27 – Koordinasi Taktik

Dipersembunyiannya, Gunadarma merasa gelisah. Ditempat Ki Lukita-setelah Jaka pergi-Ki Gunadarma dan ketiga rekannya memang memutuskan untuk memantau apa yang dilakukan Jaka, karena sebelumnya Jaka juga meminta mereka mengikutinya. Maka itulah, begitu Jaka pergi, tak berapa lama kemudian Ki Gunadarma keluar dengan pesat. Hanya sepuluh menit saja ia sudah sampai di Kuil Ireng. Dengan sendirinya ia melihat semua peristiwa ditotoknya Mahesa Ageng, dari awal hingga akhir. Dan kini melihat Jaka duduk seperti itu, ia jadi resah. Apakah sudah waktunya untuk menemui pemuda itu. Sesaat ia ragu, tapi kemudian ia putuskan untuk menunggu beberapa saat setelah pertemuan yang direncanakan Aki Lukita dan Bergola. Sejauh ini rasa herannya belum lagi tuntas, yakni; kenapa Jaka tidak bersembunyi? Bukankah akan membuat pihak musuh kawatir? Dan mungkin saja bisa menebak apa yang direncanakan Jaka sebelumnya? Tapi dia yakin, Jaka tidak akan bertindak seceroboh itu, pemuda ini pasti sudah memperhitungkan segala sesuatunya.

Memangnya dia membual besar-besaran hanya untuk menakut-nakuti orang? Tentu tidak begitu, hanya saja salah satu tujuan Jaka adalah menanamkan kesan mendalam pada orang yang sudah berada di sekitar tempat itu. Karena Jaka tahu, jika ada beberapa orang datang ketempat itu, pasti ada yang lain, mungkin saja karena kebetulan, atau ada kepentingan lain.

Lalu apakah Jaka tidak kawatir kalau kedoknya diketahui orang-orang yang sehaluan dengan Bergola?

Tentu saja kawatir, hanya saja kekawatirannya tak ada lagi setelah mengalami berbagai kejadian. Kenyataannya Jaka sudah dapat menebak bahwa Bergola dan begundalnya tidak akan berani bertindak sembarangan malam ini, sebabnya, mereka kawatir dengan musuh tangguh, orang-orang dari perguruan Sampar Angin.

Sebelum kejadian itu, Jaka memperkirakan anak buah Bergola atau tokoh yang dimungkinkan sederajat dengan Bergola, mungkin saja sudah bersembunyi di sekitar Kuil Ireng. Tapi karena Bergola dan rekannya telah berjumpa dengan pimpinan mereka, dan di beri pengarahan berbeda dengan rencan Bergola, maka kemungkinan besar rencana untuk bertemu dengan Ki Lukita ditempat itu, batal! Lagi pula Jaka juga menyarankan agar gurunya tidak datang.

Pihak gurunya tidak akan ambil resiko dengan menampilkan jati diri sebenarnya, biarpun hanya mengutus mata-mata untuk mengintai tempat itu.

Jaka yakin sebelum dirinya datang, pasti ada mata-mata dari kawanan Bergola, tapi karena sebelumnya mereka sempat melihat tindakan Ki Lugas dan dua keponakannya—saat meringkus Mahesa Ageng dan Dirga—tentu saja mereka segera pergi. Mereka tidak akan tinggal ditempat itu terus, karena resiko tertangkap basah oleh tiga orang lihay itu sangat besar.

Lalu apa tujuan utama Jaka membual besar tenang asal usulnya? Tentu saja untuk menarik perhatian, khususnya bagi yang memperhitungkan gerak-geriknya. Jaka yakin, ada orang yang bisa menebak bahwa ia akan lewat jalan sepi yang menuju perbatasan timur, pasti orang itu juga sudah memperhitungkan bahwa tempat pertemuan atau mengintai, yang paling ideal adalah Kuil Ireng. Dengan jaminan kejadian itu saja, Jaka seribu persen yakin mereka yang sekomplotan dengan Bergola tidak akan pernah muncul di Kuil Ireng. Sebab mungkin saja di tengah jalan mereka sudah dibereskan orang-orang misterius yang mengintai Jaka; atau mereka mundur mengingat resikonya terlalu besar.

Dan Jaka berani memastikan empat orang yang tadi mengintai perjalanannya beserta tuannya sudah berada di tempat ini!

Jika kalian mengira bisa memperhitungkan tindakan, aku akan buat seperti yang kalian kira. Pikir Jaka. Mula-mula aku harus tahu siapa dia dan apa maunya, apa mereka sehaluan dengan kelompok rahasia yang sedang berkembang, atau malah sama sekali tiada sangkut pautnya. Sedangkan rencana yang sedang dipupuk beberapa orang di Perguruan Naga Batu harus segera kuurus, sebelum mereka bertindak keterlaluan. Hh, pekerjaan ini terlalu beresiko, tapi harus tetap kukerjakan.

Jaka memikirkan berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Tak disadarinya, ia sudah duduk dengan mata terpejam, setengah jam lebih.

Sekarang adalah saat pentuan.

Kurasa anak buah, bahkan Bergola sendiri tak akan meninjau tempat ini. Mereka pasti mengerti, datang kemari lebih banyak rugi dari pada untungnya. Tapi, jika mereka tak terpikir demikian? Kemungkinan tersebut, membuat Jaka harus menimbang ulang rencananya. Tak masalah mereka datang atau tidak, yang penting mereka tidak tahu, penyebab semua keramaian ini adalah aku. Tapi, sebenarnya aku ingin, kejadian ini dilaporkan pada atasannya, dan dia mengerti jadti diriku. Ah, tapi biarlah.. toh nantinya akan kujumpai Bergola juga. Jaka tertawa dalam gumam. Segurat senyuman mengartikan dia mendapat ide baik.

Tentu saja yang di maksud ‘jati diri’ adalah; Jaka mengerti ilmu silat. Pemuda ini memang jarang menggunakan ilmunya, tapi bukan berarti dia bermaksud menyembunyikan.

Begitu banyak ide terlintas, kali ini Jaka sudah yakin dengan rencananya, dia tidak perlu ragu lagi untuk bertindak.

“Tuan-tuan yang bersembunyi, apakah anda sudah mendapatkan kesimpulan tentang diriku?” ujar Jaka seperti sedang bicara sendiri. Padahal Jaka berniat mengatakan pada sahabat gurunya—Ki Gunadarma—bahwa dirinya sengaja membual untuk mengelabui orang-orang yang ada disitu.

Tak berapa lama setelah Jaka bicara seperti itu, muncul lima bayangan yang bergerak sangat pesat.

“Peringan tubuh hebat!” puji Jaka melihat gerakan lima orang itu.

“Tak sebagus milikmu!” terdengar suara dengan nada berat.

Ada sedikit keterkejutan dalam hati Jaka melihat penampilan empat orang itu, sebab di gelapnya malam, penampilan mereka persis Lima Pelindung Putih dari Perguruan Sampar Angin. Empat orang itu juga berpakaian serba putih, mengenakan jubah panjang hingga menjulai tanah. Rambut merekapun putih berkilat. Jaka merasa sosok empat orang berambut putih itu memiliki wibawa lebih dari orang-orang Sampar Angin, diam-diam Jaka mengeluh. Jika mereka menjadi lawannya, dia bisa repot. Belum selesai satu masalah, muncul yang lain.

Dengan cara apa mereka menutupi kilau rambut perak, dan warna putih pakaian saat mengintai? Batin Jaka. Oh.. aku tahu. Pikir Jaka kemudian. Jubah itu! Jika jubah itu dibalik, warna hitamlah yang ada didalamnya.

Dan benar, saat Jaka mengamati, lamat-lamat terlihat jubah bagian berwarna gelap. Tapi, Jaka merasa heran, dengan penampilan orang yang dia kira sebagai sang majikan. Pakaian orang itu juga putih ringkas, dibajunya ada selempang kain hitam, lebih aneh lagi wajahnya ditutupi kain begitu rupa, yang tersisa hanya sepasang mata yang mencorong tajam.

Orang pasti sangat tangguh, duga Jaka.

“Sudah lamakah anda menunggu di sana?” tanya Jaka seraya menunjuk sebuah tempat.

Walau Jaka tak dapat melihat rekasi akibat ucapanya, tapi dia merasa lima orang itu sedikit terperanjat.

“Mungkin selisih seperempat jam lebih lambat dari saudara,” sahut orang yang wajahnya ditutupi kain hitam. Suara orang itu terdengar berat seperti orang tua, tapi Jaka yakin suara itu hanya untuk menutupi identitas sebenarnya.

“Saya rasa cukup berguna untuk mengetahui semua yang terjadi.” Ujar Jaka bergumam.

“Benar, tentu saja aku tahu saat saudara mengaku sebagai turunan tabib mashyur masa silam.” Sahut orang itu dengan tenang.

“Hm…” Jaka tidak menanggapi, pemuda ini mengamati gerak-gerik lima orang itu—yang kelihatannya serba aneh—Jaka mengambil kesimpulan yang ia sendiri tidak begitu yakin.

Mendadak Jaka bersenandung lirih. “Kala malam hujan badai, sesuatu muncul tanpa terasa, rupa tak teraba, kadang orang merasa tentram, tapi lebih banyak rasa terancam mencekamnya. Sayang… semua itu cuma masa lalu, tapi kini dia kembali!”

“Syair yang bagus..” puji si kedok itu.

Jaka tertawa. “Kau mengakuinya, aku jadi tersanjung. Padahal aku sendiri tak tahu apa yang kulantunkan.”

“Aku cuma mencoba menghargaimu.”

“Terima kasih. Kau bilang seperti itu, mau tak mau aku harus berterus terang, aku memang selalu mengagumi syair sendiri. Kalau bukan kita yang menikmati jerih payah sendiri, siapa lagi yang mau, bukankah begitu?” ujar Jaka. “Kalau boleh tahu, apa maksud kedatangan anda?” tanya Jaka langsung kepokok permasalahan.

“Sebenarnya tidak begitu penting, cuma ingin bertanding denganmu!” kata si kedok itu tegas.

“Oh,” Jaka tertegun, “Sangat menyenangkan!” sambungnya. “Kapan? Sekarang jugakah?”

Si kedok tidak menduga jawaban Jaka begitu mudah, menurutnya, seharusnya Jaka menanyakan alasan dirinya yang—bahkan belum mengenalkan diri—terus menantang. Menurutnya, akan ada perdebatan, lalu seperti rencananya… pertarungan.

Tak banyak berpikir, ia segera menjawab. “Menurutmu?”

“Lebih baik setelah keramaian..” ujar Jaka menyelidik, kalau Si Kedok tidak mengetahui persoalan yang dibicarakan, Jaka bisa mengambil kesimpulan orang itu tidak ada sangkut pautnya dengan Perguruan Naga Batu, atau kejadian yang akan berlangsung disana. Dengan demikian, dia bermaksud tak akan berurusan dengan orang itu.

“Tidak bisa! Pilihan waktumu sangat buruk!” cela orang itu seenaknya.

Tapi Jaka tidak tersinggung ia tertawa ringan, dalam hatinya ia sudah ada dugaan kuat tentang maksud Si Kedok, ia dapat menduga maksudnya karena mendengar jawaban tadi.

“Jadi apakah saudara mempunyai usul waktu yang lebih baik?”

“Hari keempat!”

“Maksudmu?” tanya Jaka bingung.

“Keramaian masih enam hari lagi, agar tidak mengganggu perayaan, maka dua hari sebelumnya, kita adakan perjumpaan yang menentukan!”

Jaka manggut-manggut, “Baik, aku setuju!” serunya senang.

“Kau tidak ingin tahu pertandingan macam apa yang akan kita lakukan?” tanya si kedok itu dengan suara datar dingin.

“Rasanya tidak perlu,” sahut Jaka. “Paling-paling saling gebuk, jika saudara suka sastra mungkin saja itu yang akan di pertandingankan, atau mungkin bertanding racun untuk membuktikan kebenaran tentang diriku? Atau…” Jaka tidak melanjutkan ucapannya, ia tertawa penuh arti.

“Atau apa?!” seragah si kedok itu tak sabar.

“Aku sendiri tidak tahu kata apa yang cocok setelah ‘atau’ tadi,” sahutnya dengan wajah sungguh-sungguh. Sambil menghela nafas Jaka menyambung. “Aku tahu kedatangan saudara tidak sekedar memberi undangan bukan?”

“Benar! Kami datang untuk menunggu pertemuan yang akan berlangsung.”

“Pertemuan?” tanya Jaka heran.

“Hm…” orang itu menggumam sambil melirik keempat orang dibelakangnya, empat orang itu mengangguk pasti. “Pertemuan orang lama dengan begundal cilik!”

Jaka termangu heran, Apakah yang dimaksud mereka adalah guru? Kalau benar demikian, dari mana dia tahu kabarnya? pikirnya heran.

“Orang lama ya… apakah aku tahu dia?” akhirnya Jaka bertanya.

“Ya!” jawab si kedok getas.

“A-ha…” sorak Jaka terkejut juga girang, ia bertepuk tangan. “Kalau begitu, benar dugaanku!”

Melihat Jaka begitu riang, Si Kedok terheran-heran, dia tidak paham apa yang membuat Jaka berubah begitu cepat.

“Sobat, sayang sekali dugaanmu sedikit keliru!” ujar Jaka kemudian.

“Apa maksudmu?”

“Bajingan cilik yang kau maksudkan tidak akan hadir, mereka tahu situasi macam apa yang di hadapi saat ini. Tentu dia tak akan bertindak bodoh, apalagi banyak kakap berdatangan, mereka tidak akan bertindak gegabah. Pepatah mengatakan, memancing ikan besar lebih baik menggunakan umpan yang besar. Jika engkau ingin mengetahui siapa mereka itu, lebih baik buatlah umpan… umpan yang sangat lezat!” Si pimpinan saling berpandangan dengan empat orang yang mengiringinya.

“Kelihatannya kau tahu banyak…” katanya memancing.

Jaka tertawa lebar, tentu saja dia tahu apa maksud ucapan si kedok itu. “Ah, kau terlalu menyanjung, aku tak lebih cuma pengunjung yang kebetulan lewat, jika urusan selesai sudah tentu harus buru-buru pergi. Lagi pula apa yang kuketahui hanya sedikit, tapi… jika kau mau menyimpulkan bahwa aku sudah memperhitungkan apa yang akan terjadi, aku bisa menerimanya.”

Orang ini berbelit-belit! Pikir Si Kedok merasa jengkel. Tapi diluarnya, dia memuji.

“Lumayan untuk seorang pengunjung!”

Jaka tidak menanggapi, “Tapi ada beberapa hal yang membuatku resah, salah satunya kau…”

“Aku? Aku membutmu resah?”

“Ya.” Jaka mengakui dengan jujur.

“Aku merasa tersanjung.” Ujar Si Kedok seraya terbahak, kelihatannya dia merasa menang angin.

Jaka tersenyum. “Kalau boleh tanya, apa yang akan kau lakukan? Maksudku, memancing ikan teri bukanlah hal yang perlu, apalagi menggunakan daging mahal. Menurutku itu tak baik..” kata Jaka.

Si Kedok tertegun, dia pikir Jaka tak tahu menahu tentang dirinya, ternyata pemuda itu bisa menebak sedikit maksud hatinya. Diam-diam dia mulai memperhitungkan Jaka.

Siapapun yang mendengar ucapan Jaka, tentu berbeda penafisrannya satu dengan yang lain. Tapi hanya Si Kedok yang maksud Jaka.

Mereka berpikir, orang ini sembarangan bicara, kenapa mengisyaratkan sesuatu tak menggunakan bahasa sedikit lebih halus? Seenaknya saja!

“Kau yakin dengan dugaanmu?”

Bagi orang berego tinggi ucapan ‘dugaan’ sangat memukul harga diri. Karena arti ‘dugaan’ bias berarti sembarang bicara. Dalam hal ini Si Kedok tak bisa disalahkan, karena dia tak melihat bukti ucapan Jaka.

Jakapun paham dengan ‘makian’ Si Kedok, pemuda ini cuma tertawa. “Aku sangat yakin.”

Si Kedok diam sesat. “Seandainya teri terbawa arus, bagaimana harus memancingnya?” tanya si kedok, memancing kecerdasan Jaka.

Jaka tertawa lebar, ia senang si kedok paham sepenuhnya dengan apa mereka bicarakan. “Sejak dulu mana ada orang memancing teri? Jadi buat apa mengurus ikan teri? Kalau kau inginkan besi berkualitas, tak akan luput dari api! Hh, kebanyakan orang tidak ingin melewatkan hal menarik, jika memikirkan sesuatu yang bisa membentuk besi jelek, jadi berkualitas. Walaupun dalam keadaan darurat ikan teri tak bisa dibuat mengganjal perut, akan datang saatnya kakap mampir kekailmu!”

“Sepertinya harus berpuasa…”

Jaka tertawa senang mendengarnya. “Ternyata, kau memahaminya.”

Orang berkedok itu mengangguk samar. Dia paham betul apa yang dimaksudkan, yakni; ikan teri—Bergola, kemungkinan sudah melaporkan apa yang dilihat anak buahnya, yang sebelumnya datang untuk memata-matai keadaan. Mereka pasti sudah memberi kabar pada atasan, bahwa banyak jago kuat yang berkumpul di Kuil Ireng. Tentu saja si bandeng adalah pimpinan Bergola, bahkan orang yang lebih tinggi kedudukannya, mungkin akan segera datang kuli Ireng, dengan sembunyi-sembunyi, atau terang-terangan. Tentu saja orang seperti Bergola tak akan datang, ilmu mereka terlalu cetek untuk menghindari dari pantauan tokoh sakti seperti Ki Lugas.

Dari sini, Jaka juga bisa mengambil kesimpulan, bahwa malam ini Si Tuan Entah Siapa itu, belum bersinggungan dengan Bergola atau atasannya.

“Apa yang kau pikirkan mungkin saja terjadi, tapi kakap tidak semudah, selunak ikan teri.” Gumam si kedok.

“Siapa bilang sekeras itu? Memangnya engkau mau memakannya mentah-mentah? Tentu saja harus merebus, mengulainya pasti jauh lebih enak.” Jawab Jaka seperti sekenanya, terdengar melantur.

Si Kedok tergelak. “Pemikiran bagus, tapi kurasa kurang tepat, menggulai tanpa api? Bagaimana dengan alat masak? Kurasa ini tak akan berhasil!”

“Ya, kusadari api juga belum cukup, bagaimana kalau aku yang menyediakan bumbu, lalu kau yang menyediakan peralatan masaknya.”

Orang berkedok itu termenung, “Boleh juga usulmu, tapi aku tidak dapat menduga bumbu apa yang akan kau pakai, jangan-jangan tak enak.”

“Jangan kawatir,” sahut Jaka. “Bumbu olahanku ditanggung enak! Supaya kelezatan terjamin, aku sendiri yang akan memasaknya. Setelah mencicipi, kau tak akan melewatkan bumbu olahan berikutnya.”

Si Kedok menatap Jaka sesaat. “Jika kau begitu yakin, aku tak keberatan. Cuma… menyediakan bumbu berbeda dengan memasak, aku meragukan itu!” ujar Si Kedok bergumam.

Jaka terdiam sesaat, mendadak ia tertawa. “Aku memang tak bisa menjamin hal itu, tapi aku punya keyakinan, masakanku seenak bumbu olahannya.”

“Semoga saja.”

“Tentang ikan kakap… pernahkah kau dengar ikan itu bisa jadi umpan? Umpan ikan besar pemakan daging, seperti hiu?”

“Ya, aku pernah mendengarnya!” ujarnya cepat seperti tersinggung.

“Kalau kita… aku bisa melihat hiunya, maka tak perlu menggunakan bumbu terlalu lezat.”

“Cukup bagus!” sahut si kedok memuji sambil bertepuk tangan. Tapi bagi pendengaran Jaka tepuk tangan itu dapat mengartikan dua hal; yakni mengejek kesalahan bicaranya—kita, yang berarti tindakan Jaka akan tergantung pada Si Kedok; atau orang ini memang memuji rencananya.

Kedua orang itu kelihatannya cocok satu sama lain, sikap mereka menimbulkan kebingungan bagi yang mengikuti percakapan dari awal. Bahkan Ki Lugas dan dua keponakan muridnya yang kembali mengintai keluarpun makin tak mengerti melihat tingkah Jaka yang kelihatannya makin ngelantur.

Lain dengan Ki Gunadarma, dia mulai paham dengan kecerdikan Jaka, tapi yang tidak ia mengerti kenapa membicarakan soal penting dengan istilah ikan segala? Kejadian itu membuatnya geli.

Empat orang yang mengiringi si manusia berkedok hanya bisa diam dengan tatapan mata menyiratkan kebingungan, walau mereka terlihat menyeramkan dalam kedoknya, namun melihat tuannya bisa akrab dengan pemuda yang baru dikenalnya, merekapun merasa tercengang.

Benar kata orang bijak, jika dua cendekia berbicara lebih baik tak perlu mengikuti alur pikiran mereka… cukup mendengar saja, batin mereka dalam hati. Siapapun tak bisa menyalahkan empat pengiring itu, mereka bukannya orang bodoh, tapi percakapan Jaka dan Si Kedok itulah yang terlalu aneh dan janggal, seperti penjual ikan sedang berembuk dengan pemilik restoran saja… mereka berdua lebih tepat dikatakan dua orang koki yang ingin duet membuat masakan selezat mungkin—kira-kira begitulah anggapan empat orang pengiring itu.

“Menurutmu, api yang paling baik, kita… kuambil dari mana?” tanya si kedok itu.

Jaka tertawa seperti biasa, agaknya si kedok itu tidak dapat menyembunyikan persetujuan bekerja sama dengan dirinya. Rupanya kesalahan dirinya diulangi Si Kedok.

“Api?” Jaka bergumam. “Menurutku, tidak perlu menggunakan api!”

“Memasak tanpa api? Terori dari mana?!” seru orang itu.

“Bukan begitu sobat,” Jaka menyahut tenang. “Aku tak perlu mencari sumber api, sebab sudah kutemukan api besar! Api yang dapat membakar hangus masakan kita… masakkanku,” ralat Jaka dengan nada agak canggung seperti si kedok tadi, ia memang sengaja berbicara salah agar orang itu tidak canggung.

Jaka tidak dapat menduga perubahan wajah si manusia berkedok karena ucapannya. Tapi dari kilatan matanya, Jaka tahu orang itu gembira, mungkin karena kedudukan mereka ‘dua-satu’, kedunya sama-sama salah mengucap.

“Jadi api bagaimana yang kau maksudkan?”

“Aku ingin menceritakannya, tapi lebih baik saat sebelum atau sesudah kita bersua secara serius saja. Aku yakin, api itu tak baik disulut terburu, yang perlu adalah, bagaimana cara mengolah bahan, bumbu dan memasaknya, apalagi dengan alat yang aku sendiri tak tahu lengkap atau tidak!”

“Hm…” si kedok itu mengumam penuh arti. “Aku bisa menjamin alat masak, selengkap yang diperlukan.”

“Bagus!”

“Eh, tadi, kau katakana api itu mungkin terlalu besar?”

“Benar.”

“Kalau begitu tidak perlu menggunakan bumbu lagi!” katanya dengan nada setengah menyindir.

Jaka tersenyum, “Aku paham! Memakai bumbu atau tidak, rasanya akan sama jika hangus.”

“Ya!”

“Tapi, ada satu hal yang perlu kusampaikan…” Jaka tidak meneruskan ucapannya, ia melihat reaksi si kedok itu.

“Silahkan…”

“Pernahkan saudara pergi ke pesisir laut Pulau Karang?”

Si kedok itu diam sesaat, ia tidak menyangka Jaka merubah arah pembicaraan. “Rasanya sudah!”

Jaka mengangguk, jawaban yang dipikir terlalu lama dari waktu yang seharusnya, membuat ia mengerti, mungkin saja orang itu belum pernah kewilayah itu. “Andai kau pernah kesana, mungkin pernah mendengar, melihat, atau bahkan merasakan, masakan khas daerah sana.”

Orang berkedok itu tertegun sesaat, mendadak selintas ingatan membuatnya mengangguk tegas. “Apakah yang kau maksud Tumis ikan Arang?”

“Benar sekali!” jawab Jaka sambil bertepuk tangan. “Tentu kau sudah mengerti maksudku bukan?” tanya Jaka kemudian.

Kelihatannya Si Kedok memang sangat cerdik, begitu yang dimaksudkan Jaka terucap, ia langsung memahaminya.

Orang itu tertawa panjang. “Tak sangka ada pemikiran seperti itu. Aku salut. Ini benar-benar jitu!” puji orang itu.

“Terima kasih atas pujianmu.”

“Aku masih ada satu ganjalan…”

“Silahkan kau utarakan.”

“Apa pernah terpikir, api akan mengecil karena tertiup angin besar?”

Jaka melegak sesaat, pikirnya. Kau bisa mengajukan pertanyaan semacam ini berarti kau sangat cerdik.

“Mengenai masalah itu engkau tak perlu repot memikirkannya. Aku selalu punya cadangan minyak untuk membuat api lebih besar, jikalau masih kurang membesarkan api, aku bisa membangun tembok untuk menghalang datangnya angin.”

Si Kedok tertegun, ia memandang Jaka lekat-lekat. Dia baru sadar bahwa orang yang sedang dihadapinya, memiliki sesuatu… sesuatu yang besar pengaruhnya, mungkin mirip perasaan takjub bagi orang lain yang memandangnya.

“Kau punya daya sebesar itu?”

“Tidak juga, hanya kebetulan. Didunia ini selalu banyak kejadian yang tidak terencana, kita sebut itu kebetulan, yang sebenarnya adalah campur tangan Tuhan. Dan kebetulan—nah, kebetulan lagi—aku menemukan semua faktor itu.”

Si kedok tertegun memandang Jaka, tapi hanya sesaat. Belum pernah kujumpai orang bertingkah setenang ini. Jika yang dibicarakannya benar, aku pasti sangat kagum padanya, puji si kedok itu dalam hati.

Suasana lengang sesaat. Kecuali Jaka dan Si Kedok yang sedang bercakap-cakap, sesungguhnya masih banyak orang lain yang berada ditempat itu secara sembunyi-sembunyi.

Mereka bukan hanya Ki Lugas dan dua keponakan muridnya, atau empat orang pengiring si manusia berkedok, atau Ki Gunadarma! Tapi orang lain yang kedatanganya tidak dirasakan oleh siapapun… atau mungkin sengaja tidak dirasakan oleh siapapun!

Mereka berjumlah tujuh orang, dan tujuh orang itu datang dari tempat yang berbeda. Artinya, mereka sama sekali tidak saling berhubungan… mungkin hubungan yang hanya terbatas pada malam itu saja. Mungkin di lain hari mereka sudah saling mengenal.

Tujuh orang itu berada di tujuh tempat berbeda. Jika ada yang melihat, dari cara berpakaian, orang dapat menebak mereka bukan kaum awam atau penduduk biasa, pakaian mereka ringkas ketat, mereka adalah kaum pesilat.

Sebenarnya, kehadiran mereka jauh lebih dulu dari siapapun, sebelum Ki Lugas, sebelum Mahesa Ageng, dan tentu saja sebelum Jaka. Ketujuh orang itu tidak banyak tertarik dengan kejadian sebelum Jaka datang… yah, memang sebelum Jaka datang, banyak orang persilatan yang singgah sebentar di Kuil Ireng, tapi mereka melanjutkan perjalanannya kembali, menyadari kota tujuan sudah dekat. Banyak pendatang yang bercakap-cakap mengenai banyak hal, termasuk kabar terbaru yang menarik, misalnya saja kemunculan jago-jago muda, atau pertempuran dahsyat disebuah tempat.

Namun macam ragam berita tidak menarik minat mereka, tapi begitu Jaka datang, tujuh orang itu seperti dikomando dan langsung memperhatikan semua tingkah si pemuda, dan semua yang diucapakan Jaka.

Mereka seperti sedang menunggu isyarat, tapi dilain hal, mereka tertarik dengan kisah, Jaka adalah keturunan seorang tokoh yang menggemparkan dimasa satu setengah abad lalu. Apakah itu bualan atau bukan, mereka kelihatannya senang dengan cerita jaka tadi.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s