliau menegur saya. Kami terlibat percakapan yang saya rasa tidak perlu diutarakan. Setelah itu yang lelaki menyela, dia mengatakan bahwa apakah saya pantas hidup.”

“Hei, aneh benar! Baru bertemu kok bilang begitu?” celetuk Andini merasa gemas.

“Entahlah, setelah itu sang lelaki menyerangku. Jurus tinju, tapak, tendangan, sapuan serta segala macam gaya yang tak pernah kukenal tercurah seluruhnya. Tapi aku beruntung memiliki olah langkah. Kami sama-sama frustasi.”

“Sama-sama?” tanya gadis itu lagi.

“Ya, itulah kali pertama olah langkahku diuji begitu berat, biasanya aku bisa menghindari serangan dengan jarak lebih dari satu jengkal. Tapi serangan itu hanya bisa kuelakkan satu ujung jari saja. Gerakan lelaki itu sangat cepat dan, kuyakin hanya satu dua orang yang sanggup bertahan jika melawannya. Maaf, aku bukan bermaksud menyombongkan diri, itu hanya sebagai tolok ukur saja.”

“Kami mengerti, teruskan.” Pinta Ki Lukita.

“Dan lelaki itu pun agaknya putus asa, karena seluruh jurusnya tak bisa mengenai saya, dia pun merasa terhina, karena saya sama sekali tidak menyerang, padahal kami sudah bergebrak lima ratus jurus lebih. Saya sama sekali tidak bermaksud menghinanya, tetapi hanya itulah yang bisa saya lakukan. Kalau saya menyerang justru sama saja membuka peluang untuk bunuh diri.”

“Bunuh diri?” tanya Ki Benggala.

“Pada saat saya menciptakan olah langkah, yang terpikir oleh saya adalah, menghindari serangan sehebat apapun tanpa membalas. Tentu saja itulah kelemahan olah langkah itu, tidak mungkin saya menyerang lelaki itu hanya untuk bunuh diri. Sebab celah yang terlihat akan sangat jelas.”

“Tapi itu hanya terlihat oleh mereka yang berpengetahuan tinggi, begitu tentunya?” ujar Ayunda.

“Mungkin, aku tidak tahu hal itu. Yang jelas kami bertarung, tepatnya saya menghindarinya sampai lima ratus jurus. Di awal jurus lima ratus lima, lelaki itu berteriak keras sekali, begitu lengkingannya hilang, wanita yang sejak tadi melihat kami saling serang, turut mengeroyok. Hh…” Jaka menghela nafas panjang.

“Ada apa?” tanya sang guru.

“Saya tidak menyayangkan kekalahan saya..”

“Kalah?” seru gurunya.

“Ya, saya sama sekali tidak menyayangkan kekalahan saya, yang saya sayangkan adalah, mengapa mereka menyerang saya, padahal kami sudah bercakap-cakap—walau hanya sebentar, tapi saya sangat menyukai mereka. Sayang sekali…”

“Cara bagaimana kau kalah?”

“Tentu saja karena Racun Getah Biru itu.” Jawab pemuda ini sambil menurunkan lengan bajunya.

“Kau tahu bagaimana bentuk pedang yang menyerangmu?” tanya kakak Kinanti.

Kurasa dia mengujiku, pikir Jaka. “Kalau di bayangkan, rasanya agak mustahil. Saya pikir mereka tidak membawa senjata apa-apa, tetapi mendadak saja ada senjata di tangan mereka. Panjang pendang itu..”

“Tunggu dulu!” potong Ki Banaran. “Kau bilang senjata ditangan mereka? Apa ada dua buah pedang?”

Jaka mengangguk. “Benar, pedang itu berwarna biru dan merah. Keduanya tidak lazim disebut pedang, panjangnya sama seperti tombak, tapi bentuknya tipis. Di sisi kanan kiri pedang itu memancar hawa racun sangat kuat. Sepanjang pertengahan badan pedang terlihat garis putih mengkilat terang.”

“Ah.. sepasang Pedang Baja sudah ditemukan, mereka sudah muncul!” desis Ki Banaran dengan wajah miris.

“Mudah-mudahan tidak sejahat yang pernah dikabarkan orang.” Gumam Ki Lukita.

Jaka melegak sesaat. “Saya yakin mereka bukan orang jahat.”

“Bagaimana bisa kau mengatakan kalau orang yang menyerangmu bukan orang jahat, jelas-jelas dia berniat membunuhmu!” tandas Diah.

“Pendapatmu benar, tapi kalau memang ingin membunuhku kan tak perlu bertarung sampai ratusan jurus, cukup dia keluarkan pendang itu.. matilah aku. Tapi entah kenapa dia tidak melakukannya.”

“Kau benar,” sahut Diah setelah terdiam beberapa saat.

“Yang jelas begitu pedang mereka dikeluarkan, saya hanya bisa bertahan dua puluh jurus, setelah itu masing-masing pedang menggores lengan. Saya pikir, disitulah akhir hidup saya, tubuh ini tak bisa bergerak. Kepala saya serasa meleleh, tak bisa berpikir apapun, tapi kesadaran saya masih utuh, telinga saya masih bisa mendengar. Mereka membicarakan saya,

‘ “Diatas langit masih ada langit, jika kau adalah pohon maka kami adalah gunung, tapi masih ada awan diatas kami dan mendung diatas kepalamu, sebelum engkau bisa menatap langit. Jika beruntung engkau akan hidup, jika tidak maka jiwamu lenyap.. semuanya sirna, tiada harapan, tiada kegalauan lagi, karena semua sudah menjadi sebuah ketakutan. Lama, ketakutan yang sangat lama… sebelum muncul…” ‘ kalimat selanjutnya tak bisa saya dengarkan karena kepala saya mendadak pusing. Tapi ucapannya yang terakhir menyentak kesadaran saya. ‘ “Kau adalah kau, tidak lebih dari seorang manusia. Jika kau bisa lolos dari semua ini, maka kau pantas hidup. Harapan ada padamu, semuanya ada padamu, semuanya kuserakan padamu..” ‘

“Lelaki itu mengulang-ulang ucapannya. Kepala saya terasa berat, saat sang wanita mengusap kepala saya, saya tak ingat apapun.”

“Setelah itu apa yang terjadi?” tanya Ki Benggala.

“Saya sadar dan andika sekalian percaya apa yang kurasakan? Saya merasa seolah tubuh ini tanpa tangan dan kaki, untuk bernafas sepelan apapun membuat dada sakit. Beruntung saya menguasai pernafasan Melawat Hawa Langit, maka racun itu tak sampai menyebar keseluruh tubuh.”

“Eh, bukannya pernafasan Sembilan Putaran Nadi?” tanya Ki Gunadarma menimpali.

“Itu kan karangan saya paman.” Sahut Jaka sambil nyengir.

“Lalu yang tadi?”

“Karangan juga,”

“Apa bedanya.”

“Tidak ada, cuma nama saja yang membedakan. Hakikatnya sama seperti yang saya jelaskan waktu di kuil ireng.”

“Itulah kali pertama saya bertarung serius, kali pertama merasakan racun terganas dan kali pertama saya terkapar tiga hari tiga malam tanpa ada siapapun yang bisa kumintai pertolongan. Beruntung tempat dimana saya terkapar adalah padang rumput, nampaknya mereka meletakkan saya tepat dibawah pohon yang rindang.”

“Sungguh ceroboh.” Kata Ki Lukita.

“Sepintas memang begitu guru, andai kita tidur dibawah pohon besar dalam keadaan biasa—sehat, mungkin akan keracunan, setidaknya merasakan pusing. Tapi saat itu saya sedang keracunan parah, jadi tindakan mereka tepat sekali. Jalannya racun bisa dihambat walau sedikit. Dan kelihatannya selain pernafasaan saya, bantuan pohon rindang itu juga faktor penentu. Oh.. saya hampir terlupa, pohon rindang itu adalah Pohon Dewandaru Hitam, guru pasti tahu kalau racun yang ada di pohon itu bisa membunuh makhluk hidup yang ada di sekitarnya.”

Sang guru mengangguk paham. “Oh,jadi begitu.”

Karena tidak ada penjelasan ilmiah pada masa itu, penjelasan Jaka sudah masuk akal. Mereka tahu atau yang dimaksudkan Jaka, yakni; kalau pada malam hari pohon besar akan menyerap Oksigen hampir 70%, jadi jika ada manusia yang tidur dibawahnya, udara dalam paru-parunya bisa tersedot habis, atau dia bakal keracunan, karena unsur karbondioksida yang dilepaskan tumbuhan akan terserap kedalam darah, itulah yang bisa membuat tubuh keracunan, sebab senyawa karbon bisa mengikat nitrogen dalam darah, jika terlalu banyak nitrogen di darah, hal pertama yang terjadi adalah keracunan dengan tubuh bengkak. Jadi, karena dalam saraf, terdapat oksigen yang berlebih, dan tekanan karbondioksida, maka selain keracunan, saraf juga akan pecah… mati.

Tapi keadaan Jaka berlainan, racun yang didalam tubuh sangat dahsyat, dalam keadaan lemah seperti itu, ia mendapat racun halus dari hawa pohon Dewandaru yang bergerak lambat, tapi dorongannya tak terhentikan. Karena ada racun lain yang bergerak mendesak, peredaaran Racun Getah Biru terhambat.

Memang, jika ingin dibuat perbandingan, racun pohon Dewandaru Hitam dengan Getah Biru, ibarat bumi dengan langit. Racun Getah Biru jauh lebih dahsyat dari racun pohon itu. Tapi yang membuat racun jadi seimbang justru karena kondisi Jaka yang sangat lemah, peredaran darahnyapun melambat, sehingga Jaka bisa memanfaatkan kedua racun itu dengan olah nafasnya, untuk menyelamatkan jiwa.

“Lalu bagaimana, kau katakan tadi kau beruntung ada di sebuah padang rumput.”

“Benar, pagi hari keempat, ada seseorang yang menggembala sapinya. Dari pertolongan beliaulah saya dapat hidup, beliau memberikan susu sapinya sebanyak yang saya butuhkan..”

“Beliau?” tanya sang guru.

“Ya, kakek penggembala sapi. Dan baru kali ini saya sadari kalau dia bernama hampir sama dengan guru, hanya nama belakang saja yang beda. Namanya Sasro Ludira.”

“Di rumah beliau pula saya bisa beristirahat, memulihkan tenaga dan menghilangkan racun.”

“Menghilangkan racun? Tidak mungkin.. bukankah tadi darahmu bisa membunuh ayam?” tanya kakang seperguruan Jaka.

“Memang benar, saya bisa menekan seluruh racun dan di kumpulkan pada tempat dimana asal racun itu—dilengan saya, karenanya terlihatlah guratan warna biru dan merah di lengan ini. Seluruh tubuh saya bersih dari racun, tapi tidak dengan bagian lengan kiri saya. Racun itu tidak akan hilang sampai ada sebuah benda yang kekuatan racunnya juga sama, mengenai saya.”

“Kalau begitu keselamatanmu senantiasa terancam?” tanya Diah, nadanya datar, tapi siapapun tahu kalau gadis itu mengkhawatirkan Jaka.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s