34 – Improvisasi Ilmu

Hawa pembunuh makin tebal, tapi hawa dingin-pun makin merasuk tulang sumsum. Ki Glagah dan yang lain, merasakan ketegangan amat sangat. Hawa dingin yang dipancarkan Jaka benar-benar lain dengan hawa dingin yang tadi menyerang Kinanti. Dinginnya puluhan kali lipat lebih hebat!

Dua puluh sembilan orang yang berada tujuh-delapan tombak dari pertarungan itupun harus mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuh dari serangan hawa dingin yang makin merasuk sumsum.

Gila, kalau dia mau sungguh-sungguh, satu juruspun aku tak sanggup menerimanya! Pikir Kinanti merasa malu dengan ulahnya tadi yang sok jago.

Sementara itu Wiratama yang sudah berbesar hati karena lebih unggul dari Jaka, juga menyadari sesungguhnya Jaka tidak serius saat menghadapi dirinya.

Sialan! Gerutunya dongkol. Tapi ia tidak akan banyak berpikir untuk memaki, karena hawa dingin kian merasuk.

“Bagaimana dengan Hawa Dingin Penghancur Sumsum tingkat tiga ini paman?” tanya Jaka dengan wajah masih dihiasi senyum.

Tentu saja Ki Benggala tidak menjawab, sebab dia sendiri keripuhan menghadapi hawa dingin yang makin menggigit. Sebagai jagoan kawakan, Ki Benggala hanya menanggapi dengan seringaian saja. Seringaian itu bermaksud meremehkan, yang berguna untuk memancing kegusaran lawan. Jika lawan bertarung dalam kondisi marah, maka sepertiga hawa murninya tidak akan bisa dikerahkan dengan lancar.

Tapi Ki Benggala salah kalau menilai Jaka semurah itu, Jaka memang baru berumur dua puluh tahun, tapi ketangguhan menahan sabarnya bukan tandingan orang sebayanya!

Hawa pembunuh makin tebal menyerang Jaka, kalau pemuda ini lengah sedikit saja, maka habislah riwayatnya. Salah satu ciri ilmu Hawa Mayat Tanpa Batas adalah, kemampuan hawa pembunuh menguasai batin lawannya, agar selalu dibayangi ketakutan, dan akhirnya akan menurunkan kondisi mental, kalau sudah begitu, untuk mengalahkannya semudah membalik tapak tangan.

Pada tingkatan tertentu, ilmu ini bisa mempengaruhi lawan hanya dengan kata-kata. Ilmu Hawa Mayat Tanpa Batas bisa menjadi semacam kekuatan hipnotis yang sangat kuat. Dan begitu lawan terjebak dalam pengaruh hipnotis walau sesaat, tak akan ada kesempatan lolos.

Perang sabar terus berlangsung, perlahan namun pasti, Jaka mengerahkan ilmunya sampai puncak, yakni tingkat kelima. Sedangkan Ki Benggala yang juga sudah sempurna menguasai ilmunya, mengerahkan sampai tingkat ketujuh yang merupakan tingkat paling tinggi dari ilmunya.

Perang Hawa pembunuh yang mencekam dan hawa dingin yang membekukan sumsum, membuat dua puluh sembilan penonton harus benar-benar diluar lingkup serangan dua hawa ganas itu. Andaikata masih dalam jangkauan dua hawa itu, mau tak mau mereka harus bersemadi mengerahkan hawa murninya untuk menahan serangan dari luar itu.

Keuletan dan kesabaran adalah kunci utama, dan untuk hal itu Jaka adalah pemenangnya. Pertama Ki Benggala memang bukan penyabar, dan kedua faktor usia, karena Jaka lebih muda dan lebih ulet, apalagi kesabarannya sudah teruji, maka selangkah demi selangkah Ki Benggala dapat didesak. Lamat-lamat hawa pembunuhnya makin tipis, sementara hawa dingin Jaka makin mencekam. Padahal seharusnya dalam mengadu ilmu itu, mereka berdua ada pada tingkatan yang sama. Keduanya sama-sama tangguh… tapi memang dua faktor tadi yang menentukan semuanya, yakni usia dan kesabaran, juga tenaga. Sejauh ini siapapun belum bisa mengukur sampai dimana ketinggian tenaga Jaka.

Sebelumnya aku tidak pernah menggunakan ilmu ini dalam pertarungan, dan sampai saat ini belum pernah terpikir olehku Badai Gurun Salju dan Hawa Dingin Penghancur Sumsum dapat digabung, bukankah terdapat unsur yang sama? Kenapa tidak kucoba saja? pikir Jaka.

Tanpa memperhitungkan situasi lagi, Jaka yang tadi berdiri tegak dengan kaki membentuk kuda-kuda, kini berdiri tegak dengan mata terpejam seolah pasrah. Dengan olah pernafasan yang tidak sama dengan teknik pernafasan jago silat manapun, Jaka kembali menghimpun ilmu Badai Gurun Salju sampai tingkat terakhir, yakni kesepuluh! Hanya bagian dingin lunak yang ia kerahkan.

Tentu yang merasakan akibatnya, mereka yang ada disekitar Jaka, yang terparah sudah pasti Ki Benggala. Hawa dingin yang sudah setengah mati ia tahan itu mendadak berkali lipat lebih membekukan tulang. Wiratama si penguasa Api Pembakar Dunia tingkat tujuh saja dibikin bergemeletuk menggigil, padahal jaraknya lebih dari sepuluh meter. Dapat dibayangkan bagaimana kondisi Ki Benggala yang hanya terpaut tiga langkah dari Jaka. Wajahnya yang tadi menyeramkan, kini sudah pucat pias, kegarangannya akibat ilmu Hawa Mayat Tanpa Batas sudah lenyap.

Untuk membalikkan situasi, Ki Benggala menggeram sengit, tiba-tiba tangan kanannya meninju keatas.

Wuuut!

Deruan tinju yang terisi tenaga murninya, membuat hawa dingin Jaka membuyar sedikit. Berhasil dengan percobaannya, Ki Benggala terus memukulkan tinjunya kesegala arah, sambil mendekati Jaka.

“Terima Pukulan Serat Maut Soho Mayit ini!” Desis Ki Benggala sambil melompat tinggi. Kedua kepalannya menakup jadi satu, dan dihantamkan kekepala Jaka.

Hadirin terperanjat menyaksikan jurus ini. Terakhir menggunakan jurus ini Ki Benggala sanggup meremukkan apa saja, konon lagi hanya kepala. Dulu saat berlatih tarung dengan Ki Glagah, orang nomor satu inipun tak berani menangkis pukulan tersebut.

Sifat istimewa pukulan Ki Benggala adalah, jika ia menghantam sasaran yang kekuatannya dibawah pukulan dirinya, dengan sendirinya sasaran hancur. Tapi jika sasaran lebih kuat, tenaga pukulan akan membalik ke tubuhnya dan kembali menghantam sasaran secepat kilat dengan kekuatan dua kalinya, jika tenaga itu masih kurang, maka tenaganya akan membalik dan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Demikian seterusnya.

Tentu saja akibat pukulan itupun bukan ringan, akibat tenaga yang membalik berulang kali, bisa membuat tubuh Ki Benggala tersungkur lemas tak bertenaga, tak bisa bergerak dalam tempo cukup lama.

“Menghindar!” banyak orang memperingati Jaka. Tapi pemuda ini malah menengadahkan kepalanya. Tanpa memperhitungkan resiko, Jaka menangkis.

Dees!

Dua kepalan membentur telapak tangan Jaka. Benturan itu sangat keras, Ki Benggala terlempar dua hasta, namun ia kembali menghantam dengan tenaga dua kali lipat.

Akibat benturan tadi tak ringan buat Jaka, lututunya tertekuk satu, sepasang tangan yang menangkispun terdorong keras hingga menghunjam tanah, sungguh besar kekuatan Ki Benggala. Menyadari Ki Benggala akan menyerang lagi, cepat-cepat Jaka mengangkat lengannya.

Dees!

Benturan terjadi lagi, kali ini Ki Benggala terlontar lebih jauh, nyaris satu tombak, sedangkan posisi Jaka tetap seperti tadi, satu kaki berlutut! Cuma sebelah lengannya kembali membentur tanah.

“Tidak mungkin! Apakah dia juga memiliki tenaga seperti Adi Benggala? Kenapa tiap benturan justru Adi Benggala kalah tenaga?”

Wajah Ki Benggala menjadi sangat menakutkan, kini kepalan ketiganya memuat kekuatan tiga kali lipat dari kepalan kedua tadi.

“Roboh!” bentaknya sengit.

Melihat serangan dari atas yang kecepatannya berlipat ganda, Jaka tak mau ayal. Ia berjongkok, dan bersalto rendah, tangannya memancal tanah, lalu di hentakkan… tubuhnya terlontar saat itu juga! Agaknya Jaka akan menerima serangan Ki Benggala dengan kakinya.. tapi tunggu, mendadak tubuh Jaka bersalto di udara, dan tangan Jaka memapaki serangan ketiga itu.

Dees! Dees!

Dua benturan kali ini lebih keras dari tadi, tapi anehnya keduanya tidak terpental, malah kepalan tangan Ki Benggala menempel pada tapak Jaka.

“Hiiih!” Jaka menghentak nafas diudara, saat itu juga Ki Benggala terpental. Dia kalah. Seorang sesepuh pemegang ilmu mustika telah dikalahkan!

Walau kalah, Ki Benggala tetap menampakkan dirinya seorang kampiun. Begitu terpental, ia memutar tubuhnya dan jatuh dengan berdiri tegak. Terlihat gagah benar sosok Ki Benggala itu.

Tapi ada yang aneh, ternyata sepasang tangan Ki Benggala sampai lengannya terbungkus es besar. Wajah lelaki itu tampak berkerut dalam.

“Hiaaa!” kedua tangannya saling memukul. Pyaar! Bongkahan es itu hancur.
Ki Benggala hendak mundur, ia sadar dirinya kalah. Tapi mendadak, kakinya tak mau bergerak. Tubuhnya pun terasa kaku. Ia melihat kedepan. Dilihatnya Jaka berdiri dengan tenang, tapi matanya terpejam. Tangannya terkepal kencang. Rahangnya mengeras, agaknya Jaka sedang memahami sesuatu.

Melihat kondisi itu, Ki Benggala tidak mau berpikir panjang lagi, ia segera menghentakkan tenaganya sampai tingkat puncak, agar terbebas dari kungkungan hawa dingin yang luar biasa itu.

Tapi itu belum cukup, hawa dingin itu hanya terusir seperempat saja.

“Cukup!” sebuah bentakan membuat perasaan tegang Ki Benggala agak kendor. Tujuh bayangan melayang kesisi Ki Benggala dan menyentuh punggungnya. Mereka menyalurkan hawa murni untuk membantu melancarkan semua peradaran darah dalam tubuh Ki Benggala yang mulai beku.

“Cukup Jaka!” seru Ki Lukita, salah seorang dari tujuh bayangan tadi.
Tapi Jaka tidak menggubris, pemuda ini sudah tenggelam pada pemusatan olah nafasnya. Jadi dia tidak mendengar seruan Ki Lukita.

“Anak bengal…” geram Ki Lukita sambil maju untuk menotok beberapa jalan darah Jaka agar ia tidak melanjutkan serangan hawa dingin itu.

Tapi tinggal dua langkah dari Jaka, Ki Lukita merasakan hawa panas menghalanginya.

“Hei…” serunya kaget.

Iapun mundur ketempat semula dengan perasaan tercengang. Sebab begitu ia mundur, bukan hawa panas lagi yang dirasakan, tapi hawa dingin yang makin membuat tubuh beku.

“Jangan ganggu dia, kelihatannya dia tak sedang menyerang, tapi mencoba melebur ilmu.”

Peringatan orang tertua itu, membuat Ki Lukita sadar. Mereka segera kembali bangku masing-masing. Hawa dingin itu juga sampai ketempat duduk mereka, tapi tidak sedahsyat saat berdekatan dengan Jaka, meski demikian semua orang harus mengerahkan hawa murni paling tidak dua bagian untuk menahan hawa dingin itu—bisa dibayangkan bagaimana hebatnya tenaga Jaka.

“Kek, apa yang dia lakukan?” tanya gadis cantik baju biru itu pada Ki Lukita.

“Mungkin dia sedang menggabung ilmu Hawa Dingin Penghancur Sumsum, dengan Badai Gurun Salju.” Jawaban Ki Lukita yang singkat itu membuat semua orang kecuali tujuh sesepuh, terperangah kaget.

“Mustahil!” seru mereka.

“Memang,” kali ini yang menyahut adalah Ki Gunadarma. “Sembilan ilmu mustika adalah ilmu yang memiliki sifat bertolak belakang, biarpun ada yang memiliki lebih dari satu, juga tidak banyak berguna. Karena penggunaannya hanya bisa satu-satu. Tapi bagi yang bisa menggabungkannya akan menimbulkan sebuah kekuatan baru, aku tidak tahu seberapa hebatnya, tapi melihat kejadian seperti ini, kurasa kalian paham sampai dimana kehebatannya. Bagi yang sudah mendapat ilmu mustika, tentu sudah membaca cerita legenda asal-usul sembilan ilmu itu bukan?”

Mereka mengangguk, meski tahu, tapi mereka lebih suka sang sesepuh menceritakannya lagi. Ki Gunadarma maklum, ia segera bertutur.

“Untuk dapat menggabungkan dua ilmu, menjadi satu, seseorang harus memiliki bakat, kecerdasan, dan kerendahan hati. Mungkin kalian mengira, bakat kalian lebih dari orang lain. Dalam hal ini bisa kubenarkan. Hh… sebenarnya penjelasan seperti ini tidak bisa diutarakan dengan sepatah dua patah kata saja. Kalian ingat baik-baik apa yang akan kututurkan, karena ini sebagai pelajaran!”

Mereka mengangguk.

“Sekalipun kalian menguasai ilmu mustika, tingkat kalian masih jauh, jika ingin menggabung-kannya dengan sebuah ilmu, tidak perlu ilmu mustika, tapi ilmu dasar kalian sendiri… pekerjaan itu tak semudah yang kalian bayangkan. Semua tergantung dengan pemahaman kalian tentang apa yang dipelajari. Selama pikiran belum terbebas dari dogma, ‘kuasai gerakan ini untuk menangkal serangan ini-itu’, taraf kalian tak akan pernah maju. Setelah mempelajari hingga usai, tingkatan berikut adalah memahami. Selanjutnya berimprovisasi, mengembangkannya… tidak lagi terikat sebuah gerakan tertentu. Jika sudah mencapai tingkatan ini, cara pandang kalian pada akan berubah.

“Banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi itu dapat dilanjutkan lain waktu, yang ingin kukatakan adalah; bakat, kecerdasan, dan rendah hati itu belum cukup. Hal terpenting, yang menjadi syarat utama adalah, kau harus punya kemampuan mengenal diri sendiri.”

“Apa artinya?” tanya Wiratama.

“Jika kau mengenali seluk beluk dirimu sendiri, maka sejauh mana kemajuanmu, kau mungkin bisa mengukur sendiri. Disini berlaku syarat rendah hati, jika kau tak memiliki rasa rendah hati, selamanya kau akan merasa dirimu lebih hebat dari orang lain, itu penghambat paling besar! Jika sudah demikian, biarkan orang lain menilai dirimu… kau akan tahu sampai dimana kemajuan, atau kemunduranmu!

“Lalu tentang mengenal diri sendiri…” Tanya seorang gadis.

“Ya, kemampuan mengenali diri sendiri adalah pengetahuan yang luas. Kau harus mengetahui sifatmu yang sebenarnya, kau harus tahu keburukan dan kebaikan dirimu sendiri, proses mencari hal itu jauh lebih sulit dari belajar ilmu mustika…”

“Jadi, masih ada kaitan dengan rendah hati paman?”

“Benar. Mengetahui baik-buruk sifat sendiri harus orang yang memiliki jiwa besar yang bisa mengakui hal itu dengan dada lapang, tanpa ada rasa benci. Jika tingkat ini sudah kau lewati, maka tingkat selanjutnya, kau harus tahu bagaimana susunan syaraf, tulang, irama detak jantung dan banyak hal lain, pendek kata kau harus mengetahui apa yang sedang dirasakan fisikmu, bagaimana darah mengalir ke jantung, ke otak, hal semacam itulah yang harus diketahui.

“Mungkin kalian mencibir sambil berkata, tingkatan seperti itu tak akan bisa dilalui. Ya, aku tak menyalahkan pikiran seperti itu. Sebab aku sendiri belum sanggup melangkah kesana. Orang yang memiliki kemampuan semacam itu sangat jarang didunia!”

Wajah-wajah tak puas terpeta, di raut mereka yang mendengar penjelasan Ki Gunadarma. Lelaki ini tertawa melihatnya.

“Ya… aku tahu pikiran kalian, padahal kalian termasuk orang-orang langka, bagaimana mungkin ada yang lebih langka, bukankah begitu?” Beberapa tetua tersenyum mendengarnya, dan mereka yang merasa tak puas, rona merah menghiasi wajah, rupanya ucapan Ki Gunadarma tepat menyentil ego mereka.

“Tentu saja kalian termasuk manusia pilihan, dari sekalian ribu orang.” Sambung Ki Benggala, rupanya perasaannya sudah tenang kembali.

“Tapi orang yang kita lihat kali ini, adalah manusia aneh. Mungkin dari sekian puluh ribu orang, baru terdapat manusia semacam dia.”

Semua tertegun, kali ini tidak ada yang bertanya lagi, mungkin ada yang setuju dengan ungkapan Ki Benggala. Tapi, pasti lebih banyak yang tidak setuju. Karena hawa dingin makin menggigit, mereka malas berkomentar. Tapi pikiran mereka sama bekerja, penjelasan Ki Gunadarma membuat mereka membayangkan bagaimana susahnya mencari identitas diri, kesejatian seorang manusia. Jika kau ingin mencari/memecahkan hal misterius diluar sana, carilah hal misteris dalam dirimu sendiri. Sebagai manusia, tiap individu memiliki sisi misterius, yang berarti potensi menuju arah baik, atau buruk. Kira-kira begitulah mereka menangkap penjelasan Ki gunadarma.

“Gila, hawa ini bahkan puluhan kali lebih dingin dari yang kukuasai.” Pikir Kinanti takjub.

Sementara itu, Jaka benar-benar lupa keadaan, lupa situasi dimana ia diberada. Pemuda ini sedang berupaya mengembangkan potensi dalam mencapai taraf lebih tinggi ilmu mustikanya. Setengah jam sudah berlalu, sedikit demi sedikit hawa dingin bukannya makin susut, tapi bertambah dingin dan makin dingin. Dari perut sampai kepala Jaka diliputi bunga-bunga es, tapi dari pusar kekaki, tidak. Benar-benar aneh!

Tapi ada satu keanehan yang membuat orang-orang tak habis mengerti, yakni dua langkah dari tempat Jaka berada, rumput-rumput itu kering meranggas, kering terbakar seperti terkena hawa panas dahsyat, tapi selebihnya, rumput dan tanah sudah dipenuhi butiran salju dan es. Rerumputan itu dibungkus bunga-bunga es, seperti halnya sebagian badan Jaka.

Tiba-tiba saja Jaka menghentakkan tangan dan membuka kepalan tangan, seluruh bunga es yang menempel dibadannya menguap! Matanya yang terpejam sejak tadi, kini terbuka. Tangannya bergerak menakup didada, perlahan hawa dingin susut, dan hilang. Dari mulutnya samar-samar menguar uap tebal. Sepertinya itu uap es. Jaka menghela nafas panjang.

Tak kusangka, hampir mendapat musibah malah beruntung. Syukurlah, aku hampir berhasil menggabungkan tiga ilmu mustika, kurasa untuk saat ini cukup… pikir Jaka sambil melangkah mendekati Ki Benggala, wajah pemuda ini tidak beku dan dingin seperti tadi, melainkan penuh dengan senyum—seperti pembawaannya semula.

“Maafkan saya paman, serangan paman sangat hebat, dan itu nyaris tak sanggup kutahan. Ternyata ilmu Hawa Dingin Penghancur Sumsum, bukan tandingan dari ilmu mustika paman.”

“Masa?” Tanya Ki Benggala tak percaya, sebab sudah jelas dia yang kalah.

“Ya, itulah kejadian yang sebenarnya. Tadi, saya hampir putus asa, entah kenapa mendadak tenaga dua ilmu mustika lainnya, memberontak dan bergabung untuk menghadapi gempuran paman.”

Ki Bengala tercenung, sesaat, paling tidak hatinya terhibur dengan ucapan Jaka. “Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu disalahkan. Eh… omong-omong, tangkisanmu tadi luar biasa. Apalagi hawa dinginmu, aku seperti terpendam di dasar gunung es, tak bisa berkutik.”

“Ah, hanya kebetulan saja.” Ujar Jaka. “Terima kasih mau memaafkan keteledoranku.”

“Tak apa, tak apa.” Sahut Ki Benggala sambil mengelus dagunya. Hh, entah apa jadinya dunia persilatan dengan kemunculan bocah ini. Pikirnya merasa kagum, tapi dia juga magsul karena ia dikalahkan Jaka.

“Pertanyaan terakhir Ki,” pinta pemuda ini dengan sikap tenang. Agaknya Jaka tidak ambil pusing kejadian barusan, bahkan sepertinya lupa kalau tadi ia habis melawan dan meminta maaf pada Ki Benggala.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to 34 – Improvisasi Ilmu

  1. kapan lajutan SS ama PB nya suhu?..dah cukup lama menanti…hampir 7 purnama..klu misal ada edisi cetak nya.mohon kirim alamat pembelian nya plus cara transaksinya suhu..>>>gondrongcell@cyberkomtekjar.tk

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s