009 – Kota Pagaruyung

 

Hari Kesatu

Siang itu tidak begitu panas, tapi penduduk kota jarang yang keluar rumah, padahal langit cerah tanpa awan. Di ujung jalan, terlihat beberapa orang berlalu lalang, dan diantaranya seorang pemuda. Dia berpa¬kaian serba hijau agak lusuh, mengenakan penutup kepala dari kain putih yang di ikatkan begitu saja. Ikat pinggang yang membelit pinggang berwarna kuning tua agak kontras dengan bajunya.
Penampilannya bersahaja, membuat orang tidak perlu memberi perhatian, dialah Jaka Bayu, pemuda ini memutuskan untuk menunda perjalanan ke Perguruan enam Pedang. dia teringat ada sebuah kota, yang dulu pernah disinggahinya, maka ia memutuskan untuk berdiam beberapa hari di kota ini.

“Cerah sekali hari ini,” pemuda ini memandang berkeliling. “Kenapa tak seramai biasanya? Sayang, cuaca sebagus ini disia-siakan…”

Dengan langkah pasti dia memasuki sebuah rumah makan cukup mewah. Begitu masuk, dia segera merasakan hawa sejuk dalam ruangan itu, dan membuatnya ingin berlama-lama.

“Ah…” desahnya sambil meregangkan badan. “Semoga tak percuma aku menghabiskan uang di tempat ini.”

Seorang pelayan langsung menghampirinya. “Mau pesan apa tuan?” sapanya.

“Ehm, sebentar…” dari tadi dia asyik mengamati sekeliling rumah makan. “Apa yang tersedia disini?”

“Macam-macam tuan, ada ayam bakar, kambing panggang, sup dan masih banyak lagi.”

“Bagus, aku minta nasi, dan ayam bakarnya satu, supnya juga.”

“Ayam bakar satu? Maksudnya?” tanya pelayan itu bingung.

“Satu ekor ayam, secepatnya hidangkan kemari,” katanya. “Semoga tidak terlalu lama.” Tambahnya menandaskan.

“Baik tuan…” pelayan itu segera berlalu.

Dia kembali menikmati pemandangan di sekitar rumah makan. Karena dia mengambil tempat di pojok dekat jendela, maka semua sudut ruangan terpantau olehnya.

“Silahkan tuan…” tiba-tiba pelayan sudah datang mendekat dengan pesanan tadi.
Melihat nasi putih masih mengepul, dan ayam panggang yang terasa panas, dengan aroma harum menyengat, tanpa terasa pemuda ini mendecak.

“Harum sekali, mudah-mudahan rasanya seenak aromanya.” Katanya berharap.

“Ini memang masakan khusus tuan, dan mungkin hanya ada di kota ini. Beruntung sekali tuan mampir kemari,” kata pelayan itu dengan yakin.

Pemuda ini tersenyum, mendengar promosi si pelayan. ”Mudah-mudahan kau benar, untung aku datang kemari. Jangan lupa sup yang kupesan.”

”Sebentar lagi tuan…” sahut pelayan itu tergesa-gesa bergegas kembali kedapur. Sudah biasa, kalau ada pelanggan baru yang kelihatan berduit, mereka harus melayani sebaik-baiknya. Pokoknya kalau bisa service plus, dalil ini kan sudah diketahui dimana pun?

Begitu pelayan pergi, dia segera menyantap hidangannya. “Hm, enak. Benar-benar bercita rasa. Aku jarang makan enak, beruntung sekali…” gumamnya sambil meneruskan makan. Tak berapa lama pelayan itu datang dengan membawa sup kari. Aroma sup itu benar-benar membangkitkan selera makan.

“Benar-benar enak. Kalau saja membuka usaha dikota yang lebih besar dan lebih ramai, pasti laku keras…” puji pemuda itu sambil menerima sop tadi.

Pelayan muda itu berbinar-binar mendengar ucapan tamunya. “Kami dulu pernah membuka usaha di Kotaraja Ganyu, memang laku keras. Hanya saja pemilik rumah makan ini tidak mau berada dikotaraja lama-lama, mungkin lantaran banyak orang makan tanpa bayar. Bisanya ngebon dan ngebon terus… padahal mereka orang berduit, lama-lama kami jadi bangkrut.”

Pemuda itu tertawa kecil. “Beginilah kalau masakan terlalu enak, siapa saja pasti mau kalau makan terus menerus, tak perduli perut sudah kenyang. Bukankah kalian harus bangga?”

Si pelayan mengiyakan, lalu dia melangkah masuk kedalam. Pemuda ini menikmati masakan yang dipesannya dengan perlahan, setiap suapnya benar-benar dinikmati. Dia makan sambil mengedarkan pandangan matanya, suasana rumah makan besar itu tidak terlalu ramai, termasuk dia sendiri seluruhnya ada empat belas orang. Pemuda ini melihat pelayan muda yang tadi sudah menyelesaikan beberapa pekerjaannya dan ia berdiri bengong, karena tidak ada yang dikerjakannya.

Baru saja mau kedapur, mendadak ada beberapa tamu masuk, dengan segera dia menyambutnya.

“Mari, silahkan tuan…”

Empat orang yang masuk memiliki perawakan sedang-sedang saja, namun diantara mereka ada satu orang yang dituakan, yakni sosok yang memakai baju biru gelap. Matanya menyorot tajam, wajahnya juga gagah, usianya paling tidak baru tiga puluh tahunan.

“Makan, empat orang!” katanya singkat. Tanpa banyak cingcong, pelayan tadi segera bergegas menyiapkannya.

Pemuda ini, memperhatikan empat orang tamu yang baru masuk. “Gagah benar mereka.” Pujinya dalam hati.

Memang keempat orang itu beroman tampan dan berpawakan tegap, gerakan merekapun cekatan—sangat terlatih. Pasti mereka bukan sembarang orang. Lelaki yang memakai baju biru gelap datang dari Perguruan Pedang Mentari, dia bernama Swatantra; lalu orang berbaju hijau muda, datang dari Perguruan Merak Inggil, usianya paling baru dua puluh lima tahun; dua orang lainnya memakai baju putih berbaret hitam dan satunya berbaret biru pada dadanya, adalah murid-murid Perguruan Awan Gunung, kelihatannya usia dua orang itu yang paling muda, mungkin baru dua puluh tahun.

Begitu melihat mereka, pemuda ini menghela nafas prihatin. Ya, dia kenal dengan mereka—kenal dari dandanan masing-masing. Melakukan perjalan bersama-sama memang tidak ada yang dibuat heran, tapi bagi empat orang yang berasal dari perguruan ternama dengan menyandang segala macam atribut kebesarannya, dan merekapun memiliki ego tinggi, bagaimana bisa seakur itu? Dibalik semua itu pasti ada persoalan lain, dan pemuda ini bisa menebak beberapan diantaranya.

Tak berapa lama hidangan sudah datang dan ditata di meja keempat pendatang baru itu. Selain nasi, lauk pauk yang disajikan lebih beragam dan terlihat enak, hal ini membuat pemuda itu mengerutkan alisnya sesaat.

“Apa mereka langganan rumah makan ini? Kalau bukan, kenapa langsung dihidangkan makanan semewah itu? Memangnya si pelayan sudah tahu kalau mereka sanggup membayar makanan semahal itu?”

Mereka menikmati makanan dengan tenang, tidak lambat juga tak cepat, namun sesaat kemudian makanan sudah terlahap habis. Setelah minum Swatantra meletakkan uang dimeja, agaknya mereka bergegas hendak pergi—tanpa menunggu pencernaan mereka yang masih bekerja—tapi baru saja berdiri, mendadak terdengar orang berseru.

“Eh, empat pecundang jalanan hendak kemana?”

Seruan itu benar-benar mengagetkan semua orang. Sebab hanya melihat cara keempat orang itu memakai baju, tiap orang juga tahu kalau mereka pasti bukan orang awam, kelihatannya orang yang mengejek tadi, cari mati!

Pemuda berbaju putih berbaret biru membalikkan badan kearah suara tadi. “Kaukah yang bicara?” tanyanya dengan suara sabar, tetapi terdengar dingin.
Orang yang ia tuju adalah lelaki separuh baya yang sedang duduk sambil menggigit tulang ayam.

“Benar.” Katanya acuh tak acuh.

“Kenapa kau berkata begitu?”

“Aku cuma iseng saja…”

“Kalau begitu, kumaafkan.” Kata pemuda tadi, lalu mereka bergegas melangkah pergi.

“Aih, memang susah menantang para pengecut.” Gumam lelaki paruh baya ini sambil minum wedang jahenya. Biarpun ucapannya tak begitu keras, namun sudah cukup keras di telinga empat orang itu.

Dengan sorot mata marah, pemuda tadi kembali mendatanginya. “Kau inginkan pertarungan? Kau dapatkan!” usai berkata begitu, kepalannya diayunkan menghajar wajah orang itu.

“Enteng!” ejek lelaki paruh baya tersebut sambil memiringkan kepalanya, wuut… pukulan itu lewat hanya beberapa mili dari telingannya. Wajahnya tak menampakkan perubahan dengan serangan tadi, sungguh kalau dia tidak lihay, tak nanti akan bertidak begitu. “Kau harus belajar sepuluh tahun lagi untuk menyentuhku!” katanya kembali mengejek.

“Tak perlu sepuluh tahun!” sahut pemuda ini getas, kembali tangannya menampar, tapi kali ini bukan sembarang tamparan, sebab dari situ terkembang lima perubahan serangan. Totokan, tamparan, kepalan, cakaran, dan tebasan.

“Fiuw… ralat-ralat-ralat, kali ini kau perlu waktu sembilan tahun untuk mengejarku.” Dan lelaki paruh baya itu mengelak masih sambil duduk, tapi tangan kirinya tidak tinggal diam, dia juga menyerang, gerakan tangan lelaki itu hampir mirip dengan si pemuda.

“Ih…” pemuda ini nampak kaget. Ia mundur setapak dan kaki kirinya merendah, kedua tangannya berada dipinggang kiri dalam keadaan terkembang. Agaknya siap melancarkan serangan dahsyat.

“Cukup!” Swatantra menghampiri dan menepuk bahu pemuda itu. “Tak perlu kau tanggapi gurauan paman ini. Kita memang masih perlu belajar… semua manusia perlu belajar.” Katanya dengan datar tanpa emosi, matanya melirik tajam kearah lelaki itu. Tanpa menanti tangapan lawan, dia membalikan badan dan keluar dari rumah makan.

Lelaki paruh baya itu terkejut, kejadian ini agaknya diluar dugaan. “Salut-salut-salut,” gumam-nya sambil minum. Lalu ia berdiri. “Maafkan gurauanku.” Ucapnya lagi sambil menyoja hormat.

Si pemuda inipun agaknya merasa diluar dugaan, namun karena orang tertua dari mereka sudah memberi peringatan padanya, iapun cuma mengangguk saja, lalu pergi.
Suasana rumah makan itu jadi lengang untuk sesaat, tapi kembali menjadi ramai karena ada lima orang pelanggan datang, dan memesan banyak makanan. Agak aneh keadaannya, sebab kejadian seperti tadi kan tidak biasa, cara bagaimana orang-orang yang ada didalamnya menerima kejadian itu sebagai hal biasa? Pemuda berikat kepala ini terpekur heran melihatnya, dia menyimpulkan, bahwa kejadian seperti tadi mungkin sering terjadi.

“Hei…” pemuda yang memesan ayam panggang dan sup ini, memanggil pelayan rumah makan.

“Ada yang diperlukan lagi tuan?” tanya pelayan itu ramah.

“Tidak. Kalau kau senggang, aku ingin bercakap-cakap denganmu, kau keberatan?”

“Tentu tidak…”

“Duduklah, jangan sungkan.” Kata pemuda ini seraya menyilahkan, karena ia melihat pelayan muda itu tampak sungkan.

”Terima kasih tuan…”

Sambil menyantap masakan didepannya, pemuda itu mulai membuka percakapan. “Kau kenal dengan empat orang tadi?”

“Tidak tuan.” Jawabnya singkat.

“Mereka langganan sini?”

“Bukan, tapi saya pernah melihat mereka di penginapan.” Jawab si pelayan membuat pemuda ini tersenyum tipis.

“Penginapan,” gumamnya.

“Ya, tapi agak jauh dari sini…”

“Oh begitu, tapi aku hanya ingin tahu penginapan yang bagus.” Potong si pemuda sambil tersenyum tipis, penuh arti.

“Maaf…”

“Lalu apa kau kenal lelaki separuh baya tadi?”

“Kalau yang itu saya kenal, eh… maksudnya saya cuma kenal lihat saja, dia memang langganan tetap kami. Biarpun tidak setiap hari makan disini.”

“Langganan tetap? Berarti sudah lama?”

“Belum begitu lama, baru tiga minggu ini.”

“Hm, apa sifatnya memang seperti itu?”

“Entahlah, karena sebelum ini dia belum pernah bertingkah seaneh tadi, tapi entah kenapa begitu melihat empat orang tamu tadi, sikapnya jadi begitu jelek.”

“Manusia kan tidak bisa dipegang tindak tanduknya.” Ucap pemuda ini bijak, sambil tersenyum penuh arti. “Sudahlah, sebenarnya aku ingin tanya yang lain, tapi dengan kejadian tadi mau tak mau jadi harus bertanya denganmu.” Kemudian ia menyambungnya, “Aku tadi mau tanya apa ya,” gumam pemuda ini berkerut kening. “Oh, daerah ini termasuk wilayah mana?”

“Kota kami ini bernama Pagaruyung dan termasuk dalam wilayah kerajaan Kadungga.”

“Begitu ya, kupikir kota ini masih termasuk wilayah Kerajaan Rakahayu, kulihat banyak penduduk yang mengenakan baju santin khas wilayah kerajaan itu.”

“Pandangan tuan sangat tajam. Memang, kebanyakan penduduk sini berasal dari kerajaan Rakahayu. Mereka menetap dikota ini paling tidak sudah satu generasi.” Tutur pelayan itu menjelaskan.

Pemuda ini manggut-manggut. “Meskipun mereka sudah lama disini, kenapa masih mengenakan pakaian khasnya?”

“Mungkin supaya mereka selalu teringat tempat asal.”

“Benar juga.” sahut pemuda ini sambil bersantap lebih lanjut.

“Tuan,”

“Ada apa…”

“Sebelumnya maaf, saya lihat penmapilan tuan sederhana, tapi pandangan tuan mengenai hal-hal remeh sangat teliti, apakah tuan seorang pendekar?”

“Hm,” pemuda ini mendehem sambil tersenyum geli. “Pendekar? Kau pasti bercanda, kalau kau sebut aku pengelana, bisa kubetulkan. Mungkin karena aku sering singgah di banyak tempat, hal-hal remeh yang tidak terpandangan orang lain, terpandang oleh mataku. Cuma kebiasaan saja.”

“Enak juga memiliki pengalaman luas, tapi apa tuan memiliki tempat tinggal tetap?” tanya sang pelayan lebih lanjut, nada pertanyaan ini biasa saja, tetapi kalau diteliti lebih lanjut bagi pengelana seperti pemuda itu dapat segera diselami maksudnya.

Dengan tersenyum simpul pemuda ini menjawab, “Aku hidup tak tetap tempat, tapi kalau ada wilayah yang asri seperti ini rasanya aku ingin tinggal beberapa lama.”

“Oh, kelihatannya tuan seorang pengelana sejati?” tanya pelayan muda itu dengan nada agak aneh.

Kali ini dia tertawa pendek, mendengar ucapan si pelayan. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, jangan kawatir, aku memiliki uang untuk membayar. Kau tak perlu cemas kalau aku tak membayar, tidak setiap pengelana tak mempunyai uang.” Katanya blak-blakan.

Wajah pelayan muda itu merah, karena ketahuan mencurigai langganan barunya. “Maafkan saya tuan, hanya saja kami tak ingin diru¬gikan lagi. Beberapa saat yang lalu juga ada pengelana banyak memesan ini-itu, tapi uangnya kurang. Tapi mereka lantas pergi.” Jelasnya buru-buru mencari alasan karena maksud hatinya untuk menyelidik apakah orang didepannya berduit atau tidak, ketahuan lebih dulu.

“Tak apa-apa, aku juga maklum. Memang kebanyakan pengelana yang sedikit memiliki kepandaian sering memaksakan kehendaknya, tetapi untung saja aku bukan termasuk golongan itu, kalau tidak, masa aku harus repot-repot tanya hal tetek-bengek padamu?” tandas pemuda ini.

“Maaf,” kata pelayan ini malu, pandangan matanya tak berani menatap si pemuda.

“Ah sudahlah,” sahut pemuda acuh tak acuh.

”Tuan, kalau boleh saya tahu, tuan berasal dari mana?” tanya pelayan muda itu. Memang pertanyaan biasa, tetapi situasainya yang tidak biasa, kalau benar-benar mau diperhatikan, maka kejanggalan itu pasti terlihat. Dan pemuda ini melihatnya.

“Apa dia sedang menyelidik?” pikirnya, “andai benarpun aku justru ingin tahu, peran apa yang dimainkannya.”

“Aku berasal dari kota Kunta, kebetulan aku tak senang menetap lama, aku memutuskan untuk berkelana. Yah, jelek-jelek begini aku memiliki kemauan, lantaran ingin bebas menentukan jalan hidup, terpaksa aku meninggalkan kotaku.” Sahut pemuda ini sambil lalu.

“Lalu bagaimana dengan keluarga tuan?” tanyanya lagi, sungguh pelayan yang aneh!

Tapi pemuda ini juga tidak kalah aneh, sebab dia meladeni pertanyaan yang menyangkut privasi—masalah pribadi! Kalau dia orang pintar, tentu tak akan menjawabnya. Tapi dia mau menjawabnya, lalu orang macam apa?

“Aku tidak memiliki keluarga. Setidaknya begitulah anggapanku saat ini. Semua saudaraku menganggap aku adik yang layak, mungkin lantaran aku terlalu bengal, tak pernah mendengar kata mereka, dari pada diolok-olok diomeli terus, lebih baik aku berkelana mencari pengalaman. Kebebasan malah membuatku tenang, hati jadi lapang.” Tutur pemuda ini blak-blakan. Tapi cukup membuat alis pelayan itu berkedut sejenak, dan itupun tak lolos dari pandangan mata si pemuda.

“Oh… begitu, jadi tuan tidak memiliki keluarga lagi, maksud saya untuk saat ini, lalu bagaimana dengan istri?” tanya pelayan ini lagi.

“Istri,” gumamnya sambil tersenyum tipis, alis kirinya terangkat sedikit.

“Pertanyaanmu aneh, memangnya kau mau kawin? Tapi itu bukan urusanku. Kalau kau mau tahu, sampai saat ini aku malah tidak pernah memikirkan untuk berumah tangga, mungkin karena masih terlalu muda.” Lalu pemuda ini menyuap lagi, kemudian ia melanjutkan. “Apa kau punya adik perempuan? Kenapa tanya-tanya begitu, memangnya mau kau jodohkan adikmu denganku?”

“Ah, tuan…” pelayan ini tersipu, dia tahu kalau pemuda itu hanya bercanda, sebab si pemuda bicara sambil tersenyum. “Tapi usia muda kan bukan halangan untuk berumah tangga?” pelayan muda itu jadi tertarik dengan pelanggan yang satu itu. Sebab pemuda yang ada didepannya begitu enak diajak bicara dan begitu rendah hati.

“Sebelum kujawab, aku ingin bertanya dulu.” Ujar pemuda itu sambil menyantap suapan yang terakhir, kemudian ia minum. “Kau sudah berkeluarga?”

“Belum tuan.”

“Menurutmu kalau seseorang ingin menikah, syarat apa yang paling dibutuhkan?”
Pelayan muda itu berpikir sejenak. “Menurut saya, rasa saling cinta antara keduanya. Saya rasa itu sudah jamak…”

“Memang benar, itu memang syarat mutlak. Tapi terpikirkah olehmu biarpun kau menikah dengan orang yang saling cinta, tetapi hidupmu tak bahagia?”

“Eh, rasanya tidak.”

“Hm, memang begitulah kalau orang buru-buru ingin menkah, yang di pikir hanya enaknya. Dengar, menikah itu berarti mengikatkan diri dalam kewajiban, kau harus membuat dua belah pihak keluarga bahagia, yang paling penting lagi, harus ada saling kecocokan dan pengertian, kau harus ingat tak selamanya cinta itu bisa menumbuhkan saling pengertian.”

“Ooo…” si pelayan hanya mengangguk-angguk saja sambil melongo. Pemuda ini bicara pada si pelayan, tapi berhubung suaranya cukup keras dan situasi juga tak terlalu ramai, maka banyak orang yang mendengar perkataannya, bahkan ada diantaranya yang mendengar dengan serius.

“Jangan lupa, kau juga harus bisa menghidupi isteri dan anakmu. Nah sekarang, dari mana modal yang kau peroleh untuk mencukupi kebutuhan keluarga? Apakah cukup dengan cinta saja? Kau akan mati penuh penderitaan kalau hanya mengandalkan cinta. Memangnya dengan cinta kau bisa kenyang? Jadi kau harus tahu, bahwa menikah berarti kita ber¬tanggung jawab dalam segala hal.

“Karena itu, jika hendak menikah, berpi¬kirlah baik-baik. Apakah kau sudah sanggup lahir batin atau belum, kalau hanya besar nafsu saja, lebih baik tak usah. Jika hidup seperti itu yang kau jalani, kurasa kau akan berpikir bagaimana mengakhirnya. Demikian juga kebalikannya, kalau kau siap hanya semata karena hartamu cukup, maka penderitaan jualah yang akan kau alami. Dengan kata lain, kau harus siap harta dan kebutuhan batiniah yang kalian perlukan sebagai suami istri… dan tentu saja ada satu hal yang wajib kau perhatikan,”

“Apa itu tuan?”

“Restu orang tua, jika tidak… jangan harap perkawainan kalian akan bahagia. Mungkin menurutmu bahagia, tetapi tetap ada sebuh ganjalan yang tak mengenakkan. Seperti yang kukatakan, usia juga menuntukan. Menikah terlalu muda tidak baik, apalagi kalau terlalu tua. Dengan bertambahnya usiamu, maka kau akan bisa berpikir lebih dewasa dan melihat segala sesuatu itu bukan dengan mata saja, dan…” pemuda ini berkerut, rasanya penjelasannya terlalu berat untuk ukuran pelayan. “Yah, seperti itulah.” Dia memutuskan untuk tidak meneruskan pendapatnya.

Pelayan muda itu terperangah mendengarnya, juga orang lain yang ikut memperhatikannya.

“Wah, belum pernah saya mendengar keterangan seperti itu, saya jadi takut menikah mendengarnya.”

Pemuda itu tertawa perlahan. “Aku menjelaskan begitu bukan untuk membuatmu takut, hanya untuk memperingatimu saja. Kalau kau memang sudah siap, tak perlu kau pikirkan apa yang akan terjadi. Memang, menentukan masa depan itu perlu, tapi kita juga harus melihat sampai seberapa jauh usaha kita sendiri. Misalnya, kalau kau seorang penebang kayu, apakah kau mengharapkan suatu saat kau menjadi seorang kaya raya dari hasil penebangan kayumu itu?”

“Tentu saja tidak.” jawab pelayan itu.

“Nah, dari sini kita bisa ambil kesimpulan. Kehidupan macam apa yang kita perlukan untuk membahagiakan keluarga. Kau ingin istri, mertua dan semua keluargamu bahagia, tetapi kalau kau sendiri tertekan, lebih baik tak usah berkeluarga. Karena dalam kehidupan rumah tangga dituntut tanggung jawab yang seimbang, antara suami dan istri.”

“Oh, begitu… jadi semisalnya saya ingin hidup sederhana dan istri saya juga setuju, bagaimana menurut pendapat tuan?”

“Itu baik sekali, tetapi ada kalanya kehidupan suami istri itu pasti memiliki goncangan, cekcok dan sebagainya. Dari kesederhanaan itu engkau dapat mengambil hikmah dan pelajaran untuk dapat memper¬tahankan hidup yang lebih harmonis sampai masa tua.”

“Hebat, pandangan tuan kelihatannya sederhana, tetapi dalam maknanya.”
Pemuda itu tersenyum mendengar ucapan si pelayan, sederhana? Pikirnya geli. Sungguh orang yang tak pandai menutupi peranannya. “Ah tidak juga, aku mendapatkanya dengan belajar.” Ia menjawab sambil lalu.

“Jadi tuan pernah menikah?” tanya pelayan itu.

Pemuda ini tersenyum ia belum menjawab, dia sekarang tahu pelayan iin memang bukan sekedar pelayan, jika dilihat dari betapa cepat dia mengambil kesimpulan.
Melihat orang didepannya tak menjawab, pelayan itu buru-buru meinta maaf. “Maaf kalau pertanyaan saya lancang tuan..”

“Tidak apa-apa, aku hanya teringat masa lalu sebentar. Baiklah pertanyaanmu akan kujawab, aku memang pernah menikah, ehm… maksud¬ku hampir menikah. Sayangnya tidak ada unsur saling cinta didalamnya—jangankan cinta kenalpun tidak! Lalu dengan sangat menyesal, terpaksa aku harus membatal¬kan pernikahan itu. Aku bicara baik-baik dengannya, dan, yah… begitulah, akhirnyapun kami sepakat berpisah, lalu karena orang tuaku dan semua saudaraku menganggap aku anak yang mau menangnya sendiri, maka aku memutuskan pergi berkelana. Nah itu sekilas pengalamanku, mudah-mudahan bisa kau ambil hikmahnya.”

Pelayan itu mengangguk, ia memandangan pemuda itu dengan kagum, karena dari cerita itu, dapat disimpulkan kalau pemuda itu adalah orang yang sederhana, tidak ingin bermewah-mewah meskipun keluarganya adalah orang terpandang.
“Ehm, maaf kalau saya lancang bertanya, kenapa tuan katakan kalau tuan tidak kenal dengan tunangan tuan? Sedangkan tuan berpisah baik-baik dengannya?” tanya pelayan itu agak takut-takut.

Pemuda ini memandang si pelayan sesaat, lalu tersenyum tipis. Makin yakin dirinya kalau pelayan itu memang hanya profesi sampingan saja. “Aku memang tidak kenal, melihatpun belum pernah, jadi saat berpisah baik-baikpun kami hanya bertemu dari balik tabir. Jadi cuma suara kami yang saling berhubungan…” jawabnya sambil tersenyum.

“Maaf,” ucap pelayan ini sambil tertunduk.

“Kenapa pula kau minta maaf, kejadian itu adalah hal biasa. Dari tadi kita asyik bercerita, tapi aku belum tahu namamu, ”

“Oh…” pelayan itu menggeragap. “Saya Giri… Sugiri, tuan.”

“Aku Jaka,” ujar pemuda itu memperkenalkan diri. Mereka kembali bercakap-cakap, tanpa sadar, salah seorang dari pengunjung rumah makan itu memperhatikan percakapan pelayan dan pelanggan baru itu dengan serius, malah sangat serius.

“Pelayan!” panggil seorang lelaki yang duduk diujung—dibelakang Jaka.

Sugiri segera berdirit, “Maaf tuan, saya ada pekerjaan.”
Pemuda bernama Jaka—nama lengkapnya Jaka Bayu, mengangguk paham, ia melirik sesaat pada orang yang minta dilayani, lalu tersenyum tipis.
Jaka kembali menikmati minumannya sambil memperhatikan seluruh ruangan dan bagian luar dari rumah makan itu sambil lalu. Makanannya masih ada, dengan gerakan lambat Jaka segera menghabiskan.

Tanpa sengaja, matanya memandang kearah pojok sebelah ruangan, sebenarnya pemuda ini hanya memandang begitu saja, pikirannya tidak tertuju dengan pandangannya. Tapi anehnya orang yang ada di pojok sana sebentar-sebentar menunduk seolah sedang menuruskan makanannya lalu sebentar-sebentar menarik bajunya.
Pemuda itu baru sadar kalau gerak-gerik orang itu agak aneh. Setelah dia termenung sekian lama, barulah dia sadar kalau orang itu kelihatan grogi lantaran pandangannya mengarah padanya, padahal dia sedang melamun.
Jaka tersenyum geli. Sadar kesilafannya, pemuda ini segera menghabiskan minumannya. Namun terpikir olehnya hal janggal, Orang itu aneh, waktu ada ribut-ribut dia setenang batu, tapi kenapa tadi begitu gugup?
Lalu Jaka memutuskan untuk pergi dari situ, dengan agak tergesa, ia segera membayar. Tanpa banyak cakap lagi ia terus keluar, tapi belum berapa jauh ia melangkah,

“Tuan…”

Jaka menoleh, ternyata yang memanggilnya pelayan muda tadi. “Ada apa?”

“Tuan segera meninggalkan kota ini?” tanya pelayan muda itu, untuk sesaat mimik wajah membayangkan sesuatu.

Pemuda itu termenung sesaat, ia mengerling kesana kemari dengan gerakan lambat. “Aku rasa tidak akan secepat itu, kota ini belum lagi kujelajahi.”

“Oo…” seru pelayan muda itu kedengaran riang, tapi mimik wajah berubah.

”Memangnya kenapa?” tanya Jaka tersenyum, dibenaknya sudah terbetik satu persoalan mengenai, si pelayan! Walau cuma sesaat, ia melihat perubahan wajah si pelayan.

“Ehm eh, tidak tuan, hanya saja mungkin saya bisa mengajak tuan berkeliling dikota ini. Lagi pula banyak hal yang ingin saya tanyakan pada tuan, apakah tuan keberatan?” kata pelayan itu polos, gamblang tanpa basa-basi.

Jaka tertawa lebar, karena hakekatnya ia sangat menyukai orang yang selalu berterus terang—biarpun dia agak curiga dengan keluguan Sugiri. “Maksud baikmu tentu saja tidak mungkin kutampik, kau boleh datang kapan saja, aku akan menginap di…” sampai disini pemuda itu agar tertegun. “Menurutmu penginapan mana yang cocok?”

“Eh, tuan lebih baik menginap dirumah saya saja, biarpun kecil saya rasa cukup nyaman.

Jaka tersenyum, pasti agar mudah diawasi pikirnya, “Aku sangat menghargai tawarmu, tapi aku tak ingin merepotkanmu. Mungkin aku akan berada dikota ini cukup lama, kalau kau mau mengantar aku ketempat yang ingin kau tunjukan, datang saja ke penginapanku.”

Sambil mengangguk berulang kali, pelayan itu mengiyakan. “Penginapan yang bagus dan murah saya rasa tak jauh dari sini, silahkan tuan berjalan kedepan akan tuan jumpai penginapan Bunga Kenanga, itu penginapan bagus.”

“Terima kasih…” sahut Jaka pendek sambil tersenyum. “Kau bisa menemuiku kapan saja.”

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s