129 – Menyebar dan Menuai Informasi

129 – Menyebar dan Menuai Informasi

Derak roda kereta terhenti. Rombongan aneh yang baru saja bertolak dari Watu Kisruh secara singkat itu ternyata ada juga yang berani menghentikannya. Siang bolong, di tengah jalan utama, di saksikan oleh orang-orang pula!

Cara menghentikannya sangat istimewa, orang itu meremas pohon di pinggir jalan, dan pohon sepelukan orang dewasa roboh melintang di jalan dengan suara berderak yang cukup menarik perhatian. Mau tak mau rombongan itu berhenti. Dari dalam kereta kuda, keluar lima orang yang segera menghadang didepan. Tampak sang kusir yang berwajah pucat memperhatikan si penghadang dengan tenang.

Orang itu berjalan sangat pelan sambil memperhatikan rombongan itu, tak berkata sepatah katapun, caping yang menutupi kepalanya di lepas dilemparkan begitu saja kesamping, membuat wajahnya terlihat jelas. Dan itu membuat beberapa orang yang cukup paham seluk beluk dunia persilatan tercengang.

Baginda! Seolah kau dengan sendirinya harus tahu, bahwa si penghadang adalah dia—Baginda. Ya, wajah dan gayanya berdiri memang mengingatkan orang kepada pimpinan satu wilayah. Wajah kotaknya yang gagah dengan mata menyorot tajam terasa sangat mengancam, yang sangat khas adalah rambutnya yang di gelung keatas, dandanan semacam itu sepertihalnya para trah darah biru, yang membedakan adalah, aura keras dan bengis yang memancar dari seluruh tubuhnya.

Tiada kata yang terucap, tapi setiap insan yang meyakini olah kanuraga, merasakan betapa pendaran tenaga sakti sudah terpancar bergelombang susul menyusul di kedua tangan Baginda. Kondisi seperti itu tak memungkinkan siapapun untuk bertanya, tapi bersiap untuk bertarung.

Baginda melangkah mendekati lima orang yang berdiri menghadang di depan kereta, hingga jarak mereka tinggal sepuluh langkah saja. Tidak memberi kesempatan orang untuk bertanya, Baginda memukulkan kedua tangannya kedepan, langsung mengarah kepada si kusir.

Wuss! Wuuss! Dua pukulan yang dilontarkan kepalannya secara lurus, tanpa kembangan menimbulkan bunyi deruan yang berderak-derak, seolah di dalam angin pukulan itu terdapat gumpalan lahar. Begitu cepat dan efektif.

Lima orang yang menghadang di depan kereta kuda ternyata bukan sembarang orang, nyaris pada detik yang sama mereka pun melontarkan pukulan secara beruntun menghambat pukulan Baginda.

Cess!cess! tak sangka dalam angin pukulan Baginda tersembunyi pukulan yang lain, meskipun bisa di tangkis oleh gabungan angina pukulan lima orang ini, tetap saja, tidak semua bisa tertangkis, seperti batu meteor yang jatuh bebas tanpa hambatan.

Blar! Sang kusir menangkis dengan cara luar biasa, dia menghentakkan tangan secara simultan mengibas keatas, membuang sisa pukulan Baginda. Bisa tertangkis, namun tenaga yang di hasilkan oleh benturan itulah yang di incar Baginda. Ilmu Ciwapâtra Hintên—golok intan yang telah di perbarui olehnya, justru menunggu tangkisan lawan, untuk mencipta celah. Pada celah itulah wujud sebenarnya ilmu Ciwapâtra Hintên menerobos, tidak lagi padat dan kuat, tapi tipis dan bengis. Menyayat kebelakang tubuh si kusir.

Srrrt! Blaaar…

Kabin kereta tak sanggup menampung ledakan tenaga Baginda dan seseorang di dalamnya. Pada awalnya membelah karena tak sanggup menerima pukulan tebas Baginda, selanjutnya karena benturan tenaga dari dalam, kabin kereta meledak Serpihan kereta hancur lebur, anehnya kuda yang menarik kereta tak terkena imbas apapun, hanya ketakutan dan membedal lari.

Baginda menyipitkan mata, mempertegas pandangan dihadapannya yang masih tersaput debu. Setelah meluruh barulah lelaki ini dapat melihat tegas, ada dua orang di balik debu itu. Mereka menggunakan baju dengan balutan menutup wajah. Orang yang di depan, nampak menghalangi pandangan Baginda yang masih ingin menelisik orang di belakangnya.

“Tak sangka orang seterkenal dirimu mencari permusuhan dengan kami.” Desis lelaki yang melindungi orang di belakangnya.

Baginda mendengus. “Aku sedang ingin cari masalah, sederhana saja!”

Mendadak orang yang terkesan di lindungi itu menarik kawannya, dia membisikan sesuatu, membuat sang kawan ini memberi isyarat kepada yang lain untuk menarik diri.

“Kau sungguh beruntung, hari ini aku juga ingin cari masalah!” desis orang itu.

“Apakah karena kau sudah sembuh?” pertanyaan Baginda membuat orang-orang aneh itu terhenyak.

Dengan termangu, orang itu mengangguk, tangannya mengibas kebawah, sisa kabin yang masih utuh meledak begitu saja, dari balik ledakan berpuluh-puluh ekor ular ikut mencelat, membuat orang-orang yang menonton banyak yang kabur.

Baginda terbahak, “Bagus! Bagus sekali!” disusul tangannya saling memukul satu sama lain.

Buuuk! Buku jari bertemu buku jari, mendengarnya pun terdengar ngilu, tapi nampaknya itu cara Baginda melepaskan serangan yang merambatkan gelombang pukulan pada udara, dalam bentuk sulur-sulur golok yang menebas amat cepat.

Bak maestro penari, sosok dalam balutan baju yang juga menutup muka itu, mengerakan badan berputar dengan lengan terayun melambai. Tidak ada suara benturan, hanya saja Baginda bisa melihat diantara gemulai gerak tangan orang itu, lamat-lamat jemarinya seperti membentuk cakar, tapi hanya sekejap saja. Detik berikutnya, tebasan sulur goloknya bisa di netralisir dengan sempurna, meski demikian, lengan baju orang itu terlihat hangus meranggas—walau kedua lengan putihnya tak terluka sama sekali.

Baginda tersenyum. “Selamat!” ujarnya, lalu membalikkan badan, berjalan begitu saja meninggalkan lawannya dalam kebingungan.

“Apa maksudnya ini?” gumam si kusir bermuka pucat bingung, meski pertempuran sengit terjadi—walau singkat, tapi matanya tak pernah lepas dari kondisi sekitar. Dia tak memperdulikan Baginda. Dirinya menyadari, Kota Pagaruyung saat ini sungguh rawan, entah pihak mana saja yang bergerak, untung saja mereka semua menggunakan penyamaran. Tindakan Baginda yang membingungkan itu, membuat mereka segera bergegas melesat dengan cara berpencar.

Kondisi jalan berangsur senyap, kejadian yang hanya sepintasan itu meski memberikan efek kejut bagi kebanyakan orang, namun tidaklah sampai mengguncang emosi. Tapi ada pihak-pihak lain yang sangat terpukul dengan kejadian tadi.

==oDSAo==

 

Di sebuah ruangan, sebuah ketegangan melanda.

“Bagaimana mungkin dia bisa sembuh?” Tanya sesosok baju kelabu kepada orang di depannya, percakapan itu terjadi setelah mereka mendapatkan laporan tentang kejadian penghadangan Baginda.

“Tak bisa kujawab…” ujar rekannya yang berbaju hijau pupus menatap lepas menatap kebun bunga.

“Pertolongan macam apa yang didapat?” gumam Si Baju Kelabu lagi.

“Entahlah, tapi siapapun dia, racun yang demikian lama bisa di sembuhkan dalam setengah hari… ini pertanda. Sudah muncul orang yang menantang kita.” jawabnya. “Ada berapa orang yang sanggup melakukan itu?” dia balik bertanya.

Si Baju Kelabu terpekur. “Di kota ini setidaknya ada empat orang yang dimungkinan bisa menawarkan racun kita, tapi mereka terpantau tanpa gerakan. Lagipula menyembuhkan dalam satu hari, jelas mustahil!”

“Apakah Saudara Satu Atap?”

“Percuma juga menduga-duga.” Sahut satunya. “Bila hari kita menduga keterlibatan Saudara Satu Atap, kini pun sama saja. Pernahkah kau berpikir, bahwa ada seseorang yang menginginkan kita berpikir demikian?”

Si baju kelabu tertawa getir. “Jika itu benar, dugaanmu sungguh tamparan buat kita…”

Rekannya berpikir sebentar. “Ya, kau benar. Cara yang dilakukan kita ternyata di lakukan orang lain, lalu Saudara Satu Atap yang menerima keuntungannya.”

Senyap sekejap.

“Bagaimana dengan pekerjaan Kundalini?” Tanya si baju kelabu.

“Entah, dia langsung melaporkan kepada Beliau.”

“Kau tidak tahu?”

“Kundalini tak mengatakan apapun kepadaku.” Ujarnya datar, tapi cukup membawa satu nada kekecewaan.

Si baju kelabu menghela napas panjang, bahwasanya anak buah mereka sendiri sudah tak bisa menyatakan satu kabar kepada mereka sendiri, ini membuat mereka tak nyaman. “Sudah saatnya aku bergerak sendiri.”

“Memang seharusnya…” Ujar rekannya menegaskan.

Ruangan itu kembali senyap, lelaki berbaju hijau pupus ini menghela nafas panjang lagi. Sebuah pekerjaan yang berat tengah mereka lakukan, tapi di tengah jalan segala sesuatunya berubah, sejak lima hari terakhir semua hal menjadi aneh dan sulit.

==oDSAo==

 

Jaka memang memberikan cara pengobatan kepada kerabat Ketua Bayangan Naga Batu, namun siapakah sosok yang keracunan itu, Jaka juga ingin tahu. Mungkin, jika dia meminta secara baik-baik, Arseta akan menceritakannya. Tapi Pemuda ini justru mencari jalan yang sulit.

Penikam dan Arwah Pedang memang akan mematai-matai proses penyembuhan, hanya itu saja. Jaka tidak mengatakan kepada mereka berdua, ada orang lain yang bertugas mengganggu. Ya, Jalada, seorang tokoh yang memiliki harga diri tinggi di minta untuk menyerang rombongan itu! Ada banyak hal yang bisa dicapai Jaka dengan pekerjaan Baginda.

Pertama; untuk mengetahui apakah metoda pengobatan berdasarkan pengamatan lewat aroma, berhasil. Kedua; orang seperti apa yang sedang di sandera dengan racun? sampai-sampai bisa menekan pergerakan Ketua Bayangan Naga Batu. Apakah karena dia memiliki kekuatan secara fisik, atau status? Ketiga; manakala pengobatan itu membuahkan hasil, Jaka ingin melihat gerakan apa yang akan di buat oleh si penggagas kerusuhan. Keempat; Baginda. Ya, sosok ini membawa daya tarik tersendiri. Di tak pernah bergerak jika tak diganggu, apa yang akan di lakukan beragam pihak yang memiliki kepentingan, mengetahui tokoh kasta tinggi macam baginda kini bertindak membingungkan? Pagaruyung kini makin mencekam, setelah sebelumnya Serigala, lalu Beruang dan kini ada Baginda. Benteng ilusi yang di perlihatkan Jaka makin mengerucutkan sebuah dugaan, ‘tokoh besar’ tengah mengintai Pagaruyung. Cukup dari tiga tokoh tersebut, siapapun bakal berpikir keras, siapa kiranya ‘tokoh besar’ yang tengah ikut campur? Inilah yang dituju oleh Jaka. Kelima; gerakan apa yang akan di lakukan perkumpulan Garis Tujuh Lintasan? Untuk point ini, Jaka sekedar ingin tahu saja.

Meski dia sudah di baiat menjadi murid dari salah satu tetua garis—Ki Lukita, ada banyak pekerjaan yang membutuhkan latar belakang hebat sebagai penopang rencana-rencananya. Sekelumit informasi dari si penguasa ilmu Gaganantala Ruwag Kalawaça, yang merujuk kepada Delapan Sahabat Empat Penjuru, tentulah bukan sekedar info biasa. Dan memang, Jaka tidak menyangka bahwa para tetua itu merupakan bagian dari pada Perkumpulan Garis Tujuh Lintasan. Sebuah perkumpulan yang menjadi dasar dia berkecimpung di dunia persilatan. Jika Delapan Sahabat Empat Penjuru memiliki hubungan dengan penghuni pondok bambu, dan pria mengerikan itu pun ternyata ada hubungan pula dengan Sang Purwaduka Ki Gede Aswantama. Tentulah ada semacam relasi sulit, dan berintrik. Maka sejak saat itu; sudah terpatri di dadanya niat untuk mengulik rahasia mereka.

Apa yang akan dicapai oleh Jaka saat bertemu para Pelindung Naga Batu; Sadewa, Kundalini dan Kunta Reksi, sampai sekarang masih di pikirkan. Informasi terkini Perguruan Naga Batu, belum didapat, sementara kombinasi bunga yang hendak di capai oleh penggagas kerusuhan rasanya tinggal menunggu waktu saja, hingga akhirnya dia bisa membentuk satu jenis bunga yang tepat. Meski demikian, ada banyak hal yang membuat Jaka bisa mengoleksi informasi dari mereka. Sebut saja, kerusuhan yang di ciptakan Serigala dan Beruang.

Meski sebelumnya dia melesat cepat, kali ini Jaka hanya berjalan santai menuju tempat pertemuan, sebab dia tahu ada seseorang yang mengikuti langkahnya, siapa lagi kalau bukan kawan seperjalanan Harsa Banggi, lelaki sejenis Alpanidra. Saat Harsa Banggi memasuki balik air terjun, dia-pun mengikuti, bedanya setelah Harsa Banggi keluar, orang ini tidak nampak lagi. Jaka memaklumi, bagaimapun juga si tuan muda, tidak mungkin melepaskan perhatian terhadap tiap tindakan Jaka. Dugan pemuda ini, orang itu di khususkan untuk mengikutinya. Pemuda ini tak ambil pusing, makin jelas kegiatannya terekspose, makin baik. Selain dia tak perlu repot-repot menjelaskan, ada beberapa ‘umpan’ yang bisa dengan mudah di makan oleh pihak manapun, tanpa dia harus repot bermuslihat.

Dari keterangan Penikam, pemuda ini tahu harus kemana, tapi; jika gerak geriknya juga di amati orang lain, berarti dia harus tetap bertanya jalan. Janggal rasanya sebagai pendatang tahu kemana harus melangkah. Dan itulah yang dilakukannya, pada setiap tikungan pemuda ini bertanya kesana kemari. Waktu yang di tempuh hanya satu kentungan saja.

Jalan yang di lalui Jaka, merupakan jalan umum, tapi pemuda ini menyadari ada sebuah kejanggalan; suasana yang terlalu lengang! Jaka tersenyum puas, apapun yang membuat kondisi Kota Pagaruyung berubah jelas karena berbagai pihak sudah menyadari ada sekelompok orang yang sedang ikut campur dalam segala macam persoalan. Baik secara menggelap maupun berterang. Tentu saja Jaka boleh menepuk dada atas situasi ini, sebab hasil dari yang terpampang sekarang, prosentase terbesar disebabkan oleh tindakannya.

Tentu, sembuhnya ‘entah siapa’ yang berdiam bersama Arseta, cukup mempengaruhi pergerakan masing-masing. Kepada Ki Alih, Jaka meminta untuk melacak jejak Riyut Atirodra, dan seperti biasa, Ki Alih akan mencari dengan metoda yang tak biasa, mengingat pergerakan Riyut Atirodra terlalu terang benderang, maka yang akan di lakukan Ki Alih tentu mengambil informasi dari tiap sudut pandang masing-masing pergerakan yang terlibat.

Pesanggrahan Naga Batu sudah terlihat, dari kejauhan Jaka tak bisa melihat apa-apa. Bangunan berjarak empat pal dari pintu masuk utama—yang pernah di obrak-abrik Srigala itu, di jaga oleh lapisan-lapisan anak murid perguruan. Mungkin di lain hari pesanggrahan itu berupa tempat persinggahan umum, dan jarang di jaga, tapi setelah kejadian beberapa hari lalu, sudah menjadi keharusan setiap asset Naga Batu di jaga ketat.

“Ada keperluan apa?” tegur seorang penjaga pada Jaka.

Tak mau banyak cakap, Jaka mengeluarkan lencana berukir naga yang terbuat dari perunggu, penjaga gerbang itu menggeragap. “Oh, silahkan tuan.” Dengan tergopoh-gopoh orang itu memandu Jaka hingga masuk kedalam gazebo, kemudian pemuda ini diserah terimakan dengan orang lain.

“Siapa yang akan anda temui?”

“Apa perlu kusebutkan?” Jaka balik bertanya. Orang itu terheran-heran menyaksaikan seorang pemuda dibawah usianya, bersikap sedingin itu.

Jaka-pun tak mau membuang waktu percuma, dia tak ambil pusing dengan keheranan orang. Sambil menyandarkan punggung, pemuda ini memejamkan mata. Melihat sang tamu tak memperdulikan lagi, mau tak mau orang ini segera masuk keruangan pendopo dan menyampaikan kedatangan tamu pada petugas  yang lain.

Pemuda ini sudah cukup mengobservasi saat masuk tadi, setidaknya ada dua puluh orang yang menjaga lintasan jalan umum, dan bisa dipastikan sudut-sudut mati yang lain pasti tak lolos dari pantauan. Dalam hati Jaka tersenyum sendiri, dia sungguh ingin tahu para penguntitnya masuk dengan cara apa. Apakah mereka hanya memperhatikan dirinya dari jauh, atau memutuskan masuk kedalam?

Cukup lama juga Jaka harus menunggu. Jelas tokoh semacam Sadewa sekalian tak mungkin menunggu, sebelumnya mereka meminta dia untuk datang tengah hari. Tak berapa lama berturut-turut muncul lima orang yang juga datang tanpa banyak cakap, mereka duduk tak jauh darinya. Menunggu.

Satu demi satu masuk kedalam, Jaka bisa memastikan, orang-orang itu memiliki lencana yang sama dengan dirinya. Dalam hati Jaka tertawa, Sadewa sekalian terlampau percaya dengan bubuk racunnya, sehingga tak pernah memperhitungkan bahwa obat semacam itu tak berfungsi. Dengan sendirinya Jaka bisa mengingat wajah-wajah yang masuk mendahuluinya. Tak terlihat mereka keluar, mungkin mereka keluar lewat jalan lain, mungkin juga ada obat lain yang siap membius—lagi.

Giliran Jaka tiba, setelah dipersilahkan, dia masuk. Ruangan dalam begitu luas, dan yang di temuinya bukan hanya Sadewa bertiga, tapi ada tujuh orang. Selain Sadewa bertiga, empat orang lainnya menutupi wajahnya dengan kain hitam tembus pandang. Tak terlihat para pendatang yang sebelumnya masuk satu persatu. Wajah-wajah merekapun sudah diingat dengan baik oleh Jaka, meski pemuda ini cukup paham kemungkinan wajah yang tampil saat ini akan berbeda dilain kesempatan.

Sadewa sekalian terlihat saling berbisik satu sama lain.

“Kau datang memenuhi undangan kami.”

“Ya, seperti yang diharapkan.” Sahut Jaka dengan nada takzim.

“Apa yang kau dapatkan sepanjang bergerak di kota ini.” Tanya Kundalini. Beruntun pembicaraan hanya satu orang saja yang bertanya, Jaka sudah bisa menduga bahwa orang itu memimpin kendali interograsi.

“Banyak sekali, tapi apakah diperlukan atau tidak…” jawab Jaka seakan ragu.

Kundalini mengangguk. “Kami hanya memerlukan informasi hal tertentu saja?”

“Seperti apa?”

“Kau bersinggungan dengan kaum persilatan?”

Jaka memasang tampang ragu. “E-entahlah, tapi saya menjumpai hal-hal aneh.”

“Ya?”

“Sehari setelah pertemuan kita, saya menjumpai kawanan padri, tidak sampai masuk wilayah sini, mereka nampak tergesa.”

“Seperti apa rupa mereka?”

Jaka menggambarkan orang-orang yang di senyalir sebagai kelompok Wredatapsa. Ki Alih, Penikam dan para rekan yang lain pernah membahas kalangan Wredatapsa. Dan mereka seperti meraba dalam gelap. Ya, kini saatnya Jaka mengetahui sekelumit siapa dan apa Wredatapsa sebenarnya. Dia melempar informasi palsu, untuk di analisis dan di antisipasi oleh pihak Kundalini.

Tak terlihat Kundalini bereaksi, mungkin Jaka perlu menyebar kabar palsu lebih luas.

“Kau hanya melihat saja, atau mengikuti?”

Jaka tahu, ini pertanyaan menjebak. Jika mereka tahu seperti apa Wredatapsa, jelas kalangan itu adalah orang-orang nomer satu di dunia persilatan, tak mungkin mudah di ikuti. Tapi tetap saja, Jaka mengangguk.

“Ya, kuikuti mereka… karena selain rombongan itu tak biasa, juga pedang yang meeka bawa, sangat menarik perhatianku.”

“Pedang?”

“Betul, awalnya, saya tak tahu itu pedang, karena ada dalam peti kecil. Tapi mana kala kelompok mereka di hadang oleh Keluarga Keenam, disitu saya baru tahu barang apa yang mereka bawa.”

“Keluarga Keenam?” alis Kundalini nampak menjengit, beberapa orang yang lain juga bereaksi. Sadewa terlihat ingin bertanya, namun Kundalini mengangkat tangan—mencegahnya. “Dari mana kau tahu itu Keluarga Keenam?”

“Dari percakapan mereka.” Sahut Jaka singkat.

“Keluarga Keenam, melemparkan benda ini.” Jaka mengeluarkan lantakan emas, dengan tanda khusus.

Kali ini seruan kaget bukan saja keluar dari mulut Kundalini, tapi semua orang di ruangan itu. Tentu saja Jaka tahu, mereka bukan kaget karena emasnya, tapi karena tanda khusus yang tercetak di permukaan.

“Mereka meninggalkan ini begitu saja?” Kundalini bertanya tajam.

Jaka tersenyum, “Tidak juga, aku mengambilnya saat mereka saling labrak.”

Jelas perkataan ini menimbulkan penyakit yang tak sedikit, namun Kundalini bertiga pernah melihat peringan tubuh Jaka yang terlampau hebat, ucapan Jaka bisa ditoleransi.

“Kenapa mereka saling labrak?”

“Keluarga Keenam meminta rombongan padri kembali ketempat mereka berasal, tak boleh melewati daerah yang mereka juga.”

“Oh, ada kejadian seperti itu?” Kundalini makin antusias.

“Ya, mereka menolak. Padahal Keluarga Keenam mengeluarkan beberapa lantakan emas untuk biaya perjalanan para padri itu. Mereka berjalan terus menerobos hadangan Keluarga Keenam, akhirnya pecah pertempuran.”

“Siapa yang menang?”

“Seharusnya Keluarga Keenam.”

“Seharusnya?”

“Ya, jika saja para padre itu tak mengeluarkan pedang dari dalam kotakan, Keluarga Keenam pasti menang.”

“Ah, pedang… seperti apa bentuknya?”

Jaka menggambarkan Pedang Baja Biru. Selesai Jaka menyebut, paras Kundalini berubah sangat serius.

“Dan Keluarga Keenam kalah?”

“Tidak, mereka berhenti begitu saja, langsung memberi jalan.”

“Hm… terus?”

“Saat sekelompok padri itu berjalan melewati Keluarga Keenam beberapa langkah, detik itu juga mereka lari terbirit-birit. Kembali kearah mereka datang.”

“Kau tahu kenapa?”

Jaka menggeleng. “Tapi aku bisa menduga, tentu mereka takut karena melihat sosok pimpinan Kelurga Keenam.”

“Kenapa kau menduga begitu?”

“Sebab kudengar, salah satu kawanan Keluarga Keenam bicara; ‘Serigala sekalian saja harus mundur teratur bertemu beliau.’”

Ya, Jaka ingin melihat reaksi benteng ilusi yang di buatnya, apakah sudah masuk dalam antisipasi orang-orang ini? Dari gelagatnya, apa yang di lakukan Jaka memang sudah membuahkan hasil.

Hening sesaat.

“Ada yang salah!” tiba-tiba Kundalini berseru dan menatap Jaka dengan tajam.

“Ya?”

“Jika memang ada tokoh setangguh itu, kenapa kau bisa mengambil emas Keluarga Keenam begitu saja?”

Jaka mengangkat bahunya, “Entahlah, mungkin mereka memang sengaja membiarkannya. Saya mengambil itu, saat mereka bergebrak. Kupikir, alangkah sayang emas sebanyak itu harus tergeletak percuma.”

“Kau sudah perlihatkan emas itu dimana saja?”

Jaka tertawa dalam hati. “Di setiap kesempatan saat saya ingin membeli sesuatu atau membayar sesuatu. Sayang sekali tak satupun mau menukarnya dengan kembalian.” Desah Jaka. “Mereka lebih suka memberikan apa yang kubeli dengan cuma-cuma, aneh sekali.”

“Kemana saja kau perlihatkan?” kejar Kundalini lagi.

Tentu saja Jaka tahu kemana arah pertanyaan ini. Dia menyebutkan tempat-tempat yang tak mungkin dijangkau oleh Kundalini cs. Seperti toko kelontong milik Mintaraga misalnya, atau warung Ki Sampana—seorang penjual ronde yang di siksa oleh Dwisarpa—kelompok Bhre. “… ada yang menyarankan padaku untuk menukarkan di pegadaian dekat kediaman adipati.”

“Tidak boleh!” ketus Kundalini tiba-tiba. Dia berbisik kepada Kuntareksi. “Kau bisa menukarkan emas itu pada kami.”

Jaka tersenyum. “Begitu lebih baik, saya sudah kehabisan bekal.” Pemuda ini sengaja melemparkan informasi yang didapatkan dari Cambuk.

Cambuk adalah seorang birokrat, tentu saja dia paham, ‘pegadaian’ dekat rumah tinggal Adipati, adalah ‘kantor’ mata-mata yang berkamuflase. Sengaja isu itu Jaka lemparkan untuk melihat keterkaitan kelompok Kundalini dengan pemerintah setempat. Melihat reaksinya, mereka seperti menjaga jarak. Ini info baik bagi Jaka.

Salah seorang bercadar hitam masuk kedalam, dan memberikan sekantung uang pada Jaka, pemuda ini tak keberatan emas satu-satu harus lepas.

“Kapan kau berkunjung ke rumah makan Ki Sampana?” Kundalini mengejar lagi.

“Setelah kita bertemu.” Sahutnya singkat.

Jaka tertawa dalam hati. Kejadian kebakaran yang menimpa rumah makan Ki Sampana, dan sehari berikutnya, rumah makan itu bisa berdiri lagi tepat di sebelahnya, dengan bentuk yang sama persis, tentu saja jadi perbincangan para telik sandi yang berkeliaran di Pagaruyung. Jaka memang memerintahkan semua sumber daya Mintaraga untuk membangun rumah makan Ki Samapana seperti semula, selain untuk memberikan sinyal bahwa di belakang Ki Samapana ada kekuatan besar yang mendukung, juga untuk memberikan satu ‘trademark’, bahwa kabar-kabar aneh bisa didapatkan di rumah makan itu. Ini masalah logis saja, jika ada kekuatan yang melindungi pemilik rumah makan, tentu ada satu maksud dan tujuan tertentu pula di balik pembangunan yang serba instan itu. Para mata-mata akan membaca ‘pesan’ tersebut, dan pada saatnya kelak, Jaka mengharapkan rumah makan Ki Samapana menjadi tempat transaksi ‘dunia bawah tanah’—informasi, isu apapun yang berkembang di seputar Pagaruyung dan dunia persilatan bisa didapatkan.

Jawaban Jaka tadi adalah jalan buntu, bahkan setelah Kundalini bertanya hal lain, Jaka menjawab tak ada kejadian menarik. Bisa dipastikan setelah pertemuan tadi, di belakangnya akan bertambah satu orang lagi yang akan menguntit semua gerak-geriknya. Pemuda ini paham, dengan informasi palsu yang di kabarkan tadi, Penikam dan kawan-kawan harus membuat satu rekayasa fakta lapangan, untuk mengarahkan opini salah siapapun di belakang Kundalini.

Satu pekerjaan sudah selesai. Tinggal melihat apakah ‘api’ yang akan ‘mematangkan masakan dan menghanguskan ikan-ikannya’, sudah siap. Langkah demi langkah menjauhkan pemuda ini dari Pesanggrahan Naga Batu, dan tentu saja masih dikuntit ketat oleh orang si tuan muda.

[bersambung]

Quote | Posted on by | Tagged , , , , | 15 Comments

11 – PB : Kecurigaan bertubi-tubi (i)

 

Pagi itu mentari belum lagi muncul, tapi penghuni perguruan itu sudah rusak mimpinya oleh hentakan-hentakan penuh energi. Siapa lagi Kalau bukan Gluduk Alit, seolah tiada lagi hari baginya, tiap saat hanya di gunakan untuk latihan dan latihan, berhenti hanya untuk istirahat dan makan lalu di lanjut lagi. Bahkan pelajaran semadi penghimpunan hawa murni yang paling malas di lakukan pun, kali ini di kerjakan tanpa keluh kesah.

Ki Daru Geni pernah naik darah, karena cara Gluduk Alit mengganti pelajarnya dengan semena-mena. Bagi anak tanggung ini, mempelajari hawa sakti, bisa di umpamakan naik kereta kuda. Otot, itu roda, otak itu kusir, dan kuda adalah kekuatan, dan arah adalah niat. Dan, tahi merupakan hasil. Setiap bergerak mengolah hawa sakti, selalu saja muncul kalimat : “arah.. arah.. arah” sampai puluhan kali dari mulut Gluduk Alit. Masih mending jka seperti itu, tiap kali tangan Gluduk Alit mengibas, selalu saja muncul kalimat “Tahi.. tahi.. tahi…” Karuan saja Ki Daru Geni jadi naik darah.

Tapi itu cerita dua tahun lalu, tak dinyana pagi ini, Ki Daru Geni mendengar lagi, kali ini membuatnya lebih eneg.

“Kusir.. tahi… kusir… tahi… kuda..!!”

“Bocah sialan!” geram Ki Daru Geni. “Bikin malu saja.” Ujarnya sambil mendekati muridnya. Tapi langkahnya terhenti, mata Ki Daru Geni menyipit, kali ini cara latihan Gluduk Alit belum pernah dilihatnya.

Gerakan Gluduk Alit sangat perlahan, namun simultan, setiap gerak seperti membawa bobot puluhan kati. Matanya ditutup sehelai kain, dan ucapan “tahi, kuda, kusir..” tetap saja mengkili-kili telinga Ki Daru Geni untuk menghajar anak muridnya ini. Tapi setiap gerakan yang di kembangkan Gluduk Alit selalu menghentikan niatnya itu.

Ilmu Dasa Welut memang di tengah di kembangkan pemuda remaja ini, bedanya tenaga yang melingkupi merupakan satu kesatuan ilmu Ki Daru Geni dan Ki Gerah Langit.

“Kelihatannya potensi Daun Tapak Gajah sudah memperlihatkan kasiatnya.” gumam Ki Gerah Langit menjajari rekannya.

“Dia begitu terburu-buru..” ujar Ki Daru Geni melihat pola latihan Gluduk Alit.

Ki Gerah Langit tak menjawab, sedikit banyak lelaki tua ini sudah paham mengapa Gluduk Alit melakukan itu, mungkin karena dugaannya yang kelewat berani itu, membuat remaja ini ingin menanggung semuanya sendirian. “Yah, kau tahu bocah itu seperti apa, mungkin dia ingin segera memenuhi janji pertemuan dengan tokoh yang sempat di singgungnya.”

Ki Daru Geni tak menjawab, dia merasa Gluduk Alit yang semi kalem—tanpa cengangas cengenges seperti ini benar-benar menjengkelkan.

Dugaan Ki Gerah Langit memang ada benarnya, apalagi setelah semalam sudah ada yang mengerjai dirinya. Gluduk Alit merasa dia harus berkembang secepat mungkin, maka remaja ini membuat satu keputusan berani. Dia membakar kitab pemberian Ki Gerah Langit, dengan tujuan supaya daya ingatnya tak lagi brengsek. Memang, sekali waktu otak Gluduk Alit sangat moncer, sekali baca langsung hapal, tapi ada kalanya otaknya seperti kerbau—bebal dan malas. Celakanya lebih sering seperti kerbau. Maka untuk merangsang ingatannya, dia membakar semua ajaran dalam kitab gabung, dan menggantungkan sepenuhnya pada daya ingat. Dan metode brengsek “tahi kuda” itulah yang sedang di lakukan untuk meresapkan kedalam otak dan hatinya.

Gluduk Alit menutup gerakan, setelah mencotop penutup matanya, barulah dia sadar kedua gurunya sedang melihat latihannya.

“Guru, saya memohon latih tanding.” Tiba-tiba saja Gluduk Alit menyoja membuat herak kedua gurunya.

“Sejak kapan kau jadi alim begini?”

“Sejak tadi malam guru.” Jawab Gluduk Alit kalem.

Ki Daru Geni terbahak sambil menampol kepala muridnya. “Ayolah, udah gatal pula tanganku menghajarmu.”

Tanpa ba-bi-bu, kakek tinggi kurus ini menghajar dengan satu pukulan lurus tanpa kembangan, Gluduk Alit sudah siap, dengan du tangannya dia menahan pukulan itu dan menggelincirkannya kesamping.

Sayang, Ki Daru Geni tak bermaksud main-main dengan latihan kali ini, dia melihat sudah ada peningkatan terhadap dasar tenaga sang murid, maka 30% tenaga di keluarkan lebih banyak dari biasanya.

Pukulan gurunya memang bisa di tangkap dan tertepis kesamping, tapi remaja ini merasakan tangan gurunya bagai batang besi yang bobotnya luar biasa berat, dia hanya bisa menpisnya sedikit, dan pukulan itu menyerempet bahunya. Untung saja Gluduk Alit tangkas, begitu pukulan sang guru mengenai bahu, saat itu juga remaja ini membuang dirinya dengan cara melintir mengikuti dorongan pukulan.

Terkejut dengan cara muridnya, membuat Ki Daru Geni makin bersemangat, dengan satu langkah panjang, elakan sang murid sudah masuk dalam jangkauan serangan berikut. Sebuah tinju lurus tanpa kembangan menderu menghantam tubuh Gluduk Alit yang masih berputar.

Remaja ini menyadari pukulan gurunya, dengan cekatan dia mengangkat kakinya dan melibat pukulan sang guru, membuat dirinya melintir lebih cepat lagi. Lima kali Ki Daru Geni menghajar, dengan cara yang sama pula Gluduk Alit menepis dan melepaskan tenaga gurunya yang luar biasa.

Ki Gerah Langit ikut gatal juga melihat latih tanding yang lebih menjurus pertarungan itu. “Aku datang bocah!” serunya turut nimbrung.

Kontan saja Gluduk Alit terkejut, mendapat serangan Ki Daru Geni saja sudah keripuhan luar biasa, kini datang pula serangan yang membuat pagi itu terasa bagai siang bolong. Tiap gerakan Ki Gerah Langit menguapkan lapisan-lapisan Dasa Welut-nya. Anak ini mengubah pola elakannya, kali ini dia menyerang dengan Ki Daru Geni dengan gerakan Ki Gerah Langit, dan menangkis serangan Ki Gerah Langit dengan Tinju Akhirat Penakluk Bumi, tapi tinju yang seharusnya digunakan, di gantinya dengan kaki!

Demikian seturunya, semula Gluduk Alit keripuhan dalam mengoplos jurus, makin membadai serangan kedua gurunya, makin lancer anak ini mengeluarkan perbendaharaan jurus-jurusnya. Meski sukses menghindari benturan langsung, bukan berarti Gluduk Alit lepas dari efek hawa sakti yang di pancarkan kedua gurunya. Tubuhnya yang tanpa baju, sudah memar disana sini, kedua lengan juga sudah melepuh. Wajahnya juga sudah bengep tak karuan. Tapi, sinar mata Gluduk Alit begitu jernihnya, dia sangat senang dengan latihan kali ini. Tanpa sadar setapak demi setapak tingkatan remaja ini mulai menaiki tataran lebih tinggi.

Dengan teriakan lantang, Gluduk Alit melenting secara vertical, menyerang Ki Daru Geni dengan sepakan yang di gubah dari Tinju Akirat Penakluk Bumi, dan menyerang Ki Gerah Langit dengan jari tertakub satu sama lain, seperti sedang menyembah, lalu di sabetkan sedemikian rupa.

Sepanjang seratus jurus, kedua tetua itu sudah melihat beigtu banyak kembangan yang di lancarkan Gluduk Alit yang tak pernah mereka sangka, seolah semua tercipta saat itu juga, menariknya lagi, semua itu di dasari dari kedua ilmu mereka berdua. Tak ingin mengecewakan muridnya, kedua orang tua ini memapaki serangan Gluduk Alit.

Desh! Desh! Tendangan Gluduk Alit di tangkis dengan jotosan, sayatan jemari remaja ini di tengkis dengan sepakan tegak lurus oleh Ki Gerah Langit.

Beda tenaga, beda segala-galanya, membuat Gluduk Alit terpental bagai kitiran, namun begitu tubuhnya menyentuh tanah, secara cekatan remaja ini melenting bagai udang, menyerang dengan pola yang sama, hanya dibalik. Ki Daru Geni menapat sabetan kedua tangannya, Ki Gerah Langit mendapat dua tendangan kayuh.

“Haaa… usang sekali!” seru Ki Daru Geni tertawa senang. Dia bisa melihat apa yang dilakukan sang murid, memasuki level yang lebih tinggi dari serangan sebelumnya. Karena pada setiap serangnnya menimbulkan satu pusaran, sabetan tangannya menggeletar menimbulkan akumulasi tenaga yang terpusat pada satu titik, demikian juga dengan tandangan kayuhnya.

Dua lelaki tua ini pun menangkis dengan cara yang di balik, Ki Gerah Langit menghantam tepat di tulang kering Gluduk Alit, demikian juga Ki Daru Geni menanhkisnya dengan tendangan tegak lurus.

Moment benturan tingkal dalam kejapan mata, hanya saja satu tendangan kayuh Gluduk Alit memang sempat tertangkis oleh tumbukan Ki Gerah Langit, dan mendadak tubuh remaja itu mengkerut, dan memanfaatkan daya tangkis Ki Gerah Langit, dan berganti posisi begitu cepatnya. Menendang tendangan tegak lurus Ki Daru Geni dan memapakai pukulan Ki Gerah Langit dengan cengkeraman, satu kaki yang menganggur menekuk, lututnya mengarah kepala Ki Gerah Langit.

“Murahan!” seru Ki Gerah Langit marah, tapi matanya terlihat tertawa. Dengan tenang libatan tangan remaja ini di sentakkan, dan lutut pemuda ini di hajar balik.

Lagi-lagi Gluduk Alit harus terpental, dan seperti yang mereka duga, saat menyentuh tanah, murid mereka membal dan melakukan serangan frontal. Demikian, setidaknya ada dua belas serangan yang di lancarkan Gluduk Alit dengan pola serupa dan variasi berbeda, meskupun di tangkis dengan lebih keras, tetap saja remaja ini kembali dengan cara yang berbeda. Hingga akhirnya untuk ke tiga belas kalinya, Gluduk Alit saat melenting balik, dia bergerak dengan hanya satu serangan, tinju lurus. Tapi kedua orang tua ini terperangah, sebab pada tinju itu, seperti tersaput satu asap fatamorgana.

“Bagus!” Ki Dari Geni menangkis dengan tinju serupa, mementalkan Gluduk Alit, tapi entah kenapa tangan kakek jangkung ini pun turut terpental, dan memukul Ki Gerah Langit, untung saja orang tua itu cekatan bergerak, hingga kibasan Ki Daru Geni dapat di tangkis.

“Menyerah deh…” Gluduk Alit terduduk dan tidur terlentang, seluruh tubuhnya tak ada bagian yang tidak melepuh. Dadanya mengombak kencang. Remaja ini merasa tubuhnya remuk redam.

Kedua kakek itu saling pandang, mereka mundur dari arena, dan baru disadarinya Ki Blawu Segara dan Ki Sindu menyaksikan latihan mereka.

“Selamat adi…” ucap Ki Blawu Segara menepuk pundak adiknya.

“Apanya yang harus di selamati kakang?”

“Muridmu itu bergerak dalam pola dasar tapi kekokohannya benar-benar nyata, himpunan dasar tenaganyapun sudah jauh lebih baik saat dia meledakkan tenaga bila hari.“

“Ah, masih terlalu dini untuk memujinya.” Jawab Ki Daru Geni tak bisa menyembunyikan kegembiraan hatinya. Apa yang di bicarakan kakangnya itu memang nyata, dan lebih dari itu; tenaga akhir yang di hasilkan Alit Wijaya merupakan satu hal baru yang harus di telaah ulang, unsur mencipta nampaknya lebih berkembang pada diri muridnya. Sayangnya banyak hal yang tak efektif. Mungkin pola pengajaran berikutnya akan di sesuaikan.

“Apa latihanmu tak terlalu keras?” Tanya Ki Sindu.

“Begitulah caraku mengajar, kakang. Lagi pula anak itu kalau belum babak belur belum berhenti.”

Pembicaraan mereka terhenti menyadari Gluduk Alit mendatangi mereka. “Selamat pagi tetua.” Sapa Gluduk Alit takzim.

Ki Blawu Segara dan Ki Sindu mengangguk.

“Apa yang harus saya lakukan sekarang? Apakah pengajaran bisa dilakukan sekarang tetua?” Tanya Gluduk Alit kepada Ki Blawu Segara.

“Kau sungguh terburu-buru.” Ujar Ki Blawu Segara dengan tersenyum, melihat wajah Gluduk Alit yang ungu bengkak seperti terong busuk. “Nanti tunggu saudara-saudaramu siap, ada pembagian.”

Keempat tetua berlalu, namun sebelumnya Ki Sindu yang terakhir berlalu sempat bicara padanya. “Nanti malam, aku akan ajarkan engkau hal yang menarik… kalau kau mau.”

Tanpa pikir panjang, Gluduk Alit mengiyakan. Meskipun dalam kepalnya timbul macam-macam prasangka.

===o0o===

Sebelum membersihkan diri, Gluduk Alit mampir ke dapur, anak dan cucu Ki Sindu Nampak tengah mempersiapkan makanan, tak perlu di suruh, remaja ini membelah batang-batang kayu kering.

“Makasih nak mas…”

Gluduk Alit menoleh mendengar suara itu, seorang wanita cantik akhir tigapuluhan keluar dari dapur. “Ehm.. sudah biasa bibi, katakan saja kalau bibi perlu apa-apa.”

“Kebetulan, kalau kau tak keberatan, tolong petik kelapa dan, kau bisa berburu?”

“Baik bi.” Sahut Gluduk Alit cepat. “Kalau berburu itu nama tengahku..” sahut Gluduk Alit sambil menyeringai, lalu mengaduh, dia masih merasakan sakit di wajahnya yang beberapa kali kena gaplok guru-gurunya.

“Apa tidak lebih baik kau lakukan sesuatu pada wajahmu?” ujar wanita cantik itu. “Aku punya ramuan untuk luka seperti itu.”

“Ah-ha, terima kasih bi.. sudah biasa, nanti juga sembuh sendiri.” Kata Gluduk Alit sembari ngacir.

Dari kejauhan wanita cantik itu berseru. “Cukup kelinci saja ya, jangan yang lain..”

“Baik bi,” sahut remaja ini berteriak.

Ufuk Timur sudah menguning terang, tak mau terlambat remaja ini bergegas mencari tempat yang di tengarai sebagai sarang kelinci. Ternyata Gluduk Alit harus berlari cukup jauh untuk mencarinya. Matarahari sudah terlihat penuh, paling tidak sudah satu jam dia berlarian. Begitu mendapatkan tempatnya, tak butuh waktu lama, untuk menangkap sebelas ekor kelinci. Pemuda tanggung ini, cukup suka daging kelinci, dan tahu mana kelinci liar mana peliharaan. Apa yang di dapatkannya, membuat remaja ini bingung.

“Aneh, ini kelinci peliharaan. Kalau memang masih kepunyaan keluarga kakek Sindu, masa harus memelihara sejauh ini? Kalau bukan, berarti disekitar wilayah ini ada orang lain?” pikirnya. Gluduk Alit ragu untuk menyembelih kelinci-kelinci itu, dia hanya mengikat leher-leher kelinci dengan akar pohon.

“Ah, jadi bingung…” makin dipikir makin bingung, dari pada kesalahan, remaja ini melepas lagi kelinci-kelinci itu. Sebagai gantinya dia mencari ikan, saat mencari lokasi kelinci tadi, ada sungai cukup lebar di bawah sana.

Satu jam kemudian kemudian, ikan yang di perolehnya cukup untuk makan sekampung, besar-besar pula. Sepanjang perjalanan pulang, remaja ini makin tenggelam dalam pemikirannya. Sungai tempat dia mencari ikan pun, ada beberapa titik yang terbiasa di kunjungi orang, pun disana dibentuk bilik sedemikian rupa, semacam perangkap ikan. Gluduk Alit kawatir itu menjadi peliharaan orang pula, maka dicarinya tempat yang tak pernah terjamah orang, pinggiran sungai dengan semak belukar tinggi. Setelah memetik kelapa, tanpa di suruh; anak ini membakar ikan jadi setengah matang, setelah di bumbui dia membungkusnya dengan daun pisang.

“Bi, maaf… pesananmu tak dapat kuperoleh, ini sebagai gantinya.” Kata Gluduk Alit sambil menyerahkan belasan bungkusan daun pisang, yang sudah di bakarnya.

“Apa ini?”

“Pepesa ikan.”

“Oh,” agak terkejut wanita itu menerima bungkusan dari Gluduk Alit, di bukanya satu mencium aromanya lebih dekat dan mencuil sedikit. “Wah bagus sekali, ini enak! Terimakasih. Kau bergegaslah membersihkan diri, setelah ini kita makan bersama.”

Gluduk Alit mengangguk, dari pada menggunakan kamar mandi yang ada di dalam perguruan, dia lebih suka mandi di tempat terbuka dekat dengan bangunan tempat latihannya tadi malam. Setelah mengetahui beberapa kelumit masalah, dalam pikiran remaja ini setiap yang di lakukan penghuni perguruan ini menjadi satu tanda tanya dan kehati-hatian tersendiri.

Ki Blawu Segara memimpin makan pagi, wajah Gluduk Alit yang bengkak menjadi perhatian anak-anak Enam Dewa Sakti.

“Kenapa wajahmu lit?” Tanya Sakyamuni.

“Biasa kang, pagi-pagi di bikin nyungsep…” jawab remaja ini sambil menyeringai. Matanya mengisar kesekeliling, tak sia-sia juga pepes buatnya, semua orang menikmati.

“Ehm, kau suka sekali ikan ya?” Tanya Gluduk Alit pada Hong Li.

“Iya..” jawab remaja putri ini sambil sibuk memilah duri.

“Enakkah?”

“Iya enak sekali, Ibu Mbayu Luh Nindya pintar sekali memasak…”

Gluduk Alit menyeringai, “Betul…” Katanya. Sebenarnya pemuda tanggung ini akan menyambung omongan, tapi melihat gurunya mendelik, dia mengurungkan niat.

“Nah, berhubung pagi ini ada salah satu saudara kalian yang minta langsung adanya pelatihan, setelah sarapan kita akan membagi kelas.” Tutur Ki Blawu Segara.

Wingit Laksa, Gurba Dignya, Arman Syakar, Sakyamuni di ajar Khu Kim Liong. Intan Padmi, Aisyah Arifa, Mira Devi diajar Akihiko Yutaka. Takeshi Yutaka, Kenji Yutaka, Himuro Yutaka, Khu Tian Hai di ajar  Gulam Jabe. Khu Hong Li, Kitahara Yutaka dan Akina Yutaka, diajar Ki Daru Geni. Luh Nindya dan Wulan Asti—cucu Ki Sindu pun tak luput dari pengajaran, mereka masuk kedalam kelas Ki Daru Geni. Sementara sebagai ke khususan karena terpilih mendapat tugas berat, Gluduk Alit di ajar Ki Blawu Segara dan Ahmed Khalid. Ki Blawu Segara membabaskan para anak dan cucu murid Enam Dewa Sakti untuk belajar kepada siapa saja manakala di anggap sudah cukup oleh pengajarnya.

Quote | Posted on by | Tagged , | 12 Comments

128 – merangkai simpul kekacauan [ii]

Dari cerita Kaliagni, disebutkan; Harsa Banggi mengetahui ciri khas bom asap buatan Jaka. Ini cukup baginya untuk merangkai rencana. Hanya kalangan tertentu saja yang mengetahui bom asap buatannya berasal dari mana. Tak bisa di sangkal, dia mendapatkan cara pembuatan ragam alat kepentingannya dari catatan murid-murid Sang Lila—meski dengan berbagai modifikasi yang sudah di lakukan. Tidak mungkin benda semacam itu dapat dikenali begitu saja, jika dia bukan seseorang yang memiliki cerita tersendiri—berkaitan dengan benda tersebut.

Maka itu dapatlah Jaka menarik kesimpulan, tidak mungkin seseorang—dari perkumpulan tertentu dapat memiliki informasi detail mengenai ciri-ciri bom asapnya, kecuali kelompok tersebut memiliki sumber daya luar biasa, dan tahu betul mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Sang Lila. Bagaimana dengan Empat Pisau Maut? Mereka perkumpulan yang dikabarkan sejajar dengan kemunculan Sang Lila, kalau tidak bagaimana mungkin dengan ragam khasanah yang sudah dihilangkan Jaka masih dapat di kenali?

Berbekal ‘dugaan’ awal, bahwa orang yang di temui Kaliagi merupakan sosok yang latar patut di perhitungkan oleh siapapun, maka; sedikit banyak, aksi Serigala dan Beruang di Perguruan Naga Batu pasti akan dipantau.

Jaka sendiri harus memastikan kesimpulannya, bahwa: ada kelompok yang membutuhkan satu tumbuhan yang ‘langka’ dalam pembuatan sebuah pencampuran racun. Untuk mengkamuflase keperluannya itu, Jaka mengutus dua satwa memancing di air keruh, supaya ragam opini terbentuk sendiri.

Harsa Banggi pun menjadi titik tolak Jaka dalam menyampaikan informasi secara tak langsung kedalam Perkumpulan Empat Pisau Maut, terkhusus saat mereka harus berhadapan, dua titik penting pemahaman ilmu kanuragan Jaka, di lepas untuk mengarahkan opini, di mana dirirnya sanggup menggerakkan jantung Harsa Banggi berdetak lebih cepat, dan membuat tubuh kaku dalam kejap berikutnya. Bagi orang lain, itu mungkin sebuah kemungkinan pembukaan ilmu yang hebat, tapi bagi Jaka itu adalah bagian dari rangkaian pemahaman. Dalam hal ini karena Jaka sangat mengerti olah langkah yang di sarikan dari penemuan yang di berkaitan dengan Segara Sarpa—pendiri Garis Tujuh Langit, di padukan dengan olah nafas saat dirinya harus berhadapan dengan pemilik pondok bambu, maka terciptalah sebuah ritme nan magis.

Ritme semacam itulah yang digunakan Jaka untuk menarik Pisau Empat Maut dari kalangan yang sedang berkecamuk di dalam kota Pagaruyung. Jika Harsa Banggi dapat mengenali bom asapnya, dapat dipastikan ada orang lain lagi yang akan ‘tersadar’, sesungguhnya ‘kakunya’ gerakan Harsa Banggi bukan karena Jaka berhasil menyadap kemampuan lelaki bermata bak ikan mati itu, tapi karena gerak olah langkah yang di timbulkan Jaka.

Jadi, seandainya tak ada orang yang bisa mengambil kesimpulan sejauh itu, Jaka sudah memperjelasnya dengan membuat dirinya masuk sebagai murid Ki Lukita, salah satu tokoh yang juga merupakan bagian dari perkumpulan garis.

Dan bagi pemuda ini, cara berbelit seperti itulah yang dapat di gunakan dalam titik tolak rencana berikutnya. Pisau Empat Maut akan mengambil info dari petunjuk-petunjuk yang sudah di rangkai Jaka, sementara ‘si penggagas rencana’ justru merupakan tujuan terakhir Jaka. Jika benar mereka mengeksekusi rencana—sedikit banyaknya—berdasarkan reaksi dilapangan, maka Jaka percaya apa yang tengah di upayakan ini akan menggeser—entah seberapa banyak—dari rencana awal mereka.

Melepas ketegangan tidak semudah yang di pikirkan, itu yang terjadi manakala kau terlampau menganggap remeh urusan. Jaka kadang bersikap demikian, bukan karena meremehkan masalah, tapi karena hobinya yang tidak umum… ketegangan yang di hasilkan dalam sebuah masalah itulah yang di cari! Ketegangan, keruwetan masalah, membuatnya hidup, mencari solusi ditengah segala keruwetan, adalah seni, tidak ada yang salah pada seni, demikian juga solusi pada masalah tertentu, tidak ada ada yang salah. Hanya kurang tepat.

Kurang tepat? Ya, Jaka merasa ada yang kurang tepat pada rencananya, tapi justru dia menyadari sepenuhnya; bahwa rencana sempurna dapat tercipta, karena reaksi yang muncul dari target. Cara menguntit dan memata-matai yang terbaik, adalah; membuat target menguntit dirimu, membuat target penasaran dengan semua tingkah lakumu, dan ‘melibat’ mereka dengan semua kegiatanmu. Dalam kondisi yang cukup menegangkan seperti sekarang, teori ‘sederhana’ macam ini, hanya bisa dipikirkan oleh Jaka.

Tapi, apakah seseorang dari Perkumpulan Pisau Empat Maut dapat di buat sedemikian mudah terlena dengan teori sederhana ‘memancing harimau meninggalkan sarang’? tidak. Justru karena mereka mengaggap diri sendiri kelewat pintar, cara sederhana, akan diabaikan. Meski demikian, Jaka memahami; cepat atau lambat mereka akan sadar dengan rencananya, makanya dari beberapa hari lalu dia sudah membuat ‘sendi-sendi’ penguat ‘libatan’ kepada Alpanidra dan Tuan Muda, dengan mengikuti Serigala dan Beruang. Keduanya mengacau Perguruan Naga Batu, juga keduanya memiliki nama yang mentereng. Cukup dengan hal ini saja, tak perduli setinggi apapun kastamu, kau akan sangat penasaran dengan rencana Berung dan Serigala.

Jaka kembali muncul di air terjun Watu Kisruh. Praktis secara berterang, dia sudah bolak-balik dua kali. Dari tempatnya bersembunyi tadi, dia menyaksikan Wasopama ‘dilibat’ Arwah Pedang, sedangkan Beruang dan Serigala berhasil ‘melibat’, Alpanidra dan si Tuan Muda.

Suasana disekitar air terjun lengang, hanya gemuruh air yang menemani kesendirian Jaka. Namun bukan tanpa alasan, pemuda ini kembali. Dalam perhitungannya pasti akan ada pihak yang menemuinya atau meminta untuk bertemu. Selain itu, Harsa Banggi dan kawanya juga belum keluar dari balik air terjun, Jaka tak dapat menebak mereka sedang apa, tapi jikalau sampai sekian lama mereka tak juga kembali, dugaan Jaka bahwa di balik air terjun ada semacam ruangan, terbukti sudah.

Meski seolah berdiri mematung menikmati deruan air terjun, telinga dan perasa pemuda ini aktif dengan sempurna, gerakan di belakangnya sudah terpantau dari tadi.

“Apa maksud tindakanmu?” suara yang cukup berat cukup menyentak Jaka. Bukan karena kehadirannya, tapi sepertinya dia tahu itu siapa.

Tak menoleh Jaka menjawab. “Tidak ada, hanya bersenang-senang saja.”

“Hmk.” Dengusan tak percaya terdengar, dan Jaka berkisar satu langkah kesamping. Sebuah hawa serangan cukup kuat lewat begitu saja disampingnya.

Si pendatang nampak termangu dengan kecekatan Jaka yang sedemikian baik. “Aku menunggu janjimu.”

Jaka memutar badannya menghadapi si pendatang. “Itu bisa kupastikan.” Katanya lekat-lekat memandang si pendatang.

“Kau tahu siapa aku?”

Pemuda ini mengangguk.

“Kau tidak heran?” orang itu bertanya.

“Heran…”

“Kenapa tak bertanya?”

“Apakah harus? Semua orang punya rencana sendiri-sendiri.” Tukas Jaka tersenyum kecil. “Dan aku memastikan kehadiranmu di sini tidak akan sia-sia.”

“Apakah sudah ada kabar?”

Jaka tercenung sejenak. “Belum ada.”

“Kenapa kau begitu percaya diri bisa membantuku?!” suara orang itu agak tinggi.

Jaka tertawa tanpa suara. “Kau yang memiliki akar kuat pun dapat diadu domba orang. Dalam hal ini kau harus menghargai proses yang sedang terjadi. Tenang saja, belum ada kabar; bukan berarti kiamat. Jika kau tak mendapatkan kabar, bukankah lebih baik kabar baik itu yang menghampirimu sendiri?” kata Jaka dengan lambat-lambat.

“Jadi…” orang itu tercenung. “Kau melakukan ini semua, demi untuk kabar itu?”

“Benar. Tapi tidak sepenuhnya demikian, karena semua masalah saling berkait. Kabar yang kau cari akan muncul kepermukaan, entah itu jelas atau tersamar.”

Orang itu terdiam, lalu mengangguk lambat-lambat. “Ya, keluarga keenam memang tidak bisa di anggap remeh.” Ujarnya sambil membalikan tubuh, dengan gerakan bagaikan asap tertiup angin, orang itu pergi begitu saja.

Jaka menyeringai, ‘api yang berkobar’ sudah datang satu lagi. Ya, orang itu dari Garis Tujuh Api yang mencari anaknya. Meskipun Jaka berjanji akan mencari kabar tentang hilangnya sang putri, dia pasti tak bisa sesabar itu. Maka, dengan sembunyi-sembunyi Jaka meninggalkan tanda yang bisa di ketahui golongan Garis Tujuh Api, supaya dia bisa memantau pergerakan dirinya.

Kota Pagaruyung, mungkin belum pernah mendengar Keluarga Keenam, tapi mulai saat ini Jaka yakin, akan ada yang menyebarkan berita itu. Karena Jaka menyadari Harsa Banggi sedang mematai-matai dirinya. Jaka yakin orang itu belum keluar dari air terjun, tapi tahu-tahu bisa muncul di situ, menandakan ada jalan tembus di balik air terjun.

Jaka tertawa, rasa girang menyeruak begitu saja, dia merasa persoalan ini akan maskin menarik. Kalau saja Harsa Banggi bukan bagian dari dalam Empat Pisau Maut, pasti Jaka tidak akan berpikir macam-macam. Tapi, kehadiran Harsa Banggi yang secara sembunyi-sembunyi pasti sudah di perhitungkan dengan matang, bahwa dia akan ketahuan oleh Jaka. Untuk apa tindakan ‘seceroboh’ itu? Bukan lain untuk melemparkan opini kepada Jaka, bahwa air tejun watu kisruh menyimpan sesuatu. Si Tuan Muda sudah ‘membaca’ sifat Jaka yang memiliki keingintahuan besar, maka kehadiran Harsa Banggi bisa ditafsirkan banyak hal selain untuk memancing pergerakan Jaka. Cuma saja, Si Tuan Muda pun belum bisa meraba sampai dimana informasi yang dikuasai Jaka, mimpi pun dia tak menyangka kehadiran Harsa Banggi justru dimanfaatkan oleh Jaka.

Tadinya pemuda ini akan pura-pura tak mengetahui kehadiran Harsa Banggi, tapi jika dia bersikap demikian, itu sama saja tak menghargai tingkatan Harsa Banggi, dia sudah bersembunyi seketat itu, dan menampilkan satu ciri ‘kecerobahan’ di sengaja, yang hanya bisa di deteksi orang macam Jaka.

Jaka menoleh kearah persembunyian Harsa Banggi, tidak mengatakan apa-apa; hanya menyeringai. Lalu melesat begitu pesatnya kearah timur. Sesaat kemudan Harsa Banggi keluar dari persembunyian, di susul oleh Warsopama. Bukannya orang tua itu sedang di mata-matai Arwah Pedang? Kenapa muncul di situ lagi?

“Keluarga Keenam?” gumam Warsopama dengan berkerut. “Kau pernah dengar?”

Harsa Banggi menggeleng.

“Apa yang sedang di rencanakan orang itu?” wajah tua Warsopama berkerut makin dalam.

“Entahlah… apapun itu, omong-omong  kau bisa lepas dari kuntitan orang?”

Warsopama tertawa tak menjawab. Harsa Banggi mengeluh, entah kenapa sekarang ini seolah semua orang berpenampilan penuh misteri. Hanya karena seorang Jaka Bayu.

“Tak usah kau risaukan, kalau jodoh tak akan kemana.” Ujar Warsopama sambil melangkah di ikuti Harsa Banggi yang makin tak mengerti arah pembacaaran orang tua itu.

==o0o==

Quote | Posted on by | Tagged , , , | 21 Comments

127 – Merangkai Simpul Kekacauan [i]

note : maaf mungkin belum cukup, tapi tulisan yang saya susun di sela rasa malas, cape, bosan, dll.. ternyata bisa menghasilkan 1 chapter juga, alhamdulillah.. percaya tidak, 9 bulan saya butuhkan untuk menulis 1 chapter! alhamdulillah usaha WO saya sedang di uji Allah SWT dengan client yang masya allah–banyak. Dan konsekuensinya, ‘hobi’ yang kini menjadi ‘beban’ saya jadi terlantar… sungguh membuat para pembaca jadi kurang nyaman. tidaklah bijak jika saya berpanjang lebar, selamat membaca.. semoga next chapter bisa saya susulkan secepatnya. sekali lagi maaf.

WA : 088802814176 , BB : 741A5FAE,  FB: fokus wo <== bagi yang mau ngasih semangat :D

===============

Pekerjaan yang paling mudah dilakukan biasanya tidak pernah terpikirkan, itu yang akhir-akhir ini di rasakan oleh Jaka. Pertarungannya dengan Bhre dan perjumpaannya dengan Adiwasa Diwasanta dan sang kembaran, memberikan banyak inspirasi untuknya. Dan ide baru ini jelas akan disisipkan pada saat berjumpa dengan Sadewa, Kuntareksi dan Kundalini.

Dari tempatnya bertarung dengan Bhre, menuju Pesanggrahan Naga Batu tidaklah terlalu jauh, tapi Jaka sengaja tidak berkunjung lebih dulu. Meskipun dia memiliki janji untuk berjumpa dengan Sadewa, Kuntareksi dan Kundalini di hari kelima, toh perihal waktu bebas ditentukan sendiri. Jaka memilih berjumpa dengan kawan-kawannya lebih dulu. Ada yang harus dipastikan.

Entitas tiap data perlahan terkumpul, membentuk sebuah puzzle yang harus di satukan dengan teliti. Jika saja tiap kepingan informasi memiliki perbedaan, tentu mudah untuk membingkainya dalam sebuah satu kesatuan, tapi justru karena tiap kepingan memiliki kesamaan benang merah, membuat Jaka harus hati-hati dalam mengurutkannya. (baca chapter 97-99)

Pemuda ini bisa saja mencari Jalada—Watu Agni, atau si Baginda di seputar Perguruan Naga Batu—karena tugasnya mengawasi orang-orang yang keluar masuk—termasuk melacak keberadaan Ekâjati. Tapi, Jaka lebih memberatkan untuk menjumpai Penikam dan Pariçuddha yang bergerak ke air terjun Watu Kisruh, selain tempatnya paling jauh dari jangkauan, masalah yang sedang dalam pantau mereka berdua di pandang berbobot lebih.

Teringat dengan Penikam, Jaka menghela nafas panjang penuh syukur. Ingatannya kembali melayang saat dia harus bersusah payah menemukan Penikam. Sungguh tak di sangka, rekannya itu di tahan di kandang sapi! Kandang sapi yang merupakan kamuflase dari salah satu markas keluarga Tumparaka. Kondisi Penikam saat itu tak jauh beda dengan kondisi Phalapeksa, untung saja Jaka sudah pernah menangani kondisi seperti itu. Dalam kandang yang hangus itu, bergegas Jaka memberikan pertolongan.

Begitu sadar, yang tercetus dari mulut Penikam justru mengejutkan Jaka. “Pemabuk keparat…”

Namun sayangnya sampai beberapa hari kedepan kondisi Penikam justru tidak membaik, manakala dia sudah cukup sehat, ingatannya pada saat kejadian justru samar-samar. Tapi yang di ingat olehnya, Ekabhaksa sangat memegang teguh amanat Jaka, bahwa tanggung jawabnya dalam menjaga Phalapeksa benar-benar dilaksanakan.

Mengenai urusan; apa yang di maksud pemabuk keparat—yang menurut Jaka berkaitan dengan Wuru Yatalalana, lalu siapakah yang melukai Penikam dan kemana larinya Ekabhaksa, itu bisa di runut kemudian hari. Yang terpenting Jaka merasa lega, sebab tak ada satupun dari kawan-kawannya yang tewas. Entah seperti apa kepedihan yang harus di tanggung, jika pemuda ini harus kehilangan orang lagi.

–o0DSA0o–

Wisa Lambita, itu bukan nama racun, tapi jenis racun. Racun itu bersifat menggantung. Mengantungnya-pun ada dua jenis, pertama; tipe berdaya rusak ganas, jika pengobatannya salah, satu demi satu ruas tulang tak akan terikat otot lagi. Tapi salah satu kelemahan racun jenis lembita ini pun sangat fatal, dengan dosis tepat dan tempat yang tepat, penyembuhannya hanya akan berlangsung dalam waktu setengah hari saja. Kedua; tipe lambat, berjalan layaknya siput, mudah di bendung, tapi tak bisa ditanggulangi, karena siput bisa memanjat setinggi apapun bendungan yang kau buat. Dan sebagus apapun pengobatannya, waktu yang di butuhkan justru akan sangat lama dan melelahkan. Itu akan menjadi penyakit menahun, tidak mematikan tapi sangat mengganggu. Ibarat borok, begitu dirasa sembuh dan kau kupas, akan muncul borok baru. Begitu kira-kira perumpamaan untuk menggambarkan jenis wisa Lambita.

Dari berbagai informasi yang terkumpul, Jaka sudah bisa mengambil kesimpulan, jenis lambita yang menyerang kerabat Ketua Bayangan Naga Batu, adalah jenis ganas. Hal ini dapat dia tengarai dari aroma obat yang teruar, waktu pertama kali Jaka masuk kedalam kampung misterius di tengah kota (chapter 62)

Pariçuddha di utus oleh Jaka untuk membayang-bayangi proses penyembuhan yang di lakukan di air terjun Watu Kisruh. Penikam-pun turut mengintai pihak-pihak yang akan memantau setiap kegiatan Ketua Bayangan Naga Batu.

Tapi ada satu hal yang cukup mengganggu pikiran Jaka, dan itu tidak di sampaikan didepan rekan-rekannya. Manakala pihak yang mengganggu Ketua Bayangan Naga Batu ikut mengawasi pergerakan mereka saat menuju air terjun, pasti ada satu trigger yang akan segera aktif. Apa dan bagaimana itu? Jaka belum dapat merabanya. Tapi kurang lebihnya; jika mereka mengetahui bahwa ada pihak yang membantu dalam pengobatan terhadap kerabat Ketua Bayangan Naga Batu, tentu ada satu konsekuensi tindakan baru, sebagai tindakan antisipatif—counter.

Deru air terjun terasa menghentak dada, beberapa hari sebelumnya Jaka pernah berniat ke tempat ini, tapi urung. Tak disangka saat ini, justru dia memiliki kesempatan. Batu yang bertebaran di sekitar air terjun membuatnya cocok di sebuah Watu Kisruh. Pandangan Jaka mengisar berkeliling, banyak pengunjung di sekitar air terjun cukup membuatnya aman. Paling tidak, jika ada seseorang atau kelompok yang bertindak mencolok, pastilah terlihat begitu bodoh.

Di sepanjang perjalanan, kode yang di berikan Penikam dan anak buahnya bisa di baca Jaka, itu berbunyi; sejauh ini belum mencurigakan. Tapi Jaka tidak percaya, bukan tidak percaya kepada kemampuan Penikam, tapi segolongan orang sedang berprogres meniru racun ganas masa lampu, sudah tentu tak akan mudah dilacak dengan cara biasa.

Mungkin, bertindak diam-diam itu baik, tapi lebih baik lagi jika seluruh perhatian orang terpaku padamu. Pemuda ini tertawa dalam gumam, dari tempatnya berdiri dia melemparkan ranting berturut-turut, dan detik itu juga tubuhnya melejit, kemudian menapak pada masing-masing ranting, melejit lagi dengan saat bersamaan menendang ranting yang dipijaknya. Sekilas tindakan itu seperti terbang. Seseorang yang bergerak bagai terbang, dan mendadak menerobos kebalik air terjun pasti menarik seluruh perhatian orang. Peringan tubuh pada umumnya hanya percepatan kendali atas tubuh, tidak dalam cara seperti yang ditampilkan Jaka. Sudah jelas gerakan semacam itu mimpipun orang tak akan membayangkan.

Banyak seruan kagum, ada pula pandangan terkejut, semua reaksi itu di sapu rata oleh pandangan Jaka. Ada dua kelompok orang yang segera mendapatkan perhatian Jaka. Tapi kondisi di balik air terjun ternyata lebih menarik. Sama halnya dengan Gua Batu, di balik air terjun Watu Kisruh ternyata terjamah peradaban. Ternyata ruangan di balik air terjun itu memiliki luas seribu kaki persegi, cukup luas. Bebatuan padas yang tergenang air tak cukup menyembunyikan tanda seringnya tempat itu di pijak manusia.

“Menarik sekali…” pikir Jaka. Tapi dia belum tertarik untuk menyelidiki lebih jauh. Saat ini, menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar air terjun adalah prioritasnya. Lalu dengan menjejakkan kaki sekuatnya pada dinding gua, Jaka menghempaskan tenaga untuk mendapatkan daya lejit maksimal, pemuda ini kembali ‘terbang’ menerobos air terjun, dan melesat begitu saja. Tindakan semacam itu dipandang orang lain sebagai kemubaziran, atau boleh jadi pamer semata, tapi bagi Jaka, dia memiliki dua macam keuntungan. Pertama; kaki tangan Sadewa sekalian sudah pasti akan menceritakan peristiwa tersebut, dan ini bisa menjadi bahan omong kosong dan nilai tawar yang akan menaikan nilai Jaka di mata orang-orang Perguruan Naga Batu. Kedua; pihak yang selalu memata-matai Ketua Bayangan, akan memecah perhatian padanya. Paling tidak, misi Jaka untuk menyembuhkan korban yang terkena jenis wisa lambita, akan terlaksana tanpa gangguan.

Jaka melesat diantara batang pohon, kecepatan yang tak mungkin di ikuti kebanyakan orang lain itu ternyata mendapat perhatian dari dua orang. Orang itu bertampang biasa, dia menatap bayangan Jaka dengan sorot mata yang menampilkan perasaan sulit di jelaskan. Disamping lelaki bertampang biasa, nampak lelaki bungkuk itu manggut-manggut.

“Menarik, sungguh menarik… entah peranan apa yang sedang di mainkan. Kemampuannya masih menjadi ganjalan bagiku.” Ujarnya.

“Hm.. kau urung bertarung dengannya, apakah akan diulangi?” Tanya Alpanidra—lelaki bertambang biasa.

Warsopama, si lelaki bungkuk yang merupakan saudara kembar Adiwasa Diwasanta, mengumam tak jelas. “Aku belum tahu, meski kami memutuskan untuk mundur, bukan berarti perhatianku padanya akan lepas!” desisnya seraya bergerak mengikuti Jaka, gerakan tubuhnya ringan seperti asap di hempas badai.

Alpanidra menghela nafas, berurusan dengan Jaka hanya akan mendatangkan sakit kepala berkepanjangan. Lebih baik dia memperhatikan apa yang akan terjadi di sekitar Air Terjun Watu Kisruh.

Tak berapa lama tujuh kelompok orang datang bersamaan, dalam rombongan berbeda. Ketujuh rombongan itu memakai kereta kuda. Yang mutlak mengetahui apa kepentingan orang-orang itu, hanya Jaka sekalian. Semua orang sama meraba-raba apa yang akan di lakukan mereka.

Wajah Alpanidra tampak tercengang, saat melihat dari dalam kereta keluar tujuh orang dengan wajah berlumuran bedak putih. Mereka membawa ranjang bamboo, dan menuangnya begitu saja. Ular! Ternyata mereka menuang ular dalam jumlah luar biasa banyak. Ini jelas cara mengusir orang yang sangat manjur. Kau tak perlu berteriak-teriak, cukup ular yang mewakili mulutmu.

Hampir tiap orang memaki panjang pendek, dan terpaksa sipat kuping lari. Diantara satu sampai seratus orang, paling banter hanya sepuluh orang yang tak takut ular. Tapi berhubung jumlah ular amatlah banyak, yang sepuluh orang inipun terpaksa harus angkat kaki.

Tak perlu menunggu hingga lima puluh hitungan, air terjun watu kisruh sudah steril dari orang. Anehnya ratusan ular yang di tuang itu tidak lagi bergerak jauh, hewan melata itu seperti diatur kembali menekati kereta kuda dan membentuk lingkaran—seperti memagari wilayah pinggiran air terjun. Alpanidra bisa melihat orang-orang yang datang kusus memata-matai rata-rata bersembunyi diatas pohon, seperti dia. Agaknya tujuh rombongan itu tidak memusingkan kemungkinan ada yang sembunyi di sekitar air terjun watu kisruh. Setiap rombongan mengeluarkan papan sepanjang satu tombak dari dalam kereta.

“Ah, mereka membentuk pagar.” Desis Alpanidra.

“Ya, dari pada bertindak sembunyi-sembunyi, lebih baik berterus terang dan pasang sikap waspada begini. Aku sangat suka caranya…”

Alpanidra terperanjat suara diatasnya persis membuat kuduknya meremang. Saat menoleh, ada rasa lega juga malu. “Ah, tuan muda..” ujarnya sembari menjejerinya.

Masih memperhatikan kegiatan di bawah, sang tuan muda berkata. “Aku tahu Warsopama memang sobatmu sebagaimana Adiwasa Diwasanta, tapi untuk saat ini, kau tidak perlu berhubungan dengan dia.”

Alpanidra tampak tercengang. “Kenapa? Bukankah kedekatanku dengan dia pun ada nilai tambah sendiri untuk kita?”

Si tuan muda mengela nafas. “Sebab orang itu sudah terlibat dengan dia.” Sahutnya pendek. Alpanidra paham yang di maksud dia, adalah Jaka Bayu.

“Aku masih belum paham..” ujarnya.

“Berdasarkan kondisi Harsa Banggi yang pernah menjajal kemahirannya, aku melihat seseorang yang berhubungan dengan dia, pasti akan menjadi lebih lembek.” Lalu dengan nada tajam, dia menyambung lagi. “Bagaimana menurutmu?”

Alpanidra tercenung. “Aku tidak berhubungan dengan dia, tapi aku merasa jika urusan yang melibatkan campur tangan pemuda itu, membuatku merasa urusannya jadi makin ruwet.”

“Apa yang terjadi saat kau merasa demikian?” kejar sang tuan muda.

“Kewaspadaanku menurun, karena terlampau fokus pada urusannya.”

“Itulah maksudku. Berurusan dengan dia, sama saja membiarkan dirimu tanpa pertahanan dan membiarkan dirimu di baca seenaknya.”

“Tapi anda berhubungan dengannya?” Tanya Alpanidra seolah memperingatkan.

“Aku ini kekecualian. Dia membacaku, akupun membacanya… kami saling mengukur. Dan ya terus terang, dengan melihat cara kerjanya, aku dapat memprediksi gerakannya lebih lanjut.”

Alpanidra paham maksud ucapan tuan mudanya. “Saat ini boleh jadi kita masih bekerja sama, tapi siapa tahu, besok dia sudah menjadi lawan?” gumam lelaki ini di amini sang tuan muda.

Sebuah kereta dengan corak yang sama, muncul belakangan. Benteng dadakan yang baru mereka buat, tersingkap satu jalan. Ular-ular yang semula membentuk semacam ‘tali’ pertahanan-pun, menyibak perlahan membiarkan kereta itu masuk dalam lingkaran pertahanan ular.

Dan kereta itu tidak berhenti melainkan terus dipacu hingga masuk kedalam air. Hingga akhirnya dua ekor kuda itu tak sanggup lagi menariknya. Mendadak saja tuas dari kereta terlepas semua membebaskan kekang kuda, dan kereta ini mendadak melaju dengan cukup pesat ke tengah-tengah sungai—bak perahu, mendekati curahan air terjun. Kondisi mengapung itu kurang lebih memakan waktu satu kentungan, tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi.

Tidak ada gerakan apapun dari dalam kereta, tiba-tiba saja kereta itu bergerak kepinggir, dan kait kekang kuda sudah kembali dipasangkan beberapa orang. Dalam beberapa hitungan saja, kereta itu sudah dihela menjauh dari air terjun watu kisruh. Demikian pula dengan tujuh rombongan lain yang datang lebih dulu, mereka membereskan segala sesuatu—termasuk ular-ular yang dengan jinaknya masuk kedalam keranjang. Situasi air terjun kini begitu lengang dan mendatangkan perasaan mencekam.

Sekalipun tuan muda dan Alpanidra merupakan orang-orang kasta tinggi organisasi rahasia, merekapun gagal paham dengan kejadian yang di amati dari awal hingga akhir.

“Apa yang kau lihat?” tanya si tuan muda.

“mereka datangdari kampung tengah kota.” Jawab Alpanidra.

“Apa yang di lakukan?”

“Tidak paham. Tapi bisa kupastikan ada kaitannya dengan Jaka.”

Sang tuan muda berpikir, ‘mungkinkah ini yang akan menjadi faktor api atau angin yang dibiacarakan Jaka?’

“Sepertinya aku perlu bertanya secara langsung.” Ujar Alpanidra. Tapi tindakannya segera di cegah. Sebab begitu bayangan rombongan kereta mulai menghilang dari area watu kisruh, muncul sosok yang membuat Alpanidra terkesip.

Arwah Pedang bergerak duduk di tepian air terjun. Disusul muncul pula Beruang yang memperhatikan keadaan sekeliling terutama di atas pohon.

“Ah, pengacau di Naga Batu ini pun kemari?” desis sang tuan muda.

“Kupikir dia bersahabat dengan Arwah Pedang.” Simpul Alpanidra. “Hanya Serigala yang belum muncul…” baru saja terucap begitu, ekor matanya melihat sosok Serigala yang duduk mencangkung di batang pohon, tak jauh dari mereka bersembunyi. Sungguh mengherankan, padahal mereka cukup waspada, bagaimana mungkin kehadiran Serigala tidak terdeteksi? seolah dia muncul demikian saja, padahal merekapun sudah datang sedari tadi.

Serigala melompat turun dan menghampiri Beruang.

“Apakah kau melihat kehadirannya?”

Wajah sang tuan muda dan Alpanidra berubah, bukan karena pertanyaan Serigala, tapi cara bicara Serigala dengan suara yang kerasnya minta ampun. Bahkan deru air terjun-pun bisa teratasi. Seolah dia sengaja ingin menunjukkan kepada pengintai, tak perlu repot-repot menyadap pembicaraan.

“Arahnya menuju kesini, aku yakin tak jauh-jauh dari sini.” Jawab Beruang dengan suara tak kalah keras. “Ada yang mencurigakan?”

“Banyak, tapi sudah kugebah sebagian, lainnya adalah para pemeran penting, aku biarkan saja…” ujar Serigala lagi.

Cara bicara keduanya sudah cukup membuat siapapun yang datang memata-matai, adalah bagian dari rencana dua orang ini.

Tapi sang tuan muda dan Alpanidra tak bergeming. “Mereka hanya menggertak.” Gumam Alpanidra.

Sang tuan muda tak menanggapi, biarpun mereka selalu bertindak diam-diam, ada kalanya merekapun bergerak terang-terangan. Harsa Banggi ada di bagian ini.

Baik Serigala maupun Beruang kali ini melihat dua sosok bergerak mendekat. Meskipun mereka belum pernah bertemu salah satunya, tapi orang dengan sorot mata bak ikan mati itu, jelas tokoh yang pernah di ceritakan Jaka. Sedangkan satunya adalah lelaki bertampang biasa, setipe dengan Alpanidra, bedanya dia lebih gemuk dan pendek.

Empat pasang mata bertemu, seolah ada percik api pada tiap pandangan mata.

“Ayo, mulailah!” dari kejauhan tanpa juntrungan, terdengar suara memprovokasi. “Membosankan!” suara berikut sudah melampaui keempat orang yang sedang berhadapan, dia sosok bayangan yang bergerak sangat pesat dan menerobos air terjun.

Ternyata Jaka! Warsopama tampak mengikuti dengan ketat, tapi dia tak berani menerobos kedalam air terjun, hanya bisa berdiri termangu di salah satu batu yang paling besar. Matanya melirik memandang Arwah Pedang yang duduk dengan sikap bak sedang bersemedi. Tak memperdulikan dirinya.

Kening Warsopama berkerut makin dalam, sepanjang jalan dia mengikuti Jaka, barulah sadar pemuda ini hanya membawa jalan kesana kemari tanpa maksud. Yang lebih gila lagi, pemuda itu seolah bisa meninggalkannya sewaktu-waktu, tapi itu tak di lakukan. Saat dirinya kehilangan jejak, Jaka muncul, begitu seterusnya, hingga akhirnya mereka kembali ke watu kisruh.

Jaka melesat keluar dari air terjun sembari tertawa. Kali ini gerakannya jauh lebih cepat dari kedatanganya, Warsopama sudah malas mengikutinya, dia bergerak kearah lain. Kejap berikutnya Arwah Pedang-pun bergerak kemana Warsopama pergi.

Pemandangan yang serba ganjil itu membuat sang tuan muda makin tidak mengerti dengan permainan yang di lakukan Jaka.

“Aku tidak paham, sungguh tidak paham…” gumam Alpanidra.

“Ah…” desah sang tuan muda dengan mata berbinar. “Aku tahu!” desisnya.

Alpanidra melihat dengan sorot ingin tahu juga. “Kehadiran pertamanya adalah memancing antusias kalangan tinggi, kurasa Serigala, Beruang dan Arwah Pedang ada kaitannya dengan Jaka. Manakala mereka muncul, siapapun pihak yang sedang diamati Jaka, akan lebih terlihat gerakannya.”

“Anda melihatanya?”

“Tidak. Belum! Tapi pasti akan kita ketahui. Dan mendadak Jaka muncul lagi, kali ini kucing-kucingan dengan Warsopama. Tidakkah kau melihat disini ada maksud yang lebih dalam?”

“Ya, begitu Jaka berhasil memaksa mundur Warsopama dan kawan-kawan, sudah tentu mereka tidak berdiam diri, meskipun tak mengambil tindakan. Apa yang di lakukan Warsopama-pun adalah bagian dari rasa penasaran terhadap Jaka. Tindakan Warsopama dan kawan-kawan sudah ada dalam perhitungannya, kesana kemari dengan diikuti tokoh tinggi macam Warsopama, aku yakin Jaka bertingkah seperti seorang tuan yang di ikuti pelayan…”

“Bukankah itu yang kau arahkan kepada dia?” Tanya sang tuan muda.

Alpanidrapun mengiyakan, dia datang kepada Warsopama saat sobatnya itu tengah bermain-main dengan pembunuh bayangan. “Tapi, nampaknya pelayanan yang di maksud Warsopama tidak seperti maksud yang kuinginkan.”

“Itu karena Jaka memaksa mereka mundur. Jika itu belum terjadi, aku yakin ‘pelayanan’ Warsopama akan mengganggu Jaka melebihi benalu pada pohon.” Simpul sang tuan muda.

“Aku jadi heran… apakah dia begitu mahirnya membaca situasi?” gumam Alpanidra.

“Kurasa, ada informasi yang masuk padanya yang kita tidak punya, maka dia bergerak demikian bebas, tak takut langit-bumi, tidak takut kepergok.”

“Kita harus tahu info seperti apa itu!” cetus Alpanidra.

“Tak perlu, pada saatnya kita juga akan tahu. Lagipula, dengan cara apa kau akan meminta informasi padanya? Keras? Dia jauh lebih keras dari dugaan kita. Menipu? Aku kawatir justru kaulah yang akan ditipu.”

“Aku hanya kawatir jika tak bergegas, kita tak cukup membuat persiapan.”

Sang tuan muda tak menanggapi, dia lebih tertarik melihat kondisi Harsa Banggi. Sejak Jaka membuatnya jadi ‘lembek’, lelaki itu butuh situasi dan lawan untuk menaikan semangat. Tak di sangka Jaka muncul sengaja menyiram ‘minyak’. Harsa Banggi justru orang yang tak suka menuruti anjuran orang. Manakala Jaka berteriak untuk mulai—jelas maksudnya bertarung, justru hal itulah yang tak akan di lakukan. Sudah cukup Harsa Banggi mendapat ‘kerugian’ di tangan Jaka, bagaimana mungkin dirinya akan menambah kerugiannya dengan menuruti perkataan Jaka?

Dan lelaki inipun hanya lewat begitu saja, lalu dengan rekannya menerobos air terjun. Serigala dan Beruang membiarkan saja, mereka duduk tepat dibawah pohon persembunyian Alpanidra.

“Kau bisa menghadapi mereka?” Tanya sang tuan muda sedikit bimbang.

“Hanya satu.” Desis Alpanidra.

“Ah, kurasa tidak perlu berhadapan secara keras. Keduanya memang kuasumsikan ada hubungan dengan Jaka, tapi hubungan seperti apa; kita belum tahu.” Lalu tubuhnya melejit dengan ringan meninggalkan persembunyian di ikuti Alpanidra. Gerakan mereka memang tak menimbulkan desir angin, tapi tak sanggup melenyapkan bau tubuh. Justru Beruang dan Serigala sangat baik dalam melacak jejak berdasarkan bau. Keduanya bergegas mengikuti dalam jarak yang aman.

Walaupun belum melihat sosok yang diikuti, namun keduanya paham, tugas yang dibebankan oleh Jaka, cukup berat. Mereka dapat merasakan betapa berat aura yang tengah mereka lacak. Meskipun keduanya menyadari diatas pohon adalah tempat persembunyian sasaran, tapi keduanya tak mau ceroboh. Mereka sama-sama ragu dalam bertindak, maka cara yang paling baik justru pura-pura tak tahu lokasi musuh.

Itulah alasannya Jaka memasangkan Beruang dengan Serigala. Keduanya merupakan petarung andal, tapi mereka lebih suka bergerak sendiri. Tapi Jaka berpandangan lain, empat tangan lebih baik dari dua tangan, dan menghadapi perubahan di dalam organisasi Pisau Empat Maut, Jaka tak mau mengambil resiko.

Jaka memang tak pintar merangkai kata, tapi dia cukup mahir merangkai kesimpulan. Meskipun Jaka bekerja sama dengan perkumpulan Pisau Empat Maut, adanya Adiwasa Diasanta di sisi sang tuan muda, membuat Jaka tidak dapat tenang. Perkumpulan itu bisa menghimpun tenaga luar biasa, tentu memiliki andil tak kecil dari perubahan yang terjadi pada setiap situasi. Jika dugaan Jaka benar, bahwa sosok penggagas kekacauan di Pagaruyung ini mengetahui semua pergerakan yang ada, maka cara satu-satunya adalah; menepikan para ‘pemain besar’, untuk mendinginkan kepala masing-masing.

Bhre sudah, kini tinggal Pisau Empat Maut. Ya, dua kelompok ini justru di lihat oleh Jaka sebagai katalis sempurna dari semua rencana sang penggagas. Kedua organiasi itu memiliki sumber daya luar biasa, justru merekalah pion paling sempurna yang dapat dimainkan oleh ‘si entah siapa’, dengan trik yang demikian halus. Maka, mereka harus di tepikan sementara. Cara yang di lakukan Jaka-pun hanya di mengerti oleh dirinya. Dia biarkan bhre dan si tuan muda membaca semua gerakannya, menggiring opini mereka dalam satu wadah ide. Dan sedikit demi sedikit menjadi alat ‘cuci otak’ sempurna, untuk melepaskan pemikiran yang memang di arahkan oleh si penggagas rencana.

Jaka pernah menyebutkan kepada Bhre, bahwa kegiatan apa pun yang mereka lakukan tak lebih dari perencaan simultan oleh kelompok tertentu (chap.102-103), maka secara terang-terangan Jaka meminta mereka mundur. Menghadapi Bhre yang tinggi egonya, ‘mudah’ bagi Jaka untuk memainkannya. Tapi Empat Pisau Maut jelas cerita berbeda, mereka tak bisa di hadapi dengan halus, tak bisa pula dengan keras. Hanya dengan membentuk opini selapis demi selapis, menyesatkan kesimpulan mereka sendiri-lah, yang tengah di arahkan Jaka secara bertahap.

Siapa yang tahu jika Harsa Banggi juga merupakan ‘bidak’ rencana Jaka dalam ‘membelokkan’ perhatian sang tuan muda dari urusan di Pagaruyung?

 

Quote | Posted on by | Tagged , , , , | 77 Comments