45 – Kisah Perguruan Macan Lingga 2 (Perjumpaan Yang Mengesankan)

Ki Benggala terdiam, dia maklum dengan apa yang dikatakan Jaka, ‘tidak sungkan’ tadi, sungguh ucapan yang memukul perasaan. Bukankah artinya, saat melawan dirinya Jaka tidak serius?

“Hanya dengan olah langkah saja?” gumamnya dengan perasaan miris.

“Tidak.”

“Lalu…”

“Seperti yang saya katakan tadi, ingat saja pertandingan kita paman..”

“Tentu saja sudah, dan akan tetap kuingat.”

“Dengan itulah saya melawan mereka.”

Mereka diam, Jaka tadi mengatakan dirinya tidak menggunakan ilmu mustika. Lalu dengan apa dia melawannya? Cuma olah langkah? Mustahil! Apalagi lawannya lebih jago dari Ki Benggala, tujuh orang lagi!

“Aneh… apa sih yang dimaksudkan?” gumam Ki Gunadarma tak paham.

“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi.” Seru Jaka.

Sementara Jaka berbicara, Ki Glagah berulang kali mengerutkan kening dan menghela nafas.

“Ada apa kakang?” Tanya Ki Lukita.

“Ah, bukan apa-apa. Tapi, entahlah… mudah-mudahan saja dugaanku salah.” Gumamnya tak jelas.

“Maksudmu?” Ki Lukita minta penjelasan.

“Coba kau fikirkan ucapan Jaka kembali, jika kau tidak menangkap maksudnya seperti yang kupikirkan tadi, mudah-mudahan hal itu yang ingin dia sampaikan. Tapi jika bukan, aku berharap kita tidak salah melangkah.”

Ki Lukita makin tak paham dengan ucapan kakangnya. Toh, dia tetap memikirkan teka-teki ucapan Jaka tadi.

“Cuma yang membuatku merasa aneh, bagaimana bisa mereka punya ilmu lebih hebat dari ilmu mustika?” terdengar Ki Benggala kembali bertanya, agaknya dia sadar kalau Jaka tak ingin didesak. Jadi dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

“Saya tidak tahu paman, tapi menurut hemat saya, ilmu di dunia ini banyak ragamnya, mungkin saja ada yang tidak kita ketahui, dan tidak pernah muncul ke permukaan. Sekali muncul, barulah kita sadar kalau ada langit diatas langit.”

“Kau benar. Tapi, kalau kau memandangnya begitu hebat, bagaimana kau bisa seberuntung itu?” gumam Ki Benggala, ia tidak bertanya pada Jaka, tapi ucapannya kembali menyadarkan banyak orang.

“Ya, benar! Pasti ada apa-apanya!” sahut Pertiwi menuntut penjelasan Jaka.

“Sudah kubilang, seperti penjelasan saya tadi. Kuhadapi mereka dengan olah langkah dan, saya memang benar-benar beruntung. Di dunia ini kan banyak kejadian kebetulan.” Jawab Jaka sambil tersenyum. Pemuda ini kembali bersikap begitu karena memang tidak ingin menceritakannya. Sebab ada hal-hal yang memang ia pandang tak perlu dikemukakan.

“Jangan ucapakan kata-kata itu Jaka,” sang guru menyahut tak puas. Sebab dari tadi ia tak bisa mengungkap teka-teki ucapan Jaka. “keberuntungan itu datang karena pertolongan Tuhan, kadang kita tidak melihatnya sebagai pertolongan, tapi kejadian yang kebetulan, kau harus membedakan itu.”

Jaka mengangguk hikmat, “Nasehat guru akan saya ingat terus.”

“Jadi?” tanya sang guru menuntut jawaban pertanyaan Pertiwi.

Jaka menggaruk kepalanya. “Seperti yang saya ceritakan tadi, dengan olah langkah, begitulah…”

“Cuma itu?” sang guru menegaskan.

“Ya, dan dengan kondisi seperti pertandingan saya dengan Paman Benggala.”

“Masa cuma begitu?”

“Habis bagaimana lagi…” jawab pemuda ini tak yakin. Ia memang enggan menceritakan semuanya, sebab menurutnya kejadian itu secrecy, privasi dan tentu saja biar tidak dianggap sombong. Syukur kalau mereka tak bisa menebak ceritanya tadi, kalau bisa, ya.. mau bilang apa lagi?

Tentu saja para tetua menyadari akan hal itu, buru-buru mereka menyahuti. “Baiklah—anggap saja kau memang beruntung, lalu bagaimana kelanjutannya?” Tanya Ki Gunadarma.

Pertanyaan itu membuat hadirin—selain delapan tetua, kecewa, bagaimanapun mereka ingin mendengar cerita pertandingan itu. Tentunya, jika para tetua sudah memutuskan untuk tidak mendesak, mana berani mereka mendesak Jaka?

“Setelah pertandingan itu, ketujuh kakek itu mengundurkan diri dari gunung. Saya melihat dengan jelas, mereka rasa marah pada adik seperguruannya, lebih-lebih pada saya. Saya kira, setiap saat mereka pasti akan berusaha melenyapkan saya. Sebagai pemuda yang tak punya modal apa-apa, saya merasa bangga disebut sebagai salah satu batu sandungan orang seperti mereka.

Mendengar itu, gurunya menggeleng penuh sesal. Anak ini tidak punya rasa takut, sungguh ceroboh! Pikirnya.

“Sebelum mereka turun gunung, satu diantaranya sempat berkata, ‘tunggu saja satu tahun dimuka…’ saya yakin mereka pasti hendak datang kegunung itu lagi. Sudah jelas maksud kedatangannya, mereka ingin membuat masalah lagi dan yang jadi persoalan adalah, masalah apa yang akan mereka timbulkan? Saya yakin, pasti lebih besar dari pada keributan saat itu. Mau tak mau, ngeri juga membayangkannya. Sebelum saya tanyakan pada yang bersangkutan, kakek itu berkata pada saya,

‘ “Nak, kamu ini orang berkemauan keras dan keberuntunganmu banyak. Kelak jika engkau menjumpai tujuh kakang seperguruanku, bersikaplah seperti biasa.” ‘

“Ucapan beliau memang tidak ada salahnya.” Gumam Ki Benggala. Jaka melongo sesaat, lalu ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ceritanya memang banyak disela dengan ucapan-ucapan tetua. Tanpa berkomentar, Jaka meneruskan ceritanya.

‘ “Maksud kakek bagaimana?” ‘

‘ “Kau tahu kenapa mereka berkata agar kita menunggu satu tahun dimuka?” ‘

“Saya menggeleng, terus terang saja saya terkejut, kata, kita yang diucapakan kakek itu mengartikan bahwa saya telah terlibat dalam persoalan yang sangat besar. Namun sejauh itu saya tidak menemukan tanda-tanda persoalan itu. Karenanya, saya bertanya lagi,

‘ “Kek, sebelum kakek menjelaskan maksud mereka mendatangi kita satu tahun dimuka, lebih baik kakek jelaskan pada saya, persoalan yang kakek hadapi. Bagaimanapun juga saya sudah terlibat, tidak ada salahnya saya mengetahui masalah ini. Siapa tahu bisa membantu meringkankan beban.” ‘

‘ “Aku percaya padamu nak, tapi aku terikat sumpah. Aku tak dapat menerangkan padamu. Tapi, mudah-mudahan saja satu tahun mendatang kau akan mengetahuinya. Aku memang butuh bantuan. Banyak bantuan …” ‘

“Setelah berkata begitu, tanpa banyak mengucap kata, kakek misterius itu menggandeng tangan saya supaya masuk kedalam benteng. Jika pada cerita dongeng, ada manusia yang pernah melihat bagaimana kayangan tempat tinggal para dewa-dewa, mungkin seperti itulah perasaan saya. Dari luar benteng itu tersamar bagaikan rimbunan pohon yang tumbuh puluhan tahun, tentu saja semua itu karena adanya barisan yang ampuh.”

“Ehm.. bagaimana benteng itu?” tanya Ki Alit Sangkir tidak memberi kesempatan pada Jaka untuk bicara bertele-tele.

“Hebat Ki, saya tak dapat melukiskannya.”

“Bagaimana hebatnya?” tanya murid pertama Ki Lukita.

Pemuda ini menerawang sejenak, matanya kelihatan terpejam. “Jika andika pernah melihat air mengalir deras, dan air diam tak bergelombang, begitulah keindahan yang terdapat di benteng itu. Sampai saat ini saya bahkan belum pernah terpikir bagaimana orang yang membangun benteng itu dapat membuat ide luar biasa seperti itu…”

Penjelasan Jaka bagi mereka yang masih dangkal pengalaman kesusastraan dan filsafat—tak hanya muda-mudi bahkan yang tua—ucapan pemuda ini akan mendatangkan cemoohan. Siapa sih orangnya yang tidak pernah melihat aliran air? Tapi bagi mereka yang paham, mencoba menerawang dan membayangkan keindahannya… mereka mencoba mengetahui bagaimana air saat mengalir dan bagaimana dengan sifat air itu sendiri.

Kadang kita tidak sadar, benda yang kadang remeh, justru merupakan alat yang paling vital. Di saat kita membutuhkan barulah terasa bahwa air itu sangat berguna. Memang begitulah kebanyak sifat manusia, gampang lupa oleh nikmat yang diberikan oleh-Nya, bahkan kadang kita lupa kalau kita bernafas. Terasakah oleh kita saat melakukan sesuatu yang tak halal, dengan nafas terhembus? Seharusnya dengan keadaan itu kita bisa sadar bahwa Dia yang memberikan kita nafas—memberikannya tidak untuk sekedar tarik dan hembus nafas—yakni sebagai cerminan untuk apa kita hidup? Ini patut menjadi renungan.

“Kalau memang seperti itu keadaannya, untuk apa dibilang sebagai suatu yang luar biasa?!” ujar seseorang.

Jaka tidak menanggapi, pikirannya sedang melayang mengenai kejadian di benteng Gunung itu.

“Kau bisa berkata begitu karena kau tidak tahu Pranayasa!” seru Ki Lukita pada cucu lelakinya.

“Apa yang perlu dipahami dari itu?” ujar Pranayasa dengan suara mendengus pelan, rasanya ia tak terima kalau sang kakek membela orang lain.

Ki Lukita menggeleng kepalanya, “Seharusnya kau berpikir, apakah kau bisa hidup tanpa air?” ucapan kakeknya kontan saja membuat pemuda yang memiliki pembawaan angkuh itu terhenyak. “Kalau kau memang sudah bisa hidup tanpa air, bolehlah kau berkata begitu.”

Pemuda ini terlihat menundukkan kepalanya. Tentu saja ia tahu apa yang dimaksudkan air bukan terbatas pada air untuk keperluan sehari-hari, tapi apapun yang mengandung air.

“Jadi,” Ki Lukita meneruskan ucapannya. “Keindahan air itu tiada taranya, jika kalian melihat air disungai, maka kalian akan mendapatkan pengertian yang sangat luas,”

“Benar!” sahut Ki Glagah. “Kadang kala air disungai bergerak deras, kadangkala begitu tenangnya. Jika kalian waspada, hanya melihat air saja, ilmu silat kalian bisa meningkat satu bagian bahkan lebih, karena itu dalam dunia persilatan, kalian tentu pernah mendengar ada perguruan-perguruan yang beraliran Air, Api, Tanah, Angin, Logam, Cahaya, Udara, dan banyak lagi, kesemuanya itu berpangkal pada alam semesta.”

“Kenapa bisa begitu kek? Bukankah banyak juga yang mengambil inti silatnya dari binatang? Lalu apa bedanya?” tanya Pertiwi.

“Ha-ha… kau ini malas berpikir. Kita ambil contoh, air. Kau tahu, air bergerak tanpa ada putusnya, begitu ada celah, terus masuk. Jika dalil itu kalian terapkan dalam ilmu silat, maka dari jurus ke jurus kalian akan mendapatkan kembangan yang kian sempurna. Dan, kau tanyakan apa bedanya dengan aliran yang mengambil unsur binatang? Jawabannya sangat mudah. Karena binatang masih membutuhkan air, udara, dan unsur alam lainnya. Karena itu sehebat apapun, sesempurna apapun perguruan silat beraliran binatang, masih kalah setingkat dengan perguruan dengan perguruan yang memiliki aliran alam semesta.”

“Perkumpulan kita ini masuk kemana kek?” kembali gadis ini menanya.

“Aih, dasar malas. Coba kau pikirkan sendiri. Memang kalian—anak-anak keturunan Garis Tujuh Laut—di beri pelajaran ilmu silat dasar dari perguruan lain, bukan karena kita tidak memiliki ilmu dasar, atau pokok, tetapi akan datang pada masanya, kalian bisa membandingkan satu sama lain, jika mungkin malah menggabungkannya. Sehingga, kalian yang memiliki dasar ilmu lain, bisa memiliki kemajuan dan kelihayan berbeda. Tapi ingat, perbedaan itu bukan karena pilih kasih. Tetapi tergantung dengan kemajuan kalian sendiri. Lagi pula, perkumpulan Garis Tujuh dinamakan Langit, Laut, Api, Lintasan dan Bujur juga ada maksudnya. Dan masing-masing dari kalian akan menemukan itu cepat atau lambat. Semuanya tergantung pemahaman kalian pada semesta.”

Mereka mengangguk paham, tentu saja anggukan orang pekumpulan ini, lain dengan anggukan orang awam. Mereka rata-rata punya kecerdasan lebih, dari bayangan orang. Buktinya delapan dari sepuluh orang perkumpulan, memiliki salah satu ilmu mustika. Bisa dibayangkan kehebatan mereka, sulit diukur. Padahal untuk mendapatkan ilmu mustika, perbandingan yang disebutkan para tetua persilatan adalah satu banding lima ribu.

Bisa dikatakan, semua orang yang berkumpul di Perkumpulan Garis itu adalah orang-orang yang terpilih dari ribuan orang. Benar-benar prestasi hebat! Padahal dalam dunia persilatan, tersiar kabar kalau ilmu mustika sudah tidak bertaring lagi. Karena jarangnya pewaris yang bisa menunjukkan kehebatan ilmu mustika.

Andai kata mereka melihat bahwa puluhan orang dalam perkumpulan ini menguasai beragam ilmu mustika, tentunya pandangan kaum persilatan akan berubah. Hanya saja entah kapan pandangan mereka itu akan berubah, karena perkumpulan ini memang berjalan serupa dengan perkumpulan yang didirikan Pisau Empat Maut… rahasia!

“Lalu bagaimana setelah kau memasuki benteng?” kembali Ki Alit Sangkir bertanya pada Jaka.

Jaka mengangkat bahunya, “Terus terang saja, pada bagian inilah saya merasa paling menyesal.”

“Eh, kenapa pula?”

“Saya lebih banyak menikmati keindahan gedung dan taman didalamnya. Padahal banyak kata-kata kakek baik hati itu yang menyiratkan sesuatu yang penting. Saya menyesal, seandainya saja saya memperhatikan lebih serius. Saya yakin bahwa apa yang menjadi ganjalan kakek itu, paling tidak saya bisa memberikan pemikiran sebagai bahan pertimbangan untuk menyelesaikan masalah yang beliau hadapi.

“Kakek itu mengatakan pada saya, bahwa saya boleh tinggal disitu berapa lama saya mau. Terang saja saya senang. Tapi karena banyak permasalahan yang saya pikirkan, saya putuskan esok pagi, saya harus pergi. Puas berbincang dan menikmati keindahan gedung, saya diperbolehkan melihat-lihat kamar dan ruangan-ruangan rahasia yang terdapat didalam gedung itu. Saya tidak paham jalan pikiran kakek itu, sebab beliau langsung memberikan peta gedungnya yang juga ada jalan-jalan rahasianya beserta jebakannya. Sungguh tak ada habisnya saya mengagumi gedung itu. Sehari semalam saya tidak tidur. Dalam hati, saya mensyukuri keputusan saya untuk permisi esok harinya. Karena semua penghuninya menaruh hormat berlebihan pada saya, begitu berjumpa mereka membungkuk memberi hormat dan menyapa ramah. Saya tidak tahan dengan sikap seperti itu, walaupun mereka berbuat demikian karena rasa terima kasih. Paginya ketika saya hendak berpamitan, kakek itu menarik saya agar mengikuti kedalam kamar beliau. Disana beliau banyak bercerita,

‘ “Jaka, sedikit banyak engkau tahu perselisihan yang dialami kami. Semua hanya karena nama, kedudukan, harta dan mungkin saja wanita. Karena itu aku harap kau bisa menjaga sikapmu kelak.”‘

“Wasiat yang beliau katakan pada saya tak jelas tujuannya kemana. Tapi, tentu saja saya sangat menghormati pribadi beliau yang bersungguh hati mau menasihati saya yang baru dikenalnya satu hari. Banyak nasihat yang beliau berikan pada saya, sampai akhirnya beliau mengatakan tujuannya samar-samar,

‘ “Pada masa lalu Macan Lingga adalah salah satu perguruan utama yang sangat ditakuti orang. Kau tentu saja belum lahir saat itu, singkatnya karena kewibawaan yang begitu besar dan juga kekuatannya yang tidak tanggung-tanggung, Macan Lingga dapat berdiri sampai dua ratus dua puluh satu tahun. Hingga akhirnya pada masa kepemimpinan orang diatasku—yakni guruku, perobahan perguruan terlihat jelas.

‘ “Sebuah kekuatan yang tak jelas tujuan dan bentuk perannya, menyusup dalam perguruan. Penyusup itu mulai ikut mempengaruhi pemikiran-pemikiran para tetua. Hasilnya,” ’ kakek itu menggeleng sedih. ‘ “tak bisa kupercaya, dalam waktu dua tahun, partai yang begitu tenar, begitu megahnya, jatuh dalam gengaman kekuatan misterius. Pembunuhan besar-besaran mulai dilakukan anggota partai. Orang yang sadar dengan keganjilan itu adalah adik seperguruan guruku, aku sendiri dan beberapa orang anggota lainnya.

‘ “Tapi apa daya kami? Membendung hasrat iblis yang sudah bersimaharaja di hati mereka? Akhirnya saat itu juga—tepatnya enam puluh tiga tahun lalu—puncak dari segala kebobrokkan moral terlihat. Keinginan ketua perguruan, dan orang-orang dibelakangnya—kukira merekalah si penyusup itu—untuk menguasai perguruan lain, diutarakan terang-terangan. Mereka ingin menguasai semuanya! Benar-benar kacau…

‘ “Memang dengan akal yang begitu licik dan siasat yang begitu lihay, keinginan mereka hampir terwujud. Hingga sebuah ‘sesuatu’—yang hingga saat ini tak diketahui hal apakah itu—menghentikan ambisi mereka. Tetapi itu cuma menghentikan saja, belum menghancurkannya, mereka sewaktu-waktu dapat bangkit kembali. Dan orang-orang yang terlibat dengan ambisi itu juga menghilang entah kemana.” ‘

“Kakek itu terlihat murung, jika saya bayangkan kejadiannya, kiranya tak berlebihan situasinya, andai suatu saat enam belas perguruan utama dikuasai dari dalam—tapi untuk yang satu ini kekuatannya jauh lebih besar dari perkumpulan apapun, begitu kesimpulan saya. Terdengar beliau melanjutkan ceritanya lagi,

‘ “Hingga akhirnya kami dapat bertemu dengan ketua, ternyata pikiran beliau sudah berubah. Ambisi yang meledak-ledak, sudah lenyap. Tak ada lagi keangkuhan—sejak semula sang ketua adalah orang yang sangat angkuh. Beliau mengajak kami untuk membentuk satu kekuatan yang kelak dapat menangani kekuatan yang pernah menyusupi perguruan kami—mereka masih ‘tertidur’. Selama itu pula kami terus waspada. Tapi sejauh ini belum ada gerakan mencurigakan dari mereka, karena ‘sesuatu’ yang membela kami dulu juga belum bergerak. Tapi, jika kau lihat kondisi saat ini, apa yang sudah kami pupuk saat itu, tak bisa lagi dapat dikatakan sebuah kekuatan untuk membendung laju orang-orang misterius. Kami sudah lemah! Aih, semua ini bisa dikatakan akbat ulah saudara-saudara seperguruanku.”’

“Saya memberanikan diri menyela dan mengatakan pada beliau, ‘Apa tidak mungkin saudara kakek hanya alat seseorang atau sekelompok orang?”’

“Beliau kelihatannya sangat prihatin. ‘Aku juga berpikir demikian. Sejak semula, apa yang mereka kerjakan selalu mendapat pembenaran yang tak masuk akal. Kupikir mereka mendapat sandaran kekuatan besar. Ah… entahlah, yang jelas, satu tahun kedepan, kau akan tahu sendiri seberapa kacau dia bisa berbuat. Tapi kita masih memiliki satu harapan. Untunglah, dulu… masih ada yang bisa diselamatkan,” ‘

“Sampai disitu saya tak dapat mencerna maksud kakek itu. Apa yang bisa diselamatkan? Saya bahkan tak dapat gambarannya. Dengan tindak cekatan, kakek itu masuk kedalam ruangan kecil yang disekat dalam kamarnya itu. Tapi begitu keluar beliau tidak membawa apa-apa.

‘ “Sudah berapa lama kau berkecimpung didunia persilatan?” ‘

“Saya menjawab tidak tahu, hakikatnya selama dua tahun itu saya sama sekali tidak berhubungan dengan dunia persilatan, paling-paling juga cekcok sana-sini. Karena itu saya menjawab,

‘ “Kalau kakek bertanya berapa lama saya merantau, saya bisa menjawabnya, tapi kalau bertanya begitu, saya tak bisa menjawabnya, sebab selama perantauan, saya tidak mengadakan kontak dengan siapapun dan tak terlibat dalam pergolakan apapun di dunia persilatan.” ‘

“Beliau mengangguk paham. ‘Setidaknya kau mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan para kaum pesilat bukan?” ‘

‘ “Kalau itu sih saya tahu sedikit-sedikit.” ‘

‘ “Bagus, setidaknya kau benar-benar dapat membaurkan diri jika itu diperlukan nanti.” ‘

‘ “Tentu saja.” ‘ jawab saya memberi harapan. Beliau bercerita macam-macam tentang dunia persilatan, dan terus terang, saya senang sekali. Sebab kisah para pendekar yang terlibat langsung dengan petualangnya, sangat minim bagi saya. Sampai akhirnya pembicaraan kami berujung pada permasalahan yang dihadapi kakek itu.

‘ “Dalam perantauan, kau tidak membekali senjata?” ‘

‘ “Tidak, saya tak suka menakut-nakuti orang, saya juga tidak ingin menyakiti orang.” ‘

‘ “Paling tidak kau memiliki alat untuk membela diri.” ‘

“Saya pikir kalau pembicaraan berkisar tentang senjata, tentu kakek itu hendak memberikan suatu senjata pada saya, karena itu agar tidak kecewa, saya mengatakan padanya,

‘ “Meski tidak suka senjata, saya paling suka senjata tumpul. Seperti tongkat misalnya…atau,”‘

“Saya dikejutkan dengan tawa ringanya. Beliau terbahak sesaat. ‘ Ya, Tuhan memang Maha Adil! Engkau memang berjodoh denganku.” ‘ Kakek itu tertawa girang. Saya benar-benar tidak paham, sampai akhirnya beliau menepuk pinggangnya, lalu ikat pinggang itu dilepasnya. ‘ “Karena itulah aku ingin menghadiahkan tongkat ini padamu.” ‘ Tentu saja saya tercengang, karena mulanya saya pikir itu adalah ikat pinggang yang bagus. Begitu terlepas, ‘ikat pinggang’ itu tiba-tiba menegang dan lurus. Mulanya saya mengira beliau mengalirkan tenaga dalam ke benda itu, tapi begitu benda itu saya sentuh, nyatanya tidak dialiri tenaga sama sekali.

‘ “Kau tak usah heran, itu adalah Bambu Lentur. Bambu itu bisa keras bisa lemas tergantung engkau sendiri. Jika kau ingin menyandangnya seperti kebanyakan tongkat lain, kau bisa menyelipkan begitu saja, karena sifat bambu ini, jika ia ditegakkan—tidak dilengkungkan, maka kerasnya seperti bambu pada umumnya, tapi jika kau lengkungkan, maka bisa berubah lentur melebihi kelenturan rotan.” ‘

“Tentu saja, saya senang sekali mendapat hadiah seperti itu. Seperti yang sudah kita lihat, bambu lentur itu mirip dengan bambu kuning dan warnanya juga cocok dengan saya. Saat itu, tiba-tiba timbul dalam pikiran saya ingin mendapatkan bambu yang serupa, hanya saja berukuran lebih kecil. Karenanya saya segera meminta kakek itu, mulanya saya menduga kakek itu mungkin menolak, nyatanya tidak.

‘ “Oh, boleh. Berapa banyak yang kau perlukan?” ‘ beliau malah menantang saya agar mengambil seberapa yang saya suka.

‘ “Ah, hanya sedikit saja ki.. saya ingin membuat seruling, dan beberapa puluh jarum dari bambu.” ‘ Tanpa menunggu lebih lama, saya segera dibawa menuju taman yang sebelumnya pernah saya singgahi.

‘ “Kau ambil seberapa kau suka,”‘ lalu beliau menyerahkan pisau kecil pada saya untuk memotong bambu itu. Singkat cerita, saya sudah selesai dengan keperluan saya itu. Lalu saya pamitan… tapi tak saya sangka saat hendak berpamitan, seluruh penghuni benteng—paling tidak ada lebih dari seratus orang—keluar mengantar saya.

‘ “Aku sangat berharap kau datang kemari lagi. Saat itu kita akan membicarakan berbagai persoalan lebih jelas lagi.”‘

‘ “Akan saya usahakan Ki,” ‘

‘ “Kalau bisa sebelum satu tahun yang dijanjikan saudara-saudara seperguruanku itu. Lebih baik lagi jika kau datang sebelum menjelang kedatangan mereka.” ‘

‘ “Baik, saya pasti datang.” ‘ ucapan saya yang pasti membuat sang kakek lega.

‘ “Oh, aku hampir terlupa sesuatu,” ‘

‘ “Apa itu?” ‘

‘ “Tolong jangan kau sebar luaskan keberadaan kami disini, paling tidak bagi kebanyakan orang.” ‘

‘ “Amanat kakek pasti saya jaga…” ‘ Lalu saya pergi,

“Begitulah pengalaman saya mendapatkan bambu lentur ini.” Kata Jaka sambil tersenyum, ia juga menepuk pinggangnya.

Sebenarnya masih banyak cerita yang enggan ia utarakan, apa yang diutarakan tadi , menurutnya hanya hal remeh.

Ada sebuah kejadian yang tak bakal Jaka ceritakan pada orang lain, kejadian yang membuat hatinya terasa hangat saat mengingatnya. Saat ia hendak pergi, muncul seorang nona berparas elok luar biasa, tindak tanduknya pun halus. Memang, sebelumnya Jaka sudah bertemu muka dengan nona itu, begitu pula saat mengobatinya. Tapi, waktu itu dia tak memperhatikan, lagi pula dia juga lupa bertanya namanya pada sang kakek. Meskipun mereka pernah berbincang sesaat, tapi rasanya terlalu canggung. Waktu hendak pergi, jauh didasar hati Jaka, rasanya ingin melihat sang nona lagi, tapi itu tak mungkin dia ungkapkan.

Karena itu Jaka sangat terkejut mendapati si nona menemui dirinya dan menatap matanya dengan pandangan penuh misteri.

Nona itu menyerahkan pena, sapu tangan, dan tujuh buah pisau kecil yang gagang dan batangannya penuh ukiran bagus, Jaka yakin salah satunya pernah dipakainya untuk membuat seruling.

‘Terimalah ini,‘ katanya begitu singkat.. suara lirihnya membuat Jaka terhanyut sesaat. Sang nona memandang Jaka sekejap, dua tatapan bertaut sesaat, tapi berikutnya ia menunduk. Setelah benda itu diterima Jaka, ia bergegas kembali kedalam benteng. Lalu terdengar oleh Jaka kata-kata sang kakek yang membuat hatinya berdebar dan membuat mukanya merah padam.

‘Jaka, itulah benda kesayangan cucuku. Kuharap kau menjaganya seperti cucuku yang selalu menjaga benda itu. Jangan lupa, jika kau datang nanti bawalah benda apa saja sebagai balasannya. Sekalipun benda tak berharga, asal itu adalah milikmu.‘ Tentu saja Jaka bukan pemuda bodoh, ia dapat mengartikan ucapan sang kakek yang hendak mengatakan bahwa; cucunya ingin mempercayakan hatinya pada Jaka.

Tentu saja jika cerita seperti itu ia ceritakan, pasti sangat runyam. Apalagi karena tanpa banyak pikir, waktu itu Jaka memberikan seruling buatannya pada sang kakek,

‘Saya tak tahu kapan lagi datang kemari. Saya tidak bisa membalas pemberian seharga dengan benda-benda ini. Hanya ini yang bisa saya berikan.’ Ujarnya saat itu. Beruntung Jaka membuat seruling dari bambu lentur dua buah, sehingga ia tak perlu repot-repot lagi membuat dari bambu lain.

Seruling buatan Jaka, sederhana tapi terlihat begitu lembut, halus. Apa lagi sesaat sebelum menyerahkannya Jaka mengukir beberapa patah kata dan lukisan di seruling itu. Tak heran kakek yang begitu banyak pengalaman itu sampai terkagum-kagum.

‘Bagus sekali! Akan kusampaikan pada cucuku.’ Setelah itu ia beserta penghuni benteng lainnya melambaikan tangan pada Jaka, pemuda ini balas melambai dan ia segara menuruni Gunung Temanggung yang sedikit-banyaknya telah mengubah jalan hidupnya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s