41 – Menuntaskan Pengobatan Rubah Api

Diah, si gadis berwajah beku, tampak tersenyum kecil. Beberapa orang yang melihatnya, merasa heran melihat perubahan Si Gadis Salju. Dalam satu bulan, orang terdekat si gadis, bisa menghitung perubahan roman wajahnya yang beku—paling banyak dua atau tiga kali, dan anehnya untuk hari ini Diah Prawesti sudah tertawa, cemberut, bahkan berbicara, biasa ia hanya bicara satu-dua patah kata. Sebagai gudangnya orang cerdik, tentu saja mereka sudah menduga kalau perubahan diri gadis ini karena kedatangan Jaka—ini yang membuat mereka tak habis pikir.

Banyak pemuda gagah tampan yang berusaha membuatnya lebih ceria, tetapi usahanya selalu nihil. Tapi kedatangan Jaka merubah segalanya, pemuda itu bahkan tidak perlu mengajak bicara atau merayu segala. Dengan demikian, beberapa pemuda yang naksir berat, harus mundur teratur, agaknya mereka tahu diri kalau si gadis sudah menjatuhkan pilihan hatinya, tapi Jaka mana tahu?!

Kalau Diah, hanya tersenyum tipis, lain lagi dengan Pertiwi dan Ayunda, mereka berdua lebih bebas, tawa geli keduanya, membuat wajah Jaka serasa terbakar.

Sial! Umpatnya dalam hati merasa gemas.

Tak memikirkan kejadian tadi, Jaka meluruskan tongkat bambunya, lalu mengguncangnya, seolah mengeluarkan isinya—dan memang bermaksud begitu.

Dua benda jatuh di tepi pembaringan, semua orang dapat melihat salah satu benda itu adalah seruling bambu. Mereka baru sadar, yang melilit dipinggang Jaka adalah bambu lentur.

Delapan tetua dan beberapa lelaki paruh baya terkesip kaget. Mereka menegaskan pandangan, ternyata memang benar sebatang bambu, bambu lentur!

Dua benda yang tadi, segera diambil. Jaka menyelipkan seruling kesayangannya dipinggang, lalu benda yang kedua adalah bungkusan kain—yang juga berwarna seperti bambu lentur itu, kuning—sepanjang dua jengkal. Besar gulungan kain itu lebih kecil dari rongga bambu, karena itu dapat dimasukan kedalam.

Namun ada satu pertanyaan melintas di tiap benak orang, dengan cara bagaimana tiap benda yang terdapat didalam bambu lentur itu tidak terlihat menonjol dari luar?

Mereka sempat melihat bambu lentur yang dijadikan ikat pinggang Jaka, sangat tipis, seperti layaknya sebuah ikat pinggang. Dalam kasus seperti itu hanya ada satu penjelasan, yakni apapun benda yang terdapat di dalam tongkat bambu lentur, pastilah memiliki sifat yang sama dengan bambu tersebut. Jika tidak? Mereka berniat menanyakan pada Jaka seusai pengobatan.

Jaka membuka gulungan kain itu, tiap hadirin merasa heran melihat apa yang terdapat didalam bungkusan itu. Tadinya mereka mengira isinya paling tidak ramuan obat-obatan, mungkin juga pil. Tapi tak disangka dalam bungkusan itu hanya berisi puluhan jarum besar dan kecil, kemudian empat buah pisau kecil yang berkilauan saking tajamnya, pisau itu sepanjang kelingking. Lalu ada beberapa tabung kecil, juga terbuat dari bambu.

Jaka mengambil pisau pertama. Dengan tindak yang halus dan berhati-hati, Jaka menyayat tiap sambungan tulang Rubah Api yang sebelumnya sudah ditotok. Darah keluar begitu pisau kecilnya menggores. Setelah selesai, Jaka mengambil bambu kecil seperti bambu tulup, ukurannya sejari kelingking bayi, kecil sekali. Bambu itu ditusukkan pada tiap sayatan di ruas tulang, para wanita berkerenyit ngeri melihat cara Jaka mengobati. Bahkan Rubah Api yang tadinya seperti orang mati, jari tangan dan kakinya memberikan rekasi dengan gerakan kecil. Tak berapa lama selesailah pekerjaan itu. Jaka duduk dan mendiamkan untuk sesaat. pemuda ini nampak sedang memikirkan sesuatu.

Iseng-iseng, Ki Benggala menghitung bambu yang menancap di tubuh Rubah Api. Tujuh belas buah! Pikirnya, wah… andai aku yang mengalami kejadian seperti ini, lebih baik kuurungkan saja. Siapa tahu ada cara pengobatan yang lebih baik. Setelah satu menit di diamkan, bambu-bambu kecil yang menancap itu terlihat bergetar sedikit.

Jaka tahu apa artinya, pemuda ini segera bangkit, lalu ia mengambil jarum besar dan kecil. Belum sempat orang menduga apa yang akan dilakukan dengan jarum-jarum itu, tangan Jaka bergerak cepat kesekujur tubuh Rubah Api, dalam lima hitungan, puluhan jarum sudah menancap dari kepala sampai ujung kaki. Orang awam mungkin hanya melihat gerakan tangan mengulap sepintas diatas tubuh Rubah Api.

“Ih..” beberapa wanita terdengar ngeri. Kondisi Rubah Api kali ini mengingatkan orang dengan seekor landak. Para wanita memang patut merasa ngeri, sebab puluhan jarum itu ada yang menancap miring, tegak lurus, bahkan menancap dalam. Tapi ada bagian yang tidak ditancapi jarum-jarum. Bagian ulu hati tempatnya, jarum yang menancap hanya ada disekitar dada.

“Tahap pertama selesai…” gumam Jaka kembali duduk.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Ki Benggala bertanya, ia tidak tahan untuk menanyakan keheranan hatinya.

“Tidak apa-apa, besok juga sudah sembuh…” sahut Jaka ringan. Mau tak mau orang yang mendengar jawaban Jaka yang begitu entengnya, jadi heran.

“Besok sembuh?” ulang Ki Benggala tak percaya.

“Ya, saya tadi mengira kondisi Rubah Api sudah sangat parah, ternyata tidak begitu mengkawatirkan. Memang harus diakui jika dia tidak mendapatkan pengobatan tepat, sampai waktu ajalnya nanti, dia akan tetap seperti mayat hidup…”

“Sebenarnya apa yang membuat Rubah Api seperti itu?” tanya Ki Benggala memotong penjelasan Jaka.

“Begini,” Jaka memulai penjelasannya dengan mimik serius. “Kondisinya bisa dijelaskan dalam empat hal. Pertama; sebelumnya dia sudah terluka parah saat melarikan diri. Untuk perbandingan, luka yang dia derita, baru sembuh jika sudah beristirihat dan melakukan pengobatan rutin selama satu bulan. Nah, bisa kita bayangkan luka seperti apa yang dideritanya.” Hadirin mengangguk paham.

“Kedua; saat terluka parah, dia memaksakan diri untuk melakukan serangan mendadak, akibatnya otot saraf pada tangan-kakinya, menggembung secara mendadak dan tiba-tiba menciut, sehingga darah bersih tak bisa mengalir sebagaimana mestinya. Sebenarnya luka seperti itu belum dapat dikategorikan parah, walau bisa membahayakan nyawa.

“Alasan ketiga, membuatnya jadi kategori luka parah, yakni serangan racun Panah Bunga Batu,”

“Wah, kalau tidak salah racun seperti itu hanya dipunyai ketua cabang atau wakil, dari perkumpulan…” tukas Ki Benggala.

“Paman benar,” tukas Jaka.

“Tapi, dari mana kau tahu itu racun Panah Bunga Batu?”

“Mudah saja mengetahuinya,” kata Jaka sambil tersenyum simpul.

“Apakah dari pemeriksaanmu tadi?” tanya Ki Benggala tak sabaran.

“Sebagian. Tapi pemeriksaan tidak bisa secepat itu jika kondisi korban begini parahnya. Memang dengan pemeriksaan, bisa diketahui racun apa yang mengendap didalam tubuh, namun harus dilihat berapa lama racun itu mengendap, makin lama racun itu mengendap, makin lama pula kita mengetahui racun jenis apa yang menyerang si korban. Saya tahu yang ada di tubuh Rubah Api adalah racun Panah Bunga Batu, karena sebelumnya saya pernah mendengarnya dari mulut Bergola.”

“Oo, begitu…” ujar Ki Benggala sembari tertawa.

“Hal keempat;” Jaka melanjutkan penjelasannya yang terputus. “Rubah Api memasuki kategori sangat parah karena dua mustika yang sempat ditelan oleh Rubah Api.”

Jaka tidak membahaskan ‘dipaksakan masuk’, namun ia mengatakannya ‘sempat ditelan’, karena ia tidak ingin menyinggung perasaan para tetua.

“Jadi mustika itu yang membuatnya makin parah?” tanya Ki Glagah heran.

“Sebenarnya tidak, tapi dalam kasus ini… dalam kondisi Rubah Api saat ini, adalah pengecualian. Seandainya Aki bisa menormalkan saraf kaki dan tangan Rubah Api, kasiat mustika itu pasti sangat berguna untuk pemulihan. Tapi berhubung saraf kaki dan tangan tertutup, kasiat mustika itu malah menjadi pemicu darah pada seluruh tubuh.”

“Pemicu?” Tanya Ki Benggala.

“Maksud saya, karena darah yang seharusnya mengalir pada kaki dan tangan tidak bisa masuk, maka dengan adanya dua musika, peredaran darah diseluruh tubuh makin cepat dan makin cepat. Akhirnya pada batas tertentu darah itu tidak bisa lagi mengambil udara yang terdistribusi oleh paru-paru, karena hawa dua mustika itu menghalanginya. Ohya, perlu diketahui sifat hawa mustika ini adalah nyaris hampa, em.. sebenarnya bukan hampa, tapi terlalu padat… jadinya hampir serupa hampa. Makanya aliran udara dalam darah sulit melewatinya.”

“Jadi sekarang bagaimana?”

“Kita tunggu saja, syukurlah Rubah Api belum sampai dua puluh hari dalam kondisi seperti ini,”

“Memangnya kenapa kalau sampai lewat dua puluh hari?”

“Darah dalam tubuhnya membusuk, karena tak sanggup mendapat udara, dalam keadaan seperti itu, pengobatannya akan memakan waktu sangat lama, bisa dua tahun, sampai sepuluh tahun. Tergantung… ehm, tergantung bagaimana kondisi tubuh Rubah Api.”

Ki Glagah tersenyum mendengar uraian Jaka. Mengenai kalimat terakhir tadi, hanya sebagai pembanding, bukan bermaksud menyombongkan diri, dan itu diketahui para tetua.

“Kau tahu semua kondisi Rubah Api seolah kau sendiri yang mengalaminya?!” komentar Ki Sugita. Dan kalimat itu, merupakan ‘pertanyaan’ yang ingin diketahui tiap orang. Ketika mereka mendengar uraian Jaka, mereka menyimpulkan, bahwa Jaka mengetahui semuanya semudah melihat telapak tangannya sendiri.

“Bagi yang mempelajari ilmu pengobatan, tentu saja akan tahu kondisi apa yang sedang dialami oleh pasiennya.” Jelas Jaka apa adanya, ia tak ingin mengatakan panjang lebar.

“Aku dan Adi Lukita juga mempunyai ilmu pengobatan, dalam dunia persilatan, kami juga dikenal dengan nama Tabib Manjur segala. Tapi kenapa kami tidak tahu kondisi Rubah Api?”

Jaka melegak mendengar uraian juga pertanyaan Ki Glagah. “Wah ini, ini…” Pemuda ini gelagapan, untuk sesaat ia tak bisa mengatakan sesuatu. “saya rasa Aki berdua hanya terlupa sesuatu. Biasanya kondisi kritis seseorang bisa membuat kita tegang dan melupakan hal penting…” kata pemuda ini sambil tersenyum serba salah.

“Terlupa?” ujar Ki Glagah tersenyum penuh arti. Dia sengaja bertanya seperti itu untuk memancing Jaka berterus terang dengan kemahirannya, agar dia bisa mengangkat harga dirinya dimata orang-orang perkumpulan. Sebab menurut pandangan Ki Glagah, mungkin ada anggota lain yang tetap memandang rendah dirinya, biarpun sudah berulang kali terpampang bukti. Tapi rupanya Jaka lebih suka dipandang rendah oleh orang lain.

Ki Glagah sudah kembali hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba tubuh Rubah Api bergetar.

Selamat… pikir Jaka. Ya, kondisi Rubah Api menyelamatkan dirinya untuk tidak menjawab pertanyaan Ki Glagah yang sanggup membuatnya serba salah.

Kaki dan tangan Rubah Api bergetar lebih keras dari reaksi yang pertama.

“Maaf, mohon Aki sekalian menjauh…” pinta Jaka.

Delapan tetua segera mundur sampai enam tindak, sebelumnya mereka berdiri hanya satu tindak dari samping pembaringan.

Setelah semua orang mundur, Jaka tempelkan telapak tangannya kirinya kebagian dada—bagian yang tidak ditancapi jarum. Pemuda ini mengambil nafas dalam-dalam, semua orang yang ada didalam ruangan mendengar tarikan nafas pemuda itu. Mereka merasa tegang.

“Hih!” dengan seruan tertahan, Jaka menyalurkan tenaga dalamnya ke dada Rubah Api.

Crat-crat-crat..!

Begitu tenaga dalam Jaka masuk, dari bambu-bambu kecil yang menancap diseluruh sendi, tiba-tiba menyemburkan darah berwarna hitam kental. Darah itu jatuh berhamburan dilantai, ada yang membasahi pembaringan.

Semua hadirin terkesip, mereka terkesip karena darah yang keluar bukan lagi berwarna merah, tapi hitam! Hitam seperti tinta! Dapat dibayangkan betapa parahnya luka yang diderita Rubah Api.

“Gila…” seru Ki Gunadarma terkejut begitu melihat lantai yang terpercik darah.
Jaka tidak menanggapi seruan itu, pemuda ini kembali menghentakkan hawa murni lebih besar lagi. Dan darah kembali menyebur deras seperti keluar dari pancuran.

Bulu kuduk semua orang makin berdiri menyadari bahwa dalam darah hitam itu ada sesuatu yang hidup, yang bergerak mengeliat seperti cacing, tapi ukurannya lebih kecil. Ternyata darah hitam itu terdapat semacam belatung. Kaum wanita memalingkan wajah agar tidak melihat pemandangan menjijikan itu.

Semburan darah itu berlangsung sampai delapan kali. Orang-orang baru sadar, Jaka yang berdiri dekat sekali dengan semburan darah itu, seharusnya terkena cipratannya. Tapi tak setitik warna hitam-pun terdapat pada baju.

Saat semburan yang keenam sampai kedelapan, barulah orang melihat dengan jelas mengapa Jaka tidak tersembur darah hitam. Karena tiap darah yang menyembur ketubuhnya, dalam jarak satu jengkal, langsung menguap tanpa bekas.

Hawa Pelindung yang luar biasa! Puji tiap orang dalam hati. Mereka makin tak bisa menjajaki seberapa lihay pemuda bernama Jaka Bayu itu.

Hawa Pelindung adalah tenaga murni yang terpencar dengan sendirinya jika ada bahaya atau sesuatu yang mengincarnya dari luar tubuh. Para Pemilik Hawa Pelindung, biasanya adalah tokoh berusia lebih dari enam puluhan, itupun belum tentu sehandal yang diperlihatkan Jaka. Dengan kejadian tadi mereka dapat mengira-ira, seberapa tangguh tenaga dalam Jaka. Mungkin lebih dari seratus tahun hasil latihan.

“Apakah itu Tenaga Semu?” pikir mereka yang sudah mendengar penjelasan Jaka.
Jaka melepas telapak yang menempel di dada, orang-orang melihat Jaka dengan kening berkerut. Saat itu, Jaka sedang mengamati darah hitam yang berceceran di pembaringan.

Dengan tangannya Jaka menjumput segumpal darah. Lalu melumatnya dengan jarinya, pemuda ini dapat merasakan darah itu kental, rasanya seperti memegang daging cair.

Sejauh ini cukup baik, pikirnya dengan lega.

Lalu ia melepas semua jarum dan bambu yang menancap disekujur tubuh Rubah Api. Jaka segera menelungkupkan Rubah Api. Seperti tadi, pemuda ini juga menancapkan puluhan jarum dan juga tujuh belas bambu, ke tubuh belakang Rubah Api.

Kalau sebelumnya, begitu ia selesai menancapkan jarumnya, Jaka harus menunggu lama, kali ini ia tidak menunggu lama lagi. Sebab begitu semuanya selesai menancap, tubuh Rubah Api langsung berekasi. Tanpa banyak pikir lagi, Jaka menampar pelan ubun-ubun lelaki itu.

Pemandangan menakjubkan segera terpampang di depan semua orang. Kecuali tujuh belas bambu, jarum-jarum yang menancap di tubuh Rubah Api mencelat dan jatuh—bagai sudah diatur—disisi pembaringan, tidak satupun yang jatuh kelantai.

Secercah senyum tipis tersungging di bibir Jaka, dengan gerakan cepat, Jaka menotok beberapa urat nadi dan syaraf di punggung dan leher Rubah Api. Selang sepuluh hitungan kemudian, tujuh belas bambu kecil juga turut mencelat dan jatuh tergulir di samping pembaringan. Dari lubang yang dibuat oleh tujuh belas bambu kecil itu, menyemburlah darah hitam. Tapi hanya sekali saja, pada semburan kedua, darah sudah merah, normal! Lagi pula tidak sekental darah pertama!

Pemuda ini menyeka keringat dikeningnya, ia kembali membalikkan Rubah Api agar terlentang. Dari gulungan kain, ia mengambil empat bilah pisau kecil. Dengan hati-hati, Jaka menancapkan pisau itu di kedua lengan dan kedua telapak kaki. Lalu puluhan jarum yang jatuh tadi, segera ia tancapkan di bagian kaki dan tangan.

Racun sudah sirna, luka sudah sembuh. Sayang, tenaga dalamnya punah. Semoga dua mustika yang sudah dia telan sanggup memulihkannya. Batin Jaka sambil meraba leher dan bawah telinga Rubah Api, tapi begitu meraba dada dan simpul kecil perutnya, kening Jaka berkerut. Rupanya aku keliru.

Satu menit Jaka menunggu rekasi Rubah Api, namun orang itu tidak menunjukkan rekasi apa-apa. Enam menit kemudian, Rubah Api menunjukkan getaran tubuh, walau tak jelas.

Untung, pikir Jaka. Andai lima menit kemudian kau belum juga menunjukan reaksi, maka seumur hidupmu kau hanya bisa berbaring saja.

Jaka segera bertindak, kedua tangannya serentak menghentak dada dan perut Rubah Api. Dalam tujuh hitungan saja, bagian lengan dan kaki Rubah Api, tiba-tiba membengkak dua kali lipat. Hadirin terkejut sekali melihat kejadian itu.

Jaka tidak terpengaruh dengan perubahan itu, ia tetap menyalurkan hawa murni untuk mencairkan dua mustika yang masih menggumpal di lambung dan usus halus. Dari seluruh pori-pori tubuh Rubah Api, mengeluarkan banyak keringat. Lengan dan kaki—sebatas betis, masih tetap menggembung—bahkan makin besar, seakan sebuah aliran air yang terbendung dan sedang mencari jalan untuk menjebol bendungan.

Jaka menarik tangannya, dia menyedot nafas dalam-dalam hingga bunyi mendesis terdengar. Untuk sesaat, Jaka menahan nafasnya dan memperhatikan lengan dan kaki Rubah Api. Ternyata begitu aliran tenaga murninya berhenti, tangan dan kaki Rubah Api hanya kempes sedikit.

Banyak juga pembuluh darah yang tersumbat, pikir pemuda ini. Dengan lengkingan tertahan, Jaka menghentakkan tangannya lagi ke dada dan perut. Kali ini hentakkan tanganya tidak selembut tadi, bahkan keras sekali. Orang-orang sampai mendengar suara ‘buk-krak’, seolah-olah pukulan Jaka menghancurkan tulang dan melukai isi perut Rubah Api.

Begitu arus tenaga yang lebih besar lagi masuk, tangan dan kaki Rubah Api tiba-tiba mengejang sampai terangkat, dan membengkak lima kali lebih besar! Pada saat itu juga jarum dan pisau yang menancap juga jatuh tergulir kesamping pembaringan.

“Iih..!” beberapa orang tampak terpekik kaget, sebab bukan tangan dan kaki saja yang mengejang sampai terangkat keatas, bahkan leher Rubah Api juga menggembung, sampai-sampai kepala Rubah Api juga ikut terangkat.

Melihat kejadian itu Jaka tersenyum tipis, ia mencuci tangannya lalu segera bergerak menjauhi pembaringan dan berdiri dekat dengan para sesepuh.

“Ada apa ini?” tanya Ki Benggala cemas juga bingung.

“Tidak apa-apa paman, itu hanya tahap akhir pengobatan, setelah ini, Rubah Api sembuh seperti sedia kala. Bahkan kemungkinan besar tenaga dalamnya bertambah kuat, dari tenaga semula.”

“Oh…” Bukan hanya Ki Benggala saja yang terperanjat, tapi hampir semua orang juga terkejut.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Ki Banaran.

“Itu berkat dua mustika yang sempat ia telan.” Jelas Jaka. “Saya meleburkan mustika itu dalam darahnya sehingga tenaga dalam yang seharusnya punah, terhimpun kembali dan juga bertambah kuat. Kalau saya tidak salah hitung, sekarang, paling tidak Rubah Api memiliki tenaga setara seratus tahun hasil latihan.”

“Wah, beruntung benar dia…” gumam orang tua itu.

“Di tambah lagi ia tidak ada masalah dengan darahnya.” Sambung Jaka.

“Maksudnya?”

“Harus diketahui, mustika akar bunga gurun bisa membuat siapa yang memakannya tidak akan kekurangan darah lagi, misalnya saja dengan pengobatan tadi. Darah dalam tubuh Rubah Api sudah keluar hampir sepertiganya. Dalam kondisi normal, dia sudah sangat kritis, sebuah keajaiban jika masih hidup. Tapi berkat mustika tadi, jumlah darah dalam tubuhnya akan pulih seperti sedia kala—dalam tempo singkat.”

“Oh, begitu rupanya…” gumam Ayunda yang dari tadi memperhatikan Jaka dengan serius.

“Sayang…”

“Kenapa?”

“Tenaga besar yang dimiliki Rubah Api, hanya bisa dikeluarkan tujuh atau delapan bagian saja.”

“Sebab apa?” kali ini Ki Lukita yang bertanya.

“Karena Rubah Api memiliki kekuatan dalam kondisi kritis seperti saat ini, jadi hanya pada saat seperti inilah seluruh bagian tenaganya baru bisa dia keluarkan.”

“Maksudmu jika dia hampir mati, baru bisa mengeluarkan tenaga besarnya itu?”

“Benar. Itu juga tergantung dirinya. Pada saat terdesak bisa saja dia mengeluarkan tenaga itu asal dalam pikirannya ia beranggapan sudah tidak bisa lolos, maka tenaganya bisa terbebas seluruhnya.”

Semuanya mengangguk-angguk paham. “Apakah kondisi seperti ini hanya untuk Rubah Api?” tanya Pertiwi.

“Tidak juga, orang lain juga bisa… tapi kita juga harus melihat kondisinya dulu… tapi apapun itu, yang jelas kemalangan ini memang keberuntungan buat Rubah Api, andai dia tidak dalam kondisi luka parah, biarpun menelan sekarung mustika Akar Bunga Gurun, tenaganya paling hanya maju sampai dua puluh tahun hasil latihan.”

“Eh, kenapa begitu?” ujar Ki Lukita terkejut.

Jaka tersenyum sambil meraba pinggangnya—itu gerakan kebiasaan jika seruling ada dipinggangnya.

“Memang harus diakui, bahwa Akar Bunga Gurun merupakan mustika yang memiliki kasiat banyak, dan dapat menambah tenaga dalam setara dengan lima-enam puluh tahun hasil latihan. Namun ada kenyataan yang harus diketahui, bahwa kasiat mustika itu akan benar-benar tercerna seluruhnya tergantung pada kondisi susunan tulang, otot, dan saraf, masing-masing orang.”

“Jadi…”

“Ya,” Jaka menukas ucapan gurunya. “Lima atau enam puluh tahun hasil latihan menurut saya, itu adalah hasil maksimal mustika itu. Kemungkinan besar, orang yang pernah menelan mustika itu—atau semua mustika yang bersifat membangkitkan tenaga tersembunyi, hanya bisa berkembang paling banyak empat bagian saja.”

“Kalau begitu…”

”Kalau begitu, orang yang pernah menelan mustika serupa, hanya bisa mengembangkan kasiat maksimal sebesar empat bagian.” Potong Jaka menjelaskan lagi. “Dan saya melihat, Rubah Api tidak memiliki kecocokan dengan khasiat mustika. Seperti yang saya katakan, biarpun sekarung mustika yang ia telan, tenaganya tak lebih hanya maju dua puluh tahun hasil latihan…”

“Susunan tubuhnya tidak cocok?” ujar Ki Glagah.

“Benar.”

“Jika analisamu benar, kenapa sekarang bisa berkembang begitu hebat?”

“Karena dia dalam keadan terluka.”

“Oo… jadi,”

“Benar!” Jaka memotong lagi. “Tiap orang dapat memaksimalkan kasiat tiap mustika jika dia dalam keadaan hampir mati. Namun keadaan sekarat juga bukan jaminan untuk mengembangkan kasiat tiap mustika!”

Tiada lagi yang bertanya, sebab pikiran mereka sedang sibuk dengan penjelasan Jaka.

Diam-diam orang-orang yang pernah menelan mustika itu menghela nafas getun. Pantas saja selama ini aku merasa kurang ada kemajuan, ternyata tenagaku hanya bertambah paling banyak tiga atau empat puluh tahun hasil latihan, pikirnya.

Bagi mereka—orang-orang perkumpulan Garis Tujuh—naiknya tenaga murni hampi 40 tahun hasil latihan bukan kemajuan, namun bagi kaum dunia persilatan, kekuatan orang-orang ini merupakan kekuatan seorang mega bintang. Seorang yang juga dikategorikan memiliki kesaktian dahsyat.

“Tapi apakah semua orang harus mengalami sekarat lebih dulu?” tanya wanita berusia 30-an.

Jaka menoleh, ia tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya. “Dalam hal ini, saya bisa menjelaskannya dengan istilah jodoh. Jodoh dalam arti kata, bahwa orang itu memiliki susunan tulang, otot, saraf dan nadi yang cocok untuk sebuah mustika tertentu. Jadi dengan demikian, hanya dengan ditelan mentah-mentah saja, mustika itu akan mengembangkan potensinya sampai batas paling tinggi.”

Bukan cuma wanita itu yang mengangguk paham, kelihatannya semuanya juga mengangguk penjelasan Jaka membuka pikiran mereka.

“Apakah mustika yang sudah ditelan bisa dikembangkan lagi potensinya?” tanya murid kedua Ki Lukita.

“Bisa dan tidak,” jawab Jaka. “Bisa, jika dalam keadan tertentu. Dan, tidak… juga dalam keadaan tertentu.”

“Misalnya?” tanya Pratiwi bingung.

“Bisa yang kumaksud adalah, manakala waktu kau memakan akar mustika itu belum terlalu lama, dengan sendirinya.. kasiatnya belumlah terbuang percuma.”

“Ooo…” gadis ini manggut-manggut. “Dan, kau bisa melakukannya? Memaksimalkannya?” sambungnya dengan mata berbinar.

Jaka tak menjawab, ia berpikir sejenak lalu pemuda ini mengangguk, “Mungkin bisa…” Mau tak mau bukan cuma orang itu saja yang terkesip, semuanya juga terperanjat dengan kepastian Jaka.

Pemuda ini kembali berkonsentrasi penuh dengan kondisi Rubah Api. Jaka memegang lengan dan kaki serta leher yang membangkak besar sekali. Anggota tubuh yang membengkak itu juga mengejang, sehingga sepintas lalu, kaki, tangan, dan kepala, di ikat dengan benang dan digantung diatas, terlihat memprihatinkan.. juga menggelikan.

Satu dua jam kemudian, jarum dan pisau baru terlepas dengan sendirinya, pikir Jaka setelah memeriksa dengan seksama. Lalu pemuda ini berjalan menghampiri gurunya. “Guru, lebih baik kita keluar dari kamar ini.”

“Eh, memangnya kenapa?”

“Kondisi Rubah Api tidak akan berubah sampai beberapa lama. Bukankah kita bisa mempergunakan waktu ini untuk hal lainnya?”

“Benar juga!” gumam Ki Lukita. Ki Glagah dan sesepuh lainnya juga setuju.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s