31 – Sambutan Aneh

Hari Kedua

Matahari pagi bersinar gilang gemilang, kota Pagaruyung kelihatannya lebih ramai dari biasanya. Kalau setiap harinya orang sibuk dengan urusannya masing-masing seperti berdagang, kali ini datangnya serombongan manusia yang mungkin ada ratusan orang, membuat kota itu makin ramai. Biasanya kalau ada setiap keramaian, pasti ada saja kerusuhan. Namun di kota ini adalah kekecualian, sebab para pendatang, kebanyakan tamu terhormat dari perguruan kenamaan, tentu saja mereka tidak sudi berbuat onar, memalukan nama perguruan. Kalaupun ada diantara mereka bersikap tengil dan kurang ajar, orang langsung menyimpulkan, bahwa kemungkinan besar mereka adalah pengelana, seorang pesilat bebas (istilah bagi yang tidak memiliki perguruan).

Disebuah sudut jalan, pada sebuah penginapan, di lantai ketiga, seorang sedang memandang dari jendelanya dengan tatapan lurus.

Wajahnya tampan, matanya jernih memikat, dia Jaka. Setelah pulang dari Kuil Ireng, Jaka berputar-putar mencari penginapan lagi. Sebelumnya ia sudah keluar dari penginapan Bunga Kenanga, gara-gara urusan Mahesa Ageng. Setelah cukup lama mencari, barulah ia temui penginapan yang kebetulan memiliki dua kamar sisa.

Biarpun harganya agak keterlaluan, Jaka tak mau repot-repot ribut menawar, yang dia perlukan kali ini adalah, istirahat. Tiga-empat jam, sudah cukup baginya. Sebelum sampai dikota ini, Jaka bahkan tidak tidur empat malam, banyak pekerjaan lain yang menguras tenaganya, ditambah dengan satu hari dikota Pagaruyung itu, maka total lima hari Jaka tidak tidur. Biarpun sinar matanya jernih, tapi sekeliling matanya tidak luput dari warna kebiruan, akibat letih.

Jaka memesan makanan dan air hangat untuk cuci muka, setelah selesai, pemuda ini segera membersihkan badannya di kamar mandi yang telah disediakan. Tadinya Jaka menggerutu karena harga kamar terlalu mahal, namun setelah menikmati semua pelayanan, Jaka menganggap harga itu tidak terlalu mahal. Sudah cukup sebanding dengan apa yang didapatkan dari penyajian makanan dan pelayanan penginapan.

Setelah selesai dengan semua persiapannya, Jaka bergegas keluar dari penginapan itu. Karena saat sarapan Jaka minta diantar di dalam kamar, maka ia tidak tahu situasi yang ada di penginapan itu. Dan alangkah terkejutnya melihat lantai dasar dan kedua yang merangkap sebagai rumah makan, penuh sesak para pendatang.

Jika saja tamunya penduduk kota itu, Jaka tidak kaget, tapi pendatang itu kebanyakan anggota persilatan, baju mereka ringkas, tak terlalu, mewah atau glamour, tapi menimbulkan kesan hormat bagi yang melihatnya.

Tapi ia enggan memikirkannya, sebab hal penting yang harus dikerjakan oleh Jaka adalah, berkunjung kerumah Ki Lukita, guru barunya.

Dia berpikir, mungkin hari itu juga upacara penerimaan dirinya sebagai murid akan dimulai. Karena itulah Jaka segera bergegas, pemuda ini tidak sadar—begitu ia turun dari tangga—tiga diantara sepuluh orang ada yang memperhatikannya.

Tentu saja mereka memperhatikan karena melihat cara berpakaian Jaka yang lazimnya digunakan para pengelana berduit, bajunya yang berwarna hijau tua dengan motif garis—coraknya seperti daster, dengan lengan panjang, sehingga sepintas lalu, Jaka seperti menggunakan mantel atau jubah yang ditutupkan begitu saja.

Mereka yang memperhatikan—bukan karena Jaka memakai baju seperti itu, tapi mereka memperhatikan Jaka karena cara jalan pemuda itu mantap, kokoh, walau tak menggambarkan apakah dia bisa ilmu bela diri atau tidak. terkadang, bagi yang terlatih, dengan melihat cara jalan orang saja, mereka sudah dapat menentukan apakah orang itu hanya rakyat awam saja atau seorang pesilat.

Melihat dandanan Jaka yang beda dengan pengelana pada umunya, membuat beberapa Kaum Kelana yang suka usil berniat untuk membikin gara-gara.

Seorang lelaki usia pertengahan yang duduk berseberangan dengan jalan keluar, tampak mengangkat cawan tehnya, dan begitu Jaka lewat, seperti gerakan wajar saja, cawan yang di angkat, terpercik air.

Bagi orang awam kalau melihat kejadian itu, tentu saja tidak akan memikirkannya, sebab air muncrat dari cawan saat diminum terburu adalah hal wajar. Tapi bagi mereka jago-jago silat, begitu melihat gerakan orang pertengahan umur itu, mengerti kalau orang itu sengaja hendak menguji Jaka.

Muncratan air teh itu bukan sembarang muncratan, sebab jika sipelontar memiliki tenaga dalam handal, benda apapun bisa dijadikan senjata, termasuk air dan tentunya orang yang kena bisa terluka, apalagi dari jarak dekat.

Lesatan air itu cepat bukan kepalang, serangan air itu tinggal tinggal satu jengkal lagi, seujung kuku lagi… mendadak tubuh Jaka bergerak maju lebih cepat dan agak menyerong, dan serangan air itupun lewat disampingnya, hanya seujung kuku.

Brak!

Tembok kayu yang terkena muncratan air itu berlubang seujung jari. Dari situ orang dapat mengukur sampai dimana kekuatan lontaran air orang pertengahan umur itu, yang jelas bila terkena badan orang, paling tidak bisa membuat memar atau lebih parah lagi patah tulang!

Tapi Jaka acuh tak acuh saja, gerakan tadi merupakan reflek tubuhnya yang sudah terlatih dan siap siaga setiap saat, bahkan kejadian tadi sama sekali tidak ia rasakan, sebab Jaka memang sedang berpikir secepatnya sampai dirumah sang guru, karena dari penginapan sampai kerumah gurunya, cukup jauh jaraknya. Apabila ia menggunakan peringan tubuh, tentunya menarik perhatian orang. Karena itu ia berjalan terburu-buru, tanpa menoleh lagi Jaka keluar dari penginapan.

Orang pertengahan umur itu terkesip, ia berpikir. Orang yang dapat menghindar dari sambitan airku ini paling tidak anak murid enam belas besar tingkat empat. Seingatku belum pernah ada tokoh muda seperti dia yang memiliki kemampuan hebat seperti itu, apa dia ini baru turun gunung?

Bukan cuma orang itu saja yang terkesip, beberapa pasang mata yang sempat mengawasi Jaka-pun terkejut melihat gerakan yang sepertinya tak disengaja. Mereka sadar cara berkelit pemuda itu, bukan sembarang gerakan. Mereka pikir, pasti dia murid seorang tokoh besar.

Sudah merupakan penyakit kaum persilatan untuk mengetahui apa saja. Mereka selalu ingin tahu hal baru.

Tapi, karena suasana terlalu ramai, mereka yang penasaran tidak leluasa untuk membuntuti Jaka, sebab kebanyakan orang yang ada disitu merupakan jagoan berpengalaman. Kalau ada satu dua orang yang keluar dari rumah makan tanpa tujuan tertentu, pasti menarik perhatian, karena itulah mereka membiarkan Jaka berlalu begitu saja, padahal dalam hati mereka sangat ingin tahu siapa pemuda itu.

Tak ingin menyiakan waktu, beberapa saat kemudian Jaka sudah sampai di rumah Ki Lukita, tentunya ia masuk lewat pintu depan—tidak seperti malam hari, seolah-olah dirinya hendak bertamu.

Jaka mengetuk pintu perlahan, tak berapa lama kemudian, muncul seseorang membukakan pintu. Dia, seorang lelaki berusia empat puluhan, wajahnya gagah, matanya lebar dan jidatnya yang juga lebar menyiratkan watak keras dan jujur, Jaka menduga orang itu pasti bukan salah satu delapan sahabat gurunya, dia teralu muda, mungkin dia anak Aki Lukita, atau muridnya.

“Jaka?” tanya orang itu singkat. Pemuda ini mengangguk, tanpa menjawab.

“Silahkan masuk, guru sudah menunggu…”

Tak memberi komentar, Jaka segera masuk, ia berpikir. Orang ini calon kakak seperguruanku.

“Silahkan mengikutiku.”

Jaka mengiyakan, selain ruang belakang, Jaka belum pernah masuk kerumah gurunya. Pemuda ini tak menyangka rumah gurunya yang sederhana itu ternyata begitu luas. Ruang depannya saja bisa buat menampung seratus orang, sedang ruang tengah dua kali lebih luas dari ruang depan.

“Kelihatannya kerabat guru bukan orang-orang biasa,” Jaka berpikir demikian, karena dari tiap susunan perabot rumah, berada dalam posisi baris lima unsur alam (dalam Hong Sui, biasa disebut Ngo Heng Tin), dua belas putaran sudut, dan beberapa tata barisan lihay lain.

Hari itu masih pagi, kira-kira baru menjelang pukul sembilan. Jaka dibawa keruang samping, ternyata rumah Aki Lukita memiliki beranda samping, halaman samping biarpun tidak seluas halaman belakang yang pernah ia masuki, namun jika untuk berlatih silat, kiranya sepuluh pasang orang juga masih muat. Diam-diam Jaka menggeleng kagum.

Begitu teratur… kelihatannya memiliki tradisi yang selalu terjaga.

Saat Jaka berada diberanda samping, pemuda ini terperanjat, melihat begitu banyak orang berkumpul disitu. Satu, dua, tiga, empat… tiga puluh! Semuanya ada 30 orang—sudah termasuk lelaki yang membawa Jaka. Dan mereka semua duduk saling berhadapan, yang memisahkan hanya meja sepanjang sepuluh meter. Jaka melihat hanya dua kursi saja yang belum ditempati, sekilas terpikir oleh Jaka bahwa dua kursi itu tentu seharusnya ditempati orang yang membawa dirinya, sisanya mungkin untuk ia sendiri.

Orang itu segera duduk, karena Jaka tidak dipersilahkan, sudah tentu pemuda ini sungkan untuk duduk. Lagi pula diantara empat orang yang pernah ia jumpai waktu malam (termasuk gurunya) Jaka tidak mengenal dua puluh enam orang lainnya.

Suasana pagi itu hening, suara kicau burung yang hinggap dipepohonan sekitar rumah Ki Lukita bagai sedang menyenandungkan lagu selamat datang.

Sudah beberapa saat tiada reaksi dari tiga puluh orang itu, Jaka merasa heran, pemuda ini baru menyadari, mereka menanti sesuatu. Mungkin mereka menanti reaksi dia dalam memahami situasi ini. Menyadari dirinya tidak tahu tata tertibnya, Jaka mencoba membuat dirinya senyaman mungkin, dengan menikmati kelengangan suasana.

Untuk masalah sabar, bukan hal baru baginya. Bagi kebanyakan pemuda, bersabar bukanlah hal yang populer, tapi Jaka harus dikecualikan. Sebab itulah, dia sama sekali tak berkutik dari tempatnya berdiri. Setengah jam, satu jam, satu setengah… dan akhirnya dua jam sudah berlalu.

“Silahkan duduk!” orang yang tadi membawa jalan bagi Jaka mempersilahkan Jaka duduk di kursi yang memang sudah disediakan untuknya.

Tanpa menjawab, Jaka duduk. Wajahnya tenang bagai permukaan air, berdiri hampir dua jam tanpa bergerak ternyata tidak merubah raut wajahnya, dia tak menjadi kesal karenanya. Itu sudah merupakan bukti bahwa Jaka, orang yang harus diperhitungan. Dia pemuda yang memiliki kesabaran melebihi orang lain.

Dua jam berdiri tanpa bergerak, tanpa mengerti apa tujuannya, tentu membuat hati dongkol, namun Jaka, seperti tidak mengalaminya—atau seperti itu kelihatannya.

“Kau tahu kenapa harus menunggu dua jam lamanya baru dipersilahkan duduk?” tanya Ki Glagah.

Jaka menatap orang tua itu sesaat, dengan bibir menyunggingkan senyum ia mengangguk tegas. “Saya mengerti.” katanya singkat.

“Apa yang kau mengerti?” tanya orang disebelah Ki Glagah.

“Ini merupakan tata cara golongan, sudah merupakan peraturan.” Jawabanya singkat.

“Apa alasanmu mengatakannya sebagai peraturan?” tanya orang sebelahnya lagi.

“Jika ada yang memerintah kemana kau harus pergi, jawabannya hanya dengan ya, dan tidak!” Jawaban Jaka diluar perhitungan orang-orang itu. Bagi mereka, jawaban Jaka tergolong mencari ‘aman’. Jika arti jawabnya ‘ya’ dan ‘tidak’, berarti bisa saja dia paham peraturan mereka, atau bahkan belum memahaminya.

Dari jawaban itu, mereka bisa menduga, Jaka adalah pemuda yang berhati-hati, dan selalu mengharuskan mengenal situasi yang dihadapinya.

Memang, secara tak langsung Jaka mengatakan, ‘Aku tak segera dipersilahkan duduk, tentu merupakan bagian dari peraturan kalian. Jika kalian mendiamkan aku, mana mungkin aku bertanya lebih dulu?’

“Kau tahu mengapa harus menunggu lebih lama?” orang yang bertanya adalah orang yang duduk disebelah lelaki paruh baya yang baru saja menayakan alasan Jaka.

Diam-diam Jaka berpikir, bertanya satu per satu, mungkin bagian dari peraturan. Repotnya sekali… tapi dia merasa diuntungkan. Dengan demikian, jika ada pertanyaan sensitive dapat dia hindari

Pemuda ini segera menjawab pertanyaan tadi dengan singkat. “Dalam masalah ini, diam dan mengamati, merupakan kunci. ”

Tampak orang yang bertanya itu mengangguk perlahan. “Tahu sebab kami berkumpul disini?” tentu saja orang yang menayakan hal itu bukan orang yang sama.

Kelihatannya dugaan Jaka tentang satu hal benar, yakni tiap orang hanya bisa satu kali bertanya.

Jaka kembali mengangguk, mengiyakan. Dan itu sudah merupakan jawaban, karena itu orang tadi sudah cukup puas. Namun yang disebelahnya ingin mengetahui apa saja yang diketahui Jaka.

“Seberapa jauh kau tahu?”

Jaka mengangkat bahunya, “Tidak banyak, mungkin sejauh mata memandang…”

Itu juga merupakan jawaban!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s