37 – Menabur ‘Salah Paham’

“Tugas pertama yang kalian emban saat pertama kali menjadi anggota—seperti saat ini—adalah menyiasati keadaan. Dalam perkumpulan kita sudah ada delapan kelompok kecil. Rata-rata dari mereka sudah memiliki anggota lebih dari dua belas orang. Jadi dengan kelompok baru ini sudah ada sembilan. Kalian berlima harus dapat menentukan pendirian, sebab dalam perkumpulan kita, bagi yang gagal menjalankan tugas, akan memperoleh sanksi dan jika berhasil tentu saja memperoleh pahala—tentu imbalannya memuaskan,”

“Maaf…” tiba-tiba saja Jaka menyela sambil bangkit berdiri. Sampai saat itu kelima muda mudi tersebut masih berlutut, namun pada saat bicara tanpa mengurangi rasa hormat kepada delapan tetua, Jaka memutuskan untuk berdiri.

Semua orang berkerut kening melihat tingkah Jaka yang di nilai kurang sopan juga tidak bertata krama. Tapi menurut pandangan delapan tetua justru tidak begitu.

“Ada yang ingin kau sampaikan?!” tanya Ki Banaran—orang ketiga.

“Benar!” Jawab Jaka tegas, wajah yang biasanya penuh senyum kini terlihat sangat serius, bahkan Ki Lukita yang paham perangai Jaka—diantara mereka, tidak tahu pergolakan apa yang membuat pemuda itu jadi begini serius.

Padahal, mereka mana tahu, Jaka kembali memainkan peranan tadi pagi… seorang pemuda yang mudah meledak-ledak. Tadinya, Jaka hendak menyudahi peran karakter eksplosifnya, tapi mana kala dia melihat jarum yang digunakan dalam upacara, pertimbangan Jaka-pun kembali ditinjau. Dia sangat kenal dengan jarum itu, bahkan sebelumnya pernah merasakan derita tanpa ujung gara-gara jarum itu… menjadi sebuah masalah menarik manakala jarum itu muncul di dalam perkumpulan yang mengatasnamakan kebenaran. Jaka berminat menyelidikannya sampai tuntas.

“Kalau tugas seperti yang disampaikan tetua ke empat, maka dengan penuh hormat saya lebih suka mengundurkan diri dari perkumpulan ini, dan dengan menyesal pula saya menolak menjadi murid Aki Lukita!”

Perkataan Jaka bagi empat orang gadis—yang mengikuti upacara bersamanya, rasanya bagaikan halilitar di siang bari bolong. Bagitu juga dengan yang mengikuti jalannya upacara tadi, sesaat mereka berharap salah dengar… ternyata tidak!

Namun bagi delapan tetua, ucapan Jaka tentu saja memiliki dasar tertentu, karena itulah mereka tidak merasa heran.

“Bisa kau jelaskan mengapa?” tanya Ki Banaran dengan suara lunak.

“Kalau tujuan yang dilandasi dengan keadilan dan kebenaran—seperti pedoman perkumpulan—‘dirusak’ dengan pelaksanan tugas berimbalan, dan hukuman, sudah jelas pelaksanaannya tidak akan sebersih yang diharapkan! Kebenaran dan keadilan tidak tumbuh dari pamrih, tapi dari sini…” Jaka menunjuk dadanya. “Jika untuk jangka panjang kondisi seperti ini terus dipertahankan, akan banyak orang munafik di tempat ini, semuanya akan berpikiran, bahwa; ‘setelah tugas selesai, aku akan mendapatkan ini-itu’, itu tidak baik. Seharusnya tanam dalam-dalam, hakikat kebenaran di dada masing-masing, sebelum membuat peraturan yang menurut saya konyol. Hal itu akan mempengaruhi kinerja kelompok, kita akan selalu mengerjakan tugas kita dengan sebaik mungkin hanya karena rasa takut mendapat hukuman, kalau begitu dimana rasa keadilan? Mungkin ini bagus bagi pembinaan disiplin, tapi tidak untuk jangka panjang.

“Lagipula—sedikit-banyak—dalam hati, kita akan menginginkan imbalan yang tentu akan makin banyak dari waktu kewaktu, jika sekarang puas dengan yang kecil, besok dia tidak akan merasa puas! Dia akan menuntut imbalan tidak tanggung-tanggung, yang menurut pikiran sesuai dengan hasil kerja. Kalau sudah begitu, saat menjalankan tugas, tentu tidak segan menghalalkan segala cara! Hal inilah yang saya hindari! Saya sangat berterima kasih atas perhatian para tetua. Cuma, saya masih belum kehilangan pertimbangan, saya tak sanggup hanya mengiyakan sebuah aturan!”

Senyap… semua orang terpana dengan ucapan Jaka, memang apa yang dikatakan Jaka benar adanya. Dan mereka yang menjadi ketua kelompok kecil juga merasakan kebenarannya, sebab selama menjalankan tugas, tak sedikit cara buruk yang mereka kerjakan—walaupun dalam hati diam-diam menyangkal ketidak adilan cara mereka sendiri.

Tapi anehnya delapan tetua itu tenang-tenang saja mendengar alasan Jaka. “Kalau memang tugas yang digariskan seperti itu, kau benar-benar ingin keluar?”

“Ya!” sahut Jaka tegas.

Ki Wisesa yang mengajukan pertanyaan tadi tersenyum, sepertinya ia memahami sesuatu.

“Kau tidak ingin tahu imbalan apa yang diberikan seandaianya tiap tugas berhasil?”

Meskipun Jaka sedang memainkan peranan sebagai pribadi yang lain, mendengar pertanyaan Ki Wisesa, mendadak Jaka merasa peranan kali ini, dia memutuskan membiarkan dirinya terhanyut dalam sifat eksplosive.

Wajah pemuda ini menampilkan mimik tawar, seolah merasa jemu, tapi sebagai angkatan muda, Jaka tidak akan bertindak kurang hormat, karena itu menanggapi pertanyaan Ki Wisesa ia hanya menggeleng.

“Imbalan yang diperoleh adalah mustika-mustika tak ternilai harganya, salah satunya sebuah mustika yang menjadi impian kaum pesilat, yakni Akar Bunga Gurun. Mustika ini mempunyai kasiat luar biasa, bagi yang mempelajari tenaga dalam, dengan meminum ramuan Akar Bunga Gurun, tenaga dalamnya akan bertambah tujuh puluh tahun hasil latihan, dan mustika ini juga bisa menyembuhkan orang yang sudah sekarat.”

Mendengar keterangan itu, Jaka tersenyum dingin, bukannya tertarik, tapi makin kecewa!

“Oh ternyata begitu..” gumamnya.

“Ya, bukankah ini imbalan yang setimpal?” tanya Ki Wisesa menyelidik.

Pemuda ini menggeleng. Masa, bisa menyembuhkan orang sekarat? Nasib Rubah Api yang sekarat kelihatannya tak terpikir. Kelihatannya ada banyak kebijakan yang perlu dibenahi. Sebuah tugas lebih berharga dari pada nyawa? Tugas macam apa? Sungguh komitmen ngawur hanya dimiliki prajurit yang cuma bisa mengiyakan perintah! Padahal tugas itu belum tentu penting untuk orang banyak. Pikir Jaka menganalisis.

“Kau tidak tertarik?” tanya Ki Wisesa heran.

“Tidak!” sahut Jaka dingin. “Kalau sekedar meningkatkan tenaga dalam sebesar tujuh puluh tahun hasil latihan, saya bahkan bisa meningkatannya lebih besar, tak perlu menggunakan mustika segala!”

Perkataan Jaka yang dingin dan hambar itu membuat hati semua orang tercekat, mereka merasa sangsi. Dari dulu hingga sekarang mana ada orang sanggup melatih atau membuat dirinya bisa mencapai tenaga dalam yang lebih dari seratus tahun hasil latihan? Kalaupun ada, secara normal, tentunya orang itu sudah berusia seratus tiga puluh tahun, dan ia memiliki hasil latihan seratus lima belas tahun, atau karena ia mendapatkan mustika sejenis Akar Bunga Gurun. Tapi kalau yang mengucapkan adalah seorang pemuda berusia 20-an tahun, siapa bisa percaya?

“Apalagi hanya untuk menyelamatkan orang sekarat, saya juga bisa! Sungguh menyesal saya memasuki perkumpulan yang memiliki prinsip kebenaran kerupuk!” sambung Jaka dengan suara getas, makin terhanyut dengan peranannya.

Ucapan Jaka yang terakhir itu membuat orang-orang selain delapan tetua dan empat gadis yang ada disampingnya, marah besar.

“Tutup mulutmu!” bentak lelaki berusia empat puluh tahun. Lelaki itu adalah orang yang pernah membukakan pintu untuk Jaka. “Tarik kembali ucapanmu!”

Bentakkan yang keras dan sarat hawa membunuh itu tak membuat Jaka menoleh atau menggubrisnya. Padahal orang itu sengaja berteriak untuk membuat Jaka sadar dan insyaf atas cacian yang kelewatan.

“Bocah keparat!” geramnya marah. Tanpa disangka oleh siapapun, lelaki itu menghantamkan sebuah pukulan ke punggung Jaka. Pukulan itu disertai lima bagian tenaganya.

“Menyingkar Jaka!” seru Diah Prawesti dengan panik.

Orang-orang terkejut dengan seruan peringatan si gadis dingin ini. Mereka paham jika sedang ada upacara seperti saat ini, kecuali para tetua, yang lain tidak boleh bersuara. Tapi gadis itu bahkan bersuara keras.

Tapi dia mana perduli dengan peraturan perkumpulan. Karena dia tahu benar lima bagian tenaga si penyerang sangat berdaya bunuh besar, dan ia mengawatirkan keselamatan Jaka.

Bagi orang yang menguasai ilmu mustika, lima bagian tenaga sudah sangat dahsyat untuk ukuran kaum persilatan—apalagi orang yang menyerang itu memiliki tenaga sakti hasil latihan sebesar delapan puluh tahun, bisa dibayangkan bobot lima bagian atau sekitar 500 kilo melabrak manusia, entah jadi apa!

Suara berkesiuran angin terdengar deras sekali. Empat gadis yang masih berlutut disamping Jaka segera bangkit berdiri dan menyingkir, wajah mereka tampak pias—jelas sekali kalau mereka mencemaskan keadaan Jaka, tapi mereka tidak berani lancang bertindak. Delapan tetua juga bergerak menyingkir kesamping. Hanya Jaka yang tidak menyingkir.

Melihat itu, Diah hendak menuburuk Jaka supaya bisa terhindar pukulan tadi. Tapi tindakannya dicegah Ayunda, mereka saling berpandangan, wajah kedua gadis ini tampak pias. Merasa bahwa dua perasaan gadis ini ternyata sama, keduanya jadi malu.

Tinggal sejengkal lagi pukulan itu sampai di punggung Jaka, dan saat itu juga…
Blang!

“Aiih…” Ayunda dan Diah terpekik kaget.

Punggung Jaka terpukul telak, tapi pemuda itu sama sekali tidak terpental, jangankan terpental, tergetarpun tidak. Lelaki yang menyerang Jaka terbengong-bengong takjub juga heran.

“Gila, tenaga yang bisa menghancurkan batu karang, dapat ditahan sebaik itu?” pikirnya dengan hati diliputi perasaan jeri.

Dilihatnya Jaka membalikkan tubuh, tiap orang bisa melihat seulas senyum dibibir pemuda itu. Tapi ada yang aneh, senyum itu tak sehangat biasanya, tapi berbau bencana, mungkin.. kematian!

“Selama berkelana, saya tidak pernah memukul orang dari belakang. Prinsip saya, melakukan segala sesuatu itu tidak selalu didasari dengan kekerasan. Kelihatannya kali ini saya harus melanggar prinsip sendiri, saya melihat apa yang disebut kebenaran disini belum lagi lahir!” kata Jaka sambil menghela nafas panjang.

Namun ucapan yang tenang dan tidak memiliki emosi itu membuat bulu kuduk tiap orang berdiri.

“Kelihatannya saya memiliki prinsip yang tidak sama dengan perkumpulan ini. Apa yang saya katakan, tak pernah saya ingkari! Seorang manusia lebih unggul dari segala macam ketergantungan pada benda mustika yang banyak diharapkan orang. Akan kutunjukan apa yang kuucapkan tadi bukan bualan! Meski tanpa mustika, manusia sanggup membangkitkan potensinya. Akan kuperlihatkan sebuah perbedaan besar… kurasa tenaga lebih dari seratus tahun latihan, cukup memadai.” desisnya.

Usai bicara, tangan Jaka bergerak pelan, gerakan tangan Jaka yang membentuk sebuah ritme mirip tarian, begitu pelan dan sangat teratur, tapi terlihat seolah digantungi beban berat. Dari gerakan itu mereka bisa merasakan sebuah kekuatan dahsyat perlahan berpendar keluar.

Gila! Kekuatan ini mungkin ada lima kali lipat dari hawa dingin yang ia keluarkan tadi! Pikir tiap orang merasa kagum, juga… ngeri.

Tentu saja yang paling bergidik adalah dia yang menyerang Jaka. Baru gerakan pelan saja, tubuhnya sudah tergetar nyaris terdorong, konon lagi kalau Jaka menghempaskan pukulannya? Mau jadi apa dirinya? Tapi sebagai murid Naga Kepalan Baja, tentu nyali orang itu tidak kecil, dengan penuh keberanian, ia bersiap memapaki pukulan Jaka.

Gerakan Jaka makin lama makin lambat. Tapi hawa yang dipancarkan Jaka benar-benar membuat tiap orang merasa dirinya terancam. Bangunan rumah yang kokoh itu berderak perlahan. Lantai yang dipijak Jaka sudah melesak sebatas betis. Mereka bisa menduga sehebat apa pukulan Jaka jika mengenai orang, diam-diam mereka mengeluh.

“Cukup Jaka!” bentakan halus yang mendengung itu membuat gerakan tangan Jaka terhenti, sesaat ia melihat Ki Lukita yang berdiri dengan wajah serius, tak seramah sebelumnya. Di punggung Ki Lukita menempel tujuh tangan yang siap melontarkan tenaga dalam gabungan apabila Jaka nekat melepaskan pukulan pada murid kedua Ki Lukita.

Jaka tertegun, dia merasa yang dilakukannya tadi diluar kendalinya. Dia memang sengaja menghayutkan diri dalam peranan sebagai orang yang gampang meledak-karena itulah karakter masa lalunya, tak disangka dirinya ternyata hampir lepas kendali. Astaga, apakah aku sangat emosi? Apakah aku marah? tanyanya dalam hati. Dia memejamkan matanya dan mengatur pernafasannya agar teratur kembali, berusaha meneteramkan perasan hatinya yang tiba-tiba bergolak, padahal selama ini pemuda ini jarang marah. Terbayang dibenaknya saat tukang angon kuda di rumahnya memberi wanti-wanti padanya.

‘Tuan muda, bagaimanapun keadaan tuan, cobalah jangan sekali-kali tuan marah… berlatihlah untuk sabar, dan berpikiran jernih, sebab jika tuan marah kebenaran akan tertutup di puluk mata, banyak yang menjadi korban. Kecuali… kecuali…’

Jaka terngiang nasehat si tukang angon kuda—yang ia sebut kakek baik hati—saat ia berusia tujuh tahun, sebagai nasehat seorang yang sayang pada dirinya. Jaka mengingat-ingat apa yang pernah ia dengar dari mulut bijak si pengangon kuda dirumahnya.

Ya, hanya satu nasehat, jangan marah… jangan terbawa emosi! Belajar bersabar! Nasehat itulah yang selalu didengungkan di telinga Jaka dari kecil hingga ia berusia sembilan tahun.

Kenapa aku bisa lupa? Aku lupa nasehat kakek… pikir pemuda ini sambil memejamkan mata, tangannya mengepal kencang. Orang lain mana tahu pergolakan batin pemuda itu, karena diluarnya Jaka tak menampilkan perasanannya.

Tiba-tiba mereka terbelalak, kaki Jaka yang terbenam sampai pertengahan betis, mendadak terangkat, tanpa digerakan pemuda itu! Seolah ada tali gaib yang menarik Jaka ke atas.

Diah mendekati Jaka dan menyentuh lengannya. Wajah yang biasanya pucat sesaat merona merah, namun kembali memucat.

Sesaat kemudian, pemuda ini membuka matanya. Ia menoleh, dilihatnya Diah sedang mencengkeram erat lengannya. Gadis itu melihat dirinya sambil menggeleng, lalu perlahan ia lepas cengkramannya.

Jaka tersenyum sambil mengangguk, ia melihat orang-orang sudah berdiri didekat pintu, bahkan beberapa orang sudah ada yang keluar. Jaka menatap lelaki yang tadi menyerangnya, “Maaf…” katanya sambil menjura.

Mereka bingung melihat perubahan sikap Jaka. Mereka pikir apakah itu karena Diah atau…?

Sikapnya begitu membingungkan… sebentar seperti orang sedang murka, tapi dilain saat begitu tenang. Herannya, pergolakan perasan pemuda itu tak terlihat dari luar. Kali ini Jaka sangat sukses menanamkan karakternya di benak mereka.

Murid kedua Ki Lukita, segera balas menjura. “Seharusnya saya yang meminta maaf, saya bertindak kelewat ceroboh.. maklum saja, sejak muda hal yang tidak pernah kumiliki adalah kesabaran.” Jaka menanggapinya dengan senyuman saja.

“Jaka kita perlu bicara…” ujar Ki Lukita sambil mendekati pemuda itu. Jaka mengangguk tanpa menjawab.

Begitu Ki Lukita berkata demikian, serentak orang-orang yang masih ada diruangan itu segera keluar. Didalam ruangan itu tunggal Jaka dan empat gadis cantik serta delapan tetua.

Tanpa diminta, empat gadis itu masuk keruang dalam, dan dengan cekatan, dalam beberapa saat saja tiga belas kursi sudah ada disitu. Tiga belas orang itu duduk saling berhadapan, Jaka dan empat orang adik seperguruannya duduk bersebelahan, sementara delapan tetua duduk didepan mereka dengan posisi kursi agak melingkar.

Suasana hening sekali, bahkan orang-orang yang ada diluar juga diam semua, tidak ada yang bercakap-cakap. Andai jarum jatuh diruanganpun, tiap orang bisa mendengarnya.

“Apa yang membuatmu begitu gusar?” tanya Ki Lukita.

“Hh,” Jaka menghela nafas sambil memejamkan matanya. “Entahlah, dalam sekejap tadi semua rasa dan pertimbangan emosi saya sepertinya lenyap. Mungkin salah satunya dipicu oleh syarat perkumpulan ini yang tidak cocok dengan prinsip dasar.”

“Kau tidak bisa disalahkan,” ujar Ki Lukita sambil menghela nafas getun. “Semuanya memang sudah peraturan sejak jaman perkumpulan ini didirikan. Dulu, saat aku dilantik menjadi anggota perkumpulan ini beserta rekanku yang lain juga merasa janggal dengan apa yang di cetuskan terakhir tadi. Namun para orang tua kami mengatakan, kalau semuanya sudah merupakan aturan leluhur…”

“Aturan leluhur memang perlu dilestarikan, tapi kalau sudah usang, tak cocok untuk generasi berikutnya, harus dilakukan pembenahan disana sini. Terus terang saja, tentang satu imbalan dan hukuman dalam mengerjakan tugas, memang ada segi baiknya, tapi lebih banyak segi buruk. Dengan pamrih bernilai besar, tiap tugas dapat dikerjakan sempurna. Kelihatannya berdedikasi dan berdisiplin tinggi, dengan ketepatan waktu dalam penyelesaian masalah.

“Tapi dampak buruk pengerjaannya sudah pasti tak bisa dimaklumi! Segala cara dipakai, mungkin berupa pemaksaan, penganiayaan. Kalau digunakan pada seorang durjana, masih bisa dipertimbangkan. Tapi kalau untuk orang yang benar-benar tidak bersangkutan—anggaplah untuk kekeliruan sebuah informasi—bukankah akan ada korban? Disamping itu cara memberi imbalan untuk tiap tugas yang sukses, juga lambat-laun akan membentuk esensi keadilan hilang, niat yang luruh perlahan menjadi bengkok, hatinya kian tercemar.

“Hati yang dulunya tidak berpamrih, kini mulai ada angan-angan untuk mendapatkan ini-itu. Apabila jalan menempuh angannya terbetang lebar, akan timbul cara-cara keterlaluan, bahkan biadab!

“Mungkin dia yang membuat peraturan ini, masih diliputi sebuah kejadian, nafsu… dia berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang besar! Sayang gagal, karena itu dia lampiaskan kepada anggota perkumpulan yang dibentuknya. Dan yang saya herankan, tidakkah pada anggota menyadari semua ini? Memang terlihat sederhana, mendapat imbalan jika berhasil, hukuman jika gagal… tapi masalah ini jadi sangat rumit kalau dilihat dari prinsip kebenaran! Karena itulah saya mengatakan semua itu hanya kebenaran semu, kamufalse semata… sebenarnya sasaran apa yang akan dicapai perkumpulan ini? Kelihatannya lambat laun makin jauh dari sumpah—atau bahkan dari awalanya memang sudah melenceng?”

Analisa Jaka, atau lebih tepat dikatakan unek-uneknya, membuat delapan tetua paham dengan kegalauan hatinya.

“Apa yang kau katakan benar, memang ada beberapa peraturan yang bertentangan dengan perinsip dasar perkumpulan. Tapi terus terang saja kami tidak berani merubahnya, bukan karena takut, tapi karena segan dengan warisan leluhur.”

“Ah, lagi-lagi masalah menyandang nama keluarga,” desah Jaka dengan nada berat. “Manusia lahir tanpa nama, tanpa kehormatan, tanpa harga diri, begitu sirna ia ingin semuanya di ingat orang lain. Sebenarnya bukan itikad jelek, hanya…” pemuda ini mendesah lagi.

Ki Lukita dan beberapa orang lainnya juga mendesah perlahan mendengar ucapan Jaka tadi, “Keinginan manusia itu beragam, ada yang kelihatan dan terdengar janggal, namun kalau dikaji secara seksama bisa mendapatkan pengertian yang dapat ditoleransi. Kalau dipikir-pikir, apa yang kau cemaskan tidak akan terjadi jika pelaksanaannya benar-benar diawasi dengan ketat.”

“Semoga demikian,” desah Jaka gundah.

Suasana kembali hening, “Kalau begitu, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian sudah memutuskan bahwa persoalan ini ada hubungannya dengan kalian atau tidak?” Ki Wisesa memecahkan keheningan dengan bertanya pada keempat gadis yang duduk disamping Jaka.

Mereka saling berpandangan, akhirnya sepakat. Mereka mengangguk. “Dalam peraturan leluhur, tidak ada istilah batal kalau sudah menjadi seorang anggota perkumpulan. Karena itu tentu saja kami berempat juga terlibat dengan masalah saat ini.” Kata Ayunda yang menjadi juru bicara.

“Dan apapun keputusan yang diambil Jaka, kami mengikutinya.” Sambung Diah Prawesti.

“Kalau begitu, kalian sudah menganggap Jaka sebagai ketua kelompok kalian?”

“Benar! Karena dia laki-laki dan memiliki potensi, sebelumnya kami memang sudah sepakat untuk mengangkatnya menjadi ketua kelompok kecil. Dan karena masalah ini ditimbulkan oleh ketua kami, maka sebagai anggota kami tidak mungkin berlepas tangan.” Jelas gadis cantik berparas dingin itu lagi. Para tetua mengangguk membenarkan.

“Apalagi sebelumnya kami juga sudah bersumpah untuk selalu loyal pada perkumpulan, dan pada kelompok kami sendiri.” Sambung Pertiwi.

Diam-diam Jaka merasa terharu, tapi juga merasa menyesal melibatkan gadis-gadis cantik itu dalam prototipe rancangan penyelidikannya. Kenal akrab pun belum, tapi mereka sudah begitu kompak, apa mungkin karena peraturan? Pikirnya tak tenang, dengan tatapan mata terima kasih, Jaka menyapu wajah-wajah cantik yang sedang memasang raut serius.

Sepertinya mereka paham dengan maksud hati Jaka, “Dengan catatan, kami mengharapkan kau sebagai ketua untuk tidak menyia-nyiakan kesetiaan kami. Kami ikut mendukung karena apa yang ketua kemukakan tadi memang sejalan dengan pikiran kami.” Kata Andini menjawab tatapan mata Jaka.

Pemuda ini menghela nafas panjang sambil mengangguk berulang kali. “Jadi kesimpulannya saya sudah bukan anggota perkumpulan ini lagi, tentunya untuk keluar dari keanggotaan ada persyaratan tertentu. Apakah setelah itu hubungan kita akan berubah sayar rasa waktu yang akan menjawabnya. Tapi kalau bisa memilih, saya lebih memilih bersahabat…”

Ki Lukita dan yang lainnya saling berpandangan, akhirnya mereka memutuskan agar Ki Glagah yang bicara. “Bisa bersahabat, juga bisa menjadi murid kami,” kata orang tua ini dengan nada halus. “Ada sebuah peraturan keras dalam perkumpulan kami, bahwa tiap anggota yang sudah menjalani upacara tradisi, tidak dibolehkan keluar dari perkumpulan, dengan alasan apapun. Jika dia ingin keluar, maka hukumannya sangat berat, apa lagi dia sudah bersumpah darah…”

“Jadi…?!” potong Andini dan tiga rekannya bersamaan.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s