05 – PB : Reuni Enam Dewa Sakti

“Apa kakek belum datang?” tanya Gluduk Alit pada dirinya. “Kakek orang yang tepat janji.. jangan-jangan memang ada perubahan rencana, biarlah kutunggu disini sejenak.”

Gluduk Alit duduk di sebuah batang pohon yang tumbang. Di situ ia kembali meniup daun bambu, suara dengan nada monoton terdengar lagi. Pemuda tanggung itu meniup asal saja, membuat orang yang mendengar serasa di kili-kili kupingnya.

Ki Blawu Segara, dan enam orang lainnya saling berpandangan. Pandangan mata mereka tertuju pada Ki Daru dan bocah itu berulang kali. “Apa dia muridmu?” tanya Ki Blawu Segara.

“Benar kakang, lebih baik kita jangan muncul dulu.. aku ingin tahu ulah tengik terbarunya..” kata Ki Daru Geni melihat muridnya dengan mata berbinar.

“Huh! Anak seperti itu saja di perhatikan!” sungut cucu perem­puan kakek Kim, yang ada di pohon sebelah.

“Hus! Jangan begitu, bagaimanapun juga anak itu murid paman kakek kita.” Nasehat kakaknya, Khu Thian Hai, tapi nasehat sang kakak tak dihiraukan, sebab tangan gadis itu sudah berkelebat cepat mengibaskan sesuatu pada Gluduk Alit.

Tiba-tiba saja, “Heek..” Gluduk Alit tersendak, tiupan pada daun bambu terhenti seketika. Ternyata mulutnya sudah kemasukan daun yang dipilin keras, mana daunnya terasa pahit dan terasa gatal di bibirnya, kontan Gluduk Alit meludah kalang kabut.

“Kurang ajar! Siapa yang berani main gila denganku, hah?! Keluar..!” teriak Gluduk Alit masih sesekali meludah, entah daun apa yang dilontarkan padanya, kali ini lidahnya juga terasa gatal.

Tapi teriakan Gluduk Alit tidak ada yang menyahut, sebenarnya Khu Hong Li ingin menyambutnya, tetapi kakaknya keburu menahan dan mendekap mulutnya. Melihat suasana tetap lengang, kuduk Gluduk Alit jadi merinding sendiri. “Wah.. jangan-jangan ada setan usil yang melemparku?” gumamnya sambil mengelus bulu tengkuknya yang berdiri.

Tapi dasarnya anak bengal, Gluduk Alit tak menyerah begitu saja. Meluruskan badannya, dengan sikap sempura, anak ini menjura ke tiap sudut. “Para penunggu gunung ini, jika kalian ingin menjadi temanku, maka aku anggap sambitan tadi adalah lambang perkenalan, aku tidak keberatan. Tapi siapapun yang berniat mengusiliku akan akan doakan semoga mendapat balasan setimpai dengan perbuatannya.. konon disini adalah gunung keramat. Orang yang suka usil bisa celaka sendiri.. tapi, ah… aku tidak akan berdoa jelek, kata orang aku orang yang baik hati, dan pemurah, jadi aku tidak marah. Kuharap untuk yang berlaku jahil.. andai dia laki-laki semoga berumur panjang agar kita sempat berjumpa dan aku bisa kenalan, sekalian  membalas perbuatannya…” kata Gluduk Alit dengan terkikik  sendiri. “Tapi kalau pelakunya adalah wanita semoga dia beranak banyak, banyak sekali… biar repot setengah mati!” tambah anak ini makin terkikik geli. Suasana tetap saja senyap, dan Gluduk Alit jadi senewen sendiri.

Masih mencoba memanasi hati orang yang mengerjai dirinya, anak ini kembali berkata. “Baiklah, sebenarnya aku berbohong saat mengatakan diriku adalah orang baik hati dan lapang dada. Sebenaranya aku pendendam, dan sebagai balasanku, aku akan memberi syair tak jelas karyaku sendiri, bagi si pelaku..”

Wahai bunga lihatlah ke depan

maka kau akan melihat monyet

monyet lapar yang kehabisan bekal,

mungkin juga kehabisan akal…

ah tidak mungkin, monyet mana punya akal..

monyet yang nakal sehingga main lempar

oh.. bunga, kenapa ada monyet nakal disini?

apa salah daku yang tanpa dosa ini?

sehingga dijahili monyet? Apakah monyet itu naksir aku?

Ih, amit-amit…. Aku tak mau.

Duhai monyet, apa dosaku padamu

apa karena aku lupa membawakanmu pisang?

Wahai monyet maafkan aku..

monyet.. monyet.. apakah engkau memang monyet. . .

Gluduk Alit bersyair asal bunyi, tetapi lantunan suaranya memang cukup memanjakan telinga, jika saja tanpa memperhatikan syairnya orang mungkin bisa menikmatinya, tapi isi syairnya merusak semuanya! Wajah Kumala Sari merah padam, panas perut gadis itu menahan geramnya. Bagaimana tidak, dia dimaki pemuda tanggung itu sebagai monyet? Hati siapa yang tidak marah? Saking jengkeinya, Kumala Sari hendak segera turun, tetapi lagi-lagi sang kakak kembali menahannya.

Setelah bersyair, Gluduk Alit kembali memandang berkeliling. Tidak ada tanda-tanda orang bersembunyi. “Wah sialan, syairku sia-sia belaka? Benar-benar pemborosan suara merduku!” sungut pemuda tanggung itu mangkel.

Sementara setiap orang yang bersembunyi tercengang kaget juga geli melihat keberanian Gluduk Alit. “Wah.. itu anak cari penyakit saja..” gumam Kamila—lbu Kumala Sari—tertawa geli. Khu Tiong, suaminya mendengar ucapan istrinya, tersenyum lebar. Dia jadi ingin tahu, bisa apa murid pamannya itu. Maka dengan isyarat, dia mengatakan pada anak lelakinya untuk tidak menahan adiknya lagi.

Gluduk Alit jadi makin geregetan karena sudah sekian lama dia berada disitu sendiri, “Tak ada salahnya kupancing lagi..” gumam pemuda tanggung itu.

“Kupunya mainan banyak sekali, tetapi peri datang mengganggu, aku tiup sekali lagi, sang peri nungging sampai juling, lalalala.. ada peri kesasar menggangguku, oh Tuhan yang Pengasih.. tunjukilah jalan buat sang peri agar dia tak kesasar lagi, lalali-ii, semoga dia menjumpaiku, lelaki yang tidak ada duanya. Paling ganteng, paling disukai semua orang…” Gluduk Alit bernyanyi sambil berjalan mondar-mandir. “Oh peri, bukankah sekarang syairku lebih sopan lagi? Apakah engkau suka dipanggil peri atau lebih suka kupanggil monyet? Atau peri monyet?” tambah Gluduk Alit terkikik sendiri.

Mendengar ucapan Gluduk Alit, bukan hanya Kumala Sari yang marah, gurunya juga mulai sebal melihat tingkah Gluduk Alit. Sedangkan tujuh tokoh sakti yang berada di atas pohon lainnya melihat tingkah Gluduk Alit geleng kepala dengan perasaan campur aduk. “Wah.. bisa makan hati kalau aku punya murid seperti dia,” kata Ahmed Kalid tertawa masam.

“Kalau aku sudah kebal kakang, tiap hari aku makan hati melihat tingkahnya itu, ada saja ulahnya untuk menarik perhatianku..” kata Ki Daru Geni menimpali.

Sementara Ki Blawu Segara memperhatikan Gluduk Alit dengan seksama, “Hm, ada yang aneh dengan keadaanya.” Gumamnya.

“Bagaimana kakang?” Tanya Ki Daru Geni tak mengerti.

“Aku juga tidak begitu yakin…” ujarnya lirih. “Tapi bakat anak itu tak kalah dengan keturunan kita..” sambungnya.

Ki Daru Geni tersenyum bangga mendengarnya. Tapi Akihiko Yutaka tidak paham. “Maksud kakang?” tanyanya.

“Coba kau perhatikan gerak-geriknya, dari gerakannya saja kita bisa menilai semua syaraf simpul mati dan urat darahnya sudah terbuka. Kalau bukan karena latihan yang sangat berat, tidak mungkin bocah itu bisa membuka simpul itu sendiri…”

“Mungkin saja dapat pertolongan dari tokoh hebat..” timpal Kim Liong.

“Itu sangat mungkin, tetapi andai orang yang menolongnya adalah aku, maka aku butuh waktu dua tahun untuk membuka seratus delapan simpul dalam tubuhnya,” lalu Ki Blawu Segara menoleh menatap adiknya. “Saat  kau lepas dia untuk berpetualang, apakah sudah demikian kondisinya?”

Ki Daru Geni menggeleng. “Cuma ada satu keanehan dirinya yang aku tak paham, tiap kali anak itu berlatih tanding, kekuatan seolah meloncat bertingkat-tingkat. Itu yang aku tidak paham. Dia sendiri juga tidak tahu kondisinya. Beberapa tahun terakhir, aku selalu mencoba menarik potensi anak itu dengan berlatih tanding sampai batas kesanggupannya..”

“Maksudmu sampai kondisinya lemah?” Tanya Ki Blawu Segara.

“Sampai hampir mati…” Sahut Ki Daru Geni dengan nada prihatin.

Terkejut juga saudara-saudara Ki Daru Geni mendengarnya. “Kau tega melakukannya pada muridmu?” Tanya Kim Liong.

“Jika tak kusadari kondisinya, mana mungkin kulakukan itu adik Kim. Apalagi anak itu dasarnya memang suka berlatih tanding, jika tubuhnya masih bisa bergerak, dia akan terus menyerangku…” ujar Ki Daru Geni dengan tawa masam. Ki Blawu Segara tersenyum kecil.

“Marilah kita lihat, bisa apa saja dia…” tukas Dewa Badai. Lalu dia juga memberikan isyarat pada Khu Thian Hai agar tidak menahan adiknya.

Khu Hong Li yang bebas dari sekapan kakaknya, langsung meluruk turun dari pohon. Gluduk Alit yang berada dibawah, terkejut dengan sigap dia berdiri. Pemuda tanggung yang bertubuh jangkung itu buru-buru melompat kebelakang,

“Siapa kau?” tanya Gluduk Alit agak aneh melihat orang yang tidak sama dengan rakyat pribumi. Biarpun baru beberapa hari lalu dia sempat juga bertemu orang yang serupa gadis cilik dihadapannya.

“Aku sang peri!” ketus Khu Hong Li dengan wajah cemberut.

“Oh jadi engkau si mo.. eh, sang peri?” tanya Gluduk Alit dengan mata terbelalak. “Oh Tuhan.. di hadapanku ada seorang peri cilik cantik, apakah dia kesasar, tunjukilah padanya jalan yang lurus… yang mengantarkan dia  pada jalan pulang..” Gluduk Alit berkata seperti orang berdoa dengan kepala di tengadahkan dan tangan diangkat. Semua orang yang sembunyi, tersenyum sebal melihat tingkah pemuda tanggung itu.

“Kau.. kau!” geram Kumaia Sari atau Hong Li, gemas. “Aku yang melemparmu tadi..” kata gadis itu dengan jengkel, sejak semula dia ingin balas menggoda Gluduk Alit tetapi malah dia yang diolok-olok habis-habisan oleh Gluduk Alit.

“O.. jadi kau yang melemparku tadi ya? Eh, apa aku tadi kena lempar ya? Rasanya aku sudah lupa. Tapi aku ingat, kalau tidak salah aku sempat berdoa, jika ada wanita yang melemparku, kuberharap dia banyak anak.. cuma itu yang kuingat…” Kata Gluduk Alit sambil mengetuk kepala berulang kali dengan jarinya, seolah-olah ingatannya memang sudah payah. “Tapi, waduh… kalau tahu orang itu adalah dirimu, aku akan menarik lagi permohonanku.” Sambungnya, dengan berkemak kemik seperti berdoa.

“Kau.. kau kurang ajar!” teriak gadis itu dengan wajah memerah seperti hendak menangis. “Aku.. aku… minta maaf dengan perbuatanku tadi.. tapi kau jangan menggodaku seperti itu!” kata Kumala Sari dengan suara melengking tinggi seperti ingin menangis, kakinya dihentakkan ketanah berulang kali. Dari persembunyiannya, dua orang tua gadis cilik itu menggeleng.

“Wah-wah.. bakalan seru, kalau Hong Li sudah seperti itu biasanya bakal ribut besar…” kata Khu Tiong sambil tertawa.

Gluduk Alit sendiri terhenyak dengan pengakuan gadis cilik itu, begitu juga dengan tujuh orang sakti yang masih ada diatas pohon. Mereka mengira gadis itu bakal melabrak anak itu, tidak tahunya malah meminta maaf.

“Ah nona manis.. aku sejak tadi memang sudah memaafkanmu, tetapi daun yang masuk kemulutku pahit dan lidahku gatal sekali, membuat mulutku berkata tidak karuan, aku juga minta maaf ya..” kata Gluduk Alit dengan membungkukkan badan.

“Bagus, kalau kau juga mengaku salah! Sekarang aku harus menumpahkan kekesalanku padamu!” kata gadis itu dengan berang.

“Lho memangnya, aku salah apa lagi?” tanya Gluduk Alit heran.

“Kau menggodaku habis-habisan!” lalu gadis itu menyerang Gluduk Alit dengan gerakan sangat gesit. Anak ini terkejut melihatnya.

“Wah-wah-wah.. tunggu dulu nona…” Gluduk Alit melompat mundur, tanpa disadarinya lompatan Gluduk Alit itu begitu pesatnya, dan akhirnya pemuda tanggung ini terjengkang, lalu bergulingan, sebelum akhirnya kepalanya nyungsep ke semak-semak. Hong Li diam-diam tertawa geli melihat kondisi lawannya.

Buru-buru Gluduk Alit bangun dan sembunyi di balik pohon, “Eh, jangan buru-buru menyerang, kalau begitu caranya aku menyerah saja. Ada yang mau kukatakan…”

“Mau apa lagi?” bentak Kumala Sari dengan nada berang. Gluduk Alit pelan-pelan keluar dari persembunyiannya.

“Sebenarnya aku tidak menggodamu habis-habisan.. sungguh nona, sebenarnya.. godaanku belum habis…” kata Gluduk Alit tersenyum nakal.

“Kau… kau kurang ajar!” Pekik kumala Sari makin marah, dipikirnya lawannya itu bakal minta maaf, nyatanya masih menggoda saja.

“Baiklah aku minta maaf nona..” kata Gluduk Alit sambil menjura, begitu mendengar ucapan itu, kemarahan Hong Li agak surut. “Aku sungguh minta maaf karena lupa bawa pisang untukmu..” sambung Gluduk Alit dengan bibir menyeringai nakal.

“Kau.. kau.. kau…!” pekik Hong Li marah sekali, dia kira Gluduk Alit sudah jera karena melihat kemarahannya tadi, rupanya pemuda bandel itu malah semakin menggodanya lagi. Kemarahannya makin meledak. Bayangkan saja, gadis cantik seperti dirinya disamakan dengan monyet yang suka pisang? Apa itu bukan penghinaan hebat?

Semua yang bersembunyi disitu jadi makin menggeleng melihat ulah Gluduk Alit. “Bocah ini kalau belum ketemu batunya tak bakal jera..” kata Ki Daru Geni menggeleng-geleng.

Sementara itu Hong Li sudah menyerang Gluduk Alit dengan gerakan sangat cepat, tangannya membetuk cakar. Jurus yang dikeluarkan adalah rangkaian ilmu silat Naga Membelah Langit, yaitu jurus ciptaan kakeknya yang amat dahsyat. Cakar gadis itu menyerang Gluduk Alit tanpa sungkan-sungkan lagi, jari itu mengarah kemata, batok kepala bahkan pusar Gluduk Alit.

Gluduk Alit yang diserang secara mendadak itu tentu saja kelabakan setengah mati, karena bahaya dari jurus gadis itu bukan main-main. Tapi sebagai murid gemblengan Gluduk Alit tak menjadi gugup, Cuma lagak pemuda tanggung ini memang suka menyesatkan lawannya, gerakannya kikuk dan serba keripuhan, tapi dibalik itu semua, Gluduk Alit ternyata menggunakan jurus kesukaannya, yakni Kijang Menunggang Angin. Gerakan itu adalah jurus mengindar paling lihay dari tujuh puluh jurus Lima Satwa Sakti. Hampir di tiap kalangan persilatan mengenal ilmu Lima Satwa Sakti, bahkan sudah merupakan jurus umum yang diajarkan tiap perguruan, tapi tiap perguruan memiliki ciri tersendiri dalam memainkannya, demikian pula dengan gerakan yang di kuasai Gluduk Alit, dia mengekspresikan segala kebebasan gerak dalam tiap dasar jurus itu.

“Aaw…” teriak Gluduk Alit saat jari si gadis hendak menyengat pundaknya, dengan kelitan seperti orang terjengkang, pemuda tangung ini menyeimbangkan gerakannya dengan melompat kebelakang. “Jurusmu hebat sekali nona, aku yakin gurumu orang sakti… Gila!” seru Gluduk Alit makin terkejut karena gerakan gadis itu makin cepat dan serangannya makin brutal.

“Sialan! Guruku bukan orang sakti gila!”

Gluduk Alit nyengir, menyadari si nona salah menangkap maksudnya. “Tentu saja bukan, kalau gurumu gila, dari mana datangnya jurus sakti itu?” serunya di sela-sela serangan si nona. “kau salah tangkap saja, mungkin ada sedikit kotoran di telingamu…”

“Sialan! Sialan! Sialan! Kau pikir aku tuli?!” seru gadis cilik ini dengan serangan kian membadai, kontan saja Gluduk Alit makin keripuhan menghidarinya

“Iya, iya… tentu saja anak semanis dirimu tak mungkin tuli. Sudahlah nona, aku tak bermaksud menggodamu.. tapi aku…”

“Kau kurang ajar!”

“Iyalah.. aku mengaku, aku memang kurang ajar, karena itu aku takut di hajar kau nona..” ujar Gluduk Alit sambil melompat kebelakang dan menghindar pontang panting.

“Awas serangan maut!” teriak Hong Li tidak menanggapi godaan Gluduk Alit.

“Waduh…” teriak Gluduk Alit berlarian kesana kemari, gerakannya kelihatan kocar kacir, tetapi itulah jurus Monyet Kebakaran Ekor, yang juga merupakan salah satu jurus menghindar tangguh. “Ampun nona, aku kan dari tadi tidak menyerangmu.. masa dari niat baikku ini kau tahu, betapa hatiku ini baik, suci, bersih…”

“Bersih gundulmu!” maki Hong Li antara geli dan dongkol. Namun demikian serangannya tidak juga mengendor.

“Iya, iya,, gundulku memang bersih..” seru Gluduk Alit, membuat hati nona cilik ini makin dikili-kili perasaan mangkel, orang-orang yang menyaksikan juga banyak yang terpingkal melihat dua muda-mudi tanggung itu bertarung. Yang satu mengunakan jurus yang sangat apik tapi normative, sedangkan yang lain tak karuan, tapi efektif.

“Sudah.. sudah.. jangan serang aku lagi..” kata Gluduk Alit sambil bergerak kesana kemari. “Paling tidak, berhenti sebentar ya.. aku pengin, aduh…”

“Kau kepengen kabur ya?” timpal Hong Li dengan menyapukan kakinya ke kaki Gluduk Alit, sapuan gadis cilik itu hanya tipuan saja, tak tahunya kaki satunya berjingkat dan menendang wajah lawannya. Karuan saja serangan itu membuat Gluduk Alit harus menghindar dengan bersalto kebelakang.

“Enak saja, kabur! Aku pengen pipis, tahu!”

“Ih, jorooook!” seru Hong Li tambah gemas, seranganya makin menggila. Tubuh gadis cilik itu melesat makin cepat, jika tadi serangan dapat dihindari Gluduk Alit dengan jarak satu jengkal, kini hanya bisa di hindari seujung kuku saja! Tiap serangan gadis cilik itu menimbulkan deruan yang membuat kulit Gluduk Alit perih.

“Kau membuatku jadi makin ingin pi…”

“Diam!” seru Hong Li memotong.

Gluduk Alit nyengir. “Aduh, kalau begini terus, aku boleh balas menyerang tidak?” katanya dengan melenting tinggi, lalu bersembunyi di balik pohon, tapi gadis cilik itu tetap memburu dan tak memberinya kesempatan untuk menghindar lagi.

“Justru itu aku ingin melihat seranganmu, anak penggoda!” seru Hong Li marah dengan nafas terengah, dia bukannya merasa lelah, cuma rasa dongkolnya benar-benar membuat jantungnya seolah berlarian, apalagi semua serangannya yang paling lihay sekalipun tak dapat menyentuh gerakan Gluduk Alit.

Gluduk Alit jadi serba salah, dia ingin serangan gadis itu tidak lanjutkan lagi, cuma cara dia bicara selalu ditanggapi salah olehnya. Kalau dia menghindar terus menerus, lama-lama juga bakal celaka, karena gerakan gadis cilik itu makin cepat, meskipun dengan tanpa sengaja dia memainkan jurus elak milik Sarpo—yang sempat di amati lewat pertarungan, tapi kecepatan lawannya membuatnya tak banyak pilihan kecuali membalas serangan.

“Baiklah kau yang meminta, menghindarlah!” teriak Gluduk Alit. Pemuda itu bukannya maju menerjang, tetapi dia malah berhenti ditempat dengan menghentak kaki ketanah, lalu Gluduk Alit memekik keras.

“Hiaaaah…!” pekikan Gluduk Alit disertai tenaga sakti tak tanggung. Itulah jurus yang dikenal oleh berbagai aliran silat, sebagai Gelap Ngampar atau Auman Singa. Tentu saja Gluduk Alit tidak memahmi ilmu seperti itu, dasarnya pemuda tanggung ini hanya pasang aksi supaya lawannya urung dan tidak mau bertanding lagi, tapi tindakannya yang provokatif itu malah membuat nona cilik itu makin waspada.

Hong Li sangat terkejut menyaksikan Gluduk Alit bisa mengeluarkan ilmu Sai-Cu Ho-Kang (Auman Singa), ilmu itu hanya dapat dikuasai oleh orang yang memiliki hawa sakti teramat kuat, dengan laku yang sangat sulit. Dia pernah melihat kakeknya melakukan hal itu. Melihat gejala tak baik, begitu Gluduk Alit meraung, gadis cilik itu mundur setapak untuk menghindari getaran suara yang terasa menyesakkan dadanya.

Lain halnya dengan Gluduk Alit, semula dia berteriak dengan mengerahkan tenaganya hanya untuk menggertak saja, begitu tanaga dia kerahkan dari sekujur tubuhnya dia merasakan semacam aliran tenaga yang terus berputar tanpa bisa terkendali, dan tak berkesudahan. Itulah yang membuat getaran di tubuhnya tidak mau berhenti.

Wah, gawat! Pekiknya dalam hati. “Nona manis, mundurlah.. tenagaku tak terkendali.. mundur!” teriak Gluduk Alit takut kalau nona itu terkena serangannya. Hong Li memang sudah mencium bahaya, karena itu dia sudah bersiap-siap jika Gluduk Alit menyerangnya. Tapi gadis cilik itu tidak mengerti kenapa Gluduk Alit seperti orang kesurupan seperti itu, dia melihat Gluduk Alit sudah mulai bergerak kesana kemari, dengan gerakan jurus yang sangat cepat dan tak terbilang jumlahnya.

“Anak tengik! Latihan tenaga belum sempurna dikeluarkan begitu rupa.. huh! Itu balasannya kalau senang menggoda orang!” gerutu Ki Daru Geni.

“Tapi bagaimanapun juga, untuk anak sekecil dia, aku merasa kagum adik Geni, terus terang tenaga saktinya hanya selisih sedikit dengan cucuku yang lelaki…” Kata Ahmed Khalid memuji.

Sedangkan Ki Blawu Segara melihat Gluduk Alit dengan menggeleng kepa­la, “Anak aneh, kalau tak melihat sendiri rasanya aku kurang percaya…”

“Memangnya kenapa kakang?’ tanya Kim Liong.

“Kau lihat tenaga yang sedang dihamburkannya? Kalau bukan bocah yang berlatih sangat berat, tak mungkin dia mampu salurkan beban tenaga ke seratus delapan simpulnya. Orang lain yang semua simpulnya sudah terbuka, paling banyak hanya dapat mengalirkan tenaga ketujuh puluh simpul jalan darah saja.. tapi anak itu, kulihat tenaganya timbul tengelam mengisi celah kosong dalam tiap simpul sarafnya. Seperti gelombang, benar-benar aneh…”

“Ya… kelihatannya seperti yang dikatakan kakang Daru, dia memang berlian mentah.” sahut Akihiko Yutaka. Tujuh tokoh sakti itu kembaii memperhatikan Gluduk Alit, mereka mau melihat sampai sejauh mana Gluduk Alit bisa meledakkan hawa murninya.

Dan memang tenaga yang membeludak akibat mengalirnya hawa murni ke seratus delapan simpul, membuat Gluduk Alit bagaikan gentong yang diisi air terus menerus sampai luber. Gluduk Alit sama sekali tidak sadar, bahwa perkembangan tenaganya yang jauh diluar dugaan itu adalah akibat semadi dalam sungai yang beraliran deras.

Apalagi saat bersemadi, Ki Waskita mengharuskan Gluduk Alit agar tidak boleh bernafas biasa, tapi harus bernafas dengan memasukkan tekanan udara keseluruh tubuh, sehingga dapat mendorong berbagai macam cikal bakal penyakit atau hawa busuk yang ada di setiap tubuh manusia.

Tenaga Gluduk Alit terus menggembung besar seperti balon, dan itulah yang membuat tubuhnya tak bisa berhenti dan terasa sangat tidak nyaman, makanya Gluduk Alit harus menghamburkan tenaga yang melimpah dalam gerakan yang bisa membuang tenaga secara cepat dan aman. Dari tujuh puluh jurus Lima Satwa Sakti, sampai Delapan Tapak Pemecah Awan, bahkan ilmu terak­hir yang belum sempurna di kuasai Gluduk Alit juga dia kerahkan, yakni ilmu silat Tinju Akhirat Penakluk Bumi. Gerak bocah itu membuat dedaunan kering beterbangan dan debu mengepul tebal. Kemudian sebagai gerakan akhir, Gluduk Alit menghentakkan tangannya ke batang ponon dengan sekuat tenaga.

Deeesh! Kraaak! Pohon sepelukan orang dewasa hancur berantakan terkena hantaman tangannya, serpihan pohon itu menghantam pohon lain sampai-sampai tertancap dalam! Dari pukulannya tadi, semua orang dapat membayangkan kehebatan tenaga anak tanggung itu.

“Hiaa..” teriakan keras kembali melengking Gluduk Alit hendak memutahkan tenaganya lagi, tetapi sesaat setelah melengking, Gluduk Alit teringat dengan latihan pengendalian tenaga yang diajarkan Ki Waskita, pemuda tanggung itu segera bersila dan berjungkir balik dengan kepala dibawah, lalu dengan gerakan cepat dia juga menotok beberapa bagian tubuhnya.

Melihat cara Gluduk Alit yang amat unik itu, semua orang jadi heran, tak terkecuali Ki Gerah Langit.

“Apakah kau yang mengajarkan itu Adi Daru?” Tanya Ki Blawu Segara.

“Tidak, kurasa ada tokoh lihay di perjalanannya yang membimbing anak itu.” Ujar  Ki Daru dengan tatapan terpana melihat kondisi muridnya.

“Heran! Setahuku, cara meredam hawa sakti itu hanya di miliki kalangan sesat. Tapi biasanya setelah melakukan hal itu, akan muncul tonjolan pada tiap pembuluh darah, seolah-olah hendak membuncah pecah… tapi ini tidak. Dari mana dia mendapat cara meredam tenaga selihay itu? Siapa yang membimbingnya? Atau semua itu hanya kebetulan saja?” gumam Ki Gerah Langit pada dirinya sendiri. Enam tokoh lainnya yang mendengar ucapan Si Mata Malaikat, tercengang.

Agak lama Gluduk Alit menenangkan tenaga yang berlimpah dalam tubuhnya, dan sesaat kemudian Gluduk Alit selesai dengan olah nafasnya. “Hh…” desisnya lepas, pemuda tanggung itu menghentakkan tangan kekanan dan kekiri, sebagai tanda dia menghirup dan mengeluarkan udara bersih dan kotor.

“Maaf membuatmu terkejut,” kata Gluduk Alit sambil menjura. “Kadang aku memang sering keterlaluan, maafkan perbuatanku tadi ya, aku memang senang mengoda, tapi anggap saja godaanku sebagai salam perkenalan, kau jangan marah ya…” kata Gluduk Alit sambi memohon dengan sangat. Mau tak mau Hong Li tersenyum melihat tingkah Gluduk Alit.

“ Sudah… sudah! Aku memaafkanmu..” kata gadis itu dengan wajah cemberut.

“Oh ya, namaku Gluduk Alit.. siapa namamu nona? Apakah Devi Permata Sari atau Paramita Rusadi atau Ineke Kusherawati?”

“Hus, ngawur.. namaku bukan seperti yang kau sebutkan, aku Kumala Sari..” sangut gadis itu sambil bersungut-sungut geli. Kemarahannya tadi sudah sirna, karena Gluduk Alit sungguh-sungguh meminta maaf.

Pemuda tanggung itu tertawa sambil menggaruk kepalanya, “Namamu indah sekali ya?’

“Cis! Kau ini benar-benar perayu…” Desis gadis cilik itu masih dengan muka cemberut. “Kau bukan hanya pintar menggoda—membuat perut sakit, tapi juga pandai merayu…”

Gluduk Alit meringis melihat tanggapan nona cilik itu, baru disadari olennya kehadiran anak sepantar dirinya itu tidak mungkin sendirian, apalagi dia perempuan, sudah tentu ada yang mengiringinya.

“Eh ya Sari, apakah engkau penduduk sini?” tanya Gluduk Alit sok akrab.

“Aku orang jauh, datang kesini dengan kakekku.. dan engkau.. apa kau ini ada hubungan dengan sucouw?” tanya gadis itu.

“Sucouw? Apa itu sucouw? Apa sejenis makanan atau hewan atau sebutan buat orang baik hati seperti aku?!” tanya Gluduk Alit heran, tapi setelah itu pemuda tanggung itu nyengir sendiri.

Hong Li terkikik geli mendengar keheranan pemuda itu, gadis itu juga sekarang mengerti kalau sifat Gluduk Alit memang bukan dibuat-buat, tapi memang dari sananya sudah usil, terbukti dengan pertanyaannya tadi.

“Eh, maksudku… paman kakek Ki Daru Geni?” ralat gadis itu menyadari salah tanggap Gluduk Alit.

“Oh, jadi sucouw itu artinya paman kakek guru ya, eh… apa kau bilang?! Ki Daru Geni adalah paman kakek gurumu? Itu kan guruku, apakah kau ini murid dari kakek Akihiko atau kakek Kinsong?”

“Bukan Kinsong, tapi Kim Liong.. aku cucu kakek Kim Liong Si Naga Emas..” sahut Hong Li gemas.

“Aduh, jadi sejak aku sampai, semuanya sudah ada disini?” tanya Gluduk Alit dengan wajah terperangah.

“Memang benar!”

“Kenapa tidak keluar dari tadi? Aku kan jadi malu dengan kebodohku sendiri..” gerutu Gluduk Alit sambil melihat kekanan dan kiri.

Hong Li tersenyum geli menanggapi perkataan Gluduk Alit, gadis puber itu memperhatikan Gluduk Alit dengan seksama, lama kelamaan hatinya berdesir juga. Anak ini sebenarnya tidak kurang ajar amat, hanya saja karena ada yang mengusilinya terlebih dulu, membuatnya makin gila meng­goda orang yang mengganggunya, pikirnya.

“Anak tengik! Muncul sembarangan, begitu sampai kau buat keributan ya?!’ tiba-tiba terdengar suara dari sampingnya.

“Eh… guru, kakek…” kejut Gluduk Alit sambil menghambur kearah kakek jangkung itu, dan hendak bersujud bakti pada orang tua itu. Tapi Ki Daru Geni malah menghindar.

“Akal busukmu tak akan mempan padaku sekali lagi!” kata kakek itu sambil memegang pinggang celananya erat-erat. Gluduk Alit tertawa geli sambil menggaruk kepalanya, melihat tingkah guru juga orang yang dia anggap sebagai pengganti orang tua. Para sesepuh yang ada disitu semuanya heran dengan maksud ucapan Ki Daru Geni.

“Kenapa kau menghindari penghormatan muridmu kang?” tanya Akihiko Yutaka.

“Huh! Kalau memang mau menghormat, tentu saja aku tak akan menghindar, tapi anak tengik itu.. aku sudah bisa membaca kelakuannya, dia pasti akan menarik celanaku seperti dulu lagi!” gerutu Ki Daru Geni menerangkan sambil bersungut-sungut.

“Ah, guru… tidak mungkin aku melakukannya dikeramaian seperti ini.” Seru Gluduk Alit.

“Tuh, kan…” sungut Ki Daru Geni.

Semua tertawa melihat hubungan guru dan murid yang akrab tapi aneh itu. Kali ini mereka tahu, hubungan guru dan murid macam apa yang terjalin antara orang ketiga Enam Dewa Sakti dengan Gluduk Alit.

“Anak itu lucu ya kak..” bisik Akina pada Kitahara.

“Memang lucu, tapi juga nakal sekali.. kurasa kalau dia mendapat gemblengan kakek, bakal kena hukum terus.” Gadis cantik itu balas berbisik sambil tertawa.

Sementara Gluduk Alit sendiri masih tertegun bengong, melihat pemuda-pemudi yang juga turut serta keluar dari persembunyiannya, Gluduk Alit tertegun kagum, menyadari para pemuda cucu dari Enam Dewa Sakti gagah dan tampan, sedangkan gadisnya cantik-cantik. Kalau tadi Gluduk Alit kagum dengan kecantikan Hong Li, kali ini Gluduk Alit di buat melongo melihat kecantikan, Intan Padmi, Mira Devi, Kitahara, Akina dan juga Asiyah Arifa. Pemuda tanggung itu menatap gadis-gadis yang usianya tak jauh darinya itu dengan bengong.

“Hei kenapa kau ini?” seru gurunya sambil menepak kepala murid bengalnya.

Pletakk! “Auh…” Gluduk Alit tersadar, pemuda tanggung ini menggeregap dan menggeleng-gelengkan kepala untuk berapa saat lamanya. “Kek, tolong cubit aku..” pintanya.

“Haaah?!” gurunya terbelalak heran, yang lain juga tak mengerti dengan perintaan aneh Gluduk Alit. “Kau sehat-sehat sajakah?” Tanya Ki Daru Geni dengan senyum sudah membayang dibibirnya.

“Tentu saja aku sehat!” sahut Gluduk Alit cemberut. “Sekarang tolong cubit aku kek…”

“Dasar bocah sinting..” gerutu Ki Daru Geni. Lalu kakek itu mencubit pantat Gluduk Alit sekeras mungkin saking gemasnya.

“Adaaaaw..” Gluduk Alit terpekik sambil melonjak. “Wah, hebat! Aku tidak bermimpi.. aku tidak mintpi! hahaha…” seru anak ini berkeplok.

“Kenapa dia?” tanya Himuro pada Takeshi.

“Entahlah..” gumam pemuda itu menggeleng.

“Anak tengik, kau sedang bermain apa hah?!” bentak kakeknya merasa jengkel dengan tingkah Gluduk Alit yang bikin malu.

“Aku… anu kek, kupikir aku sedang bermimpi telah berjumpa dengan Enam Dewa Sakti, juga dengan keturunannya yang gagah dan cantik, tapi nyatanya aku tak bermimpi sama sekali.”

“Eh, aneh sekali kau ini, bukannya aku juga salah satu Enam Dewa Sakti, kenapa tidak setiap hari kau merasa bermimpi?” sungut Ki Daru Geni sebal.

“Itu.. itu sih beda kek, tiap hari ketemu.. kurang penyegaran.” Cetus Gluduk Ali nyengir.

“Kurang penyegaran dari mana? Bukannya tiap hari kau sudah kuajar sampai habis-habisan?”

“Wah kakek ini tidak tahu jiwanya orang muda, lihat saja kek, bagaimana aku merasa bagai mimpi kalau tiba-tiba saja aku ternyata punya saudara gagah-gagah? Dan yang paling penting, saudari yang cantik-cantik.. benar-benar membuat hati gembira!” kata Gluduk Alit sambil tertawa dengan mata mengerling nakal pada enam gadis cucu Enam Dewa.

“Ih…” seru Mira Devi dengan wajah merah. “Bukan cuma nakal, rupanya dia juga bisa genit.” katanya pada Aisyah Arifa.

“Sejak semula aku memang menduga dia bukan pemuda sopan,” sahut gadis cucu Ahmed Kalid dengan wajah masam.

Suasana jadi makin hangat semenjak kedatangan Gluduk Alit. Pemuda tanggung itu memang paling cepat menyesuaikan diri. Orang yang pertama Gluduk Alit dekati adalah orang tua dari Hong Li dan orang tua Intan Padmi. Tentu saja Gluduk Alit mendekati mereka bukan tanpa maksud. Pemuda tanggung ini sadar, untuk mengenal anak-anaknya lebih dalam lagi, maka orang tualah yang pertama kali harus dikenal dengan baik.

Kemudian Enam Dewa Sakti beserta Ki Gerah Langit dan seluruh keturunannya, duduk berkeliling. Setelah mereka berkumpul, akhirnya Ki Blawu Segara berdiri untuk membuka pertemuan.

“Nah, lengkap sudah semuanya, setelah kalian saling mengenal, sesaat lagi kita akan melakukan ujian dan latihan tanding..” ucap Ki Blawu Segara. “Aku persilahkan siapa yang ingin memperkenalkan diri lebih dulu.”

Begitu Ki Blawu Segera selesai bicara, Gluduk Alit segera berdiri dan memandang berkeliling pada cucu keturunan Enam Dewa Sakti.

“Terima kasih untuk kesempatan pertama ini…” katanya dengan memasang muka tembok. Wajah Ki Daru Geni sudah kecut melihat tingkah muridnya, di depan orang banyak dia agak sungkan membentak muridnya. Dia cuma berdoa, semoga muridnya tidak membuatnya malu. “Ini adalah kesempatan yang sangat baik, sungguh tak terhingga rasa syukurku kepada Tuhan karena dipertemukan dengan saudara-saudari yang mimpipun tak pernah berani kulakukan.” Kata Gluduk Alit dengan formal, membuat gurunya tertawa. ‘bisa juga anak setan ini bicara baik-baik.’ Pikirnya.

“Karena Kakek Blawu Segara sudah mempersilahkan, biarlah aku membuka perkenalan pertama ini, namaku Gluduk Alit…” tiba-tiba saja Gluduk Alit menoleh pada Ki Daru Gem. “Kek, benar ya?”

Gurunya menggumam. “Tambah, dengan Wijaya..”

“Mohon maaf, ternyata namaku Gluduk Alit Wijaya..”

“Tidak pakai Gluduk!” seru Ki Daru Geni.

“Lho… tapi sejak dulu kakek memanggilku Gluduk Alit.” Tukas Gluduk Alit membela diri.

“Itu karena kau jadi bocah terlalu cerewet dan mulutmu itu tidak bisa berhenti bicara konyol..” Ki Daru Geni baru sadar kaiau dia bicara terlalu panjang.”Sudah, sudah! Kau teruskan lagi!” sungut Ki Daru Geni merasa gemas dengan kelakuan muridnya yang satu itu.

Perang mulut yang singkat itu menjadi suasana makin cair dan tidak kaku, karena bagaimanapun juga keturunan Enam Dewa Sakti sebelumnya tidak saling mengenal, dan dengan adanya kejadian itu, mereka jadi lebih berani untuk membuka percakapan. Karena sedari tadi mereka mengira situasi pertemuan ini melulu diliputi keseriusan.

 

“Baiklah, karena menurut kakek aku ini anak yang bicara sedikit lebih banyak dari orang lain, lebih baik aku memperkenalkan diri sebagai Gluduk Alit saja.. dan sewaktu ujian nanti, aku tidak akan kalah dari siapa saja. Lihatlah ini..” Gluduk Alit mengambil sesuatu dari bajunya, ternyata yang di keluarkan adalah pisau yang memilki panjang sekitar satu jengkal. Pisau itu mengelurkan sinar berkilat pertanda sangat tajam.

“Siapa diantara saudara sekalian yang tidak mempan di tembus benda setajam ini?” tanya Gluduk Alit dengan pandangan mata berkeliling.

Tentu saja semua muda-mudi keturuanan Enam Dewa Sakti tidak mau menyahuti omongan Gluduk Alit, Pertama karena harga diri mereka bisa terluka, sebab hanya tokoh-tokoh tinggi sajalah yang memiliki tenaga sakti untuk menahan tembusnya benda setajam pisau itu, tentu saja mereka tak bisa menahannya. Kedua, mereka tak mau menyahuti omongan Gluduk Alit, karena takut kena dikibuli pemuda tanggung banyak akal itu.

“Baiklah, aku rasa saudara sekalian sanggup menahan goresan pisau ini, dan aku juga ingin menunjukan seperti hanya saudara sekalian, tidak bisa ditembus dengan tenaga dalam atau senjata paling tajam sekalipun!” Gluduk Alit bicara dengan sungguh-sungguh. Semua muda mudi yang ada disitu juga sedikit banyaknya percaya, karena dari demonstrasi Gluduk Alit saat menghancurkan pohon, mereka sudah yakin dengan kehebatan tenaga sakti Gluduk Alit. Cuma saja mereka sedikit tidak senang karena Gluduk Alit terlalu menyombongkan diri, ada yang melihat tingkah Gluduk Alit dengan tersenyum sinis.

Sementara Gluduk Alit sudah memulai aksinya. “Lihat!” serunya, dengan gerakan cepat, Gluduk Alit menghinjamkan pisau itu kedadanya.

“Hei…” Ki Daru Geni berseru kaget.

Jlub! Pisau itu tertanam di dada Gluduk Alit sampai ke pangkalnya, tetapi Gluduk Alit seperti tidak merasakan apa-apa. Bocah itu melepaskan pisaunya, pisau itu terlihat menancap di dadanya. Semuanya melihat dengan mata terbeliak, karena melihat pisau itu terbenam sampai kepangkal, bahkan tadi yang melihat dengan senyum sinispun, jadi bengong.

“Lihat, aku cukup sakti bukan?!” ujar Gluduk Alit sambil tersenyum-senyum.

“Anak tengik!” seru Ki Gerah Langit. “Ulahmu boleh juga, biar aku yang menancapkan pisau itu diperutmu..” tantang Ki Gerah Langit dengan wajah bersungguh-sungguh.

“Boleh, Kek.. dipersilahkan.” Seru Gluduk Alit dengan gagah berani mencabut pisau dari dada dan memberikannya pada Ki Gerah Langit. Lalu dengan gerakan cepat, Ki Gerah Langit menusuk Gluduk Alit.

Jiub! “Akkh…“ Gluduk Alit menjerit dan jatuh terlentang, pisau itu menusuk perutnya sampai amblas, dan dari perut Gluduk Alit merembes warna merah.

“Anak tengik!” seru Ki Daru Geni kaget, Ki Blawu Segara-pun terlihat sangat terkejut, begitu juga dengan orang lain. Si Tinju Sakti segera memburu Gluduk Alit yang sedang kelojotan. Begitu hendak menyentuh muridnya, tubuh Gluduk Alit bergeser satu meter lalu bocah itu berdiri.

“Hihihi… hebat bukan?!” bocah itu berdiri seperti tidak kena apa-apa, dengan enaknya Gluduk Alit mencabut pisau yang menusuk perutnya. Semuanya melihat Gluduk Alit dengan pandangan takjub, kecuali Ki Gerah Langit yang melihat Gluduk Alit dengan tersenyum geli.

“Pertunjukan bagus kan?” tanya Gluduk Alit pada Ki Gerah Langit, lalu dari perutnya, Gluduk Alit keluarkan buah manggis yang selalu dia bawa kemana-mana. Anak itu memang memiliki stok manggis yagn cukup banyak, selain dia suka buahnya. Kulitnya bisa dipakai untuk beraksi menipu musuh. Beberapa pasang mata yang melihat dengan pandangan heran dan penuh tanya—karena ada warna merah di perut Gluduk Alit—segera mereda rasa penasarannya.

“Memang bagus sekaii,” sahut Ki Gerah Langit. “Tapi..”

“Tapi? tapi apa kek?” tanya Gluduk Alit sambil tersenyum nakal seperti biasanya.

“Boleh kulihat pisaumu?”

“Tentu saja..” dan Gluduk Alit menyerahkan pisau itu pada Mata Malaikat. Kakek itu melihatnya dengan seksama, dan dia menekan bulatan kecil pada gagang pisau. Slub.. batang pisau itu masuk kedalam, ternyata pisau belati Gluduk Alit bekerja seperti pisau lipat. Bocah berotak cerdik itu telah mengubah sedemikian rupa pisau yang selalu dia bawa kemana-mana, yang dia gunakan sebagai pengupas buah atau kebutuhan lainnya.

“Wah-wah-wah.. rahasiaku ketahuan ya..” kata Gluduk Alit tertawa berderai sambil garuk-garuk kepalanya. Semua orang melihat Gluduk Alit dengan padangan mata terbelalak, air muka mereka terlihat seperti orang yang menahan ketawa.

“Tidak percuma saudara Gerah Langit berjuluk Mata Malaikat,” kata Ahmed Khalid sambii tertawa, kakek wajah ramah itu menepuk pundak sahabatnya. “Akupun tadi sempat terkejut dengan pertunjukan murid adikku, kupikir bocah itu benar-benar hebat.. tetapi otaknyalah yang paling hebat..” Ki Gerah Langit hanya ter­senyum mendengar ucapan sahabatnya. Sementara Ki Daru Geni sudah uring-uringan, wajahnya cemberut.

“Kau memang setan tengik!” dengus Ki Daru Geni mendekati anak itu. “Bikin orang tua jantungan saja!” katanya sambil menjewer telinga Gluduk Alit. Bocah itu hanya bisa meringis kesakitan. Sedangkan muda mudi yang sedari tadi terkejut karena ulah Gluduk Alit, kini tersenyum tanpa disembunyikan lagi.

Melihat muda-mudi itu tertawa. Gluduk Alit juga ikut tertawa. “Nah, begitu seharusnya… jangan terlalu tegang.” Seru pemuda tanggung ini sembari mengacungkan jempol di sela-sela jeweran gurunya. Barulah orang-orang paham kenapa Gluduk Alit bertingkah penuh aksi, rupanya ulahnya untuk mencairkan suasana para cucu keturunan Enam Sakti Dewa yang terlalu serius.

“Kenapa kau membuat alat seperti itu hah?!” tanya Ki Daru Geni dengan wajah dibuat gusar.

“Itu memudahkanku kalau ada apa-apa.” sahut Gluduk Alit tenang-tenang.

“Memudahkan bagaimana?” tanya Ki Gerah Langit mendesak.

“Begini Ki,” Gluduk Alit mulai menjelaskan. “Selama dalam perjalananku satu tahun terakhir, aku banyak bertemu dengan orang tak beres, sudah ada belasan orang sok jago berprofesi sebagai rampok-rampok tengik harus bertekuk lutut di depanku tanpa aku perlu berkelahi. Mengeluarkan tenaga untuk menghadapi orang-orang seperti itu, merepotkan sekali! Jadi setelah kupikir kesana kemari, cukup dengan membuat pisau itu dan ini…” Gluduk Alit mengeluarkan gumpalan berbentuk jamur yang sudah dikeringkan dan diberi bahan perekat yang dibuat khusus sehingga bagitu mirip kuiit asli. “Masalah sudah bisa terpecahkan… aku juga menghemat tenaga.”

“Pisaunya kek..” Gluduk Alit meminta pisaunya yang dipegang Ki Gerah Langit. “Begini caraku menakut-nakuti mereka.” Gluduk Alit memaparkan gumpalan itu di sepanjang lengan, saking tipisnya lapisan itu, tidak kentara jika di lengan anak itu ada benda yang ditempelkan. Lalu, Sret! Pisau itu dia sayatkan dengan cepat sehingga seakan-akan merobek kulit dan mengeluarkan darah.

“Kau menakuti mereka dengan mainan seperti ini?” tanya gurunya heran juga tak mengerti bagaimana Gluduk Alit bisa membuat ketrampilan sebagus itu.

“Benar kek! Tentu saja aku tak sudi melukai badan sendiri…” kata Gluduk Alit dengan nyengir. Lalu tangannya mengusap, lapisan berbentuk jamur dengan berbagai macam campuran perekat, yang dipaparkan di tangan tadi sudah menjadi gumpalan lagi. Bagi mereka yang tidak paham, seolah melihat Gluduk Alit bisa menyembuhkan luka dalam sekejap.

“Tentu saja aku tidak akan melakukan hal ini terus menerus, bagaimanapun bodohnya orang jika aku melakukan trik yang sama, dia pasti akan menyadarinya.“ Sambungnya. “Apalagi jika harus menghadapi tokoh-tokoh sakti seperti kakek atau paman kakek sekalian, tentu saja mainanku tidak berguna, tapi untuk jagoan tengik dan orang tolol, pasti jurus tipuku ini cukup manjur, dan sekali gertak, mereka bisa ngacir!”

“Huh! Bocah sinting, mainanmu benar-benar bisa membuatmu masuk kubur lebih cepat!” gerutu Ki Daru Geni sambil menepuk-nepuk kepala muridnya, pertama dia bangga dengan apa yang didapat muridnya selama setahun pengembarannya.

“Bagaimana kau bisa mendapat akal seperti itu?” tanya Ki Gerah Langit penasaran melihat kecerdikan calon muridnya.

“Oh, itu gampang Ki, semua orang dapat melakukan trik ini, aku belajar dari tukang kayu dan tukang batik, mereka bisa membuat bahan caapuran-caapuran yang sangat bagus dan terlihat aneh, seperti yang tadi kuperlihatkan. Tentu saja perlu perjuangan dan rayuan untuk pelajari itu dari mereka, aku memastikan pada mereka, bahwa apa yang kupelajari tidak untuk menyaingi usaha mereka..” jelas anak ini mendapat sambutan tawa beberapa orang. “Jadi, aku mengambil kesimpulan, ilmu silat bukanlah segalanya, tidak musti ilmu silat melulu yang harus kupelajari, ketrampilan yang lainnya juga sangat penting untuk bertahan hidup…” kata Gluduk Alit sambil diakhiri seringaian seperti biasa.

“Sok pintar!” sungut gurunya sambil menyepak pantat muridnya. Gluduk Alit mengelak sambil tertawa. “Anak tengik ini sudah memperkenalkan diri pada kalian semua, sekarang giliran kalian..” kata Ki Daru Geni

Muda-mudi cucu keturunan Enam Dewa Sakti terhenyak sadar dengan ucapan Ki Daru Geni. Mereka yang ada disitu bisa dikatakan orang pandai dalam segala bidang karena pendahulu mereka adalah orang-orang terpelajar. Tapi melihat keahlian Gluduk Alit dan kecerdikan pemuda tanggung itu, mau tak mau mereka harus berpikir ulang jika harus mengadu akal dengan bocah yang banyak muslihatnya itu.

Dalam hati mereka memuji kecerdi­kan Gluduk Alit yang kurang ajar itu. Tapi mereka masih menyangsikan kemahiran Gluduk Alit dalam ilmu silat. Biarpun tadi sudah melihat per­tunjukan tenaga yang hebat dan gerakan pesatnya.

Karena semua orang, pesilat pada umumanya tahu, kalau setiap orang yang belajar ilmu silat tinggi, dapat meledakkan tenaganya dengan cara mengumpulkan hawa sakti dalam sesaat, kemudian menghentakannya. Jadi belum tentu jika tenaga sakti orang tersebut, lebih hebat dari tenaga yang diledakannya. Karena tiap tenaga ledakan berkali lipat dari kekuatan asal—tergantung kesanggupan masing-masing dalam mengolahnya, lagipula pergerahan ledakan hawa sakti itu sangat menguras tenaga dan terjadi tidak bisa dilakukan tiap saat.

Demikian pandangan para keturunan Enam Dewa Sakti, pada Gluduk Alit. Mereka mengira tenaga dahsyat Gluduk Alit tadi merupakan tenaga ledakan, mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa tenaga asli Gluduk Alit paling tidak seperempat bagian dari tenaga ledak tadi. Bahkan cucu paling tua dari Ki Blawu Segara berpikir, Gluduk Alit memiliki kecer­dikan luar biasa untuk menutupi kekurangannya dalam segi ilmu silat.

Perkenalan terus berlanjut, akhirnya semua keturunan Enam Dewa Sakti sudah saling mengenal, mereka jadi lebih akrab lagi. Tapi tanpa mereka sadari, bahwa yang menjadi perekat keakraban mereka adalah Gluduk Alit. Karena pemuda tanggung ini dengan gayanya yang luwes sangat mudah bergaul, dia melibatkan satu pembicaraan dengan pembicaraan lain, begitu mereka sudah ‘klik’, Gluduk Alit mundur teratur memberi ruang pada mereka. Saking luwesnya cara pemuda tanggung ini membawa diri, tak satupun menyadari, bahwa luluhnya pembicaraan satu sama lain, ‘akibat’ digasak-gesek-gosok anak ini.

 

Sementara ketujuh tokoh sakti itu saling berunding untuk menentukan pola ujian yang akan ditempuh hari pertama.

“Baiklah, sekarang kalian berkumpul!” perintah Ki Blawu Segara dengan berwibawa, setelah para cucu muridnya berkumpul, kakek ini menyambung lagi. “Kami memutuskan hari ini juga akan diadakan uji ketangkasan dan kelincahan. Sebagai tolok ukur, kalian harus menangkap burung yang sedang terbang, sebanyak mungkin. Kedua, setelah kami beri tanda, dengan serentak kalian harus berpencar ke segenap penjuru untuk mencari daun berbentuk segi lima, berwarna hijau tua… ingat! Kalian hanya boleh membawa dua lembar saja, tidak lebih! Kami beri waktu hingga petang nanti. Ada pertanyaan?”

Suasana terlihat senyap, tapi di barisan belakang sana, Gluduk Alit sambil berjinjit langak longok mengacungkan tangannya. “Aku ingin bertanya kek…” serunya.

“Apa yang mau kau tanyakan?”

“Jika yang diujikan lewat dari waktu yang telah ditentukan, apakah akan diuji ulang atau kita diharuskan menyelesaikannya?”

“Itu saja?” kata Ki Blawu Segara.

“Apakah ada hukuman sebagai bentuk kepatuhan?” sambung Gluduk Alit bertanya lagi.

Kembali orang-orang dibuat tercengang dengan hal-hal kecil yang bisa ditangkap oleh pemuda nakal itu. Caranya bertanya benar-benar mewakili apa yang terbetik dihati peserta lain.

“Baik, dengarkan. Mengenai hukuman sebagai bentuk kepatuhan akan kami pikirkan belakangan saja. Mengenai ketepatan waktu, itu adahah harga mati tidak bisa ditawar. Begitu kalian mendapatkannya, segera kembali, apapun yang terjadi!”

“Tapi, jika aku harus terlambat, karena sesuatu hal, apakah tidak apa-apa?”

“Usahakan jangan terlambat!” timpal Ki Daru Geni. “Dan kau jangan mencoba bertingkah aneh-aneh!”

Gluduk Alit nyengir salah tingkah, “Aku ada pertanyaan lagi, boleh?”

“Apa lagi?!”  ujar Ki Blawu Segara sabar.

“Daun yang di maksud itu, boleh kusebutkan namanya?” tukas Gluduk Alit.

“Memangnya kau tahu namanya?” Tanya Ki Blawu Segara dengan heran.

“Tidak begitu yakin, tapi kalau boleh kuduga…” Gluduk Alit melihat isyarat dari Ki Blawu Segara, melihat orang tua itu mengangguk, maka sambungnya. “Mungkin saja daun yang kakek maksud tadi adalah Tapak Gajah?”

“Benar!” sahut Ki Blawu Segara heran. Sebenarnya kakek ini ingin bertanya dari mana Gluduk Alit tahu nama daun itu. Jangan-jangan anak nakal itu tahu maksud dari ujian mengambil daun itu? Pikirnya. Tapi pertanyaan itu tak diungkapkannya, bagaimanapun juga dia harus menjaga wibawa didepan orang banyak.

“Terima kasih kek,” kata Gluduk Alit sambil tersenyum penuh arti. Gerak-gerik anak ini tidak lepas dari pantauan Aisyah Arifa, gadis cantik cucu Kakek Ahmed Khalid.

“Dari tingkahnya, aku yakin dia tahu tempat daun itu,” bisik gadis berwajah lonjong itu pada Intan Padmi.

“Apakah kau akan mengikuti anak tengil itu?” Intan Padmi balas bertanya.

“Tidak! Rasanya dengan kecepatanku, aku yakin dapat bisa dapatkan daun itu dalam waktu singkat, hanya saja aku penasaran dengan anak banyak akal itu!”

Intan Padmi mengangguk membenarkan, dalam hatinyapun dia pena­saran dan sangat ingin menguji sampai dimana kelihayan Gluduk Alit.

“Kini saatnya kami tentukan ujian pertama bagi kalian. Ingat, cara kalian mendapatkan burung tidak boleh keluar dari lingkaran yang sudah kami buat.” Kata Ki Blawu Segara memperingatkan. “Wingit Laksa sebagai yang pertama!” sambungnya seraya menyingkir beserta enam sesepuh lainnya.

About jannotama

seorang penyuka cerita silat.. dan akhirnya menjadi penulis silat. bergenre aneh, menyebalkan, mumeti, bikin eneg, tapi katanya ngangeni.. hoho
Quote | This entry was posted in Petualang Bengal and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to 05 – PB : Reuni Enam Dewa Sakti

  1. syiro says:

    Episode yang bikin saya sakit perut :D

Komentnya ya broooo....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s