014 – Beruluk Salam Menukar Muslihat

“Ah, saudara Jaka tidak perlu begitu sungkan,” sahut lelaki berusia lima puluhan tahun itu. Dua lelaki berusia empat puluh tahun itu juga membalas memberi hormat pemuda itu.

“Mari, mari… silahkan duduk.”

Begitu duduk, nampak nona baju hijau membawa nampan yang berisi air teh dan makanan. Setelah nona baju hijau menghilang di balik bilik, tanpa basa basi lagi Jaka bertanya, “Maaf jika pertanyaan saya agak keterlaluan, saya ingin tahu apa tujuan anda mengundang saya?”

“Jika tidak dijelaskan bisa jadi salah paham. Begini saudara Jaka, jabatan kami adalah pelindung Perguruan Naga Batu. Aku bernama Sadewa dan dua rekanku ini bernama Kunta Reksi dan Kundalini, kami bertiga memiliki kesenangan yang sama yakni suka menjamu orang yang memiliki bakat hebat seperti anda ini. Tidak sangka saudara Jaka memiliki kemampuan diluar dugaan kami.”

”Ah, terlalu memuji.” pemuda ini tersenyum tersipu. Orang bisa tertipu dengan lagak Jaka, diluarnya saja ia nampak seperti orang yang polos tidak tahu masalah. Diamnya Jaka disebabkan memikirkan langkah yang harus ditempuh untuk menghadapi lawan.

“Menjamu orang berbakat? Aih, dari ucapanmu saja sudah menimbulkan prasangka yang buruk, kesenangan orang memang berbeda-beda, tapi ini aneh.” Pikirnya.
“Untuk pertemuan yang pertama kali ini mari kita bersulang agar segala sesuatu selalu berjalan baik,” kata Kundalini sambil men¬gangkat gelasnya. Lalu keempat orang itu sama-sama menenggak air teh itu.

Waspada adalah senjata utama berkelana, sudah tentu Jaka tidak mau bertindak bodoh. Meskipun dia tahu Perguruan Naga Batu bukan aliran sesat, mewaspadainya bukanlah hal buruk. Diluarnya saja ia terlihat minum air teh, padahal begitu air teh memasuki kerongkongan, ia segera mengerahkan hawa murni dan dengan cepat menggumpalkan air teh itu. Hawa murni yang dimiliki Jaka sangat kuat, teh yang masuk itu dapat ia gumpalkan menjadi es dan ia mutahkan kembali. Tentu saja gumpalan es air teh itu, begitu sampai di tangannya dengan cepat diuapkan dengan hawa panas. Tentu saja ‘proses’ itu berjalan sebagai mana layaknya orang minum. Begitu ketiga orang itu meletakan gelas, Jaka juga meletakkannya dalam keadaan kosong.

Andai saja salah satu dari ketiganya tahu apa yang dilakukan Jaka, mungkin mereka mengira Jaka adalah anak murid tokoh sakti yang mendapat limpahan tenaga dari sang guru.

“Kejadian ini merupakan kehormatan bagi kami. Kami sering menjamu orang-orang berbakat bagus dan memiliki kepan¬daian silat tinggi, tapi yang berkemampuan seperti saudara Jaka benar-benar baru kali ini kami temui…” kata Kunta Reksi sambil tertawa lebar.

Pemuda ini berlagak kikuk, “Ah, terlalu memuji. Sesungguhnya selain meringankan tubuh, saya hanya menguasai sedikit sastra dan keterampilan memainkan seruling. Tiada yang lain…”

“Benarkah demikian?” tanya Sadewa dengan menatap pemuda itu lekat-lekat.

“Ya, sejak kecil ayah saya selalu ingin mengajarkan ilmu silat, tetapi ibu tidak setuju. Karena beda pendapat, maka kakek menganjurkan agar saya menguasai ilmu peringan tubuh saja, sehingga tidak perlu berkelahi,” tutur pemuda ini asal bicara. Tentu saja bertemu dengan orang semacam mereka, Jaka tidak ingin bertindak ceroboh.

Tiga orang itu manggut-manggut, dari raut muka mereka terlihat percaya dengan perkataan Jaka. Sekalipun tak ingin percaya juga susah, karena tidak ada alasannya, apalagi cara bertutur kata pemuda itu, begitu polos, dan sepertinya tidak kawatir kalau orang hendak mencelakainya. Tentu saja Jaka tahu benar dengan kelebihan dirinya—dalam hal bicara dia yakin, caranya membawakan cerita sangat meyakinkan. Tapi, meski mereka terlihat percaya, tentu hanya tampak diluarnya saja, mereka mewaspadai kalau-kalau keterangan Jaka dibuat untuk menipu. Alasan mereka tidak percaya adalah, menilik dari ilmu peringan tubuh Jaka. Untuk menguasai peringan tubuh, syarat utama justru penguasaan tenaga murni yang luwes.

Dengan kemampuan yang diperlihatkan Jaka tadi, mutlak ilmu yang dikuasai pasti aliran murni. Diantara para pendekar yang berkelana, mereka yang tergolong aliran murni—yakni aliran yang diciptakan untuk kalangan sendiri, bukan mencangkok dari luar—bisa dihitung dengan jari. Jika kekesimpulannya demikian, maka mereka bisa memastikan, keluarga si pemuda pasti pendiri aliran murni tertentu. Mereka berpendapat angkatan tua si pemuda pasti bukan manusia sembarangan. Kata pepatah; bapak macan tak akan melahirkan anak anjing. Dengan demikian, meski mereka merasa Jaka adalah anak yang polos, kekuatan yang menopang dibelakangnnya harus dipehitungkan.

“Oh begitu. Omong-omong, saudara Jaka datang dari mana? Melihat keadaanmu, kusimpulkan engkau termasuk orang berada, yang sengaja melihat dunia luar…”

“Tepat sekali,” seru pemuda ini sambil tertawa. Agak heran juga mereka melihat Jaka tidak terkejut, mungkinkah Jaka memang selugu itu?

Dalam bercakap-cakap, pemuda ini memang tidak menggunakan istilah paman atau sebutan untuk orang yang lebih tua, sebab dia merasa tidak seharusnya begitu. Bagaimanapun juga dia adalah tamu yang diundang. Seorang tamu undangan kan tidak perlu merendahkan diri?

“Orang tua saya tinggal di kota Kunta. Jika saudara menduga bahwa saya orang berada—tak bisa saya pungkiri bahwa orang tua saya termasuk keluarga terkaya. Kekayaan mereka berlimpah ruah—begitu yang dikatakan orang. Tapi saya tidak suka dengan keadaan itu.”

“Kenapa?”

“Orang kaya memang bagus, jika dermawan lebih bagus lagi. Jika kekayaan itu adalah hasil usahanya sendiri, apapun yang akan dilakukan olehnya pasti tak akan disesali. Berbeda dengan kekayaan turunan… yang terpikir hanya bagimana menghabiskan harta, atau bagiaman menjaga agar harta tetap banyak.”

“Kau maksud, maaf… orang tuamu seperti itu?”

“Seperti itu?”

“Memiliki harta turunan?”

Jaka merasa girang dengan pertanyaan ini, karena dia ingin tahu secerdik apa mereka. Sebab dipandang dari sudut kecepatan pikir untuk berekasi terhadap sesuatu, mereka memiliki rasio bagus. Tapi ada hal lain yang membuat pemuda ini makin girang bahwa; dia tidak perlu susah-susah mengarang cerita, karena apa yang akan diucapakan bisa berarti ganda, biarlah mereka yang menebak sendiri, dan dirinya hanya akan meneruskan pemikiran mereka—menurut Jaka itu rencana yang lumayan.

“Oh, tidak. Justru mereka mendapat kekayaan karena usaha sendiri, cukup dermawan dan cukup terpandang di kota.”

“O… jadi apa keluhanmu?”

“Hidup susah sudah pasti tidak enak. Tapi lebih tak menyenangkan lagi, jika semuanya terlalu mudah. Coba saudara bayangkan, ingin ini-itu tinggal tunjuk, semuanya terkabul. Apa enaknya hidup seperti itu? Otak jadi malas berpikir, tak ada tantangan untuk merangsang semangat hidup. Hh… bisa-bisa mati lantaran bosan.”

Penjelasan Jaka membuat ketiganya terkesip, hanya orang berprinsip saja yang sanggup meninggalkan harta benda demi mencari kebebasan. Karena kebanyakan orang, selalu sayang harta.

“Yah, berpikir demikianlah yang membuat saya memutuskan untuk pergi mencari pengalaman. Kabar terakhir yang saya dengar, orang tua sayapun pindah begitu saya pergi, mungkin mereka mencari saya.”

“Tapi… rasanya agak kurang wajar pemuda seusiamu, berani mengambil keputusan begitu besarnya.” Kata Kundalini menyahut sambil melirik sekejap kearah gelas minuman Jaka. Ia melihat gelas pemuda itu kosong, tinggal ampas teh. Jaka tertawa dalam hati melihat lirikan sang tuan rumah, dia sudah tahu apa maksudnya.

“Hanya karena merasa lebih enak berada di alam bebas, seperti ditelaga ini. Pekerjaan saya selama berkelana, tak jauh dari mengunjungi tempat-tempat pesiar yang terkenal keindahannya.”

“Maaf kalau boleh kami tahu,”

“Silahkan,”

“Jika sehari-hari saudara Jaka hanya kesana kemari tanpa tujuan seperti itu, dari mana anda dapatkan uang, untuk menutup biaya keseharian? Apakah sebelumnya anda membawa bekal banyak dari rumah?”

Jaka tertawa. “Jika sebelumnya saya membawa bekal, bukankah sama artinya saya orang munafik?”

Mereka tertegun dengan gaya tutur Jaka yang membahasakan diri; bahwa, jika dia masih membawa harta kekayaan orang tuanya, sama saja munafik. Sungguh tak mereka sangka ada orang sepolos itu. Meski yang diucapakan Jaka lebih banyak ngelanturnya, untuk hal ini memang sesuai kenyataan.

“Jadi apa yang kau bawa?”

“Tentu saja hanya yang melekat dibadan saja.”

“Jadi untuk makan, keseharian bagaimana?”

Jaka tersenyum, “Kenapa harus repot begitu? Saya tidak pernah memikirkan bahwa besok harus makan begini-begitu, harus menginap tempat tertentu. Alam begin luas, manusia tak akan kekurangan jika hanya untuk mengisi perut saja. Ya, memang kadang kala saya melakukan pekerjaan ini-itu, untuk sekedar bisa membeli baju atau bekal di perjalanan. Saya merasa bebas, orang tak punya apa-apa, tidak menjadi perhatian kaum begal.”

Mereka tersenyum mendengar komentar Jaka, mereka pikir Jaka ini pemuda unik. Mana ada orang yang hidup berkecukupan, mau hidup menggelandang demi sepatah kata bebas? Mau percaya rasanya agak mustahil, tak percaya juga susah—mengingat bahwa pemuda secakap Jaka yang memiliki peringan tubuh handal, hidup menggelandang… agak susah dinalar.

Pembicaraan berlanjut dengan menanyakan masing-masing kesukaan dan berbagai macam hal tetek bengek lainnya. Tentu saja Jaka menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar dan seolah tidak menyembunyikan sesuatu. Namun mata pemuda ini awas sekali, ia sempat melihat Kundalini melirik kearah gelasnya lagi. Tiba-tiba saja Jaka merasa akan ada—mungkin sudah—sesuatu.

Sebenarnya permainan apa yang mereka siapkan? Ah, kenapa tadi tidak kucicipi dulu ini? Percuma aku punya pengetahuan racun kalau masih kawatir, seharusnya aku tidak perlu ragu.

Memutuskan demikan, dengan lagak ketagihan air teh, pemuda ini meminta lagi. “Air teh ini sungguh harum, boleh saya menambah?”

“Ah, saudara terlalu sungkan, bukankah kita sudah bersahabat? Silahkan, silahkan…” sahut Sadewa dengan simpatik. Sekilas matanya lelaki umur perten¬gahan abad itu berkilat gembira, dan tentu saja hal ini tidak lepas dari perhatian Jaka.

“Terima kasih,” ucap pemuda ini, segera menuang air teh kedalam gelasnya. Dengan santai Jaka menyesapnya perlahan, namun sejak semua ia sudah mengambil tindakan antisipasi.

Hawa murni panas-dingin dikerahkan untuk melindungi bagian lambung. Dua pengerahan hawa itu merupakan ajaran murni yang dia dapatkan dari teori-teori dalam kitab pengobatan—salah satu kegunaannya untuk mengetahui apakah makanan, minuman atau sesuatu yang masuk kedalam tubuhnya itu beracun atau tidak. Tentu saja selain kemampuan itu, indera penciumanlah yang berperan penting.

Meski Jaka sudah merasa ada yang kurang beres, tetapi indra penciumnya tak mendeteksi adanya racun. Jaka sangsi, jangan-jangan teh itu memang tak beracun, karena ragu pemuda ini memutuskan untuk mendeteksi dengan hawa murninya. Tapi begitu air teh menyentuh lidah, dalam sekejap lidah terasa kelu dan samar-samar ada aroma manis pahit getir tercampur. Keadaan seperti itu hanya terasa dalam sepersekian detik, tentu saja kalau orang biasa atau orang tidak tahu cara mengenali segala macam racun, tidak bakal menemukan tanda-tanda seperti itu! Apalagi air teh memang kebanyakan sedikit pahit. Sungguh cara meracun yang unik, lihay. Menyembunyikan rasa pahit dalam pahit, siapa pula yang dapat menduga?

Jika orang lain tak akan mengetahui hal itu, tentu saja Jaka berbeda. Lebih-lebih ketika menyadari racun apa yang dia minum, tapi diluarnya Jaka terlihat seperti biasa.

Gila, air ini berisi Bubuk Pelumpuh Otak. Sialan orang-orang ini, untung aku sudah curiga lebih dulu… Jaka terkejut karena perbuatan tuan rumah. Pemuda ini tidak perduli seberapa besar kadar dan pengaruh racun yang menyerang dirinya, karena ia mempunyai kepercayaan diri yang besar atas dirinya—bahwa ia sanggup mengatasi racun itu.

Setelah meminum air teh, wajah pemuda ini terlihat merah merona, sehingga seluruh wajahnya yang putih tersaput warna merah jingga. Tentu saja perubahan muka ini adalah hasil karya pemuda ini, dia sadar betul, rekasi pertama orang yang terkena Bubuk Pelumpuh Otak untuk takaran tertentu, adalah; untuk sesaat kepalanya terasa pusing dan wajah memerah untuk jangka waktu yang cukup lama—tanpa si korban tahu. Setelah tanda-tanda itu hilang berangsur-angsur si korban akan kehilangan kesadaran dan jati dirinya, dia mudah diperbudak, menerima perintah tanpa membantah pada orang yang pertama dilihatnya (setelah meminum racun), yang ada hanya jawaban ‘ya’! Sebab seluruh rasio dan pertimbangan akalnya tak seimbang lagi.

Tapi Jaka tahu kalau kadar yang diberikan dalam minumannya masih tergolong ringan, pemuda ini memperhitungkan kalau sebelumnya ia kelihatan sudah meminum satu gelas dan kini ditambah satu gelas lagi, maka kadar bubuk pelumpuh itu dalam tubuhnya sudah ada seperenam bagian. Dengan takaran seperti itu, maka orang yang terke¬na bubuk itu akan merasa sedikit bingung dan sungkan kepada orang yang ditemui pertama kali, dan jika pem-format-an (penghapusan) memori otak sudah dilakukan menyeluruh, dia tidak mungkin bisa membantah perintah orang yang ditemui pertama kali, untuk selamanya! Selama dia masih dalam kekuasaan Bubuk Pelumpuh Otak.

Tentu saja kejadian itu hanya berlaku untuk orang lain. Untuk meracun pemuda ini, rasanya butuh metode lebih hebat dan racun yang lebih keras lagi, sebab urusan racun adalah hal biasa bagi Jaka. Hakikatnya permainan mereka serupa main kapak didepan tukang kayu. Pemuda ini hanya bermaksud hendak mengetahui sebenarnya apa yang hendak mereka lakukan pada dirinya.

Sedikit banyak bisa kuduga maksud terselubung mereka. Pasti sebelumnya sudah banyak orang yang pernah mereka jamu seperti ini. Aih, berarti mereka sudah hilang kesadaran. Sungguh berbahaya, apa tujuan mereka?
Perlahan dia meletakkan gelas, wajahnya agak berkerut sedi¬kit, kelihatannya diseperti sedang menahan pusing. Setelah beberapa waktu barulah kondisi Jaka berangsur-angsur pulih.

“Agaknya saudara Jaka benar-benar suka dengan teh ini?” ujar Sadewa kembali berbicara.

“Memang benar,” sahut pemuda ini sambil manggut-manggut. “Teh harum ini sungguh enak, sayang agak sedikit pahit.”

Ketiganya tersenyum maklum. “Ehm, sebenarnya saya ingin bertanya, sebelumnya saudara Jaka tinggal dimana?” tanya Kunta Reksi dengan ramah. Seharusnya setelah meminum bubuk pelumpuh otak, segala ingatannya sudah punah sama sekali, tapi dengan dosis tertentu, kondisi korban bisa beragam, mereka memiliki ingatan, tetapi mereka tunduk pada si pemberi perintah—seperti peran yang kini dimainkan Jaka.

Jaka tahu, orang ini sedang mencoba apakah kasiat dari bubuk mereka sudah bekerja atau belum. “Bukankah tadi …” hanya sampai disini saja Jaka bicara sebab ia kembali mengerutkan kening, seakan menahan pusing. Tiga orang itu saling pandang sekejap.

“Oh, saya sampai lupa menjawab pertanyaan tadi, saya dulu tinggal di kota Kunta, orang tua saya merupakan hartawan yang memiliki kekayaan berlimpah ruah. Saya terpaksa kabur berkelana karena dipaksa menikah dengan anak seorang hartawan yang juga memiliki kekayaan sebanding dengan kekayaan orang tua saya,”

Cara Jaka bertutur kali ini—seandaianya jaman itu sudah ada Piala Oskar, sebagai penghargaan Academy Award—ia pasti pantas dianugerahi sebagai aktor terbaik.

“Lalu kenapa kau kabur? Apakah gadis itu berwajah jelek?” tanya Kundalini tak sungkan lagi.

“Jelek? Ha-ha-ha, justru gadis itu adalah gadis tercantik di kotaku—kata mereka yang pernah melihat. Namun aku tidak mau, karena mereka menjodohkan kami semata-mata karena ingin melipat gandakan harta kekayaan mereka…”

Penjelasan pemuda ini tidak beda dengan yang tadi, diam-diam Sadewa membatin. “Anak ini benar-benar polos, banyak sudah pendekar muda yang terjatuh ditangan kami, satu pun tidak pernah menceritakan asal usul mereka, kalaupun ada, sudah tentu bohong. Tapi anak ini benar-benar menarik.”

“Lalu selama berkelana, apa saja yang kau lakukan?” kembali Kundalini bertanya.
“Tidak banyak yang kulakukan, hanya sekedar mengunjungi tempat indah, agar bisa melepaskan kepenatan hati. Suasana asri dan indah, memudahkan ber biasanya saya menetap sampai satu dua bulan, dengan membuat syair dan mencurahkan keindahan lewat suling, puaslah hati ini…” tentu saja penjelasan pemuda ini tidak beda dengan yang tadi, ketiga orang ini saling pandang dan perasan heran.

Anak ini benar-benar polos! Gerutu Kundalini dalam hati. Tak ada informasi berarti yang bisa mereka dapatkan sebagai perbendaharaan.

“Wah, agaknya kita kali ini salah menjaring ikan. Pemuda yang seperti ini tidak cocok buat kita,” pikir Kunta Reksi.

Lain yang dipikir dua orang itu lain pula yang dipikir Sadewa. “Orang yang terkena bubuk kami, setangguh apapun dia, pasti jadi jinak, tak terkecuali bocah ini, sayang dia memiliki bakat begitu bagus, apa yang dikatakannya tadipun semua serupa, tiada kebohongan. Anak ini benar-benar menarik… sungguh bocah yang polos.”

Kalau saja Sadewa tahu apa yang dilakukan Jaka, dia bisa mati karena keki.

“Lalu apakah kau punya pengalaman yang menarik?” tanya Sadewa lebih lanjut.

“Ehm, rasanya ada, pernah juga dulu saya mengalahkan gerombolan bandit kelas teri. Tapi sebenarnya bukan mengalahkan tapi membuat mereka menyerah sendiri.”

”Bagaimana caranya?” Kunta Reksi bertanya penasaran.

“Mudah… cukup menghindar terus menerus. Karena sejak kecil yang kupelajari hanya ilmu meringankan tubuh, dan ilmu sastra saja, maka saya tidak tahu bagaimana caranya menyerang, paling juga hanya hajar-tendang sana-pukul sini. Tapi kalau masalah mengelak, bukannya menyombong sih… kurasa jarang yang sebaik aku. Dan tentu saja mereka yang menyerangku, menyerah! Mungkin kecapaian. Lucunya, mereka mengira kalau sengaja kupermainkan, padahal aku sendiri bingung memikirkan bagaimana cara menyerang mereka.

“Hi-hihi, sungguh lucu, dua puluh satu orang itu tiba-tiba berlutut didepanku. Tentu saja waktu itu aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan, namun kuberi nasehat pada mereka agar lebih baik lagi menjalani hidup ini bukan dengan cara sekarang, menjadi bandit. Kukatakan lebih baik hidup sederhana tapi dilandasi hati yang jujur dan bersih, orang akan lebih menghargainya. Setelah mendengar pesan itu mereka semua mengiyakan dan pergi…” untuk cerita yang ini Jaka memang tidak bohong.

Kali cerita Jaka benar-benar membuat hati tiga orang itu tergerak. “Apa lagi pengalaman menarikmu?”

“Mm…” pemuda ini berpikir sekejap. “Oh, ada lagi yang lebih menarik. Kalau tidak salah sudah selang satu tahun yang lalu, waktu itu aku berada di air terjun Lawang Pitu, saking terpana dengan keindahan alam, tanpa sadar aku melompat diantara batu dan kayu untuk lebih dekat ke air terjun, eh… tidak tahunya ada seseorang yang memperhatikan ulahku.

“Beliau seorang kakek berusia delapan puluh tahun atau mungkin lebih. Hanya aneh, wajahnya itu merona merah segar seperti anak muda, benar-benar mengherankan! Beliau menegurku, begini katanya

‘Eh, bocah cilik! Bakatmu jarang terdapat di dunia persilatan, kenapa kau hanya bisa melompat-lompat seperti kodok saja?’, mendengar ucapannya itu, aku tidak mengira hanya dengan sekali lihat saja, Aki itu tahu bahwa aku memang hanya memiliki peringan tubuh. Lalu dengan sabar kukatakan padanya,

‘Orang tua saya memang hanya mengajarkan ini,mereka tidak ingin saya terlibat dalam perselisihan atau perkelahian yang tidak berarti…’, mendengar ucapanku Aki itu tertawa geli.

‘Bocah bodoh! Dengan bakat seperti ini kau hendak jadi orang biasa? Jadi petani yang hanya mengenal lumpur?’,

“Aku tidak paham maksud perkataannya, terpaksa aku hanya diam. Mendadak Aki aneh itu bertanya lagi, ‘Bocah cilik, apakah kau tidak ingin namamu termasyur mengalahkan nama tenar enam belas partai besar? Mengalahkan semua nama pendekar besar lainnya?’, mendengar ucapan Aki itu aku paham dengan ucapannya yang tadi, lalu kujawab,

”’Menjadi tenar hanya membuat susah, kalau orang lain tahu bahwa saya ini orang tenar maka kemanapun pergi tidak akan ada tempat yang tenang buat kita. Sebagai orang tenar tentu saja banyak orang yang ingin mengambil hati kita dengan menjilat… saya malah ngeri, ketenaran bisa membawa manfaat besar tapi bisa pula membawa bencana yang lebih besar,’ itulah yang kukatakan padanya.

Untuk beberapa lamanya Aki itu diam termenung. Tiba-tiba saja dia tertawa terbahak-bahak suaranya bahkan mengalahkan deruan air terjun. Dapatlah kuduga tenaga dalamnya sungguh sempurna. Setelah puas tertawa ia berteriak dengan nada girang,

“’Setua ini bisa bertemu dengan anak semacam kau, puas hatiku! Kau jauh dari noda, jauh dari rakus dan jauh dari gemerlap dunia yang menyesatkan…’ Beliau mengulang kata itu lagi, kemudian ia menyambung lagi ucapannya, ‘Nak, maukah kau menjadi muridku?’ tiba-tiba saja Aki ini bertanya begitu. Tentu saja aku kelabakan, lalu kukatakan padanya,

‘Menjadi murid Aki merupakan kehormatan besar bagi saya, namun saya ingin berkelana lebih dulu, saya ingin menuntaskan keinginan hati, agar lebih terang melihat dunia.’

“Mendengar perkataan saya itu Aki aneh itu tertawa, ‘Bagus-bagus, aku mendapat calon murid sepertimu, tidaklah rugi kalau aku mengalah,’ Aki itu berkata begitu sambil pergi, lalu sayup-sayup dari kejauhan, terdengar Aki itu berkata, ‘Apa itu sembilan mustika silat? Huh! Hanya membuat malu saja, tunggulah dunia. Aku akan munculkan seorang maha jago yang dapat melipat sembilan mustika!’ mendengar perkataan Aki itu, aku memahami bahwa; beliau merasa tidak puas pada pemilik sembilan mustika. Percakapan kami membuatku lupa bahwa aku mendengar deruan air terjun. Kesan kakek itu sangat dalam terpatri diingatan, aku merasa simpati padanya.” Dan Jaka mengakhiri ceritanya.

Tiga orang itu saling pandang, agaknya cerita pemuda ini yang terakhir memang sangat mengesankan, apalagi saat Jaka menekankan kata pada melipat sembilan mustika hingga tak berdaya, tiga orang itu tahu apa artinya. Lagi pula tokoh yang digambarkan Jaka tadi mengingatkan mereka pada seseorang, dan wajah tiga orang itu berubah hebat. Padahal mereka mana tahu kalau semua itu hanya cerita karangan Jaka? Memang ada kejadian seperti itu, tetapi mengenai diangkat menjadi murid segala, hanya karangan Jaka saja. Hakikatnya saat itu tiada percakapan basa-basi segala.

Kalau begitu masih ada ilmu yang lebih lihay dari sembilan mustika ilmu silat? Kalau benar, kejadian nanti benar-benar menghebohkan… pikir Sadewa.

“Lalu apakah kau mendengar janji, kapan Aki itu akan datang lagi?” tanya Kunta Reksi.

“Tidak, tapi menurut beliau, dia bisa menemukan aku dimana saja. Bagiku, tak menjadi masalah, apakah nanti menjadi muridnya atau tidak. Masih banyak hal-hal penting yang bisa kulakukan selain menjadi muridnya.”

Suasana hening dalam sesaat, “Apakah saudara Jaka memang baru pertama kali datang ketempat ini?” tanya Kundalini.

Mendengar pertanyaan itu, dalam hatinya Jaka sudah dapat menuju kemana arah pembicaraan orang itu. Ha-ha, rupanya kau mulai menyelidiki diriku dengan seksama. Silahkan saja kalian telan semua bualanku, jika kalian tahu cerita tadi tak lebih cuma khayalan, kalian bisa mati lantaran dongkol, pikir pemuda ini geli.

“Saya memang baru datang hari ini.” Jawab pemuda ini singkat. Jaka tidak bohong bahwa dia baru datang hari ini, beda jika dia mengatakan ‘pernah’. Dan mereka tak menyadari hal ini.

“Apakah saudara Jaka ada mampir,”

“Tentu saja,” potong pemuda ini cepat. “Aku sempat mampir di rumah makan, dan penginapan Bulan Kenanga.”

“Bukan itu maksud kami, apakah kau mampir ketempat seseorang?” tanya Kunta Reksi dengan nada meyakinkan.

“O…” pemuda ini mangut-manggut, namun pikirannya berkerja cepat. “Apa mungkin mereka sekomplotan dengan Bergola? Jika benar, mungkin saja mereka salah satu pimpinannya.”

Pemuda ini mengerutkan keningnya, agaknya ia kembali berlagak menahan pusing. Ketiga orang itu menunggu dengan sabar, sebab mereka memang tahu apa yang sedang terjadi.

Selang beberapa saat, pemuda ini sudah normal kembali. “Ya, selain itu aku mampir dirumah Ki Sasro Lukita, dia salah satu sesepuh kota ini …”

“Apa tujuanmu kesitu?” potong Kundalini tak sabar.

“Tak ada tujuan khusus, aku hanya ingin menanyakan tempat yang cocok untuk pesiar, tapi pada saat itu ada seorang tamu lelaki, dia bicara kasar dengan Aki itu. Aku enggan mencampuri urusan mereka, setelah lelaki itu pergi sebenarnya aku juga ingin pergi karena takut membuat perasaan Aki itu makin kalut. Tapi siapa sangka Aki Lukita mengetahui kedatanganku, dan diundang masuk. Apa boleh buat, akhirnya kuutarakan maksud keda¬tanganku. Eh, benar-benar kebetulan, ternyata Aki Lukita merupakan salah satu sesepuh kota, beliau banyak bercerita mengenai sejarah kota dan berbagai tempat yang bisa dikunjungi untuk melancong. Dari beliau aku mengenal adanya Perguruan Naga Batu, karenanya begitu melihat perahu ini, aku bisa menduga kalau penghuninya pasti anggota perguruan itu.”
Tiga orang itu manggut-manggut, tentu saja mereka percaya karena hakekatnya mereka mengira Jaka sudah terkena bubuk racun mereka. Hanya saja mereka benar-benar menggerutu tak habis-habisnya, sebab pemuda macam Jaka ini jenis yang langka dan aneh, mereka berpendapat Jaka tidak bisa dimanfaatkan.

“Lalu apa saja yang diceritakan Aki Lukita?” tanya Kundalini.

“Selain mengenai cerita seputar kota. Aki Lukita juga menceritakan pengalamannya saat muda,”

“Bagaimana dengan lelaki besar itu? Apakah ini juga menceritakannya?” tanya Sadewa.

“Tidak, namun Aki Lukita mengatakan bahwa dia bernama Bergola. Seorang lelaki bersemangat, namun sayangnya salah memilih jalur, aku tidak tahu apanya yang salah dari lelaki itu, makanya tidak kutanggapi lebih lanjut. Mungkin saja jika aku me¬nanggapi ucapannya, beliau akan menceritakan masalah berkenaan dengan Bergola. Sebab kulihat Aki itu begitu senang bercerita.”

Mereka saling berpandangan, seperti sedang mencurahkan pemikiran mereka. Bibir mereka terlihat agak bergerak, kelihatannya orang itu sedang bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara.

Perlu diketahui, ilmu menyampaikan suara dengan mengirim getaran gelombang suara kepada orang yang dituju merupakan kepandaian khusus yang tak sembarang orang bisa memilikinya. Minimal, sebagai standar kemampuan tersebut, dia adalah salah satu guru besar perguruan terkemuka.

Diam-diam Jaka mengamati ketiganya dengan hati kagum juga mangkel, sebab pemuda ini berfikir tindakan ketiganya sangat tidak layak.

“Bagaimana adi Reksi, apakah anak ini akan kita pakai?” tanya Sadewa meminta pendapat.

“Menurutku tidak perlu, dia hanya bisa menggunakan ilmu peringan tubuh. Rasanya tidak banyak berguna…” sahut Kunta Reksi.

”Kau jangan salah, peringan tubuh yang ditujukan bocah ini, hanya beberapa orang yang bisa melakukannya. Mungkin diantara keluarganya malah ada yang lebih hebat lagi. Kesimpulanku, untuk menguasai peringan tubuh seperti itu dibutuhkan bakat yang sangat bagus dan menurutku anak ini bisa jadi anggota kita yang sangat hebat. Bakat anak ini bisa dibilang luar biasa, dalam beberapa tahun mendatang, kita bisa menciptakan seorang pengawal amat tangguh.” Kata Kundalini memberikan pendapatnya.

“Benar juga kata adi Kundalini,”

“Tapi kakang, dengan dibawah pengaruh bubuk kita, perkembangan otaknya tidak mungkin seperti biasa…” timbrung Kunta Reksi, dari nadanya orang ini sepertinya setuju dengan usul Kundalini.

“Kalau begitu kita tawarkan sebagian saja, dan kita sisakan sedelapan bagian, dengan begitu kecerdasan dan segala sesuatunya tidak akan terhambat… sayang sekali kita menyia-nyiakan orang berbakat hebat seperti dia.”

“Bagus, usul kakang memang baik sekali…” sahut Kunta Reksi. Dan tentunya suara mereka tidak terdengar keluar, sebab mereka bicara dengan ilmu menyampaikan suara tingkat tinggi sehingga bisa didengar oleh tiga orang sekaligus. Karena biasanya ilmu menyampaikan suara hanya bisa ditujukan pada satu orang saja, kalau ada orang yang bisa menujukan suaranya pada dua orang atau lebih berarti tenaga dalam mereka memang luar biasa.

Plok-plok!

Sadewa menepuk tangannya, lalu dari dalam bilik keluar nona baju biru, dengan cekatan nona baju biru segera mengangkat poci, empat gelas serta makanan ringan tadi, dalam sekejap matanya menatap Jaka, pandangannya kelihatan sayu. Sepertinya nona ini sedang bersedih hati.

“Bawa kemari teh wangi dan sekalian daharan untuk makan siang,” perintah Sadewa.

“Baik guru,” sahut nona baju biru itu dengan segera, untuk sesaat Jaka melihat wajah nona itu berkilat gembira, pandangan sayunya tidak terlihat lagi.
Diam-diam pemuda ini heran, entah persoalan apa yang membebani si nona. Tapi karena sedang memperhitungkan sesuatu dia tidak memikirkan lebih lajut, kali ini Jaka merasa akan ada permainan lain. Mungkin lebih berbahaya.
Tak berapa lama kemudian, nona baju biru dibantu nona baju merah kelihatan keluar. Dua nona itu memegang nampan kayu. Dua poci cukup besar dan makan dengan berbagai macam lauknya segera tersedia didepan meja. Setelah menghidangkan makanan dan minuman yang diperlukan dua nona itu segera masuk kembali kedalam bilik.

“Mari kita bersantap,” tanpa basa-basi Sadewa segera mempersilahkan.

Jaka-pun tidak mau banyak tanya lagi, karena hakekatnya dia harus terus bersandiwara masih dalam pengaruh bubuk pembuyar syaraf otak. Setelah makan Sadewa menyuguhkan air teh wangi kepada pemuda ini.

“Mari…” dan mereka berempat minum.

Jaka segera tahu apa yang terkandung dalam air teh itu, ternyata dalam air teh ada penawar dari bubuk tadi, hanya saja kadarnya begitu ringan. Tapi pemuda ini tidak mau ceroboh dengan begitu saja menelannya, pemuda ini menggumpalkan apa yang ia makan dan minum sehingga terkumpul jadi satu di lambung.

“Ah, kenapa begitu mengantuk?” gumamnya sambil menguap tertahan, lalu diapun tidur.

Tentu saja tindakan Jaka demi memperlancar sandiwaranya belaka. Dia tahu, apabila racun bubuk bertemu penawar, korban akan merasakan kantuk biarpun penawar bubuk itu hanya sedikit. Tiga orang itu membiarkan Jaka tertidur dikursinya, tangan pemuda ini bersedekap di dada.

Kelihatannya posisi tangan pemuda ini tidak memiliki maksud apa-apa, padahal Jaka sengaja begitu karena ia kawatir tiga orang itu menggeledah pakaiannya dan mendapatkan catatan Aki Lukita. Jika saja mereka mengusiknya, pemuda ini akan segera bertindak… Ternyata tiga orang itu sama sekali tidak mengusiknya.

Beberapa saat kemudian, Jaka menggeregap terbangun. “Heran, kenapa bisa sampai ketiduran?” gerutu pemuda ini sambil menggaruk kepalanya. “Maaf, entah kenapa saya ketiduran…” pemuda ini berkata dengan lagak serba salah.

“Ah, tidak apa-apa, mungkin kau terlalu capai. Perjamuan kita sudah berakhir, kami sangat berkesan sekali dengan pertemuan ini… tentunya saudara Jaka juga begitu bukan?”

“Tentu saja, hanya saya tidak menyangka bakal bertindak kurang sopan.”

“Ah, itu bukan masalah, kalau sudah bersahabat, kenapa mesti sungkan lagi?” ujar Kunta Reksi ramah.

“Ehm, saya rasa… saya sudah terlalu lama disini. Saya mohon pamit,” pinta pemuda ini sambil berdiri.

“Oh, silahkan.” Sadewa juga ikut berdiri, lalu ketiga orang ini mengantar Jaka keluar dari bilik kapal mewah itu. Dibelakang mereka, kelima nona juga ikut mengiringi keluar.

“Berapa lama saudara Jaka berada di kota ini?” tanya Kundalini.

“Saya belum bisa memastikan, tapi melihat suasana tenteram dan sejuk seperti ini, mungkin saya akan tinggal satu atau dua bulan.” Jawab pemuda ini.

“Apakah saudara Jaka akan tetap tinggal di penginapan Bunga Kenanga?” kali ini Kunta Reksi yang bertanya.

“Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya lebih suka menginap dialam bebas, tapi rencana saya dalam lima hari ini saya masih ada di penginapan, untuk selanjutnya saya akan melewatkan malam hari di alam bebas, dengan menikmati sinar bintang dan bulan.” Sahutnya tanpa canggung—sok penyair.

Benar-benar pemuda kutu buku yang tidak perduli apa-apa! Gerutu tiga orang itu dalam hati.

“Kalau begitu, kami harap lima hari mendatang, tepatnya tengah hari saudara Jaka datang ke Pesanggrahan Naga Batu, kurang lebih empat pal dari komplek Perguruan Naga Batu.” Kata Sadewa dengan nada datar.

“Baik, saya akan datang.” Jawab pemuda ini dengan mantap.

“Simpan ini…” Sadewa memberikan lencana berukir naga yang terbuat dari perunggu, ukurannya hanya separuh telapak tangan.

Jaka tak banyak bertanya, dia segera menyimpan lencana itu, tapi alisnya terus berkerut dan itu sudah cukup bagi Sadewa untuk mengetahui maksudnya.

“Lencana ini merupakan tanda masuk ke Perguruan Naga Batu, dengan lencana ini kau tidak akan menemui kesulitan untuk menjumpai kami.” Jelas lelaki ini dengan nada datar dan mengandung wibawa.

Jaka manggut-manggut paham, “Kalau begitu terima kasih banyak!” katanya sedikit membungkuk hormat dan membalikan badan untuk segera pergi, ia harus bertindak begitu karena ia tahu bahwa hakikatnya mereka menganggap bahwa bubuk pelumpuh otak yang ada ditubuhnya tinggal sepedelapan bagian. Maka itu dia harus mengiyakan segala yang diminta mereka.

“Ada yang ingin saya tanyakan,” tiba-tiba pemuda ini membalikan badannya.

”Silahkan,” ujar Kundalini.

“Tadi saya mendengar yang mengundang saya adalah anda sekalian dan nona, tapi saya tidak menjumpai nona yang dimaksudkan…” pemuda ini tampak penasaran.
Sadewa mengangguk-angguk, Anak ini cermat, segala apa yang dibicarakan orang ia ingat baik-baik bahkan hal yang sepele. Kelihatannya memang sebuah keberuntungan mendapatkannya, pikirnya dalam hati.

“Kau jawab pertanyaannya…” seru Sadewa pada nona baju merah.

“Baik guru,” sahut nona ini sambil membungkuk. Lalu ia memutar tubuh dan menghadapi Jaka dengan wajah tertunduk. “Tadinya memang nona kami ingin bersua dengan tuan, tapi tiba-tiba saja nona tidak enak badan.”

“Oh.. kiranya begitu,” seru Jaka manggut-manggut. “Mudah-mudahan saja ia segera sembuh.” Sambungnya.

“Terima kasih atas perhatian tuan,” sahut nona baju biru. “Akan saya sampaikan pada nona.”

“Ah, tidak perlu. Mungkin apa yang saya katakan hanya sekedar basa-basi.” Kata pemuda ini sambil tertawa lebar. Hanya saja ucapan pemuda ini, membuat lima nona pengiring itu saling pandang heran, didunia ini mana ada orang mengatakan kalau dirinya berbuat hanya untuk basa basi? Begitu juga tiga orang pelindung Perguruan Naga Batu, mereka menggeleng dengan prihatin, mereka menganggap bahwa pemuda ini kelewat jujur dalam tindakannya. Apa yang ingin ia katakan dan ia lakukan selalu terang-terangan.

Jaka agak rikuh juga melihat semua orang tidak menanggapi ucapannya. “Tadi itu… tentu saja saya mengatakannya dengan bersungguh hati.” Sambungnya. “Karena tidak ada kepentingan lain, saya mohon diri,” pemuda ini berkata seraya membungkukkan badannya lagi, setelah tiga orang itu mengangguk, ia membalikan badan dan berjalan keujung perahu.

Dilihatnya jarak antara perahu mewah dengan perahunya itu sekarang sudah dua puluh tombak lebih. Untung saja sebelumnya Jaka sudah memasang pemberat pada perahu, kalau tidak tentu perahunya sudah terhempas ombak telaga entah kemana.
“Hiaah…” lengkingan kecil itu begitu nyaring bagai pekikan naga. Seiring dengan pekikan tadi, tubuhnya segera melayang tinggi dan bagai bulu tertiup angin pemuda ini turun perlahan dan sudah berada diperahunya kembali. Gerakannya tak berubah—seperti tadi, kelihatannya perbedaan jarak sepuluh tombak bukan hal berarti bagi pemuda ini. Apa yang dipertunjukan pemuda ini benar-benar peringan tubuh yang amat lihay, hakikatnya tiga orang itu belum pernah melihat ilmu sehebat itu.

Bagi mereka yang berpengalaman, dapatlah mengambil kesimpulan, jika peringan tubuh pemuda ini belum lagi dikembangkan penuh. Sebab caranya melompat begitu enteng, tanpa ancang-ancang, tak pengaruh jarak, nafaspun tak terlihat terengah.
Diam-diam ketiga orang ini menghela nafas gegetun, Baru anaknya saja sudah sehebat itu, entah bagaimana kehebatan orang tua, dan kakeknya? Sungguh berbahaya jika kita bermain api terlalu lama. Pikir Sadewa gelisah.
Lain yang dipikir Sadewa, lain pula yang dipikir kedua rekannya—Kundalini dan Kunta Reksi. Dengan bakat dan kemampuan sehebat itu, andai dia menguasai salah satu ilmu mustika, agaknya kecuali ditumbangkan oleh sesepuh persilatan, sulit mencari lawan sepadan.

Andai saja mereka tahu, bahwa Jaka menguasai tiga dari sembilan mustika ilmu silat, tentu saja mereka tidak akan bertindak dan berpikir demikian ceroboh. Orang yang menguasai ilmu mustika kan tidak berasio—IQ—rendah, dan tidak akan semudah itu terjebak dalam permainan tadi.

Sesampainya diperahu, Jaka segera menarik pemberat dan mendayungnya perlahan-lahan, meninggalkan keramaian—menjauhi perahu mewah tadi, hingga akhirnya ia sampai di pinggir tebing batu. Saat itu matahari sudah sedikit condong kebarat, sekitar dua-tiga jam kemudian bakal menjelang magrib.

Perahu yang ditumpang pemuda ini kembali dikayuh sehingga terhenti saat ujung perahunya menumbuk lembut sebuah batu yang mencuat dari permukaan air telaga. Jarak batu yang menjadi tambatan perahu, dengan dinding tebing kira-kira masih sepuluh tombak lagi. Melihat keadaan itu, Jaka berkesimpulan, sekitar dua puluh meter mendekati dinding tebing, banyak dipenuhi batu-batu menyembul. Mungkin, karena longsoran dari atas, atau berasal dari bongkahan batu dinding tebing yang retak.

Jaka menghela nafas, sungguh tak habis rasa kagumnya menatap bangunan alam dengan Tuhan sebagai ‘arsitek’. Saat dia berada ditepi telaga, rasanya tinggi tebing ini tak lebih sepuluh tombak, tapi saat mendekat, rasanya tebing itu bagaikan dinding raksasa yang menjulang tinggi, mungkin tingginya sampai empat atau lima puluh tombak lebih, lagipula dibagian puncak dinding tebing itu ada juga yang diselimuti awan. Pemandangan itu benar-benar membuat Jaka takjub.
Aih, sampai lupa… harus segera mengeluarkan apa yang tadi kutelan. Terpikir demikian, di ujung perahunya pemuda ini segera mengerahkan hawa murni, dia tekankan dibagian perut—lambung. Perlahan-lahan dibawa keatas, setelah gumpalan makanan sampai di kerongkongan, Jaka kembali menghimpun hawa murninya untuk mengangkat lagi sisa-sisa makanan dan minuman tadi.

“Huaaak…” seluruh makanan dan minuman yang ia telan tadi tumpah tanpa sisa.
Jaka menghela nafas lega. Untung keburu, kalau terlupa mungkin racun ini bisa membuatku sakit perut seharian… pikir pemuda ini seraya menghapus keringatnya. Sungguh tidak disangka, dalam perguruan yang diagungkan orang terdapat manusia seperti mereka. Benar-benar diluar dugaan, gerutunya gemas. Entah apa motivasi mereka berbuat begitu. Aku harus bertindak cepat, jangan sampai perguruan itu tertimpa musibah… tapi bagaimana jika tindakan mereka bukan seperti dugaanku? Bisa saja mereka punya kepentingan yang baik? Ah tak mungkin, orang baik-baik tak akan menempuh jalan seperti mereka, menggunakan racun! Hh, biar sajalah, toh pada saatnya bisa diselesaikan.

Jaka memperhatikan sekelilingnya gejolak hatinya langsung padam. Satu hal yang dia sendiri sadari, betapapun berat masalah yang sedang dihadapi, jika berada di alam seindah ini, emosi dan pikiran liar akan mengendap dengan sendirinya.
Jaka kembali memperhatikan keindahan Telaga Batu, sesaat ia melihat kesekelilingnya, banyak perahu pesiar yang sedang berlayar hilir mudik. Orang-orang yang mengikuti dirinya sudah tidak ada lagi. Dia juga tidak melihat perahu persiar mewah milik orang Perguruan Naga Batu.

“Setidaknya saat ini gerak-gerikku bebas. Siapa pun mereka, pasti menyangka aku terpengaruh racun mereka, huh! Misalkan mereka tahu, bahwa aku hanya terkena seperdelapan bubuk itu, merekapun tidak akan berani kurang ajar padaku. Lagi pula andai kata nanti malam aku menguntit gerak-gerik Ki Lukita, mereka jadi tidak curiga padaku. Hh, segala macam racun bulukan jangan harap bisa mencelakaiku,” desah Jaka jengkel.

Pemuda ini kembali mendesah, terbayang betapa pedih dan menderitanya saat ‘dipaksa’ harus menemukan penawar racun. Begitu banyak momen berbahaya—seperti saat dirinya diracuni, dengan sendirinya sedapat mungkin Jaka berupaya menawarkannya, sebesar apapun resikonya! Sebab itulah jalan yang harus dia perjuangkan untuk hidup! Dan itu pula yang harus terpaksa dia pelajari sekalipun bertentangan dengan hatinya… dan tak disangka-sangka semua itu membuatnya menjadi manusia, seperti saat ini… kembali ia menghela nafas. Sungguh rasa syukurnya pada Tuhan tak pernah putus, bahwa dia masih hidup hingga kini.

Latar belakang Jaka akan dikisahkan dalam bab tersendiri…

 

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s