44 – Kisah Perguruan Macan Lingga 1

44 – Kisah Perguruan Macan Lingga 1

“Ada apa?” tanya Jaka heran.

“Apa kau tidak salah dengar?!” ujar Ki Glagah suara bergetar.

“Maksud Aki?”

“Kau tidak salah dengar pembicaraan mereka?” tanya Ki Glagah menyakinkan. Alis Jaka terangkat mendengar pertanyaan itu, mulutnya cemberut. Para tetua yang merasa tegang mendengar cerita Jaka, sama tertawa geli melihat mimik Jaka. Mereka seperti melihat anak kecil mau… menangis.

“Tidak! Saya masih yakin telinga saya sehat.” Sungut Jaka masih dengan bibir cemberut.

“Bukan maksudku menyangsikan pendengaran-mu, hanya saja… astaga!” desah Ki Glagah menimpali.

“Sebenarnya ada apa kek?” tanya Pertiwi penasaran.

Ki Glagah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. “Luar biasa, sungguh luar biasa, tak nyana kau bisa dapat rejeki begitu besar.” Mulutnya bergumam seperti itu berulang kali.

“Kek?!”

Ki Glagah menatap cucunya, “Sebaiknya kita dengarkan cerita Jaka sampai tuntas, setelah itu baru kujelaskan kenapa kami begitu terkejut.”

Semuanya setuju, dan Jaka juga harus melanjutkan ceritanya.

‘ “Kau bodoh!” ‘

“Apa?!” ujar Pertiwi tidak tanggap.

Muka Jaka memerah menahan geli, pemuda ini berkata seperti itu adalah untuk menyambung percakapan dalam ceritanya, jadi bukan bermaksud memaki orang dalam ruangan itu. Namun sebelum Jaka memberikan penjelasan lebih lanjut, Ayunda segera menyikut Pertiwi, gadis itu menjelaskan maksud ucapan Jaka. Barulah Pertiwi mengangguk-angguk dengan wajah panas.

Ki Glagah mengangguk, artinya; Lanjutkan.

‘ “Apa maksud kakang mengatakan aku bodoh?”‘ tanya kakek yang ternyata orang termuda dari mereka.

‘ “Untuk membangun kekuatan yang sama seperti dulu, kita sudah memiliki modal utama! Salah satunya, kami memiliki anak buah yang setia! Tersebar seantero negeri. Mereka dapat disejajarkan dengan para pendekar kosen.” ‘

‘ “Sehebat apapun rencana yang andika sekalian susun, tidak akan membuktikan apa-apa. Apakah andika ingin kebusukan Macan Lingga makin lama dikenang dari jaman ke jaman?” ‘

‘ “Kau salah mengerti rencana kita adi,” ‘

‘ “Tidak, saya sangat paham rencana andika!” ‘

‘ “Kau tahu apa!” ‘bentak orang tua itu dengan bengis.

“Saya makin tegang mendengar percakapan delapan orang itu. Saya bisa menduga, mereka ingin mendirikan kembali partai leluhur, kemungkinan besar ingin menguasai dunia persilatan. Namun pikiran itu, kali ini saya hilangkan.”

“Kali ini?” Tanya sang guru.

“Ya, karena ternyata dunia persilatan memiliki Perkumpulan Garis Tujuh. Ditambah Enam Belas Perguruan terkemuka, tentu tak semudah itu menaklukan dunia persilatan.”

Ki Kukita tersenyum mendengar penjelasan Jaka. Lalu pemuda ini melanjutkan ceritanya.

“Karena tak tahu kemana arah pembicaraan mereka, saya memberanikan diri menyela.

‘ “Maaf, kalau saya tidak sopan…” ‘

‘ “Kau memang tak sopan!” ‘ damprat salah satu kakek pengeroyok.

“Sungguh panas perut saya, mendengar nada bicara orang tua itu. Sejauh itu, saya bicara masih dengan tata kesopanan, tapi yang diajak bicara benar-benar tak tahu sopan santun, kan rugi kalau saya buang-buang tenaga. Saya menyahut dengan jengkel,

‘ “Tapi saya lebih sopan dari andika, saya tidak suka mengeroyok orang.” ‘ Balas saya tandas. Rasanya jawaban saya sudah cukup kasar, dan memang langsung membuat kakek itu melotot marah.

“Berulang kali saya yakinkan dalam diri saya, untuk bersabar. Jika saja bukan orang sabar, tentu bisa keguguran saking kesalnya.

“Keguguran?” tanya Diah dengan alis berkerut.

Jaka memandangan sesaat kearah si gadis salju. Wajah pemuda ini memerah sesaat. “Maaf, itu istilahku untuk mengungkapkan kejengkelan. Kau tahu, wanita hamil keguguran bagaimana rasanya? Seperti itulah perasaanku pada orang tua tak tahu aturan itu. Untungnya tiap ucapan mereka, tak membuatku lepas kendali.”

“Tapi tidak sopan!” sahut si gadis, ketus.

“Maaf, aku tidak bermaksud demikian…” sahut Jaka membela diri. Si gadis tak mengatakan apa-apa, hanya saja wajahnya memerah, dan ia melototi Jaka sekejap, lalu melengos ke arah lain.

Kejadian kecil itu tak luput dari pengelihatan tiap orang, kembali mereka menghela nafas kagum, tapi juga.. jengkel—khususnya pada pemuda yang jatuh hati pada Diah Prawesti.

Jaka… Jaka, kau pakai pelet apa sih? pikir mereka gemas. Jaka memang saingan berat, pikir mereka.

‘ “Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan?” ‘ tutur Jaka kembali meneruskan ceritanya.

‘ “Mereka adalah kakang seperguruanku,” ‘ jelas kakek baik hati itu dengan ramah. “ ‘Mereka ingin agar aku…” ‘

‘ “Diamlah adi!” ‘ bentak salah seorang diantaranya.

Melihat suasananya yang tak begitu bersahabat, rasanya untuk berbicara satu patah kata saja bisa menimbulkan masalah, tapi saya memang sudah memutuskan agar dapat mengetahui persoalan sebenarnya.

‘ ”Maaf, bisakah kakek diam sejenak agar saya bisa mendengarkan cerita sebenarnya?” ‘ saya bertanya dengan suara lantang, saking dongkolnya melihat sikap mereka.

“Mendengar bentakkan saya, wajah mereka sedikit pucat. Saya paham dengan rekasi itu, mereka pasti sangat terkejut karena saya begitu berani. Ucapan saya memang bisa diartikan menantang.

‘ “Hooo.. berani kurang ajar kau ya?” ‘

‘ “Saya tidak kurang ajar, saya rasa sikap saya ini lebih sopan ketimbang andika bertujuh!” ‘

“Ucapan saya yang tegas dan tandas, membuat ketujuh kakek itu makin tercengang. Mereka pikir saya berani berbicara begitu karena punya pegangan berarti. Berpikir begitu ketujuh kakek itu saling pandangan dan samar-samar mengangguk.

“Bocah, apakah kau benar-benar ingin tahu cerita yang sebenarnya?” ‘

‘ “Tentu saja, siapa tahu aku bisa bercerita pada tukang ikan dipasar.” ‘ sahut saya membuat mereka melotot marah, tapi pancingan saya tidak membuat mereka bereaksi.

‘ “Kau tidak menyesal?” ‘

‘ “Kenapa saya harus menyesal, bukankah jika ada orang yang butuh informasi ini, saya bisa mendapatkan uang banyak darinya?” ‘ saya makin ngawur menanggapi ucapan mereka.

‘ “Kau anak keparat!” ‘

Jaka mengatakan itu dengan mimik tegang, orang sama tertawa mendengar cara Jaka mengucapkan itu. Kalau saja ada orang yang baru mendengar dan melihat Jaka bercerita, dia bisa mengira Jaka memaki padanya.

“Saya tertawa mendengar makian kakek itu, timbul niat saya untuk menggodanya makin lama. ’ “Oh, kenapa andika menyebut saya keparat? Apakah anda mau menjadi kakek saya?” ‘

Kali ini banyak tawa meledak diruangan bawah tanah itu, mereka paham maksud Jaka—dengan memaki tak langsung, bahwa Jaka ingin mengatakan kalau anaknya keparat, kan bapaknya lebih parah lagi? Lalu apa sebutan untuk kakeknya, kalau anak-cucunya adalah keparat? Tentu lebih-lebih parah!

‘ “Dasar anak set…” ‘ mereka ingin memakai saya, tapi tak jadi, saya jadi geli sendiri. Sebenarnya menyenangkan juga bermain kata dengan kakek-kakek itu, tapi saya sadar situasinya tidak menguntungkan, jadi saya langsung mengajukan pertanyaan yang dinanti mereka.

‘ “Maaf, kalau saya membuat andika sekalian marah. Tapi saya memang berniat tahu cerita sebenarnya. Dan silahkan ajukan syaratnya, saya sudah menunggu dari tadi.” ‘

‘ “Pemuda cerdik, kau sudah begitu tanggap, maka aku tidak perlu banyak menjelaskan lagi. Karena kau ingin mengetahui latar belakang persoalan kami, dengan sendirinya, latar belakang perguruan kami harus diceritakan padamu juga. Kalau sudah begitu sebagian dari banyak rahasia perguruan tentu bocor padamu…” ‘

‘ “Dengan demikian andika sekalian memiliki alasan untuk mencelakai saya setelah mendengarkan cerita itu bukan?” ‘ potong saya tak sabar. Begitu mendengar ucapan saya, wajah orang yang bercerita tadi agak berubah—hanya sekejap, namun tak luput dari mata saya.

‘ “Ah, kami tidak seburuk itu!” ‘ kilahnya.

‘ “Jadi apa syaratnya?” ‘

‘ “Kau harus bisa menerima lima jurus serangan dari tiap orang diantara kami,” ‘

‘ “Lalu?” ‘ potong saya cepat.

‘ “Hm, kau sungguh pemuda cerdik, baru satu yang aku kasih sudah sepuluh yang kau paham.” ‘

‘ “Terima kasih atas pujianmu, tapi saya tidak berminat dengan pujian itu, saya hanya ingin tahu semuanya. Jangan bertele-tele!” ‘

“Mendengar saya cukup ketus dan tak terlihat jeri, muka tujuh kakek itu berubah merah padam. Mereka sangat marah, mungkin merasa dilecehkan orang yang jauh lebih muda.

‘ “Kalau kau sanggup menghadapi lima jurus tiap orang diantara kami, selanjutnya kau harus menghadapi tujuh orang sekaligus.” ‘

‘ “Kakang! Apakah itu tidak keterlaluan?” ‘ seru kakek ramah dengan nada kawatir.

“Mereka tidak menjawab, namun dengan tajam mereka menatap saya, seolah mengatakan; ‘ Tidak tidak perlu dikawatirkan, kalau pemuda itu mati, jangan salahkan kami. Tapi salahkan kepandaian terlalu rendah!‘

“Muak dengan sikap mereka, saya tidak tanggung menyindirnya.

‘ “Bagi mereka saya yakin itu tidak keterlaluan kek, hakekatnya mereka selalu ingin memuaskan diri sendiri. Pikirannya menang dan menang, tidak akan melihat kanan kiri, tidak tahan disentil, tidak tahan di koreksi orang lain.” ‘

“Rupanya ucapan saya itu tepat mengenai borok mereka, wajah ketujuh kakek itu berubah bengis. Anehnya, mereka tidak bereaksi apa-apa. Saya tahu apa sebabnya, mereka hanya bisa melotot untuk mempertahankan harga diri.

“Saya tahu apa yang mereka pikirkan saat itu, dan untuk membungkam kesombongannya, saya juga perlu menawarkan harga yang sangat mahal.

‘ “Andika menawarkan syarat yang begitu ringan, ini benar-benar penghinaan buat saya, syarat itu terlalu merendahkan saya!” ‘ kata saya dengan nada mencemooh. ‘“Apakah tidak ada syarat yang lebih berat lagi? Misalnya, masing-masing andika menyerang saya selama lima puluh jurus?” ‘

“Tentu, saya menantang mereka karena terpaksa, demi untuk membungkam kesombongan dan keangkuhan. Mereka selalu memandang rendah orang lain!

‘ “Oh, sungguh besar pambekmu bocah cilik!” ‘ bentak salah seorang dari mereka. ‘ “Kalau kau memang sanggup, kenapa tak kita lakukan saja?!” ‘

“Tantangan itu sebenarnya hanya untuk memukul harga diri mereka—yang notabene adalah tokoh besar, masa harus merendahkan begitu rupa demi untuk menghajar saya?! Benar-benar tak habis pikir! Tapi saya juga harus setuju dengan usul saya sendiri.

‘ “Anak muda, kau sangat ceroboh. Apakah karena kau melihat aku sendirian tidak bisa dirobohkan mereka, lalu kau menantang mereka tiap orang lima puluh jurus?” ‘

‘ “Bukan begitu Ki,”‘ Jawab saya, karena saya memang bersimpati dengan kakek itu. ‘“Biarpun saya sudah menelan nyali naga dan macan sekalipun, kalau tidak memiliki kemampuan yang menjadi pegangan, tentu saya tidak akan menantang mereka begitu rupa.” ‘

‘ “Jadi?!” ‘

‘ “Saya percaya, bisa mengatasinya.” ‘

“Namun saya melihat kakek baik hati itu ragu, karena itu ia bertanya pada saya, ‘ “Sudah berapa lama kau belajar ilmu silat?” ‘

’ “Kalau belajarnya terhitung latihan dan teori, saya sudah lima tahun belajar silat.” ‘

‘ “Lima tahun?! Masya Allah, kau pikir bisa menghadapi mereka yang memiliki tenaga hasil latihan lebih dari seratus tahun itu?!” ‘

‘ “Jangan kawatir Ki, saya bisa mengatasinya.” ‘

“Agar kakek itu tidak merintangi dengan macam-macam pertanyaan saya langsung berbalik dan menghadapi mereka bertujuh.

‘ “Jadi pada saat anda sekalian MENGEROYOK saya,” ‘ Sengaja saya tekan kata mengeroyok, agar kesombongan mereka makin tenggelam. ‘ “Apakah akan menggunakan senjata, atau tangan kosong?” ‘

“Pertanyaan itu sangat manjur, wajah mereka membesi. Apa jadinya ‘mantan’ tujuh tokoh besar mengeroyok pemuda ingusan, bila tersiar di kalangan persilatan? Mau dikemanakan muka mereka? Tapi, kelihatannya mereka tak begitu mengkhawatirkan perasaan itu, untuk melawan satu orang saja belum tentu mampu menghadapinya, apalagi saya menantang bertanding lima puluh jurus. Kemungkinan untuk membunuh pun makin besar. Berpikir seperti itu membuat wajah mereka kembali tenang, dengan kembali dihiasi senyuman sinis—meremehkan, jemu benar saya melihatnya.

‘ “Kita gunakan tangan kosong saja. Senjata tak bermata, bisa berbahaya menggunakannya.” ‘

‘ “Oh, jadi andika sekalian takut menggunakan senjata? Takut terluka?” ‘ ejek saya agak dongkol. Omong kosong yang dikatakan kakek itu sungguh kelewatan, dia seolah mengasihani saya, padahal niat sesungguhnya memang untuk melenyapkan saya. Karena saya sudah mereka duga, banyak mengetahui persoalan mereka. Tapi mereka tetap saja tak menanggapi ejekan saya.

‘ “Tunggu dulu!” ‘

“Rupanya kakek baik hati itu masih juga sangsi, beliau menghalangi berdiri di depan saya dengan wajah cemas.”

‘ “Kau yakin melakukan ini?” ‘

‘ “Saya yakin Ki!” ‘

‘ “Katakan padaku, apa yang menjadi andalan kepandaianmu. Agar aku sedikit tenang…” ‘

“Sungguh, kakek itu sangat perhatian padaku, saya yakin, bila pada kesempatan lain kami berjumpa, tentu saya bisa banyak menimba pelajaran darinya. Agar beliau tidak resah, saya menghiburnya.

‘ “Saya memang lebih senang mengobati orang dari pada melukai orang, karena itu sejak belajar silat lima tahun lalu, saya hanya mempelajari ilmu olah langkah dan peringan tubuh saja.” ‘

‘ “Olah Langkah dan peringan tubuh? Itu belum cukup!” ‘ serunya dengan kawatir.

‘ “Ki, tenang saja. Apa yang saya pelajari itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi diri sendiri. Kalau saya tidak bisa menghindar, bukankah saya masih bisa lari?” ‘

‘ ”Lari, kau pikir semudah itu lari dari mereka?” ‘ tanya sang kakek simpatik itu.

‘ “Ehm, kakek tapi perlu kawatir, ada pepatah mengatakan; jangan takut dengan anak kura-kura.” ‘

‘ “Maksudmu?” ‘ kakek itu tidak tahu maksud saya, padahal saya mana tahu ada pepatah kura-kura.

Ki Lukita tertawa geli. “Oh.. jadi pepatah ngawurmu itu hanya untuk menyindir saja?”

“Benar guru.”

“Jadi yang kau maksudkan ada dua hal?”

“Dua?” ujar Jaka tak mengerti. Tapi tiba-tiba dia merasa jengah, ia mengangguk. “Saya rasa bisa dikatakan begitu.”

“Eh, tunggu dulu. Dua bagaimana?” tanya Ki Benggala pada Jaka.

Pemuda ini salah tingkah, ia menatap gurunya penuh harap, agar orang tua itulah yang menjelaskannya.

Ki Lukita terlihat mesam-mesem geli. “Jaka berkata begitu maksudnya jelas, kura-kura kan tidak mungkin berlari cepat?”

“Benar Juga.” Ki Benggala menyahut. “Dan maksud yang kedua?”

Sayangnya Jaka menyebut itu sebagai pepatah, jika ada yang paham logatnya—untuk daerah tertentu—pasti paham apa yang dikatakan Jaka.

“Maksudnya apa si kek?” tanya Ayunda.

Sebelum Ki Lukita menjawab, Jaka sudah buru-buru berkata dengan gugup. “Maaf, bukan maksud saya begitu, tapi saya memang berucap asal saja. Tidak ada dalam pikiran bahwa mereka itu adalah seperti germo segala.” Pemuda ini terjengah, ia menunduk malu.

“Oh, jadi anak kura-kura itu germo?” ujar Pertiwi mengulang penjelasan Jaka tanpa sadar, tapi mendadak dia sadar, wajahnya merah, sambil melotot gemas kearah Jaka.

“Sudah… tak usah dilanjutkan. Lalu bagaimana kelanjutannya?”

Jaka bersyukur ditolong Ki Alit Sangkir dari suasana canggung yang memalukan. “Tentu saja mereka marah pada saya. Saya mana tahu mereka berfikir bahwa saya mengolok-olok mereka sebagai germo segala.” Sampai disitu wajah Jaka agak merah. Bocah aneh, pikir beberapa orang di ruangan itu, hanya berkata seperti itu saja sudah begitu likat—malu, cara bagaimana kau mau menjalin hubungan dengan gadis kelak?

‘ “Tidak semudah itu kau lari!” ‘ seragah salah seorang kakek yang akan saya hadapi berseru marah pada saya—Jaka melanjutkan ceritanya.

‘ “Memang tidak semudah itu.” ‘ Sahut kakek ramah itu mengiyakan.

‘ “Semoga mudah. Ingat pepatah saya tadi.” ‘

‘ “Dasar bocah keparat!” ‘ maki salah satu kakek itu terlihat marah, tapi anehnya dia tidak menyerang saya, mungkin mereka masih menaruh segan pada kakek ramah yang membela saya. Kakek ramah itu menasehati saya katanya,

‘ “Kelihatannya tidak mungkin kau meloloskan diri dari mereka. Ingat! Yang kau hadapi adalah orang-orang tangguh yang memiliki tenaga dalam sangat handal dan mumpuni.” ‘

‘ “Apa yang Aki katakan benar, dari segi yang satu itu saja saya sudah kalah jauh, tapi Aki melupakan satu hal.” ‘

‘ “Apa itu?” ‘

‘ “Sehebat apapun pukulan seseorang, jika tidak kena sasaran tidak akan berpengaruh apa-apa.” ‘

“Kakek itu terhenyak mendengar alasan saya, namun akhirnya dia mengangguk-angguk dengan tersenyum, kelihatannya untuk terakhir kalinya, saya bisa membuatnya paham.

‘ “Kalau begitu kudoakan semoga kau berhasil. Kalau mereka sampai bertindak keterlaluan, aku pasti membelamu. Sebagai ungkapan terima kasih, karena kau menyembuhkan keluargaku.” ‘ Kakek baik hati itu berkata dengan sungguh-sungguh dan begitu tulus.

“Saya yakin semua orang yang terluka itu bukan keluarganya—paling tidak hanya beberapa orang saja—selebihnya, anak buah. Beliau benar-benar seorang pemimpin yang baik, karena menganggap bawahan sebagai salah satu bagian dirinya, dengan demikian siapapun yang bekerja padanya tak merasa dirugikan, dan bersedia bertaruh nyawa demi membela kehormatan sang majikan.

‘ “Ah, masalah menyembuhkan keluarga Aki, tidak perlu diungkit lagi. Untuk apa saya mempelajari pengobatan, kalau bukan didermakan bagi yang membutuhkan. Saya bisa jadi orang tak berguna, jika ilmu pengobatan yang saya pelajari, tidak bermanfaat. Mungkin saya tak sebaik yang Aki sangka, tapi melihat korban begitu banyak, saya jadi kasihan.” ‘

“Beliau tertawa panjang. ‘ Kau benar-benar pemuda baik. Mudah-mudahan kita berjodoh…” ‘ kata kakek itu sambil berjalan menepi.

“Saya tidak paham ucapan kakek itu. Saya tidak memikirkan ucapan itu, karena saya anggap itu hanyalah rasa terima kasih saja.

“Bodoh…” hampir bersamaan Ki Gunadarma dan Ki Lukita berseru sambil tersenyum kecil. Jaka sempat tertegun. Tapi dia tidak memikirkan maksud ucapan dua tetua tadi, ia kembali bercerita.

“Begitu beliau menyingkir, tujuh kakek aneh itu mendekati saya.”

‘ “Kita mulai sekarang!” ‘

“Tentu saja saya harus menyetujuinya.

‘ “Siapa yang akan melawan saya lebih dulu?” ‘ Tak menunggu lebih lama lagi, kakek berwajah bersih dengan muka merah maju kehadapan saya. Kalau melihat tindak kakinya saat melangkah, saya yakin benar, paling sedikit kakek itu memiliki tenaga diatas seratus tahun hasil latihan. Meski usianya paling banyak baru akhir enam puluhan. Saya kira dia banyak menggunakan mustika untuk mendongkrak tenaganya.

‘ “Setan cilik! kau harus hati-hati!” ‘ seru kakek lawan saya memperingati.

‘ “Apakah masih dengan ketentuan tadi? Bahwa tiap pertandingan ini hanya lima jurus saja atau lima puluh jurus seperti yang saya usulkan?” ‘

‘ “Tentu saja!” ‘ dari suaranya yang ketus saya tahu dia tersinggung sekali. Tapi yang ia katakan ‘tentu saja’ bisa saja lima atau lima puluh jurus. Sungguh tak disangka orang yang kelihatan pemarah, memiliki pertimbangan cermat. Diam-diam saya mewaspadai seluruh tindak tanduk mereka. Mungkin saja dalam pikiran mereka, untuk menghadapi orang seperti saya, satu jurus sudah cukup! Kalau dilihat dari roman wajah yang tidak menyiratkan apapun, siapapun menduga hal itu tidak berlebihan.

“Singkat cerita, saya beruntung dapat menghadapi mereka. Biarpun tidak jadi dikeroyok, tapi lima jurus dapat saya atasi—walau dengan, yah… kalau bisa disebut kebetulan. Sungguh! Kekuatan satu orang dari mereka bukan main dahsyatnya. Saya pikir, dalam lima puluh jurus tak bakal bisa saya lalui dengan selamat. Saya yakin… saya tidak bermaksud merendahkan para penguasa ilmu mustika—karena saya sendiri salah satunya, yang jelas, kekuatan mereka lebih hebat dari orang yang memiliki ilmu mustika. Kalau Paman Benggala yang sudah termasuk jago kosen dalam dunia persilatan memiliki kekuatan begitu hebat, maka ketujuh orang itu memiliki rata-rata kekuatan sekitar lima atau enam tingkat diatas paman.”

“Wah… kalau begitu hebat sekali!” seru Ki Wisesa terkagum-kagum tapi hatinya berdebar miris.

“Dan kini yang kuherankan, bagaimana kau bisa seberuntung itu melawan mereka?” Tanya gurunya.

Jaka terdiam sesaat. “Sudah saya katakan…”

“Kebetulan?” sahut sang guru.

Jaka hendak mengangguk, tapi pandangan tiap orang menginginkan jawabannya. “Ah, bagaimana saya hendak menjelaskan? Ini benar-benar sulit.”

“Ceritakan saja apa adanya.” Pinta gurunya.

“Ah,” Jaka menggaruk kepanya, ia merasa serba salah.

“Baiklah, tapi… sebelumnya maaf, saya bukan bermaksud merendahkan…”

“Tidak apa, aku mengerti maksudmu.” Sahut gurunya.

Pemuda ini menghela nafasnya. “Masih ingat pertarungan saat saya diuji paman Benggala?”

“Kau aneh, tentu saja kami, aku ingat.” Ki Benggala sendiri yang menyahut.

“Begitulah saat saya menghadapi kelima orang itu.”

“Cuma itu?”

“Ya.”

“Sesingkat itu?” seru Ki Gundarma tak puas.

“Memang demikian adanya.”

Beberapa tetua saling berpandangan. Mereka pikir Jaka memang tidak ingin menceritakan hal sebenarnya, dan mereka bisa mengira pertarungan itu pasti sangat seru.

“Kau hadapi dengan apa?” Tanya Ki Benggala.

“Dengan olah langkah.”

“Tidak mungkin, bukankah kau mengatakan, melawan mereka seperti halnya saat melawanku?”

“Benar. Hanya ada bedanya, saat melawan mereka saya tidak sungkan lagi. Waktu itu tak terpikir oleh saya untuk menggunakan ilmu mustika.”

“Oh, kau tak menggunakannya?” Tanya sang guru.

Jaka mengangguk.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s