46 – Kisah Perguruan Macan Lingga 3 (Ki Gede Aswantama)

46 – Kisah Perguruan Macan Lingga 3 (Ki Gede Aswantama)

Urutan kelima, ya.. kejadian di Gunung Tumenggung masuk dalam daftar pekerjaan Jaka. Dia berjanji dalam hatinya, akan membereskan hal itu. Karenanya, sambil bergerak sebisa mungkin Jaka menyirap berbagai kabar dari dunia persilatan, lewat teman-temannya.

Satu hal, kenapa Jaka harus merahasiakan tempat.. karena terlalu banyak detail yang harus di selidiki dulu, lagipula urusan Gunung Tumenggung tidak ada kaitannya dengan Perkumpulan Garis. Meski demikian pun, Jaka tetap tidak menyebutkan waktu kejadian sebenarnya. Dia menceritakan bahwa kejadian berlangsung pada satu tahun yang lalu, sesungguhnya Jaka bertemu dengan kakek yang menyerahkan bambu lentur itu saat ia berusia sembilan belas tahun. Kini dia berusia duapuluh dua tahun.

Berarti itu sudah—kurang lebih—tiga tahun yang lalu. Kekawatiran Jaka untuk tidak menceritakan hal sebenarnya, timbul karena orang-orang perkumpulan garis adalah manusia cerdik pandai, kesalahan sedikit saja bisa mengorek rahasia, dan karena tempat itu tak mungkin diketahui umum maka Jaka menyimpan rahasia itu rapat-rapat.

Memang ada satu kejanggalan, kenapa Jaka merubah waktu pertemuan dengan kakek dalam ceritanya, sedangkan waktu kedatangan saudara perguruan dari kakek itu, ia kisahkan yang sebenarnya?

Tentu saja Jaka punya maksud, sebagai antisipasi. Diantara tiga puluh orang yang mendengarkan, pasti ada yang sangat perhatian dengan ceritanya. Sebagai orang yang bergerak dalam, jejaring pengumpulan informasi, mereka tentu akan melacak keberadaan benteng yang diceritakan Jaka.

Tindakan Jaka—dengan membuka mata dan telinga lebar-lebar mengenai kejadian yang akan datang—adalah untuk mengetahui situasi dunia persilatan karena sedikit banyaknya ia merasa sangat menghormati sang kakek, juga mungkin karena dia merasa berhutang budi. Mengapa ia merasa berhutang budi? Bukankah seharusnya pihak benteng itulah yang berhutang budi?

Sebab selain menyerahkan Bambu Lentur padanya, kakek itu juga banyak memberikan wejangan, nasehat, bahkan dia berkeinginan mengoperkan tenaga saktinya pada Jaka. Tapi dasar Jaka tak begitu tertarik dengan hal-hal seperti itu, dengan halus ia menolaknya. Keinginan kakek itulah yang membuat dirinya sangat berterima kasih dan merasa berhutang budi.

Penolakan Jaka bukannya membuat sang kakek kecewa, namun malah sangat mengagumi sikap Jaka. Sebab bagi para pesilat, tenaga sakti itu lebih berharga dari harta benda. Karena itu sang kakek berketetapan hati untuk menyalurkan tenaganya apapun yang terjadi, tentunya tanpa sepengetahuan Jaka. Berhasil memang… sayang tak semulus yang dia sangka.

Sebelum Jaka mendapat pengoperan tenaga sakti, kekuatan tenaga dalam pemuda ini paling tidak sudah setara dengan enam puluh tahun hasil latihan. Tentu saja karena latihan Jaka berbeda dengan latihan orang pada umumnya, maka perkembangan tenaga saktinyapun berlipat ganda. Padahal untuk ukuran normal, paling tidak Jaka hanya memiliki tenaga sakti sepuluh atau dua belas tahun hasil latihan. Namun disebabkan pemuda ini menemukan cara yang sangat efisien-lah yang membuat latihan yang dijalankannya menghasilkan tenaga murni begitu besar.

Tapi ini tak disadari Jaka, dia cuma berpikir bagaimana caranya dapat mengetahui susunan tubuh manusia kemudian menemukan metode menyembuhkan orang secara cepat dan tepat. Sama sekali tak terpikir olehnya, bahwa ekses tiap percobaan—yang ia lakukan pada tubuhnya sendiri, membuat hawa murinya makin kokoh.

Tentu saja tenaga yang ada pada diri Jaka tidak sama dengan tenaga pada umumnya, tenaga anak muda ini bersifat lentur, sangat fleksibel. Artinya, bisa digunakan kapan saja, tanpa orang tahu bahwa dia sedang menggunakannya. Metoda yang digunakan, banyak menjungkir balikkan dalil umum.

Apalagi saat itu Jaka juga mendapatkan pengoperan tenaga murni setara dengan seratus tahun hasil latihan, karuan saja hawa murni pemuda ini makin tinggi, cuma itu tak disadarinya.

Sebenarnya pengoperan hawa murni itu sangat berbahaya, karena dapat mengakibatkan kematian bagi orang yang mengoperkannya. Pengoperan itu sama halnya dengan memberikan seluruh tenaga yang sudah dipupuk sejak dini dan yang dapat mengakibatkan si pelaku lemas, itu jika beruntung, kalau sedang sial setelah mengoper tenaga orang itu akan lumpuh. Tetapi agaknya hal itu tidak berlaku bagi kakek baik hati itu. Si kakek memiliki metoda pengoperan tenaga dalam yang jauh lebih lihay dari miliki siapapun.

Walau tenaga dalam dioperkan seluruhnya pada Jaka, ia tak akan mati atau mengalami kekurangan apapun, sebab begitu tenaga murni dalam dirinya kosong, ia dapat menghimpunnya kembali seperti sedia kala—walau membutuhkan waktu lama. Kemampuan seperti itu juga dikenal oleh tiap orang persilatan, tetapi itu berlaku hanya jika dimiliki oleh orang yang memiliki tenaga dalam paripurna. Tapi teori seperti itu jika di terapkan pada diri si kakek, atau saudara-saudara seperguruannya, tidak akan berfungsi.

Tak disangkal mereka memiliki tenaga murni handal, dan dapat mengoperkan hawa murni dengan selamat, namun biasanya tenaga murni yang kembali terserap balik tidaklah seperti sebelumnya, jika beruntung paling banter hanya setengahnya. Tapi lupakan saja! Masalahnya, siapa yang mau dengan cuma-cuma mengoper tenaga? Sebab, manusia mana yang mau tenaga yang diperoleh dengan susah payah lenyap.

Tapi teori semacam itu tak berlaku untuk menilai mereka yang dijumpai Jaka. Karena mereka memiliki kemampuan spektakuler yang disebut Resapan Udara Murni, orang yang memiliki ilmu ini, tenaganya tidak dapat punah walau sekujur tubuhnya mengalami kelumpuhan total! Dalam tubuhnya terdapat semacam pusaran hawa murni yang berkesinambungan, sekalipun kau oper tenaga itu terus menerus sampai hawa sakti dalam tubuhmu habis, maka hawa itu juga akan kembali tak berapa lama.

Namun, meski Resapan Udara Murni sangat hebat, tapi hanya bisa digunakan tiga kali saja, lebih dari itu syaraf tubuh orang yang mengoper hawa murni akan pecah dengan sendirinya. Itulah kekurangannya. Sifat hawa saktinya adalah permanen dapat digunakan sesuka kapan saja, tak sama dengan Tenaga Semu yang di miliki Jaka.

Menurut perkiraan Jaka, kakek bernama Ki Gede Aswantama ini, memiliki hawa sakti sampai dua ratus tahun hasil latihan, bahkan lebih, padahal usianya paling banter akhir delapan puluhan. Mungkin ia banyak memperoleh rejeki dengan banyak mustika-mustika yang memberi tambahan hawa murni.

Sebelumnya kakek itu sudah menyalurkan pada satu orang, saat menyalurkan pada Jaka, Ki Gede hanya dapat menyalurkannya sebagian saja. Bukannya Ki Gede sayang atau karena tak percaya pada Jaka. Semua itu terjadi karena tubuh Jaka memilik hawa pelindung yang aneh, fungsinya sudah tentu, melindungi masuknya semacam tenaga liar.

Begitu Ki Gede hendak menyalurkan seluruhnya, pergolakan tenaga pelindung dalam diri Jaka yang begitu hebat, membuat orang tua itu kesulitan untuk mengoperkan semua tenaga saktinya. Mungkin semua itu disebabkan latihan pernafasan Jaka yang berbeda dengan siapapun. Penolakan tenaga itu terjadi mungkin karena pemuda ini telah menguasai dasar Tenaga Semu.

Tak bisa dijelaskan sebabnya, tapi ada keuntungan besar dari kejadian tadi. Ki Gede Aswantama-lah yang menarik keuntungan besar. Pertama; karena ia gagal menyalurkan tenaganya, dengan sendirinya penggunaan Resapan Udara Murni kali ini tidak bisa dihitung yang kedua. Kedua; akibat membaliknya tenaga sakti yang hendak ia oper pada Jaka, tenaga sakti itu kembali menghantam diri sendiri dan menjadikan hawa murninya naik satu tingkatan. Tentu saja hal itu tak disadarinya. Bahkan sampai sekarangpun Jaka tidak menyadari dalam dirinya sudah bertambah ada hawa murni permanen sebesar separuh tenaga Ki Gede.

Saat penyaluran tenaga, Ki Gede hanya menyentuh bahu Jaka. Waktu itu Jaka hanya merasa kalau Ki Gede cuma menepuk dan bahunya terasa berat, seketika itu juga dia langsung menahannya. Jaka berpikir, mungkin Ki Gede ingin menguji sampai seberapa jauh kemampuannya.

Andai saat itu Ki Gede meminta Jaka tidak mengeluarkan tenaga untuk menahan, kemungkinan besar pengoperan tenaga murninya sukses. Kenyataannya, Jaka telah menolak permintaan dirinya untuk memberikan tenaga murni, maka dengan sendirinya ia mencari jalan bagaimana pengoperan tenaga murni dapat terjadi sewajar mungkin tanpa diketahui Jaka. Tapi, gagal juga.

Dan kemungkinan karena bertambahnya tenaga murni itulah, maka Jaka dapat bertahan tanpa tergetar dari serangan murid kedua Ki Lukita. Saat hendak menyerang balikpun, sesungguhnya Jaka belum mengeluarkan Tenaga Semu—iapun tak menyangka hal itu, tenaga murni yang dikeluarkan Jaka adalah hasil penyaluran tak sempurna dari Ki Gede.

“Sayangnya saya benar-benar lupa menanyakan nama kakek itu, andai saja saya tahu siapa beliau…” gumam Jaka setelah ia selesai bercerita beberapa lama.

“Namanya Ki Gede Aswantama.” Rupanya yang menyahut ucapan Jaka adalah Ki Benggala.

“Paman kenal?”

“Kenal sih tidak, cuma aku pernah berjumpa satu kali. Walau cuma sekilas saja.”

“Bagaimana dengan beliau itu?” tanya Jaka tak jelas maksudnya.

Ki Benggala tahu maksud Jaka. “Beliau adalah orang yang dikenal kaum pesilat dengan julukan Purwaduka, sebab dimanapun dia berada, selalu saja ada orang-orang yang kesulitan hatinya dientaskan. Lebih detailnya, apa yang di lakukannya pasti berkaitan dengan persoalan besar.”

“Tadi saya melihat Aki sekalian begitu tertarik melihat Bambu Lentur ini, ada apa gerangan?”

“Sebenarnya jawabannya sudah ada pada ceritamu tadi.” Kata Ki Glagah.

“Lho, yang mana?”

“Bukankah menurutmu Ki Gede ada mengatakan ‘masih ada yang bisa diselamatkan’ benar begitu bukan?”

“Memang, tapi apa hubungannya?”

“Justru erat sekali, karena yang dimaksudkan adalah pusaka Perguruan Macan Lingga. Dan salah satu pusakanya adalah Tongkat Bambu Lentur itu.”

“Ah, masa iya?” seru Jaka. “Membuat pusaka dari tumbuhan yang bisa ditanam dimana saja?”

Para tetua saling pandang, angggota lainnya juga begitu. Mereka bukannya merasa aneh dengan pertanyaan Jaka, tapi mereka merasa aneh dengan reaksi Jaka. Pemuda ini bukan seperti orang terkejut, dia bertanya seperti itu seolah menghormati tetua yang telah menyampaikan kabar padanya.

Dengan sendirinya, mungkin saja Jaka sudah tahu rahasia itu, atau tidak perduli. Dan rasanya alasan pertama yang lebih masuk akal.

“Kau sudah tahu rahasia itu?”

“Belum.” Jawab Jaka dengan alis mata terangkat. “Kenapa Aki bertanya begitu?” tanya pemuda ini pada Ki Alit Sangkir.

“Aku heran, lantaran rekasimu tak seperti biasanya.”

Para tetua tersenyum mendengar ucapan rekannya. Untuk hal blak-blakan, memang itu urusan K Alit Sangkir, kakek satu itu tak bisa menyimpan unek-unek hatinya. Jaka agak heran dengan ucapan tetua itu. Pemuda ini tersenyum. “Oh, maksud aki, saya harus terkejut?”

“Setidaknya begitu.”

“Apakah harus begini?” Jaka menekan dadanya dan bahunya terangkat, tapi mimiknya tidak sedikitpun serupa dengan orang terkejut, lebih mirip kena bengek—asma.

“Tentu saja tidak begitu.” Seru Ki Alit Sangkir tertawa masam, demikian juga dengan yang lain. Suasana jadi geger penuh tawa.

Anggota yang lain tak habis pikir, bagamana bisa seorang anggota baru perkumpulan, begitu mudah menyesuaikan diri dengan mereka, mendapat kepercayaan besar, membuat para tetua tertawa, bahkan membawa banyak hal menarik pula. Kejutan yang tak menyenangkan bagi anggota senior. Sebab mereka tidak pernah benar-benar sedekat itu.

“Maaf Ki, bukan maksud saya menyepelekan pemberitahuan tadi…” ujar pemuda ini setelah suasana reda.

“Karena kau sudah tahu?” potong gurunya.

“Tidak! Saya hanya tidak ingin tahu.” Jawab Jaka menegaskan.

“Tapi kenapa…”

“Saya tidak perduli.” Potong Jaka.

“Maksudnya?”

“Saya tak memerdulikan hal itu.” Tegasnya sekali lagi.

“Kenapa?”

“Sebab, itu tidak menyelesaikan masalah, justru menambah masalah. Betul tidak?”

Gurunya saling pandangan dengan tetua lainnya. “Kenapa kau berpendapat seperti itu?”

“Yah, menurut saya memang harus seperti itu. Tidak ada alasan lain.”

Gurunya tak menyahut, tapi masih memandang Jaka. Pemuda ini tahu kalau gurunya masih menginginkan jawab.

Jaka menghela nafas. “Mengetahui persoalan rahasia bukanlah suatu hal yang enak. Pikiran kita jadi tak tenang, nafsu ingin tahu melebihi biasa, dan yang paling tidak enak lagi, jika rahasia itu menyangkut aib orang lain, syukur kalau orang itu masih hidup, tapi, jika sudah mati? Turuanannya yang menanggung semua perbuatan leluhur. Dosa leluhur yang tak mereka lakukan akan terus menghantui. Itu baru satu contoh. Masih akan banyak contoh yang akan menyusul tergantung rahasia apa yang diketahui.”

“Tapi, ada juga sebuah rahasia yang membawah berkah bagi banyak orang.” Sahut gurunya.

“Misalnya?” Tanya Jaka.

“Hm…” Ki Lukita tak langsung mejawab, dia tahu muridnya itu orang cerdik, dan dia tahu pertanyaan itu diajukan untuk menguji. Sungguh kurang ajar, guru diuji murid. “Kita misalkan saja bambu lentur itu.”

“Tunggu, jangan bambu ini lagi, saya sudah cukup mengetahui sedikit rahasianya. Tidak perlu diuraikan lagi.”

“Kenapa?”

“Saya takut.”

“Takut?” gurunya bertanya heran. “Pada siapa kau takut?”

“Saya takut pada saya sendiri.”

“Ah…” banyak orang mendesah antara kaget, heran, juga mencemooh. Tapi yang paling tahu adalah para tetua, seperti yang sudah Jaka ceritakan sebelumnya dihadapan para tetua, seperti misalnya; bahwa dirinya memiliki Tenaga Semu, dan Jaka mengatakan kalau dia takut menggunakan, dan menyempurnakan lebih lanjut. Pemuda ini takut kalau ambisinya akan mengambil alih pertimbangan hatinya. Dan tentu saja kali ini jawaban Jaka sangat masuk akal.

Kunci menjawab teka-teki rahasia tongkat lentur, semua sudah berada ditangannya. Jika dia tahu rahasianya, bukankah itu sama saja dengan menabur benih rasa ingin tahu, yang sedikit demi sedikit bisa menjadi ambisi, dan keinginan menguasai?

Para tetua tahu, kalau Jaka menjawab tak ingin tahu karena alasan itu. Tapi mereka juga sadar satu hal yang tak dipahami Jaka. Bahwa selama orang itu sadar, dengan resiko yang akan ditimbulkannya, segala sebab-akibat yang akan terjadi, maka selama itulah dia akan tetap berada di jalan yang benar. Dan Jaka mengekang dirinya begitu rupa, seolah-olah dia takut lepas dari jalan yang lurus.

Memangnya apa yang ditakuti Jaka? Dirinya yang lepas kontrol, atau alasan lain? Sungguh pemuda yang sulit ditebak.

“Baiklah,” akhirnya Ki Lukita memutuskan untuk tidak mengusik Jaka lagi. “Kumisalkan saja ada satu rahasia persilatan, disitu tersembunyi kitab-kitab sakti. Jika kitab itu kau temukan dahulu, bukankah kau tidak akan kawatir kalau kitab itu jatuh ketangan orang sesat?”

“Em, rasanya begitu…”

“Kalau begitu apa masalahnya? Kenapa kau tidak menginginkan rahasia itu? Bukankah dengan begitu kitab itu aman?”

“Guru benar, juga keliru. Lantaran kitab itu jatuh ketangan saya, tentu saja saya berani menjamin kitab itu aman. Tapi masalahnya, jika ada orang yang tahu kitab itu berada pada saya…”

“Jadi kau takut orang lain memburu dirimu?” potong Wiratama yang dari tadi menyimak pembicaraan Jaka.

“Bisa dikatakan begitu.” Sahut Jaka tersenyum, sebuah umpan untuk kesimpulan sudah ditebar lagi, dengan jawaban itu, orang-orang akan mengira dirinya, ‘pengecut’. Mereka kembali dibuat heran dengan ucapan Jaka. Sungguh membingungkan pribadi pemuda ini.

“Katakan yang sebenarnya Jaka.” Gurunya meminta.

“Didunia ini, banyak orang yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Tak perduli baik atau buruk, yang penting keinginannya tercapai, puaslah hatinya. Mungkin saja, saya bisa menjadi alat orang-orang semacam itu.” Jawab Jaka tak langsung.

“Oh, maksudmu kekawatiranmu yang paling besar, bahwa kau tidak bisa melihat orang lain dikorbankan untuk dibarter dengan kitab atau apapun itu?!”

“Ya, semacam itu…”

“Tentu saja jika itu terjadi, hanya orang-orang yang dekat denganmu yang bisa dijadikan… anggaplah sandera, bukan begitu?”

“Bisa ya, bisa tidak.”

“Eh, apa pula itu?”

“Harus guru ingat, apapun yang dijadikan sandera—jika itu terjadi—dia adalah manusia, dan kita harus menghormati nyawa manusia, sekalipun dia orang yang tidk baik.”

“Kalau begitu, kau sangat mudah diserang.” Cetus Ki Glagah. Tentu saja maksud tetua ini adalah, mudah diserang secara physics—kejiwaan, karena kelemahan hati—bukan fisik.

Jaka tetawa. “Mungkin begitu, mungkin tidak.”

Kembali mereka terhenyak tak paham, adakah orang seaneh Jaka? Ia mengatakan kelemahan dirinya, tapi dengan mudah pula—seolah—memasa bodohkan, mengacuhkannya. Seperti angin, cepat berubah, dan itu cocok dengan nama belakangnya, Bayu.

“Jadi kau benar-benar tidak ingin tahu rahasianya?”

Jaka mengangkat pundaknya sambil tersenyum. “Tidak ingin, tapi saya pikir sekarang tidak ada bedanya.”

“Tidak ada bedanya bagaimana?” cetus Ki Alit Sangkir.

“Sebab, tak seorangpun yang tahu rahasia sebenarnya, semua berdasarkan kabar-kabar yang beredar diluar sana. Jadi tak ada halangan saya mengetahui kabar itu.”

“He, kau ini anak aneh, tadi kau bilang takut, sekarang malah ingin dengar.”

“Tadi dan sekarang, kan persoalan yang berbeda. Lantaran banyak yang tahu, jadi bukan rahasia lagi. Benar tidak?”

Ki Lukita mengelengkan kepalanya. Anak yang sulit ditebak, gerutunya. “Baiklah, kalau begitu aku ingin tanya satu hal, tentang bambu lenturmu. Selain menyimpan rahasia entah apa, tentu saja bambu itu punya kasiat lain. Coba kau pikir, menurutmu ada banyakkah tumbuhan seperti itu?”

“Saya rasa sedikit, mungkin jarang…”

“Nah, tentu saja ada alasan tertentu mereka membuat pusaka dari tanaman langka itu, apalagi kau juga membuat seruling dari tumbuhan yang sama. Mungkin saja, satu tahun kedepan baru kau ketahui rahasianya.” Tutur Ki Glagah menjelaskan.

“Begitu,” gumam pemuda ini setengah merenung. “lalu, apa Aki tahu kegunaan kusus atau kasiat dari tongkat ini?”

Pertanyaan Jaka itu bobotnya biasa, tapi bagi pendengara para tetua ini, seperti pertanyaan ujian. Apa yang diminta untuk dijawab adalah sebuah urusan rahasia—seperti yang mereka sampaikan tadi. Seandainya mereka tak bisa menjawab, bagaimana mungkin mereka bisa disebut sebagai, perkumpulan rahasia yang banyak mengetahui rahasia dunia persilatan?

“Menurut kabar, tongkat itu tidak bisa diputus walau oleh pedang pusaka. Kekenyalannya tidak bisa ditembus benda apapun. Tentu kita belum bisa membuktikan benar tidaknya. Ada juga yang mengatakan kalau tongkat itu bisa menawarkan racun. Aku rasa kabar itu benar, sebab pada masa lalu, pernah terdengar kegemparan akibat tongkat bambu lentur itu.”

Jaka mendengar dengan seksama, dia meraba tongkatnya yang masih melingkari dipinggang. Wah, kalau begitu, aku membawa benda rebutan orang, mudah-mudahan tidak membuat kegemparan, aneh juga, benda macam inipun bisa diperebutkan orang.

“Berapa banyak orang yang tahu dengan keberadaan tongkat bambu lentur ini?” tanya Jaka.

“Tak banyak yang tahu, yang jelas hanya mereka yang berkaitan dengan kejadian-kejadian besar saja yang tahu perihal tongkat itu.”

“Termasuk Perkumpulan Garis yang lain?”

“Benar! Karena itu hati-hatilah, manusia itu tidak bisa ditebak kelakukannya. Dilain saat ia bisa menjadi temanmu, tapi suatu saat bisa juga menjadi musuhmu.”

“Nasehat guru akan saya ingat, walau begitu rasanya saya tak perlu kawatir.”

“Kenapa?”

“Sebab yang mengetahui keberadaan bambu ini hanya Perkumpulan ini saja, jadi saya tidak akan kawatir kalau beritanya tersebar keluar.”

Mendengar ucapan Jaka, mereka saling pandang. Delapan tetua pun menghela nafas getun. Anak setan yang cerdik, gerutu Ki Lukita tersenyum.

Semua orang sudah mafhum apa yang dimaksudkan. Dengan kata lain Jaka hendak mengatakan, ‘Kalau kabar ini tersiar, kan yang patut dicurigai pertama kali adalah perkumpulan ini.’ Karena itu, mereka sadar, makin banyak melihat, mendengar, dan menyelidiki apa, dan siapa Jaka, makin berhati-hatilah mereka jika hendak membuat sengketa dengannya.

“Ngg, guru… bukankah tadi guru hendak menceritakan seperti apa Perguruan Macan Lingga itu?” tanya Jaka setelah beberapa saat terdiam. Beberapa orang mendukung permintaan Jaka.

“Baiklah, tapi sebelumnya, aku hendak bertanya padamu. Sebelum ini bukankah kau bilang kalau apa yang hendak kau ceritakan paling tidak bisa sebagai pelajaran berharga untuk yang mendengarnya? Sejauh ini aku belum menangkap apa yang harus dijadian pelajaran, selain waspada dengan keinginan yang terlalu berlebihan, harta, kekuasan, dan wanita.” Ucapan Ki Lukita itu memang bernada mengingatkan orang-orang akan inti cerita Jaka, namun juga ada nada menguji sampai sejauh mana Jaka dapat menangkap, apa yang diungkapkan oleh kakek dalam gedung itu.

Jaka tersenyum. “Kalau saya tak salah menilai, tentunya ada dua hal lagi yang menjadi pokok pelajaran yang harus kita ambil,”

“Tunggu dulu…” potong Ki Banaran.

“Ada apa Adi?” tanya Ki Glagah.

“Apa tidak lebih baik kalau anak murid kita yang menjawab lebih dulu?”

Untuk sesaat beberapa orang tetua saling berpandangan, kemudian mereka tersenyum dan anggukkan kepala. Ucapan Ki Banaran memang beralasan dan juga mengandung perbandingan yang ingin mereka lihat.

“Kau benar Adi…” seru Ki Lukita setuju.

“Eh, tunggu dulu,” Kali ini yang menyelak adalah Ki Gunadarma.

“Ada apa lagi?”

“Apa tidak lebih baik kalau pendapat dan jawaban mereka ditulis?”

Kata-kata Ki Gunadarma kontan saja membuat tujuh tetua lainnya tersadar. Seandainya satu demi satu anggota mereka ditanya dan ternyata tidak dapat menjawab dengan benar, bukankah akan membuat rendah diri atau merasa diremehkan, dan jika ternyata apa yang diutarakan Jaka benar, berarti akan terlihat kalau para tetua condong dan cenderung selalu membela Jaka, dengan kejadian seperti itu dapat membuat persatuan mereka agak renggang.

“Usul Adi Gunadarma tepat sekali!” seru Ki Glagah. Lalu tanpa banyak komentar, begitu Ki Glagah bicara begitu, dari dalam muncul dua wanita yang tadi menyediakan tajilan (jajanan). Keduanya membawa setumpuk kertas polos dan pena serta tinta. Tanpa banyak komentar, keduanya segera membagikan pada orang-orang selain delapan tetua.

Saat Jaka hendak diberi pena, pemuda ini menolak dengan sopan, ia mengatakan kalau ia sudah memiliki pena. Ia hanya meminta tinta saja.

“Baiklah, sekarang kalian tuliskan.” Kata Ki Lukita.

“Tunggu dulu kek,” seru Ayunda.

“Ada apa?”

“Kalau Jaka juga ikut menuliskannya, bukankah sudah jelas jawabannya yang paling benar? Karena dialah pelaku dalam cerita tadi. Apakah tidak lebih baik kalau kakek bersama Aki sekalian dan Jaka yang menjadi juri saja?”

“Benar-benar..” beberapa orang menyahut setuju.

Delapan tetua saling pandang, dan mereka menghela nafas getun. Maksud hati mereka adalah ingin melihat perbandingannya saja, mereka ingin melihat sejauh mana anggota yang tadi mendengar cerita Jaka dapat menangkap maknanya.

Tapi mereka juga membenarkan usulan Ayunda, sebab bagaimanapun juga mungkin ada bagian-bagian tertentu yang tidak diceritakan Jaka, dan mungkin saja bagian itulah yang menjadi salah satu dari nasehat yang perlu di simak baik-baik. Tapi menurut pendapat Ki Lukita bagian yang paling penting dan perlu diketahui tak mungkin disembunyikan Jaka. Kalau memang Jaka berniat menyembunyikan bagian terpenting, bukankah lebih baik ia tak usah menceritakan asal usul datangnya tongkat bambu lentur?

”Baiklah..” akhirnya Ki Glagah memberi keputusan.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s