003 – Sang Pocong

Tanpa sadar keduanya saling berpegangan tangan. Sungguh sial ketemu hantu, pikirnya. Sekalipun mereka tahu, si pocong itu hanya hantu bohongan, tapi dimalam hari sunyi senyap, melihat orang yang sejak tadi tak bisa mereka lihat, sekalipun bukan hantu, si pocong sudah mereka anggap sama dengan hantu.

“Dasar anjing goblok!” ujar orang itu menirukan makian Sora sambil tertawa panjang—ngikik, mendirikan bulu roma. “Mana?” ucapnya sambil menjulurkan tangan. Maksudnya jelas, meminta apa yang dia pinta tadi.

Sora dan Sena saling pandang, cukup dari saling memandang, maka apa yang selanjutnya akan mereka lakukan sudah dipahami masing-masing.

“Hiat!”

Seretak keduanya memukul pocong jadi jadian itu. Tapi dengan gerakan wajar saja, si pocong bisa menghindarinya. Setiap pukulan, tendangan dan serangan demi serangan yang tercurah, sama sekali tidak bisa menyentuh si pocong.

“Kalian pikir bisa memukul hantu?” kata si pocong sambil tertawa mengikik panjang, membuat keduanya makin tidak tentram.

Enam puluh jurus sudah lewat, tapi setiap serangan tidak pernah sekalipun menyentuhnya, jangankan memukul orangnya, untuk menyerempet kain pocongnya saja tidak bisa. Padahal kerja sama serangan keduanya sangat solid dan terkenal sulit dikalahkan. Kondisi Sena Wulung makin payah, sebelumnya dia sudah luka, kini dipaksa untuk menghamburkan tenaga, tubuhnya benar-benar lemas. Nafasnya terengah hebat.

“Bagaimana? Apakah kalian menunggu hingga seratus jurus lagi? Aku tidak menjamin dalam waktu sepanjang itu aku tidak menghajar kalian, jadi cukup kalian turuti permintaanku. Aku akan menghitung sampai lima, jika belum juga kalian melucuti barang bawaan dan pakaianmu, tolong ucapkan selamat tinggal pada dunia… hitung-hitung kalian punya solideritas pada tiga orang itu.”

“SATU! Jangan gugup, masih satu, serang saja sekuat kalian. Tak perlu malu untuk berciat-ciat segala.”

“Bangsat! Makhluk apa kau ini… kenapa kau mengganggu pekerjaan kami?”

“Kalau aku ingin mengganggu kalian, sudah kulakukan sejak dulu. DUA… lagi pula hantu kan tahu segala rahasia kebusukan kalian, perlu apa aku menguntit kalian kesana kemari. Ketua cabang satu dan ketua utama wilayah kalianpun tak akan sekurang ajar ini padaku, kujamin dia yang kalian sebut beliau, akan… TIGA! Jangan lupa hitungan tetap berjalan… sampai mana aku bicara tadi? Oh ya, orang yang di beliaupun akan menyembah-nyembah padaku, apalagi sarang anjing perkumpulan kalian sudah kuketahui.”

“Keparat!” teriak Sora saking gemasnya. Biarpun ia memaki tetapi hatinya terasa kecut, istilah ketua cabang satu, ketua utama wilayah memang terdengar wajar. Tetapi tidak bagi kedua orang ini, sebab organisasi yang mereka masuki itu termasuk organisasi rahasia, kalau bukan anggota, tak mungkin ada yang tahu… jadi siapa si pocong ini?

“Benar, kau masih berani memaki aku karena aku tak menyerang, EMPAT… satu kali lagi aku akan menghajar kalian.”

Seruan si pocong membuat keringat mereka makin deras mengucur, bayangkan… semua upaya, jurus, tipu silat terlihay sudah mereka lancarkan, tapi tak satupun berhasil.

“LI..”

“Baik-baik… kami menyerah!” teriak Sena dan Sora putus asa.

“Hi-hihi, sekali-kali jadilah anak baik, tak perlu banyak membantah. Nah, lepaskan barang-barang yang menempel pada kalian.”

“Dasar bangsat!” gerutu Sena dengan napas tersenggal-senggal. Di dasar hatinya terbit rasa ngeri yang bukan kepalang. Sudah seratus jurus lebih mereka bertarung—lebih tepat jika disebut mereka bergerak, tetapi kondisinya tetap saja seperti itu, si pocong tidak tersentuh.

Ketua cabang satu saja, hanya bisa menghadapi mereka berdua tanpa balas tak lebih dari sepuluh jurus, konon lagi puluhan jurus, tapi si pocong ini… membayangkan kembali, membuat Sora merinding.

“Eit-eit-eit, tunggu dulu, aku harus mendikte apa yang perlu kalian lepas.” Kata si pocong melihat Sena dan Sora hendak melucuti pakaiannya. “Pertama lemparkan kemari barang-barang yang kalian peroleh dari mantan anak buahmu.”

Keduanya mengeluarkan Kitab Lintang Pitu dan tiga lencana pengenal dari Perguruan Lengan Tunggal. “Bagus, tapi jangan kira aku buta, mana dua buah yang terakhir?”

Dengan perasaan mendongkol dan juga malu, mereka melemparkan sisanya.
“Anak baik, sekarang lepas topeng jelekmu itu Sora… eit, tak perlu menggerutu, aku tahu apa kata hatimu. Memang aku sejak tadi bisa melepas topeng jelek itu, tapi tanganku enggan menyentuh topeng bau itu. Nah pintar,” puji si pocong begitu Sora Barung melepas topengnya.

“Sekarang lepas baju dan celana kalian, juga celana dalam. Tidak perlu malu untuk telanjang, toh kita sama-sama lelaki, biarpun ada hantu yang suka sesama lelaki, tapi aku ini termasuk hantu suci lho.” Ujar Si Pocong seraya terkikik geli sendiri.

Keduanya tidak bisa memaki atau membangkang lagi, karena dari segi apapun mereka kalah jauh, ibarat anak-anak melawan orang dewasa. Dengan gerakan lambat keduanya melepas baju dan celana… juga celana dalam!

“Bangsat! Keparat!” maki Sena dengan wajah kelam… tangannya bergegas menutupi bagian bawahnya.

“Ehm, bagus-bagus, benar-benar orang yang patuh. Kurasa cara kalian menjiliat atasan, sudah tidak perlu kuajari lagi.” Sindir si pocong tertawa geli. “Aku ini termasuk hantu baik, jadi kuberi kalian sepotong kain untuk menutupi aurat.” Lalu si pocong melemparkan secabik kain untuk keduanya.

“Bukankah cukup menutupinya?” ujarnya kembali terkikik, kali ini tawa si pocong bukannya tawa mengejek, tapi benar-benar geli.

Tanpa basa-basi keduanya mengenakan kain itu dengan cepat… dan dalam empat detik saja kain itu sudah menjadi celana pendek yang cukup inovatif.

“Nah, sekarang aku ingin minta pendapatmu berdua, apakah kalian lebih suka menggunduli rambut sendiri atau aku yang menggunduli kalian? Tapi aku tidak jamin bukan hanya rambutmu yang terpotong…”

“Anjing!” maki keduanya bersamaan.

Si Pocong terkekeh. “Meski ucapan kalian tidak bisa mencerminkan jabatan yang diemban, kurasa tata krama kalian cukup bagus, dari tadi tiada makian yang lain.”

Mereka tidak menanggapi, sekalipun bisa, hanya membuat mereka makin dongkol dan tambah stress. Dengan tenaga dalam mereka yang tinggi, cukup dengan mengusap-usapkan tangan ke kepala… beberapa saat saja rambut bertebaran, meski tidak cukup rata, bolehlah di bilang botak.

Si pocong bersiul menggoda, “Botak yang menggiurkan, tanganku jadi gatal ingin menjitak.”

Karuan keduanya segera menekap melindungi kepala. Si pocong tertawa melihat kelakuan dua orang itu. “Ah, aku hanya bercanda. Urusanku dengan kalian sudah selesai, kalian boleh pergi…”

“Pergi, ya pergi!!” geram keduanya dengan muka kelam. Sakit hati keduanya lebih besar dari rasa malu akibat penghinaan ‘si-pocong-entah-siapa’. Tapi apa mau dikata, membalas tak berani, terpaksa hanya bisa memaki dalam hati.

“Eh, kalian tidak minta namaku? Dimana kuburku? Siapa tahu kalian ingin balas dendam?”

“Perduli setan!”

“Ehm, makian bagus! Memang aku sekarang sedang jadi setan, jadi aku harus perduli dengan keselamatan kalian.”

Keduanya tersurut mundur dengan perasaan ngeri. “Apa maksudmu?”

“Apa kalian punya muka pulang dengan keadaan begitu? Bisa kubayangkan kalian mengatakan pada pimpinan, kalau ditengah jalan ketemu hantu lalu diperas habis-habisan. Lelucon yang tak lucu. Karena itu aku berniat membantu kalian!”

Keduanya saling pandang tak mengerti. “Apa maksudmu?” tanyanya mengulangi.

Si pocong tertawa panjang, mendadak. “Terima ini!” desisnya dengan suara dingin. Tubuhnya melejit cepat, benar-benar bergerak bagai setan, tangannya menampar bahu mereka.

‘Tamparan’ tak berapa keras itu semula mereka tanggapi dengan seringaian mengejek. Tapi sedetik kemudian, bahu mereka seperti terkena palu godam ratusan kati. ‘Tamparan’ yang mereka terima memang cuma sekali, tetapi rasanya seperti kena hantaman keras berkali-kali.

“Mana ucapan terima kasih kalian? Bukankah dengan demikian, atasan kalian bisa memaklumi kekalahan ini?”

Kedua orang itu tak menanggapi, mereka hanya menyeringai kesakitan.

“Untuk sementara, dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Pergilah!”
Jangankan untuk melangkah, untuk bergerakpun merasa sulit, rupanya ‘tamparan’ tadi sudah meremukkan bahu kiri keduanya, apalagi akibat pukulan itu hawa panas menerpa mereka, bagai debur ombak yang kain lama kian deras.

Keduanya mengerang kesakitan, kadang kepanasan, saking panasnya timbul semacam rasa dingin menusuk tulang lebih menyiksa. Sekalipun kalah tragis, merekapun tidak malu disebut jagoan, dengan memaksakan gerakan, keduanya saling menotok—maklum saja jika mereka menotok bagian tubuhnya sendiri, tentu tidak terjangkau, makanya dua orang itu bergantian menotok saraf utama untuk mengurangi rasa sakit.

Tadinya mereka pikir, pukulan si pocong akan menimbulkan bekas, begitu diraba lebih seksama, ternyata tidak! Keheranan mereka sedikit mengalahkan rasa nyeri.

“Pergi!” bentak si pocong sambil mengibas tangannya. Seperti dihempas badai, Sora dan Sena terguling-guling belasan tombak. Dalam waktu yang amat singkat, mereka bisa memahami seberapa sakit yang dialami anak buahnya. Tapi rasa sakit itu hanya sesaat, sekejap saja sudah digantikan dengan kengerian tak terhingga.

“Setan…” bisik mereka, tanpa mengindahkan rasa sakit, keduanya lari… terkencing-kencing! Percuma saja si pocong memberikan kain penutup.

“Aih, dasar tak berguna. Gara-gara mereka, aku terlambat menyelamatkan tiga orang ini.” Kata si pocong. Ia mendekati Kaliagni, dipegangnya nadi orang itu.
Dia terluka parah, tapi kurasa tuan masih bisa menyelamatkan, pikirnya. Lalu ia memeriksa luka Ludra dan Mintaraga. Dia menggeleng prihatin menyadari luka keduanya sangat parah. Hm, apakah mereka masih bisa tertolong, atau tidak, kuserahkan saja pada takdir-Nya. Sekarang aku harus bergegas, mudah-mudahan masih sempat…

Si pocong memunguti barang Sora dan Sena yang berserakan, dan dimasukkan kedalam kantongnya. Lalu dia bersuit panjang, tidak lama kemudian, muncul dua sosok tubuh berkelebat cepat dari kegelapan.

“Tolong, bawa mereka.” Katanya dengan suara prihatin.

Keduanya mengiyakan dengan hikmat. Si pocong mengangkat Mintaraga yang paling parah, sisanya dia serahkan pada dua orang tadi. Bagai mencangking karung kosong, tiga tubuh yang tak berdaya itu di bawa melesat jauh. Sekejap saja padang rumput yang tadi gaduh, kini senyap. Dan binatang malam kembali bersuara.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
This entry was posted in Seruling Sakti and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Kritik dan Komentarnya Di tunggu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s