43 – Bertutur Kisah Lampau

Ruang bawah tanah

Kembali pada Jaka..

Dengan di iringi hadirin, mereka keluar kamar. Di ruangan tengah—ruangan yang dindingnya terdapat banyak pintu dan lorong, Ki Glagah mengajak yang lainnya untuk duduk—lesehan, sebab tak ada kursi.

Ki Alit Sangkir masuk ke salah satu lorong, tak berapa lama kemudian ia keluar.
Satu menit setelah Ki Alit Sangkir keluar dari lorong, empat orang wanita separuh baya dan dua lelaki botak—yang dandanannya serupa dengan dua orang di kamar Rubah Api, muncul. Mereka membawa nampan dan kendi serta gelas yang terbuat dari tanah liat. Berbincang-bincang tanpa ada cemilan, rasanya ada yang kurang.

Alis Jaka terangkat satu, diam-diam Jaka tersenyum senang. Kebetulan, aku sudah mulai lapar. Kali ini aku tak perlu malu untuk makan banyak, pikirnya.

Ki Gunadarma memperhatikan senyuman pemuda ini, lelaki itu tertawa geli. “Apa yang membuatmu tersenyum Jaka?”

Jaka terkejut mendengar pertanyaan Ki Gunadarma, sekejap, wajahnya memerah. “Saya pikir menyenangkan sekali berbincang-bincang sambil makan. Soalnya di penginapan makanannya payah sekali.” Jawaban Jaka yang lugas tanpa menyembunyikan apa yang ia pikirkan, membuat beberapa orang tersenyum geli.

Benar-benar polos! pikir mereka. Tapi ada juga yang berpendapat kalau itu memalukan.

Tak berapa lama kemudian, makanan ringan seperti onde-onde, bakwan, tahu goreng, pisang goreng dan berbagai makanan yang lezat telah terhidang.

“Silahkan.”

Begitu dipersilahkan, tanpa sungkan Jaka mengambil makanan kesukaannya, bakwan udang.

Beberapa orang tertawa melihat ulah Jaka, namun dimata para sesepuh, tindakan Jaka jauh dari munafik.

“Nah, saatnya berbincang.” Kata Ki Benggala setelah ia meminum habis air aren dalam kendi.

“Benar, dan kebetulan banyak pertanyaan yang akan kutanyakan padamu.” Sambung Ki Lukita.

“Silahkan,”

“Kulihat kau menggunakan tongkat bambu lentur sebagai ikat pinggang, bambu itu kau dapat dari mana?”

Ah, Jaka mendesah dalam hatinya. Agak diluar dugaan juga ternyata para tetua bertanya masalah ini. “Saya mendapatkan dari seseorang,”

“Siapa dia?” hampir serentak delapan sesepuh itu bertanya. Jaka terperangah. Aneh, pikirnya. Jangan-jangan tak sesepele yang kusangka?

Begitu juga dengan anggota lain, mereka sering berkumpul dengan sesepuh, tentu saja tahu seperti apa sifatnya. Saat ini para sesepuh menunjukkan antusias besar, tentang bambu lentur milik Jaka. Pasti ada apa-apanya. Beberapa orang yang tadinya bosan, kini tertarik dan mengikuti perbincangan dengan serius.

Jaka termenung sesaat, sekilas rona wajahnya agak berubah. Perubahan sekejap itu tak lepas dari mata tiap orang. Dan, masing-masing memiliki kesimpulan sendiri. Ada yang beranggapan bahwa masalah itu memalukan untuk diutarakan, juga ada yang beranggapan mungkin bersangkutan dengan soal pribadi.

“Sebenarnya agak riskan untuk saya ceritakan,” Kata pemuda ini sambil termenung sesaat.

“Apakah ada syarat tertentu untuk mendengar ceritamu itu?” tanya Ki Lukita cepat tanggap.

“Guru memang pengetian.” Sahut Jaka sambil tersenyum simpul. “Saya memang memiliki syarat tertentu.”

”Beratkah?”

“Bagi yang dapat dipercaya, syarat saya ringan saja. Tapi bagi mereka yang tak biasa pegang janji, ini mungkin berat.”

”Maksudmu kau ingin kami yang mendengar ceritamu, tidak menceritakan pada siapapun?” tanya gurunya.

“Benar. Bukan sekedar janji, tapi sumpah; bahwa siapa yang mendengar cerita ini tidak mengutarakan dalam bentuk apapun, pada siapa dan apa.”

Siapa, dan apa? Diam-diam 8 tetua mengagumi kecerdikan Jaka. ‘Siapa’ yang dimaksud tentu manusia. Dan ‘apa’, adalah sesuatu—selain manusia. Bagi orang awam, syarat Jaka ini agak ‘miring’. Masa selain manusia, bisa jadi curahan hati untuk menyampaikan rahasia? Maksudnya bukan demikian. Misal, jika kau tak tahan merahasiakan, lalu menulisnya pada batu, bukankah sama dengan memberitakukan pada ‘apa’?! Jadi, maksud Jaka sudah jelas. Tak ada jalan untuk mengutarakan rahasia, kecuali disimpan di hati.

Tentu saja anggota lain tahu maksud Jaka. “Hh, berbelit-belit.” Gerutu seseorang.

Jaka mendengarnya, dia segera menyambung penjelasannya. “Jika memang harus disampaikan, tentu harus dipilih mana yang perlu diutarakan, dan mana yang harus disimpan.”

“Jadi kami harus bersumpah?” tanya Ki Gunadarma.

Pemuda ini tersenyum. “Tidak perlulah, saya percaya, janji dalam hati rasanya cukup. Jika enggan menerima syarat, tapi ingin mendengarkan, cukup ditimbang dengan hati saja, syarat tadi. Enteng kan? Lagi pula Tuhan Maha Tahu, saya tak perlu pusing-pusing harus bertanya apakah kau sudah bersumpah atau belum.”

Mereka tercengang mendengar ucapan Jaka yang banyak mengisyaratkan maksud dan arti berlainan.

“Baiklah, akan saya mulai…”

“Aku heran denganmu Jaka,” Ki Lukita memotong ucapannya. “kalau tahu apa yang akan kau utarakan merupakan rahasia, kenapa kau ceritakan juga?” ia bertanya heran, namun Jaka tahu pertanyaan itu juga untuk mengujinya.

“Saya percaya! Saya pikir orang-orang yang ada dihadapan saya bisa dipercaya. Seandainya pikiran saya keliru, ya… itu resiko.” Ucapan Jaka terdengar ringan, tapi bagi mereka terdengar seperti tamparan. Benar-benar bocah kurang ajar, pikir mereka.

“Lagi pula antara guru dan murid tak ada rahasia. Guru meminta, murid memberi. Murid Meminta, guru memberi. Guru mengajar, murid meresapkan dalam hati dengan baik. Karena itu saya tidak memiliki rahasia yang perlu disimpan. Setidaknya, selama pertanyaan tidak berkaitan erat dengan pribadi, dan pribudi kelahiran manusia bernama Jaka Bayu ini.”

Bagi orang berpengalaman, paham dengan apa yang diucapakan Jaka, Ki Lukita merasa terharu. Tapi mereka yang muda tidak begitu paham dengan ungkapan Jaka.

“Maksudmu bagaimana?” tanya Wiratama tak paham.

“Jika guru bertanya padaku mengenai rahasia pribadiku yang berkaitan erat dengan adanya aku didunia ini—artinya bersangkutan dengan orang tua, silsilah keluarga dan lain sebagainya, maka aku tidak harus, bahkan dapat menolak memberitahu pada guru. Apabila ada orang yang memintaku untuk menyimpan rahasia, maka aku-pun tidak akan mengemukakannya walaupun guru berbudi yang menanyakan hal itu.”

“Jadi kisah yang akan kau ceritakan itu, apakah ada hubungannya dengan seseorang yang memintamu untuk menyimpan rahasia?”

“Ada dan juga tidak, beliau memintaku agar apa yang terjadi saat itu tidak disebarluaskan. Dengan sendirinya memintaku untuk tidak bercerita pada orang, namun karena beliau tidak meminta secara langsung untuk merahasiakannya, dalam hal ini ada satu isyarat yang beliau berikan padaku, bahwa kejadian itu boleh diketahui oleh orang tertentu. Yakni mereka yang dapat mengambil hikmah dari kejadian yang akan saya kemukakan. Saya pikir, andika(anda) sekalian adalah manusia paripurna, sudah pasti dapat memiliah, dan memilih hikmahnya. ”

“Kenapa pada awalnya kau ingin kami bersumpah?” tanya Ayunda.

“Karena kata ‘tidak boleh disebarluaskan’-lah yang membuatku berlaku hati-hati saat hendak menceritakannya. Akupun harus membatasi diri…”

“Maksudnya?”

“Hanya sekali ini saja persoalan tersebut keluar dariku, untuk selanjutnya tidak akan pernah lagi. Walau diperbolehkan menyampaikan pada orang-orang tertentu, supaya bisa mengambil hikmah.”

“Aku tak begitu paham…” desah gadis itu.

“Pengalaman memang membedakan semuanya,” sahut Ki Lukita. “Apa yang dikemukakan Jaka merupakan tata kesopanan cara menghormati amanat yang diberikan seseorang padanya. Kalau kita bertindak bijaksana, maka apapun yang menjadi janji dalam hati, dan rahasia dalam diri, bisa di sampaikan dengan benar—tanpa rasa bersalah—pada orang yang dapat dipercaya.”

Semua—mereka yang tak paham—mengangguk, kini pandangan mereka pada Jaka berubah, mereka tidak lagi memandang bahwa kharisma yang ditimbulkan Jaka karena kehebatannya saja, tapi karena kebijakkannya menimbang segala sesuatu, dan menempatkannya pada bagian yang sesuai.

“…yang memberikan bambu ini adalah seorang kakek. Beliau berbadan besar dan tegap, semua rambutnya sudah memutih. Sayangnya walau sudah beberapa lama tinggal dengan beliau, saya lupa menanyakan namanya. Hh, sungguh ceroboh…”

“Terus dimana kau berjumpa dengan beliau?” ujar Ki Benggala. Dalam pertanyaan itu terkandung rasa hormat. Jaka terkesip mendengar nada hormat dari pertanyaan Ki Benggala.

“Waktu itu saya berada di sebuah gunung, sayang tak bisa saya sebutkan digunung mana. Kata orang, di gunung itu banyak hal-hal menarik, saya segera bergegas kesana. Tidak tahunya begitu sampai di lambung gunung, saya dihadang puluhan orang yang memakai tutup kepala, sikap dan tindak tanduk mereka aneh. Mata kiri tiap orang itu ditutupi kain. Semula saya pikir, mungkin seragam penutup mata itu, sekedar simbol saja. Tapi dugaan saya salah, mata kiri mereka terluka.

Mereka menghadang, dan mengatakan pada saya bahwa gunung itu tidak boleh dimasuki orang. Tentu saja saya heran, para penduduk mengatakan gunung itu senantiasa terbuka untuk tiap orang, tidak ada larangan apapun. Penduduk kaki gunung juga tidak pernah mengatakan di gunung itu ditinggali sekelompok orang. Kalaupun ada, pasti dia seorang penduduk desa yang senang hidup digunung. Karena penasaran maka saya bertanya pada orang-orang itu,

‘ “Eh, sebenarnya darimana tuan-tuan ini? Kenapa saya tidak boleh naik keatas gunung?”‘

‘ “Tak usah banyak bacot, pergi kau!” ‘

‘ “Eh, tapi bac.. mulut saya cuma satu tuan.” ‘

Sampai disini banyak orang tertawa, cara Jaka bercerita seolah ada dua orang disitu, bahkan percakapan yang ia ceritakan juga berlainan tinggi rendah suaranya.

‘ “Tak perduli segara omongan setanmu, pergi kau dari sini sebelum terlambat!” ‘

‘ ”Lho, kenapa omongan saya omongan setan? Saya kan manusia, bukankah saya tidak bisa diusir?” ’

‘ ”Bangsat! Kami penguasa gunung ini, tahu! Setiap keputusan terserah dengan kemauan kami, orang udik tolol!” ’

Kembali banyak orang tertawa, tak terkecuali Diah Prawseti. Beberapa pemuda yang naksir berat dengannya, menghela nafas berat. Jaka benar-benar saingan tangguh! Pikir mereka.

“Jawaban mereka benar-benar membuat gemasnya. Tapi saya terus mencecar mereka dengan pertanyaan.

‘ “Tapi setahuku gunung ini tidak pernah dihuni sekelompok orang. Kalau sekelompok monyet memang ada.” ‘

‘ “Monyet busuk!” ‘’ maki orang itu makin kasar saja. Karena makian itu makin lama makin tak senonoh, saya makin senang menggoda mereka.

‘ “Bukan, bukan… kata penduduk kaki gunung, bukan sekelompok monyet busuk. Cuma monyet… tidak busuk!” ‘

“Waktu itu saya mengatakannya dengan tingkah makin menyebalkan. Saya tidak perduli mereka sudah pasang tampang galak—padahal tampang mereka itu lebih mirip penjual ikan ketimbang centeng. Sungguh aneh, kenapa orang semacam mereka bisa menjadi pengawal?

‘ “Kau pemuda dogol! Sudah kukatakan disini tidak ada apa-apa!” ‘ maki mereka gusar, tapi bagi saya mereka terlihat menahan tindakan kasar. Ini mengherankan, sebab dalam perkiraan saya, kemampuan mereka lebih hebat ketimbang caican mereka. Maka, saya simpulkan mereka anak buah seseorang yang ditakuti. Mungkin, karena sebelumnya sang pimpinan memberi mandat supaya tidak berbuat onar digunung itu. Untuk memancing agar mereka bertindak lebih kasar lagi, saya-pun mulai memaki mereka.”

“Memaki?” ujar Andini dengan bibir mencibir.

“Kenapa?” Jaka bertanya heran.

“Tidak dapat kubayangkan orang seperti kau memaki…” kata gadis ini blak-blakan. Sesaat kemudian barulah ia sadar, dari ucapannya mengartikan dia memperhatikan Jaka, wajah gadis itu merah jengah. Tapi dia adalah gadis pendekar, bukan gadis pingitan, sikapnya sudah kembali seperti semula.

Beberapa orang terlihat tersenyum geli melihat perubahan air muka Andini. Tapi ada juga yang makin cemberut.

Jaka, untuk urusan berkenaan dengan perasaan wanita, boleh dikatakan tidak paham. Karena itu ucapan Andini dianggap sebagai komentar seorang pendengar.

“Memaki memang bukan kegemaranku. Dan aku juga enggan memaki mereka. Mungkin lebih tepat lagi dikatakan menyindir. Kukatakn pada mereka,

‘ “Oh, begitu. Sebenarnya saya datang kemari karena mendengar kabar diluar sana…” ‘

‘ “Kabar apa?” ‘ tanya seorang dari mereka. Sedikit-banyak perhatian mereka terpancing juga. Karenanya, saya terus membual mengenai satu cerita.

‘ “Katanya disini banyak terdapat tanaman mustika, salah satu jamur yang tiap hari warnanya bisa berubah. Lalu untuk beberapa hari kemudian lenyap, layu dan menghilang tanpa bekas.” ‘

‘ “Benarkah?” ‘ kelihatannya mereka tertarik. Dari situ saya dapat memastikan mereka adalah sekumpulan orang-orang yang hanya tahu bertindak tanpa berpikir.

“Coba bayangkan mana ada jamur mustika seperti yang saya sebutkan tadi. Apa yang saya sebutkan adalah ciri kebanyakan jamur tanah. Bukankah beberapa jenis jamur ada yang hanya bisa tumbuh dalam lima hari saja dan tiap harinya warnanya berubah? Dan setelah lebih dari lima hari jamur itu akan mati… artinya sama dengan lenyap?!”

Mereka mengangguk membenarkan. Tentu saja mereka juga tahu penjelasan alasan Jaka. Cuma, mereka tak menyangka Jaka adalah orang yang suka berbelit-belit. Ambil saja contoh alasan jamur tadi, nampaknya sederhana, padahal butuh penjelasan seperti tadi.

“Untuk sesaat saya ragu meneruskan cerita saya tadi, maklum saja… boleh jadi mereka orang kasar, namun kita tidak boleh menilai orang hanya dari melihat tampang saja.” Kata Jaka meneruskan penuturan ceritanya.

‘ “Dimana letak benda yang kau sebut tadi?”‘ mereka bertanya dengan penuh antusias.

‘ “Entahlah, kalau aku tahu sudah dari dulu-dulu kemari. Kata orang, tanaman mustika itu ada di sekitar daerah sini, tapi entah dimana.” ‘

‘ “Benar begitu?” ‘ Saya membenarkan.

‘ “Konon tanaman itu dipelihara orang dan di jaga segerombolan hewan piaraan.” ‘

‘ “Omong kosong!” ‘ seru seseorang membentak.

‘ “Lho, ini bukan omong kosong! Tap-tapi.. memangnya kenapa?” ‘

‘ “Didaerah sini selain…” ‘ orang itu tidak meneruskan bicaranya karena kawan yang disebelah menyikut iganya. ‘ “Pokoknya tidak ada orang yang tinggal disini, kami biasa memastikan itu!” ‘

‘ “Mungkin saja engkau benar, tapi bagaimana dengan kawanan binatang yang berkeliaran menjaganya?” ‘ saya sengaja bertanya seperti itu untuk menyindir mereka. Itupun kalau mereka merasa tersindir.”

Mereka yang menyimak cerita Jaka, paham prihal sindiran itu. Kalau disebutkan daerah itu tak ada lagi orang menghuni, tentu yang dimaksud dengan ‘binatang yang berkeliaran’ adalah mereka sendiri. Dan dari cerita itu, mereka bisa berkesimpulan, orang yang dihadapi Jaka memang komplotan yang jarang menggunakan otaknya.

Situasi yang dialami Jaka saat itu memang cocok buat pemuda ini. Jaka memang tak suka basa-basi, tapi main kayu—bermain kata, bersiasat—mungkin jagonya.

‘ “Eh, yang benar saja…” ’ sahut mereka tak banyak pikir.

‘ “Kalau begitu menjaga tanaman mustika adalah mereka, binatang itu! Aku jelas manusia, berarti bukan aku yang menjaga. Kalau begitu, jangan-jangan kalian yang menjaga mustika itu!?” ‘

‘ “Apa maksudmu?” ‘

‘ “Bukankah kau bilang daerah ini tertutup untuk manusia, dan aku bilang ada yang tinggal disini dengan para penjaganya, tentu saja penjaganya itu bukan manusia dan kali ini aku bertemu dengan segerombolan orang yang aku curigai sebagai penjaga mustika…” ‘

“Mereka saling berpandangan, sejauh itu mereka belum tahu apa yang saya bicarakan. Tentu saya kesal, sudah banyak waktu saya buang hanya untuk membual. Dari kejadian itu saya bisa mengambil pelajaran berharga, yakni; ada kalanya akal muslihat bisa memperdaya orang, tetapi perhitungan orang pintar kadang tak berlaku bagi orang bodoh, sebab orang bodoh tidak pernah memperhitungkan apa yang ia perbuat. Karena mereka tak kunjung mengerti, saya menyindir terang-terangan.

‘ “Maksudku adalah; kalian ini mungkin saja penjaga mustika. Apa kalian memang menjaganya? Tapi, karena daerah ini tertutup bagi manusia, maka kusimpulkan kalian ini memang bukan manusia! Hm, mungkin sejenis hewan penjaga mustika yang berbentuk seperti manusia.” ‘

“Kalau ucapan sejelas itu belum paham, saya tak tahu cara apa membuat mereka marah. Untungnya mereka paham dengan ucapan saya. Begitu selesai berkata, sialnya mereka langsung memanah saya. Untung saya waspada, begitu panah dilolos, saya segera kabur. Namun ada keanehan, mereka tidak mengejar saya. Padahal kalau dipikir-pikir jarak saya dengan mereka hanya terpaut lima tombak saja. Karena penasaran, malam harinya saya menyusup keatas, kebetulan tidak ada penghalang.”

“Apa yang terjadi disana?!” tanya Andini tak sabaran.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Jaka perlahan. Jawaban itu membuat Andini jadi berkerut alis. “Maksudnya itulah kesan pertamaku.” Katanya pada gadis cantik itu, lalu ia kembali meneruskan ceritanya.

“Lebih jauh masuk kedalam, saya menemukan sebuah benteng besar. Sebuah benteng yang terbuat dari batu cadas, sangat kokoh, kuat. Sepengetahuan saya, tidak ada satupun penduduk yang pernah bercerita tentang adanya benteng itu. Dengan demikian saya berkesimpulan bahwa keberadaan mereka, mestinya tanpa sepengetahuan penduduk. Mungkin mereka juga berusaha menghindari penduduk. Menilik bangunannya, mungkin sudah berusia puluhan tahun. Saya sangat kagum, entah bagaimana cara mereka menutupi mata penduduk.

“Dua puluh tombak dari benteng, ada barisan penghambat berdaya gaib. Mulanya saya tidak tahu barisan apa itu, tapi setelah memasukinya, baru paham, ternyata gubahan barisan Enam Muskil Menjelma…

“Eh…”

Beberapa orang tetua terperanjat, tapi Jaka enggan menanyakan sebab kekagetan mereka. Menurutnya, mereka kaget lantaran barisan itu pernah tersohor pada waktu yang lampau.

“Singkatnya, saya bisa melewati barisan itu dan menyusup kedalam benteng. Lalu, apa yang saya lihat benar-benar membuat bulu kuduk berdiri, dan jantung berdebar lebih cepat. Di situ banyak tubuh bergelimpangan, saat itu saya tidak tahu apakah itu mayat atau bukan. Tapi keadaan mereka benar-benar mengenaskan. Lalu ada seorang kakek yang sedang dikeroyok tujuh orang sebayanya. Ilmu mereka benar-benar luar biasa. Paling tidak, menurut taksiran saya, mereka berdelapan memiliki tenaga diatas seratus tahun hasil latihan. Pertarungan itu adalah pertarungan paling dahsyat yang pernah saya saksikan.

“Tujuh orang pengeroyok itu memiliki ilmu barisan penyerang amat dahsyat, yang jelas tiap kali kakek yang dikeroyok itu menyerang, serangannya dapat diatasi dengan mudah, padahal menurut saya, tenaga kakek itu paling tidak ada satu kali lipat dari lawannya. Hh, pertarungan itu benar-benar menyita seluruh perhatian saya..

“Anehnya setelah sekian lama, kedua belah pihak tidak dapat mendesak satu sama lain. Menurut perkiraan saya, rasanya sangat mustahil ketujuh orang yang memiliki tenaga dalam seratus tahun lebih, tak dapat memenangkan pertarungan, apalagi didukung barisan penyerang lihay. Walau kakek yang dikeroyok tenaganya hampir satu kali lipat lebih besar dari seorang penyerangnya, diapun sanggup bertahan lama. Kesan yang saya peroleh, mereka seperti sedang berlatih, tapi itu tak benar, mengingat banyak korban bergelimpangan.

“Saat itu saya tak ambil pusing dengan pertarungan itu, yang jelas, mereka yang menjadi korban harus segera ditolong. Tak banyak pikir akibatnya, saya masuk dan memeriksa mereka satu-persatu. Untungnya, tak ada yang tewas, anehnya keadaan mereka seperti mati suri. Kondisi mereka seperti orang mati yang sudah dibalsem lama. Itu merupakan kasus baru bagi saya! Jumlah korban dua puluh tujuh orang. Saya kumpulkan mereka disatu sudut ruangan. Saat itu saya tidak menyadari, pertarungan sudah berhenti. Perhatian saya tercurah hanya untuk menolong para korban. Beberapa lama kemudian, saya dapat menolong salah satu korban. Hh, sungguh memeras keringat! Untungnya saya berhasil mendapatkan metoda pengobatan singkat efektif. Waktu pengobatan yang saya perlukan hampir selama empat kentungan. Mereka siuman, kelihatannya sehat-sehat saja. Rasa penasaran, membuat saya ingin mengetahui persoalan dalam benteng itu hingga detail. Saya bertanya kepada mereka,

‘ “Apa yang terjadi disini?” ‘ tanya saya pada salah satu korban. Tapi orang itu cuma menggeleng lemah, begitu menghibakan. Tak mendapat jawaban memuaskan, saya tidak berani mendesak. Karena belum menemukan jalan terbaik mengetahui apa yang terjadi, saya juga ikut-ikutan diam.

‘ “Siapa kau anak muda?” ‘ tiba-tiba seseorang menegur dari belakang. Saya baru sadar pertarungan mereka terhenti karena kedatangan orang asing—sayalah orangnya. Atas pertanyaan tadi, saya sangat terkejut, kedatangan mereka tidak terdeteksi, kalau mereka mau, saya yakin waktu itu saya sudah terkapar karena bokongan.

“Saya menyadari situasi tak menguntungkan, saya segera berdiri dan menghormat dua kali—saat itu mereka berdiri dalam dua kelompok terpisah, kelopok pertama tujuh orang pengeroyok, dan kelompok kedua adalah satu orang yang dikeroyok.

‘ “Saya hanya seorang pengelana.” ‘

‘ “Bagaimana kau bisa sampai disini?” ‘ tanya orang yang dikeroyok itu.

‘ “Tentu saja lewat jalan yang disediakan.” ‘

‘ “Maksudmu kau melewati barisan yang kami buat?” ‘

‘ “Ya, memangnya kenapa, bukankah barisan itu merangkap sebagai jalan? Tentu saja sebagai jalan digunakan untuk dilewati. Supaya bisa masuk, sudah tentu saya harus melewatinya, masa dalil sederhana tak bisa dipahami.” ‘

‘ “Kau… mustahil! Kau mampu melewati barisan kami, dasar pembual! Katakan siapa yang memberi tahu kunci barisan itu!” ‘

‘ “Kenapa harus minta tolong orang kalau saya bisa lewat sendiri?” ‘

‘ “Mustahil! Aku tak percaya kalau barisan kami itu kau lewati segampang itu!” ‘

‘ “Kami?! Memangnya…” ‘ berulangkali ucapan itu dikeluarkan salah satu kakek pengeroyok, membuat saya heran, namun saya tak berani lancang bertanya.

“Saya tambah bingung melihat mereka—dari dua kubu berlawanan—saling pandang heran. Saat itu saya dibingungkan dengan ‘keakuran’ mereka. Kejadian itu membuat saya berkesimpulan; kemungkinan besar mereka kenal baik satu sama lain, entah karena apa bisa sampai gontok-gontokan seperti itu.

‘ “Jangan banyak tanya!” ‘ hardik seorang dari tujuh pengeroyok.

“Saya-pun tak banyak omong lagi, karena situasi tak mengijinkan.

‘ “Anak muda, kau seorang tabib?” ‘ tanya orang tua yang tadi dikeroyok.

‘ “Boleh dikatakan begitu kek.” ‘

‘ “Kurasa jawaban yang tepat adalah ya!” ‘ ujar kakek itu sambil tersenyum ramah.

‘ “Tidak mungkin! Pembual macam dirimu bisa menjadi tabib? Puih!” ‘ seseorang mengejek sambil meludah. Sesabar apapun saya, panas juga perut ini. Kalau ada kesempatan, rasanya ingin kulempar kotoran apa saja kewajahnya.”

Jaka bercerita sambil cemberut, ekspresinya sulit ditebak, sebentar seperti anak-anak yang merajuk minta mainan, sebentar meringis seperti monyet kebakaran ekor. Roman mukanya bisa serius dan kaku bagai batu karang. Jika dimisalkan ia sebagai aktor watak, maka Jaka salah satu yang terbaik.

Ki Lukita yang baru menjadi gurunya, mau tak mau harus mengevaluasi penilaiannya pada sang murid. Orang lain yang melihatnya juga menilai dengan pertimbangan masing-masing. Bahkan ada yang memisalkan Jaka adalah, api, air, atau angin… seperti namanya.

Kupikir anak ini lugu dan polos, ternyata sedikit bengal juga. Pikir Ki Lukita tersenyum kecil.

Jaka kembali meneruskan ceritanya, “Saya melihat kenyataan bahwa ada perbedaan besar antara dua kelompok itu. Kakek yang dikeroyok ternyata orang yang supel dan ramah, sedangkan ketujuh kakek lainnya begitu garang dan terlihat bengis. Menanggapi ejekan tadi, saya balas menyindir.

‘ “Terserah apa kata andika, mungkin saya ini pembual seperti apa yang dikatakan andika. Tapi yah… anggap saja memang pembual seperti saya kebetulan bisa menyembuhkan penyakit.” ‘

‘ “Aku yakin kau pasti tabib sakti!” ‘ seragah kakek ramah tadi dengan wajah serius.

‘ “Ah, itu hanya dugaan kakek saja, saya bukan tabib, apalagi disebut sakti… tapi, kalau mau dibilang tukang obat keliling, boleh jugalah.” ‘ Saya menanggapi ucapan kakek ramah itu setengah bergurau.

‘ “Aku tak bermaksud memujimu, aku yakin pasti kau tabib terkenal! Apakah kau tahu mereka lumpuh karena apa? Mereka—anak buahku—lumpuh karena Racun Asap Kayangan, kau sudah pernah dengar nama racun itu?”‘

“Saya benar-benar tak tahu ada nama racun seperti itu, memang jenisnya saya kenal, tapi kan yang ditanya nama racun, tentu saja saya tak kenal. Jadi saat saya menggeleng, saya merasa tak bersalah.

‘ “Baru kali ini saya dengar kek.” ‘

“Kakek itu terlihat sedih, ia menghela nafas panjang, saya pikir banyak beban yang ia pikul.

‘ “Jaman memang sudah berubah, ombak didepan selalu dihempaskan ombak dibelakangnya. Racun begitu hebat pun bisa dengan mudah ditawarkan… Yah, memang tidak bisa disalahkan, dulu racun itu menjadi kebanggaan partai kami. Jarang—bahkan tak ada, ada orang yang bisa lolos dari racun itu. Karena itu penggunaan racun tersebut tidak diperbolehkan apabila bukan dalam kondisi sangat terdesak. Kini sudah tiada orang yang mengenal racun ini, namanya tertelan jaman sedikit demi sedikit. Memang sudah wajar,” ‘ Desah kakek itu dengan tatapan menerawang jauh.

‘ “Adakah didunia ini yang bisa abadi?” ‘ Nada kakek itu terlihat sangat rawan saat mengucapkan kata terakhir tadi

‘ “Tutup mulutmu adi!” ‘ bentak salah seorang pengeroyok.

‘ “Kakang, jangan coba menutupi kenyataan. Perguruan Macan Lingga sudah lenyap ratusan tahun silam, jangan kau buka kembali lembaran pahit para leluhur kita!” ‘

“Apaaa…?!” Jerit kekagetan para tetua, mengejutkan Jaka.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s