125 – Epilog Domino Effect [ii-tamat]

Jaka mengamati dengan seksama, sejauh ini dia pun memiliki pertimbangan sendiri, pemuda ini sudah cukup membuat lawan menjadi dongkol, dan sejauh ini dia masih berminat untuk meneruskannya—meski kawatir jika Ekabaksha sekalian menjadi korban.

Keheningan diantara mereka membuat pikiran Jaka lebih terbuka, ketenangan yang biasa menjadi bagian dirinya perlahan kembali. Setiap sudut ruangan yang diselidikinya perlahan terpampang di benak. Menyusun sendiri fakta-fakta yang pada akhirnya menjadi pertimbangan tindakan lanjutan. Senyum Jaka makin lebar.

“Aku sungguh bodoh…” katanya tergelak. Rupanya dampak psikis akibat pertarungan sebelumnya, ternyata membuat nalar juga ikut terguncang.

Sang lawan melihat Jaka dengan tatapan terheran.

“Kau memang bodoh! Tidak menyadari situasi ini!” timpalnya dengan perasaan bingung.

Jaka masih tertawa. Tapi perlahan-lahan uap yang menyelimuti wajahnya menipis, bersamaan dengan itu sang lawan bisa merasakan hentakan energi padat mulai merembes dari sela-sela tubuh Jaka. Tenaga itu menjalin berpilin dengan tekanan merata pada tiap inci tubuh sang lawan. Dia merasa terancam, tapi tindakan Jaka selanjutnya membuat dia makin tidak paham. Pemuda ini membalikan badan, mengacuhkan lawan begitu saja mengambil teko di sudut ruangan lalu menuangkan isinya.

“Mari minum dulu, tak perlu tegang begitu. Kau tadi mengatakan ingin mencari orang. Aku bisa bantu, meskipun kawan-kawanku tidak ada padamu.” Ujar Jaka sambil menyesap minuman.

“Kau mengatakan seolah mengetahui kejadian sebenarnya. Orangmu…”

“Orangku tidak ada padamu!” potong Jaka dengan percaya diri.

“Harus dengan apa aku menyatakan kesungguhan kabar ini?!” teriak orang ini dengan kemarahan meledak-ledak, Jaka bisa merasakan ketajaman hawa sakti sang lawan menyambar dirinya. Dengan tenang Jaka melemparkan cawan berisi air. Cawan itu melayang berputar perlahan seperti di pegang oleh orang yang kasat mata.

“Kubilang, minum dulu. Tenangkan pikiranmu!” tandas Jaka membuat orang tu terperanjat. Bukan karena kalimat getas sang lawan, tapi karena cawan yang berpilin itu menerobos wilayah pertahanan hawa saktinya dengan begitu mudah.

Mau tak mau tangannya terjulur menerima cawan itu dengan pengerahan tenaga. Kreeek! Cawan itu hancur, mencecerkan air yang tiap titiknya tak jatuh kebawah, melainkan terburai mengambang dan menguap. Lelaki itu mengerutkan kening, dia merasa tertipu. Dikiranya cawan itu masih sarat dengan tenaga, tapi nyatanya saat terpegang, tenaga yang mendorong cawan itu lenyap sama sekali. Ini memaksanya berpikir ulang, untuk menekan Jaka dengan kekerasan. Sebab dia sangat paham dengan jenis hawa saktinya, setiap tenaga lawan dapat di netralkan begitu membenturnya, tapi orang itu bisa menyusupkan cawan kedalam lingkaran hawa saktinya, dan dengan perhitungan menakjubkan bisa menetralkan tenaga yang menyelubungi cawan, membuatnya terkecoh harus menghancurkan cawan dengan tanaga sakti. Untuk kalangan tertentu, melihat pola tenaga lawan bisa dikatakan sebagai keuntungan di muka. Meski dia menyangsikan ada orang yang bisa melawan himpunan hawa saktinya. Tapi melihat apa yang sudah dilakukan Jaka, kemungkinan besar, orang itu termasuk dalam kalangan tertentu yang sedikit itu.

Jaka tersenyum tipis. Harus diakui, dalam kondisi tertentu tenaga sang lawan ini membuat dirinya di lain hari mungkin akan berpikir ulang untuk langsung membenturnya—Jaka lebih suka menghadapi dengan akal, tapi pertempuran terakhir membuat Jaka memiliki pegangan untuk menghadapi lawan semacam apapun. Kesadaran yang terbentuk akibat pertarungan dengan penghuni pondok bambu, membuat Jaka memiliki kazanah pengertian jenis hawa sakti yang baru, dan saat ini dia rasakan manfaatnya. Mungkin, karena penghuni pondok bambu sudah menyerap puluhan jenis tenaga murni, dengan sendirinya membuat pemuda ini di paksa untuk memahami tenaga sang lawan. Dan hasil pertarungan bila hari itu, membuat pandangan Jaka menjadi lebih terbuka terhadap ilmu-ilmu lawan.

Orang itu duduk dengan perasaan campur aduk, di hadapan Jaka.

Pemuda ini masih tersenyum simpul. “Jadi menururtmu apakah Keluarga Keenam itu mudah dibuat mainan?” sebuah pertanyaan yang menohok.

“Hmk!” dengus orang itu tak sanggup menjawab.

“Aku hanya salah satu dari orang-orang yang di pimpin oleh beliau. Kuharap kenyaatan ini bisa menjadi pertimbanganmu saat ingin menghubungan dengan Keluarga Keenam.” Kata Jaka dengan datar, melemparkan fakta palsu.

Suasana kaku dan hening membuat sang tamu menjadi tak kerasan. “Kau tahu orang macam apa yang kucari?” akhirnya dia memecah keheningan.

“Tidak. Dan apakah kau tahu, orang macam apa yang menjadi kawan-kawanku?” Tanya Jaka.

“Maksudmu?”

“Apakah kau melihat, apakah kau berbincang langsung, dengan penghuni rumah ini?” Tanya Jaka lagi.

“Untuk apa? Tidak ada perlunya aku turun tangan langsung!”

Jaka tertawa. “Itulah yang kumaksud!”

Sang tamu termangu, pantas saja si tuan rumah berkeras orang-orangnya tidak ada pada dirinya.

“Tapi kan sama saja?”

“Bagaimana jika orang yang kau anggap sebagai anak buah, ternyata anak buah orang lain?”

“Omong kosong!” sentaknya.

“Bagaimana ciri anak buahmu?” Tanya Jaka dengan runtut.

“Kau pikir aku gila, mau menyatakan padamu? Dan kau akan melacak mereka?” dengusnya sinis.

“Bukan. Maksudku begini, bagaimana ciri kemampuan anak buahmu? Apakah kemampuannya tak jauh beda dengan dirimu? Maksudku… cara yang kalian lakukan sama?”

Pertanyaan Jaka membuat sang tamu mengerinyitkan dahinya. Dia bukan orang bodoh. Dan pertanyaan itu membuatnya terkesip. Pantas saja Jaka membuat dirinya ‘dipaksa’ menghancurkan cawan. Rupanya ciri serangannya sedang diteliti oleh si tuan rumah. Dengan pandangan berkeliling dia memeriksa kekacauan yang terjadi diseluruh ruangan.

Setiap benda yang porak-poranda dan hancur berantakan, masih menyisakan sisa pecahan-pecahan yang berhamburan kesana kemari, jika itu disusun lengkap, pecahan itu tidak ada yang hilang. Tapi jika dirinya atau anak buahnya yang melakukan kekacauan, pastilah tidak tersisa lagi serpihan kecil. Sebab tenaga sakti mereka bisa meleburkan benda yang tersambar olehnya.

“Kini kau mengerti, kenapa kukatakan orangku tidak ada padamu?”

Sang tamu tidak menjawab.

“Aku tidak sedang mengatakan bahwa dirimu sedang dipermainkan orang, atau anak buahmu ternyata berkhianat.” Kata Jaka memojokkan sang tamu. “Yang ingin kusampaikan, ada orang yang sudah menahan orangmu sebagai jaminan, dan dia melemparkan dirimu kepada Keluarga Keenam.”

Sang tamu menatap Jaka dengan pandangan terperangah.

“Untung saja Keluarga Keenam adalah orang-orang bijaksana. Kami memang pembunuh, tapi kami membunuh orang-orang yang layak untuk di lenyapkan. Orang-orang yang tidak diperlukan di bumi ini lagi.” Tutur Jaka membuat lidah sang tamu makin terkunci.

“Aku justru mencemaskan anak buahmu. Kemungkinan besar, orang yang mengarahkan dirimu datang kesini—jika dia anak buahmu, pastilah hanya wajahnya saja yang mirip. Jika dia bukan anak buahmu, pastilah kau sedang dijebak dalam intrik yang mereka bangun.” Tutur Jaka sambil menyesap air lagi, kali ini dia menyediakan cawan yang baru dan menuangkannya pada sang tamu. “Kami, Keluarga Keenam di wilayah ini sedang meluruskan rencana keji yang sedang di gagas orang lain. Jelas pihak ini merasa terganggu dengan tindakan kami, maka… kau yang tidak ada sangkup pautnya pun di hadirkan untuk menghambat pekerjaan kami. Kurasa saat ini, kaupun bisa mengambil kesimpulan jika orang yang sedang kau cari juga di tahan mereka…”

“Tapi siapa mereka?” akhirnya sang tamu bertanya dengan suara serak.

“Dari mana kau tahu tempat ini?” Jaka tak menjawab, tapi balas menyelidik.

“Dari anak buahku.”

“Kau perhatikan orangnya? Atau kau mendapatkan surat?”

“Sebuah surat.” Jawabnya pendek.

“Hm… pastinya surat ini di bubuhi lambang kelompokmu, yang membuatmu percaya.” Gumam Jaka. “Aku bisa menyimpulkan yang menggagas masalah ini datang dari siapa…”

Sang tamu cukup tahu diri untuk tidak bertanya ‘siapa dia’—meskipun perasaan ‘tahu diri’ itu lebih bersifat kawatir begitu melihat kemampuan si tuan rumah.

“… aku bisa membantumu, tapi ini bukan bantuan yang cuma-cuma.” Tukas Jaka di akhir kalimat.

“Kau minta apa?” sambarnya buru-buru.

Jaka tersenyum simpul, melihat begitu sembrononya si tamu dan begitu khawatirnya dia, Jaka bisa menyimpulkan orang yang di cari, kalau bukan anak ya istrinya.

“Belum bisa kukatakan sekarang, tapi ada baiknya kau jelaskan ciri-ciri orang yang ingin kau cari, disini…” dari bawah puing-puing meja, Jaka mengambil kain bahkan sedang mencari-cari arang tulis.

“Tak perlu repot-repot. Kau tinggal baca saja.” Ujar sang tamu sambil menyerahkan lembaran rontal, tensi sang tamu kini sudah tidak meledak ledak lagi.

Jaka meneliti lukisan wajah itu dan membaca apa yang ada didalamnya, benarlah dugaan dia, yang dicari ternyata anaknya! Di akhir keterangan ada tulisan. Goresan membuat tanda semacam obor, dengan jumlah garis… tujuh.

“Garis Tujuh Api?” Tanya Jaka.

“Kau tahu ternyata….” Ujarnya dengan terheran-heran.

Jaka tersenyum. “Aku cukup memahami kelompok Garis Tujuh Lintasan. Anggap saja karena kita masih berhubungan jauh, aku akan membantumu cuam-cuma.”

Atas pernyatan Jaka, sang tamu tampak terperangah. “Kita masih berhubungan?”

“Aku pribadi, bukan dari Keluarga Keenam.” Jelas Jaka. “Jika suasana memungkinkan, kita akan berbincang dalam situasi yang memungkinkan. Sekarang izinkan aku untuk memulai penyelidikan menghilangnya kawan-kawanku.”

Sang tamu cukup tahu diri, meskipun kedatangannya mengunjungi Keluarga Keenam tidak menghasilkan apa-apa, setidaknya dia tahu… orang yang akan dilabraknya ternyata masih kerabat—entah kerabat dari jalur mana. “Baiklah, semoga kita akan berjumpa lagi, aku minta maaf atas kesalahpahaman ini.”

Jaka mengangguk, mereka berpisah dengan jabat tangan erat.

Pintu sudah tertutup, Jaka tak perlu memeriksa lagi, itu hanya alasan, saat ini dia hanya butuh isitirahat. Karena setelah bugar dan membereskan semua kekacauan di rumah ini, dia akan menuju Kota Pagaruyung, mengunjungi Delapan Sahabat Empat Penjuru!
—–epilog selesai—–
Selamat menunaikan Ibadah Ramadhan kawan-kawan, jika ada salah-salah kata, jika banyak hal yang tidak memuaskan selama mengikuti Seruling Sakti, saya dan keluarga mohon maaf sebesar-besarnya. jangan lupa, sebentar lagi 10 hari terakhir ramadhan. gunakan sebaik-baiknya waktu, i’tikaf jika perlu, semoga kita mendapatkan malam yang paling diidam-idamkan… “lailatul qadar” (amiiin)

Semangat beribadah!!!!

————-
note: saya mau merehab website ini supaya tampilan lebih bagus, dan saya juga ingin memasukkan karya yang lain supaya tertata dan terkategori lebih bagus… tapi, berhubung gaptek dan ngga gape masalah web hehe.., saya minta tolong kepada kawan-kawan yang bisa dan jago dalam men-desain web. bagi yang berminat , bisa di hubungi saya : 083129151485 atau email : oremaswawan@gmail.com
nanti saya kasih password adminnya
mengenai biaya, (syukur gratis, ngerep nih hehehe…) bisa nego-nego yak

maturnuwun

Quote | Posted on by | Tagged , , , | 90 Comments

125 – Epilog Domino Effect [i]

125 – Epilog Domino Effect

Matahari sudah condong kearah barat, waktu sudah menjelang magrib, akhirnya Jaka siuman setelah pingsan dalam waktu cukup lama. Damparan lembut gelombang laut yang menghempas wajah secara simultan, membuat dia lebih cepat siuman. Perlahan-lahan pemuda ini beringsut duduk, mencermati kondisinya dengan seksama, mengantur nafas secara teratur, rupanya sistem olah nafas sudah bisa bekerja seperti biasa, membuat luka dalam hampir pulih. Simpul pada punggungnya-pun tidak menunjukan gejala-gejala aneh, tenaga liar yang diikatkan disana, sudah sirna. Kecuali tangan kirinya yang patah—dan butuh pengobatan lebih lanjut, pemuda ini tidak merasakan ada cedera lain. Racun dalam tubuhnyapun tetap stabil.

Pertarungan terakhir nan unik membuat Jaka termenung, bukan karena dia menyesali kekalahannya, bukan pula karena dia girang dengan hasilnya—karena dapat ‘menyegel’ tokoh yang dapat menjadi biang onar. Pemuda ini berpikir keras atas satu nama yang menjadi refrensi penghuni pondok bambu; delapan sahabat empat penjuru. Kedengarannya mereka tokoh-tokoh baik, tapi kenapa harus selalu memberi ‘makan’ tokoh yang bisa menghisap tenaga lawan ini? Mengapa mereka ‘memelihara’ tokoh yang demikian unik dan mengerikan, apa maksudnya?

Perlahan Jaka berdiri, meregangkan badannya lalu berjalan perlahan meninggalkan pesisir pantai. Kejap kemudian, tubuhnya melesat pesat kian menjauh. Melewati daerah-daerah sunyi penduduk, melakukan pergerakan cepat yang nyaris tidak pernah dilakukan sebelumnya. Entah kenapa Jaka memiliki perasaan tidak enak. Dia harus segera sampai di tempat dimana mereka berkumpul.

===o0o===

Dari kejauhan bangunan itu sudah terlihat, Jaka tersenyum. ‘Pulang’ menjadi kata yang nyaris tidak pernah terpikir olehnya, tapi bangunan itu mengingatkan Jaka tentang pulang. Karena disana ada teman yang menunggunya. Terkadang dia ingin lepas dari libatan semua orang. Menjauhi teman-teman yang terkadang menyebalkan, membuat pusing kepala, tapi pikiran seperti itu hanya timbul sesaat… nyatanya baru berpisah beberapa saat saja sudah membuahkan rasa rindu.

Rumah batu itu tetap berdiri seperti biasa, kokoh, menyendiri. Dari kejauhan Jaka merasakan ada keanehan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan! Tanpa pikir panjang, Jaka segera mendobrak masuk. Pemuda ini terpana melihat kondisi didalam rumah itu. Seluruh isi rumah batu sudah tidak ada yang utuh, hancur total. Kemanapun mata menyapu, tak ada tanda-tanda kehidupan di ruangan utama. Jaka merasa serluruh tubuh menjadi lemas. Memastikan sekali lagi, tiap ruangan segera di periksa. Sama saja, tidak ada yang utuh!

Ekabhaksa… dimana lelaki gemuk itu? Jaka segera menuju ruangan bawah tanah, kondisinya juga sama. Siapapun yang datang kemari, sepertinya sudah paham dengan kondisi didalamnya. Tapi tak ada satupun orang! Tidak Wuru Yatalalana, tidak Phalapeksa, tidak pula Ekabhaksa! Kekawatiran yang teramat sangat atas keselamatan Ekabhaksa membuat pertimbangan Jaka nyaris tidak logis. Tangannya terkepal kencang, semburat hawa sakti yang tanpa disadari Jaka telah memiliki lonjakan kepadatan tenaga, sudah mengikis tembok batu ruang itu. Kemarahan yang tidak pernah terlontar, membuat dia ingin sekali menghancurkan seluruh bangunan. Tapi ingatan akan sesosok kakek tua yang berwajah damai membuat hatinya dingin. Sabar…

Lelah lahir dan batin, kondisi semacam ini sudah sering dilaluinya. Tapi saat itu hanya menyangkut keselamatan diri sendiri, dia tak pernah menghiraukan. Tapi sekarang? Sudah banyak orang yang terlibat dengannya, keselamatan mereka menjadi tanggung jawab Jaka. Pemuda ini percaya, meski selalu ada kemungkinan untuk mengalahkan Ekabhaksa, tapi rasanya sangat sulit bagi orang lain untuk membuat salah satu tokoh dari Tujuh Satwa Satu Baginda menemui ajal—atau mengalami kekalahan. Jika dia mati, dimana mayatnya? Apa yang diincar oleh pengacau itu?

Jaka menuju kamarnya, aneh… hanya kamar itu yang tak tersentuh kerusakan, bahkan posisi kursi yang agak menyimpang—saat dia terburu-buru bangkit untuk mengetahui kabar Ratnatraya, juga belum berubah. Ini aneh! Apakah para perusak begitu terburu-buru hingga ruangannya yang kebetulan ada pada ujung ruang bawah tanah, tidak diperhatikan? Jaka bergegas memeriksa tempat penyimpanan barang-barang pribadinya. Dilihatnya satu persatu… tidak ada yang kurang. Untuk sesaat, Jaka kehilangan paham.

Jaka menghela nafas perlahan, matanya dikatupkan sejenak. Dia sadar apa yang barusan dilakukan, sangat ceroboh. Kurang hati-hati. Ini menjadi koreksi untuk dirinya… betapa melihat kelemahan orang lain itu jauh lebih mudah, dibanding melihat kelemahan sendiri. Diendapkan segala kekisruhan hati.

Hening… hingga akhirnya rasa sunyi memasuki relung hati

Tenang… membuat dirinya tenteram kembali lebih cermat.

Sabar… ikhlas, memastikan akal dan fikir menyadari hingga kedasar pengertian bahwa; semua yang bernyawa memang akan ajal.

Demikian Jaka menghempaskan segala keruwetan demi keruwetan dalam keheningan, segala ikhtiar tentu harus dilakukan, sebelum akhirnya dia memasrahkan diri.

Bagaimana mungkin sebuah perusakan yang demikian kacau, tidak menimbulkan jejak? Jaka kembali keluar. Mengamati kondisi sekeliling, dia ingat Penikam pernah menggali beberapa lubang, sedianya itu untuk menjebak babi liar yang sering berkeliaran disekitar rumah, tapi karena tidak satupun babi hutan bisa di tangkap, akhirnya Penikam membuat lubang yang sudah digalinya sebagai perangkap—untuk manusia.

Mata Jaka berbinar, meski bagian belakang rumah, tidak memperlihatkan perangkap-perangkap itu tak memperlihatkan hasil, tapi ada beberapa jejak yang tercetak pada beberapa titik—diatas perangkap. Jelas, si pengacau ini sangat terkejut menyadari tanah yang diinjak tiba-tiba melesak. Jejak-jejak itu hanya mencetak motif selapis tipis alas kaki yang di gunakan pelaku. Alas kaki yang digunakan terlihat penuh dengan motif tak beraturan, seolah-olah hanya sebuah ukiran ngawur. Tapi saat Jaka menegaskan pandangan, dia mendapatkan ada beberapa ciri khas Jaka menggambarnya pada secarik sobekan kain.

===o0o===

Tidak menunggu lama, Jaka membuat satu tanda berkumpul bagi Penikam. Memiliki rekan seperti Penikam memang satu keberkahan luar biasa bagi dirinya. Orang yang sangat berpengalaman itu memiliki jalur-jalur tak terbayangkan dan pustaka informasi yang bisa jadi sangat dibutuhkan oleh perkumpulan manapun.

Tapi… setelah dua hari, Penikam-pun tak muncul juga. Jaka benar-benar cemas. Kecemasan atas nasib kawan-kawannya makin memuncak, saat rumah batu kedatangan seorang tamu. Saat itu Jaka tengah mengheningkan diri untuk mengurai segala keruwetan tenaga yang terkadang masih muncul dalam tubuhnya. Pada kondisi seperti itu, bagi orang lain merupakan satu kemutlakan tak boleh melakukan aktifitas lain, bahkan memencarkan perhatian-pun tak boleh. Tapi cara dan sistem meditasi yang  dibangun oleh Jaka, benar-benar berbeda, jika dimungkinkan, dia bahkan dapat bertarung dalam kondisi bermeditasi. Dimana pada kondisi tersebut tenaganya sedang diurai tuntas.

Pendengaran Jaka memiliki sensifitas cukup baik, tapi dia baru merasakan kehadiran orang lain saat aura tenaga sang tamu menyentuh pintu masuk. Seolah orang itu ingin menyatakan jika dia tak ingin diketahui kehadirannya, pasti dapat setiap saat dilakukan. Cukup terkesip Jaka menyadari ada orang yang lolos dari perhatiannya hingga sebegitu dekat. Tangannya melambai, membuat pintu tersedot dan membuka sendiri.

Begitu pintu terbuka, satu sosok segera masuk. Tatapannya tertuju pada sudut ruangan yang berantakan—dimana Jaka duduk. “Jadi ini Keluarga Keenam?!” dia bertanya dengan nada dingin.

Debar di dada Jaka menyentak tak teratur dalam sesaat, dia bisa merasakan tamu tak diundang ini memiliki himpunan hawa sakti yang luar biasa. Masih dalam kondisi bermeditasi—duduk bersila, Jaka menjawab. “Kau benar.”

“Sepertinya baru kedatangan tamu? Atau Kecurian?” Tanya sang tamu menyindir.

Jaka tersenyum. “Yang manapun benar. Ya tamu… ya pencuri, tidak ada bedanya.”

“Oh…” ujarnya merasa diluar dugaan mendengar jawaban Jaka. Sangat sarkastik, secara langsung menuduh dirinya sebagai tamu juga sebagai pencuri.

“Hm,,, kelihatannya kau cukup keras hati. Baiklah, aku tidak akan bertele-tele. Kau butuh orang, akupun demikian.” Katanya singkat.

Jaka menghela nafas perlahan-lahan hingga memunculkan uap keputihan dari mulut dan hidungnya. “Orang seperti apa yang kau inginkan, dan orang seperti apa yang kuinginkan?”

Jawaban Jaka yang sangat berbelit-belit juga terkesan tidak mau bernegisoasi membuat orang ini naik darah. “Kau tidak memperdulikan nyawa kawan-kawanmu?”

“Perduli.” Sahut Jaka singkat, dengan uap makin banyak keluar dari ubun-ubun.

Kondisi Jaka yang seperti itu membuat sang tamu tertegun, sungguh tak di sangka ada orang yang sanggup melakukan penguraian tenaga hingga tubuh sendiri dalam kondisi kosong, dengan cara sesantai ini.

“Tapi jawabanmu menyatakan sebaliknya!”

“Dari mana aku tahu kau bukan pihak yang mengail diair keruh? Mudah sekali mengarahkan opini pada orang yang sedang tertimpa musibah. Siapa yang melakukan ini, dan siapa yang meminta, bisa berbeda golongan. Kau tentu tahu maksudku.”

“Hh! Sudah kuduga hal murahan seperti ini, akau kau kemukakan!”

Jaka tertawa pajang, membuat uap yang sempat menyelubungi wajahnya membuyar sesaat. “Benar ini memang murahan, tapi efektif membuatmu menyatakan diri sebagai penanggung jawab.” Katanya tandas, tegas. Meski Jaka sangat mencemaskan nasib penghuni rumah ini, tapi itu tak mungkin dia perlihatkan.

“Kau tentunya mengenal ini!” sebuah bungkusan di lempar kehadapan Jaka.

Pemuda ini menggerakan tangan kirinya—yang sebelum ini patah, dengan mengepalkan berulang kali. Bunyi berkrotokan nyaring sarat tenaga—seolah menyiratkan betapa pulihnya tangan tersebut. Setelah membuka bungkusan, Jaka terkesip. Tapi diluarnya dia tertawa.

“Aku mengenal ini, tapi tak membuktikan apapun. Sama saja kau memungut sampah dari sekitar sini lalu memberikan padaku dengan menyatakan ini barang-barangku… sungguh lucu!”

“Kau benar-benar tidak inginkan keselamatan kawan-kawanmu?” Tanya sang tamu dengan geram melihat reakasi Jaka.

“Oh itu tidak benar, aku sangat perduli. Cuma kau harus berusaha lebih keras untuk meyakinkan diriku!”

“Apakah aku harus memotong salah satu tangan kawanmu?” tukas orang ini makin ketus.

Jaka makin gelisah, tapi dia tetap tertawa. “Itu juga bisa, tapi tak menutup kemungkinan kau mencari orang dijalan untuk sekedar kau potong tangannya. Ini menggelikan.”

“Apakah aku harus memotong kepalanya?!” geramnya lagi

“Kalau kopotong kepalanya, untuk apa semua pembicaraan ini? Kau cukup letakan kepala orang yang kau sangka sebagai teman-temanku disini, supaya aku menyakinkan itu benar adanya… lalu menangisinya, dan selanjutnya kita bertarung. Itu lebih mudah, dari pada bicara tak jelas seperti ini.”

“Setan alas! Kau benar-benar sialan!”

Jaka tertawa lagi. “Sudah banyak yang mengatakan begitu. Keluarga Keenam tidak ada yang takut mati, mungkin saja salah satu anggota kami ada padamu, tapi itu tak membuat diriku harus merasa sungkan denganmu.”

“Jadi, aku tak bisa mengancammu dengan sandera?”

“Oh, jadi kau punya sandera? Aku baru tahu…”

“Kau… kau memang…!” rasa percaya dirinya menguap sudah. Dari perbincangan barusan, sudah membalikkan perhitungan yang ada. Dia pikir, posisinya sudah diatas angin. Sehingga bisa meminta macam-macam. Tapi tapi teryata, orang yang dihadapinya benar-benar membuat perut kaku.

——-[bersambung]——–
note: maaf kesibukan sebagai wedding organizer yang baru buka lapak, plus baru perdana dapat client cukup besar, membuat waktu banyak tersita… mohon doanya agar semua berjalan lancar.

mengenai buku, sepertinya saya akan luncurkan (jika diappoval) dalam bentuk seri saja, mengingat halaman terlalu tebal…

Quote | Posted on by | Tagged , , | 105 Comments

124 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – E [iii-Tamat]

Burung-burung yang terbang berputar, mendadak seperti mendapat damparan angin keras, gerakan hawan-hewan udara itu menjadi lebih berat dan perlahan membuyar. Padahal jarak arena pertempuran dengan burung-burung itu lebih dari dua puluh tombak. Jaka menatap kagum sang lawan, pada pengerahan awal tenaga saja, desakannya seolah melangitkan gumpalan-gumpalan energi tanpa batas. Keringat dingin menitik dari dahinya. Bukan kali ini saja Jaka mengalami masalah sulit, tapi baru kali inilah dirinya harus menjalani pertarungan yang tak terbayangkan. Ada rasa takut terselip, tapi rasa rindu saat harus memecah kebuntuan karena suatu permasalahan, jauh lebih besar menguasai gemuruh dada.

Dari sekian banyak pengalaman yang menakutkan, saat ini adalah sesuatu yang dapat di kategorikan kedalamnya. Dalam pandangan Jaka, lonjakan tenaga lawannya tidak lagi sekedar liar, tapi meletup meluap seolah tanpa batas. Secara teori, menyerap tenaga tanpa membebani tenaga sendiri itu sangat sulit dilakukan, selain tenaga sendiri juga digunakan untuk menyedot, harus ada tenaga cadangan lain yang berfungsi sebagai pencacah, penyaring tenaga dari luar. Orang itu seolah memilik ukuran wadag yang sangat besar, sehingga sanggup menampung sedemikian banyak tenaga. Makin banyak menampung tenaga, berdampak pada perlambatan gerak. Ini pula yang terjadi pada penghuni pondok bambu, tapi ada kondisi istimewa yang disadari oleh Jaka merupakan sebuah anomaly—keanehan. Tenaga liar yang meluap itu terus membuncah tanpa henti, dan itu sepertinya tak membebani wadag, Jaka baru bisa menduga ‘sepertinya’, karena dia belum bersentuhan langsung dengan himpunan-himpunan yang seolah tanpa batas itu.

Percakapan singkat mereka sebelumnya, sangat membantu Jaka terhindar dari akibat yang lebih buruk, juga untuk memahami dan menelaah kondisi yang terjadi. Sang lawan-pun agaknya sedang berusaha sangat serius untuk tidak memfokuskan energi bukan kepada Jaka. Tapi tetap saja dampak dari pengerahan tenaga itu seperti hempasan yang menampar.

Debar di dada begitu kencang, pemuda ini menghela nafas perlahan-lahan. Ini seperti sedang berdiri diarus sangat deras, apalagi perlahan-lahan sang lawan kini sanggup memfokuskan tenaga, dengan lebih baik. Sayangnya bukan kepada obyek mati, tapi pada Jaka! Ini tidak seperti yang direncanakan. Jaka tertawa getir, dalam hatinya masih ada setitik kebanggaan mengenai peringan tubuh yang nyaris tanpa cela, tapi dengan mencermati kondisi saat ini, peringan tubuh adalah satu-satuhnya hal yang tak boleh dilakukan, menjadi sebuah kemustahilan dia dapat bersinggungan dengan sang lawan dengan arus tenaga padat dan seliar ini!

Sementara untuk mendiagnosa kondisi sang lawan, kontak langsung jelas harus dilakukan. Dimasa-masa yang telah lampau, pemuda ini kebanyakan menguras tenaga lawan dengan olah langkah yang amat lihay, jika taktik seperti ini dilakukannya saat ini, mungkin pertarungan mereka akan selesai tujuh hari kemudian, dengan kekalahan telak ada pada pihak Jaka.

Berpikir kesana kemari tidak ada hal yang menguntungkan, Jaka hanya dapat melakukan satu hal. Dia akan membuka pikiran, melapisi titik-titik vital dengan tenaga dan pada akhirnya membuka diri selebar-lebarnya atas kemungkinan terburuk yang terjadi. Detik itu juga, seluruh pengetahuan yang pernah di cerna bagaikan sebuah slide, kembali berputar dari awal hingga akhir.

Penghuni pondok bambu itu menghembuskan nafas panjang, panjang, dan panjang… seolah tanpa akhir. Jaka memperhatikan dengan seksama, gumpalan energi yang tak terkira padatnya telah membentuk sebuah titik-titik udara terkompresi dalam paru-paru, ini akan membuat orang itu memiliki tenaga yang tak akan pernah habis. Jaka nyaris putus asa dalam menemukan celah. Satu hembusan nafas panjang saja, sudah membuat kulit pemuda ini serasa dihempas angin tajam. Sungguh tidak pernah disangka, di dunia ini ada manusia semacam itu.

Jaka menampar pipinya sendiri, lalu berteriak panjang… membangun semangat untuk diri sendiri. Meski tubuhnya serasa menabrak tembok tebal, Jaka memaksakan untuk melangkah setapak demi setapak.

Agaknya sang lawan merasa sangat tertarik melihat kondisi Jaka, baru kali ini ada orang yang tak dapat di hisap dengan hempasan awal tenaganya. “Kau sungguh menarik…” di sela-sela hembusan panjang nafasnya, orang ini masih sanggup berbicara.

Jaka hanya bisa membalas dengan senyum getir, hakikatnya untuk berbicara-pun sangat berat baginya. Langkah pertama, membuat logika ilmu yang sudah dipersiapkan Jaka jungkir balik. Bagaimana tidak, meski dengan cara yang di dapati secara singkat saat menghadapi si kekar membuatnya terlindung dari daya hisap, tapi tidak sanggup melindungi daya hempas yang membuat ngilu seluruh tulang. Lawan belum bergerak saja, sudah membuat pemuda ini kewalahan, apalagi jika dia bergerak?

Bergerak? Tunggu sebentar! Jaka nyaris menabok kepalanya sendiri, bukankah masalah utama penghuni pondok itu adalah kesulitan bergerak? Dia merasa tolol dengan berpikir keras untuk melakukan usaha ini-itu dengan sia-sia.

“Aku paham, aku paham!” teriak Jaka disela-sela langkah keduanya yang membuat isi perut serasa diaduk-aduk.

“Kau paham apa?” Tanya sang lawan dengan antusias.

“Tak dapat kujelaskan, kau seranglah aku dengan segenap tenagamu! Tapi tidak dengan cara berdiri ditempat, tapi bergeraklah!” teriak Jaka dengan gigi bergemertak, tenaga sakti pelindung yang mengelilingi tubuh, entah sudah berapa belas kali dihancurkan oleh hempasan tenaga sakti sang lawan, dan entah berapa belas kali pula Jaka harus menghimpunnya kembali. Untuk mencapai dua langkah mendekati sang lawan, teryata harus menghabiskan himpunan hawa murni sangat besar!

Pertarungan semacam ini baru kali ini di lakukan oleh Jaka. Untung saja dia sudah memahami sebuah teori baru yang dicupliknya dari si kekar—juga dari jalur tenaga yang sempat dirasakan saat menotok ubun-ubun Sumanohara Ratri. Itu teori umum tapi sangat sulit untuk dilakukan. Teori ini di beberapa bulan kedepan secara mudah akan membuat tokoh sekaliber Ki Adiwasa Diwasanta menjadi dongkol setengah mati. Membuat dia kesal karena ilmu yang sangat dibanggakan ternyata tidak berpengaruh pada Jaka.

Jaka merasa ini adalah ‘tembok’ yang harus di lompatinya, tidak… bukan dilompati, tapi didobrak! Tahap pertama; hanya menerima dan menepis. Ini teori yang setiap pelaku beladiri pasti mengerti. Tapi, saat kau harus menerima beban sebesar rumah, pertanyaan klise adalah; apakah sanggup? Jika kau sanggup, cara bagaimana kau mengembalikannya? Daya lontar beban itu, makin bertambah sesuai kecepatannya. Makin cepat dia terlontar, kemungkinan beban itu meningkat menjadi puluhan kali lipat pun bukan hal mustahil. Kalau sudah begitu, kau harus memiliki reaksi puluhan kali lipat di kali dua, untuk mengembalikannya. Terlepas dari bobotnya, kedengarannya sangat mudah. Tapi menjadi sangat sulit, saat tenaga yang menghambur kearahmu bukan saja bersifat menghisap, tapi juga menempel seperti lem paling kuat yang pernah ada! Saat kau menerimanya, dengan kecakapan dan kecepatan seperti apapun, tenaga itu akan meninggalkan jejak dan melekat. Entah itu selebar telapak tangan, entah itu cuma setitik, yang jelas kau tidak akan mungkin membuangnya secara tuntas. Manakala satu jalinan tenaga masih melekat—meski setipis rambut, akan memudahkan serangan kedua menghantam dirimu secara telak, karena ada satu jalur ikatan hawa serangan yang sudah terbentuk.

Demikian juga dengan kesulitan yang di alami Jaka, langkah ketiga telah ditapakkan. Pemuda ini lebih memilih melepaskan salah satu titik vital demi melindungi jantung dan nadi utama dari tenaga betot pemilik pondok bambu itu. Perlahan cairan asin terasa mengalir di bibirnya, Jaka tak sanggup untuk menahan darah mengalir lewat sela-sela bibirnya.

‘Ah, sudah berapa lama aku tidak terluka seperti ini?’ pikir Jaka dengan perasaan lega. Bagi orang yang akhir-akhir ini jarang mengalami kekalahan, perasaan takut kalah pun menjadi semacam penyakit psikis. Jaka-pun tak lepas dari perasaan semacam itu. Tanpa sadar, karena keengganan untuk kalah, membuat pemuda ini cenderung untuk mengurangi benturan langsung. Tapi momentum yang datang saat ini, benar-benar disyukuri Jaka Bayu. Meski isi perut terasa makin tak karuan, darahpun sudah tersembur kian banyak. Tapi semangat Jaka justru makin berkobar.

Pola tenaga sang lawan benar-benar unik dan tak bisa dinalar, disaat dia menghempas, Jaka melawannya dengan memaksakan diri melangkah kedepan, tapi detik itupula langkah Jaka seperti sebuah perjalanan memasuki jebakan, tenaga hempas mendadak menjadi hisap. Dengan sendirinya, Jaka harus melawan tenaga hisap itu dengan tetap melangkah. Dalam satu langkah, entah berapa belas kali perubahan hisap dan hempas itu terjadi, dan secepat itu pula Jaka harus menyesuaikan diri. Kalaulah ini terus menerus terjadi, bisa dipastikan sebelum pemuda ini menjangkau sang lawan, tenaganya akan menguap.

Telah disadari Jaka, satu-satunya cara untuk mempercepat langkah tanpa harus membebani diri, adalah dengan mengikuti daya betot itu. Bukan menyerahkan diri sepenuhnya, tapi memberikan beban seperlunya, untuk mengurangi kecepatan hisap. Pemuda ini memberatkan tubuh dengan mengolah daya hisap lawan, dengan daya hisap darinya. Meski level kekuatan dua daya hisap itu memiliki tingkatan beda, tetap saja akan menimbulkan daya tolak—meskipun itu sangat kecil. Dan itu sangat membantu Jaka dalam menyeret tenaga lawan untuk lebih variatif dalam ragam gerak hisap. Meski Jaka sudah memberikan intruksi pada sang lawan untuk bergerak, agaknya dia sangat sulit untuk melakukan gerakan-gerakan besar, maka menjadi ‘tugas’ Jaka-lah, untuk membuat sang lawan bergerak.

Manakala daya pantul akibat pertemuan dua hisapan sampai pada momentumnya, Jaka cukup memiliki jeda jarak yang bisa membuat dia melangkah kesamping, menepiskan tenaga lawan yang kian terasa membelit. Ikatan jalur hawa murni lawan pada tubuh Jaka sudah seperti benalu yang mencengkeramkan akar pada pohon induk, kurang dari sedetik itu, memaksa Jaka untuk membekukan ikatan hawa murni lawan. Tapi akselerasi hawa dingin yang terlampau cepat—tidak bisa mencapai puncaknya, dan sudah tentu tak sanggup memutuskan ikatan hawa yang membelit Jaka.

Pada saat momentum pantul itu lenyap, daya hempas membuncah dahsyat, mengikis ikatan beku yang semula dimaksudkan Jaka untuk membebaskan diri. Tentu saja pemuda ini harus segera mempertahankan diri, supaya langkah kaki yang sudah dengan susah payah dilakukannya tidak lagi surut.

Dengan satu tarikan nafas, daya hempas itu dihisap dengan membuka simpul-simpul Dashu, Fangmen, Feishu, Gaohuang, Xianshu, Geshu, Ganshu, Danshu, Pishu dan Weishu—semuanya ada pada sepuluh titik tulang belakang yang menjadi ‘pengikat’ rusuk, dalam melindungi isi dada.

Pengetahuan Jaka mengenai anatomi, membuatnya cukup leluasa dalam mengambil resiko-resiko paling kecil, diantara resiko terbesar. Daya hempas itu di ikatkan pada simpul Dashu—tiga cun di bawah leher. Jangan ditanya sakitnya seperti apa, membiarkan tenaga liar masuk menerobos begitu saja dan ‘disimpan’ pada sebuah titik punggung, ini sama saja membiarkan lehermu dikalungi celurit. Decit tenaga dengan ketajaman yang menyayat, membelit titik itu. Membuat seluruh tulang Jaka ngilu serasa dilolosi—belum lagi sensasi sayat pada tiap mili uratnya. Tapi dilain saat, daya hempas itu lenyap begitu saja—karena ‘disibukan’ dalam sebuah jalur yang sulit dan panjang. Sekedar informasi, titik Dashu sangat berkaitan dengan kesadaran, ingatan, dan isi dada. Bukan tanpa alasan Jaka mengarahkan tenaga ini ke titik Dashu, sentakan yang menyakitkan pada titik ini akan memperkuat ingatan, mengokohkan kesadaran dan memberikan otot-otot jantung daya yang lebih besar untuk pulih. Puluhan ribu jalur syaraf yang membentang antara Dashu hingga Weishu, memberikan ‘pekerjaan’ pada jalur hempas untuk melaluinya, dan hingga akhirnya tenaga hempas itu lenyap di makan ‘pajangnya’ jarak syaraf dalam titik Dashu.

Tapi Jaka segera sadar, menyadari hilangnya daya hempas, detik berikutnya bisa dipastikan muncul daya hisap. Karena sudah ada tenaga hempas yang terikat didalam titik Dashu, Jaka langusng mengarahkanya kepada daya hisap. Membiarkan tenaga lawan terhisap sendiri, akan membuat fenomena ‘sendakan’. Ini sama saja saat kau harus meminum segelas air besar dalam satu tegukan besar, dan mendadak kau sadar masih ada air dalam gelas itu, lalu kau paksakan diri untuk tetap menelan. Biasanya, kalau tidak tersendak—hingga air keluar dari hidung, ya cegukan. Dan akibatnya…

Sreek! Satu langkah besar di buat oleh penghuni pondok bambu dalam sebuah seretan kaki, sebuah langkah yang tidak dikehendakinya.

Betapa besar pengorbanan Jaka untuk menyeret sang lawan hanya untuk melakukan sebuah langkah, tentu saja memiliki konsekuensi imbal balik yang cukup. Momentum itu membuat tenaga hisap dan hempas menghilang dalam waktu dua detik, itu sangat cukup untuk Jaka dalam menambah dua langkah. Bersamaan pula pemuda ini melakukan himpunan tenaga yang memiliki daya membal, sebuah Ilmu Mustika Hawa Bola Sakti yang sangat jarang dikerahkan.

“Bagus!” teriak pemilik pondok bambu, antara girang dan geram. Girang karena ternyata Jaka dapat membantu dirinya secara paksa untuk bergerak, tapi mengakibatkan wadag hawa saktinya berguncang. Membuat fokus tenaganya membuyar. Geram, karena ini sama saja mencoreng harga dirinya!

Sebelum langkah lebih jauh dilakukan Jaka, sebuah ledakan tenaga orang ini kembali menghempas Jaka. Pemuda ini sudah mengantisipasi datangnya serangan tenaga itu, hanya saja Jaka tidak pernah memperkirakan besarnya tenaga yang tercurah itu! Strategi mencancang tenaga lawan pada sepuluh titik di pungungnya jelas akan diulangi lagi. Kali ini tenaga yang amat dahsyat itu langsung menghatam wajah Jaka!

Pemuda ini menerima dengan gerakan menepis, untung saja sejak awal Hawa Bola sakti sudah dikerahkan. Efek serangan teramat dahsyat itu sedikit terguncang, sebalum akhirnya membuat tenaga yang tak terbayangkan itu menerobos masuk secara bebas melalui lengan kanan, langsung di belokkan begitu saja pada simpul Fangmen—satu ruas tulang belakang di bawah Dashu.

Namun ternyata satu titik Fangmen tidak cukup menampung arus yang luar biasa menggila itu, dengan menggigit bibir menahan kesakitan berkali lipat dari sebelumnya, Jaka memecah tenaga itu kepada empat simpul yang lain—Feishu, Gaohuang, Xianshu, dan Geshu.

Saat ini Jaka sedang merasakan siksaan paling menyakitkan yang pernah dia terima, tapi penghuni pondok bambu tengah tertegun dengan perasaan nyaman yang mendadak membuat langkahnya menjadi sedikit ringan.

Hamburan tenaga yang tak terkendali itu, terikat tuntas didalam simpul yang membahayakan nyawa Jaka, karena disaat bersamaan, setiap kali Jaka ‘mencancang’ tenaga lawan, itu sama saja mengeratkan ikatan hawa sakti lawan dengan tubuhnya. Jadi, serangan apapun akan langsung berdampak buruk pada Jaka, jika pemuda ini masih tetap menggunakan cara yang sama.

“Tadi kau memintaku bergerak, baik… aku akan melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Jika kau beruntung, kau akan hidup dengan tubuh lumpuh tanpa perlu kehilangan tenaga…”

“Ji..ka t-tid..ak ber..un..tung?” Tanya Jaka dengan suara lirih, bagaimanapun tubuhnya sudah hampir mencapai batas yang bisa di toleransi.

“Mati.. tanpa bentuk!” desisnya dengan meggerakkan tangan kebelakang seperti sedang menarik sesuatu. Jaka segera teringat gerakan si kekar, bedanya tidak ada hawa dingin sama sekali pada daya hisap orang itu! Tapi dada pemuda ini rasanya seperti sedang di remas oleh tangan-tangan besi.

Krkkk! Krkkk! Dada Jaka terdengar berderak, kakinya terseret dengan mudah, meskipun menyakitkan, tapi rasa semacam itu sudah sangat familier bagi Jaka, dan itu bisa di netralisir sedikit demi sedikit. Jaka tidak bisa lagi membenturkan daya hisap dengan daya hempas yang sedang diikatkan pada lima simpul yang lain, karena tenaga yang terakhir itu masih berputar-putar liar tiap syaraf tulang belakangnya. Akibat hisapan sang lawan—jika dihitung dalam langkah—Jaka sudah memasuki langkah ke sembilan, dua langkah terakhir merupakan pertaruhan yang membahayakan jiwa!

Penghuni pondok bambu ini termangu-mangu menatap Jaka. Ternyata sang lawan tidak menjadi lumpuh karenanya, tidak pula mati tanpa bentuk. Dia melangkah mendekat dengan gerakan jauh lebih gesit dari sebelumnya.

Setibanya di hadapan Jaka, kening orang ini kian berkerut saat melihat pada wajah Jaka yang penuh bercak darah, juga terkelupas. Sama sekali dia tak menyangka bahwa itu adalah rias penyamaran Jaka yang telah menjadi rusak.

“Baru kali ini aku menghadapi lawan seperti dirimu…” kata penghuni pondok bambu itu yang hanya berjarak satu jengkal dengan Jaka.

“T-te…ri…ma ka-kka…sih…”

“Kau adalah lawan yang cukup membuatku repot. Aku berterima kasih atas pengurangan-pengurangan tenaga liar yang tidak perlu… tapi setelah kupikir-pikir, kaupun akan menjadi batu sandunganku di masa depan… aku lebih memilih melenyapkan dirimu, dari pada usahaku gagal!”

Dengan lemah, Jaka menatap sang lawan. “Ja-ja…wa…ban i-it-tu su…dah kuduga p-pu-pula…” gumam pemuda ini dengan lemah.

“Tapi tetap tidak berguna ya?” ujar sang lawan dengan menyeringai.

Dengan lemah, Jaka memperhatikan tawa orang itu, ada semacam kegilaan dan histeria didalamnya. “Me..nu…rut…mu?” Jaka balik bertanya.

“Matilah!” desis orang itu memukulkan telapak tangan kanan dan kiri, dia ingin menepuk hancur kepala Jaka. Gerakan itu sangat cepat, meski tidak membawa desakan hawa sakti seperti sebelumnya—yang dapat menghancurkan kepala pemuda ini tanpa perlu menyentuh.

Jaka hanya bisa menatap lemah serangan itu…

Plak!

Tepukan itu tidak mengenai kepala, tapi tertahan oleh lengan kiri pemuda ini secara melintang. Tangan kanan penghuni pondok itu mengenai siku Jaka, sedangkan tapak kirinya, terhalang kepalan tinju. Sementara Kepala Jaka menunduk dalam.

Bersamaan serangan itu tertangkis, lengan baju kiri Jaka langsung hancur lebur. Belasan luka gores dan bacok membuat penghuni pondok bambu terkejut sesaat, tapi dia lebih terkejut lagi menyadari ada keanehan pada pangkal lengan sang lawan, warna merah kehitaman dan biru kehitaman yang menggaris hingga siku sepertinya menyiratkan sebuah intrik.

Jaka masih menundukkan kepala dengan kening berkerut menahan sakit. Serangan secara langsung yang dia terima ternyata tak sanggup dihadang oleh himpunan hawa saktinya, Jaka bisa merasakan lengan kirinya patah, dengan pergelangan retak.

Sementara sang lawan sedang tercengang menyaksikan di tengah-tengah telapak tangan kanannya timbul bintik sebesar buah jambe, berwarna merah-biru kehitaman.

“Racun?” bisiknya dengan tatapan tak percaya. Dia tak percaya ada racun yang sanggup menyusup ketubuhnya. Menyadari ada perubahan pada kulit yang tiba-tiba terkelupas dan dalam waktu singkat menimbulkan ruam, hingga menjalar sampai pergelangan, dengan teriakan antara kaget, dan marah, dihempaskannya tenaga untuk membendung menjalarnya racun itu. Tapi ternyata racun itu bukan hanya menjalar di tangan kanan, tapi tangan kiri-pun juga terjangkit.

“Terkutuk!” bentaknya bengis sambil melotot kearah Jaka.

Jaka melihat sang lawan yang masih sibuk menahan menjalarnya racun dengan pikiran melayang. Sungguh tidak disangka, luka akibat sayatan Pedang Baja Biru, kali ini menyelamatkan nyawanya. Meskipun akibat pengerahan tenaga berlebihan pada lengan kirinya, membuat keseimbangan Racun Getah Biru menjadi terganggu. Jaka tak mengacuhkan lawannya, dia merebahkan diri di tanah sambil mengerahkan tenaga himpunan Melawat Hawa Langit untuk menentramkan gejolak racun.

Setelah beberapa lama menenteramkan racun, Jaka akhirnya beringsut duduk. Tubuhnya masih terasa ngilu, tenaganya pun sudah menyusut drastis, untuk berdiri saja rasanya sangat sulit. Sentakan-sentakan pada enam simpul di tulang belakangnya membuat kepala Jaka berdenyut kesakitan. Jika sebelumnya dia bisa meredam pergolakan hawa liar sang lawan, tapi karena tenaga yang digunakan untuk meredam, harus dialihkan untuk menenteramkan racun, membuat lonjakan hawa liar itu kian menjadi.

Jaka mengerang kesakitan, tubuhnya kembali merebah dan berkelojotan.

Penghuni pondok bambu menyaksikan kejadian itu dengan seringai sadis, kondisinya sekarang pun dalam keadaan ‘tersandera’ akibat racun sang lawan, membuatnya tak leluasa mengerahkan tenaga sembarangan. Sebenarnya dia bisa saja langsung membunuh Jaka, tapi mengingat betapa cepat menjalarnya racun di kedua tangan, membuat dia harus senantiasa memfokuskan tenaga untuk menekan rambatan racun yang sangat aneh. Sekali saja dia lena dengan mengerahkan tenaga untuk melakukan aktifitas lain, kemungkianan kehilangan kedua tangan jelas tak mau diambil. Masih ada dendam membuncah yang harus diselesaikan.

Meski dia tak dapat bertindak terhadap Jaka Bayu—lawan anehnya, menyaksikan sang lawan berkelojotan cukup menghibur hati. “Cepatlah mampus!” harapnya dalam desis.

Jaka bukannya tak mendengar ‘doa’ sang lawan, sebenarnya dia ingin membalas ucapan sang lawan, sayang saat ini dirinya masih berkutat dengan desakan tenaga liar. Kalau saja masih ada tenaga tersisa, Jaka pasti tak mau kehilangan kesempatan emas, untuk menyalurkan lonjakan-lonjakan liar itu untuk memperbesar wadag hawa murni. Tapi sayangnya itu tak bisa dilakukan.

Apa yang menyebabkan dirimu merasakan kesakitan? Itu karena otak selalu memberi sugesti bahwa kesakitan itu tidak wajar. Tapi bagaimana jika itu dibalik? Jika kesakitan itu adalah hal yang wajar? Dan sehat adalah tidak wajar? Jaka teringat dengan metoda hipnosis simple itu. Ditariknya nafas dalam-dalam, diawali dengan berdoa kepada Yang Maha Kuasa, lalu disugestilah dirinya berulang kali, bahwa rasa sakit yang dialami adalah sebuah keharusan, sebuah kondisi yang memang setiap hari hingga akhir hayat, akan menjadi bagian yang tak terpisah.

Perlahan… perlahan… perlahan, gerakan tubuh yang liar itu melemah, hingga akhirnya diam sama sekali.

“Mati?” gumam penghuni pondok bambu sambil mengoyang-goyang tubuh Jaka dengan kakinya. Tiba-tiba dia tersentak kaget, sungguh tak disangka gerakan kecil saja membuat laju racun menimbulkan satu titik ruam baru. “Benar-benar racun gila!” makinya panjang pendek sambil menghempaskan pantat di samping Jaka.

===o0o===

Senja sudah dijelang, akhirya setelah bersusah payah mensugesti dirinya baik-baik saja, Jaka duduk sambil meregangkan tangan, seperti baru bangun tidur. Lengan kirinya yang patah-pun tak dia rasakan lagi.

“Kau gunakan racun jahanam apa?!” Tanya pemilik pondok bambu dengan terheran-heran menyaksikan betapa bugarnya kodisi lawan.

Seperti kebiasaan semula, Jaka tertawa. Mendengar pertanyaan itu, membuat Jaka terpikir satu ide yang baik. “Aku tak akan menjawab, bukankah kau menginginkan untuk sanggup mengarahkan tenaga kepada satu titik?”

“Tapi bukan dengan cara ini!” bentaknya.

“Tidak ada cara yang gampang untuk menyembuhkan ketergantunganmu dengan tenaga yang kau serap dari orang-orang. Kecuali kau dengan suka rela mau menghancurkan wadag hawa murnimu, urusan bisa selesai!”

“Keparat! Itu tidak mungkin!”

Jaka mengangguk-angguk. “Karenanya, bersabarlah…” Ujar Jaka datar.

Atas jawaban-jawaban yang bersahabat dari Jaka membuat orang ini termangu. “Sampai kapan aku harus begini?” tanyanya dengan suara lebih lunak.

“Aku tidak tahu tahu, tergantung dirimu sendiri. Jika bukan kau yang kuhadapi, cara semacam ini hanya akan menimbulkan korban. Tapi kau istimewa… tenagamu seolah tidak pernah habis. Media racun yang ada di dua tanganmu ini, akan membuat kau berupaya dengan keras untuk memusatkan pada satu titik. Hingga pada puncaknya, racun itu dapat kau hilangkan.”

“Aku tidak mengerti…”

“Kau kurang paham tentang apa? Oh, mungkin tentang hawa murnimu sediri? Begini… tenagamu itu ibarat pohon besar, dia akan menjulang lurus dengan ranting-ranting menghias ditiap sudutnya. Jika kau menginginkan pohon itu tumbuh lurus—sama halnya kau menginginkan supaya tenagamu dapat diatur, potonglah seluruh ranting-rantingnya secara bertahap. Tenaga liar yang bergolak dalam dirimu adalah ranting. Racun yang menyerang tanganmu, adalah cara yang tepat untuk memotong liarnya rantingmu…” Kata Jaka sembari berdiri.

“Bukan itu maksudku!”

“Oh?” Jaka melegak. “Jadi apa?”

“Kenapa kau tetap bersikap baik padaku?”

Pemuda ini tertawa. “Kau kurang percaya dengan orang lain, itu urusanmu. Aku percaya setiap orang memiliki hati yang bisa berubah.”

Penghuni pondok bambu ini tercenung. “apa yang kau harapkan dariku?” tanyanya menyelidik.

‘Tidak ada.” Jawab Jaka singkat.

“Jika nanti aku dapat menyelesaikan ini…” katanya sambil menatap dua tangannya. “Aku tidak akan menjamin diriku akan memiliki belas kasih yang sama sepertimu!”

Jaka mengangguk-angguk. “Biarlah waktu yang akan menjawab niatmu. Aku tidak memiliki hak apapun, tapi… aku meminta satu hal…”

“Apa itu?”

“Saat kau ingin membunuh orang, ada baiknya kau ingat apa yang terjadi hari ini.”

“Hari dimana aku kau permalukan?” ujarnya sengit.

Jaka menggeleng. “Bukan itu.”

“Lantas?”

“Bahwa rasa sakit tidak menghalangi orang untuk menebarkan kasih sayang.”

“Hh… omong kosong kaum puritan!” desisnya menghina.

“Seharusnya kau melihatku lebih baik lagi…” kata Jaka melangkah mendekat, karena hari sudah menjelang temaram, selama percakapan Penghuni pondok bambu itu nyaris tidak pernah memperhatikan perubahan fisik pada lawannya.

“Eh…!” mau tak mau Penghuni pondok bambu terkejut saat menyadari dari tiap lubang di wajah lawannya terus menerus mengalirkan darah. Dia tidak perlu bertanya, apa yang dilakukan Jaka saat pertarungan tadi, dapat dicernanya dengan baik. Yang mengherankan justru kejadian setelahnya, mengapa sang lawan seolah-olah tidak apa-apa? “Tapi… tapi… apakah kau tak merasa menderita?”

Jaka tertawa getir. “Aku tidak bisa menjawab itu… saat ini aku harus pergi untuk mencari tempat untuk memulihkan diri.” Kata Jaka sambil berjalan perlahan-lahan menjauhi Penghuni pondok bambu.

Lelaki paruh baya ini termangu-mangu menyaksikan langkah terseok sang lawan. “Ada baiknya kau berjumpa dengan Delapan Sahabat Empat Penjuru, mereka ada di ujung perbatasan antara Kerajaan Rakahayu dan Kadungga…”

Jaka menghentikan langkah tertatihnya, dia membalikan tubuh. “Untuk apa?”

“Aku tahu kau sedang mencari sesuatu. Mereka bisa membantumu…”

Jaka mengumam tak jelas, lalu berjalan menjauh setapak demi setapak.

Menyaksikan tubuh yang berjalan kadang terhenti karena rasa letih itu, tak membuat Penghuni pondok bambu ini menyesal atas sarannya. Dia menatap pisau yang sempat diambil dari balik baju Jaka. Pisau itu bercerita banyak. Dia ingin sekali percaya pada Jaka, tapi… pisau itu ‘menghalanginya’. Biarlah Delapan Sahabat Empat Penjuru yang akan menghabisinya. Anggap saja dia membayar hutang budi—tidak jadi membunuh Jaka, dengan memperpanjang nyawa pemuda itu dengan menyerahkan kepada ‘ahlinya’. Lebih baik mereka yang ‘mengurus’ Jaka.

Tangannya melambai, melesatkan pisau yang tadi sempat diambilnya. Himpunan hawa sakti yang tiada tara memudahkan Penghuni pondok bambu ini menyisipkan pisau diantara robekan baju sang lawan yang berlalu belum begitu jauh. Atas perbuatan reflek tadi, Penghuni pondok bambu termangu-mangu takjub. Nyatanya, belum lagi satu hari dia mengerahkan tenaga terus menerus untuk menahan racun, daya fokus untuk melontarkan senjata yang tak pernah digunakan—karena meluapnya tenaga liar, bisa dengan mudah dilakukan. Ada setitik rasa sesal telah melakukan keputusan ‘brutal’. Hanya setitik saja, selebihnya dia dibuai rasa girang. Karena langkahnya kini tak lagi berat saat melangkah masuk kedalam pondok.

Jika saja Arwah Pedang menyaksikan keputusan Jaka, mungkin lelaki itu akan diam-diam kembali kedalam pondok untuk menghabisi penghuni pondok bamboo. Entah keputusan Jaka dengan tidak ‘menghabisi’ Penghuni pondok bambu apakah akan memiliki dampak baik, atau buruk. Jaka tidak perduli, dia hanya melakukan sesuai suara hati. Tapi dilain sisi… selalu ada perhitungan matang yang dia lakukan, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dilakukan Jaka Bayu, kelak.

===o0o===

‘Niat baik’ Penghuni pondok bambu untuk meminjam tangan orang dalam membunuh lawannya, jelas gagal total. Setiap mata-mata yang dikirim ke pondok bambu oleh salah satu Delapan Sahabat Empat Penjuru—yang juga berfungsi sebagai ‘santapan’ sang penghuni pondok, tidak membuahkan hasil. Lelaki paruh baya yang di maksud, tak pernah muncul di Kota Pagaruyung.

Beberapa bulan kemudian, salah seorang Delapan Sahabat Empat Penjuru justru mengangkat orang luar sebagai muridnya. Berita ini membuat Penghuni pondok bambu gelisah, sebab bisa menghambat rencana-rencana yang sudah disusun bersama. Dilain sisi konon katanya sang murid memiliki kemahiran peringan tubuh yang istimewa, dia ingin sekali mendapat ‘kunjungan’ murid baru yang ahli peringan tubuh itu, karena meskipun daya fokus tenaga saktinya makin membaik, kemampuan peringan tubuh yang selama ini diserap dari ragam orang, justru tidak sanggup digunakan secara optimal saat ditumpangkan dengan tenaga yang tengah di ‘rapikan’. Mau tak mau, menunggu adalah rutinitas yang kembali menjadi pekerjaannya.

Entah bagaimana reaksi Penghuni pondok bambu, jika tahu orang yang mungkin nanti akan mengunjungi dia adalah orang yang sama?

===o0o===

Jaka terbaring dengan nafas lemah dibawah pohon besar, sugesti terhadap dirinya sudah dicabut. Rasa sakit membuat dirinya tak sanggup lagi bergerak. Wadag hawa murninya saat ini masih kosong. Jaka benar-benar heran, dengan metoda Melawat Hawa Langit seharusnya, dia sudah sanggup menghimpun hawa murni. Karena sistem olah nafas Melawat Hawa Langit adalah dari luar menuju pusat, bukan dari pusat menuju kedalam—kesekujur tubuh, artinya; pemuda ini sanggup memanfaatkan hasil serapan hawa diluar lingkungan tubuhnya sebagai tambahan daya sakti.

Ini pasti memiliki hubungan dengan tenaga liar yang masih menyentak enam simpul diruas tulang belakang, sentakan-sentakan itu menerobos liar kesegenap syaraf, membuat olah nafas Jaka kacau. Hingga akhirnya, Jaka membiarkan begitu saja hawa liar itu bertingkah sesuka hati. Menurut perhitungannya, saat hawa liar itu kehilangan daya, dia akan sanggup menghimpun lagi tenaganya. Tapi kondisi itu tak kunjung datang.

Pemuda ini kembali mensugesti dirinya, kalau itu tak dilakukan, bagaimana dia harus melanjutkan hidup tanpa makan minum? Tapi meskipun pikiran menyatakan ‘tidak sakit’, kondisi fisik tidak bisa berbohong. Meski Jaka dapat berjalan hingga menuju tepi sungai, tapi tenaga untuk menangkap ikan pun sudah tak ada lagi. Ini benar-benar ironis. Pisau yang sudah ada ditangan untuk berburu ikan, kembali dimasukkan kedalam bambu lentur yang melingkari pinggang dengan susah payah.

“Sudahlah… kupasrahkan kepada-Mu.” Gumam Jaka menceburkan diri kedalam sungai. Setelah meminum sepuasnya, Jaka membiarkan mulutnya terbuka didalam sungai, dia berharap dengan cara bodoh demikian ada ikan yang cukup ‘pintar’ mengira mulutnya sebagai lubang persembunyian.

Tapi belum lagi cara antiknya membawa hasil, gemuruh air bah bergulung-gulung dari hulu membuat Jaka terbelalak. Tubuhnya digulung banjir bandang, terhanyut begitu deras, menabrak batu berkali-kali, bahkan kepalanya sempat bertubrukan dengan batang kayu yang ikut hanyut digulung air bah. Hilang sudah kesadarannya…

===o0o===

Entah berapa lama Jaka tak sadarkan diri, begitu sadar, mulutnya tercekik rasa asin. Ah, ternyata dia terjepit diantara batu dan batang kayu yang juga tertimpa batu besar, dan kini ada didasar laut! Tidak dalam, paling hanya sekitar sepuluh tombak, tapi dengan kondisi yang lemah seperti ini—tanpa bisa menggerakan anggota badan, agaknya hanya kematian yang ada didepan mata.

Pasrah dengan kondisi semacam ini, justru membuat plong pikiran Jaka, mendadak satu jalur simpul pada tulang punggung, terasa mengedut lemah, Jaka tahu simpul itu adalah titik Ganshu, simpul yang masih kosong dari pembagian tenaga liar, sungguh aneh… simpul yang tidak dialiri hawa liar justru memberikan respon positif terhadap kebutuhannya akan udara.

Jaka sudah tidak bisa berpikir lagi, udara yang tersimpan dalam paru-paru sudah sangat menipis. Dia hanya merasakan berturut-turut pada simpul Ganshu, Danshu, Pishu dan Weishu, timbul pusaran tenaga yang seolah menyentak kembali simpul Weitao—diantara kantung kemih dan kemaluan, membuat olah nafas Melawat Hawa Langit aktif kembali.

Tapi manusia itu bukan hewan air, keterbatasan udara membuat Melawat Hawa Langit pun sia-sia. Dibatas ambang antara sadar dan tidak, keruhnya air laut membuat Jaka seperti berhalusinasi. Dia seolah merasakan ada sebuah bibir lembut menghembuskan bergulung-gulung udara, yang membuat olah nafas Melawat Hawa Langit, benar-benar melangitkan tenaganya hingga kepuncak, menghancurkan batu dan batang kayu yang menjepit badannya, membuat bibir yang telah menghembuskan nafas padanya menjauh.

Jaka tidak tahu selanjutnya apa lagi, dalam kondisi yang samar-samar itu rasanya arus bawah laut yang cukup kuat membawa dirinya entah kemana. Hingga akhirnya terdampar di pantai.

Lamat-lamat Jaka mendengar seseorang berteriak dengan suara lembut melengking memanggil seseorang, tapi ini pasti mimpi, pikir Jaka.

“Pertiwi, dimana kau?” teriak suara itu mencari-cari.

“Aku disini Diah…” terdengar jawaban dari kejauhan.

“Bukankah kau yang tadi tenggelam?” terdengar suara berkesan dingin, bertanya keheranan.

“Tidak, aku memang berenang, tapi aku baik-baik saja…” jawab gadis yang dipanggil Pertiwi menjawab keheranan.

“Hah, masa?! Jadi siapa yang kuberi bantuan nafas?” tanya Diah tercekat kaget.

“Memangnya ada?” Pertiwi balik bertanya. “Mungkin kau berciuman dengan ikan tengiri…” sambungnya dengan tawa mengikik, mengantarakan Jaka terlelap lebih pulas. Sungguh mimpi yang aneh.

[Domino Effect—Tamat]

Quote | Posted on by | Tagged , , | 102 Comments

124 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – E [ii]

Pemuda ini sudah tiba pada tempat yang dinaungi burung. Seperti halnya Arwah Pedang, Jaka merasakan hawa sakti berpendar menekan, dengan aura yang mencekam, menyesakkan, membuat tidak nyaman. Tangan Jaka terkepal, tangannya bergetar ini adalah rasa takut… sudah terlalu lama Jaka tidak merasakan perasaan ini lagi. Bibinya tersenyum getir. Merasakan dera rasa takut membuatnya teringat bermacam hal di masa lampau, ada suka dan duka terselip disana.

Bagi orang lain, rasa takut itu sebuah kelemahan, hal yang tidak perlu diketahui dan harus dijauhi. Tapi bagi Jaka, dia malah bersyukur masih dapat merasakan hal itu. Rasa takut akan membuatmu lebih menyadari bahwa kau bukan apa-apa, membuatmu jauh dari sifat sombong, dan perlahan jika kau dapat mengelola dengan baik, rasa takut akan membuat daya dobrakmu dalam mengatasi kelemahan makin kokoh. Sudah lama Jaka merasa ada tembok yang menghadang dirinya. ‘Tembok’ itu membuat kemampuannya sulit sekali untuk naik. Boleh dibilang, kemampuan Jaka bukannya menanjak, tapi melebar. Tidak menaikkan kualitas, hanya memperbanyak ragam jenis ilmu. Terkadang pemuda ini berpikiran untuk mengunci diri, untuk membuat satu lompatan tataran bagi dirinya. Tapi beragam persoalan mencegah niatnya, pun semisal ada waktu tersedia, dengan begitu banyak kazanah yang sudah di serap olehnya, tetaplah membutuhkan waktu tidak sedikit untuk mengerucutkan semua itu menjadi sebuah titik pamungkas.

Maka, mendapatkan tekanan rasa takut justru merupakan berkah bagi Jaka. Makin tertekan dirinya, makin terbuka peluang dirinya untuk maju. Perinsip; didalam kesulitan ada kemudahan, sudah dibuktikan berulang kali oleh pemuda ini.

Akibat tekanan hawa sakti yang begitu besar, Jaka membiarkan rasa takut menguasai sanubari dalam sesaat, getaran di tubuhnya terasa makin keras. Pada saat sebuah perasaan khawatir meliputimu, nalarmu tak akan bekerja dengan baik. Kondisi semacam itu sudah sering kali dialami Jaka Bayu. Kondisi dicekam rasa kawatir, cemas, takut silih berganti akan memunculkan dua hal, putus asa atau semangat untuk bangkit. Setelah melalui yang pertama—putus asa, pada akhirnya Jaka selalu memilih yang terakhir. Kondisi putus asa itu telah memberikan sebuah pelajaran berharga untuknya, bahwa; seseorang tidak akan berubah, jika bukan dia sendiri yang merubah takdirnya.

Getaran pada tangan Jaka makin keras, sampai-sampai pemuda ini harus mendekapkan tangannya satu sama lain untuk menghentikan getaran. Matanya mengamati dengan seksama, kondisi disekeliling pondok bambu yang membelakangi dinding-dinding tebing. Begitu senyap, bahkan disekeliling bangunan sederhana itu tidak terdapat kehidupan, seolah rumput pun tidak dapat tumbuh. Jaka paham dengan kondisi itu, justru karena hawa dari dalam pondok bambu itu terlalu padat dan menumpulkan daya tumbuh, maka radius sekeliling bangunan itu serupa dengan tempat mati.

Debar dalam hati karena rasa takut sudah berhasil ditekan, pandangan pemuda ini menyisir tanah, dia mendapati garis yang membentang. Baru disadari olehnya garis itu merupakan pemisah antara wilayah pondok bambu, dengan bagian luar. Diluar garis, rumput-rumput liar tumbuh dengan subur, sementara di bagian dalam, tak ada satupun yang tumbuh. Jadi, manakala kakinya melangkah melewati garis, Jaka yakin penghuni pondok bambu akan mengetahui kehadirannya.

Langkah sudah diayun, kaki sudah ditapakkan. Detik itu juga dari dalam pondok, terdengar suara berderit—suara lincak yang kehilangan beban, dalam benak Jaka tergambar seseorang sedang bangkit dari duduknya. Sudah lama sekali, Jaka tidak merasakan debaran yang begitu menegangkan. Adrenalin mengalir deras menyentak pembuluh darah, membuat keringat mengembun diseluruh tubuh.

Langkah yang berat membawa debu bergulung tipis, membuat pemuda ini dapat mengkalkulasi seberapa besar hawa yang berpendar dalam kondisi normal. Decak kagum tak kuasa terlontar. Kondisi orang itu mengingatkan Jaka pada orang yang siap dengan anak panah terentang pada busur—sewaktu-waktu siap bertarung. Bedanya, kondisi semacam itu pada orang biasa jelas menguras tenaga jasmani dan rohani, tapi bagi penghuni pondok bambu, hal seperti itu adalah kondisi normalnya, dapat dibayangkan betapa dahsyat jika dia sengaja menghempaskan tenaga sampai tataran puncak.

Keringat dingin memercik dahi, meski kini Jaka terasa sulit untuk menelan ludah—saking tegangnya, tapi rasa senang yang aneh membuatnya tak berniat untuk mundur. Bertarung dengan lawan yang memiliki kemampuan diatas dirinya, terlalu sayang untuk dilewatkan.

“Kau diutus olehnya?” Tanya orang itu pada Jaka.

“Tidak…” sahut Jaka dengan suara kering, dia menelan ludah sesaat untuk membasahi tenggorokan. Entah siapa pula ‘nya’ yang di maksud orang itu. “Aku penasaran dengan burung-burung itu.” Sambungnya sembari menunjuk keatas.

“Ini menjadi hari sialmu…” kata orang itu sembari melangkah kian dekat, tiap langkah yang terayun membawa sebuah tekanan yang makin besar.

Meski merasa terdesak, karena debar dada terasa kian menghentak tanpa kehendak, pandangan teliti pemuda ini dapat membedakan, antara tenaga murni dengan tenaga yang tidak murni. Ada ketidak stabilan pada sulur-sulur tenaga yang merembes dari tiap sudut tubuh orang itu.

“Kenapa menjadi hari sialku?” Tanya Jaka dengan hati yang kian mantap.

Orang itu menatap Jaka, seorang paruh baya yang cukup gagah. “Anggap saja, kau akan melakukan satu sumbangan padaku.”

Jaka mengguman sesuatu, cukup dari ucapan itu, kini dia tahu, tenaga yang tidak stabil pada orang itu berasal dari orang lain. “Ah… kaukah yang akhir-akhir ini membuat banyak kalangan tertentu menghilang?” Tanya pemuda ini mengambil kesimpulan, sudah tentu Jaka tidak tahu siapa yang menghilang, tapi dari beberapa jenis bobot tenaga yang belum lagi tercerna dengan sempurna, juga atas penemuan pada daya hisap tenaga milik Sumanohara Ratri, Jaka dapat membayangkan orang ini memiliki kebiasaan serupa.

“Oh… kau tahu hal itu? Tapi tidak berguna. Sebentar lagi kau juga akan bergabung dengan mereka.” Ucapan yang santai itu bagi Jaka membawa ancaman yang sangat serius.

Tapi ini malah menguntungkan Jaka, atas rasa percaya diri tinggi si penghuni pondok, membuat pemuda ini malah dengan leluasa mengorek keterangan.

Jaka tertawa kering. “Benar, mungkin tidak berguna, setidaknya jika kau cukup berani… katakan padaku siapa-siapa saja yang sudah menjadi korbanmu.”

Penghuni pondok itu menatap Jaka dengan seksama, dari awal mereka bicara, bahkan sebelum itu, dia sudah merasakan betapa si pendatang ini cukup terpengaruh atas auranya, tapi saat ini, dia sepertinya sudah terbiasa dengan daya tekan darinya.

“Hm, kau orang yang unik. Baiklah, anggap saja ini jual-beli yang setimpal.” Kata orang itu membuat alis Jaka berkerut.

“Ah… kau menganggap diriku sebagai barter atas pengakuanmu?”

Orang ini mengangguk. “Setiap orang yang sudah terlanjur melampaui garis, tidak pernah lepas dari cengkeramanku. Hakikatnya, saat ini kau sudah menjadi milikku.”

“Oh…” Jaka tercengang, lalu dia tertawa lagi. “Kalau begitu, kuucapkan selamat untukmu …”

Atas santainya sikap calon korban, penghuni pondok bambu ini sebenarnya sudah menaruh perasaan waspada, tapi jika mengingat sehebat apapun tokoh yang datang kemari, tak pernah lepas dari cengkeraman, dia mengabaikan perasaan itu. “Permintaanmu tadi, aku ingin sekali memberitahumu siapa-siapa saja mereka itu… sayangnya aku tidak kenal mereka. Tapi aku cukup paham dengan cara mereka bertarung, bisa dibilang enam belas perguruan utama sudah menyumbang cukup banyak untukku.”

Atas ucapan jujur itu membuat bulu kuduk Jaka meremang. “Adakah pengguna ilmu mustika yang menjadi penderma?” baru saja tercetus ucapan itu, tiba-tiba Jaka teringat pula dengan si kekar yang pernah menyatakan ‘berdermalah padaku’ pada dua orang yang sudah menjadi korban Sumanohara Ratri. Apakah si kekar-pun ada hubungannya dengan orang ini?

“Sayangnya belum… padahal aku sangat menunggu kesempatan itu.” Kata orang ini dengan suara datar.

Setelah bersusah payah membasahi tenggorakan dengan ludahnya, pemuda ini berkata. “Jika kau tidak keberatan, tolong beritahu aku, siapakah dirimu?”

Dengusan tertahan penghuni pondok, membuat Jaka merasakan sentakan pada hawa murninya. Berbicara sekian lama dengan orang itu, sebenarnya sudah cukup menjadi beban bagi pemuda ini—karena dia harus mengatur hawa murni yang saling berkesinambungan untuk melindungi isi dada, tanpa membebani aktifitas bicara. Tapi Jaka sangat pandai menyembunyikan hal itu, dia dapat terlihat seolah pembicaraan mereka, tanpa beban sama sekali.

“Sebelum menjadi penghuni lorong gelap, mungkin ada baiknya kau mengetahui hal ini. Aku dulu seorang kinalulutan bagi keluargaku, tapi atas intrik seseorang, semua fakta yang terjadi menyatakan diriku menjadi tersangka, menjadi seorang penjahat…” berkata begitu, Jaka merasakan damparan gelombang tenaga bagai terpaan badai, hampir saja dia melangkah undur. “Dari kinalulutan… menjadi penjahat… nasi… sudah… menjadi bubur, tak satupun orang… yang percaya padaku…. terlanjur sudah…” setiap penjelasannya begitu terpatah-patah, tapi tiap katanya membawa satu lecutan hawa sakti yang membuat Jaka keripuhan. “Akhirnya aku membuat dia tertawa… aku mengakui diriku menjadi… penjahat… keparat… persetan…!” kalimat terakhir hampir serupa bisikian, tapi Jaka merasa betapa isi dadanya bergetar keras.

“Dari seorang yang dicintai… menjadi penjahat… tentu sebuah kenyataan yang pahit bagimu…” Kata Jaka dengan terbata, bukan karena dia meniru, tapi memang saat ini Jaka tengah menahan ledakan tenaga yang mendadak terhambur tanpa kendali dari tubuh si pemilik pondok bambu. ‘Tapi… karena kau membenarkan tuduhan itu… akhirnya, dia memegang kendali atas dirimu.”

“Kau tahu apa!” bentak orang itu dengan tenaga kembali terhambur liar, membuat tubuh Jaka seperti diseruduk kerbau, untung saja kakinya kuat mencengkeram tanah, sehingga dia sanggup bertahan.

“Aku… tidak tahu apa-apa… tapi aku pernah merasakan perasaanmu itu. Aku pernah menjadi korban fitnah keji… aku seolah hidup tanpa harapan, tapi aku sadar… aku tidak pernah putus harapan… aku tidak pernah lupa, bahwa Tuhan itu tidak buta, tidak ada kejahatan yang abadi, cepat atau lambat kebenaran akan muncul kepermukaan!” makin lama berbicara, semangat Jaka makin terbawa, dia tidak perduli lagi dengan damparan hawa sakti yang membuat dadanya menyesak, permakluman Jaka untuk orang itu kini lebih besar, dia dapat mengerti sikap aneh orang ini.

Penghuni pondok itu termangu-mangu, dalam sekejap dia seolah melihat sebuah cahaya, tapi benaknya kembali gelap. “Ucapanmu tadi… seolah aku ini orang yang menyedihkan… ya, memang. Tapi aku tidak mau dikasihani oleh siapapun!”

Jaka tertawa terputus-putus. “Dengan kemampuanmu ini… tidak ada satupun orang yang patut… memberikan belas kasihan padamu…. Justru kaulah… yang harus banyak-banyak… memberikan belas kasih pada orang lain!”

Disinggung masalah kemampuan, membuat orang ini sadar kembali, ada sebuah kelemahan besar pada dirinya. “Bagaimana dengan peringan tubuhmu?” dia bertanya tanpa juntrungan.

“Tidak… jelek…” Jawab Jaka sedikit terbata.

“Kalau begitu, kau bisa kupakai.”

“Itu tergantung semua keteranganmu…” balas Jaka membuat penghuni pondok ini berkerut kening, orang di depannya itu seolah sanggup menandingi dirinya, seolah sanggup lolos dari cengkeramannya.

“Kau ingin tahu apa lagi?” tanyanya dengan kening berkerut.

“Kau punya hubungan apa dengan Sumanohara Ratri?”

Pertanyaan Jaka membuat orang itu terperanjat. “Kau kenal dia?”

Atas pertanyaan itu, Jaka tidak perlu bertanya lebih jauh, entah apapun hubungannya Ratri dengan orang ini memang berkerabat. “Tidak, aku baru saja bertemu dengannya. Dia membunuh orang-orangku, menghisap habis tenaganya. Tapi aku menolong dirinya terbebas dari belitan tenaga hisapannya… dia tidak sadar, tak semua tenaga sanggup dicerna. Untung masih sempat…”

Penjelasan Jaka membuat mata orang itu bercahaya. “Kau dapat membebaskan pengaruh Gaganantala Ruwag Kalawaça?”

‘Hm, jadi ilmu yang bisa menghancurkan wadag penyimpanan hawa murni adalah Gaganantala Ruwag Kalawaça—seolah memecah angkasa dengan mempercepat kematian, nama yang seram.’ Pikir Jaka. “Tidak, aku tidak bisa… yang terjadi pada Ratri karena dia baru pertama kali menghisap tenaga orang lain, membuatku dengan leluasa menolongnya.”

“Kenapa kau menolongnya?”

“Demi kemanusiaan.” Jawab Jaka singkat sambil memperbaiki himpunan hawa murni yang agak terburai, nampaknya setiap emosi orang ini berubah, damparan tenaganya akan menguat pula.

“Ta-tapi… kau, anak buahmu sudah dibunuhnya…” cecar penghuni pondok ini dengan terheran-heran.

“Kalau anak buahku bersalah, hingga membuat nyawa orang lain hilang… aku mewajibkan diriku untuk melenyapkan mereka.” Jawab Jaka tandas.

“Oh…” lagi-lagi penghuni pondok ini seolah melihat kilasan cahaya, bahwa calon korbannya bisa bersikap sebijak itu. “Omong kosong!” bentaknya tiba-tiba, masa lalu yang membuatnya terjerumus dalam fitnah keji, membuatnya tidak percaya dengan perkataan Jaka. Dulu, orang yang paling dia hormati justru menjadi pemulus jalan intrik keji. Sikap bijaksana Jaka justru menjadi titik kecurigaan orang ini.

“Aku… tidak menyuruhmu percaya…” kata Jaka dengan suara sedikit tersendat. ”Kau pikir, dari mana aku bisa tahu nama gadis itu, jika bukan karena dia dengan suka rela memberitahu padaku?”

Penghuni pondok bambu itu termangu-mangu, atas meluapnya tenaga sakti yang berlebihan membuat otaknya sulit untuk mencerna hal-hal yang berkaitan dengan logika.

“Kalau kau tidak keberatan, lanjutkanlah kisahmu…” pinta Jaka lagi.

Mencari orang yang sanggup berbicara dengan dirinya dalam kondisi seperti ini, jelas hal langka, mungkin ada baiknya dia sedikit mencurahkan ganjalan hati. “Aku terikat sumpah, aku tidak akan membicarakan darimana aku berasal. Cukuplah kau tahu bahwa aku menjadi seperti sekarang ini adalah atas fitnah keji.”

“Jadi, memperdalam ilmu Gaganantala Ruwag Kalawaça adalah upayamu untuk menghapus fitnah keji ini?” Tanya Jaka.

“Benar!” tegas orang itu.

“Tapi sayangnya, kau justru tidak bisa bergerak leluasa?” ujar Jaka membuat orang itu terperanjat.

“Darimana kau tahu?”

“Bukan hal sulit.” Jawab Jaka dengan menghembuskan nafas panjang-panjang, sepertinya emosi penghuni pondok itu agak membaik, karena Jaka tidak merasakan tekanan tenaga sekuat sebelumnya. “Kau bergerak terlalu lambat karena beban dari hawa sakti yang kau serap. Aku sempat memperhatikan sekilas dari kejadian yang menimpa Ratri. Makin banyak kau menyerap tenaga orang, seharusnya kau memiliki himpunan tenaga lebih besar dua kali untuk mencacah dan mencernanya lebih jauh. Tapi nampaknya kau tidak sabar… kau melepaskan segenap penjagaan terhadap hawa sakti lain, membiarkan tenaga-tenaga itu berkumpul dan bersatu dengan tenagamu secara langsung, membuatmu kesulitan untuk mencerna nilai lebih dari tenaga itu. Apa gunanya hawa sakti yang meluap-luap sekokoh gugur gunung ini, jika lawanmu berada jauh dari ruang serangmu?”

Penjelasan Jaka membuat orang itu terbelalak, seolah dia baru sadar bawa selama ini yang di lakukan itu adalah hal sia-sia.

“Tadi kau bertanya padaku, apakah peringan tubuhku bagus… aku sudah tahu kemana arahmu. Kau menginginkan tenaga orang-orang yang memiliki peringan tubuh tangguh, dengan harapan dapat membuatmu bergerak lebih lincah, betul begitu?”

“Ya…” jawabnya setelah beberapa lama.

“Tapi itupun tidak akan berguna banyak.” Lanjut Jaka. “Sebab, setiap hawa sakti yang kau peras itu hanya akan menjadi tambahan beban bagi gerakanmu. Tubuhmu ibarat senjata yang sudah siap membacok, sayangnya tanpa kendali, setiap kali kau kerahkan tenaga, kau sendiri sulit untuk mengarahkannya. Semua tenaga bergerak masing-masing, dengan cirinya tersendiri menyerang serabutan. Pola seperti itu untuk menghadapiku, jelas lebih dari cukup. Tapi, semua itu tidak berguna banyak untuk menghadapi lawanmu yang sesungguhnya. Kau pasti tahu maksudku…”

Lelaki itu tertegun. Helai demi helai kenyataan dikupas oleh sang lawan yang tidak diketahui asal usulnya. “Aku harus bagaimana?” tanpa sadar pertanyaan putus asa itu terucap.

Jaka tersenyum, meski dia belum bisa menjajagi kedalaman hati lawan, setidaknya orang itu masih memiliki nurani yang sedikit ‘bercahaya’. Jaka bisa mengambil kesimpulan itu, manakala orang itu menyatakan dirinya akan menjadi penghuni ‘lorong gelap’, artinya seluruh korban yang pernah di hancurkan wadag hawa murninya, masih hidup.

“Mungkin aku bisa menolongmu…” ujar Jaka sedikit ragu.

“Katakan! Jika kau bisa memberikan sedikit perubahan, kebebasanmu adalah jaminan!”

Jaka terdiam sesaat. “Aku tidak pasti dengan caranya. Tapi, dengan bertarung… mungkin aku dapat mengambil kesimpulan.”

“Tapi…” giliran lelaki penghuni pondok itu yang ragu.

“Ya?”

“Bagamana caraku untuk menahan tenaga? Aku kawatir kau tidak akan sanggup bertahan.” Katanya dengan khawtir. Sebab jika satu-satunya kesempatan untuk memperbaiki keaslahan yang sudah diperbuatnya lenyap, dia tidak tahu harus kemana lagi mencari orang semacam Jaka.

Jaka tersenyum tak menjawab. Dia tidak dapat mengatakan orang itu harus melakukan apa, mungkin pada saat mereka sudah saling bergebrak, baru bisa ditemukan cara yang paling tepat

Kalau saja ada yang mendengar percakapan dua orang itu, mereka pasti segera memahami, pembicaran itu memiliki hanya memiliki keuntungan satu arah. Hanya untuk Jaka Bayu saja. Pada akhirnya, meski mereka harus bertarung Jaka dapat ‘menahan’ lawan untuk tidak mengerahkan tenaganya yang kelewat dahsyat saat menghadapinya. Dalam hati Jaka merasa malu, meski harus diakui dia sedikit ‘curang’ dalam memulai pertarungan ini, tapi secara jujur, baik itu bencana atau keuntungan yang ada di balik pertarungan nanti, semuanya akan membawa manfaat bagi dirinya. Jaka merasa ada ‘tembok’ yang harus di lompati, sementara di lain sisi lawannya juga memerlukan pengendalian atas tenaga-tenaga sakti yang sudah diserapnya. Mereka seperti tumbu ketemu tutup. Klop sudah.

“Bersiaplah…” desis penghuni pondok bambu sambil mengisarkan kaki kesamping.

Quote | Posted on by | Tagged , , | 112 Comments