18 – Geliat Perkumpulan Rahasia

Meski malam belum terlalu larut, tapi untuk menghindari kecurigaan orang, Jaka harus mengambil jalan yang lebih sunyi. Pemuda ini menyunggingkan senyum, agaknya memang sedang girang.

Ya, bagaimana Jaka tak merasa girang, sebab selama petualangannya, momen-momen menantang yang memaksa dia untuk berpikir, adu licik dan membakar keberanian, adalah kegemarannya. Siapa sangka malam ini diapun bisa ‘kembali beraksi’. Meski jika dibanding dengan kejadian lampau, belumlah memadai, [akan diceritakan dalam lain kisah] toh pemuda ini tetap beranggapan pantas untuk merasa puas, sebab dia berhasil membuat para penyatron tak dikenal—menurutnya mereka cukup cerdik—ketar-ketir.

Andai saja Jaka tidak melihat tindakan pelayan yang agak canggung saat berada dikamarnya, tentu tidak akan terbetik olehnya untuk bertindak ‘nakal’. Dia dapat memperhitungkan mereka yang datang adalah tiga orang, karena begitu si pelayan keluar, Jaka sempat melihat seutas benang tipis melintang dijendelanya. Dari benang itu, Jaka bisa menyimpulkan, si pelayan dan si pemasang benang, satu kelompok. Dua orang.

Jika ada yang bekerja tentu ada yang mempekerjakan—tuannya. Menyadari hal itu, Jaka bisa menduga mereka ada tiga orang. Sebenarnya kesimpulan itupun hanya spekulasi.

Melihat kualitas si pelayan, Jaka bisa menilai, bahwa ‘sang tuan’ pastilah seorang cendekia cerdik. Apalagi ‘sang tuan’ bisa mempersiapkan segala sesuatu dalam jangka pendek—maklum saja, bahwa dirinya membawa ‘barang mustika’, tidak ada dalam rencana mereka.

Sebab itulah, Jaka membuat ide perangkap dalam perangkap, jika lawannya menilai dia orang cerdik, dengan sendirinya dia akan menduga tempat penyimpanan bukunya tak mungkin ditemukan. Dan sesuai perkiraan Jaka, jika orang lain mencarinya tentu tidak bisa menemukannya, tapi bagi ‘sang tuan’, pasti bisa! Memang orang itu berhasil menemukannya! Sayangnya, saat itulah dia baru sadar dirinya terjebak…

Perhitungan pemuda ini memang jitu, jebakan kecil pada langit-langit kamar, ‘diperoleh’ Durga. Dia terkena kayu lancip yang sengaja dipasang pada asbes langit-langit. Jaka sedikit mengeser langit-langit supaya kesan habis dibuka, terlihat jelas. Dan ‘jarum kayunya’ dipasang sedemikian rupa. Dengan sendirinya, tiap orang yang membuka langit-langit mau-tak-mau menyentuh asbes, dan kenalah dia.

Tapi untuk apa itu semua? Hakikatnya pemuida ini tidak punya racun, konon lagi racun ganas seperti Racun Bunga Kuning. Jaka boleh dibilang seorang ahli ilmu syaraf, karena itu dia bisa menuliskan kemungkinan yang terjadi, setelah terkena tusukan kecil. Dalam ilmu syaraf yang Jaka pelajari, terdapat beberapa pelajaran yang menyebutkan bahwa, pada bagian tubuh yang terkena atau tersentuh sesuatu, akan ada syaraf lain yang ikut merespon, dengan kata lain, setiap syaraf dalam tubuh manusia selalu berpasangan dan ada hubungan timbal balik. Biasanya jika ujung-ujung jari tangan tertusuk, orang akan merasakan rasa nyeri sekejap pada betis, atau telapak kaki lalu merambat kepinggang—tentu saja tidak setiap orang tahu hal itu, dan juga tidak semua manusia bisa merasakan, karena rekasinya itu hanya seperatussekian detik saja—sangat singat.

Lalu hal yang terjadi pada Durba, sudah tentu dalam perhitungan Jaka. Sudah lazim bagi seseorang jika akan mencari sesuatu di kolong meja, tentu ia akan melongok keatas—setelah ia tak menemukan apa yang ia cari di kolong. Dan Jaka menaruh debu-debu pada langit-langit meja yang ditempel sedemikian rupa, sehingga begitu Durba masuk ke kolong, debu itu akan segera jatuh. Jika dia melongok keatas, tentu saja matanya jadi korban—kelilipan.

Kemudian kejadian terakhir yang diperhitungan Jaka adalah; jika seseorang telah mendapatkan sesuatu yang amat di inginkannya, maka dia akan kehilangan kewaspadaan. Begitu pula dengan si tuan muda, seharusnya ia curiga kenapa pada kain pelapis kitab ditemukan debu? Semestinya kain pelapis itu bersih, karena pelayan juga menyaksikan Jaka sudah membuka dan membaca kitabnya.

Secara nalar, jika Jaka ingin membacanya, bukankah pelapis kitabnya harus di lepas—dengan sendirinya di bersihkan? Seharusnya si tuan muda dapat berpikir sampai kesitu. Tapi Jaka tahu, rasa girang berlebih akan menghilangkan kewaspadaan seseorang, itulah kelemahan physikologis manusia pada umumnya. Lalu bagaimana cara Jaka tahu, jika si tuan muda yang membuka kitab pertama kalinya—sehingga dia menuliskan kata-kata itu pada kertasnya? Itu kesimpulan gampang, pelayan tidak mungkin mendahului tuannya, jadi mana mungkin pelayan bertindak lancang mendahului membuka ‘kitab mustika’ tersebut?

Pengalaman mengajarkan Jaka, agar selalu bersahabat dengan situasi apapun, dengan demikian kemahiran dan analisisnya semakin terasah. Dan, apa yang ia tuliskan benar-benar mengejutkan mereka. Sungguh tak di sangka, Jaka dapat memperhitungkan sampai hal sekecil itu.

Tapi, tidak seluruhnya benar, ada satu dugaan yang salah. Bahwa pada mulanya dia mengira orang ketiga—selain si pelayan dan tuannya—adalah pelayan di rumah makan yang pernah Jaka singgahi, yakni Sugiri. Nyatanya orang ketiga bukan Sugiri, siapapun namanya orang ketiga—si Durga—masih dimungkinkan punya hubungan dengan organisasi lain.

Pemuda ini berjalan sambil membayangkan apa yang terjadi dikamarnya. Baju gelap ini sudah memastikan keyakinan mereka, bahwa aku akan keluar. Memang benar… dan sayangnya aku juga bermaksud mengecoh mereka.

Sesaat Jaka berkerut kening membayangkan keadaan kamarnya sebelum ia pergi. Racun yang mereka tebarkan cukup berbahaya, jika orang lain kena, mereka bisa sengsara! Benar-benar ceroboh!

Pemuda ini berjalan melalui jalan yang jarang dilewati orang. Dari tempat dia menginap ke rumah Aki Lukita, hanya berjarak satu pal saja. Tapi lantaran Jaka mengambil jalan memutar, jarak yang dia tempuh sampai tiga pal lebih. Dan karena itulah Jaka mendapat penemuan tak terduga. Jalan yang di laluinya adalah kebun yang banyak ditumbuhi pohon berusia puluhan tahun.

Krak! Disuasana sehening ini, sekalipun orang awam juga bisa mendengar suara itu. Demikian pula dengan Jaka, sejak semula dia selalu waspada dengan kemungkinan terburuk. Tak disangka ada sesuatu yang membuatnya menaruh perhatian. Pemuda ini tidak merasa kuatir perjalanannya dikuntit orang, sebab bunyi tadi ada didepannya.

Aneh, bukan binatang yang menginjaknya, pasti ada seseorang disitu. Pikir pemuda ini, lalu ia segera menuju kepusat bunyi. Gerakan Jaka cekatan dan ringan, tidak menimbulkan suara.

Dalam sekejap Jaka sudah sampai ditempat asal bunyi, dan memanjat pohon. Dia tidak langsung memeriksa ketempat itu, untuk sesaat lamanya, Jaka mengamati dari dahan pohon, ia memeriksa segala sesuatu yang ada dibawahnya.

Aneh, terlalu lengang… pikirnya heran. Andai ada orang, pasti ada disekitar sini. Terkilas satu dugaan, membuat Jaka bertindak. Dengan gerakan cepat, pemuda ini melejit lebih tinggi, nyaris berada di puncak pohon.

Kurasa dia berada satu pohon denganku. Apa maksudnya dia bersembunyi? Suasana gelap, ada tempat tersembunyi, benar-benar sempurna! Gelap memang membantu, tapi juga membuat apa yang seharusnya terlihat jadi tak terlihat. Jaka menghela nafas getun.

Seperti akan ada pertemuan rahasia saja. Apakah dia salah satu dari orang yang menghadiri pertemuan? Atau hanya sekedar mengintip saja? Berbagai pikiran bertaburan dalam benaknya.

Orang ini cerdik dia bersembunyi ditempat yang tepat. Jaka diam-diam memuji. Tak terpikirkan oleh orang, bahwa pada pohon yang hampir tidak ada daunnya dapat dijadikan tempat persembunyian.

Jaka sempat merasa sangsi, apakah orang itu melihatnya, atau tidak? Jika dia melihatnya, kenapa tidak segera pindah persembunyian? Dan yang lebih mengherankan lagi, kenapa dia menginjak ranting—yang menimbulkan suara nyaring? Apakah untuk memancing kedatangan seseorang, atau dia terlalu gugup untuk mengetahui persoalan orang lain?

Jaka memikirkan kemungkinan yang terjadi, bahkan terbetik dalam benaknya, jika orang itu sudah tahu dirinya akan lewat, dan ingin ‘berkenalan’. Sayangnya tiap dugaan tidak menemukan jawaban, Jaka belum mempunyai titik terang—itulah kelemahan orang cerdas pada umumnya. Dia selalu berpikir bahwa keadaan disekitarnya apabila mencurigakan, pasti berkaitan dengan dirinya.

Tak jauh dari persembunyiannya ada dua sosok berkelebat tiba. Jaka merasa kagum dengan peringan tubuh mereka. Dengan ini dia makin yakin masalahnya tentu tak sesepele yang ia kira.

Dua sosok itu mengenakan pakaian gelap, di wajahnya terlilit kedok, sehingga yang terlihat hanya matanya.

“Heran, memangnya semua orang dikota ini senang pakai kedok?” gerutu Jaka. Maklum saja sudah dua kali ini, Jaka memergoki orang berkedok. Jaka merasakan batang tempat nangkringnya bergetar sedikit, Jaka waspada, dengan menegaskan pandangannya, pemuda ini melongok kebawah. Hampir saja ia bersorak girang, sebab terlihat satu bayangan pada ranting besar yang memiliki lekukan cukup besar sehingga dapat untuk sembunyi.

“Ini dia! Rupanya kau bersembunyi disitu…” pikir Jaka lega. Sebab dia yakin kedatangannya tidak diketahui.

Orang itu bergerak dari tempat sembunyinya, pasti dua pendatang tadi bukan temannya. Mana mungkin dia gelisah kalau yang datang adalah temannya? Kurasa dia kawatir lantaran temannya tak datang juga, mungkin karena kepergok dua orang itu? Pikir Jaka menebak

Setelah melihat kejadian itu Jaka bisa merasa sedikit santai, tentu saja ia tak mengendurkan kewaspadaan. Untung Jaka bersembunyi di pucak pohon, kalau tidak, tentu gerak-geriknya bisa diketahui dua pendatang itu.

Suasana malam makin lengang, sepeminuman teh sudah berlalu. Diam-diam Jaka mengeluh dalam hati. Kalau begini terus, aku bisa terlambat ketempat Ki Lukita, belum lagi nanti menjumpai si pelayan gadungan. Sial, kenapa aku bisa ikut dalam pertunjukan ini? Masih untung jika bagus, kalau cuma begini-begini saja, terpaksa pergi dari sini.

Baru saja Jaka hendak memutuskan untuk kabur, dari kejauhan saja terdengar lengkingan sempritan. Pemuda ini tertegun sesaat, lengkingan itu biasa digunakan sebagai kode rahasia.

Sedetik lengkingan itu berhenti, dua orang itu juga membunyikan lengkingan yang sama, tapi nada yang digunakan jauh lebih tinggi dan lebih nyaring.

Kode mereka berbeda. Jika mereka anggota suatu perkumpulan, pasti tak jauh beda dengan perkumpulan rahasia. Pemuda ini menduga dua orang itu punya sangkut paut dengan perkumpulan rahasia yang sedang berkembang pesat.

Jaka tahu, salah satu peraturan dalam organisasi rahasia mereka adalah, sesama anggota sendiri tidak boleh memperlihatkan wajah, ini supaya menjaga efesiensi kerja. Pimpinan organisasi itu tak mau jika perasaan berperan dalam menentukan keputusan.

Aneh, apakah dua orang itu sama seperti orang-orang yang pernah ditemui Paman Alih? Jaka terbayang kejadian dua bulan silam, mana kala Paman Alih—Sang Kusir Misterius yang menyusup ke dalam Perkumpulan Pratyantara, membawa tiga orang terluka parah padanya.

Sementara itu dibawah sana, dua sosok bayangan mendatangi tempat itu. Sosok pertama berbadan tinggi besar, dan satu lagi tinggi kurus seperti lidi. Jaka yang melihat orang itu hampir saja berteriak girang juga geli. Orang tinggi besar itu ternyata Bergola adanya, sedangkan sosok tinggi kurus itu pasti rekannya.

“Hamba menjumpai ketua tujuh belas.” Ucap Bergola dan lelaki tinggi kurus itu bersamaan, satu lutut mereka menempel tanah, badan mereka membungkuk rendah. Ketua tujuh belas? Pasti Berhubungan dengan Sora Barung dan kerabatnya, pikir Jaka sambil mengamati kedua orang yang baru saja datang.

“Hm…” orang yang dituju Bergola hanya mengumam saja.

Bergola dan rekannya bangkit.

“Bagaimana persiapanmu Panah Sebelas?” tanya orang itu pada Bergola.

Mendengar pertanyaan orang bercadar itu pada Bergola, Jaka menyeringai, rupanya Bergola dipanggil Panah Sebelas. Wah, perkembangan situasi ini diluar dugaanku.

“Hamba sudah mempersiapkan dengan cermat, tapi terus terang saja hamba merasa agak kawatir dengan orang yang datang kerumah tua bangka itu.”

“Kau tidak usah kawatir, dia tidak berbahaya!” sahut lelaki bercadar yang satu lagi.

Tidak berbahaya? Dari mana dia tahu aku tidak berbahaya? Hm, kecuali dia tahu aku kena racun… tapi yang tahu hanya tiga orang dari Perguruan Naga Batu, tapi kenapa dia tahu? Apa dua orang ini punya hubungan dengan Sadewa? Kalau tidak ada hubungan, kenapa dia bisa berkesimpulan ngawur begitu? Jangan-jangan keduanya adalah Sadewa dan Kundalini, atau Kunta Reksi… tapi masa iya sih? gerutu Jaka sambil tetap menyimak pembicaraan empat orang itu.

“Kalau begitu, hamba rasa memang tidak ada masalah lagi.” Kata Bergola dengan nada rendah, kelihatannya dia jerih menghadapi kedua orang itu. “Hanya saja..” perkataan itu tidak ia teruskan.

“Kenapa?” sahut dua orang itu dengan kening berkerut.

“Terus terang saja, hamba curiga dengan tingkah tua bangka itu ketua. Dia begitu tenang, yang lebih mengkawatirkan, mungkin dia mahir silat, paling gawat lagi kalau dia adalah anggota perguruan enam belas besar!”

“Hm, alasan apa yang kau pegang sampai bisa mengambil kesimpulan seperti itu?” tanya orang bercadar itu dengan nada dalam.

“Saat si tua bangka itu menolong Rubah Api, ada tiga orang anak buah hamba yang menyaksikannya. Saat itu hamba yakin sekali Rubah Api tidak bakal hidup lebih lama lagi, tapi anehnya begitu tua bangka itu menolongnya, nyawanya seakan-akan disambung kembali. Menurut hamba, saat itu si tua sedang mengerahkan hawa murninya..”

“Lalu kenapa anak buahmu hanya diam melongo saja? Kenapa mereka tidak membinasakan si tua itu atau si Rubah Api?!” tanya orang itu dengan nada gusar. “Benar-benar tak becus!”

“Ampun ketua, tadinya hambapun beranggapan demikian, tapi mereka mengatakan ada tiga alasan penting mengapa tidak menyerang si tua. Pertama; bahwa si tua itu sesungguhnya sudah mengenali siapa mereka, dikawatirkan andaikata si tua lolos dari penyerangan, dia akan terus mencari titik terang atas kejadian penyerangan dan terlukanya Rubah Api. Kedua; mereka tidak tahu seberapa hebatnya kekuatan si tua, dan yang terakhir, mereka mengatakan sesungguhnya si tua itu tidak datang sendirian, ada beberapa orang yang sering bekerja dirumahnya turut serta menolong Rubah Api. Kalau pada saat itu mereka bertiga menyerang si tua, bukankah salah satu dari pekerja itu bisa meminta bantuan orang? Dan apa yang telah direncanakan oleh ketua akan berantakan?”

“Hm.. benar juga.” Gumam orang itu merasa apa boleh buat.

“Berapa lama dia didekat Rubah Api?” tanya orang itu dengan tiba-tiba.

“Kira-kira setengah kentungan, setelah itu nampaknya Rubah Api tidak bisa mempertahankan hidupnya. Hamba rasa pandangan anak buah hamba tidak salah. Siapa sih yang bisa hidup lebih lama setelah terkena Panah Bunga Batu?!” ujar Bergola dengan nada menjilat.

“Lalu persiapan bagaimana yang kau rencanakan malam nanti?” tanya lelaki bercadar yang satu lagi.

“Hamba akan membinaskan si tua dan seluruh keluarganya. Setelah dia berangkat ke kuil, beberapa pembunuh gelap akan hamba kirim kerumahnya. Tentu saja mereka akan membunuh tanpa sisa dan setelah itu membakar rumahnya, atau mungkin akan kami buat seolah-olah terjadi perampokan. Dengan sendirinya, hamba akan membinasakan si tua di kuil tua.” Tutur Bergola dengan semangat.

Dasar tolol! Sungut Jaka geli, juga merasa sebal melihat tingkah Bergola.

“Rencanamu cukup bagus,” puji orang bercadar itu. “Cuma sayang, terlalu banyak kelemahan!”

“Ma..makk-maksud ketua bagaimana?” tanya Bergola dengan gugup.

“Kau tidak memperhitungkan banyak pendekar yang sudah sampai dikota ini? Apakah kau tidak memperhitungkan bahwa di kuil tua itu bisa jadi merupakan tempat menginap kaum kelana?! Dan apakah kalian sudah memikirkan kalau kemungkinan besar di rumah si tua juga ada beberapa jago yang menginap?!”

“Eh.. ini.. ini,” sahut Bergola tergagap.

“Lebih baik kau tinjau rencanamu. Kegagalan kecil bisa mengakibatkan kekacauan pada rencana besar. Kita belum saatnya memunculkan diri, kalau ada sesuatu yang kurang beres. Marga Syiwa segera memburumu, kau dihukum atas kecerobohanmu!”

“Ampun ketua, hamba akan berupaya sebaik mungkin. Kalau perlu rencana pembunuhan akan hamba tangguhkan..”

“Seharusnya memang begitu, lebih lama lebih baik! Menurut pandanganku, belum tentu tua bangka itu memiliki ilmu silat. Sebab kemungkinan besar saat si Rubah Api berada didekat orang itu, ia sedang mengerahkan kekuatan terakhir untuk mengatakan hal-hal yang penting, sebelum akhirnya mati.”

“Hamba rasa pendangan ketua benar, hamba yakin itu benar.” Sahut Bergola kembali mengupak.

“Hmk..” orang bercadar itu hanya menjengek sinis. “Yang perlu bagi kita sekarang adalah mendapatkan apa yang sudah di peroleh Rubah Api, aku yakin si tua tahu akan hal itu. Dan kau tidak perlu tergesa-gesa bertindak. Biarkan si tua hanya mengira dirimu sebagai seorang begundal tengik! Dan yang paling penting, hati-hati saat bertemu dengannya di kuil. Kemungkinan besar ada jago lihay yang berkeliaran ditempat itu. Bertindakanlah secermat mungkin! Untuk sementara, paling baik jika kau berlagak bodoh”

“Baik ketua!” sahut Bergola dengan suara tegas.

Jaka geli mendengar ucapan orang bercadar itu, berlagak bodoh? Tanpa berlagak bodohpun, Bergola sudah bertindak bodoh. Dengan caranya yang kasar meminta Rubah Api pada Ki Lukita bukankah usaha paling bodoh? Selain menimbulkan kecurigaan, juga membuat orang jadi waspada. Mau berlagak bodoh seperti apa lagi?

“Lalu bagaimana denganmu Panah Tiga Belas?!” tanya orang bercadar yang satu lagi.

“Hamba telah mengerjakan apa yang ketua perintahkan, hasilnya hamba rasa cukup memuaskan,” setelah berkata begitu, ia segera menyerahkan sebuah bungkusan cukup besar. “Apa yang kita perlukan nanti, semuanya sudah hamba siapkan disitu, tapi menurut perasaan hamba, itu belum semuanya. Hamba rasa setiap tindakan harus dengan perencanaan matang. Untuk sementara hamba merencanakan tidak bergerak lebih dulu, apalagi banyak para jago yang datang kesini. Dalam waktu satu minggu ini hamba akan bekerja seperti biasa, dan kegiatan wajib, akan hamba lakukan setelah usai keramaian.”

“Bagus!” puji orang kedua bercadar itu. “Tindakanmu lebih terarah dari pada si Panah Sebelas.”

“Ah, ketua terlalu menyanjung. Sebenarnya tindakan hamba ini hanya melihat keadaan saja.” kata orang tinggi kurus itu dengan merendah. Namun sesungguhnya dalam hati orang itu ia merasa sangat senang, sebab dengan tindakannya itu, kemungkinan besar ia bisa mengganti posisinya menjadi Panah Sebelas!

Sementara diam-diam Bergola mendengus dingin, dia tidak puas dengan sanjungan sang ketua. Dan tentunya dia tidak akan bertindak bodoh—lagi—dengan memperlihatkan ketidakpuasannya.

“Dalam satu minggu ini, kalian jangan bertindak ceroboh. Banyak tokoh sakti yang berkunjung kekota ini, salah-salah pergerakan kita akan terhambat. Walau kekuatan mereka tak cukup besar untuk menandingi kita, tapi kelihayan mereka harus diperhitungkan!”

“Baik ketua, segera hamba laksanakan!” Sahut dua orang itu dengan serempak.

“Bagus! Kami akan pergi, dan kalian urus orang itu.” Kata orang bercadar sambil menunjuk bawah pohon. “Aku menjumpai dia didekat perkebunan ini, kami tidak sempat menanyakan apapun. Apa tujuannya, kalian harus mengoreknya dengan jelas, kalau kira-kira masih mencurigakan, kalian tahu tindakan apa yang mesti diambil!” Usai berkata begitu, dua orang itu bergerak dan bayangan mereka lenyap ditelan kegelapan malam.

Sementara Bergola dan lelaki tinggi kurus itu saling berpandangan. Mereka melihat satu sosok tubuh tergeletak tak jauh di bawah pohon waru.

“Hm, tikus seperti ini kenapa kita perlu mengurusnya?!” gumam Bergola dengan nada kesal.

“Kalau memang kau enggan mengurusnya, biarlah kuurus tikus ini.” Sahut lelaki tinggi kurus itu.

“Hm.. kau ingin berebut jasa? Lalu ingin menggeser kedudukanku? Jangan harap impianmu bisa terlaksana, bajingan!” geram Bergola dalam hati. Tapi diluarnya ia tampak tersenyum.

“Ah.. aku hanya merasa kesal saja, tentunya perintah atasan tak boleh dibantah!” tegas Bergola dengan nada serius.

“Hal itu memang benar,” sahut lelaki tinggi kurus sambil tersenyum. Kembali Bergola mendengus dalam, ia tahu betul watak orang tinggi kurus itu. Selain licik, orang itu juga keji, karena itulah diluaran anak buahnya menyebut padanya Momok Wajah Ramah. Sebab selain si tinggi kurus itu kelihatan seperti orang yang ramah, tutur katanyapun sanggup membuat orang percaya.

Jaka yang melihat dari atas, tertawa ringan. Ia tahu apa yang berkecamuk dibenak dua orang itu, tapi dia tidak akan memperdulikan hal-hal remeh yang sedang diperebutkan dua orang itu, yang jelas ada orang yang memerlukan pertolongan. Sebelumnya Jaka menduga, orang yang bersembunyi itu gelisah karena kemunculan dua manusia berkedok, ternyata bukan!

Kelihatannya dia mencemaskan orang yang baru ditawan, mungkin itu temannya. Mulanya Jaka hendak turun tangan langsung, namun dia urungkan, Jaka ingin melihat reaksi orang yang bersembunyi itu.

Bergola dan orang tinggi kurus itu menyeret si tawanan. Batang tempat Jaka bersembunyi terasa bergetar. Hal ini membuat Jaka yakin, kalau orang yang tertawan ada hubungan dengannya.

“Puih! benar-benar seekor tikus kecil!” gerutu Bergola, sekalipun gelap dia melihat tawan ketuanya adalah seorang pemuda tanggung berbadan kecil.

Pemuda itu masih pingsan karena jalan darahnya tertotok. Momok Wajah Ramah mengurut punggungnya, tak berapa lama kemudian dia siuman. Biasanya jika seseorang pingsan, begitu dia menjumpai orang asing didekatnya, tentu akan terkejut. Tapi pemuda itu lain, ia membuka matanya dengan mimik tenang, ia menoleh kearah Bergola dan Momok Wajah Ramah. Pemuda itu sama sekali tidak terkejut melihat kehadiran dua orang itu.

“Hei, siapa kau?” tanya Momok Wajah Ramah dengan suara terdengar ramah.

Jaka yang ada diatas pohon, geleng-geleng kepala menyadari betapa berbisanya Panah Tiga Belas.

“Kau menanya asal-usulku atau cuma namaku?” tanya pemuda itu dengan kalem, tiada perasaan gentar.

“Kalau kau bersedia, terangkan nama dan asal-usulmu.” Sahut Momok Wajah Ramah sambil tersenyum.

Pemuda itu bergerak, beringsut duduk dan menyandarkan tubuhnya di pohon waru. Untuk sesaat lamanya, dia tidak menjawab, tapi malah menengadahkan wajahnya melihat kelangit. Karena malam itu terang bulan, secara samar Jaka dapat melihat raut wajahnya.

Aneh, kenapa semua orang yang kujumpai malam ini seperti sudah kukenal semua? Si manusia bercadar, pemuda ini… atau mungkin juga temannya yang bersembunyi di pohon, mungkin aku juga pernah kenal dengannya?

“Baiklah, jika kalian ingin mengetahuinya..” sahut pemuda ini dengan datar. “Aku bernama Danu Tirta, asalku dari Perguruan Sampar Angin. Sebenarnya malam ini aku enggan kemana-mana, tapi ada seseorang berkedok yang menyerahkan surat padaku agar bertemu ditempat ini. Tapi sialnya baru saja berada dimulut perkebunan, aku diringkus oleh orang berkedok juga.”

Dua orang itu terlihat saling berpandangan, mereka tidak menyangka pemuda yang mereka tangkap adalah anak murid perguruan besar. Wah bisa jadi masalah besar, pikir mereka.

“Apakah dia juga yang memberimu surat?” tanya Bergola tertarik.

“Entahlah, menurutku bukan, yang memberiku surat dan yang menangkapku, adalah dua orang berbeda. Sebab dalam surat yang kuterima di sebutkan akan membicarakan masalah perguruan.”

Keterangan pemuda itu membuat mereka berdua sungkan untuk bertindak lebih jauh. Kalau mereka menganiaya pemuda itu, dan si pemuda diketemukan oleh si kedok—yang memberi surat, bukankah urusannya bakal runyam? Kalau mereka bunuh, kegemparan malah akan lebih besar lagi, sebab pemilik kebun itu adalah salah satu sesepuh kota, yakni Ki Glagah! Jika mereka membunuh dan membuang pemuda ini diluar kota, malah lebih kacau, sebab banyak tokoh sakti yang berkeliaran di kota ini. Bisa-bisa mereka malah bentrok dengan mereka, repot!

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s