29 – Memunahkan Pancawisa Mahatmya

Suasana dini hari makin senyap, hanya suara serangga malam yang terus berderik, mendengking dan makin melengking.

Jaka mengambil bungkusan dinampan pertama, “Tak ada peraturan bahwa aku harus menelan, atau memakainya sekaligus, bukan?”

Si Kedok menggangguk membenarkan, saat itu dia tidak ada minat untuk menjawab, suasana sudah diliputi ketegangan luar biasa.

Namun Jaka masih bisa bersikap santai, bukan main! Bahkan kelihatannya terlalu santai, seolah ia tidak menaruh perhatian pada kejadian yang akan dialaminya. Jaka membuka bungkusan kecil itu, dalam bungkusan ada tujuh pil berwarna kuning,
“Wah, ini bagus sekali…” seru Jaka membuat orang tambah tegang.

Tangannya menjumput, dengan gerakan wajar, Jaka memasukan pil itu kemulutnya. Terdengar suara desisan kecil, rupanya pil langsung mencair begitu kena air liur. Mau tak mau Jaka terkejut, sebab rencananya ia akan menahan pil itu lebih dulu dan menyelami sifatnya, baru ditelan, siapa sangka pil itu mencair cepat sekali.

Kelihatannya si pembuat merancang dua maksud dalam membuat pil itu, pertama; tentu saja untuk meracuni orang, agar tidak sempat mengetahui racun apa yang ditelan korban—sehingga tak bisa diantisipasi. Kedua; jika ada bahaya mendadak, pil itu bisa mudah digunakan untuk bunuh diri, sangat efektif.

Sungguh, pembuatannya terlalu lihay, pikir Jaka kagum. Dengan menarik nafas panjang, Jaka mengalirkan semua hawa murninya kedalam dada dan menanjak keatas, dalam sekejap saja Jaka merasakan segulung hawa panas yang sangat menggigit berputar disekitar kerongkongan sampai dada. Racun ini masih tergolong ringan, batin Jaka. Kemudian, dengan pernafasan yang dia gubah dari kitab pertabiban, Jaka menekan hawa Racun Pemutus Nadi, makin kebawah dan dialirkan ketempat lain. Beberapa saat lamanya, racun itu sudah dipindahkan di urat syaraf tangan, tepatnya di pertengahan tapak tangan kiri.

Aneh, seharusnya begitu dia telan pil itu, setangguh apapun seorang jago, tubuhnya pasti kejang untuk beberapa saat. Kenapa dia tenang-tenang saja? Pikir si kedok itu bingung.

Jaka melihat telapak tangannya, ada titik warna gelap sebesar uang logam. Hm, dengan cara menekan racun kedaerah yang paling rawan, aku bisa menahan cukup lama, rasanya racun akan segera kehilangan unsur racunnya kalau memasuki wilayah rawan. Lemah menampung kuat, benar juga dalil itu. Sekarang adalah sebuah ujian untuk mengetahui sejauh mana aku mendalami pengetahuan ini.

Jaka menghela nafas, ia teringat dengan catatan pada kitab pertabiban, bahwa sebagian besar racun, tidak akan bisa bereaksi pada benda mati. Berpulang pada dalil itu, maka Jaka menyimpulkan sendiri bahwa racun tidak akan berekasi pada bagian tubuh yang tidak pernah bergerak, atau bagian paling lemah yang bisa disebut bagian pasif atau mati.

Bahkan racun apapun dapat kehilangan unsur racunnya, karena racun yang menyerang daerah tidak aktif tidak akan mendapat reaksi apa-apa, namun daerah rawan itu sendiri memberikan rekasi pada racun, yang secara perlahan bisa menyirnakan unsur racun dengan bantuan darah dan udara—tapi kelemahannya adalah, kapan racun itu sirna, tak dapat dipastikan.

Karena darah yang melewati daerah rawan biasa lebih sedikit dibanding saat mengaliri tempat yang aktif, karena itu proses pemunahan racun bisa dua hari, atau dua minggu, atau dua bulan, atau mungkin dua tahun. Tapi pada proses ini ada satu keuntungan besar, biarpun terkena racun, aliran darah manusia pada daerah non aktif tetap berjalan seperti biasa, dengan kata lain, lambat laun darah dalam tubuh akan terbiasa dengan racun tersebut, selain membuat racun tersebut menjadi tawar, darah juga membuat suatu sistem kekebalan tubuh pada racun yang sama—antibody.

Sayangnya, cara pernafasan yang bisa membawa racun mengalir kedaerah rawan itu, dianggap sangat mustahil bagi para ahli pertabiban, atau tokoh kosen yang biasa mencipta ilmu berkualitas. Ibarat meletakan telur diujung rambut—sebuah hal sangat mustahil! Tapi guru Tabib Hidup-Mati menemukan cara melatih pernafasan yang amat lihay itu. Dan kini, Jaka menguasai pernafasan lihay itu!

Biarpun sudah ada teori, jika saka bukan orang yang berani, cerdik dan berbakat, tidak mungkin begitu mudah menguasai meditasi pernafasan yang dianggap mustahil.

Cuma, ada satu hal yang tak diketahui pemuda ini, sekalipun teori pernafasan tersebut tercipta, bahwa sesungguhnya baik sang guru atau murinya, tak ada yang sanggup menguasai pernafasan seperti itu. Mereka hanya dapat menemukan teori tanpa membuktikan betul tidaknya. Karenanya lahirlah sebuah dalil umum yang menyatakan lemah mengatasi kuat, dengan beberapa keterangannya. Tapi dari situlah Jaka bisa mengubahnya menjadi sebentuk kepandaian yang ia sendiri tidak menyadari kehebatannya. Sebab saat melatih teori yang belum diketahui benar tidaknya, Jaka banyak merubah, menyusun dan menambahkan pemahamannya sendiri.

Padahal saat ia mempelajari pernafasan itu, kondisinya sedang payah-payahnya, ada saat-saat tertentu dimana dia harus berpacu dengan waktu…

Jaka menghela nafas panjang, dari bibirnya terdengar desisan lirih, nampaknya seperti senandung nada. Suara desisan tersebut, membuat kuduk orang berdiri, suasana juga terasa makin mencekam. Terbayang oleh mereka, kondisi ini adaah perpercobaan bunuh duri.

“Mainan kedua…” ujar Jaka pada dirinya, tapi ucapan itu seolah genta besar yang memberitahukan pada mereka, bahwa tahap pertama sukses dilalui. Kini, mereka menanti dengan hati berdebar tegang.

“Asap Racun Lima Mayat ya?” gumam Jaka, lalu ia hendak membuka tutup proslen itu.

“Tunggu!” tiba-tiba saja si kedok berseru kaget.

“Ya?”

“Kau tidak boleh membuka tutup itu seluruhnya, sebab asap akan menyebar sepanjang lima pal! Kau bisa bayangkan sendiri akibatnya, bukan?”

Jaka manggut-manggut, “Kau tahu, yang aku kagumi dari racunmu adalah cara pembuatannya, sebotol kecil ini saja bisa membuat orang dalam jarak lima pal teracuni. Metode pembuatan racun keluargamu sungguh luar biasa.”

“Terima kasih atas pujianmu!” jawab si kedok itu dengan suara berat dan kedengaran hambar.

Jaka tidak ambil perduli lagi, ia membuka tutup proslen itu sedikit saja. Tapi bagaikan sebuah magma yang tersumbat, asap itu langsung menyembur wajah Jaka. Tentu saja pemuda ini sudah menduga sejak awal, begitu asap menyembur wajahnya, Jaka bergegas menutup kembali proslen itu.

Sementara, mereka yang ada disekitar Jaka—walau dalam jarak aman—mundur beberapa tindak, begitu melihat semburan asap.

Tapi Jaka sendiri dengan acuh tak acuh langsung menarik nafas dalam-dalam, sampai terdengar suara dan dadanya membusung, asap yang tadi menyembur keluar tersedot masuk seluruhnya. Bau harum menyengat, membuat Jaka pusing dalam beberapa detik, walau dia sudah bersiap-siap sebelumnya, harum sangat menyengat itu diluar perhitungannya, dan untuk sesaat menghambat tindakanya.

Ah, seperti terjeblos ke liang hitam tanpa batas! Keluhnya dalam hati.

Mereka melihat Jaka memejamkan mata, dan duduknya agak limbung. Tapi kejadian itu hanya berlangsung dalam tujuh hitungan saja, pada hitungan kedelapan, Jaka sudah membuka mata, dan posisi duduknyapun tak lagi limbung, siapapun bisa melihat dia tak seperti orang keracunan.

“Gila!” Seru Si kedok terperanjat. Racun yang bisa membuat puluhan orang sekarat dalam lima hitungan bisa ia tahan begitu rupa? pikirnya heran.

Mendengar itu Jaka hanya tertawa saja, dia tidak menanggapi keheranan yang terpancar dari mata empat pengiring Si Kedok itu. Kalau aku tidak bersiap memadatkan asap ini, tentu aku akan celaka seperti yang kalian inginkan.” batin Jaka.

Memang sesaat setelah Jaka menghirup asap itu, hawa murni yang tidak pernah ia gunakan segera bereaksi dan bergolak menekan asap agar tidak memasuki paru-paru, jadi begitu asap melewati tenggorok, dengan cepat pula Jaka menekan agar asap masuk ke-kerongkong agar bisa dipadatkan dalam lambung. [tenggorok, sebagai saluran udara—kerongkong, sebagai saluran sesuatu yang masuk lewat mulut]
Tentu saja memadatkan asap adalah mustahil, tetapi itu mustahil terjadi jika asap masih berada ditenggorok dan langsung keparu-paru. Begitu asap bisa dialihkan dikerongkongan, maka dengan bantuan hawa murni, dan kontaminasi udara yang terdapat pada lambung—dikenal sebagai asam lambung, asap itu segera dinetralisir dan ditekan menuju usus besar, dan asap beracun itu berbaur dengan udara busuk diperut—yang akan segera keluar menjadi kentut.

Dan tentunya teknik memadatkan asap dan mencampurkannya secara teknis tidak akan bisa dilakukan oleh siapapun, tapi agaknya Jaka adalah manusia anti teori, apa yang dianggap tak bias, dia justru bisa. Dan mungkin orang akan bisa menguasai teknik itu—jika dan hanya jika—dapat menguasai ilmu tubuh manusia beserta semua 6236 syarafnya. Jaka adalah orang yang menguasai hal itu, dia paham semua pengetahuan yang berkaitan dengan syaraf, otot dan semua bagian tubuh manusia.

“Mainan ketiga…” gumamnya tanpa ketegangan sama sekali. Jaka tidak mengambil nampan ketiga yang berisi Jarum Pemicu Racun, tapi ia langsung mengambil Racun Enam Langkah. Tanpa basa-basi Jaka segera menelannya.

Kelemahan racun ini, tidak bisa bereaksi sebelum korban mencapai enam langkah. Hh, tapi ini hebat, ada yang bisa menciptakan racun lebih hebat dari Racun Tujuh Langkah, merupakan orang hebat, ah.. luar biasa, mungkin suatu saat aku akan bertemu para pencipta racun ini, pikirnya senang. Sungguh aku merasa kagum dengan pembuatan racun ini, seharusnya hanya bisa dalam bentuk bubuk, atau asap, tapi dia bisa membuatnya dalam bentuk pil. Penciptanya pastilah jeniusnya pakar.

“Mainan keempat…” Jaka segera mengambil dua batang Jarum Pemicu Racun. Lalu membuka bungkusan kecil yang berada di nampan lainnya. “Racun Satu Nafas? Kupikir, ini baru bisa dinamakan racun…” gumamnya.

“Tapi, sayang…” ucapan Jaka yang tak tuntas membuat siapapun penasaran. Pemuda ini berdiri.

Mereka makin berdebar tegang melihat Jaka melangkah kedepan. Satu, dua, tiga, empat, lima, en… ternyata Jaka hanya melangkah sampai lima langkah saja.

“Sungguh pengalaman menarik,” serunya sambil tertawa.

Lalu dengan cepat Jaka menelan pil Racun Satu Nafas. Begitu tertelan untuk beberapa saat lamanya, Jaka diam, sampai hitungan ketigapuluh, pemuda ini menarik nafas panjang dan melangkah kedepan sampai dua langkah, sedangkan tangan kanannya yang memegang Jarum Pemicu Racun, bergerak menusukkannya tepat ditelapak tangan kiri, dan disimpul perut kecil, empat jari dibawah pusar. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, gerakan Jaka-pun terjadi wajar, tidak membawa ketegangan sedikitpun. Tapi begitu semuanya berlangsung, wajah Jaka tiba-tiba memucat, nafasnya tersenggal-senggal, bahkan orang yang bersembunyipun bisa mendengar nafas tak wajar pemuda ini.

Namun matanya tetap setenang danau, hanya saja ia menggertak giginya keras-keras sampai berkeriutan.

“Kalau tidak kuat, mengangguklah!” seru Si Kedok sangat terperanjat melihat keadan Jaka yang makin payah, kelihatannya ia sangat kawatir.

Jaka mengibaskan tangannya, menolak tawaran. “Masih sanggup kutahan…” sahut Jaka dengan suara lirih, agak tersendat, tapi nadanya tenang, penuh percaya diri.

Wajah yang tadi memucat kini merah merona, tubuh yang tadi menggetaran karena lemas, kini menegang. Keadaan Jaka ibarat laut yang dilanda dua badai berlawanan arah. Karena begitu wajahnya merah membara, beberapa saat kemudian wajahnya kembali pucat pias. Begitulah, keadaan Jaka berubah-ubah begitu rupa sampai seperempat jam lamanya.

Mereka yang menyaksikan kejadian itu adalah manusia berkemampuan unggul, mereka bisa melihat perubahan aneh pada rona wajah Jaka. Suasana jadi makin tegang saja, adalah tidak wajar orang yang terkena lima racun hebat tidak mengerang sedikitpun, tapi dari bibir Jaka bukannya terdengar erangan atau rintihan akibat racun, malah terdengar siulan yang tadi dilantunkan samar-samar, orang-orang tidak mengerti apa manfaat siulan, padahal Jaka bersiul hanya untuk melepas ketegangan hatinya.

Pada saat wajah Jaka pucat dan membara, biarpun tubuhnya letih—lemas, bahkan terkadang mengejang, Jaka tetap pada posisi semula—menggendong tangannya didepan dada, menandakan keteguhan pantang menyerah.

Lamat-lamat orang merasakan bahwa yang mereka pandang itu bukan sekedar pemuda berusia dua puluh tahun, ada semacam kewibawan darinya.

“Hhhh…” tiba-tiba saja Jaka menghembuskan nafas panjang dengan suara keras. Tangan yang semula bersedekap, kini menghentak bersamaan kesamping, lalu dipukulkan ketanah.

Braak!

Suara akibat hentakan itu amat keras, bagaikan ratusan kati batu gunung yang longsor, namun tanah yang terkena hentakan itu tidak membekas apapun, hanya lamat-lamat debu mengepul tebal karena hentakan tangan Jaka. Akibat hentakan tadi tubuh Jaka melambung sampai tiga tombak, kemudian turun dengan perlahan. Begitu kaki menjejak tanah, Jaka berlutut sambil menghempaskan tangannya keatas, seolah sedang membangkat beban.

“Selesai!” serunya dengan suara amat nyaring. Jaka bangkit, ia mencabut jarum yang menancap di pertengahan telapak kiri dan simpul kecil perutnya. Ia masukkan kembali jarum itu kedalam kantung kulit yang sebelumnya untuk membungkus.

Orang baru sadar, ketika Jaka mencabut jarum di telapak tangannya, bukankah tadi Jaka menghantamkan tapak ke tanah dengan begitu kerasnya? Kenapa jarum yang menancap itu tidak menembusnya? Sungguh aneh.

Dengan tindak lambat, Jaka menyerahkan tiap nampan pada empat pengiring manusia berkedok.

“Apakah perlu ditunggu hingga fajar?” tanya Jaka dengan suara lembut, dari suaranya yang mantap, orang awampun tahu kalau Jaka sehat-sehat saja.

Sampai beberapa saat Si Kedok tak dapat bicara, ia merasa takjub, sangat takjub. Dan tentunya bukan cuma si kedok itu saja, empat pengiring, Ki Lugas bertiga, Ki Gunadarama dan tujuh orang misterius, merasa sangat kaget juga kagum.

Kalau ada orang yang kebal racun, mereka tidak begitu kagum, karena paling tidak orang yang kebal itu pernah menelan sebuah mustika langka, atau membawa sejenis mustika penolak racun.

Sepanjang sejarah persilatan, kecuali hari ini mereka belum pernah melihat dan mendengar ada orang bertahan dari lima racun hebat, dengan keadaan tubuh yang wajar—tanpa bantuan dari luar seperti mustika penolak racun atau sejenisnya. Tak disangka hari ini mereka menjadi saksi kejadian fenomenal.

“K-kau, kau yakin baik-baik saja?” tanya si kedok itu dengan suara agak melengking dari biasanya.

Jaka heran mendengar perubahan suara yang mulanya berat seperti orang tua, kini melengking nyaring seperti masih berusia belasan tahun. Tapi kekagetannya tidak ia pikirkan, buru-buru Jaka menjawab pertanyaan orang itu.

“Aku baik sekali, memang harus kuakui, selama hidupku aku belum pernah melakukkan perbuatan bodoh macam ini, tapi setelah mengalaminya, jadi orang bodoh ternyata melegakan.” Kata Jaka sambil tertawa.

“Sebenarnya bagaimana kau tawarkan lima racun tadi?” tanya Ki Lugas tak sabar. Sejak tadi ia menonton saja, rasanya sangat disisihkan, walaupun ia harus mengakui bahwa kejadian tadi memang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Tapi ia berpendapat sebagai orang yang dituakan, dirinya seharusnya mendapat prioritas lebih.

Jaka menoleh kearah Ki Lugas, ia ingin menjawab, tapi bagaimanapun juga Ki Lugas tidak termasuk orang yang terlibat dengan kejadian tadi. Pemuda ini menoleh kearah si kedok.

Tampak si kedok itu menganggukkan kepalanya, Ah, tak sangka diapun mengerti tata karma, pikirnya. Lalu mengangguklah ia sebagai jawaban, karena dirinya juga sangat ingin tahu jawabannya.

“Bukan hal sulit untuk menawarkan racun.” Kata Jaka memulai, lalu ia diam beberapa saat lamanya.

“Cuma itu saja keteranganmu?!” potong Seta Angling, si pemuda pemarah.

Jaka menoleh sekejap sambil tersenyum. “Tentu saja tidak… aku sedang berpikir bagaimana memberikan penjelasan yang gampang dimengerti.”

Meski dia seperti dilecehkan Seta, tapi dia tak marah. Untuk beberapa saat, Jaka kembali berpikir, tidak bisa kuterangkan secara gamblang, bisa-bisa mereka tahu, darimana kuperoleh cara itu. Mungkin bisa membongkar keberadaan kitab pertabiban yang pernah ada padaku. Hh, ini akan banyak membawa kesulitan, kalau begitu terpaksa aku mengarang cerita dengan latar si Tabib Hidup-Mati, Jaka memutuskan demikian, kemudian ia mulai memberi penjelasan.

”Begini, sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati, aku mempelajari sistem pernafasan berbeda dari olah pernafasan kaum persilatan pada umumnya. Pernafasan itu disebut…” Jaka termenung sebentar, ia harus mengarang sebuah nama yang bagus.

“Sembilan Putaran Nadi, awalnya pernafasan ini diciptakan untuk menahan racun apa saja. Dan itu juga yang kugunakan untuk menahan racun yang masuk ketubuhku. Pada tingkatan tertentu, tanpa waspada sebelumnyapun aku sanggup menahan, lalu mengeluarkan racun, tapi tingkatanku belum sampai kesitu. Aku harus bersiap-siap memunahkan racun dengan segala kumpulan hawa murni yang terbentuk dari latihan pernafasan tersebut. Dalam keluarga kamu, itu barulah tingkat awal…” mendengar itu, beberapa orang menghela nafas tertahan, jika awal saja sudah begitu hebat, bagaimana tingkat akhirnya?

“Sedikit penjelasan, tidak setiap racun bisa ditahan dengan baik kalau kita tidak mengetahui semua sifat dan jenis racun yang masuk ketubuh, karena itu sehebat apapun pernafasan tersebut dilatih, tidak akan mendapat hasil apapun jika dia buta hal racun.” Ada yang menghela nafas lega mendengar penjelasan itu, maklum saja, jika hanya dengan mempelajari pernafasan yang dimaksud Jaka, maka seseorang bisa terbebas dari semua racun, boleh dibilang dia sudah menjagoi dunia persilatan. Terlalu menakutkan! Untunglah tak seperti itu.

“Aku sendiri berkemampuan mengetahui setiap jenis, dan sifat racun, walau aku tidak tahu nama racun itu… dengan demikian olah pernafasan yang kulatih dapat menahan bahkan memunahkan daya racun.” Entah bagaimana perasaan mereka saat itu, mendengar ucapan Jaka terdengar begitu ringan. Padahal esensi—pesan utamanya, seolah mengata-kan; aku perlu kalian waspadai.

Walau mereka paham dengan penjelasan Jaka, tapi penjelasan itu barulah garis besar saja.

“Kalau cuma itu yang kaujelaskan, aku juga bisa mengarang ceritanya…” seru Seta Angling tak puas.

Perkataannya seolah mendapat dukungan semua orang, biarpun mereka hanya diam saja, tapi Jaka merasa semua orang setuju dengan Seta.

Jaka tertawa tanpa suara, “Aku memang belum menjelaskannya,” katanya mengelak tuduhan Seta. “Maksudku bercerita seperti itu, sebagai pembukaan penjelasanku berikutnya. Sebab intinya adalah olah nafas Sembilan Putaran Nadi.”

“Saat aku menelan Racun Pemutus Nadi, dengan hawa murni yang terbentuk akibat latihan olah nafas itu, kupindahkan racun tersebut pada bagian mati, atau bagian yang tidak aktif dalam tubuh, yakni pada pertengahan telapak tangan sebelah kiri..”

“Tidak mungkin!” tanpa sadar Si Kedok menyangkalnya.

“Kenapa tidak?” sahut Jaka. “Teorinya kan sama dengan memindah hawa murni ke telapak tangan.”

Si kedok ini melegak sejenak. “Tapi itu racun hebat.” Katanya dengan nada getas. Tiba-tiba dia teringat, selama ini kecuali Racun Satu Nafas, Jaka menyebut racun lain sebagai mainan. Dengan ini dia bisa memahami maksud lawannya. Bahwa, menurut Jaka tiga racun utamanya tergolong ringan, dongkol juga dia menghadapi kenyatan seperti itu, tapi ingin mendebat pun dia tak punya keberanian, sebab bukti sudah jelas! Seluruh racunnya memang ‘mainan’ bagi Jaka!

“Tak masalah, selama kau bisa menahannya, dan bisa mencegah timbulnya akibat racun lebih luas.” Jelas Jaka sederhana.

Penjelasan Jaka yang ini membuat wajah mereka berubah, tanpa sadar mereka berseru tertahan. Jaka tidak tahu mereka berseru karena apa, tapi yang jelas bagi mereka yang tahu seluk beluk melatih hawa murni, memindahkan racun pada bagian tak aktif tanpa menimbulkan keracunan pada jalur yang dilewatinya, adalah perbuatan yang mustahil! Jika berhasil tentunya akan berakibat luar biasa—racun makin meluas. Tapi Jaka tak mengalaminya, sebab itulah mereka kagum.

Tidak menanti lama, Jaka melanjutkan. “Saat kuhirup asap dari proslen, aku tidak membiarkan asap itu menerjang masuk keparu-paru, dengan olah nafas ciptaan keluargaku, aku memindahkan asap racun itu ke kerongkongan dan memadatkan dalam lambung lalu kudorong untuk bergabung dengan angin kotor diperut,”

Ah, manusia macam apa dia ini! Seru Si Kedok dalam hati. Ia tak ingin bersuara lagi, karena apapun bantahannya, Jaka menjawabnya dengan jawaban sederhana dan masuk akal, tapi jika orang lain yang melakukan sulit luar biasa.

Untuk penjelasan ini tidak mendapat tangapan. Bukan berarti mereka tidak berekasi terhadap penjelasan Jaka, karena tekhnik mengalihkan asap racun ini lebih sulit ketimbang mengalihkan racun kebagian tak aktif, mereka tidak berkomentar terhadap penjelasan Jaka, karena terlalu takjub!

“Alasan kutelan Racun Enam Langkah, dan Racun Satu Nafas hampir bersamaan, karena aku paham dengan sifatnya. Harus kutelan Racun Enam Langkah lebih dulu, karena racun itu dapat sedikit menghambat daya kerja racun satu nafas. Begitu keempatnya sudah ada didalam tubuh, aku segera menusukkan jarum pemicu racun pada tangan kiri dimana Racun Pemutus Nadi berkumpul, dan juga kutusukkan jarum kedua pada simpul perut kecil, dimana asap Lima Mayat berkumpul. Kau bisa memahami tindakkanku itu?”

“Tentu saja tidak tahu, bodoh!” seru Seta gemas, “Memangnya aku ini cacing dalam perutmu, yang tahu tiap kelakuanmu?!”

Jaka tertawa mendengar ucapan Seta, tanpa menanggapi sindiran tadi, Jaka melanjutkan penjelasannya. “Aku paham dengan perbedaan dan persamaan racun, dan juga mengerti asap Lima Mayat, dan Pemutus Nadi, katakanlah masih empat tingkat lebih rendah dari Racun Satu Nafas, dan dua tingkat lebih rendah dari Racun Enam Langkah. Karena itulah kutusakan Jarum Pemicu Racun agar dua racun yang berkumpul itu dapat meningkat menjadi berlipat ganda. Pada saat racun sudah meningkat kekuatannya, aku melangkahkan kaki dua langkah kedepan dan menarik nafas panjang, agar dua racun yang terakhir kutelan segera bereaksi. Tujuan utamaku adalah racun melawan racun… andaikata empat racun yang kutelan itu memiliki sifat yang sama, aku tidak yakin bisa memunahkannya, mungkin hanya bisa menahan sampai fajar datang saja. Tapi berhubung racun itu sangat berlawanan sifatnya, maka dengan sendirinya aku bisa memunahkan dengan cepat.”

“Jika tidak ada Jarum Pemicu Racun?” tanya si kedok dengan suaranya yang kembali berat.

“Sama saja, tetap bisa kutawarkan, aku akan menggunakan perbandingan racun satu banding tiga. Diantara keempat racun itu racun satu nafas yang paling ganas, aku harus menggunakan kombinasi ketiga racun lainnya untuk saling memunahkan.” Jelas Jaka.

“Untuk menentukan perbandingan kadar racun tidak boleh gegabah asal tebak, sebab jika salah sedikit saja, tidak akan terjadi fase racun melawan racun, tapi akan terjadi fase racun bergabung dengan racun, itu sangat membahayakan.”

Penjelasan Jaka yang satu ini membuat semua orang—yang sembunyi, dan tidak—mengangguk paham. Jarang mereka mendapat pelajaran berharga seperti ini. Dengan kejadian ini, pandangan mereka pada Jaka berubah.

“Kelihatannya begitu mudah, kupikir setiap orang bisa melakukan apa yang kau lakukan!” seru Seta Angling sentimen. Kelihatannya hanya pemuda ini yang selalu menentang Jaka, mungkin untuk menutupi kekaguman dihatinya.

Jaka tersenyum, ia sama sekali tidak tersinggung. “Benar, tiap orang bisa melakukannya,” kata Jaka dengan suara bersahabat.

“Tapi harus ada syaratnya, pertama; dia harus memiliki pernafasan Sembilan Putaran Nadi, kedua; mengetahui semua sifat racun, ketiga; mengenali semua urat syaraf pada tubuh manusia, juga harus mengenali susunan otot, tulang, dan jalan darah, keempat; dapat bertindak dengan tenang, dan kelima; menggunakan waktu yang tepat untuk saling memunahkan racun, jika kelima hal itu tidak dimiliki, kejadiannya akan lain.”

“Hmk..” Seta hanya menjengek gusar. Ia merasa apa yang diucapkan Jaka seolah ditujukan padanya.

“Jadi bagaimana?” tanya Jaka pada Si Kedok.

“Aku kalah!” kata si kedok itu dengan tegas.

Jaka manggut-manggut, “Sungguh jantan, dan bertanggung jawab,” puji Jaka. “Baiklah, kita akan saling mengenal lebih akrab pada pertemuan kita berikutnya.”

“Baik.” Jawab si kedok itu agak gelisah. “Tapi bagaimana dengan syarat yang belum kau katakan?” tanya orang itu menyiratkan kekawatiran hatinya, ia sama sekali tidak menanggapi pujian Jaka.

“Saat ini belum terpikir, mungkin saat pertemuan kita berikutnya, tapi kau jangan kawatir mengenai syarat yang lain, aku tidak akan membuatmu merasa rugi atau dilecehkan.”

Ucapan Jaka membuat si kedok itu tertegun. “Aku heran, kenapa orang semacam kau kujumpai sekarang, apakah kau baru turun gunung?”

Jaka tahu orang itu bukan sedang menghina dirinya, istilah ‘turun gunung’ adalah ungkapan yang dipakai untuk seorang yang sudah tamat belajar. Sekalipun Jaka sudah banyak tahun muncul dikancah persilatan, karena tak ingin dikenal, maka siapapun tak akan mengenalnya. Lagi pula dari ucapan Si Kedok, Jaka seolah mendapat penjelasan, bahwa Si Kedok mengenal para pendekar atau jago-jago yang malang melintang di dunia persilatan. Dengan demikian, Jaka makin yakin dengan dugaannya. Bahwa Si Kedok itu adalah…

“Sejujurnya, sudah banyak tahun aku ‘turun gunung’, tapi aku jarang sekali bentrok dengan tokoh persilatan, kalaupun bentrok, juga hanya selisih paham saja. Selama ini aku hanya bergerak kesana kemari, sekedar memuaskan isi hati.” Tutur Jaka.

“Jadi, apa keinginan hatimu?” tanya Si Kedok.

“Hm…” Jaka mendehem. “Sejak kecil aku di didik dalam lingkungan yang keras dan terpelajar, sedikit-sedikit aku harus belajar ini-itu yang berkaitan dengan kesusastraan, ilmu bumi, dan begitu banyak hal yang kupikir itu membosankan. Tak tahunya begitu aku keluar rumah, semua pengetahuan itu sangat membantuku. Orang bilang membaca buku tanpa melihat kenyataan tak berguna, karena itu hampir tiga tahun ini, kutinggalkan rumah hanya untuk mengunjungi tempat yang bisa membuatku kagum!”

“O, jadi begitu…” ujar si kedok ini.

“Ya, sesederhana itu. Dengan kejadian hari ini, aku hanya ingin menyatakan kepada saudara sekalian. Bahwa saya, tak bermaksud mendompleng nama besar leluhur, akan terjun total dikancah persilatan. Tak perduli apa pendapat kalian nanti, mungkin aku akan menimbulkan badai.”

“Maksudmu?” Tanya Si Kedok.

Jaka menghela nafas. “Kalau kau tahu keadaan saat ini seperti apa, seharusnya kau tidak perlu minta penjelasan.”

“Oh…” si kedok terlihat tercekat. “Maksudmu untuk mengimbangi badai lain?”

“Bisa diartikan demikian.” Ujar Jaka sambil tersenyum, jawaban itu kembali menimbulkan banyak pertanyaan.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s